Peringatan Hari Batik Nasional 2026 di Jakarta dan Batam memperlihatkan dua sisi berbeda dari perjalanan batik Indonesia. Di Museum Tekstil Jakarta, 60 kain batik Kudus, Demak, dan Banyumas dipamerkan untuk menghidupkan kembali tradisi yang pernah mengalami kemunduran, sementara di Batam, pemerintah terus mendorong batik lokal menjadi identitas kota sekaligus sumber ekonomi bagi perajin. Di tengah momentum yang jatuh setiap 2 Oktober itu, pertanyaan bagi Batam bukan lagi sekadar apakah kota ini memiliki motif batik sendiri, melainkan apakah batik tersebut telah tumbuh menjadi ekosistem usaha yang mampu menciptakan pasar, pekerjaan, pendapatan, dan keberlanjutan bagi pembuatnya.
Pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” di Museum Tekstil Jakarta menjadi pengingat bahwa sebuah tradisi budaya tidak selalu mati karena kehilangan keindahan. Ia dapat melemah karena kehilangan pasar, regenerasi, perhatian generasi muda, atau kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. Pameran yang berlangsung hingga 2 November 2026 itu menampilkan 60 kain, terdiri atas tiga batik Demak, 15 batik Kudus, dan 42 batik Banyumas. Sebagian besar merupakan batik tulis dan koleksi lama museum dari rentang produksi 1970-an hingga 2000-an.
Dari ajang pameran tersebut terdapat pesan yang relevan bagi Batam. Batik tidak cukup diselamatkan dengan menjadikannya simbol kebanggaan, melainkan harus tetap hidup melalui tangan pembatik, diterima pasar, dikenakan masyarakat, diwariskan kepada generasi berikutnya, dan memberi alasan ekonomi kepada orang-orang yang mempertahankan keterampilan tersebut.
Kurator Junior Museum Tekstil Mutiara Zahwa Nauli Siregar mengatakan tradisi batik yang pernah berjaya tetapi kemudian meredup perlu diperkenalkan kembali kepada masyarakat. “Batik yang berjuang ini perlu kita perkenalkan lagi, karena mau bagaimanapun batik ini tetap merupakan salah satu dari identitas nasional kita,” kata Zahwa.
Pernyataan tersebut terasa penting ketika diletakkan dalam konteks Batam. Sebab, Batik Indonesia sendiri telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2009. Pengakuan itu bukan hanya penghargaan terhadap kain, motif, atau teknik pewarnaan, tetapi juga terhadap pengetahuan, simbol, keterampilan, dan praktik budaya yang diwariskan antargenerasi.
Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009. Dengan demikian, peringatan tersebut sejak awal bukan semata-mata agenda mengenakan pakaian bermotif batik. Ia merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesadaran terhadap perlindungan dan pengembangan batik Indonesia.
Di Batam, persoalannya menjadi lebih kompleks. Kota industri dan perdagangan yang berada di jalur perdagangan internasional itu memiliki modal pasar yang besar, tetapi belum seluruhnya terhubung dengan kekuatan produksi batik lokal. Pemerintah Kota Batam telah mendorong pengembangan batik melalui Dekranasda, pembinaan pelaku usaha, pelatihan, pameran, hingga Batam Batik Fashion Week. Namun, seberapa jauh seluruh kegiatan tersebut telah menghasilkan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan masih membutuhkan pengukuran yang lebih konkret.
Anggota Komisi II DPRD Kota Batam Gabriel Anggito Sianturi menilai persoalan paling awal berada pada hal data. Menurutnya, pemerintah perlu mengetahui secara jelas siapa saja perajin batik yang masih aktif, berapa kapasitas produksinya, berapa omzetnya, berapa tenaga kerja yang diserap, dan ke mana produk mereka dipasarkan.
“Angka peserta pelatihan tidak bisa langsung dianggap sebagai jumlah seluruh pelaku usaha batik Batam saat ini,” kata Gabriel, Jumat, 2 Oktober 2026. Ia merujuk publikasi Pemerintah Kota Batam pada Juli 2025 mengenai pelatihan batik lanjutan yang diikuti 20 peserta dari kalangan perajin batik tulis dan cap. Bagi Gabriel, angka tersebut penting sebagai catatan kegiatan, tetapi belum dapat digunakan untuk menggambarkan keseluruhan peta industri batik Batam.
Persoalan data menjadi penting karena kebijakan ekonomi tidak dapat hanya dibangun dari kesan bahwa sebuah kegiatan berlangsung ramai. Jumlah peserta pelatihan, jumlah stan pameran, jumlah model yang tampil dalam fashion show, atau jumlah motif yang diperkenalkan belum otomatis menunjukkan bahwa perajin memperoleh penghasilan yang lebih baik.
Ukuran akhirnya harus bergerak ke wilayah yang lebih konkret seperti berapa produk terjual, berapa nilai transaksinya, berapa perajin yang memperoleh manfaat, berapa tenaga kerja terserap, berapa pelanggan yang kembali membeli, dan apakah usaha tersebut mampu bertahan setelah sebuah kegiatan seremonial selesai.
Pemerintah Kota Batam sendiri memiliki sejumlah modal untuk mengembangkan sektor usaha mikro. Data Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam per 24 Agustus 2026 mencatat 5.105 pelaku usaha dalam data UMKM yang telah didata, dengan 2.749 di antaranya tercatat sebagai pelaku usaha binaan. Pemerintah juga memasukkan pengembangan usaha mikro, kewirausahaan, inkubator usaha, serta fasilitasi produksi, pemasaran, sumber daya manusia, desain dan teknologi ke dalam rencana kerja 2026. Namun persoalan yang dihadapi batik Batam sebenarnya bukan ketiadaan kerangka pembinaan. Tantangannya adalah memastikan batik menjadi bagian dari ekosistem pembinaan tersebut secara terukur dan berkelanjutan.
Dari sisi pemerintah, optimisme itu tetap ada. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata mengatakan Batam telah memiliki sejumlah motif yang dikembangkan melalui Dekranasda Kota Batam. Salah satu motif yang kini diperkenalkan adalah Jembatan Barelang. “Yang sekarang kita fokuskan itu Jembatan Barelang, motif Jembatan Barelang,” ujar Ardiwinata. Menurutnya, produk batik Batam juga telah diperkenalkan melalui gerai Dekranasda di lingkungan Kantor Wali Kota Batam. Gerai tersebut menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk melihat dan membeli produk kerajinan lokal.
Pengembangan batik, kata Ardiwinata, juga tidak harus berhenti pada kain atau pakaian. Batik dapat dikembangkan menjadi tas, kipas, dompet, topi dan berbagai suvenir. Gagasan itu masuk akal untuk kota seperti Batam. Karakter wisata Batam tidak sepenuhnya bertumpu pada wisata alam atau sejarah. Posisi geografisnya yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia memberi peluang bagi produk budaya lokal untuk masuk ke dalam rantai pengalaman wisatawan.
Data BPS menunjukkan Batam menerima 143.523 kunjungan wisatawan mancanegara pada Juli 2026. Singapura menjadi pasar utama dengan kontribusi 43,37 persen. Pada Juni, jumlah wisman bahkan mencapai 160.871 kunjungan, sedangkan tingkat penghunian kamar hotel berbintang di Batam mencapai 59,77 persen.
Angka tersebut menunjukkan adanya pasar wisata yang besar. Tetapi angka kunjungan wisatawan tidak otomatis menjadi angka pembelian batik. Maka di sinilah pekerjaan rumah Batam berada. Ardiwinata mengatakan pemerintah mendorong agar batik masuk ke dalam pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya membeli kain atau pakaian, tetapi juga dapat mengikuti proses membatik, mulai dari menggambar hingga memberi warna. Aktivitas tersebut dapat dikemas sebagai bagian dari paket wisata. “Travel agent kita bukan hanya membeli produk batik, tapi experience. Membatik itu sendiri dijual sebagai paket pariwisata,” ujar Ardiwinata.
Gagasan menjual pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu jalan keluar karena nilai ekonomi batik tidak hanya berada pada harga kain. Ada nilai pada cerita, keterampilan, proses, interaksi dengan pembatik, serta pengetahuan mengenai motif yang tidak mudah digantikan oleh produk tekstil massal. Namun Ardiwinata juga mengakui belum memiliki data rinci mengenai jumlah wisatawan mancanegara, termasuk wisatawan Singapura, yang secara khusus membeli batik Batam.
Pengakuan itu menunjukkan pentingnya pengukuran. Jika batik hendak ditempatkan sebagai bagian dari pariwisata, maka pemerintah dan pelaku usaha perlu mengetahui berapa wisatawan yang membeli, produk apa yang paling diminati, berapa rata-rata nilai transaksi, dan melalui kanal mana wisatawan melakukan pembelian. Tanpa data tersebut, hubungan antara pariwisata dan batik masih berada pada tahap peluang, belum menjadi rantai nilai yang terukur.
Batam sebenarnya sudah memiliki panggung promosi. Batam Batik Fashion Week 2025, misalnya, menghadirkan 72 model lokal dan menempatkan batik sebagai bagian dari kegiatan mode, pameran, workshop, serta promosi UMKM. Pemerintah Kota Batam menyebut kegiatan tersebut sebagai wadah promosi dan penguatan pasar bagi perajin batik lokal. Wali Kota Batam Amsakar Achmad ketika itu menegaskan bahwa pelestarian batik tidak hanya berkaitan dengan kebudayaan, tetapi juga mempunyai nilai ekonomi karena dapat membuka lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian masyarakat.
Namun panggung promosi dan pasar adalah dua hal berbeda. Fashion show dapat membuat sebuah motif terlihat menarik. Pameran dapat membuat produk dikenal. Pelatihan dapat meningkatkan keterampilan. Tetapi industri baru lahir ketika ada produksi yang konsisten, pembeli yang terus kembali, distribusi yang berjalan, harga yang kompetitif, modal kerja yang cukup, serta pelaku usaha yang mampu mempertahankan kualitas.
Karena itu, Gabriel mengingatkan bahwa penggunaan batik oleh aparatur pemerintah atau institusi tidak dengan sendirinya menjamin kesejahteraan perajin. “Motif Batam perlu berjalan bersama pemberdayaan tenaga kerja dan kegiatan produksi di Batam,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menempatkan kebijakan penggunaan batik lokal pada pertanyaan siapa yang mendapatkan manfaat ekonominya. Jika sebuah instansi menggunakan batik bermotif Batam tetapi kainnya diproduksi di luar daerah, secara nilai budaya memang mungkin tetap hadir, tetapi efek ekonominya bagi perajin Batam menjadi berbeda. Karena itu, asal produk, nilai transaksi, jumlah pembelian, kapasitas produksi, dan jumlah pelaku lokal yang terlibat perlu menjadi bagian dari evaluasi.
Gabriel mendorong agar pengadaan pemerintah membuka ruang lebih besar bagi produk perajin Batam sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku. Namun peluang tersebut harus disertai pendampingan agar perajin mampu memenuhi legalitas, persyaratan administrasi, standar mutu, kapasitas produksi, hingga ketepatan waktu pengiriman.
Di sinilah batik Batam berhadapan dengan persoalan yang lebih besar daripada desain motif. Perajin yang ingin masuk ke pasar hotel, mal, perusahaan, pusat oleh-oleh atau pasar ekspor harus mampu menyediakan produk dengan kualitas relatif konsisten dan pasokan yang berkelanjutan. Mereka juga membutuhkan kemampuan menghitung biaya produksi secara benar, menetapkan harga, mengelola persediaan, mengemas produk, melindungi merek dan motif, serta memenuhi persyaratan administrasi.
Digitalisasi pun tidak cukup berhenti pada pembuatan akun media sosial. “Keberhasilannya diukur dari transaksi dan perluasan pasar,” ujar Gabriel. Pelatihan digital bagi perajin semestinya tidak berhenti pada cara membuat konten. Mereka membutuhkan kemampuan membuat foto produk, katalog, mengelola marketplace, menerima pembayaran digital, mencatat stok, membaca perilaku konsumen dan menjaga hubungan dengan pelanggan.
Begitu pula dengan permodalan. Modal bagi perajin bukan hanya untuk membeli alat. Ia dibutuhkan untuk membeli kain dan bahan baku, membayar tenaga kerja, mengerjakan pesanan dalam jumlah tertentu, menjaga persediaan, dan menunggu pembayaran dari pembeli institusi. Pendampingan pencatatan keuangan menjadi penting agar modal tidak berubah menjadi beban yang justru melemahkan usaha.
Gabriel juga menyoroti perlunya fasilitasi Nomor Induk Berusaha, perlindungan kekayaan intelektual, sertifikasi sesuai kebutuhan produk dan pasar, serta pemetaan kapasitas produksi. Persoalan regenerasi pembatik juga tidak kalah penting. Sebab batik pada akhirnya adalah pengetahuan yang membutuhkan manusia.
UNESCO sendiri menempatkan pendidikan dan pelatihan generasi muda sebagai salah satu praktik baik dalam pelindungan warisan batik Indonesia. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan batik tidak dapat diserahkan semata-mata kepada pembatik yang sudah ada. Pengetahuan harus dipindahkan kepada generasi berikutnya. Bagi Batam, regenerasi menjadi semakin penting karena kota ini tumbuh dengan karakter masyarakat yang sangat dinamis. Banyak penduduknya datang dari berbagai daerah dan bekerja di sektor industri, perdagangan, jasa, serta pariwisata. Identitas lokal karena itu tidak selalu terbentuk secara otomatis melalui sejarah panjang, melainkan perlu terus dibangun melalui pengalaman bersama.
Batik Batam dapat menjadi salah satu medium untuk membangun identitas tersebut. Tetapi identitas yang kuat tidak lahir hanya dari sebuah motif yang dicetak pada kain, melainkan lahir ketika masyarakat mengetahui cerita di balik motif tersebut, mengenali orang yang membuatnya, memahami proses produksinya, dan merasa bahwa membeli produk tersebut berarti ikut menjaga kehidupan ekonomi pembuatnya.
Karena itu, pengembangan batik Batam sebaiknya tidak hanya mengejar sebanyak mungkin motif baru. Yang lebih penting adalah membangun cerita, kualitas, pasar, dan manusia di belakang setiap motif. Demikian ruang pemasaran juga penting seperti hotel dapat menjadi ruang pemasaran, mal dapat menjadi etalase, bandara dan pelabuhan dapat menjadi pintu keluar produk, atau agen perjalanan dapat menjual pengalaman membatik, dan marketplace juga dapat memperluas jangkauan pasar. Sementara pemerintah dapat menjadi pembeli sekaligus fasilitator dan perusahaan dapat dilibatkan melalui kemitraan. Sekolah juga dapat dilibatkan agar menjadi ruang regenerasi dan perajin harus ditempatkan sebagai pusat dari seluruh ekosistem tersebut.
Batam memiliki alasan untuk optimistis. Letaknya strategis, arus wisatawan cukup besar, sektor perdagangan dan industri tumbuh, serta pemerintah sudah menyediakan berbagai program pembinaan UMKM. Namun optimisme tersebut perlu diterjemahkan menjadi angka dan hasil yang dapat diperiksa. Seperti berapa perajin batik Batam yang benar-benar aktif, berapa yang mampu bertahan lebih dari lima tahun, berapa tenaga kerja yang hidup dari kegiatan tersebut, berapa omzetnya dan berapa persen bahan dan produksinya berasal dari Batam, berapa produk yang dibeli pemerintah, hotel dan perusahaan, dan berapa wisatawan yang membawa pulang batik Batam sebagai oleh-oleh, serta yang paling penting, apakah pendapatan pembatik meningkat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar lebih sederhana daripada gemerlap sebuah fashion week. Tetapi justru di situlah ukuran keberhasilan sesungguhnya. Museum Tekstil Jakarta pada Hari Batik Nasional 2026 memilih menampilkan batik Kudus, Demak dan Banyumas yang pernah mengalami masa surut. Pesannya cukup jelas bahwa sebuah tradisi dapat kehilangan masa depannya jika generasi berikutnya tidak lagi mengenal, membuat, membeli dan menggunakannya.
Batam mungkin belum berada pada titik kehilangan tradisi seperti itu. Namun kota ini sedang berada pada persimpangan yang menentukan. Batik Batam dapat menjadi sekadar pakaian bermotif daerah yang muncul pada hari-hari tertentu, atau berkembang menjadi produk budaya yang menciptakan pekerjaan dan penghasilan sepanjang tahun.
Keberhasilan Batik Batam tidak seharusnya diukur dari seberapa sering pejabat mengenakannya, seberapa meriah peragaannya, atau seberapa banyak motif yang dipamerkan. Ukurannya apakah orang yang menggambar, mencanting, mewarnai, menjahit, mengemas dan menjualnya dapat hidup lebih layak dari pekerjaannya. Sebab kebanggaan budaya akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti pada tubuh orang yang memakainya, tetapi tidak pernah sampai kepada tangan orang yang membuatnya.
“Kebanggaan memakai batik Batam harus berjalan bersama kesejahteraan pembuatnya,” kata Gabriel. Kalimat itu barangkali menjadi inti dari peringatan Hari Batik Nasional di Batam tahun ini. Batik bukan hanya tentang bagaimana sebuah kota ingin dilihat. Ia juga tentang bagaimana sebuah kota memperlakukan orang-orang yang membuat identitas itu tetap hidup. (Red)