Meraih Mimpi, Mimpi tentang Indonesia Utara

Meraih Mimpi, dalam narasinya, adalah sebuah cerita yang berlangsung di sebuah desa di Filipina....

Meraih Mimpi, Mimpi tentang Indonesia Utara

20 Sep 2026
254 x Dilihat
Share :

Meraih Mimpi, dalam narasinya, adalah sebuah cerita yang berlangsung di sebuah desa di Filipina. Sebagai penonton dari Indonesia, saya sedikit terkejut ketika muncul unsur wayang, sesuatu yang selama ini begitu lekat dengan identitas kebudayaan Indonesia. Seketika muncul pertanyaan bagaimana mungkin wayang hadir dalam sebuah cerita yang berlatar desa di Filipina?

Barangkali justru di situlah menariknya cerita ini. Di antara desa, manusia, cerita, dan bayang-bayang yang dimainkan di balik layar, mimpi ternyata tidak pernah benar-benar mengenal batas negara. Sebuah kisah yang lahir di suatu tempat dapat menemukan rumahnya di tempat lain. Begitu pula manusia dapat menemukan persaudaraan bukan semata-mata karena kesamaan paspor, melainkan karena pengalaman sejarah, kebudayaan, dan ingatan yang pernah mempertemukan mereka.

Wayang memang sangat lekat dengan Indonesia. UNESCO mencatat wayang sebagai warisan budaya takbenda Indonesia yang masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2008, setelah sebelumnya diproklamasikan sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2003. UNESCO juga mencatat bahwa seni pertunjukan wayang berkembang selama berabad-abad, terutama di Jawa dan Bali, kemudian menyebar dan berkembang di berbagai wilayah Nusantara.

Namun, sejarah wayang tidak sesederhana menganggapnya sebagai sesuatu yang sepenuhnya berdiri sendiri dan hanya menjadi milik satu kebudayaan. Dalam perjalanan sejarahnya, wayang mengalami perjumpaan panjang dengan berbagai tradisi dan sumber cerita. Di dalam pertunjukannya, mitologi dan kisah lokal bertemu dengan epos India, sementara dalam perkembangan berikutnya juga muncul pengaruh kebudayaan lain serta persoalan-persoalan kehidupan kontemporer.

Karena itu, ketika wayang muncul dalam sebuah cerita berlatar Filipina, yang hadir bukan sekadar simbol kebudayaan Indonesia yang sedang “dipinjam” oleh kebudayaan lain, melainkan dapat dibaca sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan manusia yang memang selalu bergerak, berpindah, beradaptasi, dan menemukan bentuk-bentuk baru di tempat yang berbeda.

Barangkali kebudayaan memang tidak pernah mengenal batas sebagaimana negara mengenal batas. Negara memiliki garis di peta, sementara kebudayaan memiliki perjalanan. Ia bergerak bersama manusia, dibawa oleh para pelaut, pedagang, perantau, pengembara, seniman, bahkan oleh cerita yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, wayang sebenarnya bukan hanya soal siapa yang memiliki. Ia adalah contoh bagaimana kebudayaan bergerak, berpindah, beradaptasi, dan kemudian menjadi milik masyarakat yang merawatnya. Kebudayaan tidak selalu berjalan mengikuti garis batas negara modern. Ia sering kali lebih tua daripada negara, lebih panjang umurnya daripada pemerintahan, dan lebih luas daripada peta politik yang kita kenal sekarang.

Lagipula dalam gagasan Tan Malaka, Filipina itu juga Indonesia: Indonesia Utara. Kalimat ini tentu perlu dibaca sebagai gagasan sejarah dan geopolitik Tan Malaka, bukan sebagai klaim bahwa Filipina secara politik adalah bagian dari Republik Indonesia sekarang. Dalam pandangan Tan, kepulauan dan masyarakat Asia Tenggara mempunyai hubungan sejarah, geografis, ekonomi, dan kebudayaan yang jauh lebih luas daripada batas-batas kolonial yang kemudian diwarisi negara-negara modern. Dalam Massa Actie dan kemudian Madilog, ia mengembangkan gagasan tentang Aslia, singkatan dari Asia-Australia, sebagai ruang persatuan yang mencakup kawasan Asia Tenggara dan Australia Utara.

Dari sini kita mulai memahami mengapa Filipina begitu penting dalam perjalanan pemikiran Tan Malaka. Pada 1925 ia tiba di Manila sebagai pelarian politik. Ia kemudian bergaul dengan wartawan, kaum buruh, nasionalis dan tokoh-tokoh pergerakan Filipina. Ia menulis di El Debate, bertemu dengan sejumlah tokoh nasionalis dan kiri, serta melihat sendiri bagaimana pengalaman kolonial Filipina memiliki gema yang kuat dengan pengalaman Hindia Belanda. Ia beberapa kali keluar-masuk Filipina hingga akhirnya ditangkap pada 1927 dan diusir oleh pemerintah kolonial Amerika.

Dari persembunyian dan penjara ke penjara, bagaimana ia bersatu berjuang dengan rakyat Indonesia Utara alias Filipina dalam meraih mimpi merdeka dari segala bentuk penindasan. Di sini, yang penting bukan sekadar apakah Tan Malaka berhasil mewujudkan persatuan politik tersebut. Yang lebih menarik adalah cara seorang pelarian politik membayangkan dunia yang lebih besar daripada tanah kelahirannya sendiri. Baginya, perjuangan melawan kolonialisme tidak berhenti pada batas Hindia Belanda. Ia melihat hubungan antara Indonesia, Filipina, Malaya, Siam, Burma, Annam dan wilayah-wilayah lain sebagai kemungkinan lahirnya sebuah kesadaran regional.

Dalam pengertian itu, Tan Malaka sedang berbicara tentang sebuah mimpi yang jauh mendahului banyak pembicaraan modern mengenai regionalisme Asia Tenggara. Ia membayangkan bahwa masyarakat yang memiliki pengalaman kolonial, keterhubungan ekonomi, sejarah perdagangan dan persamaan kebudayaan dapat menemukan kepentingan bersama. Gagasan itu memang tidak sama dengan ASEAN yang lahir pada 1967, tetapi menarik untuk ditempatkan sebagai salah satu contoh awal bagaimana seorang pemikir Indonesia telah membayangkan kawasan Asia Tenggara sebagai satu ruang sejarah dan politik yang saling berhubungan.

Dalam kerangka pemikiran seperti itulah Filipina tidak hanya hadir sebagai sebuah negeri yang berada di utara Nusantara, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan gagasan dan pengalaman sejarah. Tan Malaka menemukan di sana masyarakat yang sama-sama mengalami kolonialisme, memiliki jaringan kebudayaan yang saling bersinggungan, dan melahirkan tokoh-tokoh yang memperjuangkan martabat bangsanya. Salah satu nama yang segera mengemuka adalah Jose Rizal, sosok yang kemudian menjadi simbol nasionalisme Filipina. Pertemuan antara gagasan Tan Malaka tentang “Indonesia Utara” dan sejarah perjuangan Rizal inilah yang menarik untuk direnungkan sejauh mana persamaan pengalaman dapat menjembatani perbedaan agama, bangsa, dan ideologi?

Dan bahkan Jose Rizal itu seorang Islam? Sejauh penelusuran sejarah, Jose Rizal bukanlah seorang Muslim. Catatan sejarah Filipina menunjukkan bahwa Rizal tumbuh dalam lingkungan Katolik dan bahkan selama masa pengasingannya di Dapitan tercatat menghadiri misa di Gereja St. James setiap Minggu. National Historical Commission of the Philippines juga menempatkan Rizal sebagai tokoh utama nasional Filipina, dokter, penulis, pendidik dan pemikir yang karya-karyanya mengkritik penindasan kolonial.

Namun kekeliruan itu justru membuka pertanyaan yang lebih menarik. Mengapa seseorang yang berbeda agama dapat terasa begitu dekat dalam sebuah perjuangan? Jawabannya mungkin terletak pada pengalaman manusia yang lebih tua daripada identitas keagamaan dan ideologi: pengalaman ditindas, keinginan untuk merdeka, kehendak untuk memperoleh martabat, dan mimpi tentang masyarakat yang tidak dibangun di atas penghinaan terhadap manusia lain.

Rizal memang bukan Muslim. Tetapi ia adalah seorang Filipina yang berhadapan dengan kolonialisme dan kekuasaan keagamaan yang pada zamannya menyatu dengan struktur kolonial Spanyol. Novel Noli Me Tangere dan El Filibusterismo menjadi bagian penting dari kritiknya terhadap keadaan masyarakat Filipina. National Historical Commission of the Philippines mencatat bahwa karya-karyanya menyingkap penindasan kolonial dan bahwa kematiannya pada 30 Desember 1896 ikut menguatkan kesadaran kebangsaan Filipina.

Tan juga bercerita tentang rasa haru yang mencuat ketika ia bertemu dengan penduduk Muslim di Filipina. Ada semacam kedekatan hati yang muncul dari kesamaan pengalaman dan identitas keagamaan, meskipun perjalanan pemikiran Tan sendiri telah membawanya jauh ke dalam dunia sosialisme dan komunisme. 

Dalam pernyataannya menjadi menarik dari seorang Tan, “Di hadapan Tuhan aku mengaku muslim, di depan manusia aku sebagai komunis.” Kalimat tersebut kemudian beredar luas dalam berbagai tulisan tentang Tan Malaka. Namun, bentuk dan konteks aslinya sebenarnya sehubungan pernyataan yang berkaitan dengan pidatonya pada Kongres Keempat Komunis Internasional di Moskow pada 1922. Penelitian yang dimuat dalam Gadjah Mada Journal of Humanities mencatat versi yang populer: “Di hadapan Tuhan, aku seorang Muslim, di hadapan manusia aku seorang komunis.” Ini menunjukkan bahwa kalimat itu kemudian mengalami perubahan dan penyederhanaan ketika beredar kembali dalam meme maupun budaya populer.

Terlepas dari perbedaan redaksional tersebut, kalimat itu menyimpan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar pernyataan tentang identitas pribadi Tan Malaka. Ia memperlihatkan bagaimana seseorang dapat membawa beberapa lapis identitas sekaligus antara agama, kebangsaan, latar sosial, dan pilihan ideologi. Dalam diri Tan, lapisan-lapisan tersebut tidak selalu berjalan dalam garis yang sederhana. Ia tumbuh dalam lingkungan Islam Minangkabau, kemudian berkenalan dengan sosialisme dan Marxisme, dan pada akhirnya menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan awal komunisme di Indonesia. 

Pengalaman dan bahasa Islam bagi seorang Tan tidak serta-merta hilang dari cara berpikirnya. Justru pertemuan antara Islam dan komunisme itulah yang membuat pemikiran Tan menjadi menarik sekaligus penuh ketegangan. Pada 1922, dalam pidatonya di hadapan Kongres Keempat Komunis Internasional, Tan secara khusus membicarakan hubungan antara komunisme dan Pan-Islamisme. Baginya, gerakan-gerakan yang lahir dari latar belakang berbeda masih mungkin menemukan titik pertemuan dalam perjuangan melawan kolonialisme dan penindasan. 

Dengan demikian, Islam bagi Tan tidak semata-mata persoalan keyakinan pribadi, sebagaimana komunisme tidak hanya ia lihat sebagai doktrin politik. Namun keduanya menjadi bagian dari pengalaman sejarah yang ia coba pertemukan dalam perjuangan pembebasan manusia.

Komunis sebagai ideologi yang berazaskan komuni alias komunitas, alias kejamaahan atau kebersamaan (ummah). Memang secara politik dan filsafat, komunisme tidak cukup dijelaskan hanya sebagai “komunitas”. Dalam pemikiran Marx, komunisme berkaitan dengan cita-cita masyarakat tanpa kelas dan dengan bentuk kepemilikan sosial atas alat-alat produksi. Gagasan tentang kepemilikan bersama mempunyai hubungan dengan pengertian tentang sesuatu yang dimiliki secara kolektif, tetapi komunisme sebagai teori sosial jauh lebih kompleks daripada sekadar persamaan kata antara komuni, komunitas dan ummah.

Namun titik temu antara komunis dan Islam, mari kita bedah satu kata tentang “jamaah” sebagai cita-cita, bukan yang menyejarah. Karena baik komunis maupun Islam, tak lepas dari sejarah yang berdarah-darah. Tetapi sebagai mimpi dan pelaksanaan cita-cita, tidakkah jauh api dari panggang?

Pertanyaan itu menjadi jantung dari tulisan ini. Sebab manusia sering mencampurkan cita-cita dengan sejarah pelaksanaannya. Sebuah gagasan dapat berbicara tentang kesetaraan, tetapi sejarah penerapannya dapat melahirkan kekuasaan baru. Sebuah agama dapat mengajarkan persaudaraan, tetapi manusia yang mengatasnamakannya dapat melakukan kekerasan. Sebuah revolusi dapat berbicara tentang pembebasan, tetapi revolusi juga dapat melahirkan bentuk penindasan baru.

Karena itu, “jamaah” lebih menarik apabila dipahami sebagai pertanyaan moral daripada sekadar istilah politik. Bagaimana manusia hidup bersama? Bagaimana kekayaan dibagi? Siapa yang berhak menentukan arah masyarakat? Apakah kebebasan seseorang dapat berjalan bersamaan dengan kepentingan orang lain? Dan pada titik mana cita-cita kebersamaan mulai berubah menjadi penyeragaman?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat Tan Malaka tetap menarik untuk dibaca, bahkan ketika seseorang tidak sedia menerima seluruh gagasan politiknya. Ia yang hidup dalam zaman ketika kolonialisme bukan sekadar konsep dalam buku, melainkan kenyataan yang menentukan siapa yang boleh sekolah, siapa yang memiliki tanah, siapa yang berkuasa, dan siapa yang harus tunduk. Dalam keadaan seperti itu, mimpi tentang kemerdekaan memiliki makna yang sangat konkret.

Indonesia dan Filipina adalah sekumpulan ras Aslia, dan kenapa disebut ras Aslia. Apakah yang berarti murni, tulen, bukan tiruan atau saduran? Hal ini perlu diluruskan agar tidak terjadi kekacauan antara gagasan Tan Malaka dan istilah ilmiah dalam antropologi-linguistik. Aslia dalam pemikiran Tan Malaka sebenarnya bukan nama ras. Ia merupakan istilah yang berasal dari gagasan Asia-Australia, sebuah konsep kawasan dan federasi politik-geografis yang ia bayangkan untuk menghubungkan masyarakat di kawasan Asia Tenggara dan Australia Utara. Tan sendiri menjelaskan Aslia sebagai kependekan dari Asia-Australia.

Sementara itu, Aslian adalah istilah linguistik yang sama sekali berbeda. Aslian merujuk pada kelompok bahasa Austroasiatik yang dituturkan oleh sejumlah komunitas Orang Asli di Semenanjung Malaya dan wilayah Thailand selatan. Jadi Aslia dan Aslian terdengar mirip, tetapi tidak menunjuk pada hal yang sama.

Lalu bagaimana dengan Austronesia dan Austroasiatik? Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern telah membuat pencarian asal-usul manusia menjadi semakin menarik. Austronesia adalah keluarga bahasa yang persebarannya sangat luas, dari Madagaskar di barat sampai kepulauan Pasifik di timur. Indonesia dan Filipina berada di salah satu pusat penting sejarah persebaran tersebut. Penelitian arkeologi, linguistik, genetika dan antropologi selama beberapa dekade menunjukkan bahwa sejarah penduduk kepulauan Asia Tenggara tidak pernah sesederhana satu bangsa berpindah dari satu tempat ke tempat lain lalu menggantikan semua penduduk sebelumnya.

Penelitian genomik dan arkeologi terbaru bahkan semakin memperlihatkan kompleksitas tersebut. Studi 2026 mengenai genom purba Indonesia menemukan bahwa struktur genetik barat dan timur Indonesia telah terbentuk melalui beberapa tahap migrasi dan percampuran sejak Holosen awal. Ekspansi Austronesia kemudian menjadi salah satu proses penting yang mengubah lanskap demografis, tetapi tidak menghapus seluruh perbedaan regional yang telah terbentuk sebelumnya.

Penelitian lain mengenai penduduk Filipina menunjukkan bahwa kepulauan itu mengalami sedikitnya lima gelombang besar migrasi manusia. Temuan tersebut membuat sejarah Filipina jauh lebih tua dan lebih kompleks daripada sekadar cerita “orang Austronesia datang dari Taiwan”. Filipina ternyata merupakan salah satu pintu penting dalam sejarah migrasi manusia di Asia-Pasifik.

Penelitian genetika terhadap penduduk Island Southeast Asia juga menemukan pola percampuran yang rumit antara berbagai populasi. Populasi Filipina memiliki kontribusi penting dalam tahap-tahap awal ekspansi Austronesia menuju kepulauan Indonesia, sementara proses pencampuran manusia di kawasan ini berlangsung dalam beberapa periode dan melalui jalur yang berbeda.

Dengan demikian, kita memang mempunyai alasan ilmiah untuk berbicara tentang keterhubungan manusia Indonesia, Filipina, Malaysia, dan berbagai masyarakat kepulauan Asia Tenggara. Tetapi keterhubungan itu tidak perlu dipaksakan menjadi gagasan tentang satu “ras murni”. Karena bukti ilmiah menunjukkan sesuatu yang lebih menarik bahwa manusia di kawasan ini terbentuk melalui perjalanan, percampuran, perpindahan, perkawinan, perdagangan dan pertukaran kebudayaan selama ribuan tahun.

Jika semakin jauh kita menelusuri masa lalu, semakin sulit menemukan manusia yang benar-benar “murni”. Mungkin di sinilah kita harus berhati-hati terhadap kata “asli”. Sebab siapa yang disebut asli? Apakah itu orang yang pertama tinggal di suatu tempat? Apakah itu orang yang datang kemudian tetapi hidup di sana selama ribuan tahun? Atau mereka yang kebudayaannya kemudian menjadi dominan?

Sejarah manusia tidak seperti garis lurus, melainkan lebih menyerupai sungai yang bercabang, lalu bertemu kembali, lalu mengering di satu tempat dan menemukan jalan baru di tempat lain. Demikian juga yang terkait dengan Atlantis dan Leumuria, sebagai yang dianggap muasal peradaban yang menyebar ke seantero hamparan bumi, membentuk koloni-koloni hingga sampai seperti di saat ini.

Pertanyaan semacam ini menarik sebagai imajinasi, tetapi harus dipisahkan dari apa yang telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Bagi sebagian pakar, Atlantis hanya lebih dikenal sebagai mitos, atau kisah filosofis yang diperkenalkan Plato, dan bukan sebagai benua sejarah yang telah terbukti menjadi sumber peradaban dunia. Lemuria pun mempunyai sejarah yang berbeda, adalah gagasan tentang sebuah daratan yang pernah menghubungkan wilayah tertentu, muncul dalam pemikiran abad ke-19 sebelum teori tektonik lempeng dan biogeografi modern memberikan penjelasan yang lebih kuat mengenai persebaran organisme dan pembentukan benua.

Ilmu geologi memang mengenal “benua yang hilang” dalam arti yang sangat berbeda dari Atlantis atau Lemuria. Penelitian modern telah menemukan bukti tentang daratan purba seperti Greater Adria yang sebagian besar tersubduksi ke bawah lempeng Eropa, dan berbagai wilayah purba lain yang sejarah geologinya dapat direkonstruksi dari batuan, fosil, serta pergerakan lempeng tektonik. Tetapi temuan semacam itu tidak menjadi bukti bagi Atlantis atau Lemuria sebagai pusat lama peradaban manusia.

Ilmu pengetahuan modern (logos) mungkin dapat juga memberikan cerita yang tidak kalah menakjubkan dari pengetahuan lama (mitos), bahwa manusia tidak perlu memiliki satu benua asal yang hilang untuk menjadi satu keluarga. Kita sesungguhnya sudah memiliki bukti tentang migrasi yang berlangsung selama puluhan ribu tahun, perjalanan melalui laut, percampuran populasi, pertukaran bahasa, dan perpindahan kebudayaan. Kepulauan Asia Tenggara pun bukan pinggiran sejarah manusia, melainkan salah satu koridor penting dalam perjalanan manusia.

Maka mimpi untuk mengenali diri sendiri mungkin tidak harus dimulai dengan mencari Atlantis yang tenggelam atau Lemuria yang hilang. Mungkin ia dapat dimulai dengan keberanian menerima bahwa asal-usul kita memang rumit. Sesungguhnya kita berasal dari perjalanan yang panjang. Dari manusia yang berpindah mengikuti sungai dan laut. Dari pelaut yang membaca arah angin. Dari petani yang membawa benih. Dari pedagang yang membawa bahasa. Dari orang-orang yang menikah dengan penduduk di pulau lain. Dari mereka yang kalah dalam perang tetapi meninggalkan kata-kata dalam bahasa pemenang. Dari mereka yang datang sebagai pendatang dan akhirnya menjadi penduduk. Dari kebudayaan yang berubah tanpa benar-benar hilang.

Bahkan wayang memberi kita pelajaran sama yang tidak berdiri sebagai sesuatu yang beku. Sebab terus hidup karena terus ditafsirkan dan mampu menyerap cerita, musik, simbol dan persoalan baru tanpa kehilangan seluruh identitasnya. UNESCO sendiri mencatat bahwa pertunjukan wayang memadukan mitos lokal, epos India, kisah Persia dan persoalan kontemporer.

Barangkali demikian pula dengan manusia. Kita bukan hanya keturunan dari suatu tempat. Kita adalah keturunan dari perjumpaan. Tan Malaka mencari perjumpaan itu dalam politik, membayangkan Aslia sebagai sebuah ruang persaudaraan antarmasyarakat yang dipisahkan oleh kolonialisme dan batas-batas kekuasaan. Para peneliti masa kini menemukannya dalam DNA, bahasa, artefak dan jejak migrasi. Para seniman menemukannya dalam cerita. Para pemeluk agama menemukannya dalam persaudaraan manusia. Dan orang biasa mungkin menemukannya ketika bertemu orang asing yang tiba-tiba terasa tidak asing.

Karena itu, meraih mimpi tidak selalu berarti mencapai sebuah tujuan yang sudah selesai digambar. Kadang-kadang sebuah mimpi berarti agar kita terus berjalan untuk mengetahui siapa diri kita yang mengalami perjumpaan demi perjumpaan, dari persembunyian ke persembunyian, dari penjara ke penjara seperti Tan Malaka yang mengejar kemerdekaan sebagai gagasan, atau dari pulau ke pulau, nenek moyang manusia terus mengejar tempat hidup, atau dari bahasa ke bahasa yang membentuk kebudayaan dalam bentuk baru, atau dari cerita ke cerita yang membuat manusia mencoba menjelaskan dari mana ia datang.

Lalu pada akhirnya, mungkin mimpi terbesar manusia bukanlah menemukan bangsa yang paling asli, atau ras yang paling murni, atau agama yang paling tinggi, atau ideologi yang paling sempurna. Mimpi itu barangkali jauh lebih sederhana tentang menemukan cara agar manusia dapat hidup bersama tanpa harus menghapus perbedaan manusia lainnya.

Sebab setelah ribuan tahun perjalanan, pencarian tentang asal-usul seharusnya tidak membuat kita semakin sibuk mencari siapa yang lebih asli daripada siapa. Seharusnya membuat kita sadar bahwa di balik seluruh perbedaan itu, kita semua adalah hasil dari perjalanan, dan perjalanan itu belum selesai.

Mungkin itulah arti sesungguhnya dari meraih mimpi yang bukan sebatas tiba di sebuah tempat yang kita sebut sebagai akhir dan tujuan, melainkan agar kita terus berjalan sambil perlahan mengenali siapa diri kita, dari mana kita datang, dan untuk apa kita ingin sampai di sebuah ujung. (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll