Sungguh ironis ia yang sangat mencintai, namun tak terbalaskan cintanya. Apakah juga saya begitu? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul setelah malam semakin larut, saat sudah jam 9 malam, setelah baru saja selesai saya menonton film Hindi yang tokoh antagonisnya adalah The King Khan, Shah Rukh Khan. Film itu adalah Darr, karya Yash Chopra yang dirilis pada 24 Desember 1993 melalui Yash Raj Films. Lebih dari tiga dekade setelah pertama kali diputar, film ini rupanya masih menyisakan sesuatu yang tidak sederhana tentang kegelisahan di mana cinta yang begitu kuat, sehingga kehilangan kemampuannya untuk mengenali batas antara perasaan, keinginan, kepemilikan, dan kekerasan.
Yash Raj Films sendiri menggambarkan Darr sebagai kisah tentang gairah, obsesi, dan pengorbanan, dengan tiga pusat cerita antara Rahul yang diperankan Shah Rukh Khan, Kiran yang diperankan Juhi Chawla, dan Sunil yang diperankan Sunny Deol. Film ini bercerita tentang cinta matinya seorang pemuda kepada teman kuliahnya, yang sekian lama dipendam sampai menjelang kematiannya. Rahul begitu sangat mencintai Kiran, teman kuliahnya itu. Tetapi Kiran tidak membalas perasaan itu karena ia mencintai Sunil.
Karenanya, persoalan kemudian bukan lagi sekadar bagaimana seseorang menghadapi cinta yang tidak berbalas, melainkan bagaimana seseorang memperlakukan cinta ketika orang yang dicintainya tidak memberikan jawaban yang diharapkan. Bagi yang merasa pernah menghadapi penolakan cinta seperti Rahul, segala perasaan penolakan itu yang tidak mampu menerima kenyataan memang amat sangat menyakitkan.
Cinta itu, barangkali mengubah sebuah kerinduan menjadi pengejaran, lalu kekaguman menjadi pengawasan, dan cinta akhirnya menjadi sebuah obsesi diri. Bahkan setelah Kiran menikah dengan Sunil, Rahul terus menghantuinya, melalui telepon, dengan kehadiran yang tiba-tiba, dan berbagai tindakan yang membuat kehidupan Kiran dan Sunil dipenuhi ketakutan.
Dalam sinopsis yang terdokumentasi dalam arsip film, juga memperlihatkan bahwa skenario yang harus dijalankan King Khan yang memerankan Rahul, bahwa ia harus berulang kali mengikuti Kiran dan meneruskan pengejarannya, meskipun perempuan itu tidak memiliki ketertarikan kepadanya. Sebab memerankan karakter kuat yang antagonis itu, menurut salah satu sumber berita, itulah salah satu jalan yang melempangkan Shah Rukh Khan menuju King Khan.
Bagaimana kuatnya peran antagonis itu, sampai ketika perempuan yang dinikahinya itu menikah dengan orang lain, Rahul masih terus meneror kapan dan di mana pun perempuan pujaannya berada. Sikap obsesif itu mungkin terdengar keras jika dibaca dari jarak sekarang, tetapi di situlah kekuatan dan keunggulan Darr. Film ini tidak hanya memperlihatkan seseorang yang sedang jatuh cinta, melainkan seseorang yang tidak mampu menerima bahwa cinta mempunyai kehendak lain di luar kehendaknya sendiri.
Dalam kacamata nalar yang sadar tak mengalaminya, seharusnya Rahul membiarkan Kiran yang mempunyai kehendaknya sendiri, memiliki hak untuk mencintai orang lain, menikah dengan orang lain, dan menjalani kehidupannya sendiri tanpa gangguan apapun dari masa lalu. Perasaan Rahul boleh saja nyata, bahkan mungkin sangat dalam, tetapi kedalaman perasaan tidak otomatis memberikan hak untuk memasuki kehidupan orang lain tanpa persetujuan.
Di titik inilah film tersebut menjadi jauh lebih gelap daripada kisah percintaan biasa. Sungguh ironis ia yang bernasib seperti Rahul, ia yang sangat mencintai, namun cintanya tak terbalas. Sungguh kasihan si pemuda itu, yang bahkan oleh perempuan pujaannya malah disuruh untuk dibunuhnya. Ia bernasib hanya sebagai pemuja belaka, sampai akhir kematiannya. Dan kematiannya pun di tangan suami si perempuan itu.
Di sinilah tragedi Rahul menjadi ambigu. Ia memang dapat dilihat sebagai seorang pemuda yang menyedihkan karena cintanya tidak pernah menemukan tempat untuk berlabuh. Namun, pada saat yang sama, film tidak membebaskan kita untuk menganggap kesedihan sebagai pembenaran atas tindakannya. Rahul bukan hanya seseorang yang patah hati. Sebabnya ia telah menjadikan patah hati sebagai alasan untuk terus hadir dalam kehidupan seseorang yang tidak menghendaki kehadirannya. Karena itu, kematiannya bukan sekadar akhir dari sebuah kisah cinta yang gagal, melainkan juga konsekuensi dramatis dari sebuah obsesi yang sejak awal tidak mengenal batas.
Barangkali inilah bagian paling menarik dari Darr. Yash Chopra, yang selama kariernya sangat dikenal sebagai pembuat film tentang cinta dan romantisisme, justru memasukkan sosok yang membuat konsep cinta itu sendiri terasa menakutkan. Film ini tidak menempatkan Rahul sebagai pahlawan romantis konvensional. Ia adalah pusat ketegangan sekaligus sumber ketakutan.
Dalam catatan mengenai Yash Chopra, kajian akademik tentang film tersebut bahkan menyoroti daya tarik berbahaya ketika dalam film memunculkan karakter Rahul, yang bisa membuat penonton dapat merasa tertarik kepadanya dengan tanpa menyadari bahwa ia sebenarnya seorang penguntit yang mengganggu dan menakutkan.
Karena itu, judul Darr—yang berarti “ketakutan” menjadi penting. Ketakutan dalam film ini bukan hanya ketakutan terhadap kematian. Penonton diajak untuk bersimpati kepada Kiran yang takut terhadap seseorang yang mencintainya dengan cara yang salah dan Sunil yang takut kehilangan perempuan yang dicintainya. Bahkan Rahul sendiri tampaknya juga takut kehilangan satu-satunya gambaran cinta yang telah dibangun di dalam kepalanya.
Dengan demikian, ketiganya berada dalam lingkaran ketakutan yang berbeda. Yash Raj Films bahkan merumuskan kisah itu sebagai pertemuan antara cinta, kehidupan, dan obsesi, di mana Kiran berada di antara seorang lelaki yang mencintainya dan seorang lelaki yang terobsesi kepadanya. Dalam konteks sekarang, bagian tersebut terasa semakin relevan untuk menjadi pelajaran tentang cinta yang harus punya batas.
Kita yang hidup hari ini dengan segala kemudahan perangkat teknologi penyisir keberadaan seseorang, bisa saja berbuat seperti Rahul yang harus menggunakan telepon, mengikuti seseorang secara fisik, menyusup ke ruang-ruang kehidupan orang lain, atau muncul secara langsung untuk mempertahankan obsesinya. Ketika teknologi membuat jarak hampir tidak lagi menjadi penghalang, seseorang dapat mengikuti aktivitas orang lain melalui media sosial, mengirim pesan berulang-ulang, memantau keberadaan digital, membuat akun baru setelah diblokir, atau mengawasi aktivitas seseorang tanpa pernah benar-benar berada di tempat yang sama dengan orang yang sedang dipantaunya.
Organisasi UN Women memasukkan online stalking, pemantauan aktivitas, pelacakan, pelecehan daring, doxxing, dan berbagai bentuk pengawasan digital adalah bagian dari kekerasan berbasis teknologi terhadap perempuan. Data Indonesia juga memperlihatkan bahwa persoalan tersebut bukan semata-mata tema dalam film lama. Analisis mendalam Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 yang diterbitkan UNFPA Indonesia mencatat bahwa 7,5 persen perempuan di Indonesia pernah mengalami pelecehan seksual daring sepanjang hidupnya, sedangkan 2,2 persen mengalaminya dalam satu tahun terakhir.
Angka tersebut juga lebih tinggi di wilayah perkotaan dibandingkan wilayah perdesaan. Data itu memang tidak dapat disamakan begitu saja dengan perilaku Rahul dalam Darr, tetapi ia memperlihatkan bahwa ruang digital telah menjadi bagian nyata dari persoalan kekerasan dan pelecehan yang sebelumnya lebih mudah dibayangkan hanya terjadi di ruang fisik.
Di India sendiri, persoalan stalking kini memiliki rumusan hukum yang lebih eksplisit. Bharatiya Nyaya Sanhita 2023, yang berlaku sejak 1 Juli 2024, mengatur stalking dalam Section 78. Ketentuan tersebut mencakup tindakan mengikuti seorang perempuan atau berulang kali menghubunginya untuk membangun interaksi pribadi meskipun telah ada tanda jelas bahwa ia tidak berminat, atau memantau penggunaan internet, surat elektronik, atau bentuk komunikasi elektronik lainnya, hukuman untuk pelanggaran pertama dapat mencapai tiga tahun penjara dan denda, sementara pengulangan dapat dikenai hukuman hingga lima tahun dan denda.
Menariknya, hukum ini seperti memberikan bahasa yang lebih tegas terhadap sesuatu yang sudah dibicarakan Darr lebih dari tiga puluh tahun lalu melalui bahasa sinema. Film itu memperlihatkan bahwa persoalan sebenarnya bukan seberapa besar seseorang mencintai, melainkan apakah ia mampu menghormati kehendak orang yang dicintainya. Cinta yang sehat membutuhkan kebebasan dua pihak. Ketika hanya satu pihak yang berbicara, mengejar, memaksa hadir, sementara pihak lain terus-menerus menunjukkan ketidakberminatan, hubungan itu tidak lagi berdiri di atas timbal balik.
Barangkali yang perlu kita sadari, terutama buat seorang yang pernah atau akan mengalami penolakan, bahwa sebuah perasaan memang masih mungkin disebut cinta dari sisi orang yang merasakannya. Tetapi tindakan yang lahir dari perasaan tersebut dapat berubah menjadi sesuatu yang menakutkan bagi orang yang menerimanya. Sebab, cinta tidak pernah hanya tentang perasaan orang yang mencintai. Cinta juga menyangkut keberadaan orang yang dicintai dengan segala kehendak, kebebasan, ruang pribadi, dan keputusan yang tidak bisa dihapus hanya karena seseorang merasa cintanya begitu besar.
Dalam pengertian itu, Darr seperti mengajukan pertanyaan yang lebih sulit daripada sekadar “apakah cinta Rahul tulus?” Pertanyaan yang lebih penting yang mungkin patut direnungkan bahwa apa yang seharusnya dilakukan seseorang ketika cintanya tidak diterima? Di sanalah mungkin kualitas cinta diuji. Apakah ia mampu menerima penolakan, menjaga jarak, merawat dirinya sendiri, dan membiarkan orang yang dicintainya tetap bebas, ataukah ia menganggap penolakan sebagai penghinaan yang harus dilawan.
Tokoh jahatnya yang diperankan oleh Shah Rukh Khan, maka antaslah ia sebagai aktor terbaik dan terpopuler India. Karena aktingnya menarik baik sebagai tokoh protagonis maupun antagonis. Film yang diproduksi tahun 1993, Darr tergolong film lawas, tapi temanya tak lekang zaman. Secara kesan pribadi, saya memahami mengapa penampilan Shah Rukh Khan dalam film ini begitu membekas. Sebab Rahul berbeda dari kesan citra romantis yang kemudian begitu kuat melekat pada Khan.
Dalam Darr, ia justru memainkan karakter yang gelap, gelisah, dan mengganggu. Karena peran itu kemudian mendapat nominasi Filmfare untuk kategori Best Performance in a Negative Role, sementara filmnya meraih National Film Award untuk Best Popular Film Providing Wholesome Entertainment. Film ini juga menunjukkan bahwa usia sebuah karya tidak selalu menentukan usia sebuah persoalan. Darr telah berusia lebih dari tiga puluh tahun, tetapi persoalan yang dibawanya masih bergerak di sekitar kita dengan bentuk yang berbeda.
Jika dahulu seseorang mungkin bisa berdiri di depan rumah orang yang dicintainya atau menelepon berkali-kali sebagai pengganggu yang dalam dakuannya mungkin itulah usaha dalam mengejar cinta. Untuk melakukan cinta obsesif, sekarang orang dapat mengetahui kapan orang lain aktif di media sosial, melihat foto yang baru diunggah, mengikuti lokasi yang dibagikan, mengirim pesan pribadi, atau terus muncul kembali setelah ditolak. Teknologi berubah, tetapi persoalan dasarnya tetap sama apakah kita mampu menerima batas yang diberikan orang lain?
Mungkin karena itulah saya terdiam setelah menonton film ini. Sungguh ironis ia yang sangat mencintai, namun tak terbalaskan cintanya. Apakah juga saya begitu? Pertanyaan itu pada akhirnya tidak harus dijawab dengan membandingkan diri dengan Rahul. Justru film ini mengajak saya untuk melihat kembali makna mencintai dengan lebih jujur. Jika saya pernah mencintai seseorang dan tidak dicintai kembali mungkin itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Sebab yang lebih menentukan adalah tentang bagaimana seseorang memperlakukan perasaannya sendiri setelah mengetahui bahwa perasaan itu tidak mendapatkan jawaban yang sama.
Sebab barangkali cinta yang paling dewasa bukanlah cinta yang berhasil memiliki seseorang, melainkan cinta yang tetap mampu menghormati kebebasan orang lain ketika keinginan untuk memiliki tidak pernah terwujud. Ada saat ketika seseorang harus berhenti mengejar, bukan karena cintanya tiba-tiba hilang, melainkan karena ia menyadari bahwa manusia yang dicintainya bukanlah benda yang dapat dimiliki. Sebab ia mempunyai jalan pulangnya sendiri, pilihan hidupnya sendiri, dan mungkin seseorang lain yang menjadi tempat hatinya berlabuh yang selama ini dinanti.
Darr bercerita bukan hanya tentang seorang lelaki yang mati karena cinta. Ia adalah cerita tentang bagaimana cinta dapat berubah menjadi ketakutan ketika kehilangan batas. Dan mungkin di situlah film lawas ini terasa begitu dekat dengan zaman sekarang, di tengah dunia yang memungkinkan kita mengetahui hampir segala sesuatu tentang seseorang. Karenanya kita semakin membutuhkan kemampuan untuk tidak mengetahui, tidak mengawasi, tidak mengejar, dan tidak memaksa.
Sebab mencintai seseorang barangkali juga berarti mengetahui kapan harus mendekat dan kapan harus berhenti. Karena pada batas itulah cinta kehilangan sifatnya sebagai obsesi, dan kembali menjadi penghormatan terhadap manusia lain yang punya kehendak dan pilihannya sendiri. (Sal)