Dari Asoka ke Dyah Pitaloka dan Jejak Kecantikan dalam Imajinasi Kita

Malam itu, sejak pukul tujuh hingga mendekati tengah malam, saya tenggelam dalam sebuah film India...

Dari Asoka ke Dyah Pitaloka dan Jejak Kecantikan dalam Imajinasi Kita

05 Apr 2026
173 x Dilihat
Share :

Dari Asoka ke Dyah Pitaloka dan Jejak Kecantikan dalam Imajinasi Kita

Malam itu, sejak pukul tujuh hingga mendekati tengah malam, saya tenggelam dalam sebuah film India berjudul Asoka. Film yang dirilis pada tahun 2001 ini menampilkan Shah Rukh Khan dan Kareena Kapoor dalam sebuah drama kolosal yang megah. Sebagai sebuah karya seni visual, film ini memang berlatar sejarah, namun dibungkus dengan romansa yang khas tentang cinta yang tumbuh di tengah konflik, perebutan kekuasaan, dan luka perang yang menganga.

Kisahnya mengangkat sosok faktual bernama Ashoka Maurya, seorang maharaja dari Dinasti Maurya yang memerintah sebagian besar anak benua India pada abad ke-3 SM. Sejarah mencatat ia sebagai penguasa yang awalnya dikenal karena kekejamannya yang tanpa ampun dalam ekspansi wilayah kekuasaannya. Namun, titik balik besar terjadi setelah Pertempuran Kalinga (sekitar 261 SM). Dalam berbagai literatur sejarah, termasuk yang dirujuk oleh UNESCO dan kajian arkeologis melalui Prasasti Edict Ashoka, perang tersebut menewaskan ratusan ribu orang dan meninggalkan trauma mendalam bagi sang raja. Penyesalan inilah yang kemudian mendorong Ashoka untuk memeluk ajaran Buddhisme, sebagai transformasi dirinya yang radikal dari seorang penghunus pedang menuju welas asih (Dharma).

Dalam perang, memang selalu ada pepatah lama yang berbunyi, "Yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu." Tidak ada pemenang yang benar-benar utuh. Sebab setiap jengkal kemenangan selalu dibayar dengan kehilangan yang tak terhingga. Transformasi Ashoka adalah bukti bahwa di balik kekuasaan yang absolut, nurani manusia tetap memiliki ruang untuk meratap.

Namun, jujur saja, ketika menonton film itu, perhatian saya tidak sepenuhnya tertambat pada narasi sejarah atau nilai moral tentang perdamaian tersebut. Ada hal lain yang diam-diam lebih menyita perhatian saya, pada penampilan sang aktris, Kareena Kapoor, yang memerankan Kaurwaki. Dalam film itu, ia tampak berbeda, tampak anggun, kuat, sekaligus memikat dengan riasan mata yang tajam dan gaya yang eksotis. Di sana, saya menyadari ada semacam standar kecantikan yang tanpa sadar sedang bekerja di kepala saya, sebuah mekanisme psikologis yang menilai estetika secara instan.

Dan di situlah saya mulai menyadari sesuatu yang lebih mendasar. Sejak kecil, saya tumbuh dengan tontonan film India yang menghiasi layar kaca Indonesia. Tanpa saya sadari, ribuan jam paparan layar itu telah menyusupkan gambaran tertentu tentang “perempuan cantik” ke dalam benak saya. Wajah-wajah yang sering muncul di layar Bollywood perlahan membentuk semacam prototipe di alam bawah sadar, tentang kulit yang cerah merona, mata besar yang ekspresif, dan tentu saja, hidung mancung yang tegas.

Maka tidak mengherankan jika, dalam perjalanan hidup saya, saya kerap secara naluriah mencari sosok perempuan dengan ciri-ciri tersebut. Hidung mancung menjadi salah satu kriteria fisik yang saya anggap penting, seolah-olah itu adalah hukum alamiah tentang kecantikan. Namun, muncul sebuah tanya, apakah ini sekadar preferensi pribadi yang tumbuh secara organik, ataukah justru ini adalah hasil konstruksi panjang dari budaya populer yang saya konsumsi secara terus-menerus?

Mungkin ini adalah ambisi estetika. Atau mungkin, ini adalah bentuk halus dari bagaimana media massa melakukan "agenda setting" dalam membentuk selera dan persepsi kita. Dalam kajian komunikasi massa, dikenal teori Cultivation yang dikemukakan oleh George Gerbner. Teori ini menjelaskan bahwa orang yang menghabiskan banyak waktu menonton televisi cenderung melihat dunia melalui lensa yang dibentuk oleh pesan-pesan di layar tersebut.

Laporan dari World Health Organization (WHO) serta berbagai studi dalam jurnal psikologi sosial menyebutkan bahwa paparan berulang terhadap citra tubuh tertentu di media dapat memengaruhi persepsi individu tentang idealitas fisik. Bahkan, dalam konteks global, standar kecantikan sering didominasi oleh representasi "Eurosentris" atau standar tertentu yang belum tentu merefleksikan keragaman lokal. Media kerap menyederhanakan definisi cantik menjadi satu dimensi yang sempit, yang kemudian kita telan sebagai sebuah kebenaran estetika.

Di Indonesia sendiri, standar kecantikan sebenarnya tidak pernah tunggal. Jika kita menengok sejarah dan mitologi Nusantara, kita akan menemukan keragaman yang kaya. Dalam sejarah Sunda, misalnya, dikenal sosok Dyah Pitaloka Citraresmi, seorang putri dari Kerajaan Galuh yang kecantikannya memicu tragedi Perang Bubat pada abad ke-14. Ia sering digambarkan sebagai simbol kecantikan murni perempuan Nusantara. Namun, deskripsi kecantikannya dalam naskah-naskah kuno tidak selalu identik dengan standar hidung mancung yang tajam seperti yang sering diasosiasikan dalam standar kecantikan modern atau gaya sinema Bollywood.

Dalam beberapa tradisi lisan dan syair Sunda lama, memang terdapat ungkapan: “irung ngancung, pipi koneng ngadaun seureuh” (hidung mancung, pipi kuning bak daun sirih). Sebuah deskripsi yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh secara filologis. Kapan sesungguhnya kriteria "mancung" itu lahir dalam khazanah sastra kita? Apakah ia muncul secara otentik sebagai apresiasi lokal, ataukah ia baru muncul setelah pengaruh estetika asing, baik dari India, Timur Tengah, hingga Eropa yang masuk dan berkelindan dengan budaya Nusantara?

Jika syair itu sudah ada sebelum pengaruh kolonialisme atau globalisasi media merambah luas, maka bisa jadi konsep “hidung mancung” sebagai simbol kecantikan memiliki akar sejarah yang panjang dalam persentuhan budaya kuno. Namun jika sebaliknya, kita patut bertanya dengan kritis pada sejauh mana kolonialisme, baik secara fisik maupun kultural telah memengaruhi cara kita memandang diri sendiri dan bagaimana kita menilai lawan jenis?

Pertanyaan ini membawa saya pada kesadaran yang lebih bahwa kecantikan bukan sekadar soal bentuk wajah, warna kulit, atau proporsi tubuh yang bersifat biologis. Kecantikan adalah hasil dari sejarah panjang, sebuah titik temu antara pertemuan budaya, relasi kekuasaan, pengaruh media, dan imajinasi kolektif yang terus berevolusi.

Televisi, film, dan kini algoritma media sosial, tidak hanya menyajikan hiburan yang lewat begitu saja. Mereka adalah mesin pembentuk hasrat. Mereka membentuk cara kita mencintai, cara kita menginginkan sesuatu, bahkan cara kita menilai harga diri kita sendiri dan orang lain, hingga muncul istilah “standar kecantikan generasi Tiktok”. Sebab apa yang kita anggap “cantik” tidak semata lahir dari dalam diri kita secara murni, melainkan hasil dari apa yang terus-menerus "dipaksakan" untuk kita lihat.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sedang jatuh cinta pada bayangan-bayangan yang dibentuk oleh luar diri, oleh cahaya layar dialektika dengan mata kita. Kita mengejar siluet yang sebenarnya adalah konstruksi industri, bukan esensi kemanusiaan yang nyata, yang dengan itu saya mulai bertanya pada diri sendiri apakah yang saya cari selama ini adalah seseorang yang benar-benar saya kenal jiwanya, atau saya hanya sedang memburu refleksi dari karakter-karakter fiktif yang pernah saya tonton di masa kecil? Apakah cinta saya tertuju pada sosok manusia, atau pada standar estetika yang dipahat oleh produser film?

Mungkin, keberanian untuk menanyakan hal itu jauh lebih penting daripada menemukan jawabannya. Karena dengan bertanya, kita mulai membebaskan imajinasi kita dari penjara standar yang seragam, dan mulai belajar melihat kecantikan dalam bentuknya yang paling jujur soal keragaman yang tak berpola di layar sinema. (Sal)

Perspektif

Scroll