Melewati malam minggu dihabiskan oleh menonton film Sunan Kalijaga yang dibintangi Deddy Mizwar. Lalu saya berpikir, mungkin begitulah imajinasi dan visualisasi kisah hidupnya secara detail mengenai sosok salah satu anggota Dewan Sanga, sunan yang beberapa tahun konon pernah menjaga kali sampai dirinya dililit akar-akar dan belukar? Pertanyaan itu muncul ketika saya menyaksikannya, dan sejauh mana sebuah film mampu menerjemahkan kisah seorang tokoh yang hidup dalam pertemuan antara sejarah, legenda, tradisi lisan, babad, dan ingatan kolektif masyarakat Jawa.
Film Sunan Kalijaga garapan Sofyan Sharna ini memang bukan dokumen sejarah dalam pengertian akademik, melainkan sebuah karya sinema yang menghidupkan kembali sosok Raden Said (Sahid) melalui bahasa dramatik film. Film ini tercatat dalam arsip perfilman Indonesia sebagai produksi yang dibintangi Deddy Mizwar dan masuk dalam sejumlah kategori Festival Film Indonesia 1984.
Kisah Sunan Kalijaga sendiri tidak sesederhana satu versi cerita. Sejumlah sumber menyebut nama kecilnya Raden Said atau Raden Sahid dan mengaitkannya dengan Tuban pada sekitar pertengahan abad ke-15. Namun sumber-sumber sejarah mengenai dirinya memang tidak sepenuhnya seragam. Bahkan, kelahiran, silsilah, perjalanan hidup, dan berbagai kisah tentang masa mudanya memiliki sejumlah versi karena banyak kisah tentang Sunan Kalijaga bersumber dari historiografi lokal, seperti Babad Tanah Jawi, cerita rakyat, dan tradisi yang berkembang dari generasi ke generasi.
Karena itu, kisah tentang dirinya lebih tepat dibaca dengan kesadaran bahwa terdapat pertemuan dan persilangan antara fakta sejarah dan ingatan budaya masyarakat. Misalnya dalam cerita yang paling populer, Raden Said digambarkan pernah menjadi seorang pemuda yang gelisah melihat ketimpangan sosial di sekelilingnya. Terdapat versi lain yang menceritakan bahwa ia mengambil bahan makanan dari gudang kadipaten untuk diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Sementara versi lain lagi menggambarkan dirinya dengan cerita yang jauh lebih keras, kono ia menjadi seorang perampok yang kemudian dikenal dengan julukan Brandal Lokajaya.
Perbedaan versi ini penting dicatat karena tokoh Sunan Kalijaga kemudian mengalami transformasi yang sangat kuat dalam ingatan masyarakat. Dari seorang pemuda yang hidup dalam kegelisahan moral menjadi seorang wali yang dikenal melalui dakwah, seni, budaya, dan pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dari sinilah muncul bayangan saya tentang Sunan Kalijaga sebagai semacam Robin Hood-nya Pulau Jawa. Tentu saja, perbandingan itu bukan persamaan sejarah dan bukan pula berarti Sunan Kalijaga benar-benar merupakan tokoh yang memiliki hubungan dengan legenda Robin Hood di Inggris. Robin Hood sendiri merupakan tokoh dalam tradisi legenda Inggris, sedangkan Sunan Kalijaga merupakan tokoh Wali Songo dalam tradisi Islam-Jawa. Perbandingan tersebut lebih merupakan cara kita yang hidup di masa kini untuk dapat memahami satu bagian dari cerita tentang masa muda Raden Said sebagai seorang tokoh yang dalam sejumlah versi kisahnya digambarkan berpihak kepada rakyat kecil sebelum kemudian mengalami perubahan spiritual yang mendalam. Dengan demikian, “Robin Hood-nya Pulau Jawa” lebih tepat menjadi metafora kebudayaan daripada kesimpulan sejarah.
Mengingat film Sunan Kalijaga, membawa ingatan ke masa kelas satu SMP, ketika saya dan kakak saya diajak bibi Ika pergi ke pasar Cikatomas. Kakak saya membelikan kaos dalam, karena saya tidak pernah berbaju pakai kaos dalam. Lalu setelah itu saya berjalan-jalan dan berputar-putar di sekitar pasar sendirian mencari-cari yang saya inginkan. Setiap kali ke pasar sejak Pasar Tawang, ujungnya selalu saja mencari lapak yang menjual buku-buku.
Kenangan itu sekarang terasa seperti bagian kecil dari sebuah perjalanan yang baru saya pahami bertahun-tahun kemudian. Pasar, bagi sebagian orang, mungkin hanya tempat membeli kebutuhan sehari-hari. Bagi saya ketika masih kecil, pasar memiliki ruang lain yang jauh lebih menarik. Karena dapat lapak-lapak buku bekas, buku murah, majalah, komik, dan bacaan yang mungkin bagi orang lain tidak terlalu penting. Namun bagi saya, adalah tempat-tempat semacam itulah rasa ingin tahu saya menemukan jalannya sendiri.
Saya belum tahu bahwa kebiasaan kecil mencari buku di pasar kelak akan menjadi semacam karakter yang terus mengikuti saya hingga dewasa. Saya hanya tahu bahwa di antara begitu banyak barang yang dijual, buku selalu memiliki daya tarik yang berbeda. Sejak main ke pasar Tawang selalu mampir bahkan sengaja ingin selalu ke pasar Tawang di Minggu pagi hanya untuk ikut sekadar membaca koleksi komik si Petruk, atau membaca buku kumpulan lirik lagu-lagu yang populer kala itu. Termasuk tahu keberadaan lagu Astaghfirullah-nya Abiem Ngesti, yang tak pernah kutonton film video klipnya, karena membaca liriknya di satu halaman buku.
Kebiasaan membaca seperti itu mungkin terlihat sederhana jika dilihat dari jarak waktu sekarang. Namun dari kebiasaan sederhana itulah hubungan saya dengan buku tumbuh. Saya tidak mengenal perpustakaan besar, toko buku modern, atau ruang-ruang diskusi yang mewah. Saya hanya mengenal buku dari pasar, dari lapak yang barang-barangnya bercampur dengan segala macam kebutuhan orang, dari komik yang dibaca bergantian, dari kumpulan lirik lagu, dan dari buku-buku murah yang dapat dibawa pulang dengan uang yang terbatas. Buku hadir bukan sebagai benda yang jauh dan sakral, melainkan sebagai sesuatu yang bisa disentuh, dibaca, dipinjam, dibeli, dan dibawa pulang.
Saya menyadari memang sejak kecil, meski masa kecil saya di kampung di ujung gunung menuju lautan lepas Samudra Hindia, tetapi ada sesuatu yang bisa dijadikan tanda bahwa usaha di bidang itu yang barangkali harus dicoba sekali lagi menggelutinya sampai menjadi seorang ekspert dan sebuah karakter. Ketika saya menengok kembali perjalanan hidup dari masa kecil hingga sekarang, mungkin manusia sering menemukan dirinya bukan melalui sebuah keputusan besar, melainkan melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus berulang tanpa disadari.
Sejak sebagai anak kecil yang mencari buku di pasar mungkin sedang mampu memperlihatkan arah yang belum bisa dibaca oleh dirinya sendiri dan belum tahu bahwa membaca dapat menjadi jalan untuk memahami dunia, dan menulis dapat menjadi cara menyusun pengalaman, serta pengetahuan dapat menjadi semacam rumah ketika keadaan di luar diri terasa tidak selalu mudah dipahami.
Buku yang dibeli waktu itu tiada lain adalah kisah Sembilan Walisanga. Kalau tidak salah harganya saat itu tiga ribu rupiah yang uangnya dikasih dari Bibi Ika. Ia bertanya ingin apa? Lalu saya jawab dengan malu-malu ingin membeli buku. Maka sepanjang perjalanan pulang di bus TKM, saya membaca tak henti-henti buku itu sampai rumah, sampai tak jelas buku itu di mana sekarang.
Sekarang tidak tahu keberadaan buku yang dibeli sebagai kenang-kenangan masa kecil itu. Barangkali harga tiga ribu rupiah itu kini tidak lagi memiliki arti ekonomi yang sama. Namun sebagai kenangan, nilainya justru tidak pernah selesai sebagai sesuatu yang menarik dari ingatan masa kecil itu. Sejak sebagai seorang anak yang diberi kesempatan memilih sesuatu yang ia inginkan ternyata memilih buku, dan ia tidak tahu bahwa pilihan itu akan menjadi salah satu tanda dalam perjalanan hidupnya.
Buku Sembilan Walisanga yang dibaca tanpa henti sepanjang perjalanan pulang dengan bus TKM mungkin sudah hilang secara fisik, tetapi jejaknya masih tersimpan dalam ingatan. Buku itu mungkin tidak lagi berada di rak, tidak lagi berada di rumah, bahkan mungkin sudah lama berpindah tangan atau hilang entah ke mana. Namun, cerita yang dibawanya telah tinggal lebih lama daripada bendanya.
Saya cinta buku dan ingin sebanyak-banyaknya membaca untuk menggali ilmu. Dari buku tadi itulah kisah yang berkesan adalah kisah Raden Joko Said yang menjelma Kalijaga. Tokoh yang menjelma Robin Hood-nya Pulau Jawa, Sunan Kalijaga. Sejak itu dan tahun-tahun kemudian saya akhirnya memahami mengapa ketertarikan terhadap Sunan Kalijaga adalah bukan karena kisah perampokan, pertobatan, atau tapa di tepi sungai. Seperti halnya yang membuat sosoknya tetap hidup dalam ingatan masyarakat oleh sebab kemampuannya mampu menghubungkan agama dengan kebudayaan.
Berbagai sumber menggambarkan Sunan Kalijaga sebagai salah satu tokoh Wali Songo yang menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai medium dakwah. Wayang, tembang, gamelan, dan berbagai bentuk ekspresi budaya menjadi jalan untuk menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat Jawa. Sunan Kalijaga menjadi lebih menarik daripada sekadar tokoh dalam kisah pertobatan. Ia memperlihatkan bahwa perubahan sosial dan keagamaan tidak selalu harus dilakukan dengan cara memutus hubungan manusia dengan kebudayaan yang telah hidup sebelumnya. Bahkan dalam sejumlah kajian, pendekatan dakwah Sunan Kalijaga dipahami sebagai upaya memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam bentuk-bentuk budaya yang telah dikenal masyarakat. Karena itu, wayang dan kesenian tidak semata-mata menjadi hiburan, tetapi dapat menjadi medium penyampaian gagasan, nilai, dan pandangan hidup.
Dari filmnya saya pun mendapatkan tentang ilmu ikhlas dan bagaimana ikhlas. Sama halnya seperti menonton film Emak Ingin Naik Haji, yang menautkan pada hal ihwal ikhlas sebagai sebuah sikap yang sekarang sedang saya latih dengan mendengarkan digitalprayers Quantum Ikhlas. Tetapi ikhlas bukan perkara sederhana dan melepaskan sesuatu yang diinginkan bukan berarti menyangkal bahwa kita pernah menginginkannya. Seperti halnya menerima keadaan bukan berarti mengatakan bahwa semua kejadian menyenangkan. Seperti juga bersabar bukan berarti berhenti berusaha.
Dalam pengertian yang lebih manusiawi, ikhlas mungkin merupakan kemampuan untuk mengakui kenyataan tanpa membiarkan kenyataan tersebut menghancurkan seluruh kemampuan kita untuk melanjutkan hidup. Dengan itu, saya menerima yang menjadi kehidupan saya saat ini dan di sini. Begitulah saat-saat terindah dan terbaik di mana saat ini berada.
Itu bagi saya bukan sekadar penghiburan, melainkan latihan untuk berdamai dengan kenyataan. Bukan tanpa tahu perbedaan antara menyerah dan menerima. Saat menyerah berarti menghentikan langkah karena merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Sedangkan menerima berarti mengakui keadaan sebagai titik tempat seseorang berdiri sebelum menentukan langkah berikutnya. Dalam pengertian itu, kesabaran bukanlah diam tanpa arah, melainkan agar menjadi tenaga untuk tetap berjalan ketika hasil yang diharapkan belum juga datang.
Mungkin inilah bagian yang paling dekat dengan saya ketika melihat kembali kisah Sunan Kalijaga. Bukan karena saya hendak menyamakan pengalaman pribadi dengan perjalanan seorang wali, melainkan karena kisah perubahan manusia selalu menyisakan ruang untuk direnungkan. Raden Said dalam berbagai versi cerita digambarkan mengalami perubahan dari kehidupan yang penuh kegelisahan menuju jalan spiritual dan dakwah. Dalam tradisi yang berkembang, perjumpaannya dengan Sunan Bonang menjadi salah satu titik penting dalam perubahan tersebut. Dari sana lahir kisah tentang pertobatan, pengendalian diri, ketekunan, dan pencarian makna yang kemudian melekat kuat pada sosok Sunan Kalijaga.
Menontonnya membuat saya kembali berhadapan dengan makna ikhlas yang sedang saya pelajari. Ikhlas yang bukan berarti mengatakan bahwa kehilangan itu tidak menyakitkan. Kehilangan tetap kehilangan dan sedih tetap sedih. Yang mungkin dapat dilakukan adalah tidak membiarkan kehilangan tersebut mengambil seluruh masa depan yang masih tersedia.
Misalnya jika satu medium untuk menulis hilang, bukan berarti keinginan untuk menulis harus ikut hilang bersamanya. Janganlah kehilangan sandaran dan harapan. Seperti Joko Said-nya Sunan Kalijaga bisa saja, seorangi pencuri tidak semata-mata ingin mencuri. Mungkin saja pencuri itu melakukan karena keterpaksaan. Serahkan krpada Allah yang Maha Tahu semua gerak-gerik makhluk-Nya. Termasuk setiap helai daun yang jauh berguguran. Semua tidak luput dari pengawasan-Nya.
Perbandingan dengan Joko Said atau Raden Said di sini saya pahami sebagai perenungan, bukan sebagai pembenaran terhadap pencurian. Kisah tentang Sunan Kalijaga mengingatkan bahwa manusia tidak seharusnya dibekukan hanya berdasarkan satu bagian dari masa lalunya.
Dalam berbagai versi cerita, perubahan Raden Said menjadi Sunan Kalijaga merupakan gambaran tentang kemungkinan manusia untuk bertobat, belajar, mengubah arah, dan menggunakan kehidupannya untuk sesuatu yang lebih luas. Kisah itu pula yang membuat sosoknya terus hadir dalam kebudayaan Jawa bukan hanya sebagai wali, tetapi sebagai simbol transformasi manusia.
Barangkali di sinilah hubungan antara seorang anak kecil yang mencari buku di pasar Cikatomas, pasar Tawang di Minggu pagi, buku Walisanga seharga tiga ribu rupiah, film Deddy Mizwar, kehilangan sebuah benda, atau keinginan untuk terus menulis menemukan satu garis yang sama. Semuanya berbicara tentang pencarian.
Semua kita terus mencari dalam menjalani hari-hari. Entah itu mencari uang, mencari pekerjaan, mencari buku, mencari pengetahuan, atau mencari makna, atau mencari ketenangan. Bahkan bisa mencari jalan pulang kepada diri sendiri dan kepada Tuhan.
Sunan Kalijaga akan terus dikenang bukan hanya karena kisah masa mudanya, tetapi karena cara dakwahnya yang memanfaatkan kebudayaan. Sejumlah sumber menggambarkannya sebagai tokoh yang menggunakan wayang, tembang, sastra, dan kesenian sebagai sarana penyampaian nilai Islam. Pendekatan semacam itu memperlihatkan bahwa pengetahuan dan keyakinan dapat tumbuh melalui bahasa yang dipahami masyarakat.
Di sinilah kebudayaan menjadi jembatan, bukan sekadar latar. Karena itu film lama seperti Sunan Kalijaga masih mempunyai ruang untuk ditonton kembali untuk membuat kita tidak hanya melihat seorang tokoh dari masa lalu, tetapi juga melihat bagaimana sebuah generasi pada masa tertentu membayangkan tokoh tersebut melalui bahasa sinema.
Film dapat menjadi jendela menuju sejarah, tetapi jendela itu tetap memiliki bingkai. Di luar bingkai terdapat sejarah yang lebih luas, sumber yang beragam, perdebatan tentang versi cerita, dan ingatan masyarakat yang terus berubah.
Karena itu, menonton film sejarah sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan apakah seluruh adegannya benar-benar terjadi, tetapi juga dapat dilanjutkan dengan pertanyaan tentang nilai apa yang hendak disampaikan dan mengapa kisah tersebut terus diceritakan.
Dari seorang anak kecil yang dulu malu-malu menjawab ingin membeli buku kepada bibinya, sekarang seperti sedang melihat kembali sebuah jalan panjang yang dahulu belum ia mengerti. Buku itu mungkin sudah tidak diketahui keberadaannya, tetapi kalimat-kalimat yang pernah dibacanya telah menjadi bagian dari ingatan tentang Sang Sunan.
Film tentang Sunan Kalijaga mungkin merupakan hasil imajinasi sinema terhadap sebuah kisah yang diwariskan turun-temurun, tetapi buat saya telah membuka kembali pintu menuju pertanyaan yang lebih pribadi tentang bagaimana manusia dalam cara menerima dirinya setelah kehilangan, bagaimana belajar dari kesalahan dan tetap percaya kepada jalan yang belum sepenuhnya terlihat.
Maka, barangkali Sunan Kalijaga bukan hanya “Robin Hood-nya Pulau Jawa” dalam imajinasi saya. Ia adalah simbol tentang kemungkinan perubahan bahwa seseorang tidak harus selamanya ditentukan oleh kesalahan masa lalunya, atau pengetahuan dapat tumbuh dari pengalaman, atau kebudayaan dapat menjadi jalan untuk menyampaikan nilai. Tetapi bahwa kehidupan, sesulit apa pun, masih menyisakan kesempatan untuk berbalik menuju cahaya.
Dan saya yang dahulu membaca kisah sembilan wali tanpa henti di dalam bus TKM dalam perjalanan pulang dari pasar, kini kembali membaca kisah yang sama dengan mata yang berbeda. Dulu saya mencari cerita, sekarang saya mencari makna. Dulu saya ingin tahu siapa Sunan Kalijaga, sekarang saya hendak bertanya kepada diri sendiri ketika semua yang hilang dan atas semua yang telah dilewati, akan menjadi manusia seperti apakah saya ini?
Mungkin jawabannya tidak perlu dicari terlalu jauh, melainkan cukup dijalani saja detik demi detik, hari demi hari, dengan membaca, menulis, bekerja, belajar, menerima, bersabar, dan sesekali berhenti untuk mengucapkan syukur. Hidup bukanlah tentang memiliki seluruh yang kita inginkan, melainkan tentang tetap menemukan alasan untuk melangkah setelah sebagian yang kita cintai pergi.
Dan kepada Tuhan saya hanya ingin memohon satu hal. Jangankan biarkan hati ini kehilangan arah ketika sesuatu yang saya miliki hilang dari tangan. Sebab mungkin yang benar-benar hilang sejatinya bukan bagian dan tujuan saya. Sementara yang harus dijaga bukan benda yang berada di tangan, melainkan cahaya yang tetap hidup menerangi harapan atas segala nama kepemilikan. (Sal)