"Segelap apapun awan hitam, hujan akan menyingkirkannya. Dan tak ada yang bisa menghalangi sinar matahari." Begitu nukilan dari nonton film Perjaka Terakhir yang dibintangi Aming dan Fahrani. Kalimat itu terdengar seperti kalimat sederhana. Tetapi ada sesuatu yang membuatnya terasa lebih panjang daripada durasi adegan tempat ia diucapkan.
Barangkali karena setiap orang mempunyai awan hitamnya sendiri yang sesekali menutupi pandangan terhadap kehidupan. Awan itu dapat bernama pekerjaan yang terasa begitu membosankan dan berulang, kesepian yang diam-diam tumbuh di tengah keramaian, kegagalan yang belum sepenuhnya dapat diterima, usia yang terus bergerak tanpa menunggu kesiapan, kehilangan yang meninggalkan ruang kosong, ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi esok hari, atau sekadar hari-hari yang kadang berjalan terlalu lambat ketika kita sedang menunggu sesuatu, tetapi pada kesempatan lain justru melaju terlalu cepat sementara kita merasa belum melakukan apa-apa yang benar-benar berarti.
Di antara hari-hari semacam itu, manusia sering kali hanya membutuhkan sedikit ruang untuk berhenti, menarik napas, dan memandang kembali hidupnya tanpa harus segera memberikan jawaban atas segala sesuatu.
Maka, ketika hujan kemudian turun, ia dapat terasa sebagai semacam jeda. Bukan selalu sebagai pertanda bahwa kesedihan telah berakhir atau seluruh persoalan tiba-tiba menemukan jalan keluarnya, melainkan sebagai jatuhnya sebuah kemungkinan bahwa sesuatu yang gelap, betapapun pekat dan panjangnya, pada akhirnya akan berlalu.
Hujan tidak serta-merta menghapus awan, tetapi ia membuat kita sadar bahwa langit sedang berubah. Setelah hujan, mungkin jalan masih basah, mungkin beberapa genangan belum mengering, dan mungkin persoalan yang kita hadapi tetap berada di tempatnya. Namun ada sesuatu yang perlahan bergeser atas keyakinan bahwa kegelapan tidak pernah benar-benar abadi, sebab di balik awan yang menutup pandangan, matahari tetap ada dan pada waktunya akan kembali menyinari apa yang sempat kita kira telah kehilangan cahaya.
Nukilan sederhana yang mengandung kedalaman makna itu berasal dari Perjaka Terakhir, film garapan Arie Azis dengan skenario Lingga Manna yang dirilis di Indonesia pada 15 Oktober 2009. Film ini dibintangi Aming sebagai Ramya, Fahrani sebagai Sigi, serta Reza Rahadian sebagai Gery. Ketika pertama kali menontonnya di Sukabumi, saya hanya sempat menuliskan beberapa paragraf sederhana tentang film ini. Lalu setelah bertahun-tahun berlalu, saya kembali membacanya dan menyadari bahwa sebuah film yang pernah ditonton pada suatu masa dapat meninggalkan makna yang berbeda ketika dilihat kembali dari jarak waktu dan pengalaman hidup yang telah berubah.
Film yang durasinya sekitar 86 menit, menurut Indonesian Film Center, sedangkan sejumlah basis data film mencatat sekitar 90 menit, berhasil meraih jumlah penontonnya mencapai 510.297 orang berdasarkan pembaruan data pada 5 September 2026 oleh FilmIndonesia. Ceritanya bergerak dari pertemuan Ramya, instruktur salsa yang gemulai, dengan Sigi, perempuan tomboy yang bekerja sebagai debt collector, lalu kemudian berkembang menjadi perkawinan dan keterlibatan mereka dalam persoalan geng yang mengancam kehidupan Sigi.
Menariknya, judul Perjaka Terakhir sendiri seperti menyimpan sebuah pertanyaan, lebih daripada sekadar menjadi penanda tentang status perkawinan tokoh-tokohnya. Di dalamnya terdapat ambiguitas yang dimaksud antara judul dan jalannya cerita. Lantas, apakah ceritanya dimaksudkan tentang seorang perjaka yang sedang berada di ujung masa keperjakaannya, atau tentang seorang perjaka yang menjadi yang terakhir dan yang telah dipilih atau memilih perempuan.
Pertanyaan sederhana yang muncul dari sebuah judul film komedi itu ternyata dapat membuka ruang tafsir yang lebih luas. Bahkan ketika film ini ditonton kembali bertahun-tahun setelah pertama kali beredar dapat berubah maknanya ketika penontonnya berubah. Adegan yang dahulu hanya tampak lucu dapat terasa berbeda ketika kembali menontonnya pada usia yang berbeda, dengan pengalaman hidup yang berbeda pula. Sesuatu yang dulu hanya mengundang tawa, misalnya, sekarang dapat menjelma menjadi pertanyaan dan renungan tentang umur, pilihan hidup, perkawinan, tekanan sosial, kesendirian, atau tentang bagaimana seseorang pada akhirnya menentukan jalan hidupnya sendiri.
Secara judul, bagi sebagian orang, Perjaka Terakhir mungkin sekadar judul sebuah film komedi. Namun ketika saya menontonnya, judul itu tiba-tiba seperti memiliki gema personal. Di dalam cerita terdapat perkawinan dan perubahan status dari seorang perjaka menjadi seorang suami, sementara keadaan saya sendiri berada pada sisi yang berbeda. Ketika pertama kali menontonnya hingga belasan tahun kemudian, saya masih menjadi seorang perjaka, bahkan sampai saat ini.
Karena itu, judul film tersebut seperti sesekali kembali mengetuk pengalaman pribadi saya, bukan karena saya merasa harus mencocokkan kehidupan dengan cerita di dalam film, melainkan karena sebuah kata yang sederhana ternyata dapat memperoleh makna yang berbeda ketika berhadapan dengan pengalaman hidup seseorang.
Maka secara tidak langsung, judul itu menyentuh sesuatu yang selama ini mungkin terasa terlalu biasa bagi orang lain, tetapi menjadi lebih berarti ketika dipikirkan oleh seorang laki-laki yang belum menikah semacam saya, yang usianya terus bergerak maju. Menjadi perjaka sampai usia tertentu dipandang oleh sebagian masyarakat sebagai keadaan yang tidak lazim, bahkan seperti sebuah keadaan sementara yang seharusnya sudah berakhir atau setidaknya segera berakhir. Seolah-olah kehidupan memiliki jadwal yang harus diikuti oleh semua orang.
Seseorang seperti sudah dipakem jalan hidupnya. Mulai dari sekolah pada usia tertentu sampai menuntaskan jalur pendidikannya, selanjutnya bekerja dan menabung, kemudian menikah, mempunyai rumah, membangun keluarga kecil menuju besar, dan menjalani tahap-tahap kehidupan berikutnya yang sudah biasa terjadi di masyarakat. Lalu ketika seseorang berada di luar urutan tersebut, pertanyaan pun mudah muncul dari lingkungan sekitar, seakan-akan kehidupan seseorang belum lengkap hanya karena satu tahapan belum dijalani.
Begitulah hidup yang tidak selalu mengikuti jadwal yang dibuat masyarakat. Sebagian orang bernasib menikah muda, sebagian lagi bisa menikah setelah menemukan pasangan pada usia yang lebih matang, dan ada pula yang sampai bertahun-tahun masih saja berjalan sendirian. Mungkin bukan karena hidupnya berhenti, melainkan karena perjalanan hidup memang belum membawanya menemukan pasangannya dan memasuki sebuah rumah tangga.
Sebab ada hal-hal dalam kehidupan yang tidak dapat dipercepat hanya karena usia terus bertambah. Pertemuan dengan seseorang, tumbuhnya rasa percaya, kesiapan untuk berbagi kehidupan, keadaan ekonomi, pengalaman masa lalu, bahkan kesempatan untuk menemukan orang yang tepat, semuanya mempunyai waktunya sendiri. Karena itu, belum menikah tidak selalu berarti seseorang gagal menjalani kehidupan, sebagaimana menikah juga bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang dalam menemukan makna hidup.
Bagi sebagian orang mungkin ini sebagai kata-kata penghibur, bahwa menjadi perjaka hingga hari ini juga bukan berarti kehidupan seseorang kosong dari cinta, perjumpaan, harapan, atau pengalaman emosional. Sebaliknya, kesendirian dapat menjadi ruang yang panjang untuk mengenali diri sendiri, meskipun ruang tersebut tidak selalu mudah dijalani. Barangkali ada masa ketika seseorang masih sibuk mengejar pekerjaan yang layak, membangun kehidupan, menghadapi kegagalan, menata kembali keuangan, membaca, menulis, dan berusaha memahami dunia di sekitarnya. Sebab ada pengalaman-pengalaman yang tidak terlihat dari luar, tetapi ikut membentuk cara seseorang memandang cinta, keluarga, tanggung jawab, dan masa depan. Bagi orang-orang semacam itu, pernikahan kemudian bukan lagi sekadar persoalan umur atau upaya memenuhi harapan masyarakat, melainkan pertemuan antara kesiapan, kesempatan, kehendak, dan dua kehidupan yang bersedia berjalan bersama. Sebab pernikahan bukan sekadar perpindahan status dari perjaka menjadi suami, melainkan keputusan untuk menerima kehidupan orang lain ke dalam kehidupan kita sendiri.
Mungkin ada sesuatu yang lucu sekaligus masuk akal dalam keputusan menonton film ini. Saya menontonnya selepas pulang dari bekerja, selepas selesai dari pekerjaan kantor, dan begitu sampai di rumah langsung menonton film ini. Sesudah itu, kantuk pun menguasai.
Setelah seharian tubuh dipaksa mengikuti jadwal, menyelesaikan pekerjaan, berhadapan dengan orang, layar komputer, pesan-pesan, angka, kata-kata, dan berbagai urusan yang tidak semuanya selesai ketika jam kantor berakhir. Tubuh memang pulang bersama kita, tetapi pikiran kadang masih tertinggal di tempat kerja. Maka pekerjaan hanya selesai secara administratif, tetapi belum benar-benar selesai di dalam kepala. Membuat ada percakapan yang terus teringat, ada persoalan yang belum menemukan jawaban, dan ada pekerjaan esok hari yang bahkan sebelum dimulai sudah memenuhi sebagian ruang pikiran para pekerja.
Karena itu, sebuah film dapat menjadi semacam ruang transisi, sebuah jembatan antara dunia yang menuntut kita untuk terus bekerja dan dunia malam yang perlahan meminta kita berhenti. Pada titik tertentu, barangkali film tidak lagi sedang kita tonton. Film justru menjadi teman yang menemani kita menuju tidur. Layar masih menyala, cerita masih berjalan, dialog masih terdengar, tetapi perhatian perlahan berkurang.
Mungkin itulah sebabnya adegan-adegan yang kita saksikan selepas bekerja seringkali masuk ke wilayah ingatan yang berbeda. Kita tidak lagi menontonnya dengan ketajaman seorang kritikus film yang mencermati alur, akting, sinematografi, atau kekuatan dialog. Kita menontonnya sebagai seseorang yang kelelahan, sebagai manusia yang tubuhnya sudah bekerja sepanjang hari dan kini meminta haknya untuk beristirahat. Mata masih terbuka, tetapi tubuh sudah mengajukan permohonan untuk berhenti. Pikiran masih ingin mengetahui bagaimana cerita berakhir, sementara tubuh diam-diam mengatakan bahwa hari ini sudah cukup.
Dan mungkin ada ironi kecil di sana. Saya menonton film berjudul Perjaka Terakhir, sebuah cerita yang membawa tokohnya menuju perkawinan, sementara saya sendiri, setelah film itu selesai dan bertahun-tahun berlalu, masih saja berada pada titik yang sama: masih perjaka. Tetapi mungkin karena itulah film ini menjadi lebih menarik untuk direnungkan. Sebab kehidupan nyata tidak selalu memiliki struktur cerita seperti film. Dalam film, tokoh dapat diarahkan menuju sebuah akhir, konflik dibangun, masalah muncul, kemudian cerita bergerak menuju penyelesaian. Sementara dalam kehidupan tidak selalu demikian. Ada persoalan yang tidak selesai dalam satu babak, ada pertanyaan yang bertahun-tahun tetap menjadi pertanyaan, dan ada seseorang yang pada akhirnya harus belajar menerima bahwa tidak semua hal dapat dipaksa memiliki akhir sesuai keinginan kita dan masyarakatnya.
Maka, malam itu, ketika saya menonton Perjaka Terakhir selepas bekerja dan kemudian dikalahkan oleh kantuk, mungkin yang sebenarnya sedang berlangsung bukan hanya sebuah kegiatan menonton film. Tahu ada tubuh yang sedang meminta istirahat, ada pikiran yang sedang mencoba melepaskan beban pekerjaan, atau ada seorang penulis yang masih ingin menulis, dan ada seorang perjaka yang sesekali bertanya kepada dirinya sendiri tentang perjalanan hidup yang telah dilaluinya.
Semuanya bertemu dalam satu malam yang sederhana saat memutar film yang berjalan di layar, ada secangkir kopi cappuccino di dekat tangan, lalu perlahan kantuk datang, dan sebuah catatan mulai ditulis dengan kalimat yang belum tentu selesai malam itu.
Barangkali memang demikianlah cara kehidupan bekerja. Kita sering mengira bahwa sesuatu harus selesai terlebih dahulu agar kita dapat melanjutkan perjalanan. Padahal, ada kalanya kita harus berjalan bersama sesuatu yang belum selesai. Saat film dapat berakhir, tetapi pertanyaan yang ditinggalkannya belum tentu ikut berakhir. Kantuk dapat membuat tulisan terhenti, tetapi gagasan tidak otomatis hilang. Menjadi perjaka sampai hari ini pun tidak berarti perjalanan kehidupan berhenti di sini.
Mungkin saya hanya sedang berada pada sebuah jeda, sebagaimana film lama yang menemani saya memasuki jeda setelah seharian bekerja. Mungkin pengalaman sebagai seorang perjaka yang masih sendiri sampai hari ini juga membuat saya mempunyai lebih banyak kesempatan untuk mengamati hal-hal kecil yang sering luput ketika kehidupan sudah dipenuhi berbagai peran keluarga.
Kesendirian bukan selalu berarti kesepian, sebagaimana pernikahan bukan selalu berarti seseorang terbebas dari kesepian. Status perkawinan tidak dengan sendirinya menentukan kedalaman hidup seseorang. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalani keadaan yang sedang dipercayakan kepadanya. Maka jika hari ini saya masih sendiri, maka kehidupan tetap harus dijalani dengan penuh, bukan dengan perasaan seolah-olah hidup baru akan dimulai setelah saya menikah.
Tidur juga bukan waktu yang sepenuhnya kosong. Penelitian mengenai tidur menunjukkan bahwa tidur berhubungan dengan perhatian, pembelajaran, ingatan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan kreativitas. Kekurangan tidur dapat membuat seseorang lebih lambat menyelesaikan pekerjaan, lebih mudah melakukan kesalahan, dan mengalami gangguan dalam berpikir maupun mengambil keputusan.
Dengan demikian, barangkali tulisan yang ditunda malam ini menunggu untuk dipindahkan ke ruang yang lain. Gagasan yang belum selesai mungkin akan menemukan bentuknya setelah tidur. Kalimat yang terasa buntu malam ini mungkin menjadi lebih jernih pada pagi hari. Sebab menulis bukan hanya kegiatan menekan tombol pada papan ketik. Menulis juga merupakan proses mengendapkan kehidupan.
Sebenarnya ada sesuatu yang paradoksal dalam pekerjaan seorang penulis. Ia membutuhkan disiplin, tetapi juga membutuhkan kepekaan. Ia harus mampu memaksa dirinya bekerja ketika tidak sedang bersemangat, tetapi juga harus mampu mendengar ketika tubuh dan pikirannya meminta jeda. Terlalu memanjakan kemalasan membuat tulisan tidak pernah selesai. Terlalu keras kepada diri sendiri membuat tulisan kehilangan napas.
Barangkali menuntaskan dalam mengulas film Perjaka Terakhir malam ini datang bukan sebagai tontonan yang harus ditafsirkan terlalu serius. Sebuah film lama tentang komedi yang mempertemukan Ramya dan Sigi dalam situasi yang absurd, dengan perkawinan, kekerasan, tekanan keluarga, dan kekacauan sebagai bagian dari jalan ceritanya. Dari film dapat melahirkan renungan yang berbeda ketika ditonton oleh seseorang yang baru pulang bekerja dan sedang berusaha menyelesaikan sebuah tulisan. Film tidak lagi hanya berada di layar. Ia masuk ke dalam pengalaman penontonnya.
Dan mungkin itu pula yang membuat film lama tetap bisa hidup di kepala kita bukan karena semua film lama selalu memiliki kedalaman luar biasa. Tetapi karena manusia yang menontonnya terus berubah. Ketika kita menonton film yang sama pada usia yang berbeda sering kita merasa menemukan diri kita sendiri di dalamnya. Dahulu mungkin bisa tertawa pada perjaka yang akhirnya berhadapan dengan perkawinan. Bertahun-tahun kemudian, kita mungkin malah lebih tertarik pada pertanyaan tentang kesendirian, tekanan untuk menikah, pilihan hidup, atau tentang seseorang yang sedang mencari tempatnya sendiri di antara tuntutan keluarga dan keinginannya.
Pada diri saya sendiri pun, kemudian terasa seperti cermin yang tidak sepenuhnya datar. Ia memantulkan sebuah keadaan yang sederhana tentang saya yang masih perjaka sampai hari ini. Tetapi di balik itu ada perjalanannya yang tidak sederhana setelah melewati tahun-tahun yang telah berlalu, berganti pekerjaan yang dijalani, berbeda orang-orang yang datang dan pergi, kemudian sempat ada perasaan yang pernah tumbuh, harapan yang pernah disimpan, dan keputusan-keputusan yang pada akhirnya membawa saya sampai ke titik ini.
Saya tidak tahu apakah kelak status itu akan berubah. Namun saya juga tidak ingin seluruh makna kehidupan saya hari ini ditentukan oleh apakah saya sudah menikah atau belum. Karena itu, kalimat tentang awan hitam dan matahari yang membuka catatan ini barangkali tidak hanya cocok untuk sebuah film, melainkan juga cocok untuk malam ketika pekerjaan terasa berat, pikiran tidak selesai, tulisan tersendat, dan mata perlahan menutup.
Tidak semua kegelapan harus dilawan dengan tenaga. Sebagian kegelapan hanya perlu dilewati dengan sabar. Seperti kemungkinan hujan yang datang membasahi jalan, lalu membuat manusia berhenti sebentar, lalu pergi. Begitu juga kantuk yang bukanlah musuh yang harus dikalahkan dengan secangkir cappuccino. Ia bisa menjadi pengingat bahwa manusia adalah bukan mesin yang dapat terus bekerja hanya karena memiliki keinginan.
Dan barangkali, pada malam tertentu, menutup laptop adalah bagian dari pekerjaan menulis. Sebab seorang penulis tidak hanya membutuhkan kalimat, tetapi juga kehidupan yang cukup panjang untuk mengamati, mengalami, mengingat, meragukan, dan kemudian menuliskannya kembali.
Ketika saya kemudian berkata bahwa nanti saja sewaktu-waktu saya lanjutkan catatan menuliskan pengalaman. Kalimat ini mungkin terasa bukan sebagai kegagalan menyelesaikan tulisan, melainkan sebagai bentuk penerimaan terhadap keterbatasan diri. Sebab ada kalanya sebuah tulisan selesai karena kita berhasil menyelesaikannya. Ada pula tulisan yang ditunda penyelesaiannya karena tubuh meminta kita berhenti.
Mungkin malam ini saya tidak perlu memaksa diri mencari siapa yang mengirim rasa kantuk itu. Cukup menerima bahwa tubuh sedang meminta haknya. Esok, ketika matahari kembali muncul setelah awan berlalu, catatan ini mungkin masih ada di tempatnya. Kalimat-kalimat yang malam ini terasa berat mungkin akan menunggu dengan sabar. Dan saya dapat kembali kepadanya dengan pikiran yang lebih terang.
Sebab menulis untuk kebaikan diri sendiri tidak selalu berarti terus menulis sampai larut. Kadang-kadang, kebaikan itu berupa bentuk sederhana hanya berhenti sebentar, mematikan layar, meletakkan cangkir kopi, lalu tidur. Karena matahari memang tidak pernah benar-benar pergi dan hanya untuk sementara tertutup awan.
Begitu pula gagasan tidak selalu hilang ketika kita berhenti menulis. Kadang ia hanya sedang menunggu kita bangun. Demikian pula mengapa ada kehidupan seorang masih saja perjaka. Sebab yang membuat tidak semua yang belum terjadi bukan tanpa arti atau tidak akan pernah terjadi. Sebab ada memang hal-hal yang seharusnya tidak dapat dipaksa datang hanya karena usia telah berjalan. Sebagaimana pertemuan tidak dapat dijadwalkan, demikian cinta tidak dapat diperintahkan. Sebagaimana rumah tangga yang tidak cukup dibangun hanya dengan keinginan untuk segera menikah kalau belum ada pasangan dan biaya pernikahannya.
Sampai hari ini saya masih berjalan sebagai seorang perjaka. Jika suatu hari status itu berubah, biarlah perubahan itu datang bukan sekadar karena takut menjadi “yang terakhir”, melainkan karena saya telah menemukan seseorang yang membuat perjalanan hidup terasa layak ditempuh bersama. Tetapi sementara malam ini saya cukup menjadi diri saya sendiri. Entah sebagai seorang pekerja yang baru pulang, atau seorang yang belum selesai menulis, atau seorang perjaka yang masih belajar memahami mengapa sebagian hal dalam hidup harus menunggu.
Mungkin memang ada tulisan yang harus diselesaikan malam ini. Tetapi mungkin ada pula kehidupan yang harus dibiarkan saja berjalan sampai esok hari. (Red)