Tertarik membaca buku ini mungkin sebab dalam urusan cinta, saya selalu sial. Barangkali, seperti yang pernah dikatakan banyak orang, manusia sering membaca bukan untuk mencari pengetahuan semata, melainkan untuk menemukan dirinya sendiri—atau setidaknya, serpihan-serpihan dari luka yang tak sempat diberi nama. Maka membaca buku puisi ini menjadi semacam cermin retak yang membuat tidak bisa memantulkan wajah kita secara utuh, tetapi justru di situlah kita melihat kejujuran yang paling telanjang. Puisi bukan sekadar rima, melainkan ruang aman bagi perasaan-perasaan yang dianggap tabu atau terlalu cengeng untuk diutarakan di ruang publik.
Seperti dalam judul puisi “Sesulang” bahwa mencintai adalah keberanian// ketika harapan dan keputusasaan//ialah pintu yang engselnya bertautan. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menyimpan paradoks yang sering kita alami bahwa mencintai berarti bersiap kehilangan, dan berharap berarti membuka kemungkinan kita pada kecewa.
Dalam filsafat eksistensialisme, mencintai dipandang sebagai sebuah lompatan keyakinan (leap of faith) bahwa kita memberikan kekuatan kepada orang lain untuk menghancurkan kita, sembari percaya bahwa mereka tidak akan melakukannya. Lalu bagi saya, pintu itu lebih sering terbuka.
Pernah juga saya diakuinya sebatas teman. Ya, hanya sebatas teman seperti gambaran di puisi berikutnya, “Aku tahu kau bukan milikku, dan mungkin tak pernah akan. Saat kau bersamanya ada kemarahan yang tak berhak didetakkan jantungku.” Diksi ini menggambarkan sesuatu yang diam-diam patah di sana. Sesuatu yang tidak pernah punya hak untuk utuh sejak awal. Di sinilah letak kesialan yang paling getir tentang merasai kecemburuan tanpa memiliki hak atas kepemilikan. Sebuah kondisi friendzone yang dalam sosiologi modern sering dilihat sebagai ambiguitas relasional yang melelahkan secara emosional.
Membaca sekumpulan puisi Lang Leav serasa membaca puisinya M. Aan Mansyur, karena ia penerjemahnya. Dalam dunia sastra, terjemahan selalu membawa persoalan apakah makna tetap utuh ataukah berubah menjadi tafsir baru? Banyak kritikus menyebut bahwa puisi terjemahan adalah “puisi kedua” sebab ia lahir kembali dalam bahasa lain, dengan napas yang berbeda. Tradisi traduttore, traditore (penerjemah adalah pengkhianat) mungkin ada benarnya. Tetapi pengkhianatan ini seringkali indah karena ia menyesuaikan rasa dengan lidah pembaca lokal.
Namun saya tak begitu berkepentingan atas masalah itu. Karena yang saya baca adalah hasil adaptasi penerjemahnya, yang sudah cukup mewakili cinta dan kesialan-kesialan saya. Mungkin benar, sebagaimana dikatakan dalam kajian sastra modern oleh Roland Barthes tentang The Death of the Author, pembaca adalah pencipta makna kedua, dan dalam hal ini, makna itu adalah milik saya sendiri. Penulis telah mati saat kata-kata itu sampai ke mata saya, sementara yang hidup hanyalah perasaan saya yang terwakili oleh diksi-diksinya.
Untuk timbangan kritik puisi, biarlah diserahkan kepada kaum sastrawan. Saya memilih menikmati saja alih bahasa Indonesia, judul demi judul puisi dari penyair kelahiran Thailand yang menetap di Australia ini—yang, meskipun secara faktual Lang Leav dikenal sebagai penyair berdarah Asia-Australia, yang kerap diasosiasikan dengan sensibilitas Timur dalam puisinya, ada semacam melankolia yang tenang, yang sangat dekat dengan budaya kita dalam mengekspresikan kehilangan.
Puisi-puisi itu membantu saya berbicara tentang cinta yang menyerang jantung saya yang diam-diam, tetapi pasti. Seperti katanya, cinta harus membuat saya tak khawatir tentang segala sesuatu yang saya pikir berbahaya, jauh sebelum saya percaya tiada yang perlu saya takutkan. Sebab, mengapa takut mencintai? Sebab masa lalu mengajarkan untuk tidak lagi tertangkap oleh sesuatu atau apa pun yang tidak layak dikejar.
Dan psikologi modern memberi penjelasan yang menarik. Dalam studi tentang attachment theory yang diperkenalkan oleh John Bowlby bahwa pengalaman masa lalu, terutama luka emosional turut membentuk cara seseorang mencintai. Apakah ia akan mendekat, menghindar, atau selalu ragu. Maka ketakutan dalam mencintai bukanlah kelemahan, melainkan ingatan yang belum selesai. Luka lama berfungsi sebagai sistem peringatan dini yang terkadang terlalu protektif.
Memang ada seseorang yang belum begitu saya kenal. Maka kepadanya yang tak saya kenal itu, mengapa saya bisa merindukan seluruh perihal yang tak pernah saya kenal? Satu-satunya yang saya pikir dan rasa, semua itu terjadi begitu saja. Entah untuk apa dan siapa, hingga masa bersamamu tiba. Sebab barangkali saya merasa ketakutan mencintai, atau untuk berhenti mengerjakan hal-hal yang pernah saya coba dan melulu membawa saya kembali ke keadaan sebelumnya. Saya tidak tahu mengapa ia tidak asing bagi saya, atau mengapa saya merasa nyaris mengenalnya dan mengingatnya?
Fenomena ini, dalam psikologi, kerap disebut sebagai emotional familiarity atau perasaan akrab yang muncul bukan karena pengalaman nyata, tetapi karena proyeksi harapan, kenangan, atau bahkan kekosongan yang ingin diisi. Kita mencintai bukan hanya orangnya, tetapi kemungkinan yang ia bawa. Mengapa setiap senyuman dan bisikan menarik saya pada semakin dekat ke kesimpulan mustahil bahwa saya sungguh-sungguh mengenalnya karena saya pernah mencintainya, dan pada waktu berbeda, di tempat berbeda, dengan beberapa wujud yang lain. Konsep ini menyerempet gagasan deja vu emosional, di mana jiwa seolah mengenali pola yang pernah singgah sebelumnya.
Namun hidup tidak selalu memberi ruang bagi imajinasi untuk menjadi kenyataan. Lalu hidup saya pun terbelah dan betapa tak pedulinya dia. Kepadanya saya berkata “Kau datang dan hilang dengan gampang, hidupmu satu-satunya yang kau tahu. Sementara hidup saya terbelah jadi dua.” Sungguh, saya cemburu kepada separuh diri saya yang hidup tak tersentuh cinta, yang belum pernah mengenalmu. Separuh diri yang masih utuh, yang belum mengenal robekan bernama rindu.
Dalam cinta yang berubah menjadi kesadaran bahwa tidak semua orang mengalami luka yang sama, meski berada dalam cerita yang sama. Ada yang datang tanpa beban, dan ada yang ditinggalkan dengan seluruh beban. Ketimpangan emosional inilah kenyataan pahit dalam banyak relasi manusia, pun menjadi hari-hari buruk saya. Ketika terluka dan saya tidak tahu kepada siapa mesti menumpahkan air mata.
Pernah saya juga bertanya kepadanya, “Apakah kau mencintaiku?” Dalam kebimbanganmu kutemukan jawaban. Dan seperti banyak kisah lain, jawaban itu bukanlah kata-kata, melainkan ketidaktegasan. Sebab dalam urusan perasaan, ketidakpastian adalah sebuah jawaban yang paling tegas bahwa ia tidak benar-benar menginginkan kita.
Lalu bagaimana jalan keluarnya? Mengetahui tidur mampu meredakannya hanya jika kau tak akan lagi terbangun. Sebuah ironi bahwa katanya satu-satunya cara untuk benar-benar melupakan adalah berhenti mengingat sama sekali. Namun saya tetap berharap, suatu hari kelak dirinya menemukan sesuatu yang mengingatkan saya—mengingat saya pernah berarti baginya. Harapan ini bukanlah bentuk ketidakmampuan untuk berpindah rasa, melainkan keinginan manusiawi agar eksistensi kita di masa lalu tidak dihapus begitu saja.
Dan saya harus belajar untuk tidak merindukannya. Saya akhirnya seperti layang-layang kesepian, melayang tanpa arah dan hilang. Pernah sekali waktu ada seseorang yang membuat saya terbang. Tetapi hidup seperti di kota sirkus, dunia segenap jadi cemerlang oleh tatapan dan suaranya. Tetapi semua yang cemerlang, pada akhirnya, juga fana. Keindahan itu seringkali hanyalah kembang api yang memukau sesaat, lalu meninggalkan langit yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.
Tapi saya tak mungkin bisa menarik kembali segala hal yang telah saya lakukan. Tak bisa kutelan lagi lagu yang pernah saya nyanyikan. Selepas jika saya sebut apa yang telah kaurebut, akankah itu ada gunanya? Jika saya menginginkannya, bisakah saya tak pernah merasakan yang kini ingin tak lagi saya rindukan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar mencari jawaban. Mungkin hanya ingin didengar sebagai bentuk katarsis atas sesak yang menghuni jiwa.
Jika kau pernah bertanya, apakah teringat lagu yang berkumandang pada malam kita bertemu pertama? Mungkin ya mungkin tidak. Tapi saya ingat semua lagu yang saya dengarkan sejak kau pergi. Selingkar roda kenangan berputar dan berputar, hingga kabur dan samar. Sebab memori, seperti yang ditunjukkan dalam banyak riset neurosains, tidak pernah statis. Ia berubah setiap kali diingat (reconsolidation). Maka yang kita kenang bukan lagi kejadian itu sendiri, melainkan versi terakhir yang kita percayai. Kita terkadang tidak merindukan orangnya, melainkan merindukan diri kita saat bersama orang tersebut.
Tetapi biarkan dia pergi. Memang ada siksa yang terpaksa saya alami ketika mencintai seseorang lebih besar dari diri saya sendiri. Tetapi itulah pengorbanan yang harus dan halus. Seperti sunyi dan pedih yang tersembunyi di setiap langkah kaki saya yang menjauh dari punggungmu. Dan begitulah, telah saya singkirkan segala yang saya tahu berasal darimu.
Sebelum air mata melerai kita, atau ketika riwayat kita sesungguhnya ada, sebelum kau dan saya berjumpa, saya ingin menulis seluruh kesalahan kita. Bertahun-tahun saya menyimpannya dalam rahasia, dan saya tidak berdaya melihat hari demi hari tumbuh, ketika kekasih saya berubah jadi istri suaminya, dan ibu bagi anak-anaknya. Di sana, waktu menjadi saksi yang paling kejam yang tidak pernah berhenti, bahkan ketika kita ingin segalanya tetap. Karena waktu bergerak linier, sementara kenangan bergerak sirkular.
Lalu saya menyadari kesalahan telah menganggapnya berada di balik kaca. Padahal sayalah kupu-kupu yang dibekukan, yang tidak mampu terbang. Sementara cabang-cabang hidup saya yang lain terus berkembang tanpa saya sadari. Kita seringkali terlalu terpaku pada satu pintu yang tertutup hingga kita lupa bahwa ada jendela-jendela yang telah lama terbuka lebar.
Maka inilah waktunya bagi jiwa yang menampakkan diri saat kekuatannya terlipat. Saya bangun perlahan bagai matahari baru rekah dari ujung-ujung jemari dan bibir memohon berkah. Inilah waktunya untuk lebih menyaksikan cabang-cabang hidup saya yang lain (agar) terus berkembang. Untuk merayakan diri yang telah berhasil melewati badai, meski dengan sayap yang sedikit koyak.
Cinta, pada akhirnya, bukan tentang memiliki atau kehilangan. Cinta adalah pengalaman eksistensial yang mengajarkan kita tentang batas, tentang harapan, dan tentang diri sendiri yang seringkali baru kita kenali setelah semuanya usai. Kesialan dalam cinta mungkin bukan benar-benar kesialan, melainkan itulah cara hidup mengajari kita membaca ulang hati kita bahwa tidak semua yang datang harus tinggal, dan tidak semua yang pergi berarti sia-sia.
Sebab dalam setiap patah, selalu ada kemungkinan untuk tumbuh, meski pelan, meski nyaris tak terasa. Dan mungkin, di situlah cinta menemukan maknanya yang paling jujur bukan pada keberhasilan kita memenangkan hati seseorang, melainkan pada keberhasilan kita untuk tetap menjadi manusia yang utuh setelah berkali-kali dipatahkan.
Kita belajar bahwa kesialan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan jeda untuk menarik napas sebelum melangkah ke arah yang baru dalam menyambut hari-hari penuh kegembiraan, semoga. (Sal)