Apa realitas hari ini sebagai buruh pekerja? Pertanyaan ini menjadi krusial di tengah pergeseran definisi kerja di era digital. Buruh, baik dalam arti sebagai pegawai swasta atau pengabdi pada korporasi yang disebut negara, kini menempati posisi yang sering kali dianggap prestisius. Bidang pekerjaannya kerap menjadi bagian dari tools managerial atau inti sebuah perusahaan. Namun, di balik meja-meja rapi dan pendingin ruangan, tersimpan sebuah ketegangan eksistensial yang nyata.
Pada jenis pekerjaan yang disebut “pekerja kantoran” tercipta sebuah kondisi, menjadi sebuah tradisi bekerja hari ini, terjadi sesuatu yang bahasa psikologis menyebutnya reaktansi (reactance). Fenomena ini bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan respons psikologis terhadap hilangnya otonomi individu. Menurut teori psikologi sosial yang dikembangkan oleh Jack Brehm, reaktansi muncul saat seseorang merasa kebebasannya terancam, sehingga muncul dorongan bawah sadar untuk melawan, meski seringkali perlawanan itu hanya berupa kejenuhan yang mendalam atau sabotase diri secara halus.
Reaktansi sering terjadi pada seorang yang bekerja pada bidang dan status pekerjaan di hampir semua level manajer (low-middle-high manager), tapi tak menutup kemungkinan semua jenis pekerjaan apa pun. Kondisi ini menembus sekat hierarki karena pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan fundamental untuk merasa berdaulat atas dirinya sendiri.
Secara definitif, reaktansi merupakan suatu kondisi ketika merasa seakan-akan kita punya kendali (driver) atas hidup sendiri tapi sebenarnya tidak. Dengan kata lain boleh jadi kita melakukan sesuatu yang disukai sebenarnya, tapi melakukannya di jadwal yang tak bisa dikendalikan, karena betapa bakunya SOP, sehingga rasanya sama dengan melakukan sesuatu yang dibenci. Hal ini sejalan dengan data dari Gallup State of the Global Workplace 2023 yang menunjukkan bahwa tingkat stres pekerja dunia mencapai rekor tertinggi. Masalahnya bukan lagi sekadar jenis pekerjaannya, melainkan hilangnya kedaulatan atas waktu.
Benci pada jadwal atau tugas pekerjaan, entah karena tak sesuai ritme jam biologisnya, seperti berganti shift yang suka-suka oleh atasannya, atau sebenarnya telah terjadi otoritarianisme di unsur manajerial perusahaan, seringkali menjadi pemicu utama. Terkadang, ia sesungguhnya adalah bawaan kemalasan yang natural dan struktural terkondisi oleh keadaan, sehingga membawa perasaan ada praktik kedisiplinan yang terlalu menuntut. Di titik ini, batasan antara disiplin produktif dan penindasan halus menjadi sangat kabur.
Meski kehidupan modern seolah mekanis untuk dapat terbentuk semacam kedisiplinan, kata Erich Fromm bahwa era modern sebenarnya lemah untuk membangun sikap disiplin. Fromm dalam pandangan psikoanalisisnya melihat bahwa manusia modern terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Karena mekanisme saat pagi berangkat kerja lalu sore-malam pulang dari Senin sampai Jum’at, lalu ketika saatnya libur atau tidak bekerja adalah me time yang maksudnya bermalas-malasan, atau menggunakan kata yang lebih enak didengar, ingin “rileks”.
Ingin bermalas-malasan bukanlah tanpa sebab. Keinginan bermalas-malasan sebagian besar itulah reaksi atas rutinitas hidup. Fenomena ini di era modern dikenal juga sebagai revenge bedtime procrastination, di mana pekerja "mencuri" waktu malam untuk bersenang-senang karena merasa tidak memiliki kendali atas waktu mereka di siang hari. Karena sejauh ini kita dipaksa menghabiskan tenaga selama 8 jam per hari untuk sesuatu yang bukan tujuannya, bukan untuk kesenangannya, atau bukan dengan caranya, tetapi telah ditentukan baginya oleh ritme kerja yang monoton.
Tidak hanya itu yang membuat reaktansi, sebabnya kegiatan pekerjaan mungkin hanya duduk diam seharian, atau duduk 8 jam di depan komputer, sehingga tampak santai di mata sebagian orang. Padahal sebenarnya telah menghabiskan waktu 24 jam bekerja dengan akal pikiran, karena terus-menerus memikirkan masalah pekerjaan. Beban kognitif ini jauh lebih menguras energi dibandingkan kelelahan fisik.
Muncul istilah “urusan pekerjaan dibawa ke rumah dan urusan rumah dibawa ke ruang pekerjaan”, sehingga terbalik-balik urusan yang membawa masalah tak tuntas-tuntas diselesaikan. Kondisi ini diperparah dengan kaburnya batas ruang pribadi. Bekerja boleh jadi lebih singkat dari buruh tahun 1950-an, tapi rasanya seperti bekerja 24 jam sehari atau lebih dalam 7 hari seminggu. Perubahan ini menandai lahirnya "masyarakat lelah" (The Burnout Society), sebuah konsep dari filsuf Byung-Chul Han, di mana individu mengeksploitasi diri mereka sendiri atas nama produktivitas.
Terlebih sekarang yang dijual adalah sektor jasa yang utamanya adalah pelayanan (service excellence), membuat jabatan selaku manajer, pejabat, atau profesional adalah pekerjaan pembuat keputusan yang menguras isi kepala. Tanggung jawab emosional untuk selalu tampil sempurna di depan klien atau atasan menciptakan beban mental yang berlapis.
Ketika hari kerja cuma Senin-Sabtu, atau sore sudah saatnya absen pulang meninggalkan ruang kerja, tapi kita terus-menerus bekerja di dalam kepala, yang artinya pekerjaan seolah-olah tak pernah selesai. Kita terus memikirkan bagaimana cara misalnya perbaikan rekap pelaporan, rencana penjualan, pemasaran, dan lain sebagainya. Pikiran terus direcoki memikirkan proyeksi dan realisasi selagi kita dalam perjalanan pulang, selagi makan malam, atau ketika bangun pagi yang disertai gelisah karena pekerjaan yang tak selesai dan bahkan sampai terbawa mimpi.
Belum lagi kehadiran gawai sebagai sarana komunikasi dan koordinasi pekerjaan, waktunya libur selalu tut tut tut tut, atau krining krining, krining krining ada telepon dari atasan, yang mau tak mau harus diangkat. Gawai yang seharusnya membebaskan kita untuk bekerja dari mana saja, justru membelenggu kita untuk bekerja dari mana saja tanpa jeda. Alasan yang sering digunakan adalah efisiensi: kita harus cepat tanggap untuk sebuah kemajuan perusahaan, dan konon keuntungannya akan kembali pada karyawannya dalam kenaikan gaji dan bonus.
Namun, realitanya tidak selalu seindah janji-janji manajemen. Kalau tak jua mampu memberi lancar gaji dan bonus, ada yang berkata, kaum kapitalis mengundang guru agama atau pendakwah yang dapat dititipkan pesan. Pesan itu agar menyampaikan kepada jamaah kaum pekerja: bekerjalah dengan ikhlas karena dengan ikhlas akan berlipat pahala; yakini Allah SWT akan mengganti atau mengobati peluh keringat. Narasi ketuhanan ini kadang disalahgunakan untuk menormalisasi eksploitasi, sehingga para pekerja pun lupa atau dilupakan untuk demo tuntutan kenaikan gaji. Spiritualitas yang seharusnya membebaskan, justru dijadikan alat untuk meredam kegelisahan struktural.
Adanya gawai sebagai alat kerja yang bisa dibawa ke mana-mana, karena kemajuan teknologi untuk efisiensi kerja, membawa kita pada sebuah simpulan pahit. Sebagaimana kata Derek Thompson di The Atlantic yang dikutip oleh Morgan Housel dalam bukunya “The Psychology of Money”, artinya pabrik modern bukanlah suatu tempat, pabrik modern adalah satu hari itu sendiri. Kita tidak lagi pergi ke pabrik, tetapi kita hidup di dalam pabrik tersebut sepanjang waktu melalui layar di genggaman kita.
Reaktansi terjadi boleh jadi jenis pekerjaannya menarik secara intelektual, bergaji besar, dan menyandang status prestise tinggi karena bidang atau jobroll pekerjaannya. Tapi perasaannya seolah-olah saya telah menjadi budak bagi perintah bos saya, menjadi budak otoritarianisme manajerial perusahaan. Akibatnya membuat tingkat stres atau frustrasi atau gangguan jiwa yang grafiknya terus naik bagi pekerja level manajemen. Tekanan untuk selalu berprestasi (hustle culture) telah menimbulkan banyak ketegangan yang rata-rata naik signifikan meski dibarengi naiknya tingkat pendapatan. Berdasarkan studi World Health Organization (WHO), bekerja lebih dari 55 jam per minggu berhubungan langsung dengan risiko gangguan kesehatan serius.
Lalu apa yang dapat kita lakukan ketika mental health terganggu, karena sudah overload pekerjaan tapi itu keharusan dari perampingan karyawan, sementara gaji tak lancar? Mengadu ke dinas negara juga bagai buah simalakama, di mana prosedur birokrasi seringkali tidak berpihak pada buruh yang rentan. Kita terjebak dalam sistem yang menuntut efisiensi maksimal dengan kompensasi minimal.
Sebagai refleksi, mungkin langkah awal yang bisa diambil adalah mengenali kembali hak atas diri sendiri. Sebenarnya menguraikan apa yang sedang terjadi, memahami akar rasa muak kita, dan menyadari apa yang sebenarnya terjadi pun sudah sebagai katarsis—sebagai luapan dalam pengobatan atas gejala stres ringan. Menuliskan kegelisahan ini adalah bentuk resistensi kecil terhadap dunia yang ingin mengubah kita menjadi mesin. Tentu saja, kesadaran ini muncul sambil memaki-maki betapa bodohnya diri dan mengapa terus dibodohi oleh apa-apa yang terus dijalani. Namun, dari makian dan kesadaran itulah, biasanya muncul keberanian untuk menetapkan batasan, demi menjaga sisa-sisa kemanusiaan kita di tengah gempuran target dan tenggat waktu. (Sal)