Batam Gelar International Graffiti Festival 2026 untuk Wajah Baru Kota

Kota Batam, Kepulauan Riau, akan menjadi tuan rumah International Graffiti Festival 2026: Wave of...

Batam Gelar International Graffiti Festival 2026 untuk Wajah Baru Kota

Eduka
07 Apr 2026
180 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Batam Gelar International Graffiti Festival 2026 untuk Wajah Baru Kota

Kota Batam, Kepulauan Riau, akan menjadi tuan rumah International Graffiti Festival 2026: Wave of Wall yang digelar di kawasan Nagoya City Walk pada 11–12 April 2026. Puluhan seniman graffiti dari berbagai negara dijadwalkan hadir untuk mengubah ruang-ruang urban menjadi kanvas terbuka. Festival ini digagas oleh kolektif seni visual lokal dengan tujuan menghadirkan wajah baru kota melalui seni jalanan, sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas budaya.

Di tengah identitas Batam yang selama ini lekat sebagai kota industri dan perdagangan, festival ini hadir sebagai upaya alternatif untuk mendefinisikan ulang ruang kota. Bukan lagi sekadar kawasan ekonomi, tetapi juga ruang ekspresi. Penanggung jawab acara, Agung, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk intervensi kreatif terhadap lanskap urban yang selama ini dianggap monoton.

“Kami ingin menghadirkan energi baru di ruang publik, mengubah dinding-dinding monoton menjadi medium ekspresi yang hidup,” ujarnya.

Konsep yang diusung, Wall Invasion, dimaknai bukan sebagai perusakan, melainkan “perebutan kembali” ruang visual kota. Dinding-dinding yang selama ini kosong atau fungsional, dihadirkan sebagai medium narasi, tempat gagasan, kritik sosial, hingga identitas komunitas dituangkan dalam warna dan bentuk.

Koordinator acara, Etek, menjelaskan bahwa festival ini tidak hanya berisi pertunjukan seni, tetapi juga ruang interaksi. Hari pertama akan diisi dengan graffiti jamming, uji coba spray painting, pameran, hingga penampilan musik. Sementara hari kedua menghadirkan graffiti games, lomba skateboard, talkshow, dan diskusi budaya.

“Kami ingin ada ruang diskusi juga, bukan hanya pertunjukan. Karena graffiti itu bagian dari budaya, bukan sekadar visual,” kata Etek.

Festival ini akan menghadirkan seniman dari berbagai negara seperti Prancis, Turki, India, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Kehadiran mereka menjadi ruang pertukaran gagasan yang dinilai penting bagi komunitas lokal. Sejumlah seniman nasional dari Yogyakarta, Kebumen, Medan, hingga Batam juga ikut ambil bagian.

Dalam konteks ekonomi kreatif, kegiatan semacam ini sejalan dengan tren global yang menempatkan seni urban sebagai daya tarik wisata dan identitas kota. Data dari UNESCO menunjukkan bahwa kota-kota kreatif dengan penguatan seni publik cenderung memiliki daya tarik wisata yang lebih kuat dan berkelanjutan. 

Di Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga mendorong pengembangan subsektor seni rupa sebagai bagian dari strategi ekonomi kreatif nasional. Namun, di balik optimisme tersebut, tidak sedikit pandangan kritis yang muncul. Graffiti masih sering dipersepsikan sebagai vandalisme, terutama ketika dilakukan tanpa izin atau merusak fasilitas umum. Pengamat tata kota dari Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia, misalnya, pernah mengingatkan bahwa seni di ruang publik tetap memerlukan regulasi yang jelas agar tidak menimbulkan konflik dengan fungsi kota.

“Seni publik harus memiliki kerangka aturan, agar tidak berbenturan dengan kepentingan ruang kota yang lain,” ujar salah satu pengamat dalam diskusi urban sebelumnya. Di sisi lain, pelaku seni justru melihat regulasi yang terlalu ketat dapat mematikan kreativitas. Seorang seniman graffiti komunitas Jakarta dalam sebuah forum seni urban menyebut, “Graffiti lahir dari kebebasan. Kalau semua dibatasi, ia kehilangan ruhnya sebagai suara jalanan.”

Pertegangan antara ekspresi dan regulasi inilah yang menjadikan festival seperti Wave of Wall menarik. Ia bukan sekadar perayaan visual, tetapi juga ruang negosiasi antara kebebasan berekspresi dan keteraturan kota, antara identitas lama dan kemungkinan baru.

Selain seni, festival ini juga diramaikan aktivitas komunitas seperti live painting pada kendaraan, pertemuan komunitas sepeda dan motor kustom, hingga kegiatan thrifting. Perpaduan ini menunjukkan bahwa seni urban tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan gaya hidup dan ekonomi kreatif yang lebih luas.

Lebih jauh, festival ini bisa dibaca sebagai upaya Batam untuk berbicara dalam bahasa yang berbeda. Jika selama ini kota ini dikenal melalui angka-angka investasi dan industri, maka kini ia mencoba berbicara melalui warna, garis, dan imajinasi. Lalu pertanyaan yang tersisa akan sejauh mana ia mampu meninggalkan jejak, apakah dinding-dinding yang dicat itu akan menjadi awal dari perubahan cara pandang terhadap kota, ataukah hanya akan menjadi peristiwa sesaat yang perlahan memudar bersama waktu.

Barangkali, di sanalah letak makna terdalamnya bahwa kota, seperti manusia, selalu berada dalam proses menjadi, dan seni, dalam segala bentuknya, adalah salah satu cara untuk mengingatkan bahwa bahkan beton pun bisa memiliki cerita. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll