Perempuan Sekolah

Di rumah Bibi Ayisa, pagi itu merayap dengan beban yang jauh lebih pekat dari biasanya. Ia bukan...

Perempuan Sekolah

05 Apr 2026
134 x Dilihat
Share :

Perempuan Sekolah

Di rumah Bibi Ayisa, pagi itu merayap dengan beban yang jauh lebih pekat dari biasanya. Ia bukan sekadar berat serupa langit kelabu yang sedang tawar-menawar waktu dengan hujan, melainkan seperti sesak di dada yang dipenuhi ribuan kata yang dipaksa mati sebelum sempat dilahirkan; kata-kata yatim yang kini menggantung kaku di tenggorokan waktu, mencekik setiap percakapan yang berusaha merayap ke permukaan. Udara terasa seperti semen basah dan dingin, kaku dan lambat laun mengeras, seolah-olah dinding rumah itu sendiri sedang ikut menahan napas, menunggu sebuah rahasia atau nasib buruk jatuh berdentum ke lantai. Di sudut ruangan, bayang-bayang perabot memanjang seperti jemari hitam yang menunjuk ke arah kami, membisikkan bahwa diam kali ini bukanlah emas, melainkan sebuah jerat yang perlahan-lahan mulai mengetat.

Suasana Gunung Cincau di pinggiran Kali Mitrabatik membawa desau udara yang malas bergerak, serupa napas panjang yang ditahan terlalu lama di bawah air. Seakan alam semesta sedang bersitegang, menunggu sesuatu yang akan jatuh tanpa suara, tanpa isyarat, dan tanpa peringatan sedikit pun. Bahkan, daun-daun di sekitar rumah tampak membatu, menjelma saksi bisu yang tahu bahwa di balik keheningan yang menyesakkan ini, nasib sedang tekun menenun benang merah yang akan menjerat masa depan kami semua.

Nenek duduk dengan ketenangan yang ganjil, serupa ketenangan yang bukan berarti damai, melainkan ketenangan yang menyimpan riak-riak tajam di dalamnya, layaknya permukaan laut yang tampak rata dari kejauhan, padahal di kedalamannya, arus raksasa sedang saling hantam tanpa henti. Matanya adalah telaga yang menyimpan gelombang tak reda, mencerminkan kenangan yang berkali-kali coba dilarung ke tengah samudra, namun selalu kembali terdampar ke tepian dengan wajah yang jauh lebih jelas dan menyakitkan. 

Ia kemudian menoleh, mencoba memecah kebisuan dengan bertanya kepada ayahku tentang sesuatu yang terdengar sederhana, sesederhana jalan setapak di belakang rumah yang tertutup ilalang, tetapi diam-diam menjadi kompas tunggal bagi nasib Kak Laela, anak perempuan satu-satunya ayahku.

"Ayah," panggil Nenek, suaranya halus namun tertahan, menyerupai aliran air yang merambat jauh di bawah tanah yang sunyi, namun keras kepala mencari celah di antara bebatuan takdir. “Laela nanti mau dilanjutkan ke mana sekolahnya? SMP, Madrasah.. atau mungkin harus menetap di pondok?”

Pertanyaan itu melayang pelan, hampir tak tertangkap telinga, seperti sehelai daun kering yang melepaskan diri dari ranting dengan kesadaran penuh bahwa ia tak akan pernah bisa kembali ke pucuk asalnya. Begitu ringan, memang, namun di dalam ringannya tersimpan beban musim yang amat panjang, sebuah musim yang sanggup meranggas dan mengubah warna hidup seseorang tanpa perlu banyak suara. Nenek menatap Ayah dengan mata yang memohon sebuah kepastian, sebuah jangkar di tengah badai ketidakjelasan yang mulai mengepung kami.

Ayahku menjawab tanpa menoleh lama, suaranya datar dan dingin, menyerupai jalan panjang tanpa tikungan yang membentang di padang gersang. İbarat sebuah garis lurus yang angkuh dan menolak segala kemungkinan untuk berbelok. “Ke mana pun adalah baik. Terserah ke mana saja.”

Kalimat itu seketika menjelma menjadi angin es yang menyusup lewat celah pintu tanpa diundang, merayap di antara tulang-tulang percakapan dan meninggalkan rasa hampa yang tak sanggup diterjemahkan oleh kamus mana pun. Jawaban itu jatuh begitu saja, seperti batu kecil yang dilempar ke dalam sumur tua yang sangat dalam tak terlihat riaknya di permukaan, tak terdengar keras dentumannya, tetapi gema yang dihasilkannya panjang, berulang, dan tak kunjung hilang dari kesadaranku. Ia memantul pada dinding-dinding batin, menciptakan ruang kosong yang seketika terasa semakin luas dan tak bertepi.

Ada jeda yang cukup lama setelah jawaban ayahku itu. Sebuah jeda yang bukan sekadar sunyi, melainkan ruang tempat kekecewaan mulai tumbuh perlahan, merambat seperti bayang-bayang senja yang diam-diam menelan cahaya terakhir. Nenek menunduk, jemarinya saling menggenggam erat, seolah ia sedang mencoba sekuat tenaga menahan bejana harga diri agar tidak pecah dan tumpah di depan menantunya.

"Terserah... ya?" gumam Nenek pelan, suaranya lebih mirip sebuah ratapan yang ditujukan pada dirinya sendiri daripada sebuah pertanyaan. “Apakah masa depan seorang anak hanyalah sebuah kata 'terserah' yang kau lempar seperti membuang sisa makanan ke jalanan?”

Ayah tidak menjawab. Ia tetap membatu dalam ketidakpeduliannya, seolah-olah pembicaraan ini adalah debu yang hanya perlu dikibaskan dari lengan bajunya. Udara di ruangan itu semakin menghimpit, seperti ruang kedap yang dipenuhi oleh hal-hal yang tak terucapkan namun berdenyut menyakitkan.

Pamanku, suami Bibi Ayisa, hanya bisa menyimpan bara itu di dalam dadanya. Ia berdiri di sudut ruangan seperti orang yang menahan api di balik telapak tangan. Dalam diam, namun panasnya menjalar ke mana-mana, menunggu retakan kecil untuk meledak menjadi kebakaran besar. Ia tak berkata-kata selama Ayah masih di sana, tetapi matanya adalah langit yang menggelap pekat sebelum badai besar benar-benar menyapu bumi.

Ketika Ayah akhirnya pamit dan melangkah pergi, pintu tertutup dengan bunyi berdebum yang terdengar lebih keras dari biasanya, sebagai sebuah bunyi yang menandakan bahwa sesuatu telah selesai tanpa pernah benar-benar dimulai dengan layak. Saat itulah, bendungan amarah Paman akhirnya jebol.

"Orang tua tak bertanggung jawab!" desis Paman dengan napas yang memburu, seperti seseorang yang baru saja menjatuhkan beban karung batu yang ia pikul sendirian di tanjakan terjal. “Orang tua macam apa itu? Ditanya anaknya mau sekolah ke mana, malah dijawab terserah. Seolah-olah masa depan darah dagingnya sendiri hanyalah ampas yang tak berharga untuk dipikirkan.”

Suara itu pecah seperti kaca kristal yang dihempaskan ke lantai. Jatih berserakan dan tak mungkin lagi bisa disusun kembali menjadi bentuk semula. Bibi Ayisa hanya mampu menghela napas yang amat panjang, sebuah napas yang seolah membawa seluruh keletihan dunia di dalamnya.

"Sudahlah... jangan terlalu keras di depan anak-anak," bisiknya pelan, meski suaranya sendiri bergetar karena lelah, seperti seseorang yang sudah terlalu sering menonton sandiwara yang sama berulang kali hingga ia hafal di mana letak lukanya.

Kata-kata itu menggantung di udara, seperti mendung yang menolak jatuh menjadi hujan namun tetap membuat tanah terasa dingin dan mencekam. Tak ada yang membalas. Kami semua seolah mafhum bahwa beberapa kalimat memang tidak diciptakan untuk dijawab dengan kata-kata, melainkan untuk ditanggung di atas pundak, dipikul perlahan dalam kesendirian, seperti musafir yang berjalan di gurun tanpa tempat untuk menurunkan bebannya.

Aku hanya bisa terdiam. Dalam diam seorang bocah baru naik kelas 5, mulai merasakan senyap di ruang yang perlahan-lahan retak, seperti kaca tipis yang tak mampu lagi menahan tekanan udara dari dalam. Ada harapan-harapan kecil yang pecah tanpa suara, serupa gelembung sabun yang lenyap sebelum sempat dikagumi keindahannya. Bahkan saat kami, aku dan Nenek telah menempuh jarak jauh dari kampung Tasik Selatan menuju kota ini, sebuah perjalanan yang terasa seperti memindahkan seluruh akar kenangan ke tanah yang asing dan keras, Ayah datang ke rumah ini dengan tangan yang benar-benar kosong.

Tidak ada bingkisan kecil, tidak ada sebungkus roti, atau sekadar permen yang bisa kupeluk sebagai bukti bahwa aku pernah menghuni ruang rindu di kepalanya. Aku menatap telapak tangannya yang terbuka, kosong melompong. Dan kekosongan itu terasa jauh lebih nyata, lebih tajam, dan lebih menyakitkan daripada benda apa pun yang mungkin ia bawa. Kekosongan itu seolah berkata bahwa kehadiranku bukanlah sesuatu yang layak untuk dirayakan, bahkan dengan hal kecil sekalipun.

Padahal, di dalam kepalaku yang penuh mimpi ini, aku telah membayangkan banyak hal sederhana. Misalnya sebuah plastik berisi jajanan pasar yang mungkin akan kusimpan berhari-hari sebelum kumakan karena terlalu berharga, atau sesuatu yang dibungkus kertas koran tua dengan simpul tali rafia yang rapi sebagai kado kecil yang lahir dari sebuah niat. Aku membayangkan momen ketika aku membuka bungkus itu dengan jari gemetar, menikmati bukan hanya isinya, melainkan rasa kasih sayang yang diselipkan di antara lipatan kertasnya.

Namun yang datang hanyalah raga tanpa nyawa perhatian, dan kepulangannya yang terburu-buru kembali ke Gobras terasa seperti kilat, seolah ia hanyalah pengelana yang singgah sebentar untuk memastikan dirinya masih memiliki jejak, tanpa sedikit pun keinginan untuk menetap dan menyentuh luka kami.

"Cepat sekali ia pulang..." bisik Bibi Ayisa, hampir menyerupai hembusan angin yang hilang di celah dinding.

Aku hanya menunduk, memandang ujung kakiku sendiri. Tak ada yang bisa kutanyakan, karena pertanyaan hanya akan melahirkan lubang baru di hatiku.

"Sudahlah," bisik Nenek pada dirinya sendiri, lirih dan tipis seperti suara yang tenggelam di tengah keriuhan pasar yang sebenarnya sunyi. Kata itu adalah pelukan paling rapuh yang diberikan pada jiwa-jiwa yang hadir di sana. Sebagai upaya terakhir untuk tetap tegak di atas kaki yang gemetar.

Namun, jauh di lubuk dadaku ada sesuatu yang menetap dan berakar, sebuah luka kecil yang tak kasat mata, yang terasa berdenyut setiap kali aku mengingat sore itu. Sebuah sore di pinggiran kali yang diam-diam mengajariku dengan sangat kejam bahwa tidak semua rindu akan menemui kepulangannya, dan tidak semua orang tua yang datang membawa raga benar-benar membawa hatinya untuk kita simpan.

“Itulah ayahku,” gumamku lirih, dan kalimat itu seketika mengentak jantung jiwaku. Bukan sekadar bunyi yang lahir dari celah bibir, melainkan seperti dentuman palu godam yang menghantam lonceng tua di ruang dada. Ganyangnya bergulung-gulung, berulang, menciptakan gema di lorong panjang batin yang tak berujung, seolah-olah setiap hurufnya adalah batu yang dijatuhkan ke dalam jurang tanpa dasar. Dan kalimat itu, entah mengapa, terasa seperti aku yang sedang berdiri pasrah menerima hujan tanpa payung di tengah padang luas, merasakan airnya jatuh perlahan, membasahi sekujur tubuh, meresap di balik pori-pori hingga menyentuh sumsum tulang. Ia membuatku dingin, menggigil hebat, tapi anehnya tak lagi mengejutkan, seolah-olah raga ini telah lama menjadi kawan bagi badai.

Aku merasa seolah telah berdiri berabad-abad di bawah langit yang sama, menunggu basah itu datang sebagai takdir, menunggu dingin itu menyapa sebagai pelukan, hingga akhirnya aku belajar menerima bahwa tidak semua hujan diciptakan untuk dihindari. Kadang, kita memang harus membiarkan diri kita kuyup untuk tahu seberapa dalam air mata bisa menyamar sebagai rintik langit.

“Mengapa kau diam saja, Nak?” tanya Nenek di tengah guncangan kendaraan yang membawa kami pulang dari Mitrabatik menuju terminal Cilembang. Matanya menatapku dengan binar yang redup, menyerupai lampu minyak yang nyaris kehabisan sumbu, menyimpan sisa-sisa cahaya yang berjuang melawan kegelapan.

“Aku hanya sedang menghitung sisa harapanku, Nek,” jawabku lirih. Suaraku nyaris tandas ditelan deru angin sore yang menyusup lewat celah jendela, membawa sisa-sisa bau tanah basah yang diperam hujan siang tadi.

Dari sana, pelan-pelan aku mulai memahami, atau mungkin lebih tepatnya, aku memilih untuk menyerah memahami bahwa tak ada lagi benang merah yang bisa kuharapkan dari Ayah untuk menjahit masa depan sekolahku. Meski memang bagi seorang anak perempuan, sebuah identitas yang di mata sejarah kampung kami seringkali hanya diperlakukan seperti halaman terakhir dari sebuah buku usang yang dianggap tak perlu lagi dibaca sampai habis, cukup ditutup dan dibiarkan berdebu di pojok rak.

“Anak perempuan itu tujuannya hanya satu: dapur,” begitu sering kudengar selarik kalimat itu meluncur dari mulut para tetua, yang suaranya berat dan kaku seperti batu nisan tua yang tak pernah bergeser dari tempatnya.

“Sekolah pun paling-paling hanya sekejap mata,” sambung suara lain di suatu sore yang gerah, “setelah itu pesantren.. ya, sekadar tempat mampir sambil menunggu waktu yang tepat untuk dikawinkan.”

Kalimat-kalimat itu jatuh beruntun seperti gerimis yang tak pernah benar-benar reda, tetapi tajam dan terus-menerus hingga tanpa sadar membasahi dan melunakkan cara kami memandang harga diri kami sendiri. Ia adalah sebuah erosi yang perlahan tapi pasti mengikis tebing cita-cita.

Memang, dari sekian banyak teman seangkatanku yang sesama perempuan, setidaknya hingga detik ini, belum kudengar kabar yang benar-benar nyata bahwa ada di antara kami yang akan segera dipajang di pelaminan begitu ijazah SD digenggam. Belum ada yang benar-benar berdiri kaku di bawah riasan tebal pada usia yang bahkan masih terlalu muda untuk mengerti mengapa dua orang harus tinggal di bawah atap yang sama seumur hidup. Namun, kabar semacam itu selalu datang seperti embusan angin yang membawa debu dari masa lalu. Begitu akrab karena terlalu sering didengar, tapi tak pernah jelas dari mana rimbanya bermula.

“Katanya di kampung sebelah, ada yang baru saja dipinang,” bisik Mamat saat kami sedang mencuci di pinggiran kali, suaranya seperti menyampaikan rahasia keramat yang setengah ingin dipercaya, namun setengah lagi ingin ditolak mentah-mentah oleh nalar.

Kami saling pandang dalam keheningan yang panjang, tetapi tak satu pun dari kami yang benar-benar memiliki keberanian untuk bertanya lebih jauh. Seolah-olah kabar itu adalah sebuah hantu yang tidak perlu dibuktikan keberadaannya untuk bisa terasa sangat nyata dan mengancam.

Kami tumbuh besar dengan asupan cerita-cerita lama yang terus dikunyah dan dimuntahkan kembali, seperti dongeng purba yang tak pernah selesai dibacakan di pengantar tidur. Cerita tentang kakak-kakak kelas kami yang tiba-tiba hilang dari peredaran, tentang ibu-ibu kami di masa silam, tentang perempuan-perempuan yang begitu lulus sekolah dasar, tak lama kemudian dipaksa menduduki kursi pelaminan, tempat yang tampak megah dan penuh bunga dari luar, tapi sesungguhnya adalah penjara yang sunyi jika dilihat dari dalam jiwa yang masih ingin berlari.

Keadaannya menyerupai musim yang datang mengetuk pintu tanpa pernah bertanya apakah kami sudah menyiapkan payung atau tidak. Datang begitu saja, membawa perubahan yang merampas kelereng dan karet dari tangan kami dan menggantinya dengan peralatan dapur.

“Dulu Ibu juga tidak jauh berbeda darimu,” kata ibunya Mamat dengan guratan wajah yang menceritakan seribu luka, sambil melempar senyum yang sulit sekali kutebak apakah itu tanda bahagia atau sekadar bentuk kepasrahan yang sudah mengkristal. “Tidak lama setelah lulus, langsung ada yang datang, dan Ibu pun menikah.”

Aku tidak tahu apakah itu sebuah cerita tentang indahnya pertemuan, atau sekadar sebuah kenangan pahit yang terpaksa diterima karena tak ada pilihan lain. Namun, cerita itu seketika menjadi bayangan panjang yang terus mengekor ke mana pun langkah kami pergi. Kadang ia samar seperti kabut di pagi buta, kadang terasa begitu dekat, sedekat napas dingin yang tiba-tiba menyentuh tengkuk di tengah malam yang sepi.

Seperti itulah pandangan Ayahku terhadap masa depan anak perempuannya. Begitu dekat secara jarak fisik, namun terasa amat jauh dalam hal pengertian nurani. Dan aku mulai menyadari dengan pedih, bahwa nasib kakak perempuanku, Kak Laela, barangkali akan mengalir mengikuti arus sungai yang sudah lama digali oleh leluhur kami jauh sebelum ia sempat belajar cara memegang kemudi untuk memilih arahnya sendiri.

Di antara perempuan-perempuan di kampung ini, memang ada beberapa yang sempat mencicipi dinginnya ubin pondok pesantren sebagai perjalanan yang dari luar tampak seperti pencarian ilmu yang luhur, tetapi seringkali bagi masyarakat kami, itu lebih menyerupai persinggahan sementara di sebuah peron kecil yang sepi. Mereka datang membawa tas besar, duduk menunggu dengan sabar di sana, lalu pergi lagi tanpa membawa banyak selain ketaatan, tepat ketika kereta bernama "lamaran" datang menjemput untuk membawa mereka ke stasiun berikutnya: rumah tangga.

“Biar anakmu punya sedikit pengalaman hidup,” kata seorang tetangga dengan nada ringan, seolah-olah pengalaman yang ia maksud tidak lebih dari sekadar bumbu masak yang tak terlalu penting untuk dijelaskan detailnya.

Namun di mataku yang masih polos, aku melihatnya seperti waktu yang dipinjam dengan paksa dari pemiliknya. Sebuah waktu untuk menunda keberangkatan, bukan untuk mengubah arah perjalanan. Mungkin itu hanyalah semacam kamuflase yang sangat halus, sebuah alasan yang terdengar saleh dan baik di permukaan, layaknya kain sutra bersih yang menutupi sebuah lubang besar yang tak ingin diperlihatkan kepada dunia. Namun di balik itu semua, kenyataan tetap berdetak perlahan, pasti, dan dingin, seperti jam dinding tua yang tak pernah berhenti menghitung mundur usia kebebasan kami.

“Lamaran akan datang sendiri kalau waktunya sudah masak,” ujar para orang tua, menggunakan kata "matang" dalam ukuran yang tak pernah benar-benar dijelaskan kepada kami secara logis.

“Kalau sudah ada lelaki baik yang datang mengetuk pintu, ya jangan sekali-kali ditolak,” kata seorang ibu kepada anak gadisnya, sebuah nasihat yang diwariskan turun-temurun tanpa pernah sekali pun diberi ruang untuk dipertanyakan kebenarannya.

Dan waktu, seperti biasa, hanya diam seribu bahasa, membiarkan semuanya terjadi di bawah pengawasannya yang bisu. Begitulah narasi hidup anak perempuan kampung yang dianggap biasa, yang biasa dalam arti diterima sebagai kewajaran kolektif, bukan dipilih atas dasar keinginan pribadi yang merdeka.

“Biar ada bekal dulu sebelum dilepas,” kata ibunya Mamat di suatu sore saat sedang menumbuk padi. Suaranya terdengar sangat mantap, seperti seseorang yang sudah lama sekali berdamai dengan kegelapan di dalam pikirannya sendiri.

“Bekal apa, Bu?” tanya Mamat, suaranya ringan tapi mengandung rasa ingin tahu yang sangat jujur dari dasar hati.

“Ya... supaya nanti kalau sudah ada yang melamar dan memboyongnya, dia tidak terlalu kanak-kanak lagi saat melayani suami,” jawabnya, setengah bercanda untuk menutupi rasa getir, setengah lagi sungguh-sungguh seperti orang yang tak ingin terlihat terlalu serius membicarakan hal yang sebenarnya adalah pertaruhan nyawa seorang anak.

Beberapa orang di sana tertawa kecil, tawa yang renyah namun hampa. Tawa itu terasa seperti tirai tipis yang sengaja dipasang untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih gelap di balik dada mereka masing-masing. Percakapan itu kemudian berlalu begitu saja, hanyut dibawa angin seperti sehelai daun mati yang jatuh tanpa suara. Tak ada yang mengejarnya untuk bertanya mengapa ia jatuh, tak ada yang menahannya agar tetap di dahan, tapi ia tetap meninggalkan bekas yang membekas di tanah tempat ia mendarat. 

Sejak kecil, kami telah dijejali oleh kalimat-kalimat yang diulang-ulang seperti doa yang tak pernah berubah bunyinya, atau mantra sihir yang perlahan meresap ke dalam sumsum tulang dan mengubah cara kami memahami arti hidup yang sesungguhnya.

“Apa lagi tugas manusia setelah cukup usia di dunia ini,” kata orang-orang tua kami dengan nada otoriter yang tak memberi sedikit pun celah untuk bertanya, “selain kawin, beranak-pinak, membesarkan anak hingga mereka cukup kuat untuk kemudian mengulang lingkaran hidup yang persis sama.”

Aku pernah ingin berteriak dan bertanya ke arah langit, benarkah hanya itu? Benarkah Tuhan menciptakan kami hanya untuk menjadi mesin pengulang nasib? Namun pertanyaan itu selalu berbalik arah dan tenggelam ke dalam palung diriku sendiri, seperti suara yang tak menemukan jalan keluar karena semua pintu telah dikunci dari luar. Kalimat itu seperti lingkaran setan yang tak memiliki ujung maupun pangkal. Berputar dan berputar kembali ke titik yang sama, mengulang kesalahan yang sama, tanpa pernah benar-benar berniat untuk berhenti.

Di dalamnya, ada rumah-rumah yang dibangun dari tumpukan ekspektasi, ada pekerjaan-pekerjaan yang dijalani demi kelangsungan perut, ada keluarga-keluarga yang dinaungi dengan cinta yang kaku, semuanya tersusun rapi seperti barisan batu bata yang tak boleh satu pun digeser urutannya, atau seluruh bangunan akan runtuh.

“Begitulah hidup, Nak. Tak usah banyak tingkah,” kata Nenek suatu malam, seolah-olah ia sedang menutup sebuah kitab besar yang pembicaraannya sebenarnya belum benar-benar selesai. Agar aku bisa memahami bahwa semuanya dipaksa terasa wajar, bahkan seolah-olah tak ada kemungkinan lain di luar sana selain garis yang telah digoreskan oleh tangan-tangan leluhur. 

Namun jauh di dalam dasar sukmaku, ada sesuatu yang diam-diam memberontak dan bertanya. Dengan pelan sekali, lirih, dan hampir tak terdengar di antara kebisingan dunia. Apakah benar-benar tidak ada jalan lain yang menuju cahaya, ataukah sebenarnya kamilah yang selama ini tidak pernah benar-benar diizinkan oleh sejarah untuk sekadar mencarinya?

Namun, di tengah pekatnya kabut tradisi yang seolah hendak menelan seluruh masa depan kami, tentu saja selalu ada cerita yang tak biasa. Cerita yang tidak lahir dengan ledakan suara keras atau langkah kaki yang tergesa, melainkan tumbuh perlahan menyerupai rerumputan liar yang nekat menembus tanah berbatu yang diam dan sabar, sementara akarnya menghunjam pasti ke jantung bumi. Cerita itu merangkai dirinya sendiri tanpa banyak kata, seperti ribuan benang sutra halus yang tak kasat mata namun diam-diam mengikat kuat sesuatu yang mulai bergeser di rahim kampung kami.

Perubahan itu tidak datang menyerupai badai yang mengguncang dahan-dahan tua hingga patah, melainkan seperti rintik hujan pertama setelah musim kemarau panjang yang menyiksa. Di tanah pemikiran dan kedewasaan yang memang tidak langsung menjadi basah kuyup, tapi pori-porinya perlahan mulai menyerap, mengingat kembali ingatan purba tentang bagaimana rasanya menerima anugerah air. Kesadaran tentang anak perempuan yang bersekolah tumbuh dengan cara yang hampir tak teraba, serupa cahaya subuh yang menyelinap masuk ke dalam kamar melalui celah ventilasi tanpa perlu mengetuk pintu. 

Suara-suara itu tidak memaksa, tidak memekik, hanya hadir begitu saja, dan perlahan-lahan mengubah warna kelabu di sudut-sudut ruang menjadi spektrum yang lebih terang. Dan entah bagaimana takdir menenunnya, angkatan kelas kami terpilih menjadi bagian dari denyut perubahan kecil itu, seperti titik-titik tinta kecil yang jika dikumpulkan, diam-diam menggambar garis baru dalam peta takdir kampung kami yang selama ini beku dan kaku.

"Kau lihat anak Pak Kades? Dia sekarang berangkat sekolah pakai seragam biru putih, tidak langsung ke dapur," bisik seorang kawan saat kami bermain di bawah pohon sirsak.

"Mungkin zaman memang sedang berganti kulit," jawab tetua saat kami tanya, suaranya mengandung nada heran sekaligus takjub bagi kami. Karena kemudian di antara teman sekelasku yang perempuan, kini lebih banyak yang dengan berani memilih untuk melanjutkan sekolah, atau setidaknya, kami mulai diberi ruang untuk memilih sebagai hal kemewahan yang dulu terasa sejauh bintang di langit utara yang tak mungkin disentuh tangan telanjang. Pilihan itu kini berdiri tegak di depan kami layaknya dua pintu kayu yang sama-sama terbuka lebar, tidak lagi digembok rapat oleh prasangka dan ketakutan masa lalu.

“Kalau kamu, kau mau melanjutkan sekolah, melarungkan mimpimu ke mana?” tanya Mamat padaku di suatu siang, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu yang bercampur dengan kecemasan yang halus.

“Aku… aku belum tahu pasti,” jawabku pelan, meski di balik tulang rusukku, ada sebuah keinginan yang mulai berkecambah, layaknya benih yang baru saja menemukan setitik tanah subur di antara hamparan batu koral.

Tetapi anehnya, tak ada satu pun di antara teman perempuan seangkatan kelasku yang memilih untuk masuk ke dalam pondok pesantren. Semuanya, tanpa terkecuali, memilih untuk melanjutkan sekolah formal. Keputusan kolektif itu terasa sangat sederhana di permukaan. Tetapi mungkin di kedalamannya menyerupai arus bawah laut yang bergerak melawan gelombang besar kebiasaan lama. Dengan pelan yang begitu lama, hampir tak terdengar gesekannya, tetapi cukup kuat untuk membelokkan arah biduk kehidupan kami.

Aku masih merekam dengan jelas hari ketika guru-guru kami berdiri di depan kelas, mengumumkan pendaftaran ke SMP dan Madrasah. Suasana kelas yang biasanya bising seketika berubah, seolah-olah udara mendadak menjadi lebih ringan untuk dihirup, seperti sebuah ruangan pengap yang selama ini sempit tiba-tiba menemukan jendela besarnya yang hilang. Seperti ada pintu rahasia yang mendadak muncul di dinding beton yang selama ini kami anggap sebagai jalan buntu pada pintu yang tidak hanya memperlihatkan jalan setapak, tetapi juga membentangkan cakrawala kemungkinan yang tak terbatas.

“Kalian bisa mendaftar bersama-sama. Jadi tidak perlu ada yang merasa sudah sendirian melangkah,” kata Ibu Yani, suaranya tenang mengandung wibawa yang sejuk, membawa kabar baru seperti angin yang datang dari samudra yang jauh lebih luas. “Sekarang, sudah ada SMP yang berdiri di desa kita sendiri.”

“Serius, Bu? Benar-benar di desa ini?” tanya seorang kawan dari bangku paling belakang, suaranya melompat girang melebihi gerak tubuhnya yang masih terpaku.

“Iya,” jawab beliau sambil menyunggingkan senyum, sebagai senyum yang terasa seperti lentera kecil yang dinyalakan di tengah ruang yang sebelumnya remang-remang. “Kalian tidak perlu lagi menempuh jarak jauh yang melelahkan sepertiku dulu.”

Kami saling melempar pandang dalam keheningan yang magis. Ada yang tersenyum simpul hingga matanya menyipit, ada yang hanya terpaku diam menahan haru. Tapi sepasang mata kami semua sedang membicarakan hal yang sama akan sebuah kemungkinan baru, yang kali ini, jalan menuju cahaya itu benar-benar terbentang nyata di bawah kaki kami. 

Kabar itu kemudian menyebar secepat cahaya pagi yang mengusir sisa-sisa gelap malam, yang memang tidak langsung membuat segalanya terang benderang, tapi cukup untuk membuat kami melihat bayangan masa depan dengan lebih jelas dari sebelumnya. Berdasarkan cerita yang kuhimpun, tepat dua tahun sebelumnya, sebuah gedung SMP memang mulai dibangun, dan pendaftaran sudah dibuka di desa kami sejak dua angkatan.

Saat itu aku sendiri belum melihatnya. Tetapi dapat membayangkan gedung sekolah baru, sekolah SMP akan menjadi bangunan yang tampak sangat bersahaja, dengan dinding yang belum sepenuhnya halus diampelas, dan cat yang belum merata sempurna, dengan perlahan berdiri kokoh layaknya penanda zaman bahwa sesuatu yang besar sedang bergeser. Ia adalah noktah kecil di peta yang berteriak kepada dunia bahwa di sini, di tempat yang dulu terasa terisolasi dari kemungkinan, kini telah lahir sebuah jalan yang layak untuk dipijak.

“Gedung baru itu, yang di dekat lapangan Tawang, kan?” tanya Ayip di suatu sore yang jingga.

“Betul,” sahut Dema dengan nada bangga, “katanya, guru-gurunya didatangkan langsung dari kota. Mereka membawa buku-buku yang tebal.” Lalu aku membayangkan hal itu dalam diam yang khusyuk, membayangkan ruang kelas yang masih harum bau semen, papan tulis hitam yang licin dan menunggu tarian kapur, serta kursi-kursi kayu yang seolah sedang berbisik memanggil nama-nama kami untuk menuliskan cerita yang selama ini tertunda.

Sebagai pilihan lain, di saat sekolah umum sudah mulai menyapa, sekolah Madrasah Tsanawiyah Al-Ridwan tetap berdiri megah layaknya rumah tua yang bijaksana, yang telah lebih dulu memberikan perlindungan dan ilmu bagi generasi sebelum kami. Madrasah itu menjadi muara bagi anak-anak dari berbagai desa di penjuru kecamatan sebagai tempat yang telah terbiasa menerima langkah-langkah lelah namun penuh gairah dari para pencari ilmu.

“Kalau kita ke MTs, kita bisa menimba ilmu agama sampai ke akarnya, biar hati tidak gampang goyah,” ujar Irfan, seorang kawan bak seorang dewasa, dengan nada bicara yang melampaui usianya. “Aku mau melanjutkan ke MTs Cikatomas.”

“Iya… tapi letaknya cukup jauh di seberang sana,” timpal Dema dalam obrolan saat perjalanan pulang dari rekreasi perpisahan ke Batukaras, suaranya merendah, mengingatkan kami pada kendala jarak yang sering kami dengar, yang menjadi tembok raksasa bagi mimpi-mimpi kecil kami yang hidup di kampung di tepian sungai hutan.

Dan jarak, seperti seorang hakim yang dingin, selalu punya cara sendiri untuk mendikte pilihan-pilihan manusia. Maka dengan kehadiran sekolah baru di desa kami kini menciptakan dua jalan kemungkinan yang berdampingan mesra, seperti dua anak sungai yang mengalir tenang menuju muara yang berbeda, namun sama-sama menawarkan perjalanan yang menantang maut kebodohan. Tak ada jalan yang benar-benar lebih suci dari yang lain, hanya berbeda dalam nada dan irama tujuannya sebagai kunci pendidikan.

Sebenarnya yang paling berdenyut di dalam dada kami saat itu adalah harapan itu sendiri. Harapan yang dulu terasa seperti langit yang terlalu tinggi untuk digapai jemari kecil kami, kini terasa turun beberapa jengkal, seolah bisa kami sentuh hanya dengan sedikit keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman ketidaktahuan. Dengan adanya sekolah yang lebih dekat, jarak yang dulu terasa menyerupai tembok tebal yang memisahkan kami dari dunia luar, perlahan-lahan runtuh dan berubah menjadi jalan raya, jalan yang mungkin masih berdebu, masih sempit, tapi ia nyata, bisa dirasakan permukaannya, dan bisa dipijak dengan pasti.

Aku menatap jauh ke luar jendela kelas sore itu, memerhatikan jalan tanah merah yang membentang membelah desa. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, jalan itu tidak hanya terlihat seperti rute untuk pulang ke rumah, tetapi menjelma menjadi sebuah anak panah yang menunjuk lurus menuju sesuatu yang agung, sesuatu yang selama ini bahkan belum berani kami bayangkan dalam mimpi yang paling liar sekalipun.

Demikian orang tua kami pun mulai melihat sesuatu yang sebelumnya terasa asing. Tetua kami yang awalnya bagai seseorang yang seumur hidupnya hanya mengenal warna abu-abu, lalu perlahan menyadari bahwa cakrawala memiliki spektrum pelangi yang lebih luas dari yang pernah ia duga. Ada pergeseran cara pandang yang bergerak sangat pelan, nyaris tak terdengar, serupa perputaran jarum jam di kesunyian tengah malam. Seolah tak bersuara, tetapi posisinya pasti telah berpindah.

Bagi tetua kampung, sekolah formal tak lagi dipandang berdiri berseberangan jauh dengan pesantren, seperti dua seteru yang saling menatap dengan mata curiga dari balik parit permusuhan. Sebaliknya, keduanya mulai dipahami sebagai dua belah kaki yang sama-sama diperlukan untuk menempuh perjalanan panjang di muka bumi yang kian menuntut keseimbangan. 

Perubahan itu tidak diumumkan dengan dentang lonceng atau perayaan besar, melainkan hadir dalam desau percakapan kecil di teras rumah, dalam anggukan pelan saat kenduri, atau dalam kalimat-kalimat sederhana yang diam-diam mulai berganti haluan. Seolah-olah kampung kami sedang belajar mengeja kata-kata baru dengan lidah yang masih kaku dan gemetar, namun didorong oleh degup jantung yang penuh kesungguhan.

“Zaman sekarang, sekolah itu bukan lagi sekadar pelengkap rupa,” gumam bapaknya Mamat di warung Bi Emun suatu malam. Suaranya terdengar datar seolah sedang membicarakan arah angin, tetapi maknanya menghujam lebih dalam dari sekadar basa-basi.

“Betul, Kang. Dunia di luar sana sudah tidak bisa lagi dihadapi hanya dengan tangan kosong,” sahut di sebelahnya, sambil menyeruput kopi hitam yang uapnya telah lama hilang ditelan hawa malam.

“Tapi, apakah tidak apa-apa jika anak perempuan kita sekolah terlalu tinggi? Bukankah nanti ia akan kembali ke dapur juga?” tanya yang lain, suaranya menyimpan keraguan yang pekat, serupa orang yang berdiri di depan pintu gerbang megah, tetapi tak kunjung berani mengetuk karena takut akan apa yang ada di baliknya.

“Selama ia masih tahu jalan pulang dan tahu jati dirinya,” jawab bapak Mamat, lalu melepaskan tawa kecil. Tawa yang terdengar seperti jembatan rapuh yang sedang menghubungkan daratan keyakinan lama dengan pulau kemungkinan baru. Tawa itu tidak sepenuhnya renyah, karena di sela-selanya masih terselip sisa-sisa kekhawatiran yang belum benar-benar sanggup ia usir dari kepalanya.

Sekolah, yang dahulu sering dianggap sebagai "barang titipan" orang luar, sesuatu yang lahir dari dunia yang asing, dingin, dan terasa bukan bagian dari napas kami dengan perlahan mulai diterima layaknya tamu jauh yang awalnya dicurigai sebagai ancaman, tetapi kini dipersilakan duduk di kursi kehormatan ruang tamu. 

Ada masa di mana sekolah dicurigai sebagai racun halus yang bisa mencabut anak-anak dari akar tradisinya sendiri, membuat mereka lupa cara mencium tanah kelahirannya. Namun waktu, sang tabib yang paling sunyi, bekerja dengan caranya yang misterius. Kini, orang tua kami mulai rela melepaskan genggaman tangannya, membiarkan anak-anak mereka melangkah masuk ke ruang-ruang kelas yang dulu terasa angker dan asing. Mereka membiarkan kami duduk di atas bangku kayu panjang yang keras, membiarkan jemari kami menari di atas papan tulis, dan membiarkan mata kami menjelajahi halaman-halaman buku yang aromanya seperti jendela terbuka menuju benua lain yang belum terpetakan.

“Belajar yang rajin, Nak. Isi kepalamu dengan cahaya,” bisik Bapak Kepala kepada kami di ambang pintu kelas suatu pagi, sambil merapikan tali tas kain yang jahitan tepinya sudah mulai terlepas. Kalimat itu terdengar begitu sederhana, namun bagi kami, itu adalah restu suci yang perlahan tumbuh dari tanah yang sebelumnya membatu karena prasangka.

Meski demikian, bayang-bayang masa lalu belum sepenuhnya menguap. Masih menetap seperti bayangan pohon jambu dan kersen di sore hari yang memanjang dan tak bisa dihapus hanya dengan cara memalingkan wajah. Jika pada akhirnya takdir seorang anak perempuan tetap harus bermuara pada pernikahan, masuk ke dalam ruang sempit yang sering disederhanakan menjadi trinitas kaku antara dapur, sumur, dan kasur, maka menempuh pendidikan setinggi mungkin dianggap bukan lagi sebagai sebuah kerugian yang sia-sia. Ia justru dipandang sebagai bekal tambahan, seperti musafir yang mengisi penuh kirbat airnya sebelum melintasi padang pasir yang membakar, meskipun ia tahu bahwa tempat peristirahatannya di ujung sana tidak akan berubah.

“Tidak apa-apa kau sekolah dulu,” kata Bapak Kepala lagi dengan nada yang terdengar seperti penghiburan diri sendiri, “toh nanti setelah fasih membaca buku, kau akan lebih fasih membaca keinginan suamimu.” Kalimat itu adalah batas tak kasat mata yang belum sanggup mereka lampaui, sebagai kompromi antara sayap yang ingin terbang dan rantai yang masih terikat di pergelangan kaki.

“Biar pintar sedikit, agar kelak anak-anakmu tidak lahir dari ibu yang buta huruf,” tambah Ibu Yani sambil tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyerupai garis halus di antara harapan yang menjulang dan penerimaan yang membumi.

“Nanti kalau sudah berumah tangga, kau tidak akan bingung lagi,” lanjutnya.

“Tidak bingung soal apa, Bu?” tanya Lusia dengan suara lirih, matanya menyimpan binar rasa ingin tahu yang belum sepenuhnya mengerti betapa rumitnya jaring-jaring dunia yang sedang menantinya.

“Ya... tidak bingung menjalani hidup yang memang sudah berat ini,” jawab sang ibu guru singkat, seolah jawaban itu adalah titik akhir yang mampu menutup rapat semua buku pertanyaan.

Namun di balik kesederhanaan jawaban itu, terselubung sesuatu yang jauh lebih emosional. Sebuah negoisasi batin yang tak pernah benar-benar tuntas dibicarakan. Antara sebuah harapan yang ingin melangkah lebih jauh menembus batas cakrawala, dan kekuatan gravitasi kebiasaan lama yang terus-menerus menarik langkah kami kembali ke bumi. Antara masa depan yang mulai membisikkan janji-janji kemerdekaan, dan masa lalu yang masih berdiri kokoh di ambang pintu, yang enggan untuk benar-benar pergi dan merelakan kami menjadi diri kami sendiri. Di sanalah kami berada, di persimpangan jalan yang berdebu, menanti apakah sekolah akan menjadi jembatan menuju langit atau sekadar jeda sebelum kami kembali terkubur dalam sunyinya dapur untuk seorang anak perempuan.

Dan aku mulai memahami bahwa keinginan orang tua untuk segera menyandingkan anaknya di pelaminan bukan semata karena mereka tak peduli. Bukan pula karena mereka sengaja membutakan mata terhadap binar mimpi yang menyala di mata anak-anaknya. Sebaliknya, mereka sedang memikul sebuah tanggung jawab purba yang beratnya menyerupai gunung batu di pundak. Sebuah beban yang tak pernah benar-benar bisa diletakkan kecuali jika kewajiban itu telah ditunaikan.

Ada kegelisahan senyap yang tak pernah mereka bahasakan, serupa api kecil yang terus merongrong di balik dinding dada yang tak terlihat kobarannya, tetapi hawa panasnya terus mengusik ketenangan tidur mereka. Sebuah hasrat tulus untuk memastikan bahwa darah dagingnya memiliki pelabuhan yang kokoh, memiliki atap untuk berteduh, memiliki pundak tempat bersandar, dan suatu hari nanti, mempersembahkan tawa cucu sebagai segel suci bahwa silsilah kehidupan sedang berputar sebagaimana mestinya, adalah sebuah lingkaran yang harus tetap utuh agar dunia tidak terasa runtuh.

“Kalau memang sudah bertemu jodohnya, jangan sengaja ditunda-tunda. Pamali menolak rezeki,” ujar Nenek pada suatu petang. Suaranya pelan, namun mengandung kemantapan mutlak, seolah ia sedang membacakan garis nasib dari lembaran pengalaman yang telah menguning dimakan usia.

Ia mengucapkannya sembari menatap tajam ke arah Kak Laela. Getaran kalimat itu merambat, menyentuhku dan kami semua yang duduk melingkar dalam remang lampu minyak yang menari-nari ditiup angin malam. Aku mencuri pandang ke wajah kakak perempuanku, mencari setitik retakan emosi di sana. Namun, wajah Kak Laela tetap menyerupai permukaan sumur tua yang tenang; ia menyimpan misteri yang tak terjangkau cahaya, menelan semua gejolak ke dalam kedalaman yang paling sunyi.

Hening segera menyergap ruangan rumah, menyisakan suara sumbu lampu yang berderak kecil dan deru serangga malam di luar dinding papan. Tak ada bantahan, tak ada pula persetujuan yang terucap. Di kampung ini, kata-kata orang tua sering kali dianggap sebagai titah alam yang tak terbantahkan, serupa musim yang datang tanpa perlu meminta izin pada tanah yang akan dibasahinya. Aku melihat bayangan Kak Laela memanjang di dinding, tampak rapuh namun kaku, seolah ia sedang mempersiapkan diri untuk menerima beban yang sudah disiapkan sejarah bagi setiap perempuan di garis keturunan kami.

Aku menunduk, menatap jemariku sendiri yang gemetar di bawah meja. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghuni rongga dada sebagai ketakutan yang tak bernama. Jika malam ini adalah giliran Kak Laela yang harus menyerah pada takdir bernama "perjodohan", maka berapa lama lagi waktu yang tersisa bagiku sebelum pintu sekolah benar-benar tertutup dan digantikan oleh gembok dapur yang dingin?

Malam itu, di bawah temaram lampu yang mulai meredup, aku menyadari bahwa masa depan kami tidak sedang ditulis di atas kertas putih yang bersih, melainkan sedang ditenun oleh tangan-tangan masa lalu. Dan di tengah keheningan yang menyesakkan itu, aku hanya bisa berdoa dalam hati, berharap agar sumur tenang di wajah Kak Laela tidak benar-benar menyimpan badai yang akan menghancurkan mimpinya, juga mimpiku, selamanya. (Bersambung)

Perspektif

Scroll