Berbulan-bulan Kesulitan Air, Warga Sambau Turun ke Jalan

Ratusan warga Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau, memblokade akses...

Berbulan-bulan Kesulitan Air, Warga Sambau Turun ke Jalan

05 Okt 2026
65 x Dilihat
Share :

Ratusan warga Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau, memblokade akses menuju kawasan Nongsa Digital Park (NDP), Senin (5/10/2026), sebagai bentuk protes setelah pasokan air bersih ke sejumlah permukiman mereka terhenti hingga berbulan-bulan. Aksi itu sekaligus mempertanyakan bagaimana pertumbuhan kawasan industri digital dapat berjalan ketika masyarakat di sekitarnya masih kesulitan memperoleh kebutuhan dasar.

Warga datang membawa galon, ember, drum, dan peralatan rumah tangga. Sebagian duduk di depan gerbang kawasan NDP dan sempat menghentikan kendaraan yang hendak masuk. Bagi mereka, galon kosong bukan sekadar perlengkapan rumah tangga, melainkan simbol dari persoalan yang telah terlalu lama mereka tanggung.

Dwi Susanti, salah seorang warga, mengatakan lama gangguan berbeda-beda. Ada permukiman yang mengalami gangguan selama dua pekan, tetapi sebagian warga mengaku sudah tidak mendapatkan air hingga tiga bulan. “Ada yang sudah sampai tiga bulan, ada yang dua minggu. Sampai sekarang belum ada solusinya,” kata Dwi saat aksi.

Menurut warga, persoalannya bukan sekadar tekanan air yang rendah. Di sejumlah rumah, air disebut mati total. “Mati total, tak ada mengalir setetes pun,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat warga harus mencari sumber air alternatif. Bantuan mobil tangki dari PT Air Batam Hilir (ABHi) memang tersedia, tetapi warga menilai jumlahnya belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh permukiman. Sebagian warga bahkan mengaku harus membeli air tangki secara mandiri.

Defit, warga lainnya, mengatakan tagihan air tetap diterima meski pasokan ke rumahnya tidak mengalir. Ia menyebut tagihan bulanan berkisar Rp180.000 hingga Rp200.000, sementara air yang diterima dari mobil tangki juga terbatas.

“Biaya tagihan bisa dari Rp180 ribu sampai Rp200 ribu satu bulan, itu paling murah. Tetes pun tidak ada air kami mengalir,” kata Defit.

Di titik inilah persoalan Sambau menjadi lebih dari sekadar gangguan teknis jaringan. Air bersih menyangkut kehidupan sehari-hari untuk memasak, mandi, mencuci, menjaga kebersihan, hingga kesehatan keluarga. Ketika aliran berhenti dalam hitungan hari, warga masih mungkin mencari jalan keluar. Namun ketika berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, gangguan layanan berubah menjadi persoalan sosial.

Aksi warga berlangsung di depan NDP bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut merupakan salah satu pusat pertumbuhan industri digital Batam, termasuk pengembangan data center. Karena itu, warga mengaitkan kesulitan air yang mereka alami dengan perkembangan industri di sekitar permukiman.

Ketua RT 03 RW 02 Kelurahan Sambau, Andi Lalang, mengatakan kondisi pasokan air di wilayahnya semakin buruk dalam beberapa bulan terakhir. Warga, kata dia, sebelumnya masih dapat menerima aliran selama beberapa jam sehari. “Kalau khusus RT kami, di RT 03 Bakau Serip itu sudah lama yang terdampak. Tapi saya redam saja, warga cukup kalau bisa hidup airnya tiga jam, dua jam, oke, tidak ada masalah,” kata Andi.

Sebagian warga bahkan menduga persoalan air semakin sering terjadi setelah aktivitas data center berkembang di Nongsa. Dugaan itu wajar muncul karena perubahan lanskap kawasan berlangsung bersamaan dengan membesarnya kebutuhan industri. Namun dugaan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan sebab-akibat.

BP Batam memberikan penjelasan berbeda. Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano mengatakan persoalan utama pasokan air di Nongsa berkaitan dengan kemarau panjang, rendahnya curah hujan, dan kondisi daerah tangkapan air di sekitar Waduk Nongsa. Produksi air dari IPAM Nongsa, menurut Denny, turun drastis dari sekitar 90 liter per detik menjadi hanya sekitar 25 liter per detik.

“Biasanya produksi air di Nongsa sekitar 90 liter per detik. Saat ini tinggal sekitar 25 liter per detik karena kondisi kemarau,” kata Denny. Penjelasan tersebut mendapat penguat dari kondisi iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada awal Oktober mencatat pengaruh El Nino masih sangat kuat. Indeks ENSO untuk Juli–September 2026 berada pada +2,70, sementara analisis dasarian ketiga September menunjukkan El Nino dalam kategori sangat kuat.

BMKG juga memprediksi Kota Batam termasuk wilayah Kepulauan Riau yang mengalami kondisi hujan di bawah normal pada dasarian kedua Oktober. Dengan kata lain, persoalan ketersediaan air baku bukan sekadar persepsi warga, melainkan berada dalam konteks tekanan iklim yang lebih luas. Tetapi faktor alam tidak dengan sendirinya menutup seluruh persoalan. BP Batam juga menyoroti kondisi daerah tangkapan air di sekitar Waduk Nongsa. 

Menurut Denny, aktivitas tambang dan perambahan di sekitar kawasan tangkapan air dapat memperburuk kemampuan lingkungan dalam mempertahankan cadangan air ketika musim kering berlangsung panjang. “Itu yang beberapa kali kami turun dan coba kami tertibkan. Itu akan kami lakukan supaya ketika kemarau lama, dam ini masih bisa bertahan,” kata Denny.

Dengan demikian, krisis air Sambau sebetulnya mempertemukan beberapa persoalan sekaligus antara cuaca ekstrem, keterbatasan sumber air baku, daya dukung daerah tangkapan air, kapasitas produksi, dan kualitas jaringan distribusi. Namun pertumbuhan data center membuat isu air di Nongsa semakin sensitif. Industri digital memang tidak terlihat seperti industri manufaktur yang identik dengan cerobong asap dan limbah. Data center membutuhkan energi dan sistem pendinginan yang juga berkaitan dengan kebutuhan air.

Karena itu, kekhawatiran warga tidak sepenuhnya dapat diabaikan, meskipun hubungan langsung antara data center dan matinya air di Sambau belum terbukti. BP Batam menegaskan data center yang telah beroperasi di Batam tidak mengambil air baku dari Waduk Nongsa maupun Waduk Duriangkang untuk kebutuhan operasionalnya. Menurut Denny, pasokan data center berasal dari kawasan Kabil Industrial Estate yang memiliki sistem pengelolaan air sendiri, termasuk kolam penampungan air hujan.

“Tidak mungkin 160 liter per detik. Itu tidak ada,” kata Denny ketika membantah informasi mengenai penggunaan air dari Duriangkang dalam jumlah besar untuk kebutuhan data center. Bahkan, pemerintah mulai mendorong pembangunan fasilitas Sea Water Reverse Osmosis atau SWRO untuk memenuhi kebutuhan air industri data center. BP Batam pada September menyatakan setiap investasi data center ke depan didorong memiliki sistem SWRO mandiri sehingga kebutuhan industri tidak mengurangi pasokan air waduk bagi masyarakat.

Kebijakan tersebut dikeluarkan agar pertumbuhan ekonomi tidak cukup diukur dari nilai investasi, jumlah kawasan industri, atau kapasitas data center yang dibangun. Ukuran lain yang sama pentingnya adalah apakah masyarakat yang hidup berdampingan dengan pusat pertumbuhan tersebut memperoleh manfaat pembangunan dalam bentuk layanan dasar yang layak.

Di tengah aksi warga, BP Batam tidak hanya memberikan penjelasan, juga menyiapkan langkah teknis. BP Batam membangun interkoneksi pipa berdiameter 250 milimeter sepanjang sekitar 30 meter di Jalan Hang Lekiu, Sambau, untuk memasok tambahan air dari sistem Duriangkang ke kawasan Nongsa. Pekerjaan ditargetkan selesai pada Senin malam, dengan normalisasi aliran ke rumah warga dilakukan secara bertahap mulai Selasa malam, 6 Oktober.

Enam mobil tangki juga disiapkan sebagai solusi sementara selama proses pemulihan jaringan. Distribusinya akan dilakukan berdasarkan pendataan warga terdampak bersama RT, RW, kelurahan, dan kecamatan. Denny mengatakan pemerintah tidak dapat menjamin air langsung tersedia penuh selama 24 jam setelah jaringan tersambung. Tekanan jaringan harus dibangun terlebih dahulu agar air dapat mencapai rumah-rumah warga.

“Malam ini tersambung, besok malam bisa jalan dan stabil,” kata Denny. Pernyataan itu memberikan harapan, tetapi sekaligus menyisakan pertanyaan seberapa stabil aliran tersebut setelah krisis hari ini berlalu. Pertanyaan itu relevan karena BP Batam sendiri sebelumnya telah mengakui adanya kawasan stress area, yakni wilayah yang mengalami persoalan tekanan dan kontinuitas air. Pada Maret 2026, BP Batam bersama PT Air Batam Hilir bahkan menyatakan akan meningkatkan kapasitas suplai dan melakukan pengalihan pasokan untuk mengatasi kawasan-kawasan yang mengalami gangguan tekanan.

Batam sedang memasuki babak baru. Kota industri ini ingin berkembang menjadi pusat logistik, ekonomi digital, data center, pariwisata, dan investasi berteknologi tinggi. Pemerintah pun terus mempromosikan Batam sebagai kawasan yang semakin terintegrasi dengan ekonomi regional dan global. Namun pembangunan selalu memiliki pertanyaan penting tentang siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung bebannya?

Di Sambau, pertanyaan itu muncul dalam bentuk yang sangat konkret. Warga tidak sedang meminta kemewahan. Mereka meminta air mengalir dari keran rumah. Maka penyelesaian krisis air tidak cukup berhenti pada penyambungan pipa dan pengerahan mobil tangki. Pemerintah perlu memastikan sumber air baku terlindungi, daerah tangkapan air tidak terus mengalami tekanan, jaringan distribusi diperkuat, serta setiap investasi baru selalu memperhitungkan daya dukung lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.

Pertumbuhan data center pun semestinya tidak ditempatkan berhadapan dengan kebutuhan warga. Keduanya harus dirancang dalam satu tata kelola sumber daya yang sama. Industri boleh tumbuh, investasi boleh datang, dan Batam boleh mengejar posisi baru dalam ekonomi digital Asia. Tetapi pertumbuhan itu tidak boleh membuat warga di sekitar kawasan industri merasa menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Ukuran keberhasilan sebuah kota bukan hanya seberapa cepat ia menarik investasi, melainkan seberapa layak kehidupan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Data center mungkin menyimpan jutaan gigabita informasi, tetapi masa depan sebuah kota tetap ditentukan oleh hal-hal yang paling sederhana dari air yang mengalir, lingkungan yang terjaga, dan warga yang merasa pembangunan hadir untuk mereka, bukan hanya di hadapan mereka. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll