Hari Buruh Internasional atau May Day sering kali dirayakan dengan gegap gempita di jalanan, namun sayangnya ia jarang menjadi ruang perenungan yang cukup dalam dan jujur di tengah hiruk-pikuknya. Seremoni setiap 1 Mei selalu menampilkan pemandangan serupa di jalanan yang sesak oleh tuntutan, bentangan spanduk, dan harapan-harapan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Mulai dari upah layak, jam kerja yang manusiawi, hingga kehidupan yang lebih bermartabat.
Namun, di balik riuhnya orasi yang menggema di berbagai kota dan negara, mampukah kita menjawab satu pertanyaan fundamental yang selama ini seolah terabaikan: apakah kita masih menjadi manusia seutuhnya dalam sistem kerja yang kita jalani hari ini? Ataukah, tanpa disadari, kita telah bertransformasi menjadi sekadar komponen biotik yang berfungsi sebagai pelengkap bagi mesin-mesin industri?
Saat hidup di lingkup industrial, sebuah pola dikotomis muncul secara paksa: Senin-Jumat orang-orang menjadi mesin, lalu Sabtu-Minggu menjadi manusia. Sebuah pola yang begitu umum, seolah-olah telah menjadi kodrat baru dalam dunia modern. Ritme ini bukan hanya soal pembagian waktu kerja, melainkan tentang bagaimana identitas manusia secara perlahan terbelah antara fungsi ekonomi dan eksistensi diri. Kita terjebak dalam apa yang oleh para sosiolog disebut sebagai "komodifikasi waktu", di mana setiap detik kehidupan dihitung berdasarkan nilai tukar material, bukan nilai kemanusiaan.
Sungguh kasihan memang, pada mereka dan juga nasibku, yang seluruh harinya mengabdi pada mesin. Demikian saya juga harus mengasihani diri sendiri. Sebab realitas ini dihadapi oleh saya sendiri, atau bahkan hampir oleh semua kaum pekerja, baik di pabrik, kantor, maupun dalam ekosistem kerja digital yang kini semakin meluas.
Data dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa jam kerja panjang dan tekanan produktivitas terus meningkat di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Pascapandemi, batas antara ruang privat dan ruang kerja semakin kabur. Dalam laporan Global Wage Report, ditekankan bahwa inflasi dan biaya hidup yang meroket memaksa kelas pekerja untuk bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan standar hidup yang stagnan, menciptakan lingkaran setan kelelahan kronis atau burnout.
Kita tahu, pada hari Senin-Jumat telah terjadi gelombang dehumanisasi yang sistematis. Kita manusia telah dianggap sebagai mesin, difungsikan sebagai perkakas tak hidup, sama halnya dengan sumber daya lain. Dalam logika industri modern, manusia sering direduksi menjadi angka produktivitas, target, dan efisiensi. Bahkan dalam sistem manajemen yang paling canggih sekalipun, nilai manusia seringkali diukur dari output yang dihasilkan, bukan dari makna keberadaannya. Manusia kini tak ubahnya sparepart yang bisa diganti kapan saja jika performanya menurun di bawah standar algoritma perusahaan.
Padahal kita ini manusia yang insan, yakni yang di samping jasad, juga memiliki jiwa dan ruh. Dalam filsafat Materialisme, terutama dalam praktik kapitalisme industri, manusia sering dipandang hanya sebagai bagian dari mekanisme produksi yang dingin. Pemikiran Karl Marx tentang alienasi menjadi sangat relevan kembali hari ini saat manusia terasing dari pekerjaannya, terasing dari hasil kerjanya, bahkan terasing dari dirinya sendiri karena ia tidak punya kontrol atas proses penciptaannya. Kita tidak lagi menjadi “pelaku” yang merdeka, melainkan sekadar “yang diperlakukan” oleh sistem.
Maka tak heran saat kita bekerja, kita ingin cepat-cepat libur, ingin cepat-cepat pulang. Slogan “I like Monday” menjadi ironi yang jarang benar-benar diucapkan dengan tulus, dan lebih sering terdengar sebagai bentuk penyangkalan diri (self-denial). Karena dalam cengkeraman rutinitas itu kita dibendakan, atau dihilangkan jiwanya. Pekerjaan yang seharusnya menjadi ruang aktualisasi diri dan tempat manusia mengekspresikan bakatnya, justru berubah menjadi ruang keterpaksaan yang menyesakkan.
Alasannya terdengar klise yang terasa kokoh menjerat kita bahwa katanya ini sudah aturan dari pusat, itu prosedurnya, atau begitulah bunyi juklak-juknisnya. Kalimat-kalimat penyangkalan seperti "tidak bisa dong seenak dewek" menjadi tameng yang melumpuhkan nalar kritis kita. Seolah-olah, kita telah kehilangan daya untuk menahan, apalagi melawan, karena meyakini bahwa sistem memang sengaja dirancang sedemikian mekanistis demi menjaga stabilitas produksi.
Di satu sisi, mekanisasi ini memang membuahkan efisiensi dan keteraturan yang memanjakan para pemegang modal. Namun di sisi lain, ia melahirkan kekakuan yang akut, sebuah kondisi yang mereduksi manusia menjadi sekadar roda gigi dalam mesin raksasa yang tak menyisakan ruang sedikit pun untuk bernapas.
Ironisnya, kemajuan teknologi justru mempererat belenggu tersebut. Laporan dari World Economic Forum (WEF) menyoroti fenomena di mana otomatisasi dan Kecerdasan Buatan (AI) bukannya membebaskan beban kerja manusia, melainkan justru memaksa kita untuk menyesuaikan diri dengan ritme mesin yang tak pernah tidur. Kita pun akhirnya terjebak dalam perlombaan yang mustahil dimenangkan sebab dipaksa berkompetisi dengan algoritma yang tidak mengenal rasa lelah, rasa lapar, apalagi rasa jenuh.
Lalu ketika Sabtu-Minggu tiba, ketika pulang ke rumah, atau ketika hari libur datang, kita merasa bebas untuk melakukan apa saja sekehendak jiwa. Tersedia waktu melakukan pelbagai hal yang tergantung minat dan bakat yang ingin dikembangkan dalam mengisi hari-hari liburnya. Sehingga dengan menjalaninya, serasa eksis menjadi diri, menjadi pribadi yang utuh kembali setelah lima hari menjadi robot.
Oleh karena itu, kebebasan di hari libur menjadi oase yang sangat berharga, meski kita sadar itu hanya bersifat sementara. Ia tak lebih dari sebatas jeda singkat untuk sekadar menarik napas, sebelum akhirnya kita kembali ditenggelamkan oleh rutinitas. Libur hanyalah interupsi, bukan sebuah perubahan struktural dalam garis hidup kita. Pada akhirnya, kita tetap ditelan oleh drama kehidupan yang nyatanya tidak pernah benar-benar berhenti di gerbang pabrik atau pintu kantor.
Tragedi ini kian memuncak saat rumah pun tak lagi menjadi tempat bernaung, melainkan mulai dianggap sebagai "neraka" baru. Perjalanan pulang yang tak kunjung sampai akibat terjebak macet berjam-jam sering kali menghabiskan sisa energi kita di jalanan yang gersang dan melelahkan. Bahkan, kemewahan waktu di hari libur pun sering kali terenggut; banyak dari kita yang terpaksa mencari tambahan penghasilan melalui kerja sampingan demi menyambung hidup.
Fenomena ini menjadi kian nyata di tengah ledakan gig economy dan meluasnya sektor kerja informal. Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi kini telah lebur dan nyaris tak berbekas. Hal ini selaras dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan tren peningkatan jumlah pekerja di sektor informal serta maraknya fenomena multi-jobbing. Semua itu dilakukan demi satu alasan klasik namun mendesak guna menutupi biaya kebutuhan hidup yang terus melambung tinggi di atas daya beli kelas pekerja.
Pada titik ini, "libur" telah menjelma menjadi kemewahan yang tak lagi terjangkau bagi sebagian besar rakyat kita. Alasan yang paling sering mengemuka adalah demi bertahan hidup. "Kalau tidak begitu, bagaimana anak dan istri bisa makan?"
Namun masalahnya di balik pembenaran itu, sering kali terselip kesalahan persepsi yang fatal. Seolah-olah kehadiran seorang ayah atau suami cukup digantikan dengan sekadar "menggemukkan cacing di perut" keluarga melalui materi, sementara otak dan ruh mereka dibiarkan membeku tanpa kehadiran sosok yang utuh.
Inilah tragedi sunyi dalam keluarga modern. Demi kebutuhan material yang akhirnya mungkin terpenuhi, namun merajalela kekosongan emosional dan spiritual yang menciptakan jurang yang lebar antar anggota keluarga.
Tentu, tulisan ini bukan bermaksud menyarankan kita untuk berleha-leha atau menjauhi kerja. Kita sadar sepenuhnya bahwa kubangan kemiskinan adalah bentuk dehumanisasi yang nyata. Ia merampas pilihan, memutus akses pengetahuan, dan menghancurkan martabat. Namun, ironi terbesar muncul ketika seseorang bekerja mati-matian untuk keluar dari kemiskinan, tetapi justru terjerumus ke dalam dehumanisasi bentuk lain—menjadi "mesin hidup" yang mungkin sukses secara finansial, namun kehilangan jati dirinya sendiri.
Dalam ikhtiar kita bekerja demi memanusiakan diri dan keluarga, jangan sampai kita justru terjatuh dan "ditimpa tangga pembinatangan". Sistem yang tidak adil dan nir-empati dapat mengubah kerja keras yang mulia menjadi bentuk perbudakan modern (neo-perbudakan) yang lebih halus.
Sejatinya, gerak-gerik jasmani dalam bekerja haruslah selaras dengan jiwa. Jiwalah yang seharusnya menjadi kompas utama. Menjadi jiwa yang terbebaskan dari belenggu materi dan tercerahkan oleh kesadaran. Dalam kerja semestinya tidak hanya dipandang sebagai alat bertahan hidup (survival tool), melainkan sebagai ruang untuk tumbuh, berkarya, dan menebar manfaat bagi sesama.
Kita perlu melahirkan kembali "manusia-manusia baru"—meminjam istilah Soe Hok Gie. Manusia yang tidak sekadar hanyut dalam arus sistem yang mapan, tetapi juga berani mempertanyakan, menggugat ketidakadilan, dan berdaulat dalam memberi makna pada setiap detik hidupnya. Manusia baru adalah mereka yang dengan tegas menolak direduksi menjadi sekadar angka-angka mati dalam laporan tahunan perusahaan.
Dengan demikian, Hari Buruh semestinya bukan sekadar seremoni untuk menuntut kenaikan upah atau perubahan regulasi. Ia adalah momentum eksistensial bagi kita untuk bertanya ulang di depan cermin jiwa masing-masing, apakah kita masih memegang kendali atas hidup kita sendiri? Ataukah kita telah menjadi sekrup kecil dari mesin raksasa yang kita ciptakan sendiri, tanpa pernah benar-benar menjadi manusia di dalamnya?
Sebab mungkin, persoalan terbesar bangsa pekerja hari ini bukanlah karena kita bekerja terlalu keras atau terlalu lama, melainkan karena kita telah terlalu lama menjalani hari-hari tanpa benar-benar merasa hidup. Kita ada secara fisik, tetapi kita tidak ada bagi diri kita sendiri. Karenanya mari merayakan Hari Buruh dengan merebut kembali kemanusiaan kita. (Sal)