Siapa yang paling berjasa dalam mengantarkan Joko Widodo menuju kursi presiden? Pertanyaan itu kembali mengemuka setelah Jusuf Kalla menyatakan perannya dalam mendorong pencalonan Jokowi sejak Pilkada DKI Jakarta 2012 hingga Pilpres 2014. Pernyataan tersebut dibenarkan oleh politikus Ferdinand Hutahaean, tetapi tanpa pengakuan dari kelompok relawan seperti Projo. Perdebatan ini membuka kembali diskusi lama tentang bagaimana proses politiknya, apakah kemenangan ditentukan oleh kehendak rakyat semata, atau juga oleh manuver elite di belakang layar.
Ferdinand mengakui dan menempatkan JK sebagai aktor kunci dalam fase awal karier politik seorang Jokowi di tingkat nasional. Ia mengungkapkan bahwa JK secara konsisten mengusulkan nama Jokowi kepada Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, baik dalam konteks Pilkada DKI 2012 maupun menjelang Pilpres 2014.
“Bahwa yang disampaikan oleh Pak JK itu memang betul adanya. Kalau pun teman-teman relawan mungkin malu mengakui jasanya Pak JK ya enggak apa-apa, hak mereka,” ujar Ferdinand, Kamis (23/4/2026). Ia menambahkan bahwa keputusan PDIP mengusung Jokowi pada 2014 terjadi di saat-saat terakhir. Bahkan, menurutnya, Megawati baru memberikan persetujuan dengan syarat JK bersedia mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden. “Ibu setuju yang penting Pak JK mendampingi Jokowi karena JK senior untuk membimbing Jokowi ke depan,” kata Ferdinand.
Dalam perspektif ini, kemenangan Jokowi tidak hanya dilihat sebagai hasil pilihan rakyat, tetapi juga sebagai buah dari proses seleksi politik yang ketat di internal partai. Ferdinand menekankan satu hal penting bahwa dalam sistem demokrasi elektoral, rakyat memang memilih, tetapi pilihan itu dibatasi oleh kandidat yang diajukan partai. “Demokrasi kita memang betul adalah one man, one vote, rakyat memilih langsung. Tetapi jangan lupa bahwa rakyat itu hanya memilih siapa yang telah dipilih,” ujarnya.
Namun, narasi tersebut bukan tanpa bantahan. Relawan Projo menolak klaim bahwa satu individu memiliki peran dominan dalam kemenangan Jokowi. Mereka menegaskan bahwa keberhasilan Jokowi adalah hasil kerja kolektif dan dukungan luas masyarakat. “Jokowi terpilih menjadi presiden karena kehendak rakyat dan kerja kolektif, bukan karena andil satu orang,” demikian pandangan yang disampaikan pihak relawan.
Pandangan ini sejalan dengan argumen banyak pengamat politik yang melihat kemenangan Jokowi pada 2014 sebagai fenomena sosial-politik yang lebih luas. Saat itu, Jokowi dianggap sebagai representasi figur alternatif yang berasal dari luar elite tradisional, dengan citra sederhana dan dekat dengan rakyat. Dukungan publik yang besar, ditambah momentum politik saat itu, menjadi faktor penting yang sulit direduksi hanya pada peran satu tokoh.
Sejumlah analis juga menilai bahwa pernyataan JK dapat dibaca sebagai bagian dari upaya merekonstruksi ingatan politik. Dalam dunia politik, klaim atas “jasa” sering kali menjadi cara untuk menegaskan posisi dalam sejarah dan menjaga relevansi dalam percakapan publik hari ini. Meski klaim semacam ini juga rentan diperdebatkan, karena proses politik pada dasarnya bersifat kolektif dan kompleks.
Di sisi lain, data pemilu menunjukkan bahwa pada Pemilihan Presiden Indonesia 2014, Jokowi-JK meraih sekitar 53 persen suara nasional adalah angka yang mencerminkan dukungan mayoritas, tetapi juga menunjukkan adanya kompetisi ketat dengan lawan politiknya. Artinya, kemenangan tersebut merupakan hasil kombinasi antara strategi elite, mesin partai, dan preferensi pemilih.
Perdebatan tentang siapa yang “berjasa” dalam karier politik seorang pemimpin mungkin tidak pernah benar-benar selesai. Sejarah politik bukanlah garis lurus yang dibentuk oleh satu tangan, melainkan anyaman dari banyak kepentingan, keputusan, dan kebetulan. Jusuf Kalla boleh jadi memainkan peran penting dalam membuka jalan. Partai politik menyediakan kendaraan. Relawan menggerakkan basis dukungan. Dan rakyat, pada akhirnya, memberikan legitimasi.
Namun di antara semua itu, ada satu hal yang kerap terlupakan bahwa kekuasaan bukan hanya soal siapa yang mengantarkan seseorang naik, tetapi juga tentang bagaimana ia menggunakan kesempatan itu setelah berada di puncak. Di situlah sejarah sesungguhnya diuji, bukan pada klaim jasa, melainkan pada jejaknya yang ditinggalkan dan dikenangkan publik. (Red)