Antara Jump Scare dan Psychological Horror: Catatan atas 12:00 AM

Di suatu malam, saya menyempatkan diri untuk menonton sebuah film horor. Namun, alih-alih terpaku...

Antara Jump Scare dan Psychological Horror: Catatan atas 12:00 AM

17 Apr 2026
146 x Dilihat
Share :

Antara Jump Scare dan Psychological Horror: Catatan atas 12:00 AM

Di suatu malam, saya menyempatkan diri untuk menonton sebuah film horor. Namun, alih-alih terpaku pada layar, saya justru merasa hambar hingga akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Ada rasa jemu yang muncul karena film tersebut tampak hanya berusaha menciptakan ketegangan artifisial melalui dentuman musik yang dipaksakan menyeramkan.

Saya mengalami sesuatu yang terasa janggal dari pengalaman menonton itu. Ketegangan yang dibangun tidak lahir dari kualitas cerita yang solid atau pendalaman karakter, melainkan sekadar dari manipulasi teknis: efek musik yang mendadak meninggi, suara-suara yang dirancang untuk mengagetkan, dan transisi gambar yang bergerak sangat cepat. Pola ini seolah-olah memaksa penonton untuk terkejut secara fisik, namun gagal menyentuh rasa takut yang sesungguhnya di dalam pikiran.

Semua elemen visual dan audio itu berpacu tanpa memberi ruang sedikit pun bagi penonton untuk benar-benar meresapi suasana atau membangun empati terhadap situasi yang terjadi. Padahal, horor yang sejati seharusnya adalah tentang atmosfer—sebuah rasa ngeri yang merayap perlahan dan menetap lama setelah layar menjadi gelap, bukan sekadar detak jantung yang dipacu secara instan oleh kebisingan yang sementara. Sampai akhirnya, film tersebut berlalu begitu saja, meninggalkan pertanyaan tentang sejauh mana industri kita masih bergantung pada "kejutan murah" dibandingkan kekuatan narasi.

Dalam banyak ulasan film modern, para kritikus sering menyebut kecenderungan ini sebagai “cheap scare” atau jump scare yang berlebihan. Mengutip dari Variety dan The Guardian, horor jenis ini merupakan upaya mengejutkan penonton secara instan tanpa membangun atmosfer yang kuat. Fenomena ini sering menjadi jalan pintas bagi sutradara untuk menutupi lemahnya naskah dengan stimulasi sensorik audio-visual yang agresif.

"Film kacangan," begitulah saya menyebutnya. Sebuah label yang mungkin terdengar sinis, meski saya sadar bahwa penilaian tersebut bisa jadi terlalu prematur. Sebab mungkin saja, jika saya memiliki cukup kesabaran untuk menontonnya hingga layar berakhir, saya akan menemukan sisi positif atau pesan tersembunyi yang gagal tertangkap di awal.

Film yang saya maksud adalah 12:00 AM, sebuah karya horor Indonesia yang dirilis pada tahun 2005. Film ini diproduksi di era kebangkitan horor medio 2000-an di tanah air. Maka di balik segala kekurangannya itu, film yang berada di bawah arahan sutradara Koya Pagayo dan menampilkan akting dari Olga Lydia serta Robertino, sebenarnya sebagai bukti jejak sejarah mengenai bagaimana industri perfilman kita saat itu yang berupaya mendefinisikan rasa takut bagi penontonnya. 

Meskipun narasi yang dibangun terasa goyah dan terjebak dalam formula standar horor masa itu, kehadirannya tetap menjadi bagian dari diskursus sinema yang membentuk selera publik sebelum kita sampai pada era horor modern yang lebih subtil dan bercerita. Memang ada sebuah upaya jujur di sana, meski eksekusinya mungkin belum mampu melampaui ekspektasi estetika yang lebih dalam.

Jika dilihat dalam konteks perfilman Indonesia pada awal 2000-an, kemunculan film-film horor memang mengalami lonjakan signifikan pasca kesuksesan Jelangkung (2001). Banyak rumah produksi berlomba menghadirkan sensasi cepat untuk menarik penonton, dengan mengandalkan elemen kejutan visual dan audio. Berdasarkan catatan sejarah sinema lokal, era ini sering disebut sebagai masa "eksploitasi horor", di mana kuantitas produksi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas naratif. 

Dalam konteks itu, 12:00 AM dapat dipahami sebagai bagian dari tren industri saat itu sebagai fase ketika horor lebih banyak bermain di permukaan ketegangan daripada kedalaman cerita. Padahal, dalam sejarah perfilman, horor yang bertahan lama justru lahir dari kesabaran membangun rasa. Film seperti The Exorcist atau karya modern seperti Hereditary dan Midsommar kerap dijadikan rujukan karena ketakutan yang muncul tidak hanya berasal dari suara, tetapi dari cerita, karakter, dan suasana yang perlahan merayap ke dalam pikiran penonton. Ketakutan semacam itu tidak selesai ketika film berakhir, melainkan bahkan menetap, dan diam-diam bekerja di dalam ingatan kita, sebagai keadaan yang sering disebut sebagai "Psychological Horror".

Namun demikian, saya tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan. Ada kemungkinan bahwa penilaian saya terburu-buru atas film tersebut. Barangkali, jika saya menontonnya sampai tamat, saya akan menemukan sesuatu yang terlewat, sebuah pesan tersembunyi barangkali, atau bahkan sekadar kejujuran sederhana dari pembuatnya. 

Akhirnya kemudian saya teringat pada yang menganggap bahwa aktivitas menonton film yang tampaknya tidak bermutu menjadi semacam membuang waktu dengan sia-sia. Tetapi seringkali pengalaman menunjukkan jika sesuatu dilakukan berulang-ulang, dengan kesabaran dan ketekunan, sering itu membuka jalan pada hal yang tidak terduga. 

Berbagai laporan tentang ekonomi kreatif misalnya, termasuk yang disorot oleh UNESCO dalam Creative Economy Report, menunjukkan bahwa kebiasaan kecil seperti membaca, menulis, menonton, atau mengamati dapat berkembang menjadi keterampilan bernilai ekonomi jika ditekuni secara konsisten. Literasi visual yang didapat dari menonton berbagai jenis film, termasuk yang buruk sekalipun, mengasah kemampuan kritis kita dalam membedakan mana karya yang autentik dan mana yang sekadar komoditas.

Banyak penulis, pembuat konten, hingga sineas memulai dari kebiasaan yang tampak “tidak menghasilkan”, sebelum akhirnya menemukan bentuknya sebagai karya yang bernilai. Dengan cara itu, bahkan film yang terasa “kacangan” pun bisa menjadi bahan belajar tentang apa yang tidak bekerja, tentang bagaimana ketegangan seharusnya dibangun, atau tentang selera penonton yang terus berubah dari masa ke masa.

Saya pun sampai pada kesadaran sederhana bahwa tidak semua pengalaman harus langsung memberi kesan mendalam. Ada yang hanya lewat, seperti suara musik yang tiba-tiba mengagetkan, lalu hilang begitu saja. Tetapi ada pula yang diam-diam menumpuk, membentuk cara kita melihat sesuatu di kemudian hari, yang kadang-kadang untuk kita bisa menghargai sebuah mahakarya, perlu juga melihat kegagalan-kegagalan kecil yang perlu dicatat kan.

Akhirnya malam semakin larut, saya pun tidur tepat jam dua belas, atau setidaknya berusaha tidur di jam yang ditentukan. Meski sering saya tidur larut malam akhir-akhir ini. Entah karena terlalu banyak hal yang dipikirkan, atau justru karena terlalu sedikit yang benar-benar selesai dipikirkan. 

Sudah malam, saya ingin tidur. Dan mungkin, seperti film tadi, tidak semua hal perlu dipahami sepenuhnya malam ini. Memang, ada ketakutan yang tidak perlu dicari jawabannya, ada kebosanan yang memang harus dinikmati sebagai bagian dari proses panjang mencari makna, dan ada yang cukup dibiarkan menggantung saja untuk diselesaikan esok hari, atau mungkin tidak sama sekali. (Sal)

Perspektif

Scroll