Dangal bagi saya bukan sekadar film tentang gulat, bukan pula semata-mata biografi seorang ayah bernama Mahavir Singh Phogat dan dua anak perempuannya, Geeta dan Babita. Inilah film tentang pergumulan antara memilih dan mengutamakan teknik dan spirit, antara tubuh yang dilatih dan jiwa yang ditempa, atau antara ambisi pribadi dan cita-cita yang kemudian diberi nama lebih besar demi atas nama harum negara.
Dangal, yang berarti gulat atau pertandingan gulat tradisional, membawa kita ke Haryana, salah satu wilayah yang kemudian dikenal sebagai salah satu pusat penting perkembangan gulat perempuan India. Sejarah gulat India sendiri jauh lebih panjang daripada kisah keluarga Phogat. Gulat hidup dalam tradisi akhada, ruang latihan yang tidak sekadar menjadi tempat membangun kekuatan tubuh, tetapi juga tempat membentuk disiplin, identitas, dan nilai-nilai sosial.
Dalam sejarahnya, ruang itu lama sekali diasosiasikan dengan maskulinitas. Maka perempuan harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan tempat di atas matras. Perkembangan kemudian gulat perempuan India memperlihatkan perubahan sosial yang tidak sederhana di mana olahraga menjadi salah satu jalan bagi perempuan dari desa-desa untuk menembus batas yang sebelumnya dianggap hampir tidak mungkin dilampaui.
Di India, gulat, di samping kriket, merupakan olahraga kerakyatan, olahraga yang tumbuh dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia hadir bukan hanya sebagai tontonan elite, tetapi juga sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat di kantong-kantong pemukiman tertentu. Seperti halnya kita memiliki bulu tangkis dan sepak bola, olahraga populer yang hidup di lingkungan masyarakat. Maka sewajarnya muncul pertanyaan yang lebih jauh sebagaimana Dangal di India, adakah dari para sineas kita tercipta imaji untuk mereplika dan menduplikasi semangat mengapa seseorang harus menjadi juara?
Pertanyaan itu menarik ketika kita punya Rudy Hartono yang delapan kali menjuarai All England, tujuh di antaranya diraih secara berturut-turut pada 1968–1974. Nama Rudy Hartono bukan hanya catatan statistik dalam sejarah bulu tangkis Indonesia, melainkan bagian dari ingatan kolektif tentang bagaimana salah satu cabang olahraga ini pernah menjadi salah satu bahasa kebanggaan nasional.
Bahkan, pada 2017, ketika Dangal masih hangat diperbincangkan, kita kembali mendapatkan kegembiraan dari arena yang sama, ketika pasangan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon meraih gelar All England 2017 di Birmingham setelah mengalahkan pasangan Tiongkok Li Junhui/Liu Yuchen dengan skor 21-19, 21-14. Itu merupakan gelar All England pertama bagi Kevin–Marcus dan sekaligus satu-satunya gelar Indonesia pada kejuaraan tersebut.
Namun pertanyaan yang lebih penting bukan hanya siapa yang menjadi juara, melainkan bagaimana sebuah masyarakat memelihara ingatan tentang kemenangan dan bagaimana sebuah bangsa dalam cara merawat semangat yang membuat seorang anak mau berlatih ketika orang lain sedang bermain? Bagaimana seorang atlet mampu bertahan ketika tepuk tangan belum ada, ketika fasilitas belum memadai, ketika keluarga bahkan harus menghitung biaya perjalanan menuju pertandingan? Bagaimana sebuah negara memastikan bahwa kemenangan tidak hanya dirayakan ketika medali sudah berada di leher seorang atlet?
Di sinilah Dangal terasa relevan bagi Indonesia. India membuat Dangal setelah sebelumnya menghadirkan Sultan, film Salman Khan yang juga menjadikan gulat sebagai latar cerita. Jika Sultan merupakan kisah fiktif tentang pegulat laki-laki, Dangal berangkat dari kisah nyata keluarga Phogat. Sutradara Nitesh Tiwari sendiri menjelaskan bahwa filmnya memang dekat dengan kehidupan Mahavir Singh Phogat dan anak-anaknya, tetapi sejumlah bagian difiksikan atau diubah skalanya demi kepentingan penceritaan. Karena itu, Dangal sebaiknya tidak dibaca sebagai film biografi, melainkan sebagai karya sinema yang melakukan dramatisasi terhadap fakta.
Pertanyaan yang sama sebenarnya pernah kita coba jawab dengan film-film olahraga kita sendiri, saat tim nasional U-19 diangkat ke layar. Tetapi yang dibutuhkan barangkali bukan hanya membuat film tentang kemenangan, melainkan membangun kebudayaan yang membuat kemenangan itu dapat diwariskan. Sebuah film dapat mengabadikan seorang juara, tetapi ekosistem olahraga yang baiklah yang memungkinkan lahirnya juara berikutnya. Tetapi film memiliki fungsi menjaga semangat dan ingatan kolektifnya.
Kita tahu sinema dan sastra adalah catatan pikiran sosio-budaya masyarakatnya, sebagai rekaman sejarah untuk dipelajari dan menginspirasi. Sinema menyimpan bukan hanya wajah para pemenang, tetapi juga kecemasan, kemiskinan, kegagalan, pertengkaran, pengorbanan, dan kesunyian yang sering tidak masuk ke dalam berita kemenangan.
Dalam pengertian itulah Dangal menjadi lebih menarik daripada sekadar film olahraga. Misalnya ada sebuah kalimat dalam film yang mengingatkan kita pada persoalan tersebut: “Tapi di mana dukungan kita.. Bagaimana atlet mampu membawa pulang medali, bila medali dimenangkan tanpa dukungan....”
Kalimat itu sebenarnya sederhana. Tetapi di dalamnya terdapat persoalan besar mengenai hubungan antara atlet, masyarakat, organisasi olahraga, dan negara. Medali memang dikenakan oleh seorang atlet, tetapi medali tidak pernah sepenuhnya lahir dari tubuh seorang atlet saja. Di belakangnya ada pelatih, keluarga, dokter, ahli gizi, pengurus, fasilitas latihan, biaya perjalanan, kompetisi yang memadai, dukungan psikologis, pendidikan, dan sistem pembinaan yang berlangsung jauh sebelum kamera televisi menyorot seorang juara.
Ya, mungkin kita sukanya menuntut dan berharap. Menuntut atlet kita selalu menang, dan negara harus mendukung sepenuhnya asosiasi dan ajang kompetisi. Sementara kita ya cuma menonton saja yang kalau menang cukup histeria berteriak gembira dan kalau kalah membully tanpa tanggung-tanggung.
Kita sering datang kepada olahraga hanya ketika hasilnya sudah tersedia. Kita mengenal atlet ketika namanya sudah menjadi berita, tetapi tidak selalu mengenal bagaimana ia sampai ke sana. Kita mengingat medali, tetapi lupa bahwa sebelum medali itu terdapat ribuan jam latihan yang tidak pernah masuk televisi. Kita melihat podium, tetapi jarang melihat ruang latihan yang sepi.
Di sinilah Dangal memberikan semacam koreksi terhadap cara kita memandang kemenangan. Seperti yang dilakukan Mahavir bahwa ia tidak memulainya dari podium. Ia memulai dari halaman rumahnya, menghiraukan ejekan tetangga, berusaha membeli kebutuhan matras, memperhatikan makanan yang harus diperhitungkan, dan menghadapi anak-anak perempuannya yang pada mulanya tidak mengerti mengapa ayah mereka memaksa mereka berlatih gulat.
Memang, kemenangan dan kekalahan itu tak jauh-jauh amat dari para pengurusnya. Sama mungkin seperti kisruh dalam asosiasi sepak bola kita. Dalam Dangal disebut pula pelatnas yang diurus oleh orang yang tak becus. Tahunya menjabarkan teknik, tetapi seakan tak peduli pada spirit yang perlu tertanam dalam diri seorang atlet. Belum lagi pengurus sampai cabang rantingnya seakan acuh dalam menelurkan bibit-bibit unggul. Maunya menumpang makan dan sarat kepentingan picisan.
Bagian ini memang perlu dibaca sebagai kritik dramatik film, bukan sebagai gambaran faktual bahwa seluruh pengurus olahraga India demikian. Bahkan sejarah olahraga India menunjukkan bahwa keberhasilan atlet selalu lahir dari pertemuan banyak unsur antara keluarga, pelatih, komunitas, federasi, negara, fasilitas, dan kesempatan berkompetisi. Namun tentu saja film memilih memperlihatkan konflik tersebut secara tajam agar penonton merasakan jarak antara teknik dan pembentukan karakter.
Dan persoalan itu tetap relevan hingga sekarang. Indonesia, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir berusaha memperkuat pembinaan olahraga melalui pendanaan pelatnas, pengembangan sport science, pembinaan usia dini, dan program kesejahteraan atlet. Pada 2025, Kementerian Pemuda dan Olahraga menyalurkan sekitar Rp420 miliar dalam bantuan tahap pertama untuk pelatnas 13 cabang olahraga dan penyelenggaraan kejuaraan dunia. Pada tahap kedua kemudian mencapai Rp210 miliar untuk 15 cabang olahraga dan NPC Indonesia. Pemerintah juga meluncurkan Program Beasiswa Keolahragaan bersama LPDP untuk memperkuat keberlanjutan masa depan insan olahraga.
Angka-angka tersebut penting, tetapi Dangal mengajak kita bertanya lebih jauh untuk kita renungkan. Apakah dukungan olahraga hanya dapat diukur dari besarnya anggaran? Tentu tidak. Sebab ada pertanyaan tentang bagaimana anggaran tersebut diterjemahkan menjadi fasilitas, pelatih, nutrisi, kompetisi, pendidikan, perlindungan atlet, dan keberlanjutan karier setelah masa kejayaan berakhir.
Sebab atlet bukan mesin medali. Meski sekadar dimohon biaya membeli matras, dalam cerita film ini, untuk ayah yang punya spirit untuk tanah airnya, untuk mempersembahkan medali emas pada negaranya, setelah dirinya tak mampu karena keburu banting setir karena tanpa dukungan, mimpinya itu ingin dilakukan oleh anaknya. Maka untuk menjadikan anak perempuannya yang sesudah dijejal melawan pegulat laki-laki kekar dan selalu menang di ajang turnamen regional, ia ingin membawa anak perempuannya yang mulanya selalu dipandang sebelah mata, memasuki ajang kompetisi lebih tinggi dan bergengsi.
Adegan tersebut menjadi penting karena mimpi Mahavir pada akhirnya mengalami perubahan bentuk. Semula ia menginginkan anak laki-laki sebagai penerus impiannya. Tetapi kehidupan memberinya empat anak perempuan. Pada titik itulah film mengubah persoalan olahraga menjadi persoalan mengenai bagaimana manusia menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya.
Mahavir tidak memperoleh anak laki-laki yang ia tunggu. Tetapi ia menemukan kemungkinan lain: dua anak perempuan yang ternyata memiliki keberanian, kekuatan, dan bakat untuk menjadi pegulat. Maka di situlah Dangal tidak hanya berbicara tentang olahraga, tetapi juga tentang gender. Dalam masyarakat yang menganggap gulat sebagai ruang laki-laki, keputusan Mahavir melatih Geeta dan Babita merupakan tindakan yang memiliki konsekuensi sosial.
Penelitian tentang sejarah gulat perempuan India menunjukkan bahwa masuknya perempuan ke akhada memang menghadapi hambatan budaya yang panjang. Tetapi di Haryana kemudian menjadi salah satu pusat penting lahirnya pegulat perempuan India. Maka di sanalah, apa yang dalam film mula-mula tampak sebagai kegilaan seorang ayah kemudian perlahan berubah menjadi pembuktian bahwa batas sosial tidak selalu sama dengan batas kemampuan manusia.
Karena hal itu, ada yang coba dimanfaatkan dengan apik oleh Aamir Khan beserta istri dan Siddharth Roy Kapur, yang kemudian meminta Nitesh Tiwari sebagai sutradara untuk menjadikan api semangat itu membakar secara masif, maka lahirlah Dangal yang memang memiliki semua unsur yang mudah menggerakkan emosi penonton. Latar dan penokohan cerita dibangun tentang sosok ayah, anak, kemiskinan, latihan, kegagalan, perempuan, keluarga, nasionalisme, dan kemenangan. Tetapi kekuatannya bukan hanya karena unsur-unsur itu dikumpulkan. Kekuatan film ini terletak pada cara semua unsur tersebut disusun menjadi satu perjalanan psikologis dan sosial.
Dengan kerja cerdas dan totalitasnya, sekali lagi Aamir Khan sukses mendulang simpati yang kemudian menjadi film sukses secara komersial setelah film Three Idiots dan PK. Di musim peluncurannya, Dangal meramaikan publik India dan di berbagai negara yang cukup berhasil menunjukkan bahwa film olahraga tidak selalu harus diperlakukan sebagai genre kecil.
Dangal menjadi salah satu film India paling sukses secara komersial, sekaligus memperlihatkan bahwa cerita lokal tentang keluarga dari Haryana dapat menemukan penonton yang luas ketika persoalan lokal itu memiliki emosi universal. Ketika hendak menggambarkan seorang anak yang ingin diakui, seorang ayah yang ingin melihat mimpinya menjadi kenyataan, dan sebuah keluarga ingin membuktikan bahwa mereka mampu melampaui batas yang dibuat lingkungan.
Menurut cerita, demi peran sebagai seorang pegulat dan mantan pegulat sekaligus ayah yang menua, ayah dari dua wanita pegulat India Geeta dan Babita, Aamir Khan melakukan transformasi tubuh ekstrem dalam satu rangkaian produksi film. Ia menaikkan berat badannya hingga sekitar 97 kilogram untuk memainkan Mahavir pada usia lebih tua, kemudian menurunkannya secara drastis untuk memainkan versi Mahavir yang lebih muda. Laporan mengenai proses tersebut mencatat bahwa transformasi itu dilakukan melalui latihan dan pengaturan pola makan yang ketat, dan bahkan Aamir sendiri pernah memperingatkan agar proses tersebut tidak ditiru sembarangan.
Transformasi tubuh Aamir menarik bukan semata-mata karena spektakuler. Ia memperlihatkan bahwa di balik ilusi layar terdapat kerja fisik yang panjang. Tubuh seorang aktor harus tunduk kepada kebutuhan cerita sebagaimana tubuh atlet harus tunduk kepada disiplin pertandingan. Dalam kedua dunia itu, tubuh menjadi semacam arsip yang menyimpan masa pelatihan, kegagalan, rasa sakit, disiplin, dan waktu.
Menonton film ini membuat kita perlu bercermin diri untuk urusan olahraga kita. Kita sudah melihat urusan sportivitas ketika diurus kaum politikus yang tak mampu membedakan mana politik yang rentan intrik bengis, dengan urusan disiplin olahraga untuk membangun sikap sportif. Meski keduanya, pada olahraga dan politik terdapat kesamaan yang selalu butuh taktik untuk menang di sebuah arena.
Tetapi justru di sinilah kita perlu berhati-hati. Politik dan olahraga mungkin sama-sama mengenal strategi, kompetisi, aturan, kemenangan, dan kekalahan. Namun olahraga memiliki ideal yang berbeda bahwa lawan harus dikalahkan di dalam aturan permainan, bukan dihancurkan sebagai manusia. Karena itu sportivitas bukan sekadar kemampuan menerima kekalahan, melainkan kesediaan menghormati aturan, lawan, wasit, proses, dan hasil pertandingan.
Karena itu, olahraga sebenarnya adalah sekolah kehidupan. Karena bisa cukup mengajarkan bahwa kemampuan saja tidak cukup jika tanpa disiplin. Keberanian saja tidak cukup jika tanpa latihan. Teknik saja tidak cukup jika tanpa mental. Dan bakat saja tidak cukup jika tanpa lingkungan yang memungkinkan bakat itu tumbuh.
Dangal, yang kisahnya diambil dari fakta cerita seorang atlet gulat wanita India kategori 55 kilogram yang meraih emas pada kompetisi Commonwealth Games tahun 2010 di Delhi, Geeta, sebelumnya menjadi bagian dari perjalanan panjang gulat perempuan India. Geeta kemudian tercatat sebagai perempuan India pertama yang memenangkan emas Commonwealth Games dalam gulat dan menjadi perempuan India pertama yang lolos ke Olimpiade pada 2012. Sementara adiknya, Babita, memiliki perjalanan sendiri yang hampir serupa. Ia meraih perak pada Commonwealth Games 2010, medali perunggu Kejuaraan Dunia 2012, lalu emas pada Commonwealth Games Glasgow 2014 di kelas 55 kilogram.
Dengan demikian, film memang mengambil bahan dari perjalanan nyata dua saudara tersebut, tetapi tidak berarti seluruh detail dalam film merupakan rekonstruksi dokumenter. Dalam cerita film, kegagalan, kemenangan, dan latihan dibuat sedemikian rupa agar penonton memahami bahwa medali bukanlah benda yang jatuh dari langit, bahwa medali juga mempunyai sejarah. Dan sejarah itu kemudian berkembang melampaui Geeta dan Babita.
Keluarga Phogat melahirkan generasi pegulat perempuan berikutnya, termasuk Vinesh Phogat, sepupu Geeta dan Babita. Vinesh kemudian menjadi salah satu nama penting dalam sejarah gulat perempuan India, dengan emas Commonwealth Games dan Asian Games serta pengalaman di tiga Olimpiade. Pada Paris 2024, ia mengalahkan juara dunia dan juara Olimpiade Jepang Yui Susaki di perempat final, sebelum kemudian didiskualifikasi karena kelebihan berat badan menjelang pertandingan final kelas 50 kilogram.
Perjalanan Vinesh menunjukkan bahwa apa yang dimulai oleh generasi Mahavir tidak berhenti pada satu medali. Gulat perempuan India terus berkembang, dengan generasi baru seperti Manisha yang pada Kejuaraan Gulat Asia 2025 meraih emas kelas 62 kilogram, sementara India juga memperoleh sejumlah medali lainnya dalam kompetisi itu.
Dengan demikian, Dangal bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia menjadi bagian dari sejarah budaya olahraga yang terus bergerak mencapai prestasi bagi India. Dalam cerita gulat di sana, selain Dangal, juga ada film Sultan dengan perannya Salman Khan. Hanya bila Dangal mengangkat pegulat perempuan, sedangkan Sultan mengambil kisah pegulat laki-laki fiktif. Lalu dalam semangatnya, Dangal sesungguhnya bisa kita sejajarkan dengan film Chak De! India yang dibintangi Shah Rukh Khan.
Ketiga film itu memang memiliki perbedaan cerita, tokoh, dan konteks. Namun terdapat satu benang merah bahwa olahraga dengan semestinya digunakan sebagai medium untuk berbicara tentang masyarakat. Dalam Chak De! India, olahraga hoki perempuan menjadi ruang untuk mempertemukan identitas yang berbeda. Dalam Sultan, gulat menjadi kisah tentang kejatuhan dan kebangkitan seorang manusia. Dalam Dangal, gulat menjadi pintu masuk menuju persoalan keluarga, gender, pendidikan, disiplin, dan nasionalisme.
Ini memang tentang nasionalisme, atau tentang kecintaan seseorang yang sering digambarkan dalam film-film India lainnya, bahwa siapa pun bisa melakukan sesuatu untuk negara. Tetapi nasionalisme dalam film olahraga yang sehat semestinya bukan sekadar mengibarkan bendera ketika lagu kebangsaan dimainkan. Nasionalisme juga berarti menciptakan keadaan yang memungkinkan anak-anak dari keluarga biasa mempunyai kesempatan yang sama untuk menemukan kemampuan terbaik mereka.
Seorang juara tidak lahir pada hari pertandingan. Tetapi ia lahir bertahun-tahun sebelumnya, ketika seorang anak pertama kali diberi kesempatan mencoba. Ia lahir ketika ada orang tua yang bersedia mengantar latihan. Ia lahir ketika pelatih bersedia mengoreksi kesalahan yang sama berulang kali. Ia lahir ketika negara menyediakan fasilitas. Ia lahir ketika masyarakat berhenti menertawakan anak yang dianggap berbeda.
Dan mungkin karena itulah Dangal lebih tepat dibaca sebagai film tentang proses daripada film tentang medali. Seperti kata-kata Abraham Lincoln yang sering kita dengar, gagasan mengenai pengabdian kepada negara sebenarnya bukan sesuatu yang hanya menjadi milik politisi. Ia dapat diwujudkan melalui pekerjaan apa pun. Termasuk atlet agar dapat mengabdi melalui lapangan pertandingan, guru melalui ruang kelas, penulis melalui tulisan dokter melalui rumah sakit, petani melalui sawah, dan warga biasa cukup melalui pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Maka dalam membangun sportivitas hidup, dalam membangun kejujuran, ya adakan olahraga, ya rayakanlah olah-jiwa. Catatan dari Dangal intinya harus membuat kita sama-sama membangun sikap positif. Tetapi sikap positif itu bukan optimisme kosong, melainkan harus memiliki disiplin sebagai tulang punggungnya. Sebagaimana dalam film, Mahavir tidak hanya mengatakan kepada anak-anaknya bahwa mereka harus menang, yang membuat mereka terus berlatih, membangun kebiasaan, menghadapkan mereka kepada kekalahan, dan bahkan membuat mereka merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak disukai karena berbeda.
Seperti tergambar dalam dialog antara Tom dan Mahavir. “Kau hebat, kawan. Kau mengalahkan juara regional,” kata Tom pada Mahavir dalam dialog permulaannya. Tapi segera dijawab Mahavir, “Jangan kecewa, kawan. Kau hanya kalah dari juara nasional.” Dialognya mungkin terasa sederhana, tetapi menyimpan salah satu watak utama Mahavir tentang standar keberhasilan yang tidak berhenti pada kemenangan kecil. Selalu ada dorongan untuk selalu memperluas batas kemampuan.
Mahavir yang mantan atlet nasional, tapi banting setir pada pekerjaan lain setelah ayahnya berkata, “Lalu kau makan apa. Apa kau bisa makan medali yang gantung di dinding itu?” Kalimat itu barangkali adalah salah satu kalimat paling pahit dalam film. Sebab ia menyentuh persoalan yang sampai sekarang masih menjadi masalah banyak atlet tentang bagaimana menjalani kehidupan setelah tepuk tangan berhenti.
Menjadi atlet membutuhkan masa muda, tetapi kehidupan berlangsung jauh lebih lama daripada masa pertandingan. Karena itu pembangunan olahraga tidak cukup hanya berbicara tentang prestasi. Ia juga harus berbicara tentang pendidikan, pekerjaan, jaminan masa depan, kesehatan, dan penghargaan setelah atlet tidak lagi mampu bertanding.
Dalam konteks Indonesia, persoalan itu mulai mendapat perhatian yang lebih eksplisit. Pada 2025, pemerintah meluncurkan Program Beasiswa Keolahragaan Kemenpora–LPDP untuk membantu keberlanjutan pendidikan dan masa depan insan olahraga. Pemerintah juga menyatakan kesejahteraan atlet sebagai salah satu agenda yang perlu diperkuat.
Mahavir yang berharap ingin punya anak laki-laki untuk ia latih sebagai pegulat tangguh seperti dirinya. Namun setelah berbagai ramuan dan resep dan teknik dan cara agar istrinya melahirkan bayi laki-laki, empat kali kelahiran selalu anak perempuan. Namun sebelum mengubur mimpi emasnya selamanya, yakni ingin mempersembahkan emas di kancah gulat internasional, meminta istrinya setahun untuk mencoba dan akan menjadikan dua anak perempuannya sebagai pegulat.
Tentu berbagai rintangan dan cibiran dari masyarakat sekitarnya bahwa ayah macam apakah dia. Ini sudah gulat, perempuan lagi. Mereka tinggal di desa pinggiran, lalu bagaimana untuk atlet dan pegulat yang harus cukup gizi. Pada bagian ini, Dangal bergerak dari kisah olahraga menuju kisah perubahan cara pandang. Perempuan yang sebelumnya dipandang sebagai sesuatu yang harus dilindungi justru ditempatkan sebagai subjek yang mampu bertarung, memilih, bekerja keras, dan menentukan masa depannya sendiri.
Namun film juga memperlihatkan ambivalensi hubungan ayah dan anak. Mahavir adalah sosok yang mencintai anak-anaknya, tetapi cintanya hadir pada awalnya dalam bentuk yang sangat keras dalam menentukan jadwal, makanan, latihan, rambut, pertandingan, bahkan cara anak-anaknya harus menghadapi lawan.
Karena itu, film tidak seharusnya hanya dibaca sebagai pembenaran bahwa orang tua selalu benar. Ada pertanyaan yang lebih menarik sampai di mana ambisi orang tua dapat menjadi tenaga pendorong, dan kapan ia berubah menjadi beban bagi anak.
Pertanyaan ini membuat Dangal lebih kaya daripada film motivasi biasa. Sebab Geeta pada akhirnya harus menemukan dirinya sendiri sebagai atlet dan harus belajar bahwa kemenangan bukan hanya milik ayahnya. Matras bukan lagi tempat Mahavir meletakkan mimpi masa mudanya. Matras menjadi ruang tempat Geeta menentukan siapa dirinya.
Tapi berkat semangat dan disiplin latihan yang dijadwalkan ayah pada anaknya, yang semula anaknya menolak “kegilaan” ayahnya, sang anak pun sadar setelah berbincang pengalaman dengan teman sebayanya yang menikah belia. Sang anak pun ingin membuat bangga ayahnya.
Di sinilah film mengembangkan salah satu paradoksnya. Mahavir ingin mengubah masa depan anak-anaknya, tetapi ia melakukannya dengan cara yang sangat keras. Anak-anaknya kemudian menemukan bahwa latihan yang awalnya mereka benci justru membuka pintu yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.
Mereka bukan hanya menjadi pegulat. Mereka memperoleh kemungkinan untuk memilih jalan hidup. Seperti yang dinanti-nanti puluhan tahun oleh sang keponakan, penarasian cerita film ini, menanti sang mantan atlet pegulat, ayah sekaligus pelatih anak-anak perempuannya untuk jadi atlet pegulat untuk berkata, “Shabash”, yang berarti kurang lebih “bagus” atau ungkapan pujian dan kebanggaan, “Aku bangga padamu, Nak!”
Sambil berlinang air mata dan berpuluh pasang kamera membidik adegan ayah menyematkan medali emas pada anaknya. Adegan itu bekerja bukan karena medali tersebut mahal, tetapi karena kita tahu apa yang sudah dilewati sebelum medali itu sampai di sana, ada halaman rumah, matras, ejekan, rambut yang dipotong, makanan yang diatur, pertandingan, kekalahan, pertengkaran, rasa sakit, ayah yang keras kepala, anak yang pada mulanya menolak, masyarakat yang meragukan, dan negara yang akhirnya mengenal nama seorang perempuan dari desa kecil Haryana.
Barangkali di situlah letak kekuatan Dangal. Film ini membuat kita menyadari bahwa medali emas sebenarnya hanyalah benda kecil yang tampak besar karena seluruh perjalanan manusia ditumpahkan ke dalamnya. Kita sering memotret atlet ketika mereka berdiri di podium. Kita menyalakan televisi ketika pertandingan memasuki babak akhir. Kita mengibarkan bendera ketika kemenangan sudah pasti. Tetapi jarang kita bertanya siapa yang menyediakan matras pertama, siapa yang membayar perjalanan pertama, siapa yang menyediakan makanan pertama, siapa yang melatih ketika tidak ada kamera, siapa yang menjaga ketika atlet cedera, dan siapa yang masih datang ketika sorak-sorai sudah hilang.
Karena itu, ketika kita kembali kepada Indonesia, pertanyaan dari Dangal, apakah kita hanya ingin menghasilkan juara, atau benar-benar ingin membangun manusia yang dapat menjadi juara. Kita sudah mempunyai sejarah panjang Rudy Hartono yang pernah membuat nama Indonesia berulang kali berdiri di puncak All England, Kevin–Marcus pada 2017 kembali membawa satu gelar All England ke Indonesia, dan sampai sekarang, bulu tangkis Indonesia terus melahirkan nama-nama baru. Catatan prestasi PBSI bahkan menunjukkan bahwa pada 2026 sejumlah pemain Indonesia masih meraih gelar dan podium dalam berbagai turnamen internasional.
Sejarah tidak pernah berhenti pada satu generasi. Seperti India yang setelah Geeta dan Babita masih melahirkan Vinesh Phogat dan generasi sesudahnya, Indonesia pun membutuhkan mekanisme agar prestasi tidak menjadi nostalgia. Sebab olahraga yang sehat bukan olahraga yang terus-menerus mencari penyelamat baru, melainkan olahraga yang mempunyai sistem untuk melahirkan atlet baru.
Di titik itulah Dangal akhirnya menjadi lebih dari film gulat menjadi pertanyaan tentang bagaimana sebuah bangsa memperlakukan mimpi, mimpi seorang anak, mimpi seorang ayah, mimpi sebuah keluarga, dan pada akhirnya mimpi sebuah negara. (Red)