Menghidupkan Sejarah, Menggerakkan Ekonomi: Strategi Baru Kepri di Pulau Penyengat

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau kini tengah menata ulang wajah sejarahnya. Langkah besar diambil...

Menghidupkan Sejarah, Menggerakkan Ekonomi: Strategi Baru Kepri di Pulau Penyengat

Politik
25 Apr 2026
125 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Menghidupkan Sejarah, Menggerakkan Ekonomi: Strategi Baru Kepri di Pulau Penyengat

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau kini tengah menata ulang wajah sejarahnya. Langkah besar diambil dengan menghidupkan kembali Pulau Penyengat sebagai pusat pariwisata berbasis budaya dan religi melalui revitalisasi kawasan dan pendekatan pariwisata regeneratif. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, program ini dirancang guna mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus menjaga warisan sejarah Melayu-Islam. Program ini dijalankan sejak beberapa tahun terakhir dan diperkuat secara masif pada periode 2025–2026, sebagai langkah yang berjalan beriringan dengan arah kebijakan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024–2029 yang menekankan pembangunan pariwisata berkelanjutan dan berbasis komunitas.

Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata kecil di pesisir Kota Tanjungpinang. Secara historis, ia adalah simpul sejarah besar yang menyimpan jejak peradaban Melayu yang gemilang. Di tanah seluas kurang lebih 2 kilometer persegi inilah, Raja Ali Haji merumuskan Bustanus al-Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa, fondasi tata bahasa Melayu yang kelak menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia. Statusnya sebagai kawasan cagar budaya nasional menjadikan pulau ini bukan hanya ruang wisata, tetapi juga "ruang ingatan kolektif" bangsa yang harus dirawat dengan penuh ketelitian.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah mencoba menggeser cara pandang terhadap pengelolaan destinasi wisata dari sekadar eksploitasi kunjungan menjadi upaya regenerasi yang menyentuh aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya. Transformasi ini bukan hanya soal mempercantik fisik, melainkan menyembuhkan dan menghidupkan kembali ekosistem yang ada. Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Hasan, menegaskan bahwa pendekatan ini menjadi arah utama pembangunan.

“Pulau Penyengat bukan hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi daerah melalui pengembangan pariwisata berbasis budaya dan religi,” ujarnya dalam sebuah kesempatan. Revitalisasi dilakukan secara bertahap namun masif, mencakup penataan jalan kawasan menggunakan paving block yang estetis, perbaikan sistem drainase untuk mencegah genangan, pemasangan lampu penerangan jalan umum bertenaga surya, hingga penyediaan fasilitas umum seperti toilet standar internasional dan sistem pengelolaan sampah berbasis lingkungan. 

Balai Adat Pulau Penyengat turut direnovasi sebagai pusat aktivitas budaya, ruang pertemuan tokoh adat, sekaligus daya tarik wisata baru yang merepresentasikan kemegahan arsitektur Melayu. Kebijakan ini juga sejalan dengan visi besar pemerintah pusat di bawah arahan Prabowo Subianto melalui Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Rapi, dan Indah) serta Gerakan Wisata Bersih. Inisiatif ini menekankan bahwa kebersihan dan kenyamanan destinasi adalah faktor determinan dalam meningkatkan daya saing pariwisata nasional di mata dunia, terutama untuk menarik wisatawan mancanegara yang semakin peduli pada isu keberlanjutan.

Dari sisi ekonomi, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama. Pariwisata tidak boleh hanya menjadi tontonan, melainkan harus menjadi "tuntunan" ekonomi bagi warga sekitar. Pemerintah terus mendorong penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengelolaan homestay yang ramah bagi turis asing, serta pengembangan atraksi wisata berbasis pengalaman (experiential tourism). 

Data terbaru dari Dinas Pariwisata menunjukkan tren positif selama periode Januari hingga Maret 2026, tercatat sekitar 6.200 wisatawan telah mengunjungi Pulau Penyengat. Para pelancong ini datang dari Malaysia, Singapura, Eropa, hingga berbagai penjuru Indonesia, membuktikan bahwa daya tarik religi dan sejarah Penyengat memiliki resonansi lintas batas.

Peningkatan arus kunjungan ini membuka pintu peluang ekonomi yang luas bagi warga pulau. “Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, ini menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk mengembangkan UMKM, homestay, serta berbagai layanan wisata lainnya,” kata Hasan menegaskan optimisme pemerintah.

Namun, di balik optimisme tersebut, sejumlah pengamat mengingatkan adanya potensi risiko jika pengembangan tidak dikelola secara hati-hati, agar pembangunan tidak kehilangan arah. Beberapa akademisi pariwisata menilai bahwa konsep pariwisata regeneratif kerap kali berhenti pada jargon administratif tanpa implementasi yang konsisten di lapangan. Mereka menggarisbawahi pentingnya menjaga "daya dukung" (carrying capacity) pulau agar tidak rusak akibat kelebihan beban kunjungan.

Seorang peneliti pariwisata dari perguruan tinggi di Sumatera, misalnya, memberikan catatan kritis bahwa lonjakan kunjungan wisata bisa berdampak pada tekanan lingkungan dan komersialisasi budaya yang dangkal. “Jika tidak dikontrol, revitalisasi justru bisa menggerus keaslian budaya lokal. Pariwisata berbasis warisan sering terjebak pada komodifikasi identitas, di mana nilai-nilai sakral dikalahkan oleh kepentingan swafoto semata,” ujarnya mengingatkan.

Di sisi lain, para pelaku UMKM lokal menyambut baik perubahan fisik dan peningkatan fasilitas ini, meski mereka tetap menaruh harapan pada adanya pendampingan yang berkelanjutan. Mereka menilai bahwa pelatihan manajerial, standardisasi layanan, dan akses pasar digital masih menjadi tantangan utama agar warga lokal bisa bersaing secara global dan memberikan layanan berkualitas bagi wisatawan yang semakin cerdas.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menyatakan komitmennya untuk melanjutkan pengembangan Pulau Penyengat dengan sejumlah rencana strategis jangka panjang. Salah satu proyek mercusuar yang tengah disiapkan adalah pembangunan Monumen Bahasa Nasional dan penguatan infrastruktur pendukung ekonomi kreatif lainnya. Proyek ini diharapkan tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah bahasa, tetapi juga menjadi pusat gravitasi baru bagi para pemikir, penulis, dan wisatawan minat khusus.

“Monumen bahasa ini akan menjadi ikon baru yang tidak hanya memperkuat identitas sejarah, tetapi juga memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kepri secara keseluruhan,” ujar Hasan.

Di titik ini, Pulau Penyengat seperti berdiri di antara dua arus yang saling berkelindan, antara menjaga sejarah yang sakral dan menyambut keramaian ekonomi yang dinamis. Ia bukan lagi sekadar pulau kecil di muara sungai, tetapi menjadi ruang negosiasi yang hidup antara masa lalu yang gemilang dan masa depan yang menantang. Revitalisasi ini adalah taruhan besar untuk membuktikan bahwa modernitas tidak harus menumbangkan tradisi.

Sebab pariwisata bukan hanya soal angka statistik kunjungan atau persentase pertumbuhan ekonomi yang tercatat di atas kertas. Ia adalah tentang bagaimana sebuah masyarakat merawat ingatannya, menghormati leluhurnya, tanpa harus kehilangan jati diri di tengah arus globalisasi. Pulau Penyengat mengajarkan sebuah kebijaksanaan penting bagi kita bahwa membangun masa depan tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu, kadang justru sebaliknya, masa lalulah yang menjadi fondasi paling kokoh untuk melangkah lebih jauh dan terbang jauh lebih tinggi. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll