Layar Tancap, Mak Lampir, dan Ingatan Masa Kecil dari Misteri Gunung Merapi

Kain sarung adalah senjata kami pada saat itu. Begitu kain sarung disingkapkan oleh kakak saya,...

Layar Tancap, Mak Lampir, dan Ingatan Masa Kecil dari Misteri Gunung Merapi

27 Sep 2026
123 x Dilihat
Share :

Kain sarung adalah senjata kami pada saat itu. Begitu kain sarung disingkapkan oleh kakak saya, kain yang sejak tadi digunakan untuk menutupi tubuh kecil saya di balik tubuh kakak ketika kami hendak menonton layar tancap di lapangan Desa Tawang puluhan tahun lalu, barulah tampak suasana kerumunan penonton di lingkaran dalam yang dibatasi pagar bambu. Di hadapan kami terbentang layar putih yang memantulkan gerak-gerak gambar manusia, menghadirkan sebuah dunia yang bagi saya sebagai anak kecil terasa begitu besar dan penuh misteri. Kain sarung itulah siasat kami untuk mengelabui petugas karcis agar mengira yang masuk hanya satu orang, padahal saya bersembunyi di dalamnya, menumpang pada tubuh kakak saya. Karena orang-orang masuk secara berdesak-desakan, siasat sederhana itu berhasil dan kami pun lolos tanpa ketahuan.

Begitu berada di dalam ruang pertunjukan yang dilingkari pagar bambu sebagai batas area seluas lapangan desa, rupanya jalan cerita film sudah sampai pada adegan ketika Emaknya Simbara—yang baru saya ketahui ketika menontonnya kembali, diperankan oleh Nani Wijaya—sedang duduk di depan sebuah meja yang bergetar, diiringi musik yang mencekam. Bagi saya yang saat itu masih kecil, suasana itu tentu saja terasa menakutkan sekaligus memikat. Apalagi tidak lama kemudian, tampak gunung merapi yang memancarkan lahar, dan dari kedalaman lahar itu keluarlah Kakek Jabat, duduk di atas sebuah batu yang seolah-olah melayang. Adegan yang mungkin sederhana jika dilihat kembali dengan mata orang dewasa, tetapi justru menjadi salah satu fragmen yang bertahan begitu lama dalam ingatan saya.

Padahal adegan itu barangkali hanya berlangsung beberapa menit di atas layar putih. Tetapi bagi seorang anak kecil yang menontonnya puluhan tahun lalu, beberapa menit itu dapat berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih panjang. Ia tidak lagi menjadi sekadar bagian dari sebuah film, melainkan berubah menjadi ruang tempat ingatan menyimpan suara, cahaya, rasa takut, rasa ingin tahu, dan kegembiraan yang sulit dijelaskan kembali setelah seseorang dewasa. Ada adegan-adegan yang mungkin secara teknis tidak lagi tampak istimewa ketika ditonton dengan mata orang dewasa, tetapi justru karena pernah disaksikan pada usia ketika dunia masih penuh misteri, adegan itu memperoleh tempat tersendiri di dalam ingatan.

Film, terutama film yang pertama kali ditonton dalam suasana yang tidak biasa, sering tidak tinggal sebagai cerita. Ia biasa menempel pada tempat, pada orang-orang yang bersama kita, pada jalan yang kita lalui untuk sampai ke sana, bahkan pada udara malam dan kegelapan di sekitar layar yang dibentangkan di antara dua tiang yang menancap di tanah. Karena itu, ketika sebuah film lama diputar kembali puluhan tahun kemudian, yang sebenarnya muncul tidak hanya gambar-gambar dari masa lalu, tetapi juga lingkungan kehidupan yang dahulu mengitarinya. Film seolah-olah menjadi pintu yang membuka kembali sebuah dunia yang sudah lama ditinggalkan.

Dulu, untuk menonton film di layar tancap ini, kami sekumpulan anak-anak tak takut menyusuri gelap malam di hutan ladang. Kami rela berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer untuk sampai di lokasi pertunjukan. Waktu itu sesudah mengaji—entah apakah waktu itu kami sempat mengaji dengan benar atau langsung kabur, saya sendiri sudah tidak begitu yakin, kami berlari dari masjid dengan terburu-buru karena hendak pergi ke Ciranca.

Kenangan seperti ini mungkin sulit dipahami oleh anak-anak yang tumbuh pada zaman ketika film dapat dipanggil kapan saja dari telepon genggam. Sekarang sebuah film tidak lagi harus menunggu datangnya mobil pembawa proyektor, tidak perlu menunggu lapangan desa dikosongkan, tidak perlu menunggu malam turun, dan tidak perlu berjalan jauh melewati jalan setapak. Film dapat hadir di kamar, di ruang tamu, di perjalanan, bahkan di sela-sela pekerjaan. Jarak antara keinginan untuk menonton dan film yang ingin ditonton hampir tidak ada lagi. Cukup dengan sebuah perangkat dan koneksi internet, seseorang dapat memilih film tanpa harus menunggu film itu datang ke tempatnya.

Dahulu sebaliknya, film adalah sebuah peristiwa yang datang bersama kendaraan, layar, proyektor, pengeras suara, kerumunan manusia, pedagang makanan, anak-anak, orang tua, dan suara-suara kecil dari sebuah kampung yang tiba-tiba menjadi ramai setelah pengeras suara dari mobil yang berputar-putar di jalanan kampung mengumumkan bahwa akan diadakan pertunjukan layar tancap. Pengumuman itu sendiri sudah menjadi bagian dari hiburan. Anak-anak akan mendengarkan dari mana suara mobil datang, lalu mencoba memastikan di mana pertunjukan akan berlangsung. Sebelum film diputar, kabar tentang film itu sudah lebih dahulu beredar dari mulut ke mulut.

Layar tancap memang pernah menjadi salah satu bentuk hiburan rakyat yang penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Pemerintah melalui sejumlah sumber kebudayaan mencatat perkembangan bioskop keliling sebagai salah satu cara membawa film kepada masyarakat yang tidak memiliki akses mudah ke gedung bioskop. Pada masa pendudukan Jepang, pemutaran film keliling bahkan digunakan sebagai bagian dari propaganda. Setelah Indonesia merdeka, bentuk pertunjukan semacam itu berkembang menjadi hiburan rakyat dan juga pernah digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan dan pendidikan.

Tetapi sejarah yang lebih resmi itu, bagi seorang anak kampung, tentu saja tidak pernah terasa sebagai sejarah. Yang kami kenal hanyalah layar putih yang tiba-tiba berdiri di salah satu sudut lapangan, suara pengeras yang terdengar dari kejauhan, orang-orang yang berjalan menuju tempat pertunjukan, dan perasaan bahwa malam itu akan ada sesuatu yang berbeda dari malam-malam lainnya. Film tidak hadir sebagai industri, melainkan hadir sebagai kegembiraan. Kami tidak memikirkan siapa produsernya, siapa sutradaranya, berapa biaya produksinya, atau bagaimana film itu sampai ke desa. Yang kami tahu, malam itu ada layar putih dan akan ada cerita yang bergerak di atasnya.

Sudah biasa kami lakukan untuk bisa menonton layar tancap ke Ciranca, atau dalam sebutan kami kemudian, “lalajo TV ke Cibantar”. Sejak magrib, ketika mengaji dimulai, di antara kami sudah terdengar bisik-bisik yang semakin lama semakin ribut karena, kalau dipikir sekarang, mungkin kami lebih sibuk menunggu pengajian segera berakhir daripada benar-benar menyimak apa yang disampaikan guru. Sesudah itu, kami warga cilik Citamiang—anak-anak yang masih ingusan, sebagian sudah sekolah SD, sedangkan saya tentu belum sekolah akan membawa obor dari daun kelapa atau senter baterai. Dengan rela kami menyusuri jalanan yang menanjak dan setapak, melewati kuburan, tempat pasar hewan, kemudian sampailah kami di lapangan dekat pertigaan jalan Cikawung-Cibantar-Tawang. Di sanalah lokasi pemutaran film yang kemudian saya ketahui berjudul Misteri Gunung Merapi: Penghuni Rumah Tua.

Barangkali yang paling menarik dari pengalaman itu bukan filmnya semata, melainkan perjalanan pergi dan pulang dari menonton filmnya. Jalanan gelap yang harus dilewati, kuburan yang harus dilalui, suara anak-anak yang saling memanggil, rasa takut yang sebentar muncul lalu dikalahkan oleh keinginan untuk segera sampai, semuanya menjadi bagian dari film yang tersimpan di kepala. Seolah-olah layar tancap bukan hanya kain putih tempat gambar bergerak diproyeksikan, melainkan seluruh perjalanan dari rumah hingga tempat pertunjukan. Sesungguhnya, sebuah film sudah dimulai jauh sebelum proyektor menyala.

Dan begitulah layar tancap bekerja dalam kehidupan masyarakat. Ia bukan sekadar medium untuk memperlihatkan film, tetapi juga ruang sosial. Pelbagai catatan mengenai pertunjukan layar tancap sudah cukup menggambarkan bagaimana penonton dari berbagai latar belakang dapat bercampur di tempat yang sama, duduk di tanah yang sama, makan jajanan yang sama, dan berinteraksi tanpa batas-batas yang biasanya terasa di ruang hiburan formal. Dalam pengertian itu, layar tancap bukan hanya bioskop tanpa gedung, melainkan sebuah peristiwa sosial. Orang datang bukan hanya untuk menonton film, tetapi juga untuk bertemu, bercakap-cakap, berjualan, membawa anak-anak, dan menikmati suasana malam yang berbeda dari biasanya.

Adegan demi adegan sebagian masih saya ingat sampai sekarang ketika menonton layar tancap untuk kedua kalinya itu—yang pertama adalah ketika menonton film Menggapai Matahari. Tokoh utamanya bernama Sembara, sedangkan sobat karibnya bernama Basir. Ketika saya sudah SD, barulah kisah ini menjadi serial yang tayang di Indosiar. Untuk bisa menonton serialnya, perjalanannya masih sama dengan ketika hendak menonton layar tancapnya. Agar tidak ketinggalan jalan cerita yang, kalau tidak salah, tayang setiap Senin, kami akan menunggu sampai selesai mengaji dan salat. Setelah salat, ketika para orang tua masih wiridan, kami sudah berhamburan keluar dari saf sambil berteriak kencang, “Mak Lampiiirrrrr.....” 

Saya masih sempat menengok ke belakang dan melihat beberapa orang tua geleng-geleng kepala melihat tingkah kami yang begitu candu pada televisi. Setiap malam Senin selalu begitu. Ingatan mengenai jadwal tayang itu mungkin sudah bercampur dengan ingatan mengenai banyak tayangan lain pada masa tersebut. Namun, satu hal dapat diverifikasi, serial Misteri Gunung Merapi mulai ditayangkan di Indosiar pada 1 November 1998 dan kemudian berlangsung hingga 2005. 

Dalam serial televisi itu, tokoh Sembara diperankan Marcelino, Basir oleh Syamsul Gondo, Farida oleh Devi Zuliaty dan kemudian Yuni Sulistyawati, sedangkan Farida Pasha tetap memerankan Mak Lampir. Teddy Uncle memerankan Panglima Kumbang, sementara Samsuri Kaempuan memerankan Kiai Jabat.

Pada titik itulah sebuah cerita yang pernah saya lihat sebagai film layar tancap, berubah menjadi bagian dari pengalaman menonton televisi pada masa kanak-kanak. Ada perubahan medium, tetapi tokoh dan dunia ceritanya masih terasa akrab. Mak Lampir seolah-olah keluar dari layar putih di lapangan desa dan masuk ke ruang keluarga melalui televisi. Jika layar tancap dahulu membuat kami harus berjalan jauh untuk mencari cerita, televisi kemudian membuat cerita itu datang ke rumah tetangga kampung sebelah. Namun, bagi saya, keduanya tetap terhubung oleh sesuatu yang sama akan rasa ingin tahu seorang anak terhadap dunia yang lebih besar daripada dunia kecil tempat ia tinggal.

Jadi, ada semacam perjalanan panjang yang ternyata tidak saya sadari ketika masih kecil. Sebuah cerita yang pertama-tama mungkin saya kenal melalui layar tancap, kemudian saya jumpai lagi melalui televisi, sebenarnya telah memiliki kehidupan yang jauh lebih panjang sebelum sampai kepada mata saya. Misteri Gunung Merapi berasal dari tradisi sandiwara radio karya Asmadi Sjafar. Pada dekade 1980-an, sandiwara radio menjadi salah satu bentuk hiburan populer, ketika suara, musik, dan efek bunyi justru mampu membangun dunia yang tidak terlihat di depan mata pendengarnya. Kajian mengenai sandiwara radio juga mencatat bahwa genre laga, persilatan, misteri, dan kisah berlatar sejarah menjadi bagian penting dari masa keemasan drama radio Indonesia.

Di situlah ada sesuatu yang menarik. Radio mengajarkan orang untuk membayangkan, sedangkan film mengajarkan orang untuk melihat. Ketika sebuah cerita yang sebelumnya hidup di telinga kemudian dipindahkan ke layar, tokoh-tokoh yang semula hanya berupa suara tiba-tiba mempunyai wajah, tubuh, pakaian, gerak, dan ekspresi. Mak Lampir yang sebelumnya dibentuk oleh suara dan imajinasi pendengar kemudian memperoleh wajah Farida Pasha. Sembara memperoleh tubuh Fendy Pradana. Farida memperoleh wajah Ida Iasha. Kakek Jabat memperoleh tubuh Piet Pagau. Dunia yang sebelumnya hanya ada di dalam kepala berubah menjadi dunia yang bisa dilihat bersama-sama.

Ya begitu candunya kami pada TV dan tayangan ini, yang mungkin karena kesan Mak Lampirnya punya karakter di film ini. Meskipun selanjutnya aku sendiri berhenti mengikuti jalan serialnya, mungkin karena bosan dan sibuk sekolah, sibuk belajar—niee, belajar biar pintar katanya, entah apakah ceritanya berakhir seperti film bioskopnya saya tidak tahu. Sudah pasti ceritanya mengalami pengembangan demi rating dan banyak episode. Kalau sudah puluhan bahkan ratusan episode, para kru punya pekerjaan, iklan pun datang, dan semua meraih keuntungan, dan anak-anak sering ternina-bobokan.

Memang, serial televisi kemudian memperluas cerita jauh melampaui satu film. Film layar lebarnya berdurasi sekitar satu setengah jam, sedangkan serial televisi membutuhkan cerita yang terus bergerak dari satu episode ke episode berikutnya. Karena itu, karakter dan konflik dapat diperpanjang, diperluas, bahkan melahirkan tokoh-tokoh baru. Sumber-sumber mengenai serial tersebut mencatat produksi bahwa Genta Buana Pitaloka dan penayangan panjangnya diputar di Indosiar, dengan ratusan episode dan sejumlah pergantian pemeran dalam perjalanan serial.

Di sini pula saya mulai melihat sesuatu yang dahulu belum dapat saya pahami. Televisi bukan hanya tempat cerita ditayangkan. Televisi adalah industri dan cerita membutuhkan penonton, banyaknya penonton menarik iklan, iklan menghidupi produksi, dan produksi membutuhkan cerita yang terus berjalan. Karena itu, sebuah cerita sederhana dapat berkembang menjadi cerita yang panjang. Tokohnya dapat dibuat pergi, pulang, kalah, menang, hilang, kembali, menemukan musuh baru, dan menghadapi persoalan baru. 

Bagi anak-anak, semua itu adalah petualangan. Bagi industri televisi, ia juga merupakan siklus produksi. Sementara kami anak-anak, atau utamanya saya sendiri yang lebih mematri adalah film layar tancapnya dibanding serialnya yang sekarang tayang lagi di RTV. Fragmen-fragmen saat saya menonton dulu dan sekarang tentu mengalami pertautan sebagai sebuah fragmen. Meskipun tetap saja tulisan yang saya tuangkan dari pengalaman lalu itu di saat sekarang, itu tidak akan menggambarkan secara keseluruhan pengalaman saya yang bersenyawa di hidup saya. Kecuali sublimasi sekedarnya dari yang kekal di memori.

Barangkali inilah alasan mengapa saya kembali menonton film itu sekarang. Saya sebenarnya bukan hanya sedang menonton Misteri Gunung Merapi: Penghuni Rumah Tua, melainkan saya sedang menonton seorang anak kecil yang pernah berdiri di sebuah lapangan desa, yang menunggu gambar bergerak muncul di atas kain putih. Saya sedang menonton kembali jalan setapak yang pernah dilalui, wajah orang-orang yang mungkin sebagian sudah tidak lagi saya ingat, suara anak-anak yang sekarang sudah menjadi suara orang dewasa, dan sebuah masa ketika hiburan begitu sederhana sehingga untuk mendapatkan kebahagiaan membuat kami harus berjalan jauh.

Film itu ternyata menjadi semacam mesin waktu. Ia tidak membawa saya ke masa lalu secara utuh, karena tidak ada manusia yang benar-benar dapat kembali ke masa lalu. Tetapi ia membuka pintu menuju serpihan-serpihan yang masih tersisa di mana ada suara, wajah, cahaya, ketakutan, kegembiraan, dan rasa ingin segera mengetahui bagaimana cerita berakhir. Semuanya bercampur menjadi satu. Dan ketika film selesai, yang tersisa bukan hanya cerita tentang Sembara dan Mak Lampir, tetapi juga cerita tentang diri sendiri.

Bahkan baru tahu sekarang judul lengkapnya: Misteri Gunung Merapi: Penghuni Rumah Tua. Dipikir sekarang sebenarnya cerita film ini cukup sederhana. Seorang tokoh utama, Sembara, yang hendak menyelamatkan Farida, kekasihnya—dan baru tahu juga Farida diperankan Ida Iasha, yang sering main bareng Rhoma Irama, hendak dijadikan tumbal oleh Mak Lampir. Mak Lampir dalam film ini memang diperankan oleh Farida Pasha.

Setelah menontonnya kembali dengan mata orang dewasa, kesederhanaan cerita itu sebenarnya menjadi menarik. Film yang dahulu tampak begitu besar dan menakutkan ternyata mempunyai struktur cerita yang relatif sederhana. Ada seorang pemuda meninggalkan kekasihnya untuk menuntut ilmu, kemudian kembali dengan tugas tertentu, sementara hubungan cinta, dendam, ilmu kesaktian, dan kekuatan jahat mempertemukan kembali para tokohnya. 

Indonesian Film Center mencatat film ini diproduksi 1989, disutradarai Lilik Sudjio, dengan Fendy Pradana sebagai Sembara, Ida Iasha sebagai Farida, Farida Pasha sebagai Mak Lampir, Yurike Prastika sebagai Nyai Kembang/Darasuta, Piet Pagau sebagai Kakek Jabat, Nani Wijaya sebagai Maryamah, Baron Hermanto sebagai Mardian, dan Gino Makasutji sebagai Datuk Panglima Kumbang.

Dalam cerita, Mak Lampir ingin menghidupkan kembali dua tuannya, adalah suami istri—istri diperankan Yurike Prastika yang di film lain sering melakukan adegan ranjang, pada film ini juga ada adegan ranjang meskipun sekedarnya, antara Nyai Kembang, tuannya Mak Lampir, dengan Mardian. Mardian yang sesudah diburu orang sekampung dan kampung lainnya lalu sembunyi di rumah tua dan kosong yang ternyata dihuni Mak Lampir yang sedang semedi ilmu hitamnya.

Maka jika dilihat sekarang, unsur semacam ini memperlihatkan bagaimana film mistik Indonesia pada masa itu menyatukan banyak unsur sekaligus, antara percintaan, laga, dunia gaib, ilmu kesaktian, pengkhianatan, dendam, dan sensualitas. Maka fipmnya tidak harus tunduk pada satu genre secara ketat. Horor bertemu silat, silat bertemu melodrama, melodrama bertemu kisah percintaan, dan semuanya diletakkan dalam dunia yang penuh hutan larangan, manusia harimau, pertapaan, ilmu hitam, dan tokoh-tokoh sakti.

Misalnya satu tokoh bernama Mardian, yang punya ilmu harimau jadi-jadian, yang tiba-tiba tubuhnya berubah wujud jadi harimau ketika emosinya meningkat, mungkin sama seperti Hulk dalam industri sinema Hollywood, yang oleh Datuk Panglima Kumbang, yang sama juga punya ilmu harimau, tapi mungkin ini ilmu harimau/macan putih, sedangkan Mardian dari golongan ilmu macan hitam yang harus dibunuh saja, kata Datuk Panglima Kumbang kepada Sembara.

Di mata anak-anak, tentu saja perubahan manusia menjadi harimau memiliki daya tarik tersendiri. Ia seperti Hulk dalam ingatan sekarang. Manusia ketika emosinya mencapai titik tertentu dapat berubah menjadi makhluk lain dengan kekuatan berbeda. Perbedaannya tentu terletak pada dunia mitologi yang menjadi latar. Dalam Misteri dari Gunung Merapi, manusia harimau bukan sekadar efek visual, tetapi bagian dari sistem kepercayaan dan dunia fantasi cerita yang menghubungkan manusia, ilmu kesaktian, hutan, dan kekuatan gaib.

Lain lagi dengan Datuk Panglima Kumbang ialah yang menyelamatkan Sembara saat dikeroyok anak buah pamannya Farida. Karena Farida hendak dijodohkan dengan Mardian, sang paman tak rela Farida bermesra-kasih dengan Sembara. Pamannya Farida punya dendam selagi muda, sebab dirinya ditolak cinta oleh perempuan yang kemudian jadi Emaknya Sembara.

Di sinilah kisah itu ternyata tidak hanya berbicara mengenai pertarungan antara orang baik dan orang jahat. Ada dendam lama yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Ada cinta yang gagal dan kemudian berubah menjadi permusuhan. Ada orang tua yang menggunakan masa lalu untuk menentukan masa depan anak-anaknya. Dan ada anak muda yang harus menjalani akibat dari keputusan yang sebenarnya bukan dibuat oleh mereka.

Simbara setelah diselamatkan oleh harimau putih jelmaan Datuk Panglima Kumbang di hutan larangan, juga mencapai ilmu kesempurnaan yang diturunkan dari Kakek Jabat yang memberinya senjata “Cambuk Kilat” dan ilmu “Selimut Kabut”. Sesudah mencapai sempurna ilmunya, saat bertemu lagi dengan Datuk Panglima Kumbang, Sembara bertanya, “Bagaimana bisa tahu keberadaanku?” yang dijawab Datuk, “Karena ilmu sapu angin…” 

“Sembara, kau harus keluar dari hutan larangan sekarang. Karena ada masalah kemanusiaan yang harus kau selesaikan!” Maka dimulailah petualangan Sembara sebagai pendekar kebaikan, memasuki hutan demi hutan, dan kembali ke kampung halaman.

Kalimat tentang “masalah kemanusiaan” itu, jika dipikirkan kembali sekarang, terasa lebih menarik daripada pertarungan ilmu kanuragan yang dahulu membuat saya terpaku. Sebab pada akhirnya perjalanan Sembara bukan semata-mata perjalanan untuk menjadi orang sakti. Ia harus keluar dari hutan karena ada manusia lain yang membutuhkan pertolongannya. Sebab kesempurnaan ilmu baru mempunyai arti ketika ilmu tersebut digunakan untuk kebaika dalam kehidupan.

Mungkin di situlah sebuah film masa kanak-kanak dapat memperoleh makna baru ketika ditonton kembali oleh orang dewasa. Dahulu saya melihat Misteri Gunung Merapi sebagai cerita tentang Mak Lampir, manusia harimau, Kakek Jabat, Cambuk Kilat, Selimut Kabut, dan pertarungan antara kebaikan dengan kejahatan. Sekarang saya melihatnya juga sebagai cerita tentang perjalanan tentang meninggalkan rumah, menuntut ilmu, menghadapi ketakutan, kehilangan, cinta, dendam, lalu kembali untuk menyelesaikan persoalan yang ditinggalkan.

Dan ternyata perjalanan film itu sendiri tidak kalah menarik dari perjalanan Sembara. Cerita yang mula-mula hidup melalui suara dalam sandiwara radio kemudian menjadi film layar lebar pada 1989. Misteri Gunung Merapi: Penghuni Rumah Tua menjadi bagian pertama dari rangkaian film yang kemudian dilanjutkan dengan Titisan Roh Nyai Kembang dan Perempuan Berambut Api. Setelah itu kisahnya kembali menemukan kehidupan baru melalui serial televisi yang mulai ditayangkan pada 1998.

Dengan demikian, tanpa saya sadari, film yang saya tonton di lapangan desa itu sebenarnya adalah bagian dari perjalanan panjang kebudayaan populer Indonesia. Dari radio ke layar perak, dari layar perak ke layar kaca, dan kini kembali ditemukan melalui layar digital. Sementara medianya berubah, ceritanya terus berpindah, dan yang berubah bukan hanya teknologi, tetapi juga cara manusia mengalami cerita.

Dulu kami harus berjalan kaki berpuluh kilometer untuk mencari layar putih. Sekarang layar putih itu bisa ditemukan dalam genggaman. Dulu kami harus menyembunyikan tubuh di balik sarung kakak agar tidak ketahuan petugas karcis. Sekarang sebuah film dapat diputar tanpa harus membeli tiket, tanpa harus meninggalkan rumah, bahkan tanpa harus menunggu jam tayang. Dulu ketika film berakhir, kami pulang melalui jalan gelap dengan cerita yang masih menempel di kepala. Sekarang setelah film selesai, penonton dapat langsung mencari pemeran, membaca sinopsis, melihat trailer, membaca komentar orang lain, atau bahkan memutar ulang adegan yang baru saja ditonton.

Namun kemudahan itu sekaligus mengubah sesuatu yang dahulu sangat berharga: penantian. Layar tancap mengajarkan bahwa menonton film bukan hanya soal film. Ada perjalanan menuju tempat pertunjukan, ada orang-orang yang ditemui, ada udara malam, ada jajanan, ada suara anak-anak, ada rasa takut melewati kuburan, ada kerumunan, ada kegembiraan ketika lampu proyektor mulai menyala. Film akhirnya menjadi sebuah pengalaman kolektif. Karena itu, mungkin film yang sama dapat menghasilkan ingatan yang jauh lebih kuat ketika ditonton dalam suasana tertentu dibandingkan ketika ditonton sendirian melalui layar telepon.

Itulah sebabnya ketika sekarang saya menonton kembali Misteri Gunung Merapi: Penghuni Rumah Tua, yang muncul bukan hanya Sembara dan Mak Lampir. Yang muncul adalah saya sendiri yang dulu masih kecil, berada di dalam sarung kakak, berusaha menjadi “satu penonton” padahal sebenarnya dua orang. Saya membayangkan kembali lapangan, kain putih, kerumunan orang, cahaya proyektor, suara musik yang mencekam, dan adegan gunung yang memuntahkan lahar.

Barangkali film itu sendiri sudah menua. Teknik visualnya tidak lagi tampak semegah yang saya bayangkan ketika kecil. Efek khusus yang dahulu terasa mengerikan kini dapat terlihat sederhana. Dialog-dialognya kadang terasa berlebihan. Adegan laga yang dahulu membuat jantung berdebar kini dapat membuat saya tersenyum. Bahkan beberapa bagian cerita yang dulu terasa misterius sekarang mudah ditebak.

Tetapi justru di situlah letak keajaiban memori. Yang bertahan dari sebuah film tidak selalu kualitas teknis film tersebut. Yang bertahan bisa jadi adalah siapa diri kita ketika pertama kali menontonnya. Sebuah film dapat menjadi buruk secara teknis tetapi indah secara biografis. Sebuah adegan dapat kehilangan daya kejutnya tetapi tetap mempertahankan daya kenangnya. Sebab memori tidak bekerja seperti arsip film yang menyimpan setiap gambar secara utuh. Memori bekerja melalui fragmen. Ia memilih suara tertentu, wajah tertentu, cahaya tertentu, jalan tertentu, dan perasaan tertentu, kemudian menyatukannya kembali ketika sebuah peristiwa di masa kini memanggilnya.

Maka menonton kembali film lama sesungguhnya adalah percakapan antara dua orang yang hidup dalam tubuh yang sama. Seorang anak kecil yang dulu menonton dengan mata penuh ketakjuban dan orang dewasa yang sekarang menonton dengan pengetahuan yang lebih luas. Anak kecil itu tidak tahu siapa sutradaranya, siapa pemainnya, bagaimana film itu dibuat, dari mana ceritanya berasal, atau bagaimana industri televisi bekerja. Ia hanya ingin tahu apa yang akan terjadi kepada Sembara dan Farida.

Sementara orang dewasa yang menontonnya kembali tahu bahwa di balik cerita itu ada perjalanan panjang kebudayaan populer Indonesia. Ada Asmadi Sjafar dan tradisi sandiwara radio. Ada industri film akhir 1980-an. Ada aktor-aktor seperti Fendy Pradana, Ida Iasha, Farida Pasha, Nani Wijaya, Piet Pagau, Yurike Prastika, dan Baron Hermanto. Ada kemudian televisi swasta yang mengubah cerita tersebut menjadi serial panjang. Ada pula perubahan teknologi yang akhirnya membuat film lama itu dapat ditemukan kembali oleh generasi yang bahkan mungkin tidak pernah mengalami layar tancap.

Di antara semua itu, saya menemukan kembali sesuatu yang sebenarnya lebih penting daripada filmnya, adalah soal waktu. Waktu ternyata tidak pernah benar-benar hilang, melainkan hanya berganti bentuk. Kadang ia bersembunyi di dalam sebuah lagu lama. Kadang di halaman buku yang pernah dibaca. Kadang di jalan yang pernah dilalui. Dan kadang, seperti malam ini, ia bersembunyi di balik kain putih sebuah layar tancap.

Dulu saya datang ke sana untuk melihat cerita Sembara. Sekarang saya kembali menonton untuk melihat diri saya sendiri. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah yang membuat sebuah film menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Bukan karena film itu selalu sempurna, bukan pula karena ceritanya selalu masuk akal, melainkan karena pada suatu masa ia pernah hadir tepat ketika seseorang sedang belajar mengenal dunia. Film itu kemudian ikut tumbuh bersama dirinya, meskipun diam-diam, ketika film tersebut diputar kembali puluhan tahun kemudian, yang sebenarnya bergerak bukan hanya gambar di layar, tetapi juga waktu di dalam ingatan.

Layar tancap itu sudah lama hilang dan lapangan tempat dulu film itu diputar sekarang telah berubah. Anak-anak yang dahulu berlari-lari menuju Ciranca telah tumbuh menjadi orang dewasa dengan kehidupan masing-masing. Sebagian orang yang malam itu duduk menonton mungkin sebagian telah meninggal. Suara pengeras suara yang mewartakan ada pemutaran film pasti tidak lagi terdengar. Tetapi sebuah film, entah bagaimana, masih dapat membuka pintu menuju malam yang telah lewat itu.

Dan di balik pintu ada seorang anak kecil yang masih berlari. Ia belum tahu bahwa kelak ia akan menjadi dewasa dan belum tahu bahwa banyak hal yang disaksikannya malam itu akan hilang dari dunia nyata. Ia juga belum tahu bahwa suatu hari nanti ia akan kembali menonton film yang sama, bukan lagi dengan ketakutan terhadap Mak Lampir, melainkan dengan rasa takjub terhadap bagaimana sebuah fragmen sederhana dari masa kanak-kanak dapat bertahan begitu lama di dalam ingatan.

Mungkin itulah misteri yang sebenarnya. Bukan misteri Gunung Merapi, bukan pula misteri Mak Lampir, melainkan misteri ingatan manusia tentang bagaimana sebuah layar putih yang berdiri sebentar di sebuah lapangan desa dapat menyimpan satu malam, satu masa kanak-kanak, dan sebagian kecil kehidupan seseorang untuk puluhan tahun kemudian dikenangkan. (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll