Kabayan Mencari Jodoh di Antara Cinta, Gengsi, dan Persib

Menonton film ini setelah dahulu hanya menyaksikannya sepenggal-sepenggal di televisi jadul sewaktu...

Kabayan Mencari Jodoh di Antara Cinta, Gengsi, dan Persib

03 Okt 2026
96 x Dilihat
Share :

Menonton film ini setelah dahulu hanya menyaksikannya sepenggal-sepenggal di televisi jadul sewaktu kecil terasa seperti membuka kembali sebuah ingatan yang lama tersimpan. Saat itu saya belum benar-benar memahami apa arti mencari jodoh, apalagi memahami kelucuan dan sindiran yang tersembunyi di balik tingkah laku tokoh-tokohnya. Puluhan tahun kemudian, ketika saya mulai memahami kehidupan dengan segala kerumitan hubungan antarmanusia, saya kembali menonton film ini secara utuh sekaligus membuat catatan ulasannya, sepulang dari menyaksikan pertandingan final Piala Presiden antara Persib Bandung dan Sriwijaya FC di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 18 Oktober 2015. Persib memenangi pertandingan tersebut dengan skor 2–0 melalui gol Ahmad Jufriyanto dan Makan Konate. “Hidup Persib," kata Mang Kabayan.

Ketika datang ke GBK dan kemudian teringat kembali pengalaman menonton Si Kabayan Mencari Jodoh, menjadi dua dunia yang pada mulanya tampak tidak berhubungan yang kemudian perlahan bercampur di dalam ingatan. Mungkin ada yang terasa lucu sekaligus akrab dari pertemuan keduanya. Kabayan, tokoh rakyat Sunda yang sejak lama hidup melalui kelakar, dan Persib, klub sepak bola yang bagi banyak orang Sunda bukan sekadar sebuah kesebelasan. Keduanya sama-sama membawa sesuatu yang sulit dijelaskan hanya dengan bahasa rasional. Keduanya tumbuh dari pengalaman kolektif, dari ingatan yang diwariskan, dari rasa memiliki, dan dari cara orang menemukan kegembiraan di tengah kehidupan yang tidak selalu mudah.

Kabayan adalah kelucuan, kecerdikan, keluguan, sekaligus bentuk perlawanan kecil orang biasa terhadap keadaan. Ia tidak selalu menghadapi dunia dengan kekuatan atau kewibawaan, melainkan dengan akal, kelakar, dan kemampuan melihat celah di antara aturan-aturan kehidupan. Sementara Persib membawa ingatan kolektif tentang Bandung dan Jawa Barat, tentang kota dan kampung halaman, tentang stadion dan kerumunan, tentang warna biru yang bagi para bobotoh bukan sekadar warna, melainkan bagian dari pengalaman emosional yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Maka ketika Kabayan dan Persib bertemu di dalam ingatan saya, yang hadir bukan sekadar dua nama dari dua kebudayaan yang berbeda, melainkan dua bentuk kecintaan yang sama-sama tumbuh dari pengalaman bersama.

Namun, yang paling saya ingat mungkin bukan Kabayan, tapi Kevlin, calon menantu Abah Umuh, dengan bulu kumisnya yang berjingkrak-jingkrak lucu ketika gol Persib melesak pada menit-menit awal pertandingan. Ingatan itu membuat pengalaman menonton film menjadi lebih personal. Sebuah film sering menetap dalam ingatan kita bukan hanya karena jalan ceritanya. Ia bisa melekat melalui seorang tokoh, sebuah tempat, suatu waktu, suara tertentu, ekspresi wajah, gerak tubuh, atau sebuah kalimat dialog yang entah bagaimana terus hidup di kepala kita dan membuat kita berpikir ulang bertahun-tahun kemudian. 

Ingatan terhadap Kevlin, misalnya, mungkin tampak remeh jika dilihat dari luar, tetapi justru detail semacam itulah yang membuat sebuah tontonan memiliki kehidupan kedua di dalam kepala penontonnya. Demikian sebuah ulasan film yang ditulis bertahun-tahun setelah film tersebut pertama kali ditonton secara sepenggal-sepenggal, lalu ditonton kembali secara utuh puluhan tahun kemudian, barangkali sesungguhnya bukan semata-mata usaha untuk mengingat kembali jalan ceritanya, melainkan juga merupakan usaha untuk memahami mengapa sebuah cerita dapat bertahan begitu lama di dalam ingatan, bahkan ketika sebagian detail ceritanya telah memudar. 

Padahal waktu akan mengubah cara seseorang dalam melihat dan berpikir. Namun melihat film ini dimana ada adegan yang dahulu mungkin hanya terasa lucu, tapi kemudian terasa sebagai sindiran sosial, bagaimana tokoh yang dahulu dianggap sekadar konyol, kemudian menjadi terlihat sebagai gambaran manusia biasa yang sedang mencari jalan keluar dari keadaan. Demikian kisah tentang mencari jodoh menjadi dapat dibaca mungkin sebagai cerita tentang keluarga, harga diri, kecemasan, keinginan, dan negosiasi manusia dengan kehidupan dan segala dambaannya.

Begitulah dengan Si Kabayan yang bukan semata-mata tokoh dalam film, melainkan tokoh yang telah lebih dahulu hidup dalam tradisi lisan Sunda sebelum berpindah dari dongeng ke buku, dari panggung ke layar film, dan kemudian ke berbagai bentuk budaya populer. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menempatkan Si Kabayan sebagai salah satu sastra lisan Sunda yang sangat terkenal, dengan kelucuan yang tidak berhenti pada fungsi menghibur, tetapi juga membawa sindiran dan kecerdikan. Membuatnya di dalam kelucuan itulah Kabayan menjadi menarik. Sebab ia dapat membuat orang tertawa sekaligus memperlihatkan sesuatu yang seringkali luput ketika kehidupan dipandang terlalu serius. Maka kelakar menjadi suatu cara untuk mengatakan sesuatu yang mungkin sulit disampaikan secara langsung.

Termasuk ingatan ketika pada babak akhir pertandingan, kemudian terjadi semacam pengadonan imajinatif antara Peuyeum Bandung dan Pempek Palembang di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang terasa seperti sebuah kuali penggorengan. Dalam bahasa saya, maka jadilah “Yeum-yeum”. Imajinasi semacam ini barangkali hanya bisa lahir dari pertemuan antara sepak bola, humor Sunda, dan ingatan terhadap Kabayan. Peuyeum dan Pempek, dalam bayangan yang sederhana itu, tidak lagi sekadar makanan dari dua daerah yang berbeda, melainkan berubah menjadi simbol kecil tentang bagaimana kebudayaan Indonesia selalu menemukan cara untuk bertemu, bercampur, saling meledek, dan saling mengenali tanpa harus kehilangan asal-usulnya.

Bandung dan Palembang bertemu bukan hanya melalui dua kesebelasan yang bertanding di lapangan, tetapi juga melalui kelakar yang membuat kemenangan dan kekalahan terasa lebih manusiawi. Di stadion, pertandingan memang memiliki skor yang menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Namun di luar angka pada papan skor, manusia selalu menemukan cara lain untuk merayakan pertandingan yang bisa melalui cerita, ejekan yang bersahabat, makanan, bahasa, kenangan, dan humor. Dalam ruang semacam itulah humor Kabayan menemukan tempatnya.

Humor Kabayan tidak selalu membutuhkan lelucon yang rumit. Kadang-kadang ia cukup mempertemukan dua hal yang tampaknya tidak berhubungan, kemudian membiarkan imajinasi bekerja. Peuyeum Bandung dan Pempek Palembang, Kabayan dan Persib, film masa kecil dan pertandingan sepak bola yang berlangsung bertahun-tahun kemudian, semuanya dapat bertemu ketika ingatan membuka ruang bagi kemungkinan-kemungkinan yang tidak masuk dalam perhitungan rasional. Dalam dunia Kabayan, sesuatu yang ganjil justru dapat terasa masuk akal karena kelucuan memberi kita jalan untuk melihat kehidupan dari sudut yang lain.

Mungkin di situlah kekuatan Kabayan sebenarnya yang tidak hanya mengajarkan kita untuk tertawa, tetapi juga mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu harus dijelaskan dengan keseriusan. Ada kalanya manusia membutuhkan kelucuan untuk memahami kesulitan, membutuhkan keluguan untuk menghadapi kerumitan, dan membutuhkan sedikit keganjilan untuk melihat bahwa dunia yang kita anggap pasti ternyata selalu menyediakan kemungkinan lain.

Film yang dahulu saya tonton sepotong-sepotong di televisi jadul akhirnya kembali dalam bentuk yang berbeda: bukan lagi sekadar cerita tentang seorang lelaki bernama Kabayan yang mencari jodoh, melainkan sebuah perjalanan kecil menuju ingatan tentang masa kanak-kanak, tentang Sunda, tentang Persib, tentang sebuah pertandingan di GBK, dan tentang bagaimana sebuah cerita dapat menemukan makna baru ketika penontonnya telah berubah oleh waktu.

Film legendaris yang disutradarai oleh Maman Firmansjah ini merupakan film terakhir dari serial orisinal Si Kabayan yang dibintangi oleh mendiang Didi Petet dan lawan mainnya Desy Ratnasari sebagai Iteung. Film Si Kabayan Mencari Jodoh tercatat sebagai produksi tahun 1994 dengan durasi sekitar 85 menit, diproduksi oleh PT Kharisma Jabar Film, ditulis oleh Eddy D. Iskandar, mempertemukan Didi Petet dengan Desy Ratnasari, Rachmat Hidayat, Sena A. Utoyo, dan Novi Gawatini. Film ini dirilis pada 19 Mei 1994, menjadi salah satu dalam lintasan film-film tentang Kabayan. Sebelumnya ada Si Kabayan Saba Kota, Si Kabayan dan Gadis Kota, Si Kabayan dan Anak Jin, dan Si Kabayan Saba Metropolitan, sebelum akhirnya tokoh folklore Sunda ini dihidupkan kembali dalam bentuk baru melalui film terbaru, Kabayan Jadi Milyuner pada 2010, yang ceritanya tentang perjuangan Kabayan mengejar cinta seorang akuntan bernama Iteung. Namun dengan syarat harus meraih uang 1M dalam waktu 1 minggu. 

Dengan film Si Kabayan Mencari Jodoh adalah sama-sama tentang memperjuangkan jodoh. Namun sebenarnya jika diperhatikan lebih jauh, dua film tersebut berbicara tentang sesuatu yang lebih luas daripada sekadar perjuangan seorang laki-laki mendapatkan perempuan yang dicintainya. Si Kabayan Mencari Jodoh berbicara tentang kelas sosial, kemiskinan, pandangan orang tua terhadap calon menantu, dan keinginan seseorang untuk membuktikan bahwa harga dirinya tidak dapat diukur hanya melalui kekayaan. Sementara Kabayan Jadi Milyuner, yang disutradarai Guntur Soeharjanto dan dirilis pada 2010, membawa persoalan cinta Kabayan dan Iteung ke dalam konflik baru yang berkaitan dengan pesantren, kepentingan bisnis properti, dan lingkungan. Film terakhir itu tidak lagi dibintangi Didi Petet sebagai Kabayan, tapi menampilkan Jamie Aditya yang mengambil peran Kabayan, sedangkan Didi Petet tampil sebagai Abah.

Perubahan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa Kabayan bukan karakter yang harus selalu tinggal dalam satu zaman. Ia dapat berpindah dari desa ke kota, dari persoalan mencari jodoh ke persoalan mempertahankan tanah, dari humor tentang kemalasan ke kritik terhadap keserakahan, dan dari film yang sangat lokal menuju cerita yang berusaha menjangkau penonton Indonesia yang lebih luas. Bahkan ketika tokohnya diperankan oleh aktor yang berbeda, Didi Petet pernah mengatakan bahwa karakter Kabayan tetap dapat ditafsirkan oleh masing-masing pemeran. Dalam pandangan Didi, Kabayan tetap merupakan sosok yang santun, lugu, dan polos.

Film sebelumnya cukup sederhana jalan ceritanya. Si Kabayan Mencari Jodoh menceritakan perjalanan panjang Kabayan (Didi Petet) untuk mendapatkan restu dan meminang belahan jiwanya, Nyi Iteung, yang diperankan oleh Desy Ratnasari. Namun hubungan mereka terganjal oleh Abah (Rachmat Hidayat) yang tidak sudi memiliki menantu pemuda kampung miskin dan malas seperti Kabayan. 

Di sinilah konflik film menjadi lebih menarik daripada sekadar komedi percintaan. Abah sebenarnya tidak hanya menolak seorang pemuda bernama Kabayan. Sebenarnya Abah menolak sebuah gambaran masa depan yang sedang dibayangkannya apabila anak perempuannya menikah dengan laki-laki yang dianggap tidak mempunyai modal ekonomi. Kemiskinan dalam film ini bukan hanya keadaan material, tetapi juga menjadi stigma, yang kemudian membawa Kabayan harus berhadapan dengan anggapan bahwa seseorang yang miskin berarti tidak pantas mendapatkan cinta, apalagi restu keluarga.

Demi membuktikan dirinya, Kabayan nekat merantau ke kota untuk mengadu nasib. Di kota, ia dibantu oleh sahabatnya, Joni Kemod (Sena A. Utoyo), dan juragannya yang bernama Nora Nori (Novi Gawatini). Setelah sukses mengubah penampilannya menjadi orang kota yang tampak berkelas, Kabayan pulang ke kampung untuk melamar Nyi Iteung. Lalu cerita berakhir bahagia ketika Abah akhirnya sadar dan menerima Kabayan apa adanya. 

Mungkin jalan ceritanya cukup memperlihatkan salah satu pola yang sering muncul dalam cerita rakyat dan komedi. Tokoh yang dianggap lemah yang kemudian menemukan kekuatannya melalui sebuah kecerdikan. Tetapi film ini juga menyimpan ironi saat Kabayan harus terlebih dahulu tampak seperti orang kota agar orang yang menolaknya percaya bahwa ia telah berubah. Dengan kata lain, yang berubah bukan semata-mata Kabayan, melainkan cara orang lain memandang Kabayan setelah ia terlihat memiliki status sosial yang lebih tinggi. 

Sinopsis yang tersedia mengenai film ini juga menegaskan bahwa Kabayan pergi ke kota untuk mencari keberuntungan dengan bantuan Joni Kemod dan Nora Nori sebelum kembali sebagai orang kota untuk meminang Iteung. Kabayan dalam petualangannya mencari jodoh (Iteung) itu, setelah niat baiknya ditolak mentah-mentah oleh Abah karena ia terlalu miskin. Sesungguhnya ini cerita menjadi pintu masuk untuk membaca film dari sudut yang lebih luas bahwa jodoh, dalam cerita Kabayan, bukan semata-mata perkara dua orang yang saling mencintai. Di belakangnya terdapat keluarga, ekonomi, gengsi, status sosial, dan harapan orang tua terhadap masa depan anaknya. 

Abah merasa mempunyai hak untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pasangan Iteung karena ia melihat perkawinan bukan hanya sebagai hubungan dua manusia, tetapi sebagai penyatuan dua kehidupan. Di satu sisi, sikap semacam itu dapat dipahami sebagai kecemasan seorang orang tua. Tetapi di sisi lain, film memperlihatkan bagaimana kecemasan tersebut dapat berubah menjadi kesombongan ketika ukuran kelayakan seseorang semata-mata ditentukan oleh kekayaan dan penampilan.

Ketik Iteung dipindahkan ke Bandung demi masa depan yang lebih baik, Kabayan akhirnya menyusul dan bertemu dengan biduan ternama. Perjalanan menuju kota dalam film-film Kabayan sebenarnya bukan sekadar perjalanan geografis. Kota merupakan ruang tempat identitas seseorang diuji. Desa sering digambarkan sebagai tempat asal, tempat keluarga, tempat tradisi dan ingatan, sedangkan kota tampil sebagai tempat kesempatan sekaligus godaan. 

Kajian yang diterbitkan dalam Kabuyutan dan terindeks Garuda Kemdikbudristek bahkan melihat bahwa film-film Kabayan adalah medium kritik terhadap marjinalisasi orang desa oleh orang kota. Perjalanan Kabayan ke kota, maka dapat dibaca bukan hanya sebagai perjalanan mencari uang, melainkan sebagai perjalanan menghadapi ukuran-ukuran sosial yang berbeda.

Dan hal yang paling menggelitik di film ini adalah soal kebodohan Abah saat Kabayan membohonginya dengan kata-kata muslihat khasnya. Meski Abah tidak selalu benar-benar bodoh, melainkan sering menjadi sasaran karena terlalu yakin pada penilaiannya sendiri. Kabayan memahami kelemahan itu dan menggunakannya sebagai celah untuk membalikkan keadaan. 

Humor Kabayan lahir bukan semata karena Kabayan berbohong. Tetapi karena orang yang merasa lebih pintar ternyata dapat dikalahkan oleh orang yang selama ini dianggap bodoh. Maka pola semacam ini merupakan salah satu kekuatan utama cerita Kabayan. Seperti dicatat oleh Badan Bahasa bahwa tokoh Kabayan mungkin secara tradisional digambarkan sebagai manusia pemalas, tetapi sesungguhnya ia memiliki daya pikir yang luar biasa cerdik, sehingga bahkan mertuanya tidak selalu mampu menandingi kecerdikannya.

Sementara Iteung memang kembang desa sejak dini. Ia bukan sekadar tokoh perempuan yang menjadi tujuan perjalanan Kabayan. Dalam tradisi cerita Kabayan, Iteung merupakan bagian penting dari dunia yang mengelilingi tokoh utama sebagai perempuan utama, perempuan yang dicintainya. Tetapi ia anak Abah yang sekaligus sosok yang membuat konflik antara Kabayan dan keluarganya menjadi inti cerita. Dalam banyak kisah Kabayan, hubungan Kabayan dengan Iteung dan kedua mertuanya menjadi sumber cerita sehari-hari yang sederhana, jenaka, tetapi dapat menyentuh persoalan sosial yang lebih luas.

Kolaborasi yang menarik. Didi Petet dan Desy Ratnasari menghadirkan hubungan yang tidak perlu terlalu banyak dijelaskan dengan kata-kata. Di antara keluguan Kabayan dan kecantikan Iteung terdapat ketegangan yang membuat kisah cinta mereka tetap hidup. Kabayan, seorang laki-laki yang dianggap tidak pantas oleh calon mertuanya, dan Iteung, seorang perempuan yang berada di antara kehendak keluarga dan pilihannya sendiri. Di sinilah komedi menjadi lebih dari sekadar alat untuk membuat penonton tertawa. Komedi memberi jarak agar persoalan yang sebenarnya serius dapat dibicarakan tanpa terasa menggurui.

Barangkali itu pula yang membuat Kabayan tidak pernah benar-benar menjadi tokoh yang selesai. Ia hidup karena selalu dapat dipindahkan ke persoalan zaman yang berbeda. Penelitian tentang film-film Kabayan menunjukkan bahwa tokoh ini terus mengalami modifikasi dan adaptasi mengikuti zaman ketika film diproduksi, untuk menggambarkan sebuah masyarakat ketika berbicara tentang kemiskinan, Kabayan dapat menjadi laki-laki desa yang dianggap tidak punya masa depan. Lalu ketika masyarakat berbicara tentang kota dan modernitas, ia dapat menjadi orang desa yang dianggap gagap menghadapi dunia baru. Ketika masyarakat berbicara tentang keserakahan, Kabayan juga mampu menjadi tokoh yang menertawakan orang kaya. Begitu pula ketika masyarakat berbicara tentang cinta, Kabayan pun mampu menjadi laki-laki yang bersedia pergi jauh hanya untuk memperjuang cinta dan restu orang tua perempuannya.

Kelucuan Kabayan sebetulnya menyimpan semacam kebijaksanaan yang tidak datang melalui khotbah. Ia tidak mengajarkan kehidupan dengan berdiri di atas mimbar. Ia hanya mengajarkannya melalui kesalahan, keluguan, akal-akalan, dan kadang-kadang kebohongan kecil yang membuat orang lain kehilangan kesombongannya. Kabayan mungkin boleh dikatakan adalah tokoh yang berada di antara bodoh dan cerdik, antara malas dan mampu, antara wong desa dan orang kota. Sebab di wilayah abu-abu semacam itulah yang membuatnya terasa manusiawi. Ia bukan pahlawan yang sempurna. Ia hanya orang biasa yang berusaha mendapatkan sesuatu yang dianggap penting baginya.

Dari sana, Si Kabayan Mencari Jodoh kemudian dapat dibaca kembali sebagai cerita tentang sebuah harga diri. Kabayan pergi bukan semata-mata karena ingin menjadi kaya, tetapi karena ia ingin membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Meski sungguh ironis, setelah ia berhasil mengubah penampilan dan status sosialnya, namun ia tetap harus kembali kepada dirinya sendiri. Sebab pada akhirnya Abah menerima Kabayan apa adanya, yang seolah-olah perjalanan ke kota itu hanya diperlukan bukan untuk mengubah Kabayan menjadi manusia lain, melainkan untuk memperlihatkan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa ukuran seseorang tidak sesederhana pakaian, pekerjaan, uang, atau cara berbicara.

Itulah sebabnya kisah Kabayan mencari jodoh masih terasa dekat meskipun filmnya telah berusia lebih dari tiga dekade. Persoalan tentang siapa yang dianggap pantas menjadi pasangan anak masih sering berkaitan dengan pekerjaan, penghasilan, pendidikan, keluarga, tempat tinggal, dan status sosial. Cinta dapat dimulai dari dua orang, tetapi ketika memasuki perkawinan sering berhadapan dengan banyak mata yang ikut menilai. Kabayan menertawakan keadaan tersebut dengan caranya sendiri dan ia memperlihatkan bahwa manusia sering terlalu cepat menilai seseorang dari apa yang terlihat, lalu terlambat menyadari bahwa di balik penampilan yang sederhana mungkin sejujurnya tempat bersemayam kecerdikan, keteguhan, dan kesetiaan.

Dan mungkin di situlah letak daya tahan Kabayan sebagai tokoh budaya Sunda. Badan Bahasa menyebut cerita Kabayan sebagai sastra lisan yang bukan hanya penuh kelucuan, tetapi juga mengandung sindiran yang dikemas melalui humor. Cerita itu kemudian dituliskan kembali agar dapat dikenal lebih luas di luar masyarakat Sunda dan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sastra daerah kepada masyarakat Indonesia. Kabayan akhirnya tidak lagi hanya menjadi milik satu kampung, satu generasi, atau satu medium. Ia berpindah dari cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut ke buku, film, televisi, dan bentuk-bentuk budaya populer lain. Transformasi itu menunjukkan bahwa sebuah tokoh rakyat dapat bertahan bukan karena ia dibekukan dalam bentuk lama, melainkan karena ia terus menemukan persoalan baru untuk ditertawakan dan direnungkan.

Maka, ketika mengingat kembali film ini, yang tersisa bukan hanya Kabayan yang mengejar Iteung, bukan hanya Abah yang keras kepala, bukan hanya Joni Kemod dan Nora Nori sebagai orang yang membantu, juga bukan sekadar kelucuan seorang pemuda desa yang berusaha tampak seperti orang kota. Tersisa pertanyaan bagi kita akan seberapa banyak orang dalam kehidupan nyata kita yang pernah dianggap tidak pantas hanya karena tidak memiliki cukup uang, tidak cukup gelar, tidak cukup penampilan, atau tidak cukup status? Dan berapa banyak pula orang yang, seperti Kabayan, harus pergi jauh hanya untuk membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya sebenarnya berharga?

Mungkin cinta memang tidak pernah benar-benar hanya soal mencari jodoh. Kadang-kadang ia adalah perjalanan untuk menemukan kembali harga diri, yang membuat terkadang seseorang harus meninggalkan kampung halamannya, harus menyeberangi batas sosial, lalu mengalami kegagalan, dan bahkan harus menertawakan dirinya sendiri sebelum akhirnya memahami bahwa yang paling sulit bukan mendapatkan seseorang yang dicintai, melainkan membuat orang lain melihat kita sebagaimana adanya. Semacam saya adalah Kabayan yang harus berangkat ke kota, sebagai pemuda miskin yang tak punya cinta, ingin pula ketika pulang dengan pakaian dan keberuntungan yang berbeda, lalu pada akhirnya menerima cinta sebagaimana cinta Kabayan dan Iteung. 

Tetapi hidup, adalah perjalanan yang sering berputar-putar jauh hanya untuk membawa seseorang yang pada akhirnya kembali jua kepada dirinya sendiri. Mungkin karena itulah, di antara tawa, cinta, kemiskinan, gengsi, kota, desa, Persib, peuyeum Bandung, pempek Palembang, dan suara Mang Kabayan yang seolah-olah selalu mempunyai jawaban untuk setiap keadaan. Tentu kisah ini masih menyisakan satu kalimat sederhana dalam mencari jodoh, bahwa terkadang itu berarti adalah mencari jalan pulang kepada diri sendiri. (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll