10 Jurusan Kuliah yang Disesali Lulusan, Alarm Bagi Calon Mahasiswa Sebelum Memilih

Apa, siapa, dan mengapa banyak lulusan perguruan tinggi menyesali jurusan kuliahnya? Pertanyaan ini...

10 Jurusan Kuliah yang Disesali Lulusan, Alarm Bagi Calon Mahasiswa Sebelum Memilih

Eduka
17 Mar 2026
225 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

10 Jurusan Kuliah yang Disesali Lulusan, Alarm Bagi Calon Mahasiswa Sebelum Memilih

Apa, siapa, dan mengapa banyak lulusan perguruan tinggi menyesali jurusan kuliahnya? Pertanyaan ini membayangi koridor-koridor kampus saat ini. Sebuah survei yang dilakukan oleh ZipRecruiter terhadap 1.500 lulusan yang sedang mencari kerja mengungkap fakta bahwa sejumlah jurusan populer justru menjadi sumber penyesalan terbesar setelah lulus. Temuan ini muncul di tengah meningkatnya kesenjangan antara harapan akademik yang membumbung tinggi dan realitas pasar kerja yang seringkali dingin, terutama dalam hal gaji, peluang kerja, dan relevansi keterampilan.

Survei ini dilakukan bukan untuk mendiskreditkan ilmu tertentu, melainkan untuk memahami bagaimana pilihan pendidikan memengaruhi arah karier dan kesejahteraan finansial para lulusan dalam jangka panjang. Alih-alih sekadar soal “salah pilih jurusan”, temuan ini membuka persoalan yang lebih dalam tentang sistem pendidikan tinggi apakah masih selaras dengan kebutuhan dunia kerja, ataukah mahasiswa sejak awal memang kurang mendapatkan informasi yang utuh sebelum menentukan pilihan hidup yang krusial ini?

Ekonom utama ZipRecruiter, Sinem Buber, menjelaskan bahwa ketertarikan akademik kerap tidak berjalan seiring dengan realitas ekonomi setelah lulus. "Saat kita lulus, kenyataan akan datang. Ketika Anda kesulitan membayar tagihan, gaji menjadi jauh lebih penting," ujarnya. Pernyataan ini menggambarkan pergeseran prioritas yang dialami banyak lulusan dari idealisme akademik menuju pragmatisme ekonomi. Fenomena ini diperkuat oleh data dari Federal Reserve Bank of New York yang menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terselubung (underemployment), kondisi di mana lulusan bekerja di bidang yang tidak memerlukan gelar sarjana cukup tinggi pada jurusan-jurusan tertentu, yang memperlebar jurang antara ijazah dan nafkah.

Berdasarkan survei tersebut, berikut adalah 10 jurusan dengan tingkat penyesalan tertinggi:

  1. Jurnalisme (87%)
  2. Sosiologi (72%)
  3. Seni (72%)
  4. Komunikasi (64%)
  5. Pendidikan (61%)
  6. Marketing dan Riset (60%)
  7. Pendamping Medis (56%)
  8. Ilmu Politik dan Pemerintahan (56%)
  9. Biologi (52%)
  10. Sastra Inggris (52%)

Menariknya, sebagian besar jurusan ini berada dalam rumpun ilmu sosial dan humaniora. Bidang yang selama ini dikenal dapat memperkaya perspektif berpikir, tetapi seringkali tidak memberikan jalur karier yang linier atau stabil secara finansial di tengah ekonomi yang kian terdigitalisasi. Di sisi lain, survei yang sama mencatat bahwa jurusan seperti Ilmu Komputer, Teknik, dan Keuangan justru memiliki tingkat kepuasan tertinggi, karena ketersediaan lapangan kerja yang luas dan kompensasi yang kompetitif sejak tahun pertama kelulusan.

Namun tidak semua pihak sepakat bahwa penyesalan ini sepenuhnya mencerminkan kegagalan jurusan tersebut. Sejumlah akademisi berpendapat bahwa pendidikan tinggi tidak semata-mata bertujuan untuk menghasilkan pendapatan tinggi atau sekadar mencetak "sekrup" bagi mesin industri. Seorang pengamat pendidikan tinggi menyebutkan, “Jurusan seperti sosiologi atau sastra membentuk kemampuan berpikir kritis, empati, dan analisis sosial, sebuah keterampilan yang justru sangat dibutuhkan dalam jangka panjang, meski tidak langsung terlihat dalam bentuk gaji awal.” Keterampilan lunak (soft skills) ini menjadi modal berharga saat seseorang mencapai level manajerial, di mana pemahaman atas perilaku manusia lebih krusial daripada keterampilan teknis semata.

Pendapat ini menegaskan bahwa nilai pendidikan bersifat jangka panjang dan tidak selalu terukur secara instan melalui angka pendapatan. Pendidikan adalah investasi pada kemanusiaan, bukan sekadar investasi modal.

Di sisi lain, kritik tajam diarahkan pada kurangnya keterhubungan antara kurikulum kampus dan kebutuhan industri sebagai fenomena yang sering disebut sebagai skills mismatch. Banyak lulusan merasa “tidak siap kerja” atau kesulitan menemukan pekerjaan yang relevan dengan bidang studi mereka karena kurikulum yang dianggap terlalu teoritis dan kaku. Seorang praktisi HR di industri digital menyatakan: “Masalahnya bukan pada jurusannya saja, tetapi pada bagaimana kampus tidak cukup membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis dan adaptif.” 

Kritik ini menyoroti perlunya reformasi dalam sistem pendidikan tinggi, termasuk integrasi magang yang bermutu, pelatihan keterampilan digital, dan orientasi karier yang dimulai sejak semester awal, bukan saat toga sudah di depan mata.

Fenomena ini sesungguhnya bukan soal daftar jurusan “terburuk”, melainkan tentang generasi muda kerap membuat keputusan besar dalam kondisi informasi yang terbatas. Banyak mahasiswa memilih jurusan berdasarkan minat sesaat, pengaruh lingkungan, tekanan orang tua, atau tren media sosial, tanpa pemahaman utuh tentang bagaimana struktur pasar kerja bekerja. Di titik ini, penyesalan menjadi semacam refleksi kolektif bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang dipelajari di dalam ruang kelas, tetapi juga bagaimana ia dihubungkan dengan denyut kehidupan nyata di luar gerbang kampus.

Dunia saat ini menuntut kelenturan. Seorang lulusan sastra yang memahami analisis data atau seorang sarjana sosiologi yang menguasai manajemen media sosial mungkin akan terhindar dari daftar penyesalan tersebut. Pendidikan seharusnya menjadi fondasi, bukan penjara yang membatasi gerak sang lulusan.

Barangkali, yang paling penting bukanlah menghindari jurusan tertentu, melainkan memahami diri sendiri dengan lebih jujur sejak awal. Kita perlu bertanya apakah kita mengejar ilmu karena cinta, atau mengejar gelar untuk jaminan hidup? Sebab setiap pilihan membawa konsekuensinya sendiri. Di antara idealisme yang melangit dan kebutuhan hidup yang membumi, manusia selalu berada dalam tarik-menarik yang melelahkan, tapi juga mampu mendewasakan.

Kuliah bukan hanya perjalanan intelektual untuk menimbun teori, tetapi juga perjalanan eksistensial untuk memahami batas antara mimpi dan kenyataan. Penyesalan yang muncul setelah kelulusan mungkin adalah guru yang paling jujur, yang mengingatkan kita bahwa proses belajar tidak boleh berhenti saat ijazah digenggam.

Dan mungkin, penyesalan itu sendiri bukanlah sebuah kegagalan mutlak. Ia adalah bentuk lain dari kesadaran pada sebuah momen pencerahan yang menyatakan bahwa hidup, seperti halnya pilihan jurusan, tidak pernah benar-benar final. Hidup selalu terbuka untuk ditafsir ulang, diperbaiki, dan diarahkan kembali menuju pelabuhan tujuan yang lebih bermakna. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll