Konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dalam beberapa pekan terakhir memicu eskalasi geopolitik global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketegangan ini bukan sekadar letupan senjata di padang pasir, melainkan manifestasi dari pergeseran kekuatan dunia yang melibatkan proksi, teknologi siber, hingga diplomasi energi.
Wawancara dengan Profesor Mohammad Marandi dari Universitas Teheran yang dipublikasikan oleh Brasil de Fato mengklaim Iran berada di atas angin dalam konflik ini. Namun, bagaimana realitas di lapangan, siapa yang diuntungkan, dan sejauh mana klaim tersebut dapat diverifikasi, menjadi pertanyaan penting di tengah kabut informasi, propaganda, dan kepentingan politik yang saling bertabrakan. Di tengah dentuman rudal, kebenaran seringkali menjadi korban pertama yang jatuh di medan tempur.
Dalam wawancara tersebut, Mohammad Marandi menyampaikan pandangan tegas bahwa Iran telah memberikan “kerusakan yang tidak dapat dipulihkan” terhadap Israel dan bahkan menyebut situasi ini sebagai awal dari kejatuhan Israel dan melemahnya dominasi Amerika Serikat. Pernyataan ini mencerminkan optimisme tinggi dari perspektif internal Iran, sebuah upaya untuk membakar semangat domestik sekaligus mengirimkan sinyal intimidasi kepada lawan. Ia juga menilai keberhasilan militer Iran sebagai “kemenangan besar bagi umat manusia,” sebuah klaim yang jelas sarat muatan ideologis dan geopolitik. Narasi ini tidak berdiri sendiri karena merupakan bagian dari upaya membangun legitimasi moral sekaligus memperkuat posisi tawar Iran di panggung internasional, memposisikan Teheran bukan sebagai agresor, melainkan sebagai pembela tatanan dunia baru.
Sementara sejumlah analis Barat melihat situasi ini secara berbeda. Menurutnya ada jurang yang lebar antara retorika politik dan kalkulasi strategis di balik pintu tertutup. Beberapa laporan dari lembaga seperti International Crisis Group dan RAND Corporation menunjukkan bahwa konflik Iran–Israel lebih tepat dibaca sebagai perang terbatas (limited war), di mana kedua pihak sama-sama menahan diri agar tidak jatuh ke dalam perang total yang berisiko global. Penggunaan drone dan rudal balistik dalam pola yang terukur menunjukkan bahwa ini adalah "pertunjukan kekuatan" ketimbang upaya penghancuran total.
Seorang analis keamanan Timur Tengah dari Carnegie Endowment for International Peace, misalnya, menyebut bahwa “Setiap pihak saat ini lebih banyak berperang di ranah persepsi daripada benar-benar ingin memenangkan perang secara militer penuh.” Dalam teater peperangan ini, memenangkan hati publik dunia dan menjaga stabilitas internal jauh lebih krusial daripada sekadar menduduki wilayah geografis lawan.
Marandi menyebut Iran berhasil menyerang pangkalan-pangkalan AS dan menembus sistem pertahanan Israel. Ia juga mengklaim bahwa Iran masih menyimpan persenjataan yang lebih canggih untuk tahap berikutnya, sebuah gertakan strategis yang bertujuan untuk menciptakan ketidakpastian di pihak lawan. Di sisi lain, laporan dari media seperti BBC dan Al Jazeera menunjukkan bahwa meskipun terjadi serangan balasan dari Iran, sistem pertahanan seperti Iron Dome milik Israel, David's Sling, serta dukungan sistem pertahanan udara AS masih berfungsi cukup efektif dalam mencegah kerusakan yang lebih luas.
Faktanya, efektivitas serangan militer modern kini diukur dari persentase penetrasi terhadap sistem interceptor. Seorang pejabat pertahanan AS yang dikutip oleh Reuters menyatakan, “Serangan Iran memang meningkat dalam kompleksitas, tetapi sebagian besar masih dapat dicegat atau diminimalkan dampaknya.”
Perbedaan narasi ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di ruang informasi di mana setiap pihak berusaha membentuk persepsi global tentang siapa yang memiliki teknologi lebih unggul dan siapa yang lebih rentan.
Wawancara tersebut juga menyinggung posisi politik Amerika Serikat, khususnya Presiden Donald Trump, yang disebut berada dalam tekanan akibat janji kampanye “tidak ada perang baru.” Marandi menilai keterlibatan AS lebih didorong oleh kepentingan kelompok tertentu daripada kepentingan nasional. Sudut pandang ini menyoroti keretakan dalam kebijakan luar negeri Washington yang terjepit di antara komitmen terhadap sekutu dan kelelahan publik domestik akan perang yang berkepanjangan di luar negeri.
Menurut survei Pew Research Center, dukungan publik AS terhadap keterlibatan militer di Timur Tengah memang cenderung menurun dalam satu dekade terakhir. Hal ini memperkuat argumen bahwa setiap eskalasi militer memiliki konsekuensi politik domestik yang signifikan, terutama menjelang tahun-tahun politik yang krusial.
Namun karena tekanan geopolitik, aliansi strategis dengan Israel, serta dinamika keamanan kawasan di Selat Hormuz menjadi faktor utama keputusan Washington. Amerika Serikat menyeimbangkan perannya sebagai polisi dunia dengan kebutuhan untuk menjaga harga minyak global tetap stabil.
Marandi juga menekankan kedekatan Iran dengan Rusia dan Tiongkok sebagai faktor penting dalam menghadapi tekanan Barat. Ia menyebut hubungan ini semakin kuat pascakonflik, membentuk apa yang sering disebut sebagai "Poros Perlawanan" terhadap unilateralisme Amerika. Berdasarkan data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan adanya peningkatan kerja sama militer dan ekonomi antara ketiga negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir, termasuk latihan militer bersama di Samudra Hindia.
Namun, para pengamat menilai hubungan ini tetap bersifat pragmatis, bukan aliansi formal seperti NATO. Rusia dan Tiongkok memiliki kepentingan ekonomi yang luas dengan negara-negara Teluk lainnya, sehingga mereka cenderung berhati-hati agar tidak terseret terlalu dalam ke dalam ambisi regional Iran. Seorang peneliti dari Brookings Institution menyatakan: “Kerja sama Iran, Rusia, dan Tiongkok lebih didorong oleh kepentingan bersama melawan dominasi Barat, bukan karena kesamaan ideologi sepenuhnya.” Ini adalah aliansi kepentingan yang disatukan oleh musuh yang sama, namun tetap memiliki agenda nasional yang berbeda-beda.
Salah satu poin penting dalam wawancara adalah tuduhan bahwa Israel dan Barat melakukan sensor ketat terhadap informasi kerusakan akibat serangan Iran. Marandi menyebut hal ini sebagai bukti bahwa “kebebasan informasi di Barat adalah ilusi.” Tuduhan ini menyasar pada jantung klaim demokrasi Barat, yaitu transparansi. Namun, isu sensor ini juga perlu dilihat secara berimbang. Dalam situasi perang, hampir semua negara, termasuk Iran menerapkan kontrol informasi dan protokol keamanan siber yang ketat untuk alasan keamanan nasional dan mencegah kepanikan publik.
Laporan dari Committee to Protect Journalists (CPJ) menunjukkan bahwa pembatasan informasi selama konflik bersenjata adalah praktik yang umum terjadi di berbagai negara, baik demokrasi maupun non-demokrasi. Informasi kini telah menjadi amunisi, mengendalikan apa yang dilihat publik sama pentingnya dengan mengendalikan wilayah udara. Di era digital, kebenaran seringkali terkubur di bawah tumpukan algoritma dan kampanye disinformasi yang sistematis.
Konflik ini memperlihatkan satu hal yang semakin jelas dalam geopolitik modern bahwa perang bukan lagi sekadar soal kekuatan militer, tetapi juga soal narasi, legitimasi, dan persepsi global. Senjata hanya menyelesaikan separuh pertempuran, dan separuh lainnya dimenangkan di layar ponsel dan meja-meja diplomasi. Klaim kemenangan dari satu pihak tidak selalu mencerminkan realitas objektif, melainkan menjadi bagian dari strategi komunikasi politik untuk menjaga moral bangsa. Di sisi lain, bantahan dari pihak lawan pun tidak sepenuhnya bebas dari bias kepentingan strategis.
Di tengah derasnya informasi dan disinformasi, publik global dihadapkan pada tantangan baru untuk memilah mana fakta dan mana propaganda. Kita perlu menyadari bahwa setiap data yang sampai ke hadapan kita telah melewati berbagai filter kepentingan. Kepekaan untuk membaca di antara baris-baris berita menjadi syarat mutlak untuk memahami arah dunia saat ini.
Mungkin yang paling penting bukan siapa yang “menang” dalam perang ini, tetapi bagaimana konflik ini membentuk ulang peta kekuatan dunia dan bagaimana manusia, di berbagai belahan bumi, harus kembali menanggung konsekuensi dari pertarungan yang tidak mereka pilih. Kenaikan harga komoditas, ketidakpastian ekonomi, dan ancaman krisis kemanusiaan adalah harga nyata yang harus dibayar oleh warga dunia.
Perang, dalam bentuk apa pun, selalu meninggalkan satu hal yang sama tentang luka yang lebih lama dari kemenangan itu sendiri. Dan dalam setiap luka itu, terdapat pengingat bahwa perdamaian yang berkelanjutan hanya bisa dicapai melalui dialog yang jujur, bukan melalui monolog retorika kemenangan yang semu. (Red)