Omukade: Ketika Musuh Saling Menolong dan Kemanusiaan yang Melampaui Perang

Sesuatu yang menarik ketika unsur Jepang muncul dalam sebuah film Thailand. Jepang memang bukan...

Omukade: Ketika Musuh Saling Menolong dan Kemanusiaan yang Melampaui Perang

26 Sep 2026
152 x Dilihat
Share :

Sesuatu yang menarik ketika unsur Jepang muncul dalam sebuah film Thailand. Jepang memang bukan sekadar nama sebuah bangsa atau latar kebudayaan, melainkan sebagai bagian dari sejarah yang pernah bersinggungan langsung dengan Thailand. Omukade mengambil latar itu, ketika Thailand pada masa Perang Dunia II, atau ketika tentara Jepang dan tawanan perang pihak Sekutu terjebak di sebuah tambang terkutuk dan dipaksa berhadapan dengan ancaman yang jauh lebih mengerikan daripada musuh yang selama ini mereka hadapi.

Judul film ini sendiri merujuk pada Omukade, yokai dalam cerita rakyat Jepang yang digambarkan sebagai kelabang raksasa. Para sineas Thailand kemudian membawa makhluk mitologis tersebut ke dalam ruang sejarah Thailand pada masa perang, lalu mempertemukannya dengan manusia dari latar kebangsaan yang berbeda. 

Dengan demikian, Jepang dalam Omukade tidak hanya hadir melalui makhluk mitologisnya, tetapi juga melalui tentara, karakter, bahasa visual, dan ingatan sejarah yang menjadi latar cerita. Bahkan, keterlibatan aktor Jepang seperti Hideki Nagayama dan Ryota Omi memperkuat kehadiran unsur Jepang dalam film produksi 2026.

Di sinilah saya melihat Omukade menjadi lebih menarik daripada sekadar film horor tentang monster. Cukup berhasil mempertemukan dua lapisan yang berbeda antara mitologi Jepang dan sejarah Thailand. Thailand yang dikenal tak pernah gagal kalau membuat film horor, demikian dalam Omukade, unsur horor bekerja melalui tubuh monster yang mengerikan, sementara unsur sejarah bekerja melalui ingatan tentang perang, pendudukan, tawanan, kekuasaan, dan permusuhan antarmanusia. 

Sutradara Pakphum Wongjinda dan Chalit Krileadmongkon memang katanya merancang Omukade sebagai perpaduan antara horor, thriller, perang, dan monster, dengan latar Perang Dunia II di Thailand. Perjumpaan Thailand dengan Jepang pada masa perang tentu tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Dalam kebudayaan populer Thailand, hubungan tersebut telah berkali-kali menjadi bahan cerita. 

Sebelumnya, misalnya, Nadech Kugimiya pernah memainkan tokoh perwira Jepang dalam Sunset at Chaophraya, film berlatar Thailand pada masa Perang Dunia II yang memperlihatkan hubungan antara seorang perwira Jepang dan perempuan Thailand yang memiliki keterkaitan dengan gerakan perlawanan.

Karena itu, kehadiran Jepang dalam sinema Thailand dapat dibaca sebagai sesuatu yang lebih panjang daripada sekadar kebutuhan cerita. Ia menjadi bagian dari bagaimana sebuah bangsa mengingat sejarahnya sendiri, atau tentang kedatangan orang asing ke negaranya, bersama kekuasaannya, kerja samanya, perlawanannya, dan pertemuan antar manusia-manusia yang harus hidup di tengah pertarungan kepentingan yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Dalam Omukade, masyarakat Thailand pun tidak digambarkan sebagai satu kelompok yang sepenuhnya seragam. Ada mereka yang berpihak atau bekerja sama dengan Jepang, sementara di sisi lain terdapat mereka yang membantu pihak Sekutu. Di mana saja, perang sering menciptakan garis pemisah yang membuat manusia ditempatkan ke dalam kubu-kubu. Jepang dan pihak Eropa atau Sekutu berada dalam posisi berlawanan, sementara orang Thailand ikut terseret ke dalam pilihan-pilihan yang lahir dari situasi politik dan kekuasaan tersebut.

Dengan film akhirnya kemudian mampu melakukan kerjanya, sebagai sesuatu yang sederhana sekaligus penting terutama dalam hubungan Jepang dan Thailand, melakukan sebuah kolaborasi penciptaan seni dari unsur-unsur masa lalu, ketika muncul ancaman bersama berupa makhluk raksasa yang bersembunyi di dalam tambang, batas-batas permusuhan menjadi perlahan kehilangan maknanya. 

Orang Jepang dan tawanan yang sebelumnya berada dalam posisi sebagai musuh akhirnya harus saling membantu untuk bertahan hidup. Dalam situasi ketika masing-masing memiliki alasan untuk saling mencurigai, keselamatan bersama membuat mereka menyadari bahwa manusia memiliki kebutuhan yang sama untuk hidup.

Di titik inilah monster dalam Omukade dapat dibaca bukan hanya sebagai sumber ketakutan, tetapi juga sebagai perangkat cerita untuk memperlihatkan sesuatu tentang manusia. 

Selama ini, apa yang dikatakan tentang musuh sering masih berupa manusia lain, perbedaan bangsa, seragam, kepentingan, atau sejarah yang dapat menjadi alasan untuk saling meniadakan. Namun ketika ancaman datang dari luar seluruh pertentangan itu, mereka dipaksa melihat kembali dirinya sendiri sebagai manusia. Musuh yang tadi hendak dibunuh dapat berubah menjadi orang yang harus diselamatkan.

Barangkali itulah bagian paling menarik dari Omukade. Film ini tidak perlu memberikan kuliah sejarah untuk berbicara tentang perang. Ia cukup menempatkan manusia dari pihak yang berbeda ke dalam sebuah ruang sempit, dengan menghadapkan mereka pada bahaya yang sama, lalu membiarkan naluri untuk bertahan hidup perlahan mengikis kebencian pada sesama. 

Horor akhirnya tidak hanya bekerja untuk menakut-nakuti penonton, tetapi juga menjadi cara untuk memperlihatkan betapa rapuhnya batas antara kawan dan lawan. Omukade mungkin masuk kategori film horor Thailand, tapi lebih dari itu. Film ini meninggalkan sebuah gagasan bahwa sejarah mungkin membuat manusia berdiri di sisi yang berbeda, tetapi kemanusiaan selalu memiliki kesempatan untuk mempertemukan antarmanusia. 

Jepang dan Eropa, Thailand dan pihak Sekutu, tentara dan tawanan, pada akhirnya adalah manusia yang sama-sama ingin keluar dari sebuah ruang kematian. Monster itu mungkin bernama Omukade, tetapi ancaman yang sesungguhnya adalah ketika manusia terlalu lama percaya bahwa perbedaan di antara manusia membuat satu pihak dianggap sebagai ancaman dan tidak lagi layak diselamatkan.

Maka ketika film ini berakhir saya tonton, yang tertinggal bukan hanya bayangan tentang kelabang raksasa yang mengejar manusia di dalam kegelapan. Yang tersisa adalah pertanyaan yang lebih tua daripada perang itu sendiri, ketika segala identitas, seragam, dan kepentingan runtuh di hadapan ancaman kematian. 

Lalu apa yang membuat kita masih memilih untuk menolong manusia lain? Mungkin jawabannya sederhana bahwa sebelum menjadi Jepang, Eropa, Thailand, tentara, tawanan, atau musuh, atau kita semua dengan segala perbedaan identitas dan bahkan personalitasnya, terlebih dahulu kita adalah manusia. (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll