Malam itu turun perlahan, lebih perlahan dari biasanya, seperti sehelai kain kafan sutra yang disampirkan Tuhan ke bahu kampung yang lelah, menutupi luka-luka kecil dan memar batin yang tak pernah sempat disembuhkan oleh terik siang. Aku pulang dengan langkah yang terasa seperti menginjak lapisan kaca tipis di atas kenangan, pada setiap pijakannya mengeluarkan bunyi retakan halus yang hanya bisa didengar oleh hati yang pernah ditinggalkan oleh detak waktu.
Sunyi di sini tidak benar-benar diam, menjelma bak sumur tua di tengah hutan yang menyimpan gema suara-suara purba, suara yang pernah pergi jauh dari benakku. Tapi tak pernah benar-benar lenyap, hanya bersembunyi di balik lipatan rindu. Suara itu kini seakan kembali, mengetuk pelan seperti rintik hujan di atas atap genteng tua yang melapuk, menekan selaput yang tak hanya ada di telinga, tetapi juga di jantung pikiran yang mulai berdenyut lebih dalam, mencari muara yang hilang. Di bawah temaram lampu jalan yang sekarat, aku menyadari bahwa pulang bukanlah sekadar kembali ke tempat asal, melainkan menyerahkan diri untuk diadili oleh ingatan.
Angin bergerak pelan di sela dinding bambu, seperti jemari renta seorang ibu yang mengelus punggung kenangan yang sedang menggigil, membawa sisa-sisa percakapan siang hari yang belum selesai, menggantung seperti lampu redup di langit-langit ingatan yang retak dan berdebu. Dalam gerakannya yang hampir tak terasa itu, aku seperti mendengar bisikan-bisikan lama yang tersangkut di celah anyaman bilim bambu tentang tawa yang kini hambar, tentang perpisahan yang dulu dianggap gurauan, atau tentang sesuatu yang belum sempat diberi nama namun sudah terlanjur mati.
Dan malam, dengan kesabaran seorang pertapa, membiarkan semua itu bernapas kembali dalam dadaku, seolah ia tahu bahwa tidak semua yang kembali harus segera dipahami oleh logika yang sempit. Angin malam membawa bau tanah dan sisa asap dapur, mengingatkanku bahwa setiap hembusan adalah saksi dari kata-kata yang kutelan sendiri karena takut melukai orang lain.
Di kampung yang sederhana ini, waktu tidak benar-benar berjalan. Seperti kakek tua yang duduk diam di kursi kayu lapuk, mengisap lintingan tembakau sambil mengamati jagat raya tanpa tergesa, memberi ruang bagi kata-kata yang dulu tertahan di ujung lidah untuk tumbuh pelan-pelan seperti lumut di batu basah yang tersembunyi dari cahaya. Ada jeda yang panjang di antara dua tarikan napas, sebuah jeda yang nyaris tak terdengar, tetapi justru di sanalah segala sesuatu menemukan bentuknya yang paling jujur dan paling telanjang.
Seperti aku yang berdiri di tengah jeda itu, seperti seorang musafir yang terlambat menyadari bahwa hidup tidak bergerak dalam garis lurus menuju ufuk, melainkan berputar diam-diam di tempat yang sama, seperti pusaran air di sungai yang tenang tapi menghanyutkan. "Lalu mengapa semua terasa begitu statis?" bisikku pada bayanganku sendiri, yang tampak lebih lelah daripada tubuhku.
Dan dari keheningan yang tampak sepele itulah, aku mulai mengerti dengan perih bahwa keputusan-keputusan besar dalam hidup kerap lahir bukan dari peristiwa yang gemuruh bak petir di siang bolong, melainkan dari percakapan kecil yang terlewatkan begitu saja. Datangnya seperti benih rumput yang jatuh ke saku baju, lalu menetap diam-diam di dalam dada hingga akarnya menembus rusuk. Ketika kesendirian datang, ia tidak pernah benar-benar datang dengan tangan kosong, melainkan membawa sepasang mata bayangan.
Bayangan nenek hadir di sudut ruangan seperti cahaya pelita kecil yang enggan padam, meski minyaknya hampir habis dan berkali-kali dihantam angin keraguan dari jendela yang terbuka. Ia tidak mengetuk pintu, ia hanya meresap melalui dinding, membawa aroma bedak dingin dan kasih sayang yang tak sempat pudar oleh tanah makam.
“Apa kau masih ingat suara itu, Cu? Suara yang kau kubur di bawah bantal setiap kali kau ingin menangis?” seolah ia bertanya, meski tak ada bibir yang bergerak. Hanya getaran udara yang terasa seperti usapan di kepala.
Dan aku mengangguk dalam diam, membiarkan air mata yang tak sempat jatuh itu mengalir ke dalam jiwa. Karena bersama bayangan itu, datang pula wajah-wajah lama yang mulai memudar warnanya. Teman-teman masa kanak yang dulu tertawa tanpa beban, tawa yang kini terasa seperti gema dari dunia yang berbeda, seperti suara mainan kayu yang ditarik di atas aspal panas. Dalam ingatan itu, aku melihat kembali rekreasi perpisahan kami yang naif, sebuah perjalanan menuju perpisahan yang kami bungkus dengan nama perayaan.
Percakapan yang dulu tampak ringan tentang melanjutkan sekolah, kini terasa seperti batu hitam yang diam-diam menekan dasar hati, menuntut jawaban atas janji-janji yang pernah dibuat saat belum mengenal kerasnya hidup. Saat dunia terasa baik-baik saja, bahkan terlalu baik, seperti langit yang selalu biru pekat tanpa pernah mengisyaratkan akan adanya badai yang mampu merobohkan rumah.
Saat di sampingku ada Irfan dan Dema, Lusia dan Rika, adalah nama-nama yang dulu tidak hanya sekadar label identitas, tetapi seperti bagian dari oksigen yang kuhirup setiap pagi saat berangkat ke sekolah. Kami tertawa, berbicara, saling melempar cerita seperti anak-anak yang percaya bahwa waktu adalah sungai yang tak akan pernah kering.
“Ingat, nanti kita semua harus lanjut sekolah, ya? Jangan ada yang jadi pengecut dan berhenti di sini,” suara Dema pernah meluncur ringan, seperti kerikil kecil yang dilempar ke permukaan telaga tanpa memikirkan seberapa dalam air di bawahnya.
“Iya, masa depan kita masih panjang, sepanjang jalan setapak yang belum kita lalui,” sahut Lusia, matanya berbinar seperti bintang yang jatuh ke dalam air, penuh dengan binar seseorang yang belum pernah mengenal rasa kehilangan dan kegagalan yang mematikan.
Aku hanya tersenyum getir saat itu, sebuah senyum yang lebih mirip dengan sebuah tanda tanya. Karena bagiku masa depan masih seperti kabut tebal di puncak bukit yang dekat, tetapi akan hilang setiap kali tanganku mencoba menyentuhnya. Aku tahu, di balik binar mata mereka, ada ketakutan yang sama besarnya dengan mimpiku yang kusembunyikan di balik saku baju yang robek.
Lalu kini aku mengerti dengan penuh luka, bahwa kesendirian bukanlah tentang tidak adanya orang yang duduk di samping kita, atau sepinya arena di ruang pertemuan. Kesendirian adalah sebuah kawah yang terbuka lebar di dalam diri, tempat di mana suara orang paling dicintai sekalipun tidak lagi bisa menjangkau kita sepenuhnya, seolah ada dinding kaca yang memisahkan jiwa dengan dunia luar.
Bahkan di tengah gelak tawa yang paling ramai, ada bagian dari diri yang tetap sunyi dan beku, seperti ruang hampa di angkasa yang tidak pernah benar-benar terjamah oleh hangatnya matahari. Dan mungkin, sejak percakapan di sekolah itulah, tanpa kusadari, kesendirian mulai tumbuh dalam diriku dengan pelan, diam-diam, seperti akar pohon beringin yang mencari jalan di bawah tanah, merusak pondasi rumah tanpa pernah mengeluarkan suara.
Malam sebelum pergi rekreasi perpisahan yang menentukan itu, aku duduk di dapur bersama nenek, menyiapkan bekal perjalanan dengan tangan yang lebih banyak gemetar daripada bergerak, seperti daun yang ketakutan menghadapi musim gugur. Cahaya lampu minyak di atas meja kayu bergetar kecil, seperti napas seseorang yang sedang menahan sebuah rahasia besar yang tak ingin diucapkan agar tidak menjadi kutukan. Nenekku berbicara dengan suara yang lembut, lembut seperti kain jarik tua yang tetap hangat meski telah berkali-kali dicuci oleh air mata dan waktu, suara yang tidak hanya hinggap di telinga, tetapi juga merembes masuk ke dalam sumsum tulang.
“Kau tahu,” katanya pelan, tangannya yang keriput membungkus nasi dengan penuh kesabaran seolah ia sedang membungkus seluruh doa-doanya untukku, “jalan hidup itu tidak selalu seperti peta yang kau gambar di buku sekolahmu. Ia lebih mirip dengan jalan tikus di hutan penuh duri dan seringkali menyesatkan.”
Aku menatap wajahnya yang penuh gurat takdir, mencoba memahami sesuatu yang terasa terlalu raksasa untuk usiaku yang masih bau kencur saat itu. "Lalu bagaimana jika aku tersesat, Nek?" tanyaku, suaraku pecah seperti keramik yang jatuh.
“Kalau nanti kau harus memilih di persimpangan yang gelap,” lanjutnya, matanya yang mulai kabur namun jernih secara batin itu seperti menyimpan samudera cerita yang tak pernah usai, “pilihlah jalan yang membuat hatimu tetap hidup dan berdenyut, meski jalannya terasa sepi dan kau harus berjalan sendirian tanpa kawan.”
“Apa sepi itu tidak menakutkan, Nek? Aku takut jika nanti tak ada yang mendengar suaraku,” tanyaku lirih, hampir seperti bisikan yang takut didengar oleh hantu-hantu masa lalu yang bersembunyi di balik pintu.
Nenek tersenyum, sebuah senyum yang tidak lebar tetapi sangat dalam, seperti sumur di musim kemarau yang tidak pernah benar-benar kering karena ia terhubung langsung dengan urat bumi.
“Sepi itu hanya menakutkan kalau kau memperlakukannya sebagai musuh,” jawabnya sambil mengusap air mataku dengan ujung kebaya, “tapi kalau kau sudah akrab dan berdamai dengannya, sepi akan menjadi cermin yang paling jujur untuk melihat siapa dirimu sebenarnya.”
Aku terdiam seribu bahasa, membiarkan setiap kata itu jatuh satu per satu ke dalam lubuk hatiku, seperti tetesan air hujan yang tidak deras tetapi cukup untuk membuat tanah yang tandus menjadi lembap dan siap untuk ditanami. Dan malam itu, tanpa benar-benar kusadari, sebuah percakapan kecil di dapur yang berasap telah menanam sebuah biji keputusan, sebagai sesuatu yang kelak akan tumbuh menjadi pohon keberanian yang rimbun, atau mungkin menjadi luka abadi yang diam-diam memberiku napas panjang untuk terus bertahan di dunia yang terlalu bising untuk mendengar suara hati yang dalam.
“Ya, Nek,” kataku waktu itu, mencoba memolesnya dengan nada ceria, sebagai keceriaan yang kupaksakan sedemikian rupa, serupa seseorang yang bersolek di depan cermin retak untuk melihat warna, tetapi tak pernah benar-benar menemukan wajahnya yang utuh. “Kami akan piknik ke Batukaras. Sebagai tanda pamit untuk kelas angkatan kami.” Suaraku meluncur ringan, seolah-olah ia hanya sebutir debu yang ditiup angin, namun di dalam rongga dada, kata-kata itu jatuh serupa bongkahan batu hitam ke dasar sumur yang tak pernah kuketahui kedalamannya, yang dingin, sunyi, dan berdentum tanpa gema.
Ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan, sebuah sumbatan yang tak kasat mata, seperti kata-kata yang membusuk di ujung lidah sebelum sempat terucap, atau seperti rindu yang lahir prematur dan belum sempat diberi nama namun sudah terlanjur menetap sebagai beban.
Nenek menoleh dengan ritme yang begitu tenang, gerakannya seolah selaras dengan detak waktu yang tak pernah mengenal kata tergesa-gesa. Matanya menatapku dengan cara yang selalu sama. Sebuah tatapan yang membuatku merasa telanjang, seolah ia tidak hanya melihat daging dan tulang, melainkan sedang menelusuri lorong-lorong rahasia di dalam sukmaku. Ia seperti seorang pembaca ulung yang mampu mengeja baris-baris nasib yang bahkan aku sendiri belum sanggup memahaminya, serupa pengelana yang tahu bahwa setiap langkah kaki di atas bumi selalu meninggalkan jejak rahasia yang tak kunjung terungkap oleh kata.
Dalam tatapannya, kurasakan ada jarak yang ganjil, jarak yang tidak bermaksud menjauhkan, melainkan sebuah ruang luas yang justru membawaku mendekat pada hakikat keberadaan yang lebih sunyi.
“Kau benar-benar senang, Cu?” tanyanya kemudian. Suaranya lirih, nyaris tak terdengar, serupa desis angin yang menyusup malu-malu di sela pintu kayu yang mulai dimakan usia. Pertanyaan itu terdengar sederhana, hanya beberapa suku kata, tetapi jatuhnya di dalam batinku terasa seperti rintik hujan pertama setelah kemarau yang menyiksa, yang membasahi tanah batin yang retak, yang perlahan mengubah warna-warna yang selama ini tak kasat mata menjadi nyata.
Aku mengangguk, sebuah gerakan kepala yang kaku dan kecil, terasa seperti sebuah janji besar yang aku sendiri sangsi sanggup kutepati di masa depan. “Tentu saja senang, Nek,” jawabku cepat, sebuah jawaban mekanis yang keluar karena kebiasaan yang telah mendarah daging. Namun, di balik dinding kata "senang" itu, ada sebuah ruang kosong yang tak terjangkau cahaya, sebuah ruang yang tak mungkin dipuaskan hanya dengan satu kata sifat. Ada perasaan lain yang bersembunyi di sana, menyerupai bayangan di balik punggung cahaya dalam diam, dalam gelap, tetapi setia mengintai ke mana pun langkahku diayunkan.
“Nanti Nenek siapkan nasi timbel untukmu. Sebagai bekal yang akan menemanimu di sana.” Nenek tersenyum tipis, sebuah garis lengkung yang begitu sederhana namun terasa seperti pelabuhan terakhir yang tak pernah benar-benar kutinggalkan. Senyumnya tidaklah lebar, melainkan sangat dalam, ibarat permukaan sungai yang tenang namun menyimpan arus purba yang sanggup menyeret ingatan hingga ke muara. Dalam senyum itu, aku menangkap sesuatu yang tak mampu dibahasakan, sebuah bisikan tak berbunyi yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang mau berhenti berlari dan bersedia mendengarkan denyut sunyi.
“Terima kasih, Nek,” sahutku pelan, suaraku nyaris lenyap ditelan pekatnya malam yang kini merapat erat ke dinding rumah, seolah dinding-dinding itu adalah satu-satunya pelindung dari ketidakpastian dunia luar.
“Biar di jalan nanti, kau tak perlu merasakan bagaimana rasanya perut yang kosong,” lanjutnya lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih berat, seakan-akan setiap katanya adalah jimat yang dibebani makna lebih jauh dari sekadar urusan lapar. Aku terpaku dan aku tahu, entah melalui ilham apa, bahwa yang ia bicarakan bukanlah sekadar nasi dan lauk pauk. Ia sedang bicara tentang lapar yang lain, tentang lapar akan jati diri, lapar akan pegangan hidup yang seringkali menguap saat kita berada di persimpangan jalan.
Nenekku bicara tentang hati yang harus tetap berisi, meski dunia dengan segala kekejamannya perlahan-lahan mengosongkan banyak hal dari dalam diri kita. Ia bicara tentang bagaimana manusia, dalam perjalanannya menuju dewasa, seringkali kehilangan lebih banyak kepingan jiwa daripada yang sanggup ia kumpulkan kembali.
Aku menatap tangan nenek yang masih telaten membungkus nasi dengan daun pisang, dan seketika itu pula, aku melihat waktu yang sedang bekerja dengan sangat rahasia. Di luar sana, jagat raya mungkin sedang berlari kencang, tapi di dalam dapur yang temaram, ada sesuatu yang tetap bergeming, sesuatu yang kekal. Di saat yang sama, aku merasakan kabut samar mulai turun di kelopak mataku sebuah perasaan kehilangan yang datang sebelum perpisahan itu sendiri dimulai. Seperti sebuah kampung halaman yang suatu saat nanti akan menjadi titik kecil di spion kenangan, atau mungkin akulah yang perlahan-lahan dihapus dari ingatan kampung ini. Hubungan kami seperti benang sutra yang tak pernah benar-benar putus, namun tak lagi mampu merajut kain yang utuh karena ditarik oleh arah yang berbeda.
Percakapan singkat itu kini menetap di kepalaku sebagai gema yang tak kunjung padam. Ia berulang-ulang, menetes pelan seperti air di dalam gua yang paling gelap yang kecil, tak bersuara, namun memiliki kekuatan raksasa untuk mengikis batu karang paling keras sekalipun di dasar batin. Ia mengendap, menjadi bagian dari sedimen kesadaranku. Bahkan di tengah kelelahan setelah piknik, di sela-sela tawa teman-teman yang mulai hambar, dan di antara rencana masa depan yang tampak megah, yang diam-diam menghimpit dada, suara itu selalu kembali pulang.
“Kalau nanti kau harus memilih..”
Suara itu kemudian menyeret ingatanku pada sosok Ayah, pada jawabannya di suatu sore yang gerimis, sebuah jawaban yang terasa seperti garis lurus yang ditarik paksa di atas peta hidupku. Terdengar sangat asing bagiku. Jawaban yang tak pernah sanggup pula kutolak dengan kata, karena tak pernah sepenuhnya kuterima dengan sukacita.
“Ayah ingin kau sekolah yang dekat-dekat saja, tak perlu mengejar yang jauh,” suaranya kala itu terdengar datar, menyerupai jalanan panjang di padang gersang yang tanpa kelokan, tanpa kejutan.
“Tapi, apakah itu akan cukup untukku, Yah?” tanyaku dengan suara sekecil desah napas, seolah aku sendiri takut mendengar jawaban dari pertanyaanku sendiri.
Ayah terdiam cukup lama, membiarkan asap rokoknya membubung dan menghilang di udara, lalu berkata dengan nada yang sangat rendah, “Cukup itu bukan soal seberapa jauh kakimu melangkah atau seberapa tinggi kau terbang. Cukup itu adalah tentang apa yang sanggup kau jangkau tanpa harus kehilangan pegangan pada dirimu sendiri.”
Maka, sejak detik itu, aku mulai mencoba mengeja arti kecukupan, atau setidaknya, aku berpura-pura mengerti bahwa hidup bukanlah tentang memenangkan semua keinginan, melainkan tentang bagaimana kita mendekap apa yang tersisa di tangan tanpa membiarkannya layu. Lalu di sudut paling sunyi dalam diriku, ada sesuatu yang terus memberontak, terus bergerak serupa ombak yang tak pernah lelah menghantam tebing pantai, tentang apakah "cukup" itu adalah sebuah pelabuhan kedamaian, ataukah hanya sebuah nama indah untuk sebuah kekalahan yang diterima dengan lapang dada?
Akhirnya dari percakapan yang menggantung itu, bayangan yang melintas, dan gema yang berulang-ulang di dinding kepala, dengan perlahan membentuk sebuah pengertian dalam diriku, yang tidak datang secara mengejutkan bak petir, melainkan tumbuh serupa akar pohon tua yang merambat diam-diam di bawah tanah, mencengkeram bumi demi menahan beban badai yang belum tiba. Aku mulai mengerti bahwa hidup kadang berjalan menyerupai sungai kecil di pinggir kampung yang tampak tenang di permukaan seolah tak punya ambisi, tetapi di kedalamannya mengalir arus yang tak pernah bisa ditebak arahnya. Pada arus yang kadang menyeret kita ke muara yang tak pernah ada dalam peta rencana. Dan dalam aliran yang tak terlihat itu, aku berdiri serupa seorang kelana yang baru belajar mengeja arah mata angin, meski kompas yang dipegang selalu berubah bentuk mengikuti suasana hati nasib.
"Apakah kita benar-benar akan sampai ke laut, atau hanya akan tersangkut di akar bakau?" bisik batin yang mulai ragu, dan aku harus melawan itu. Gagasan tentang melanjutkan sekolah, sebagaimana yang dulu sering dituturkan oleh Ibu Guru wali kelas kami, yang kini terasa seperti kalimat bersahaja yang diam-diam menyimpan nyawa, terus tumbuh dan berdenyut seiring detak waktu.
Bapak Kepala pernah berkata bahwa sekolah bukanlah sekadar perpindahan raga dari satu gedung ke gedung lain, bukan hanya urusan mengganti warna seragam atau mencatat angka-angka di atas kertas buram. Melanjutkan sekolah adalah berjalan menuju cakrawala harapan yang baru, tentang harapan yang terkadang tidak kita pahami maknanya saat kaki pertama kali melangkah keluar dari pintu rumah.
“Sekolah itu bukan hanya tempat kalian duduk dan memahat bangku kayu,” suaranya kala itu mengalun jernih, setenang permukaan telaga di pagi buta sebelum disentuh angin, “tetapi sebuah kawah tempat kalian belajar mengenali seseorang yang belum pernah kalian jumpai sebelumnya, adalah tentang diri kalian sendiri di masa depan.”
Dan setelah kelulusan itu mengetuk pintu, kami baru tersadar dengan pedih bahwa yang tersisa di genggaman bukanlah sekadar ijazah yang berstempel, melainkan seikat kenangan yang menetap lebih lama dari jejak kaki kami masing-masing. Kenangan itu serupa bekas tapak di tanah liat yang basah, yang tak akan segera hilang walau hujan lebat telah lama reda, tetapi justru mengeras dan menjadi bagian dari jalanan itu sendiri.
“Di tempat tujuan nanti, kita akan duduk melingkar dan makan bersama,” ucap beliau waktu itu sebelum pergi dalam rekreasi perpisahan. Suaranya selembut belaian angin pagi pada pucuk-pucuk daun muda. Kalimatnya ringan, namun terasa mengikat batin, seolah setiap kata yang diucapkannya adalah seutas benang sutra yang menahan kami agar tidak tercerai-berai terlalu cepat oleh badai kedewasaan. “Makan bersama sebagai upacara kenangan terakhir bagi kita, keluarga kelas enam angkatan kalian.”
Aku masih ingat bagaimana kami saling melempar pandang saat itu. Ada yang tersenyum lebar menyembunyikan getar, ada yang hanya menunduk diam, seolah kami semua baru menyadari bahwa kebersamaan yang selama ini terasa murah dan biasa, sebentar lagi akan berubah menjadi kemewahan yang tak mungkin bisa dibeli kembali.
“Masa terakhir, Bu? Seolah kita takkan pernah bertemu lagi di pasar atau di jalan setapak,” celetuk Irfan setengah bercanda, sebuah upaya yang gagal untuk mengusir rasa sunyi yang tiba-tiba merayap di udara.
Ibu Guru hanya tersenyum, sebuah senyum yang tidak memberi jawaban pasti, namun cukup untuk membuat kami mengerti bahwa beberapa hal dalam hidup memang diciptakan hanya untuk sekali jalan. Kalimat itu sederhana, nyaris menyerupai obrolan harian yang mudah diterbangkan debu. Namun entah mengapa, ia menjelma garis tipis yang membelah dunia kanak-kanak kami dengan dunia luar yang luas dan asing.
Di tempat tujuan kami duduk bersama, membuka bungkusan nasi, tertawa di bawah pohon tepi pantai, mungkin saling berebut lauk seperti hari-hari kemarin saat praktik lapangan, lalu tanpa kami sadari, saat itu kami sebenarnya sedang menyusun batu nisan bagi sebuah bab kehidupan yang telah kami lalui selama enam tahun dengan cara yang sangat bersahaja.
Mulanya hanya menjalani biasa. Dengan datang, duduk, belajar, pulang sebagai siklus yang telah menjadi lingkaran kecil yang kami pikir takkan pernah putus. Namun di sela-sela rutinitas yang tampak membosankan itu, tawa tumbuh tanpa permisi, tangis kecil mereda dalam pelukan sahabat, dan persahabatan hadir tanpa pernah kami rancang. Semuanya seperti benih liar yang tumbuh subur di halaman belakang. Tak ada yang menyiramnya secara khusus, tetapi akarnya sudah menembus jauh ke dalam sanubari.
Pada perjalanan piknik itu, sebenarnya ada sesuatu yang sengaja tidak diteriakkan dengan lantang. Perpisahan, kata yang tajam dan dingin itu disamarkan dengan diksi yang lebih hangat dan ramah di telinga melalui kata piknik. Seolah-olah dengan menamainya piknik, kami bisa menipu rasa kehilangan yang sebenarnya sudah berdiri tegak di depan pintu hati, siap untuk mengambil alih kenyamanan kami.
Saat kami berjalan beriringan dengan guru-guru yang selama ini berdiri di depan kelas serupa pohon peneduh, mereka diam, mereka tegak, mereka memberi bayangan sejuk bagi kami yang masih kikuk memahami terik matahari kehidupan. Teman-teman yang biasanya hanya dianggap kawan sebangku, kini terasa seperti bagian dari kulitku sendiri, sebagai sesuatu yang selama ini ada, yang baru terasa berharga saat akan dikelupas oleh waktu.
“Iya, nanti kita harus foto banyak-banyak, ya,” ujar Rika waktu itu, matanya memancarkan sebuah permohonan yang sederhana namun dalam.
“Iya, biar kita punya bukti kalau kita pernah sehebat ini,” sahut Ayip, meski dalam nada bicaranya terselip ketakutan yang nyata akan sebuah lupa yang nyata dan permanen. Selama enam tahun, kami terbiasa saling melihat tanpa perlu mencari alasan, saling memanggil nama tanpa perlu berpikir dua kali, saling berbagi sisa pensil dan cerita-cerita remeh yang sebenarnya hanya bermakna karena kita melaluinya bersama.
Semua itu terasa permanen, seperti matahari yang mustahil lupa terbit di timur. Namun setelah perjalanan ini, segalanya berubah arah. Perubahan itu tidak datang dengan ledakan yang bising, melainkan seperti jalan setapak di tengah hutan yang tiba-tiba bercabang tanpa papan petunjuk. Kami akan dipaksa memilih, atau barangkali dipaksa oleh keadaan untuk menyerah pada satu arah, tanpa pernah tahu apa yang menanti di ujung sana. Dan di titik itulah, untuk pertama kalinya, kami belajar bahwa seerat apa pun genggaman tangan, ia tetap memiliki batas waktu.
Kami akan menjemput masa depan dengan telapak tangan yang mungkin belum cukup kapalan untuk memegang beban hidup yang berat. Tangan yang masih gemetar, masih ragu, tetapi tetap harus meraba di dalam kegelapan. Kita dipaksa dewasa dalam semalam, belajar menggenggam nasib sendiri tanpa ada lagi tangan guru yang menuntun dari belakang.
Di tengah kecamuk perasaan itu, aku kembali teringat pada percakapan di dapur bersama nenek. Dalam fragmen kecil yang kini kurasakan sebagai bekal yang jauh lebih mengenyangkan daripada nasi timbel yang ia siapkan dengan penuh doa.
“Tenang saja, Nek,” kataku kala itu, mencoba memadamkan api kecemasan yang sebenarnya juga sedang berkobar di dalam dadaku sendiri. Suaraku pelan, serupa seseorang yang sedang merapal mantra agar ia percaya pada kekuatannya sendiri, meski ia tahu mantranya belum sepenuhnya sakti. Nenek menatapku sangat lama, seolah ia sedang menyelami dasar mataku untuk memastikan bahwa keberanian yang kupamerkan bukanlah hasil pinjaman dari rasa malu.
“Ongkosnya sudah beres, Nek. Sudah dipotong langsung oleh Ibu Guru dari tabungan Haya di sekolah.” Aku berhenti sejenak, membiarkan sebuah rasa bangga yang mungil mekar di dadaku seperti bunga rumput. “Tiga tahun ini Haya rajin menyisihkan uang jajan, dan sisa uang tabungan ini.. tolong Nenek simpan untuk keperluan rumah.”
Tanganku menyodorkan sisa uang itu dengan penuh takzim, seolah sedang menyerahkan sepotong kecil dari masa depanku yang ingin kutitipkan di rumah agar aku selalu punya alasan untuk kembali. Nenek menerima uang itu dengan gerakan yang tidak terburu-buru. Tidak menghitungnya secara mekanis, tidak juga memuji jumlahnya. Hanya menggenggam uang itu sejenak, merasakan tekstur kertasnya, lalu menatapku dengan mata jernih yang selalu tahu apa yang tersembunyi di balik kata-kataku.
“Kau sudah pandai menyimpan sesuatu, ya, Cu,” katanya dengan nada bicara yang rendah namun berwibawa. Aku mengangguk mantap, merasa telah melakukan sebuah pencapaian besar sebagai seorang cucu.
“Tapi ingatlah satu hal,” lanjutnya, suaranya kini turun lebih dalam lagi, meresap ke dalam lantai kayu rumah kami, “yang paling sulit di dunia ini bukanlah menyimpan uang agar tidak habis, melainkan menjaga dan menyimpan hati agar ia tidak pernah menjadi kosong dan hampa di tengah perjalanan.”
Aku terdiam seketika. Kata-kata itu jatuh serupa tetesan air di atas batu yang tenang, menciptakan riak yang tak kunjung berhenti. Malam itu, di bawah remang lampu minyak, aku mulai menyadari bahwa perjalanan tentang perpisahan dan perpindahan pada sekolah yang baru nantinya, antara tentang perpisahan dengan kawan lama dan tentang masa depan yang masih berkabut, menjadi bukan hanya soal sejauh mana aku akan melangkahkan kaki.
Perjalanan ini adalah tentang bagaimana aku harus tetap utuh sebagai manusia, tetap memiliki 'isi' di dalam dada, meski perlahan-lahan dunia akan memaksaku untuk melepaskan banyak hal yang kucintai satu per satu. Karena pada akhirnya bukan apa yang kita bawa yang menentukan siapa kita, melainkan apa yang tersisa di dalam hati saat semuanya telah hilang.
Saat kuserahkan amplop kecil panjang berwarna cokelat kusam itu dengan tangan yang tak sepenuhnya tenang, jemariku sedikit bergetar serupa daun kering yang bimbang antara tetap memeluk dahan atau menyerah pada gravitasi. Aku merasa seperti sedang menyerahkan sebagian dari jeroan nasibku sendiri, tanpa benar-benar tahu ruang kosong apa yang akan tersisa di dalam dada setelahnya. Amplop itu tampak tipis, nyaris tak berarti di mata badai dunia yang terburu-buru, tetapi di dalam genggamanku, ia terasa seberat bongkahan sauh yang berat oleh waktu yang dikristalkan, oleh kesabaran yang dikumpulkan setetes demi setetes seperti embun yang jatuh ke cawan retak di tengah malam sunyi. Menjadi tak sekadar membawa nominal, melainkan membawa detak jantung dari hari-hari yang telah kulalui dengan menelan keinginan demi sebuah tujuan yang lebih tinggi.
Di dalamnya, bukan hanya lembar-lembar uang yang kusisihkan dengan kikir dari jatah jajan yang terbatas, melainkan juga sebuah riwayat perjalanan yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun, bahkan pada angin sekalipun. Ada buku tabungan kecil yang selama ini mendekam bisu di dasar tas sekolahku, yang setia seperti bayangan dan teguh seperti akar yang mencari air di celah batu. Buku itu adalah kawan bicara dalam diam, saksi dari perut yang menahan lapar dan mata yang berpaling dari jajanan warna-warni di pinggir jalan. Dan di antara lipatan kertasnya yang mulai rapuh, terselip pula doa-doa yang tak pernah sanggup kutuliskan dengan tinta, tetapi selalu kurasakan berdenyut di setiap ujung syarafku.
Buku itu sudah lecek dan kumal, menyerupai tubuh seorang buruh tua yang terlalu sering dipaksa berjalan melintasi musim tanpa pernah benar-benar mencicipi ranjang istirahat. Kertasnya mulai menguning dimakan usia, menyerupai daun jati di musim meranggas yang bertahan mati-matian di ujung ranting, seolah ia bersumpah tidak akan jatuh sebelum tugasnya menjaga rahasia angka-angka itu tuntas sepenuhnya. Beberapa bagian jahitan benangnya bahkan sudah mulai terurai, tampak seperti kenangan yang mulai retak di sudut-sudutnya namun enggan untuk pecah dan hilang menjadi debu.
"Apakah semua yang berharga memang harus tampak renta?" pikirku sambil mengusap sampulnya yang kasar. Mungkin di dalam kerentaan itulah letak kemuliaannya, yang bukan sekadar kumpulan kertas, bukan sekadar catatan angka yang bertambah dan berkurang secara mekanis. Ia adalah monumen kecil atas sebuah perjuangan. Ia adalah saksi dari kebiasaan kecil yang kupelihara dengan ketabahan seorang pertapa. Dari niat yang kadang goyah dihantam keinginan banyak jajan, tetapi selalu berhasil pulang ke rumah komitmen.
Buku itu menyimpan jejak-jejak yang tak terlihat oleh mata orang luar, melainkan jejak tentang bagaimana aku belajar menjinakkan diri sendiri, tentang bagaimana aku belajar menunggu sesuatu yang tidak datang dengan sulap atau keajaiban, melainkan dengan ketekunan yang membosankan. Dalam diamnya, buku itu berbisik bahwa segala sesuatu yang mampu berdiri tegak dan bertahan lama, selalu lahir dari serpihan-serpihan kecil yang menolak untuk menyerah pada keadaan.
Setiap hari, buku itu menjadi pengisi setia tas sekolahku, terselip malu-malu di antara buku pelajaran Matematika atau Bahasa yang kadang lebih sering kubuka karena tuntutan tugas daripada haus akan pengetahuan. Ia berada di sana, bernapas pelan di antara halaman-halaman yang penuh dengan rumus-rumus kaku. Seperti seseorang yang tidak pernah berteriak untuk diperhatikan, tetapi kehadirannya memberikan rasa aman yang tak terlukiskan. Seolah-olah, selama buku itu ada di sana, masa depanku memiliki sedikit jaminan bahwa ia tidak akan menjadi gelap gulita.
Setiap pagi, sebelum lonceng masuk kelas berteriak, lonceng yang selalu terdengar seperti titah dimulainya sandiwara dunia kecil kami, di kala ada yang di genggaman, aku dan teman-teman akan berjalan menuju ruang Tata Usaha dengan langkah yang sinkron. Langkah-langkah kecil kami di selasar sekolah terdengar seperti ritme doa yang diulang-ulang, ibarat sebuah lagu harian yang meski monoton, tapi tak pernah sekalipun terasa hambar. Kami berbaris di depan pintu kayu itu, membentuk antrean panjang yang meliuk, namun anehnya terasa ringan. Seolah-olah beban masa depan yang kami pikul masing-masing menjadi lebih mudah disangga karena kami berdiri di barisan yang sama.
Dalam antrean yang penuh aroma keringat dan bedak bayi itu, kami tidak hanya menunggu giliran untuk menyetor koin. Kami sebenarnya sedang belajar tentang filsafat yang tak pernah diajarkan di papan tulis. Kami belajar tentang menunda kenikmatan sesaat, tentang menanam benih di musim yang salah agar bisa memanen di saat yang tepat. Tanpa ada yang menggurui, ritual kecil itu perlahan-lahan mengukir cara kami memandang garis cakrawala.
“Aku mau nabung lima ratus rupiah hari ini,” gumam Dema yang berdiri tepat di depanku, suaranya seringan kapas yang terbang di sela-sela cahaya pagi yang masih keemasan.
“Aku seribu, kemarin aku tidak jajan sama sekali,” sahut Ayip dari belakang dengan nada yang sedikit lebih tinggi, ada nada bangga yang terselip, seolah-olah nominal itu adalah medali keberanian yang ia menangkan dari pertempuran melawan rasa lapar.
Aku menoleh sebentar, memberikan senyum paling tulus yang kupunya, lalu berkata dengan nada lirih yang terjaga, “Hari ini aku juga menabung… tak banyak, sedikit saja, tetapi aku ingin angka ini terus berjalan.” Suaraku memang tidak keras, tetapi cukup untuk mengonfirmasi pada diriku sendiri bahwa aku adalah nahkoda atas keinginan-keinginanku yang liar.
Kami pun tertawa kecil bersama, sebuah tawa yang bukan lahir karena jumlah uang kami yang melimpah, melainkan karena ada rasa kepemilikan bersama atas sebuah rahasia besar yang disebut masa depan. Kebersamaan itu terasa hangat, menyerupai pelukan yang tidak perlu dijelaskan dengan teori-teori rumit untuk bisa dirasakan kedalamannya.
Satu per satu kami maju ke meja kayu yang tinggi, menyerahkan uang logam dan kertas yang sudah lembap oleh keringat telapak tangan, bersama buku tabungan yang telah kami dekap erat sejak dari rumah seolah ia adalah bayi yang rapuh. Ibu guru mencatatnya dengan ketelitian seorang juru tulis takdir. Pada setiap angka ditulis dengan goresan tinta yang mantap, seolah setiap angka adalah janji suci yang harus dijaga dari noda kesalahan. Lalu saat buku itu dikembalikan ke tanganku, muncul sebuah perasaan yang sulit didefinisikan dengan satu kata, sebagai sebuah rasa yang mengambang di antara kelegaan yang sejuk, kebanggaan yang membuncah, dan gairah untuk melihat angka-angka itu biak menjadi lebih besar.
Aku membuka buku itu sejenak di pojok koridor, menatap angka yang baru saja bertambah meski hanya sedikit, dan entah mengapa, ada sebersit kebahagiaan yang tumbuh di celah hatiku, serupa kebahagiaan yang sangat bersahaja, namun terasa lebih dari cukup untuk membuat hariku menjadi terang.
Rasanya seperti sedang menaburkan benih di atas tanah yang belum tentu subur, sebuah lahan antah-berantah yang belum kami kenal benar perangainya. Kami memang tidak pernah tahu apakah benih-benih ini akan tumbuh menjadi pohon yang rimbun dan meneduhkan, atau justru akan raib ditelan kekeringan tanpa meninggalkan bekas. Namun setiap pagi, kami tetap datang untuk "menyiramnya" dengan keyakinan yang mungkin tampak naif bagi orang dewasa, tetapi justru kenaifan itulah yang memberinya kekuatan untuk menembus kerasnya kenyataan.
Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit adalah mantra kuno yang terus berputar-putar di dalam kepalaku, serupa gema di dalam goa yang tak pernah bosan memantulkan suara. Kalimatnya sederhana, bahkan mungkin terlalu usang bagi dunia yang serba instan. Tetapi mungkin karena kesederhanaannya itulah mampu menancap dalam di sanubari.
“Haya, kalau kita terus-menerus menabung seperti ini, apakah nanti kita bisa membeli dunia?” tanya Ayip suatu hari, matanya memancarkan sinar harapan yang belum terjamah oleh debu-debu keraguan dan sinisme.
“Mungkin tidak seluruh dunia, Yip,” jawabku waktu itu, tidak benar-benar memiliki kepastian, tetapi hatiku ingin sekali percaya. Lalu kataku kepada Ayip, “tapi setidaknya kita bisa membeli jalan untuk keluar dari kesulitan kita sendiri.”
Dan kami memang memilih untuk percaya, seperti sepasang anak kecil yang yakin bahwa istana pasir mereka bisa menahan gempuran ombak samudera. Kami percaya bahwa keajaiban tidak selalu turun dari langit dalam bentuk kilat, melainkan merayap pelan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dijaga dengan ketabahan seorang penjaga mercusuar.
Lalu hasilnya kemudian ketika amplop cokelat itu sudah berpindah ke tangan nenek yang keriput dan kokoh, aku mulai menyadari dengan kesadaran yang tajam bahwa semua antrean di pagi hari, setiap koin yang kusembunyikan dari nafsu jajan, dan setiap angka yang ditulis guru di buku tabungan itu, bukan hanya tentang mengumpulkan recehan demi recehan. Semua itu adalah latihan panjang untuk menjaga sesuatu yang jauh lebih rapuh dan lebih berharga daripada angka di atas kertas, yaitu menjaga agar api harapan tidak pernah padam di tengah badai kehidupan yang seringkali ingin meniupnya habis oleh berbagai macam pengeluaran.
Sebenarnya aku baru benar-benar belajar mengeja arti "menahan" ketika menginjak kelas empat SD, sebagai usia yang bagi sebagian anak mungkin hanya berisi keriuhan bermain, tetapi bagiku ia menjelma pintu kayu berat yang pelan-pelan terbuka, menyingkap cakrawala yang jauh lebih luas daripada sekadar memuaskan dahaga keinginan sesaat.
Sejak Ibu di Batam mulai mengirimkan wesel pos setiap bulan, lembaran kertas berharga itu selalu kunantikan serupa musafir yang merindukan aroma tanah basah di tengah padang gersang. Dengan harapan yang bersahaja dan mendesak, dengan rasa haus yang tidak hanya menyiksa tenggorokan tubuh, tetapi juga merayapi relung hati yang rindu merasa diakui keberadaannya dari kejauhan.
Setiap lembar uang yang kuterima terasa seperti pucuk surat yang bernapas, adalah pelukan hangat yang dikirimkan tanpa sentuhan fisik, serupa suara lembut yang tak terdengar telinga namun sanggup mengisi palung-palung sepi yang selama ini menganga di dalam dada. Dari sanalah, aku mulai berguru pada keadaan, belajar menyisihkan sekerat kesenangan, belajar menjinakkan nafsu jajan yang seringkali datang serupa badai kencang yang ingin menumbangkan segala ketetapan hati, dan belajar mengubah recehan logam menjadi sesuatu yang memiliki harga diri.
Recehan yang dulu kuanggap remeh, kini perlahan menyusun dirinya menjadi undakan batu setapak, menjadi jalan yang kuyakini di suatu hari nanti akan menuntunku menuju tempat-tempat indah yang selama ini hanya berani kulihat dalam mimpi. Karena setiap pagi mataku tak pernah alpa menyapu tulisan besar yang terpahat di dinding sekolah berisi deretan huruf-huruf kapital yang berdiri tegak dan kaku, menyerupai barisan penjaga yang tak pernah lelah berteriak tanpa suara, memberikan peringatan yang anehnya justru terasa menenangkan di tengah kegaduhan dunia.
“Rajin pangkal pandai. Hemat pangkal kaya.” Kalimat itu tidak pernah bergeser barang satu inci pun saat kubaca dan kujangkarkan denyutnya di balik ucapanku yang sedikit dihentakkan. Saat mengucapkannya terasa seolah menjadi hidup, seolah-olah ia adalah mata-mata tak kasat mata yang mengawasi setiap koin yang hendak kulepaskan dari genggaman. Menjelma bayangan hitam yang mengekor ke mana pun langkahku diayunkan, menyelinap ke dalam labirin pikiran tanpa perlu mengetuk pintu, lalu menetap di sana sebagai kompas dalam caraku memandang dunia yang kian rumit.
Membaca kalimat itu, kadang aku membacanya sambil lalu tanpa benar-benar meresapi maknanya. Namun ada sesuatu yang tetap tertinggal di dasar sanubari, seperti benih liar yang jatuh ke tanah lembap, diam dalam gelap menunggu saat yang tepat untuk memecah kulit dan tumbuh menjadi pohon kesadaran.
“Dan jangan lupa, Haya, menabung itu pangkal untung,” tambah Dema suatu hari. Nada bicaranya begitu yakin, seolah ia baru saja menemukan sepotong firman Tuhan yang ingin ia bagikan padaku di bawah rindang pohon kersen.
Aku tertawa kecil, sebuah tawa ringan yang kupakai untuk melindungi diri dari sesuatu yang terasa terlalu berat untuk kupikirkan saat itu. Aku memotong kalimatnya dengan cepat, serupa seseorang yang ingin menguji keteguhan orang lain, padahal sebenarnya aku sedang gemetar menguji rapuhnya keyakinanku sendiri.
“Untung dari mana, Dem? Bukankah punya uang itu lebih nikmat jika segera ditukar dengan beli es yang cepat memberi rasa manis di lidah?” kataku setengah bersenda gurau, namun mungkin ada secuil kejujuran bagi anak kecil di sana. Sebagai fase di mana kami lebih akrab dengan gula daripada dengan makna panjang dari sebuah pilihan hidup.
Dema tidak langsung menjawab. Ia menatapku dengan mata besarnya yang perlahan menyipit, seolah ia sedang meneropong sesuatu di balik garis cakrawala yang tak mampu kujangkau. Tatapannya tidak mengandung amarah, tidak pula membawa ketersinggungan. Ia hanya begitu tenang, serupa ketenangan yang terasa terlalu tua dan terlalu bijak untuk ukuran bocah lelaki seusia kami.
“Aku menabung bukan untuk membeli mainan, Haya. Aku menabung demi biaya untuk tetap bisa melihat papan tulis di jenjang sekolah berikutnya,” katanya pelan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seberat logam dan tegas dan tak terbantahkan. “Aku ingin masuk SMP di Cikatomas. Aku ingin mengikuti jejak kakak-kakakku.”
Seketika itu juga, ada jeda yang tercipta di antara kami. Sebuah jeda yang tidak kosong, melainkan penuh sesak oleh aroma tanah dan keringat. Udara seolah menebal, menyimpan sesuatu yang terlalu suci untuk diucapkan dengan tergesa-gesa saat ia melanjutkan dengan suaranya melirih, serupa bisikan rahasia kepada bumi yang kami pijak, “Ayahku sudah makin renta, Haya. Tulangnya tak lagi sekuat dulu untuk terus dipaksa bekerja di ladang orang.”
Kalimat itu menghantamku seperti embusan angin malam yang masuk melalui celah dinding bambu. Tidak kasar, tidak berisik, tetapi cukup untuk membuat sendi-sendi jiwaku bergetar hebat. Aku terbungkam. Bukan karena aku tidak paham bahasa yang ia gunakan, melainkan karena aku mulai menyadari betapa dalamnya luka dan harapan yang ia pikul di pundak kecilnya.
Dema sedang tidak mengemis simpati. Ia tidak sedang memamerkan kemiskinannya. Ia hanya sedang menatap kenyataan dengan mata yang telanjang dan jujur, tentang mata jiwa yang menolak untuk berpaling, menolak untuk menutup diri dari pahitnya takdir. Dan dari keberanian itu, ia memilih jalan yang tidak semua orang berani tempuh untuk menemukan jalan agar tidak menyerah pada kemiskinan.
“Bagaimanapun caranya, aku harus tetap bersekolah,” tambahnya lagi, suaranya terdengar seperti sebuah sumpah yang ia titipkan pada masa depannya sendiri. “Dan aku harus memulainya dari sekarang, dari setiap koin yang bisa kuselamatkan.”
Sejak kalimat itu jatuh dan menetap di dasar hatiku, aku merasakan ada sesuatu yang bergeser secara permanen. Perubahan itu tidak datang dengan gempita genderang perang, melainkan seperti air yang dengan sabar mengikis batu kali dengan pelan, diam, tetapi sanggup mengubah bentuk permukaan batin. Membuatku mulai memandang dunia dengan kacamata yang berbeda, atas apa yang dulu kuanggap cukup, kini terasa seperti sesuatu yang harus diperjuangkan dengan peluh. Apa yang dulu kurasa mustahil, dengan perlahan mulai tampak sebagai kemungkinan yang nyata.
Aku ingin menjadi seperti Dema. Bukan semata karena keberaniannya, tetapi karena ia memiliki sebuah kompas agar tahu dengan persis ke mana kakinya melangkah di tengah hutan ketidakpastian. Aku ingin memiliki alasan hidup yang lebih besar daripada sekadar rasa manis es, adalah sebuah alasan yang sanggup bertahan meski badai keinginan datang silih berganti menghantam pertahanan.
Aku ingin terus melaju, melangkah ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, meski aku tahu jalannya mungkin takkan selalu beraspal mulus, tidak selalu bermandikan cahaya, dan mungkin akan sering memaksaku untuk berjalan dalam kesendirian yang pekat.
“Aku pun ingin hal yang sama, Dem,” gumamku suatu sore ketika matahari mulai pulang ke peraduannya. Suaraku kecil, nyaris tenggelam dalam desau angin, seolah aku sedang berbisik pada diriku sendiri karena takut mentertawakan mimpi yang terlalu tinggi.
“Mau apa, Haya?” tanya Dema, menoleh dengan rasa ingin tahu yang polos.
“Aku mau sekolah setinggi mungkin yang bisa kucapai,” jawabku, kali ini dengan nada yang lebih mantap, semantap seseorang yang baru saja menemukan barang berharga yang selama ini dicari dan tanpa sadar berada di bawah tumpukan debu, membuat Dema tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak gaduh, tidak berlebihan, namun terasa sehangat api unggun kecil yang sanggup mengusir dinginnya keraguan.
“Kalau begitu, kita adalah kawan seperjalanan,” katanya singkat. Lalu entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa seperti menemukan oase di tengah gurun yang panjang. Seperti sedang menyusuri jalan setapak yang sepi dan berkabut. Lalu tiba-tiba menyadari bahwa ada orang lain yang melangkah dengan ritme dan arah yang sama. Kami tak butuh penjelasan panjang lebar, tetapi cukup dengan mengetahui bahwa kami tidak sedang bertarung sendirian di bawah kolong langit ini.
Sejak saat itu, aku memutuskan untuk menjadi yang terdepan dalam bermimpi. Bukan karena aku haus akan pengakuan, bukan pula karena aku ingin berdiri di atas kepala orang lain, tetapi karena aku tidak ingin menjadi tawanan dari ketakutanku sendiri. Ketakutan yang merayap diam-diam di tengah malam, membisikkan bahwa aku mungkin akan jatuh, bahwa aku mungkin takkan pernah sampai ke garis akhir.
Bahkan jika suatu hari nanti, jika pada ujungnya takdir hanya mengizinkanku untuk menjadi seorang petani di kampung, aku ingin tetap membawa sesuatu yang tidak akan bisa dirampas oleh siapa pun, bahkan oleh kemiskinan sekalipun. Sesuatu yang tak kasat mata, yang menetap abadi di dalam sukma, tentang martabat ilmu dan kebanggaan karena pernah mempertaruhkan segalanya demi sebuah perjuangan.
Sebab hidup bukan saja tentang sejauh mana kaki kita telah melangkah, atau seberapa tinggi kita berdiri di atas panggung dunia, melainkan tentang seberapa dalam kita meresapi setiap jejak yang kita tinggalkan di atas tanah. Dalam pemahaman itulah aku belajar bahwa tidak semua perjalanan harus berakhir di puncak untuk dianggap berarti. Cukup dijalani dengan kejujuran, dengan hati yang menolak untuk bertekuk lutut, dan dengan nyala keyakinan kecil yang terus dijaga, meski seluruh dunia di sekeliling mencoba untuk meniupnya hingga padam.
Maka sejak saat itu, di kedalaman batinku yang paling sunyi, aku mulai memahami bahwa langkah-langkah kecil yang kami susun dulu. Pada setiap koin receh yang berdenting di dasar celengan, setiap menit yang habis dalam antrean panjang di depan ruang TU, hingga setiap nasihat sederhana yang dulu terasa hambar di telinga, mungkin sebenarnya adalah cara semesta membisikkan wahyu-wahyu besarnya tanpa perlu banyak kata. Semuanya menyerupai serpihan mozaik yang tampak tak berarti saat berserakan, namun perlahan-lahan saling mengunci, membentuk sebuah wajah utuh yang kelak akan kami sebut sebagai "takdir" atau "arah". Dan arah itu, meski sering kali tertutup kabut ketidakpastian, memiliki frekuensi gaib yang selalu sanggup memanggil kami pulang setiap kali kaki kami mulai gemetar didera ragu.
Malam kian melarut, menelan bayang-bayang benda ke dalam rahim kegelapan. Namun ingatan itu tetap tinggal di sana, menetap serupa bara kecil di balik tumpukan abu yang menolak untuk padam sepenuhnya. Aku menyadari dengan getar yang hebat bahwa apa yang dulu kami anggap sebagai upacara perpisahan yang naif, percakapan ringan di bawah pohon, atau kebiasaan kecil yang menjemukan, ternyata adalah tiang-tiang pancang yang diam-diam menyangga langit jiwa kami agar tidak runtuh ketika hidup mulai membawa kami berjalan ke tempat yang lebih jauh, lebih dingin, dan jauh lebih sunyi dari pelukan kampung halaman.
“Apakah kau masih memiliki nyali untuk pergi sejauh itu?” seolah-olah ada suara yang bangkit dari dalam sumsum tulangku, bukan suara orang asing, melainkan gema dari diriku yang dulu, untuk sang bocah kecil yang masih polos, yang belum tercemar oleh jelaga kegagalan, dan belum tahu betapa berdarahnya kerikil di jalanan orang dewasa.
Aku tidak langsung menjawab. Sebab kini aku belajar, bahwa beberapa jawaban yang paling jujur tidak perlu diletakkan di lidah. Cukup disimpan di dalam langkah dan dijalani dengan ketabahan seorang pengelana yang kehilangan peta. "Menjawab dengan kata adalah janji, menjawab dengan langkah adalah bakti," bisikku pada pekatnya malam.
Di luar sana, angin malam kembali menggeliat pelan, seolah sedang mendongengkan cerita yang sama, dengan intonasi yang berbeda setiap detiknya. Kampung ini mungkin akan tetap mematung di koordinatnya, menyerupai sebuah prasasti kenangan yang takkan pernah benar-benar lekang oleh musim. Sementara aku dengan sekeranjang keinginan yang berat, ketakutan yang sesekali menggigit, dan harapan yang kupeluk erat serupa jimat rahasia akan terus bergerak maju, membawaku sedang menjauh dari tanah ini, sekaligus secara bersamaan membawa pulang sesuatu yang tak kasat mata ke dalam palung sanubari.
Aku sadar bahwa dalam perjalanan ini, aku mungkin akan berubah warna. Aku mungkin akan dipaksa melepaskan banyak hal yang dulu kuanggap sebagai nyawa. Namun aku juga memiliki kepastian yang jernih. Semacam ada fragmen yang akan tetap abadi di dalam diriku, di tengah hangatnya suara nenek di dapur yang berasap, api keyakinan yang menyala di mata Dema, dan jejak langkah kecilku sendiri yang dulu, dengan segala gemetarnya, bahwa pernah berani memutuskan untuk memulai.
Dan di ujung pemahaman ini, aku mengerti bahwa hidup bukanlah sebuah perlombaan tentang siapa yang paling jauh melintasi benua, atau siapa yang paling cepat menyentuh garis finish untuk dipuja-puji dunia. Hidup adalah tentang bagaimana kita menjaga kesucian beban yang kita panggul di sepanjang perjalanan, adalah tentang bagaimana kita tidak menjadi asing bagi diri sendiri ketika seluruh jagat raya terus berubah warna di sekeliling kita.
Hidup ini serupa sungai kecil di pinggir desa kampung halaman, yang tidak selalu tampak perkasa, dan pada jalannya yang berkelok menembus cadas, tetapi tetap mengalir dengan ritmenya yang jujur, menemukan muaranya sendiri tanpa harus merasa terhina karena ia tak kunjung menjadi samudera yang luas. Sebab tahu bahwa menjadi dirinya sendiri sudah lebih dari cukup.
Aku menutup mata sejenak, membiarkan setiap kenangan itu menetap dan mengendap. Dengan perlahan, tenang, tanpa perlu kupaksa untuk menjadi jawaban. Dan di dalam keheningan yang meluas itu, aku merasa seolah-olah ditarik kembali ke titik nol, ke rahim di mana semuanya bermula. Menjadi lagi bak seorang anak kecil yang berdiri di persimpangan pilihan, dengan tangan yang masih ragu dan dingin, tetapi dengan sebuah hati yang diam-diam mulai belajar untuk menjadi berani.
Dan mungkin, justru dari titik itulah, perjalanan yang sesungguhnya akan selalu lahir dan dimulai kembali, setiap kali fajar menyapa bumi. (Bersambung)