Perkuat Diplomasi Budaya, 79 Pendaki Taklukkan Gunung Daik dalam Agenda Pahang-Lingga 2026

Sebanyak 79 pendaki lintas negara melakukan pendakian ke puncak Gunung Daik, Kabupaten Lingga,...

Perkuat Diplomasi Budaya, 79 Pendaki Taklukkan Gunung Daik dalam Agenda Pahang-Lingga 2026

29 Apr 2026
142 x Dilihat
Share :

Sebanyak 79 pendaki lintas negara melakukan pendakian ke puncak Gunung Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, Minggu (26/4). Kegiatan ini merupakan bagian dari perhelatan Agenda Budaya Pahang–Lingga 2026 yang bertujuan mempererat ikatan historis antara Indonesia dan Malaysia. Rombongan pendaki tersebut terdiri dari 51 peserta asal Negeri Pahang, Malaysia, serta delegasi lokal. Secara rinci, komposisi peserta mencakup 60 laki-laki dan 19 perempuan. Demi menjamin keamanan, tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan SAR dikerahkan untuk melakukan pengawalan ketat di sepanjang jalur pendakian.

Pendakian bertajuk "Kursus Jati Diri Warisan dan Silang Budaya" ini bukan sekadar aktivitas wisata alam, melainkan instrumen diplomasi budaya. Acara yang berlangsung pada 23–28 April 2026 tersebut juga dimeriahkan oleh kunjungan persahabatan dari Kesultanan Pahang.

Selain pendakian, rangkaian agenda lainnya meliputi: Malam Silang Budaya di Lapangan Hang Tuah (26/4), Gerakan Pangan Murah bagi masyarakat setempat, dan Penguatan narasi sejarah antara Kesultanan Pahang dan Lingga.

Pihak penyelenggara menegaskan bahwa keselamatan adalah prioritas utama. Sebelum memulai pendakian, seluruh peserta diwajibkan mengikuti technical meeting di Zahra Homestay pada Sabtu (25/4). Dalam sesi tersebut, panitia memberikan pembekalan ketat mengenai analisis cuaca terkini dan pemetaan jalur pendakian, protokol kesehatan dan manajemen risiko di medan ekstrem, dan menjaga etika lingkungan serta penghormatan terhadap kearifan lokal di kawasan Gunung Daik.

Gunung Daik yang ikonik kembali menjadi ruang perjumpaan masyarakat serumpun, sekaligus membuktikan bahwa kedekatan geografis dan sejarah dapat dikemas menjadi kolaborasi strategis pariwisata. Meski demikian, Kepala Dinas Pariwisata Lingga, Harpiandi, menegaskan bahwa aspek keselamatan adalah prioritas yang tidak dapat ditawar. “Kami ingatkan, jangan memaksakan diri jika kondisi tidak memungkinkan. Gunung tidak akan lari ke mana, tetapi nyawa tidak bisa diulang,” tegas Harpiandi.

Sebanyak 19 pemandu lokal dikerahkan untuk mendampingi peserta. Selain itu, kehadiran tim gabungan dari aparat keamanan dan penanggulangan bencana menjadi lapisan pengamanan tambahan. Hal ini sejalan dengan tren pengelolaan wisata alam berbasis mitigasi risiko yang kini semakin diperhatikan di berbagai destinasi pendakian di Indonesia.

Namun di balik semangat tersebut, sejumlah pengamat pariwisata menilai kegiatan seperti ini tetap memerlukan evaluasi berkelanjutan. Akademisi pariwisata, misalnya, mengingatkan bahwa lonjakan kunjungan terutama dari luar daerah atau luar negeri perlu diimbangi dengan kapasitas jalur dan kesiapan ekosistem. “Pendakian massal berpotensi memberi tekanan pada lingkungan jika tidak diatur dengan kuota dan pengawasan ketat,” kata seorang pengamat ekowisata dalam diskusi terkait pengelolaan destinasi berbasis alam.

Di sisi lain, pelaku wisata lokal justru melihat kegiatan ini sebagai peluang penting. Seorang pemandu lokal menyebut bahwa kegiatan lintas negara seperti ini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. “Selain memperkenalkan Gunung Daik, kegiatan ini juga berdampak pada penginapan, transportasi, dan UMKM lokal,” ujarnya.

Dua pandangan ini memperlihatkan dilema klasik dalam pengembangan wisata alam antara dorongan ekonomi dan tuntutan keberlanjutan. Gunung bukan hanya ruang eksplorasi, tetapi juga ekosistem yang memiliki batas daya dukung. Karenanya prosesi pelepasan pendaki yang berlangsung dengan semangat, namun tetap dalam suasana waspada. Wakapolres Lingga bersama unsur terkait turut hadir memastikan seluruh prosedur berjalan sesuai standar. Penekanan pada keselamatan menjadi pesan yang berulang, seolah ingin mengingatkan bahwa euforia tidak boleh mengalahkan kewaspadaan.

Pendakian Gunung Daik tahun ini menghadirkan lebih dari sekadar cerita perjalanan. Ia menjadi cermin bagaimana manusia bernegosiasi dengan alam, antara hasrat menaklukkan dan kesadaran untuk merawat lingkungan. Pemandangan indah memang selalu menjadi daya tarik, tetapi ia hanyalah bonus. Tujuan sejatinya tetaplah sederhana meski sering dilupakan, agar bisa pulang dari pendakian dengan selamat.

Di titik itulah, Gunung Daik mengajarkan bahwa keberanian sejati bukan diukur dari ketinggian yang dicapai, melainkan dari kebijakan dalam memahami batas diri. Momentum ini menjadi pengingat bahwa pendakian bukan sekadar penaklukan puncak, melainkan ujian kearifan bagi setiap pendaki untuk mengenali batas kemampuannya sendiri. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll