Perdebatan mengenai eksistensi Nabi Adam kembali mencuat di ruang publik setelah seorang doktor fisika, Hasanudin Abdurakhman (Kang Hasan), melontarkan pernyataan provokatif di media sosial. Ia menyatakan, “Adam bukan tokoh sejarah, itu adalah kesimpulan hasil kajian ilmu multidisiplin. Tokoh Adam di dalam kitab suci itu dongeng.”
Pernyataan tersebut seketika memantik diskusi lintas disiplin, mulai dari agama, filsafat, hingga sains tentang batas pengetahuan manusia dan peran keyakinan dalam memahami realitas. Di tengah riuhnya tanggapan, Ahmad Thoha Faz, penulis buku laris Titik Ba, menawarkan perspektif berbeda. Ia mengajak kita melihat Adam bukan sekadar sebagai sosok historis, melainkan sebagai fondasi misterius bagi keseluruhan bangunan matematika dan sains.
Dalam perspektif Ahmad Thoha Faz—sosok yang memperkenalkan istilah “akidah konslet” sekaligus pengkaji matematika titik dan matematika detik, bahwa ketika seorang fisikawan menyebut tokoh Adam sebagai "dongeng," ia sebenarnya sedang berbicara dari satu fondasi berpikir tertentu. Pernyataan tersebut mengundang dua respons yang sama-sama valid, namun berpijak pada landasan epistemik yang kontras.
Respons pertama mewakili gugatan empiris: "Apa buktinya Adam ada?" Bagi mereka yang tidak menempatkan wahyu sebagai kebenaran aksiomatik, ini adalah pertanyaan yang wajar dan sewarasnya diajukan. Secara material, memang tidak ada bukti eksistensi Nabi Adam yang bisa diverifikasi melalui metode ilmiah standar. Namun, penting untuk dicatat bahwa ketiadaan bukti bukanlah bukti ketiadaan (absence of evidence is not evidence of absence). Ini bukan sekadar permainan kata-kata, melainkan prinsip logika yang paling mendasar, misalnya tentang ketidakmampuan seseorang melihat angin tidak membuktikan bahwa angin itu tidak ada. Itu hanya menunjukkan keterbatasan jangkauan indra manusia.
Respons kedua, sebagaimana ditekankan oleh Ahmad Thoha Faz, berangkat dari fondasi aksiomatik: "Saya percaya Adam ada karena saya menjadikan Al-Qur'an sebagai dasar kebenaran." Dalam koridor ini, pertanyaan yang relevan bukan lagi "apakah ada buktinya?", melainkan "bagaimana detail operasionalitas keberadaannya sehingga konsisten dengan realitas?"
Kedua respons ini tidak saling menegasikan. Tetapi keduanya justru menyingkap sebuah fakta bahwa manusia dapat memiliki landasan berpikir yang berbeda dalam upaya mengejar kebenaran mutlak.
Sebelum menjawab siapa Adam, kita perlu memahami distingsi antara Ontologi (apa yang ada) dan Epistemologi (bagaimana kita tahu). Pada level ontologi, ketiadaan adalah ketiadaan dan ketakhinggaan adalah ketakhinggaan, terlepas dari apakah manusia menyadarinya atau tidak. Sebelum Brahmagupta merumuskan angka nol pada abad ke-7, atau Georg Cantor membedah teori ketakhinggaan pada abad ke-19, realitas tersebut sudah ada secara independen.
Namun, pada level epistemologi, ceritanya berbeda. Agar "ketiadaan" atau "ketakhinggaan" menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dioperasikan, dan melahirkan teknologi, diperlukan kesadaran, bahasa, dan logika. Brahmagupta tidak menciptakan nol. Ia hanya menamai sesuatu yang sudah ada. Al-Khawarizmi tidak menciptakan aljabar. Ia hanya mengungkap struktur hubungan kuantitatif yang telah tersedia di alam semesta.
Di sinilah peran krusial Adam muncul. Dalam cakrawala pemikiran Ahmad Thoha Faz, Adam bukan sekadar prototipe manusia pertama secara biologis. Ia adalah entitas primordial tempat kemampuan epistemologis pertama kali berpijak di alam semesta, sebagai kapasitas luar biasa untuk menyerap, menamai, dan mentransmisikan realitas melalui medium bahasa.
Sebagaimana Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah mengajarkan Adam "nama-nama semuanya" (al-asma’a kullaha). Dalam bahasa ilmu komputer modern, ini adalah kemampuan encoding: proses mengubah realitas mentah menjadi representasi simbolik yang bisa disimpan dan diproses. Kemampuan memberi nama inilah yang membuat Adam layak menjadi khalifatullah (wakil Tuhan) di bumi, sebuah karunia yang bahkan tidak dimiliki oleh malaikat maupun iblis.
Dengan itu, seluruh ilmuwan besar adalah pewaris program encoding Adam. Aristoteles menamai logika, Euklides menamai postulat geometri, Newton menamai gravitasi, dan Turing menamai komputasi. Mereka semua mengambil realitas yang "gaib" dari pemahaman sebelumnya, lalu memberinya nama agar bisa dioperasikan untuk membangun peradaban.
Sebagaimana kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahwa Keseluruhan ilmu adalah titik tunggal dan orang-orang tidak tahu telah membuatnya banyak. Seluruh matematika adalah tentang memberi nama pada "titik asal" (nol) dan mengembangkan seluruh sistem koordinat dari sana. Tanpa kemampuan memberi nama ini, realitas matematis yang kaya tetap akan tersembunyi dalam gelap, tidak akan pernah membuahkan kalkulus, aljabar, maupun teknologi.
Al-Qur’an meletakkan fondasi ketaatan pada kriteria yang sangat spesifik: alladhina yu’minuna bil-ghaib—yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib. Menariknya, jika kita bedah secara epistemologis, kriteria ini bukan hanya milik kaum religius, melainkan juga merupakan syarat mutlak dan prasyarat mental bagi para ilmuwan serta matematikawan paling produktif dalam sejarah. Sebab jika tanpa kesediaan untuk memercayai sesuatu yang melampaui batas pengamatan indrawi, lompatan-lompatan besar dalam ilmu pengetahuan tidak akan pernah terjadi.
Brahmagupta, misalnya, sesungguhnya sedang "beriman kepada yang gaib" ketika ia berani memancangkan prinsip bahwa "nol" adalah sebuah bilangan yang memiliki nilai operasional. Secara fisik, nol adalah anomali. Sebab ia tidak bisa dilihat, diraba, apalagi digenggam. Ia merupakan representasi dari ketiadaan yang justru nyata secara substansi. Dengan menetapkan nol sebagai sebuah entitas, Brahmagupta sejatinya melakukan tindakan "iman intelektual"—sebuah langkah menetapkan titik asal (point of origin) yang tak kasatmata sebagai fondasi kokoh untuk membangun seluruh struktur aritmetika dan aljabar yang menggerakkan peradaban kita hari ini.
Begitu pula dengan Georg Cantor. Ia harus melampaui batas kewajaran pada zamannya ketika merumuskan tingkatan-tingkatan tak terhingga (transfinite numbers) yang mustahil divisualisasikan secara fisik. Bagi banyak orang, tak terhingga hanyalah konsep abstrak yang mengawang, namun bagi Cantor, itu adalah realitas matematika yang valid. Ia memercayai adanya struktur di balik ketidakterbatasan tersebut, adalah sebuah "keimanan" pada logika gaib yang akhirnya membuka cakrawala baru dalam teori himpunan modern.
Lompatan serupa dilakukan oleh Albert Einstein. Ia beriman kepada struktur realitas yang belum terlihat ketika ia menetapkan postulat Relativitas Khusus—termasuk ketetapan laju cahaya bagi semua pengamat jauh sebelum ada instrumen eksperimental yang mampu mengonfirmasinya secara (mendekati) tepat dan akurat. Einstein tidak menunggu bukti empiris untuk mulai membangun teorinya. Ia memulai dari keyakinan pada harmoni hukum alam yang "gaib" dari pengamatan biasa pada masa itu.
Karenanya kita harus mengakui bahwa tanpa "iman" atau kepercayaan pada realitas yang belum terlihat, yang disebut sebagai aksioma, tidak akan pernah ada kemajuan pengetahuan yang fundamental. Setiap matematikawan yang menerima aksioma "himpunan kosong" (empty set) sebenarnya sedang melakukan tindakan spiritual-intelektual: mereka beriman pada keberadaan ketiadaan. Mereka mengakui bahwa ketiadaan itu bukan berarti "tidak ada apa-apa," melainkan sebuah wadah dasar dari mana seluruh himpunan dan struktur matematika yang kompleks dibangun. Di sinilah sains dan iman bertemu yang mana keduanya sama-sama bermula dari pengakuan terhadap sesuatu yang melampaui batas-batas penglihatan mata manusia.
Ahmad Thoha Faz juga menekankan tentang hierarki pengetahuan, menunjukkan bahwa matematika jauh lebih luas dari fisika. Fisika hanya mempelajari alam material, sementara matematika berbicara tentang seluruh struktur yang mungkin, termasuk ketiadaan dan ketakhinggaan yang melampaui alam fisik. Dan dunia yang diperkenalkan melalui wahyu kepada Adam, Ibrahim, dan Muhammad SAW jauh lebih luas lagi.
Sebagaimana tadi dikatakan jika program Adam adalah encoding (menamai realitas), maka program Nabi Muhammad SAW adalah decoding melalui perintah Iqra’ bi-ismi rabbik (Bacalah dengan nama Tuhanmu). Ini adalah instruksi untuk mendekodekan kode-kode alam semesta dan sejarah dengan kunci yang benar, agar tidak terjebak pada kesimpulan palsu. Ibrahim pun melakukan dekoding serupa ketika ia menyadari bahwa matahari dan bulan hanyalah "tanda" (ayat), bukan Tuhan.
Georg Cantor sendiri pernah bergulat dengan konsep Absolute Infinity (Omega), sebuah ketakhinggaan mutlak yang melampaui segala sistem formal dan tingkatan transfinit. Ia meyakini bahwa Omega bukanlah sekadar objek matematika, melainkan manifestasi dari Sang Absolut—Tuhan yang mendahului sekaligus melampaui seluruh konstruksi matematis manusia.
Kesadaran ini selaras dengan penegasan Al-Qur’an (QS. Luqman: 27) bahwa seandainya seluruh pohon di bumi menjadi pena dan lautan menjadi tinta, dengan tambahan tujuh lautan lagi setelahnya, niscaya tidak akan pernah habis kalimat-kalimat Allah. Ayat ini menggambarkan sebuah ketakhinggaan yang tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga kualitatif dan ontologis.
Dengan demikian, pendalaman kita terhadap matematika dan sains seharusnya tidak membuahkan kesombongan intelektual. Sebaliknya, setiap penemuan tentang struktur alam semesta yang tak terbatas ini semestinya mempertebal rasa kagum dan khasyah (rasa takut yang penuh hormat) kepada Sang Pencipta. Dan matematika hanyalah bahasa kecil yang kita gunakan untuk mengeja kemahaluasan sandi-sandi Tuhan.
Dengan demikian, menjawab pertanyaan “Apakah Adam benar-benar ada?” bukan sekadar pertanyaan arkeologis, melainkan sebenarnya pertanyaan tentang bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Apakah kita hanya sekumpulan data biologis, ataukah kita adalah pewaris "program nama-nama" yang mampu melihat makna di balik yang kasatmata?
Dalam dunia yang kini dikuasai algoritma, relevansi Adam menjadi semakin nyata. Peradaban tidak dimulai dari apa yang terlihat oleh indra, tetapi dari keberanian untuk beriman kepada yang gaib, menetapkannya sebagai aksioma, dan memberinya nama. Adam adalah simbol bahwa manusia adalah makhluk yang berdiri di ambang dua dunia, antara kaki yang berpijak pada bukti empiris, dan akal-iman yang menjangkau ketakhinggaan yang gaib. Karena sains dan agama bukanlah dua musuh yang bertikai, melainkan dua sayap dari satu operasi besar manusia dalam memahami rahasia-Nya. (Red)