Untuk aku yang kecil, yang pernah sangat tabah,
Hai, kamu. Apa kabar selama ini, yang tumbuh bersamaku, yang cukup diam-diam bersemayam, tanpa banyak suara padahal terus-menerus meronta? Maaf, ini pertama kalinya aku benar-benar menyapamu. Maaf karena aku datang terlambat. Terlalu lama aku sibuk menjadi seseorang yang terlihat “kuat”, sibuk mengejar validasi dunia dewasa yang bising, sampai lupa bahwa di dalam diriku ada kamu yang dulu hanya ingin dipeluk, didengar, dan dimengerti tanpa syarat.
Aku tahu, kamu sering kebingungan. Kamu bertanya-tanya tentang bagaimana mungkin sesuatu yang disebut “rumah” bisa retak dan pecah. Kamu menyaksikan emak dan ayah seperti matahari dan bulan yang pernah sama-sama terang, tetapi kemudian tak pernah benar-benar bertemu di langit yang sama. Dalam diam kemudian kamu belajar menerima jarak tanpa pernah benar-benar memahami maknanya.
Menurut seorang ahli bahwa fenomena ini, dalam literatur psikologi keluarga, sering disebut sebagai emotional detachment. Ya kamu berada di sana dalam melihat segalanya, yang membuat jiwamu terisolasi oleh tembok komunikasi yang runtuh. Kamu merasakan lelah setelah berpindah-oindah dari satu tempat ke tempat lain, berharap suatu hari ada ruang yang bisa kamu sebut “rumah”. Namun tak ada yang benar-benar ruang tinggal untuk menetapkan tempatmu berpijak. Membuatmu tak ada yang sepenuhnya terasa utuh.
Kita memang adalah bagian dari anak-anak yang tumbuh dalam konflik keluarga, yang cenderung menyimpan luka emosional jangka panjang. Tetapi bukan berarti karena kita lemah. Karena kita belajar bertahan terlalu dini. Data dari Psychology Today menyebutkan bahwa kita yang tumbuh dalam konflik persisten kerap mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang sangat kuat, tetapi rentan terhadap kecemasan di masa dewasa seperti ku ini.
Tetapi kita juga belajar membaca "cuaca" emosi orang tua sebelum belajar memahami perasaan kita sendiri. Maafkan aku, karena dulu membiarkanmu menangis sendirian di malam-malam panjang. Malam ketika kamu hanya ingin bertemu emak, setelah kamu pergi bersama kakakmu ke rumah Uwa, atau saat setiap pagi-pagi yang kamu lewati dengan perasaan kosong, merindukan ayah tanpa tahu harus mengatakannya kepada siapa.
Aku tahu kamu menyimpan semua itu sendiri. Kamu menuliskannya diam-diam, di catatan harian yang mungkin tak pernah dibaca siapa pun. Tapi justru di situlah kamu belajar bertahan dengan cara paling sunyi dan senyap menguliti jiwamu. Lalu kamu menulis dengan berharap menjadi sekoci penyelamatmu, sebuah bentuk katarsis yang, menurut penelitian Dr. James Pennebaker dari University of Texas, itu mampu meningkatkan sistem imun mental seseorang melalui pengungkapan emosi secara tertulis.
Maaf ya, kecilku. Kamu tidak salah. Kamu bukan anak yang terlalu sensitif, bukan pula anak yang “terlalu banyak berpikir”. Kamu hanya seorang anak kecil yang sedang berusaha mencintai dalam dunia yang terlanjur rumit. Dunia yang meminta kamu dewasa lebih cepat dari seharusnya, sebagai kondisi yang sering disebut sebagai parentification, di mana seorang anak dipaksa mengambil beban emosional orang dewasa sebelum waktunya.
Dan kamu ternyata hebat. Lebih hebat dari yang selama ini kamu kira. Bahkan ketika orang-orang hari ini mungkin melihatmu berbeda—menyebutmu dengan label yang tidak kamu pilih, seperti “bujang lapuk” atau kata-kata lain yang terasa menghakimi, ketahuilah mereka tidak pernah benar-benar tahu perjalanan panjang yang sudah kamu lewati.
Sebab masyarakat seringkali hanya melihat permukaan, menggunakan standar normatif untuk menilai kebahagiaan seseorang, tanpa menyadari bahwa keberhasilan terbesar adalah saat seseorang berhasil bertahan hidup dari reruntuhan trauma masa lalunya. Mereka tidak melihat bagaimana kamu membangun dirimu dari serpihan-serpihan kehilangan.
Sekarang, aku di sini. Aku ingin merangkulmu. Duduk bersamamu. Mendengarkan semua ceritamu tanpa menghakimi, tanpa menyuruhmu diam, tanpa menganggap remeh semua hal yang dulu kamu rasakan. Semua kerewelanmu, semua tangisanmu, semua pertanyaanmu—itu valid. Itu nyata. Dan itu penting.
Dalam banyak kajian psikologi modern, proses ini katanya disebut sebagai healing inner child sebagai upaya untuk berdamai dengan diri kecil kita yang pernah terluka. Para ahli seperti John Bradshaw menjelaskan bahwa menyembuhkan diri bukan berarti melupakan masa lalu, tetapi mengakui bahwa luka itu ada, dan memberi ruang bagi diri kita untuk memeluknya kembali dengan kasih yang dulu tidak sempat kita terima.
Karenanya, menyembuhkan diri adalah proses "pengasuhan ulang" (re-parenting) oleh diri kita yang dewasa terhadap dirimu yang hidup dalam tubuh dewasaku. Kita adalah jiwa kecil yang tumbuh bersama dan selalu ada antara kamu dan aku. Selanjutnya kita akan membangun rumah baru dengan pelan-pelan. Rumah yang tidak harus terbuat dari dinding dan atap, tapi dari rasa aman yang kita sama-sama ciptakan. Dari kasih yang tidak lagi pergi-pergi. Dari penerimaan yang tidak bersyarat.
Ketahuilah bahwa kita sedang belajar bahwa ketangguhan (resilience) bukanlah tentang tidak pernah hancur, melainkan tentang bagaimana kita menyusun kembali potongan-potongan yang pecah itu menjadi sesuatu yang baru. Mungkin rumah yang hendak kita bangun itu bukanlah tempat, melainkan sebuah perasaan. Perasaan bahwa kita cukup. Bahwa kita layak dicintai meski dengan segala retakan yang ada. Bahwa kita tidak lagi sendirian di tengah badai ingatan.
Aku sayang kamu. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini—dengan cinta, atau bahkan tanpa cinta dari mereka yang pernah kamu sapa. Terima kasih sudah tidak menyerah, meski berkali-kali kamu merasa hampir runtuh dan kehilangan arah. Keberanianmu untuk tetap bernapas di tengah sesak masa lalu adalah prestasi yang tak ternilai, camkan itu!
Percayalah sekarang, aku ada di sini. Dan kali ini, aku tidak akan pergi. Kita tidak perlu lagi mencari "rumah" di luar sana jika kita bisa menjadi rumah bagi diri kita sendiri. Aku akan selalu ada untukmu, untuk mendengarkanmu, memahami, dan memelukmu dengan cara yang dulu kamu butuhkan, tetapi tidak sempat kamu dapatkan. Kita sudah sampai, dan kita aman sekarang untuk saling melepaskan dalam satu rengkuhan yang tak lagi terpisahkan. (Sal)