Pagi merayap datang dengan wajahnya yang paling purba. Matahari terbit dengan angkuh, tanpa merasa perlu peduli apakah manusia di bawahnya telah siap memikul hari atau belum. Di tengah ritme mekanis itu, aku menyaksikan kehidupan mulai berdenyut. Para lelaki melangkah ke sawah atau ladang dengan cangkul bertengger di bahu sebagai simbol kedaulatan atas tanah. Sementara anak-anak sedang menyiapkan raganya menuju sekolah, memanggul tas yang tak selalu penuh buku, yang cukup berat sebagai beban masa depan.
Kehidupan di kampung mengalir tanpa banyak tanya, mengikuti lekuk tanah yang dilewatinya. Aku pun menyadari satu kenyataan pedih tentang yang tak pernah sudi berhenti barang sekejap hanya untuk menunggu seseorang yang sedang bimbang mengambil keputusannya.
“Cepat atau lambat, kaki ini harus dipaksa melangkah, atau aku akan tertimbun oleh waktu yang membatu,” bisikku pada diri sendiri. Kalimat itu serupa mantra, pengingat akan kebenaran yang lama mengendap di dasar sukmaku.
Aku benar-benar tidak tahu ke mana ujung langkah ini akan menyeret takdir. Mungkin aku akan tersesat di rimba asing yang tak berpeta, luluh lantak oleh lelah yang tak berkesudahan, atau justru terdampar di sebuah tempat yang keindahannya tak pernah sanggup kubayangkan dalam mimpi paling liar sekalipun.
Tetapi ada satu hal yang perlahan tersingkap di balik kabut, saat berjalanku sendirian di jalanan kampung, mengulang kebiasaan lama sebagai memori trotoar kota dengan segala keremangannya, dan saat pikiran dihinggapi keraguan dan sisa keberanian yang campur aduk, yang jauh lebih bermartabat daripada diam mematung adalah berani menguji kembali kekuatan kaki sendiri yang telah lama tak berlari dan berjalan kaki.
Seseorang yang hanya diam mematung, sejatinya tengah membiarkan tubuhnya menjadi segenggam tanah yang pasrah menunggu sentuhan tangan perajin untuk berubah wujud. Ia tak ubahnya sebutir benih yang baru akan menemukan kehidupan sejati jika memiliki nyali untuk memecahkan cangkangnya yang keras dan egois.
Aku membayangkan suatu hari nanti, saat rambutku telah memutih dan aku menoleh kembali ke belakang—menatap jalanan tanah yang berdebu, hamparan sawah yang luas, serta segala ruang hidup bersahaja di kampung halaman ini—aku ingin melihat semuanya bukan sebagai deretan pilihan yang saling meniadakan. Sebaliknya, aku ingin mengenang setiap jejak itu sebagai fragmen-fragmen diri yang saling melengkapi dan menyempurnakan.
Sebab barangkali, hakikat hidup bukanlah tentang memilih satu pintu dan mengunci yang lain secara permanen, melainkan tentang bagaimana kita membawa aroma asal-usul ke dalam setiap jengkal langkah baru. Aku harus menjadi seperti akar yang tetap setia dalam bau kedalaman tanah, meski batang dan dahan terus tumbuh menjulang, yang rakus mengejar cahaya di langit tertinggi.
Sebelum memulai ritual jalan-jalan di jalanan kampung, aku biasanya hanya duduk termenung di ambang pintu rumah Nenek. Terkadang begitu dalam lamunanku hingga aku tak menyadari Nenek telah berada di ruang tengah, menyuguhkan gorengan dan rengginang.
"Mengapa kau masih termenung di ambang pintu?" ia akhirnya bertanya. Suara Nenek datar dan pelan, tetapi sanggup membelah lamunan pagi seperti pisau yang mengiris buah matang.
"Aku hanya sedang melihat arah angin, Nek," jawabku lirih, mencoba menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam dada.
Lalu seketika karena mungkin terbawa suasana, bayangan masa lalu berkelebat. Sebuah ingatan tentangku, Kak Laela, dan Nenek dalam situasi yang serupa selepas lulus sekolah dasar.
Dulu, pertanyaan yang sama pernah terlontar, dan aku menjawabnya dengan suara yang nyaris pecah, “Tapi aku masih ingin memeluk buku, Nek. Aku masih ingin sekolah.”
Kalimat itu meluncur deras dariku, tepat saat tatapan Nenek beralih seolah hendak menguji nyaliku. Aku tak tahu dari mana asal-muasal keberanian yang tiba-tiba meledak itu. Mungkin lahir dari desakan keinginan yang terlalu lama kupendam di bawah bantal, atau dari rasa takut yang amat sangat akan kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat kurengkuh.
Masa itu seolah ruangan dekat ambang pintu seketika tersedot ke dalam pusaran sunyi yang pekat. Detak jam dinding seolah berhenti demi memberi panggung bagi kalimat pendek yang baru saja kulontarkan, yang membuat Nenek terdiam.
Tentu saja Nenek saat tak langsung berbicara bukanlah diam yang kosong, melainkan diam yang penuh timbangan suara-suara batinnya. Seperti seorang hakim yang sedang menimbang dua dunia yang bertabrakan dalam satu waktu.
Lalu, ia berbisik lirih. Suaranya halus menyerupai gesekan angin pada helai daun kering. Begitu tipis hingga tak sanggup menggoyangkan rantingnya. Jawabnya, “Sekolah saja dulu.. asalkan ada biaya yang cukup untuk mendaftarnya.”
Kalimat itu terdengar begitu sederhana. Tetapi di dalamnya seolah sudah tertanam sebuah palang pintu yang tak terlihat, sebagai isyarat yang berdiri angkuh, layaknya gerbang besi yang mengunci jalan setapak panjang dan berliku dari langkah-langkah kakiku.
Tetapi kemudian muncul satu kesadaran bahwa hidup seringkali bukan soal memilih antara hitam atau putih, melainkan tentang bagaimana kita menegosiasikan dua hal yang sama-sama suci. Antara dua keinginan yang sama-sama benar, membuat tak selalu memiliki sayap untuk terbang beriringan.
Aku merasa seolah berdiri di persimpangan itu sendirian. Datang tanpa peta dan dipaksa tegak tanpa papan penunjuk. Tak ada yang bisa kupegang selain debar jantung yang kian tak keruan serta sisa-sisa harapan yang kujadikan pemandu arah di tengah remang takdir.
Dalam bayanganku, aku ingin tumbuh menjadi seperti mereka, sebagai anak-anak desa yang jumlahnya kian bertambah dari tahun ke tahun. Mereka adalah jiwa-jiwa yang menolak untuk lekas menyerah pada garis nasib lama, mereka yang memilih untuk terus merangkak dan berlari setelah gerbang sekolah dasar baru saja tertutup di belakang punggung mereka.
Ingatanku kembali pada kata-kata Ibu Yani, wali kelas enam kami. “Lihat, sekarang sudah banyak kakak senior kalian yang melangkah lebih jauh,” ucapnya di depan kelas dengan nada yang bergetar di antara rasa bangga dan keheranan yang jujur.
“Benar... dulu rasanya jarang sekali. Hanya satu atau dua orang yang berani melewati jalan itu,” tambahnya lagi. Suaranya menyimpan kekaguman pada perubahan yang diam-diam sedang merayap. Percakapan itu terdengar biasa, tetapi membawa percikan sebuah revolusi sunyi yang sedang mekar, yang perlahan akarnya mencengkeram bumi pikiran kami.
Dulu, mereka yang melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi hanyalah segelintir yang bisa kuhitung dengan jari sebelah tangan. Jumlah yang amat sedikit, menyerupai bintang yang jarang menampakkan diri di langit malam yang mendung, yang indah untuk dipandang namun terasa teramat jauh, seolah cahaya itu bukan diciptakan untuk disentuh oleh tangan-tangan berlumpur anak kampung seperti kami.
Kami sering memandangnya dengan tatapan yang ganjil, seolah mereka yang melanjutkan sekolah adalah pengelana yang menempuh jalan yang tak disediakan untuk orang kebanyakan. Namun kini, jumlah itu mulai banyak mengisi ruang-ruang kosong yang sebelumnya hanya dihuni oleh kesunyian. Serupa cahaya matahari yang perlahan tapi pasti merambat masuk ke dalam bilik yang selama ini gelap gulita. Perubahan ini tidak datang dengan ledakan atau sorak-sorai perayaan. Tetapi hadir seperti tetesan air yang jatuh konsisten di atas batu karang. Satu demi satu, tanpa lelah, hingga akhirnya sanggup mengukir ulang bentuk batu yang paling keras dan kaku sekalipun.
Tanpa sepenuhnya kusadari, aku sedang bernapas di dalam paru-paru perubahan itu. Di tengah arus yang bergerak lambat tetapi cukup bertenaga, membawaku berdiri di sebuah noktah, sebagai sebuah noktah, yang mungkin tak terlihat, tetapi berat dan mencolok, lalu membawa jiwaku telah ikut hanyut terbawa pusarannya. Aku merasa seperti sehelai daun yang terbawa aliran sungai yang mencoba meraba-raba dengan insting, ke muara mana takdir ini akan membawaku pergi.
“Menurutmu, akan menjadi apa kita di ujung jalan ini nanti?” tanya Irfan saat kami menatap jalan tanah yang memanjang membelah cakrawala desa, sepulang dari Pasar Desa Tawang.
Pertanyaannya sejenak membuatku terpaku, sejenak menelan udara sore yang mulai mendingin, kemudian jawabku, “Entahlah,” dengan suara agak parau, “tapi aku merasakan satu hal.. hidup kita tidak akan pernah sama lagi. Kita tidak akan kembali menjadi sama seperti cerita-cerita lama.”
Tetapi mungkin jawabanku itu adalah sebuah doa yang belum sepenuhnya berani kupanjatkan secara lantang. Mungkin kami masih akan kembali pada jalan yang pernah dipijak oleh leluhur kami, jalan yang sudah akrab, yang sudah teruji mampu menjaga denyut kehidupan tetap ada. Namun, mungkin juga tidak. Mungkin akan ada di antara kami yang memutuskan untuk berbelok tajam, merintis jalan baru di tengah belantara yang belum pernah dijamah oleh kaki-kaki kami sebelumnya.
Namun setidaknya, untuk kali ini, kami memiliki sebuah pengetahuan keramat bahwa ada lebih dari satu jalan yang bisa kami pilih. Dan pengetahuan itu saja sudah cukup untuk membuat semesta jiwaku terasa sedikit lebih luas, seperti langit yang tiba-tiba menyibak awannya, memperlihatkan hamparan bintang yang selama ini tersembunyi di balik kegelapan.
Dan memang, di kampung kami, selalu ada beberapa sosok yang berdiri tegak layaknya mercusuar yang tak mungkin diabaikan sebagai kompas hidup di tengah persimpangan yang membingungkan. Para guru PNS itu, yang setiap pagi melintasi jalanan desa dengan langkah yang tenang dan terukur, membawa tumpukan buku di pelukan mereka, dan bahwa di balik buku-buku itu, mereka membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar rumus atau tata bahasa. Mereka berjalan seperti manusia yang telah menemukan peta di dalam dirinya, meski jalan yang mereka pijak tetaplah tanah yang sama berdebunya dengan yang mengotori kakiku.
“Bu Guru juga bukankah juga lahir dari desa kita?” tanya Irfan dengan mata bulat penuh kekaguman.
“Iya, guru-guru kita orang sini. Anak kampung yang sama seperti kita,” jawabku dengan nada khidmat, seolah sedang menceritakan sebuah keajaiban. Kalimat itu sederhana, tetapi bekerja seperti jendela yang dibuka paksa di tengah ruangan pengap jiwaku.
Para guru kami adalah pohon-pohon rindang yang tumbuh dari tanah yang sama dengan kami, yang akarnya menghisap saripati bumi yang sama, merasakan hantaman hujan dan sengatan matahari yang sama. Namun, akar mereka telah menjangkau lebih dalam ke perut bumi, menemukan mata air pengetahuan yang tak semua orang punya nyali untuk mencarinya. Dan dahan-dahan mereka merentang lebih jauh ke atas, menembus lapisan langit yang selama ini kami anggap sebagai batas akhir yang tak tertembus.
Aku sering memandang punggung para guru yang sedang berjalan menjauh dengan rasa haus akan kemungkinan, sebuah kemungkinan yang kini tak lagi terasa asing atau mustahil. Mereka telah menjadi akar tunggang bagi keyakinanku, yang kuat dan tak mudah goyah oleh badai prasangka. Mereka memberiku kepastian bahwa mungkin, hanya mungkin, aku pun bisa tumbuh menjulang ke arah yang jauh lebih tinggi dari yang pernah dibayangkan oleh siapapun di tanah kampung ini.
Dari rahim kampung yang sama, mereka pernah menghirup debu yang serupa dengan yang kami telan setiap hari. Pernah menjadi anak-anak kecil yang berlari di atas tanah merah yang retak saat kemarau, tertawa lepas di bawah langit sederhana yang melengkung tulus, dan menghabiskan masa kecil di halaman sekolah yang sempit namun sesak oleh jutaan kenangan. Mereka tumbuh tanpa jubah keistimewaan, tanpa tanda-tanda keramat yang menunjukkan bahwa suatu hari nanti, punggung mereka akan berdiri tegak di depan kelas sebagai penyulut pelita bagi akal kami.
Mereka yang pelan-pelan menyerupai seorang pendaki yang menaiki anak tangga di tengah kepungan kabut tebal, untuk menapaki jenjang demi jenjang pendidikan dengan penuh ketabahan. Mulai dari SD atau MI yang gedungnya reyot, kemudian merangkak ke SMP atau MTs yang tempatnya jauh, lalu melompat lebih jauh ke SMA atau MA, hingga akhirnya melabuhkan pada ilmu pengabdian dengan belajar dulu di SPG atau PGA.
Setiap langkah yang mereka ambil adalah pijakan kecil di atas tanah yang tak pernah benar-benar rata. Mungkin terkadang kaki mereka goyah dihantam badai ekonomi, kadang tergelincir oleh licinnya prasangka, tetapi mereka tetap memilih untuk melangkah, membiarkan luka-luka kecil di telapak kaki menjadi saksi bisu perjalanan itu. Jumlah mereka memang tak seberapa, bahkan bisa dihitung dengan jemari sebelah tangan tanpa harus memeras otak. Namun justru karena kelangkaan itulah, dalam cakrawala pandanganku, mereka menjelma seperti bintang-bintang tunggal di langit kelam. Tak memenuhi seluruh angkasa, tetapi cahayanya cukup tajam untuk dijadikan kompas bagi kami yang sedang tersesat di rimba ketidaktahuan untuk apa kami melanjutkan sekolah.
Aku sering memandang mereka dalam diam yang khusyuk, seolah sedang mencoba mengeja peta masa depan dari titik-titik cahaya yang tampak jauh dan menggetarkan sukma. “Dulu, perjalanan untuk melanjutkan sekolah tidak semudah membalik telapak tangan,” Bu Yani berbicara kepada kami di suatu siang yang terik, suaranya mengalun rendah memenuhi ruang kelas.
Mendengar itu, suasana kelas seketika mengendap dalam keheningan yang magis, seolah-olah suara cicak di dinding pun memilih menepi demi memberi panggung bagi sebuah fragmen masa lalu yang hendak disingkap oleh guru kami. Beliau berdiri di depan kami tidak lagi sekadar sebagai pengajar yang memegang kapur, melainkan sebagai seorang musafir yang membawa potongan-potongan cermin masa lalu agar kami bisa melihat pantulan kemungkinan di dalamnya. Kami mendengarnya dengan takzim, serupa anak-anak yang baru pertama kali diajak melihat luasnya samudera.
“Ibu pun pernah berjalan kaki berkilo-kilometer, berdiri berjam-jam menunggu kendaraan yang tak kunjung tampak batang hidungnya, bahkan berkali-kali nyaris menyerah kalah pada rasa lelah,” lanjutnya, matanya menatap kami satu per satu, seakan ingin memastikan bahwa setiap suku katanya benar-benar menghujam ke dalam batin kami yang paling dasar. “Tapi ingatlah satu hal, Nak. Jika kalian tidak pernah berani mencoba melangkah, kalian tidak akan pernah tahu seberapa jauh kaki-kaki mungil kalian sanggup membawa kalian berlari.”
Kalimat itu sederhana, tetapi bekerja seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan air telaga yang tenang. Gema yang ditinggalkannya amat panjang, menyebar dalam lingkaran-lingkaran kesadaran, meresap ke dalam pori-pori pemikiran, dan diam-diam menetap di sana sebagai benih yang sulit sekali untuk diabaikan. Aku menyimpan kalimat itu dalam sebuah kotak rahasia di dalam dadaku, seolah ia adalah jimat purba yang belum sepenuhnya kupahami khasiatnya, namun kuyakin akan menyelamatkanku suatu hari nanti.
Mereka yang telah memulai perang melawan jarak bahkan jauh sebelum gedung SMP pertama kali dibangun di desa kami. Pada masa mereka, pilihan untuk sekolah lanjutan terasa seperti sebuah fatamorgana di tengah padang pasir. Sesuatu yang tampak indah di bayangan, namun terasa mustahil untuk disentuh oleh tangan kenyataan. SMP atau MTs, SMA atau MA yang gedungnya berdiri di wilayah-wilayah yang harus ditempuh melalui perjalanan panjang yang menguras tenaga, melintasi jalanan melewati hutan yang sering tak bersahabat dan dipenuhi debu yang menyumbat jalan napas.
Tetapi bagi anak-anak desa yang keras kepala, ketika memilih ingin melanjutkan sekolah harus membuang rasa takutnya sendiri dengan pergi ke kota kecamatan tetangga. Tempat yang dalam imajinasi kami terasa sangat raksasa, hiruk-pikuk, dan entah mengapa menyimpan aura yang sedikit mengintimidasi kepala.
“Di sana banyak kendaraan besar yang berlari kencang, suaranya memekakkan telinga,” bisik Irfan yang duduk di sebelahku bercerita pengalamannya saat pergi ke Cikatomas. Bercerita dengan suaranya bergetar seolah kendaraan-kendaraan itu adalah monster yang siap memangsa siapa saja di mata mungil seorang anak kecil.
“Iya... dan orang-orang di sana cara bicaranya berbeda, tatapannya tajam,” sahut Ayip, menambah daftar kecemasan dalam benak kami.
Dalam obrolan di sela jeda pelajaran masa SD dan bahkan hingga kemudian kami duduk di bangku SMP, kami sering membayangkan kota sebagai planet asing yang tak sepenuhnya terjangkau. Jaraknya cukup jauh untuk membuat nyali kami menciut di ambang ragu.
Bagi kami, perjalanan ke kota bukan sekadar urusan berpindah koordinat, melainkan ujian ketahanan mental yang harus ditempuh setiap kali fajar menyingsing. Itulah cara kami mengukur kedalaman sabar, dalam detak waktu yang sengaja berjalan lebih lambat dari biasanya.
Bus adalah satu-satunya dewa penyelamat. Benda besi tua itu kami tunggu di pinggir jalan atau di Terminal Cibantar dengan harapan yang sering kali layu sebelum berkembang. Kedatangannya menyerupai janji manis yang lebih sering terlambat daripada ditepati, atau kadang, ia muncul tiba-tiba tanpa aba-aba justru saat lelahnya menunggu telah mencapai puncak.
Sudah satu jam lebih, tapi debu bus itu belum juga tampak di tikungan,” keluh salah seorang di antara kami. Bahunya merosot lelah, seolah waktu pun ikut duduk bersandar di sampingnya dengan beban yang menghimpit.
Aku merekam keluhan itu dalam ingatan, menyimpannya rapat-rapat sebagai kenangan saat masih bersekolah di SMP yang letaknya masih di desa kami. Namun kelak, tanpa kusadari, aku akan kembali berdiri di titik yang sama, merasakan letih yang serupa, dan terjebak dalam penantian yang tak kunjung usai.
“Sabar saja, ia pasti datang walau mungkin sudah penuh sesak,” jawab yang lain. Nada bicaranya terdengar seperti sebuah keyakinan yang dipaksakan agar tidak runtuh.
Sebagai penumpang dalam penantian ingin segera pulang, kami harus menjalankan ritual kebosanan yang panjang. Kadang berdiri tegak, kadang duduk di atas akar pohon di pinggir jalan dengan mata yang terpaku pada satu arah, pada aspal kosong yang membara diterpa matahari, sambil terus berharap sebuah titik hitam akan muncul dari kejauhan membawa kepastian. Lalu bus ketika akhirnya tiba menampakkan diri, seringkali sudah menyerupai kaleng sarden, sudah penuh sesak oleh orang-orang yang juga memanggul tujuan dan beban hidupnya masing-masing.
Jika berangkat dari Terminal Cibantar untuk pergi sekolah, bus terkadang akan berhenti terlalu lama dan berhenti lagi di beberapa tikungan. Ia ngetem menunggu penumpang yang tak pasti, membuat waktu seolah-olah sengaja ditarik hingga meregang tanpa ujung yang jelas.
“Masih menunggu sebentar lagi, Dek. Sabar, satu atau dua orang lagi bus baru berangkat,” teriak kondektur dengan tubuh bergelantungan di pintu. Suaranya bersaing sengit dengan deru mesin yang batuk-batuk.
Aku hanya bisa mengangguk kecil, meski di ulu hati, sebuah kegelisahan merambat tanpa mampu kujelaskan dengan kata-kata. Sebuah rasa cemas bahwa pelajaran di kelas akan dimulai tanpa kehadiranku. Katanya, setiap setengah jam bus akan lewat, namun kenyataannya, kami sering kali harus menelan ludah saat menunggu lebih dari satu jam, sambil menatap jalanan kosong yang terasa kian memanjang, serupa masa depan yang seolah enggan untuk mendekat.
Perjalanan melelahkan saat pergi dan pulang sekolah pun menjadi ritual wajib bagi kami. Sebuah harga yang harus dibayar demi menjangkau masa depan. Sebelum kami sempat duduk manis di bangku kelas untuk membuka lembaran buku, di sanalah aku mulai meraba sebuah pengertian yang pahit yang nyata bahwa bagi anak-anak seperti kami, untuk sampai pada apa yang disebut sebagai “ilmu” bukan hanya soal ketajaman otak, melainkan juga soal ketangguhan untuk bertahan, soal seni dalam menunggu bus, dan soal iman yang teguh bahwa perjalanan berliku ini memang sungguh layak ditempuh demi menjemput cahaya di ujung sana.
Karena keadaan itulah, beberapa kawan mulai memutar kemudi nasib ke jalan lain. Beralih jalan yang mungkin terasa lebih pasti untuk dipijak, lebih nyata untuk digenggam jemari, meski tak berarti kerikil di atasnya lebih ramah pada telapak kaki. Jalan itu serupa lorong sempit yang dindingnya mengapit rapat, tetapi ujungnya terlihat benderang, berbeda dengan jalan raya yang terbuka lebar namun disaput kabut ketidakpastian yang menyesatkan arah pulang.
Beberapa dari mereka akhirnya menyerah dan putus sekolah karena himpitan keadaan, lalu memilih untuk "mondok" untuk melabuhkan seluruh riuh masa mudanya di balik dinding pesantren. Mereka yang mengambil jalan ini memilih menempuh sunyi yang mungkin lebih berat, sebab harus meninggalkan hangatnya bantal di rumah dan menukar keletihan perjalanan dengan ketaatan yang panjang. Di sana, mereka tak lagi harus bertarung dengan debu jalanan setiap fajar menyingsing, tak perlu memeras sisa tenaga di dalam bus yang sesak sebelum sanggup mengeja huruf demi huruf di atas kitab.
“Katanya, lebih tenang jika menetap di pondok,” bisik seorang kawan pada suatu sore yang lembap, menyampaikan cerita pengalaman salah seorang kawan kami yang memilih mondok. Matanya menerawang jauh, seolah sedang menatap gerbang pesantren yang menjanjikan kedamaian. “Setidaknya, pikiran kita tidak habis diisap aspal.”
Aku pun turut memejamkan mata, mencoba melukis sketsa kehidupan di balik dinding pesantren. Saat pagi dibuka oleh simfoni azan yang membelah sunyi, siang yang khusyuk oleh tarian pena di atas kertas, dan malam-malam panjang yang dingin namun terasa hangat oleh selimut doa yang dirajut bersama. Tempat itu tampak seperti dunia paralel yang jauh lebih teratur, meski aku tahu, ia menuntut upeti pengorbanan yang tak kalah besar dalam sebuah perpisahan dini dengan hangat pelukan ayah dan ibu.
Di antara pilihan untuk tetap bertarung dengan debu jalanan atau menyerahkan diri pada kesunyian pondok, aku merasa nasib kami hanyalah tentang memilih jenis keletihan yang berbeda. Apakah kami akan membiarkan raga remuk dihantam aspal setiap hari, atau membiarkan batin merana karena rindu yang tertahan di balik gerbang suci? Dilema itu terus berputar di kepalaku, hingga suatu hari, sebuah kalimat sederhana namun tajam menyentak kesadaranku di kantor sekolah.
“Lelah karena dijajah jarak itu terkadang jauh lebih mematikan daripada lelah karena menimba ilmu,” ujar Ibu Guru Yani suatu kali. Suaranya tenang, mengandung beban pengalaman yang telah mengkristal selama bertahun-tahun. Beliau menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyum yang menyerupai lipatan kenangan tentang langkah-langkah berat yang dulu pernah ia tempuh. Lelah yang pernah menghuni sendi-sendinya, tetapi tak pernah sekali pun ia sesali kehadirannya.
“Kalian mungkin belum benar-benar sanggup meraba rasanya,” lanjut beliau dengan intonasi yang merendah, hampir seperti bisikan pada diri sendiri. “Bagaimana rasanya berangkat saat matahari pun belum bangun dengan raga yang belum sepenuhnya sadar, lalu pulang saat senja telah mati dengan isi kepala yang sudah terkuras habis tak bersisa.”
Kami semua terdiam, membeku dalam posisi masing-masing. Seolah-olah sebuah cermin besar baru saja diletakkan di hadapan kami, menampakkan sisi gelap dari lereng perjalanan yang puncaknya bahkan belum sanggup kami bayangkan. Kesunyian di ruangan itu terasa menebal, hanya sesekali diinterupsi oleh desis angin yang menyelinap lewat celah jendela.
“Ibu pun dulu hampir menyerah pada jarak,” Ibu Yani kembali menyambung ceritanya. “Setelah setahun penuh bertaruh nyawa pulang-pergi dari rumah, akhirnya Ibu memutuskan untuk mondok. Kami tetap sekolah, Nak. Kami memilih menetap demi menggapai cita-cita yang mulai terasa nyata.”
“Apa Ibu tidak pernah merasa dicekik rindu pada rumah?” tanya Dema tiba-tiba. Pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa permisi, seakan ia memiliki kakinya sendiri untuk keluar dari labirin pikirannya yang kalut.
“Sangat rindu, Nak,” jawabnya tanpa jeda keraguan sedikit pun. Jawaban itu terdengar seperti sebuah pengakuan jujur yang sudah lama mengantre untuk dilepaskan. “Tetapi bagiku, jauh lebih baik menanggung beban rindu yang berat daripada harus menyerah kalah dan berbalik arah di tengah jalan yang sudah setengah kita tempuh.”
Kalimat itu jatuh pelan di lantai kelas, namun dentumannya terasa mengguncang batin, serupa tetesan air yang jatuh di atas tanah yang sedang meranggas kering. Menghilang seketika di permukaan, namun bekerja dalam sunyi, menghidupkan akar-akar harapan yang mulai layu. Kalimat itu kemudian menjelma menjadi sebuah bab pelajaran yang tak akan pernah kutemukan di lembar buku paket mana pun. Pelajaran yang tidak diajarkan melalui rumus-rumus yang kaku atau hafalan yang membosankan, melainkan melalui luka dan peluh yang dialami hingga ke titik nadir.
Ia menetap di kepalaku sebagai pikiran, juga berdenyut di dadaku sebagai kompas, atau sebagai mantra kecil yang selalu kubisikkan pada jiwaku sendiri saat kaki ini mulai terasa seberat timah saat melangkah tak tentu arah. Menyadari kenyataan yang tak selalu seindah kutipan guru kami.
Memang tak sedikit pula kawan-kawan yang akhirnya benar-benar meletakkan senjatanya dan berhenti di tengah medan laga. Mereka mundur bukan karena mereka tak memiliki mimpi setinggi langit, melainkan karena jalan menuju mimpi itu terasa menyerupai labirin yang terlalu panjang dan gelap untuk mereka susuri sendirian.
Alasan mereka berlapis-lapis, seperti strata tanah yang disusun oleh waktu, setiap lapisannya menyimpan derita yang berbeda-beda. Alasan pertama, raga mereka tak lagi sanggup menaklukkan jarak yang setiap hari harus diperangi. Menghadapi sebuah tantangan fisik yang tak pernah memberi ampun pada tubuh yang masih bertumbuh. Alasan kedua, batin mereka tak lagi kuat menghadapi rimba pelajaran yang terasa asing, rumit, dan dingin, seperti disuruh bicara dalam bahasa baru yang belum sempat dipelajari tata bahasanya, tetapi sudah dituntut untuk berpuisi dengan sempurna.
“Kepalaku mau pecah, rasanya seperti dipenuhi batu,” keluh Sudrajat di sebelahku suatu siang, ia yang menutup bukunya dengan kasar, lebih cepat dari detak jantungnya sendiri. “Aku tidak mengerti satu kata pun. Mungkin aku memang tidak diciptakan untuk duduk di sini.” Sebelum di esoknya ia tak datang lagi ke sekolah.
Dua hal itu, jarak yang membunuh raga dan kerumitan yang membunuh jiwa adalah serupa dua daun pintu raksasa yang terbuat dari besi. Sangat berat untuk didorong bagi sebagian orang. Terpaksa berbalik arah dan pulang ke pelukan kebiasaan lama yang terasa jauh lebih masuk akal daripada terus memaksakan diri melangkah dengan telapak tangan yang mulai berdarah.
Padahal, dalam benakku yang masih hijau namun keras kepala, aku sering bergumam pada bayanganku sendiri, dan terkadang memberanikan diri mengucapkannya kepada orang lain, bahwa ilmu itu sebenarnya tidak pernah memiliki wajah yang menakutkan. Yang membuatnya terasa mencekam seringkali bukanlah isinya yang sulit, melainkan beban ketakutan yang kita panggul bahkan sebelum kita benar-benar menyentuh kulit bukunya.
“Cobalah anggap semua pelajaran ini semudah menghirup udara,” kataku suatu hari kepada kawan, dengan nada keyakinan yang mungkin terdengar terlalu naif bagi dunia yang keras. Irfan yang kuajak bicara menatapku dengan sorot mata yang terbelah, setengah ingin percaya pada keajaiban kata-kataku, setengahnya lagi penuh keraguan yang pekat. Membuatnya seperti orang haus yang ingin meminum air, tapi takut air itu adalah racun.
“Mudah bagaimana? Kau tidak lihat deretan angka dan huruf aneh ini?” tanyanya, alisnya bertaut menciptakan parit kecemasan di dahi.
“Jika sejak awal kita sudah memelihara rasa takut di dalam dada,” jawabku pelan, mencoba menata setiap diksi agar tidak melukai harga dirinya, “maka yang sulit itu sesungguhnya bukan pelajarannya, melainkan rasa takut itu sendiri yang telah tumbuh menjadi monster raksasa di dalam kepalamu. Pelajaran itu hanya benda mati, kitalah yang menghidupkannya menjadi hantu.”
Kata-kata itu mengalir begitu saja, seolah-olah ia adalah mata air yang sudah lama tersembunyi di bawah bebatuan pikiranku. Membuat kawanku terdiam, bibirnya terkatup rapat, lalu ia mengangguk sangat kecil, sebagai anggukan yang mungkin belum berarti setuju, tetapi cukup untuk menandakan bahwa ada satu celah cahaya yang mulai menembus dinding keraguannya.
Aku memandangnya sejenak, lalu menunduk menatap buku di pangkuanku sendiri, seolah ingin meyakinkan diriku bahwa mantra yang baru saja kuucapkan juga berlaku bagi nasibku sendiri. Aku sangat ingin percaya bahwa ketakutan adalah rahim dari segala kebodohan yang kita ciptakan secara mandiri. Ia seperti bayangan hitam yang membesar dan tampak mengerikan hanya karena kita memilih untuk berdiri di tempat yang remang, membiarkan imajinasi liar kita mendramatisir sesuatu yang sebenarnya ringkih.
Jika aku memiliki sedikit saja nyali untuk melangkah satu jengkal menuju sumber cahaya, maka bayangan monster itu akan mengecil dan musnah dengan sendirinya. Mungkin ia tak pernah sehebat yang kucemaskan. Dan mungkin, di celah sempit itulah keberanian mulai bersemi, bukan sebagai pahlawan yang datang tiba-tiba dengan pedang terhunus, melainkan sebagai satu langkah kecil, gontai, dan ragu, tetapi tetap memilih untuk bergerak maju menembus waktu.
Namun tetap saja bagi mereka yang akhirnya memilih untuk meletakkan tas sekolah dan melipat mimpi di dalam lemari tua, alasan-alasan yang mereka ajukan tak pernah benar-benar bisa dibantah dengan kata-kata mutiara. Bukan karena alasan itu sempurna tanpa celah, melainkan karena ia lahir dari rahim kenyataan yang teramat keras. Jika pada akhirnya harus menghadapi sebuah realitas yang tak selalu menyisakan ruang bagi idealisme untuk sekadar bernapas. Ada sebuah logika yang sederhana yang mungkin tertanam kuat menyerupai akar pohon jati di dalam bumi bahwa hidup harus tetap berdenyut saat punggung keluarga yang mulai membungkuk harus segera dipapah.
Logika itu tidak datang dengan kebisingan atau debat kusir yang panjang. Namun berdiri tegak dan dingin seperti dinding karang yang tak mungkin dihindari oleh biduk kecil mana pun. Sekolah, bagi sebagian kawan di kampungku, mulai terasa menyerupai jalan setapak yang terlalu panjang dan berliku sebagai lorong gelap yang ujung cahayanya belum tentu terlihat. Sementara raung lapar dan kebutuhan hari ini sudah berdiri beringas tepat di ambang pintu rumah.
“Besok kita makan apa?” seringkali menjelma menjadi pertanyaan yang jauh lebih berdarah dan nyata dibandingkan "Nanti setelah lulus kita jadi apa?" Di sanalah batas antara hitam dan putih mulai kabur, melebur dalam abu-abu perjuangan bertahan hidup yang sunyi.
“Buat apa sekolah tinggi-tinggi hingga menyundul awan,” gumam seorang kawan yang kutemui di tengah hamparan sawah saat aku berjalan-jalan menyisir jalanan kampung.
Sore itu gerah. Ia menyeka butiran keringat di dahi dengan punggung tangan yang legam. Keringatnya jatuh satu demi satu, serupa upeti bagi bumi, sebuah tanda dari kerja keras yang hasilnya bisa langsung dirasakan saat itu juga. Ia berdiri di pelupuk lumpur yang basah, membiarkan kakinya tenggelam hingga betis, seolah sedang menyatukan diri dan berakar dengan tanah yang memberinya makan.
Sorot matanya datar, menatap lurus ke arah cakrawala yang mulai memerah. “Kalau ujung-ujungnya raga ini tetap harus bermandikan peluh dan bekerja kasar juga, apa bedanya ijazah dengan cangkul?” tanyanya retoris. “Bukankah tujuannya sama-sama hanya untuk mencari sesuap nasi?”
Kalimat itu tidak meluncur sebagai sebuah keluhan yang cengeng, melainkan terdengar seperti sebuah kesimpulan pahit yang sudah lama ia kunci rapat di dalam dadanya. Ia bicara dengan nada seorang pemenang yang sudah tahu batas medannya sendiri.
“Kerja di mana saja, pada hakikatnya tetaplah menghamba pada peluh,” sahut kawanku itu, tanpa sedikit pun mendongak. Tangannya terus bergerak lincah menancapkan bibit padi ke dalam rahim lumpur, mengikuti ritme hidup yang sudah hafal di luar kepala.
“Iya kan,” sahutnya lagi, matanya menyapu hamparan hijau sawah yang bergelombang ditiup angin. “Tapi di sini, di atas tanah ini, kita tidak perlu menunggu bertahun-tahun untuk sekadar memetik hasil. Tanah tak pernah berbohong soal upah.”
Ia tidak tersenyum, namun ada seberkas ketenangan yang ganjil di wajahnya. Serupa ketenangan seorang pengembara yang merasa telah sampai di rumah. Bagai seseorang yang berhenti mencari karena yakin telah menemukan segalanya.
Setelah itu, ia kembali larut dalam bisu. Percakapan singkat tadi seolah tidak membutuhkan jawaban, apalagi perdebatan. Baginya, pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan seakan telah menemui titik mati bahkan sebelum sempat dipertanyakan.
Di sisi lain, aku mulai melihat bahwa sawah dan ladang pun menjelma menjadi ruang belajar yang berbeda. Ia adalah universitas terbuka tanpa dinding, tanpa papan tulis berdebu, dan tanpa pekik suara bel yang memangkas waktu. Di sana, terdapat pelajaran yang tak kalah mistis dan dalam tentang bagaimana membaca hati tanah hanya dengan sentuhan tangan, memahami pergantian musim melalui kepekaan rasa, serta menghafal suasana langit dengan ketajaman mata.
Menanam, mengetam, membajak, hingga menggaru, semuanya dilakukan dalam ritme yang lambat namun pasti. Serupa lagu purba yang tak pernah kehilangan nada magisnya, meski telah dinyanyikan berulang kali melintasi zaman.
“Kalau tekstur tanahnya sudah mulai mengeras seperti ini, jangan kau paksa ia bicara,” teringat ujar seorang kakek tua suatu hari, sambil menggenggam segumpal lumpur yang mulai retak di jemarinya. “Tunggu hingga air kiriman langit cukup untuk melunakkan hatinya kembali.”
Pelajaran itu tidak pernah dibukukan. Ia diwariskan melalui aliran darah, dari telapak tangan yang kasar kepada jemari yang muda, dari satu pengalaman pahit menuju pengalaman yang lebih manis.
Segala hal memang memiliki sudut pandangnya sendiri. Sebab aku pun masih belum mampu menjawab jika kelak ditanya, pernahkah kau benar-benar mengamati wajah para petani saat mereka sedang bercengkerama dengan sawahnya?
Di sana, tidakkah kau temukan seulas kebahagiaan yang sangat bersahaja namun terasa utuh? Kebahagiaan itu tampak penuh, serupa raut wajah seseorang yang tahu persis di mana titik ia menjejakkan kaki, dan untuk keagungan apa ia merelakan punggungnya legam terbakar matahari?
Wajahnya mungkin tak selalu dihiasi senyum, tapi ia juga tak menampakkan kegelisahan yang memburu. Ia seolah-olah telah menemukan kunci jawabannya sendiri di sela-sela batang padi, tanpa merasa perlu mencarinya lagi ke perpustakaan yang jauh di kota. Saat ia melecut kerbau atau sapinya, suaranya terdengar unik. Setengah perintah yang tegas, setengahnya lagi serupa nyanyian pengantar kerja. Sebuah komunikasi batin yang hanya bisa dipahami oleh jiwa-jiwa yang terbiasa hidup dan bernapas dalam satu napas alam.
“Her… her… her…” serunya, nadanya berayun mengikuti lenggang langkah si kerbau, menciptakan simfoni sunyi di tengah sawah. Kerbau-kerbau itu pun bergerak perlahan, menyeret bajak menembus lumpur, langkah demi langkah, tanpa rasa tergesa, tanpa sisa ragu. Seolah-olah waktu memang sengaja diperlambat agar mereka bisa menikmati takdirnya sendiri dengan khidmat.
Di atas tanah yang terbuka dan air yang mengalir bening, kehidupan sedang disiapkan untuk tumbuh kembali. Dalam diam dan sabar, sesungguhnya menyimpan janji tentang kemakmuran yang akan segera tiba.
Aku mendengar semua alasan mereka, lalu memandang seluruh bentang alam itu dengan perasaan yang sulit diterjemahkan oleh diksi apa pun. Membuatku seperti seseorang yang berdiri di ambang dua jendela yang menyuguhkan pemandangan yang sama-sama memukau. Kemudian membawa pada kesadaran yang tak mungkin bisa melompat ke keduanya secara bersamaan.
Di satu sisi, aku melihat keindahan dalam logika yang sederhana itu. Melihat sebuah ketenangan absolut yang barangkali tak akan pernah kutemukan di bawah atap ruang kelas mana pun. Menatap ketenangan yang lahir dari sebuah kepastian hidup, dari hasil keringat yang bisa langsung dilihat, disentuh, dan dikunyah hari itu juga.
“Hidup dengan cara seperti ini pun tetaplah sebuah kehidupan yang terhormat,” gumam seseorang suatu kali, tanpa nada pembelaan diri yang berlebihan. Dan di dalam hatiku yang paling dalam, aku tahu ia benar bahwa ia tidak sedang berbohong kepada dirinya sendiri. Namun di sisi lain, ada sebuah pertanyaan yang terus berjalan-jalan di koridor batinku sendiri, seperti langkah kaki mungil yang menolak untuk berhenti berdetak. Apakah hidupku hanya akan berakhir di batas pematang ini, ataukah ada jalan setapak lain yang juga layak untuk kuperjuangkan dengan air mata, meski terasa jauh lebih panjang, lebih menyiksa raga, dan belum tentu memberikan jawaban secepat musim panen tiba?
Di antara dua dunia yang saling tarik-menarik itu, antara meja sekolah dan hamparan sawah, antara mimpi yang melangit dan kenyataan yang membumi, di sanalah aku terpaku. Seperti seorang peniti tali yang meletakkan satu kaki di atas tanah yang sudah kukenal aromanya, sementara kaki lainnya meraba-raba di atas jalan yang masih diselimuti kabut rahasia.
“Tuhan, jalan mana yang harus kupilih untuk menggenapkan takdirku?” tanyaku pada sunyinya malam, saat seluruh suara dunia sudah memilih untuk rebah. Tetapi tak ada jawaban yang jatuh dari langit. Hanya kesunyian yang membeku yang setia menemaniku, serupa ruang hampa yang sedang menunggu untuk diisi oleh jejak langkah pertamaku.
Namun mungkin saja, aku tidak benar-benar ingin membuang salah satunya. Mungkin, aku ingin menjadi pengelana yang membawa aroma tanah di telapak kakiku, sambil tetap menjaga nyala mimpi yang berkobar di dalam kepalaku. Meski aku sangat sadar pada setiap jengkal langkah maju akan selalu menuntut sebuah keputusan yang tajam dan tak terelakkan.
Malam-malam setelah percakapan dengan orang-orang, baik dari masa lalu maupun masa sekarang, menjelma lorong waktu yang terasa lebih panjang dari biasanya. Bukan karena jarum jam yang melambat, melainkan karena isi kepalaku menolak untuk meletakkan senjatanya dan beristirahat.
Aku berbaring kaku, menatap langit-langit kamar yang gelap pekat. Seolah di sela-sela kayu kasau yang menghitam itu, semua pertanyaan purba tentang nasib berkumpul tanpa suara, menuntut jawaban yang belum sanggup kuramu menjadi sebuah kepastian.
Di kejauhan, orkestra jangkrik mengisi ruang-ruang kosong di udara, mengalun liris menyerupai bait doa yang sengaja tak diselesaikan agar Tuhan terus mendengarkannya. Aku memejamkan mata, namun kegelapan di balik kelopak mataku justru menjadi layar bagi bayangan jalan-jalan yang saling silang, jalan setapak menuju sekolah yang berdebu, jalan berlumpur menuju sawah yang menjanjikan kenyang, serta jalan-jalan gaib yang bercabang tanpa papan penunjuk arah sedikit pun.
Di persimpangan batin itu, aku berdiri gemetar, mendekap sesuatu yang belum sempat kuberi nama. Apakah ini sebuah harapan yang agung, ataukah hanya ketakutan hebat yang sedang menyamar mengenakan jubah harapan?
Di sekelilingku, suara-suara dari masa lalu atas nasihat Ibu Yani, percakapan dengan kawan sebagai jeda pelajaran,, hingga gumaman kawan yang putus sekolah dan sedang berdiri di tengah sawah, seolah menguap menjadi kabut yang menyesakkan. Aku sadar, tidak akan ada orang lain yang bisa memilihkanku arah selain diriku sendiri.
Selama ini aku hanya sibuk menimbang beban, tanpa pernah benar-benar berani meletakkan kaki di atas jalur yang kusebut sebagai takdir. Kini, pilihan itu bukan lagi tentang mana yang benar atau salah, melainkan tentang apakah aku cukup berani untuk memulai perjalanan ini meskipun tanpa jaminan sebuah akhir yang indah.
Maka, dengan napas yang tertahan, aku mulai melangkah. Biarpun pelan dan penuh keragu-raguan, namun setiap jejaknya terasa begitu nyata di bawah telapak kakiku. Aku melangkah dengan keyakinan yang mungkin belum sepenuhnya utuh. Tetapi setidaknya sudah cukup bertenaga untuk membuat raga ini bergerak, menembus kemustahilan yang selama ini hanya berani kupandang dari kejauhan.
Dan di dalam setiap detak langkah itu, ada sepotong bisikan kecil yang terus kujaga dengan nyawa, layaknya api abadi yang tak boleh dibiarkan padam oleh tiupan angin paling kencang sekalipun, bahwa jalan ini mungkin akan terasa amat panjang, mungkin akan terasa teramat berat, dan mungkin tak akan selalu ramah menyambut kedatanganku. Tetapi selama aku menolak untuk berhenti dan terus memilih untuk berjalan, maka sesungguhnya, aku tidak akan pernah benar-benar kehilangan arah pulang. (Bersambung)