Malam semakin larut merangkak menuju fajar, dan kedai temaram itu menjadi hampir sepenuhnya lengang. Satu per satu pengunjung terakhir telah meninggalkan meja mereka, berjalan keluar membawa urusan masing-masing dan menyisakan bunyi mesin espresso yang sesekali berdengung pelan di balik bar, berpadu dengan alunan lagu instrumental tua yang mengalun begitu lirih hingga lebih menyerupai embusan angin malam daripada sebuah karya musik.
Di luar jendela, rintik gerimis turun semakin rajin, membasahi permukaan aspal jalanan yang memantulkan pijar cahaya lampu kota menjadi serpihan-serpihan warna keemasan yang bergetar di atas genangan air. Seolah malam sedang menulis ulang dirinya sendiri di atas kanvas jalanan yang basah, menghapus jejak hari yang melelahkan.
Sanjaya dan Nabila masih teguh bertahan di sudut meja yang sama, menolak untuk buru-buru beranjak pergi. Cangkir-cangkir kopi di hadapan mereka telah lama kosong dan mengering, tetapi percakapan di antara keduanya justru terasa semakin padat dan penuh. Ternyata memang ada jenis pembicaraan yang diciptakan tidak untuk pernah selesai hanya dalam sekali duduk yang singkat. Topik itu terus bertambah, terus bercabang ke berbagai arah dengan liarnya, sebagaimana akar pohon tua yang diam-diam merambat mencari sumber air jauh di dalam gelapnya tanah. Semakin dalam mereka menggali lapisan pikiran masing-masing, semakin banyak pula lorong batin yang mempertemukan seorang manusia dengan pertanyaan-pertanyaan fundamental yang selama bertahun-tahun sengaja ia sembunyikan rapat-rapat dari hadapan dirinya sendiri.
Nabila mengalihkan pandangannya yang lelah dari wajah Sanjaya, membiarkan bening matanya menatap butiran-butiran air hujan yang menempel erat, lalu merayap lambat di atas permukaan kaca jendela yang dingin dan berembun. Gerak-geriknya begitu tenang, selaras dengan ritme malam yang kian merayap dalam keheningan total.
"Tuhan, agama, dan kitab suci," katanya memulai kalimat dengan nada yang teramat pelan dan hati-hati, nyaris tenggelam sepenuhnya oleh suara rintik hujan yang berderai di luar sana, "pada hakikatnya adalah bagian yang tak terpisahkan dari jejak panjang peradaban manusia dalam usahanya yang tak pernah usai untuk memahami misteri semesta."
Ia berhenti sesaat, membiarkan napasnya terhela berat di udara yang mulai mendingin sebelum kembali merangkai kata. Ruang jeda itu memberikannya waktu untuk menata kembali serpihan pikirannya agar tidak kehilangan arah di tengah lorong pemikiran yang semakin dalam.
"Aku sama sekali tidak sedang mengatakan bahwa semua warisan budaya dan spiritual itu tidak berguna atau tidak memiliki arti apa-apa bagi sejarah perjalanan umat manusia," lanjutnya dengan sorot mata yang menerawang jauh menembus batas kaca.
Suaranya terdengar begitu tenang dan terukur, menyerupai seseorang yang sedang menyusun batu demi batu dengan penuh ketelitian di tepi tebing, memastikan agar tidak ada satu pun fondasi yang runtuh hanya karena ketergesaan.
"Justru sebaliknya. Semua itu sangat berguna, bahkan teramat penting untuk menjaga agar manusia tidak kehilangan pegangan di tengah dunia yang kerap terasa begitu menakutkan."
Ia mengusap pelan bibir cangkir kopinya yang telah kosong dengan ujung jarinya, memutar benda keramik itu perlahan tanpa tujuan pasti.
"Tetapi bagiku pribadi, kitab-kitab suci itu pada akhirnya juga adalah sebuah arsip sejarah. Ia adalah catatan perjalanan jiwa manusia masa lalu ketika mereka dengan segala keterbatasannya berusaha keras memahami langit yang bisu, memahami isi kepalanya sendiri, serta meredakan rasa takut yang selalu setia mengikuti setiap langkah hidupnya."
Sanjaya mendengarkan setiap patah kata yang meluncur tanpa sedikit pun berniat menyela atau memotong alur pemikiran yang sedang dibangun di hadapannya.
Seiring berjalannya waktu malam itu, ia mulai mengenali dan memahami pola pikir Nabila yang begitu khas. Perempuan di seberangnya itu tidak pernah tergesa-gesa menyampaikan kesimpulan akhir di awal percakapan. Ia selalu memilih untuk membangun jembatan gagasan sedikit demi sedikit dengan penuh kesabaran, memberikan kesempatan yang luas kepada lawan bicaranya untuk berjalan bersamanya menyeberangi lautan argumen, sebelum akhirnya memperlihatkan ke mana persisnya arah jembatan pemikiran itu bermuara.
Nabila kembali melanjutkan bicaranya, membiarkan suaranya mengisi ruang kosong di antara deru hujan.
"Kadang aku merasa kita sebagai manusia yang terlalu lama terjebak dan memandangi peninggalan masa lalu dengan kekaguman yang berlebihan," ucapnya dengan nada yang menyiratkan sebuah keprihatinan batin yang mendalam.
Tatapannya masih enggan berpindah dari tetesan air hujan yang membasahi kaca jendela.
"Kita begitu mudah mengagungkan kemegahan candi, mengagungkan prasasti kuno yang mulai aus, mengagungkan kejayaan kerajaan-kerajaan besar di masa silam, seolah-olah seluruh kebesaran dan potensi manusia hanya tertinggal di belakang kita, bukan di depan mata."
Ia menoleh perlahan, mengalihkan pandangannya untuk menatap Sanjaya secara langsung dengan sorot mata yang menuntut permenungan.
"Coba lihat Borobudur dengan segala kerumitan reliefnya. Lihat pula situs megalitikum Gunung Padang yang menyimpan sejuta misteri. Tidak bisa dipungkiri, keduanya memang pencapaian peradaban yang luar biasa hebat."
Ia tersenyum kecil, senyum yang diwarnai oleh sedikit ironi.
"Tetapi kalau setiap hari dalam hidup ini kita hanya berdiri termangu mengagumi batu-batu bisu itu tanpa pernah mau bertanya apa yang sebenarnya harus kita bangun untuk hari ini, bukankah kita sedang menjadikan masa lalu sebagai tempat tinggal yang nyaman untuk bersembunyi, alih-alih menjadikannya sebagai guru yang menuntun kita melangkah?"
Kalimat itu mengendap cukup lama di udara, meresap perlahan dan menciptakan ruang hening yang sarat akan beban reflektif di antara mereka berdua.
Sanjaya perlahan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, membiarkan punggungnya menanggung keheningan itu sementara otaknya berputar keras. Ada sesuatu yang sangat jujur dan telak dalam ucapan Nabila yang diam-diam langsung ia setujui, meskipun ada bagian batinnya yang masih meraba-raba.
Ingatan Sanjaya seketika melompat jauh kembali ke kampung halamannya, mengenang kembali cerita-cerita luhur tentang para leluhur dan kebesaran masa silam yang selalu didengungkan dengan penuh rasa bangga oleh orang-orang tua. Namun malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sanjaya mulai meragukan warisan itu. Dengan mulai bertanya dalam hati, apakah rasa bangga pada masa lalu benar-benar sudah cukup untuk membuat sebuah bangsa dan jiwa manusia bergerak maju ke depan?
Nabila melanjutkan kalimatnya dengan intonasi yang semakin lirih, seolah suaranya sedang berbisik langsung pada keheningan malam yang kian pekat.
"Tentu saja tidak pernah ada yang salah dengan mencintai warisan masa lalu," ucapnya dengan penekanan yang lembut tapi sarat makna.
"Sama sekali tidak salah mengagungkan apa yang pernah dicapai oleh para pendahulu kita."
"Sebab bagaimanapun juga, setiap peradaban di muka bumi ini membutuhkan ingatan untuk merajut masa depannya."
Nabila menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang menyiratkan kedewasaan berpikir dan kematangan jiwa yang jarang ditemui pada orang seusianya.
"Manusia atau sebuah bangsa yang kehilangan ingatan atas akar masa lalunya," lanjut Nabila dengan intonasi yang semakin tegas, "cepat atau lambat pasti akan kehilangan jati diri dan arah tujuan hidupnya di tengah arus zaman yang terus berubah."
Ia menghela napas perlahan, membiarkan dadanya turun naik dalam ritme yang teratur untuk menata jeda kalimatnya.
"Tetapi sebaliknya, orang yang memilih untuk hanya hidup mendekam di dalam bayang-bayang ingatan dan kejayaan masa lalu, sampai kapan pun tidak akan pernah benar-benar hidup di masa kini."
Gerimis di luar kedai turun semakin rapat dan pekat, mengubah rintikan tipis tadi menjadi tirai air yang kian masif menyelimuti malam. Butiran-butiran air hujan mengalir deras menuruni permukaan kaca jendela yang dingin, membentuk garis-garis waktu yang saling mengejar tanpa henti di balik sekat ruangan yang hangat. Sanjaya memandangi pemandangan melankolis itu sejenak, membiarkan pikirannya berenang bersama deru hujan, sebelum kembali mengalihkan seluruh perhatian dan tatapannya kepada perempuan di hadapannya.
"Kalau begitu, menurutmu agama juga menempati posisi yang sama seperti itu?" tanya Sanjaya dengan nada penasaran yang tulus, merajut benang merah dari argumen sebelumnya.
Nabila mengangguk pelan, menyetujui arah pertanyaan tersebut dengan sorot mata yang kian tajam.
"Ya, dalam banyak hal yang fundamental, agama adalah wujud dari puncak pencapaian ruhani manusia di sepanjang sejarah peradaban."
Ia menatap mata Sanjaya lekat-lekat, memastikan pesannya tersampaikan tanpa ada sekat.
"Kalau kita ingin meminjam kerangka berpikir Plato untuk merumuskannya, kita bisa mengatakan bahwa manusia sebenarnya membangun dan menghuni dua dunia yang berbeda." Seraya mengangkat sebelah jarinya untuk mempertegas pembagian itu.
"Pertama, dunia benda, tempat di mana kita berpijak, membangun rumah, dan merusak alam." Ia melanjutkan dengan mengangkat jari yang lain, melengkapi gagasan di hadapan lelaki yang menyimaknya penuh minat.
"Kedua, dunia gagasan, tempat di mana nilai, hukum, keyakinan, dan peradaban pertama kali diciptakan sebelum ia mewujud dalam kenyataan."
"Monumen megah seperti Candi Borobudur mungkin mewakili salah satu puncak pencapaian tertinggi dari dunia benda," ujar Nabila sambil menunjuk sekilas ke arah luar jendela seolah menarik garis imajiner masa lalu, "sementara sistem keyakinan dan agama agung lainnya mewakili puncak dari dunia gagasan yang tak kalah mengagumkan."
Ia menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan permenungan batin yang dalam. "Tetapi pada hakikatnya, kedua dunia yang berbeda itu sama-sama lahir dari rahim pencarian manusia yang rapuh namun gigih, yakni manusia yang sedang berusaha keras memahami makna hidupnya di tengah luasnya semesta."
Sanjaya mengusap dagunya perlahan, meresapi korelasi filosofis yang baru saja dihamparkan di hadapannya. "Kalau semua itu merupakan bagian dari proses pencarian yang universal, lantas di mana letak masalahnya yang sebenarnya?" tanya Sanjaya dengan nada penasaran yang kian memuncak.
Nabila tidak langsung menyambar pertanyaan itu dengan tergesa-gesa. Namun memilih untuk memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik, seolah ia tengah menyelam ke dalam keheningan batin untuk menimbang dan memilih diksi yang paling jujur dari pikirannya.
"Masalah utamanya adalah kita sebagai bangsa telah bersikap tidak adil terhadap realitas diri kita sendiri," jawab Nabila dengan intonasi yang perlahan dihembuskan.
"Tidak adil dalam hal apa?" kejar Sanjaya, alisnya bertaut.
"Iya, sangat tidak adil," tegas Nabila sambil mengangguk pelan, memperkuat argumennya. "Kita tumbuh dengan kecenderungan mental yang begitu mudah menganggap peradaban asing jauh lebih mulia, lebih suci, dan lebih tinggi derajatnya daripada peradaban lokal yang justru melahirkan eksistensi kita sendiri."
Nada suara Nabila sama sekali tidak meninggi atau berapi-api, namun setiap patah kata yang meluncur terdengar semakin dalam, menghujam langsung ke pusat kesadaran.
"Ketika kita menengok ke masa lalu, kita memandang kebudayaan Timur Tengah dengan rasa takzim yang luar biasa berlebihan," lanjutnya lirih.
"Dan ketika kita menatap peradaban masa kini, kita memandang dunia Barat dengan rasa kagum yang membutakan mata."
Ia menatap Sanjaya dengan sorot mata yang menyiratkan kepedihan kolektif. "Lalu pada akhirnya, kita memandang diri kita sendiri sebagai bangsa dan akar budaya kita dengan rasa rendah diri yang akut dan memuakkan."
Ia tersenyum pahit, senyum yang memantulkan luka kultural yang telah mengakar terlalu lama. "Padahal kita tidak lahir di negeri dongeng dongeng khayalan."
"Kita lahir di tanah ini, menghirup udara yang sama di sini."
"Dan kita merumuskan jalan pikiran dan menyusun kalimat dengan bahasa yang dibentuk, dirawat, dan dihidupkan oleh tanah air ini."
Sanjaya terdiam seribu bahasa, membiarkan tubuhnya membeku di atas kursi. Rentetan kalimat yang meluncur dari bibir Nabila perlahan-lahan merubuhkan tembok pertahanan lamanya, membuka ruang kesadaran baru yang begitu lapang di dalam kepalanya. Anehnya, ia sama sekali tidak merasa sedang digurui atau didoktrin dengan dogma usang. Sebaliknya, ia merasa sedang diajak berjalan menelusuri setapak sunyi di sebuah jalan penuh kebenaran yang belum pernah dilaluinya seumur hidup.
"Kalau begitu, menurutmu kita sama sekali tidak perlu belajar dari luar dan dunia internasional?" tanya Sanjaya dengan suara hati-hati, mencoba meluruskan arah pemikiran tersebut.
Nabila segera menggelengkan kepalanya dengan tegas tanpa jeda sedetik pun.
"Justru kita harus dan wajib belajar dari luar," jawabnya cepat dengan penuh keyakinan.
"Semakin banyak referensi dan ilmu pengetahuan yang kita pelajari dari peradaban lain, maka akan semakin baik pula kualitas diri kita."
Ia menarik napas sebentar sebelum memberikan kesimpulan yang menohok. "Tetapi perlu diingat, belajar dari luar bukan berarti kita lantas kehilangan kepribadian, meninggalkan akar sejarah, dan membuang jauh-jauh keberanian untuk berpikir secara mandiri."
Nabila menatap Sanjaya dengan sepasang manik mata yang memancarkan ketenangan mutlak, sebuah kejernihan batin yang berhasil menyatukan seluruh gejolak argumen yang baru saja ia paparkan ke dalam satu muara pemahaman yang utuh dan mendalam.
"Perbandingan intelektual maupun kultural hanya akan menjadi adil dan objektif kalau kita bersedia memandang semua peradaban manusia dengan ukuran dan standar penilaian yang sama," ujar Nabila dengan intonasi yang tegas namun tetap membuai pendengaran.
"Jangan pernah mentang-mentang sesuatu hal berasal dari tempat atau wilayah yang selama ini dianggap suci, lalu kita serta-merta kehilangan nalar kritis dan berhenti mempertanyakannya."
"Dan sebaliknya, jangan pula karena sesuatu gagasan lahir dari tanah dan kebudayaan kita sendiri, lalu kita langsung merasa rendah diri dan merendahkannya tanpa mau menggali nilainya."
Ia berhenti sejenak, membiarkan napasnya terhela pelan untuk memberikan bobot pada sisa kalimat yang hendak ia lepaskan.
"Sebab pada akhirnya, keadilan cara berpikir sejati selalu bermula dari cara kita memandang dunia secara proporsional."
Selepas kalimat itu, keheningan kembali turun merayap menyelimuti sudut meja mereka, terasa begitu pekat dan sakral di tengah ruangan yang kian sepi.
Di luar jendela, gerimis tipis yang tadi sempat menemani telah berubah menjadi curahan hujan yang jauh lebih rapat dan deras, mendera kanvas malam dengan irama monoton yang memenuhi udara seperti ribuan jemari halus yang tak sabar mengetuk pintu ingatan.
Nabila kembali membuka suaranya, memecah deru air hujan dengan nada yang terdengar semakin kontemplatif, "Coba kita renungkan sejenak melihat realitas sejarah."
"Agama-agama besar yang memiliki pengikut terbanyak di dunia modern hari ini sebagian besar lahir dan bertumbuh dari kawasan Timur Tengah." Ia mengangkat tangannya pelan untuk merapikan sedikit helaian kain kerudungnya, gerakannya begitu anggun di bawah temaram lampu.
"Lalu tanpa kita sadari, proses sejarah itu membentuk mentalitas kita untuk menganggap seolah-olah hanya wilayah geografis itulah yang menjadi pusat dari segala kebenaran mutlak di muka bumi ini," kemudian menyunggingkan senyuman kecil yang menyiratkan ironi halus.
"Aku sering kali merenung dan bertanya-tanya di dalam hati..."
"Apakah Sang Pencipta semesta benar-benar hanya mau dan hanya pernah berbicara melalui satu kebudayaan tertentu saja?" Pertanyaan filosofis yang sangat tajam itu seperti sengaja dibiarkan mengambang tanpa menuntut adanya jawaban cepat dari lawan bicaranya. Ia hanya membiarkan keheningan malam menyerap makna dari kalimat tersebut, sebelum akhirnya melanjutkan dengan sebuah pengandaian yang menggelitik nalar.
"Coba bayangkan, seandainya para musafir dan pedagang dari Yaman dan tanah sekitarnya tidak pernah datang berniaga dan singgah berabad-abad silam ke bumi Nusantara..." lanjut Nabila dengan tatapan menerawang, "...apakah nenek moyang kita yang telah memiliki peradaban agraris dan maritim itu pasti akan selamanya tetap menyembah pohon dan batu?"
Ia mengalihkan pandangannya untuk menatap Sanjaya secara langsung, meminta kejelasan dari sorot mata lelaki itu. "Siapa sebenarnya manusia di dunia ini yang bisa memastikan hal semutlak itu?"
"Dan apa bukti sahih yang mendasarinya, ataukah jangan-jangan, selama ini kita sebenarnya hanya mengulang-ulang sebuah dongeng dan cerita usang secara membabi buta, semata-mata karena kisah itu telah diulang-ulang dan berkali-kali oleh para pendahulu kita jauh sebelum kita lahir ke dunia?"
Sanjaya mengembuskan napas panjang, membiarkan udara hangat keluar dari rongga dadanya untuk meredakan gejolak di kepala yang terasa kian padat. Ia merasa semakin kesulitan untuk merangkai kata demi membalas rentetan argumen yang dilontarkan perempuan di hadapannya. Kesulitan itu, ia sadari, sama sekali bukan karena ia mulai kehilangan keyakinan atas apa yang dipegangnya selama ini, melainkan karena ia semakin menyadari betapa luasnya samudra pemikiran dan sudut-sudut gelap sejarah yang selama hidupnya tidak pernah sekalipun singgah atau terlintas di dalam benaknya.
Nabila menyunggingkan senyuman tipis yang menyiratkan pemahaman penuh atas kebisuan yang mendadak melanda lelaki itu. "Itulah sebenarnya bahaya laten yang paling mengerikan dalam sejarah peradaban manusia," ujar Nabila dengan nada suara yang tenang namun menghunjam.
"Sebab apabila kebodohan, kedangkalan berpikir, dan dogmatisme buta diberi panggung yang megah..."
"...ia pada akhirnya akan menjelma dan terdengar begitu meyakinkan, menyerupai kebijaksanaan yang luhur." Kemudian menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan maknanya meresap ke dalam keheningan temaram ruangan.
"Dan sebaliknya, apabila sebuah kebohongan atau mitos usang sengaja diulang-ulang secara terus-menerus tanpa henti dari generasi ke generasi..."
"...maka lambat laun orang-orang akan menghafalkannya di luar kepala, menganggapnya sebagai suatu kebenaran mutlak yang haram untuk digugat," seraya menatap Sanjaya dengan sorot mata yang menembus batas kesadaran.
"Dan ketika satu generasi yang patuh mewariskannya kepada generasi berikutnya secara turun-temurun tanpa pernah mau mengajukan satu pertanyaan kritis pun..."
"...pada akhirnya kita semua tanpa sadar hanya sedang mewarisi sistem kepercayaan dan cara berpikir cacat yang tidak pernah benar-benar kita pilih sendiri dengan kesadaran penuh."
Sanjaya menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, tertawa kecil untuk mencairkan ketegangan filosofis yang kian membubung di antara mereka. "Kalau menggunakan logika penarikan kesimpulanmu yang setajam silet itu..."
Ia tersenyum simpul, menyembunyikan rasa salah tingkah di balik candaan ringan. "Berarti selama ini hidupku diisi oleh kebodohan dan aku tidak tahu apa-apa?"
Nabila spontan ikut tertawa renyah, memecah kesunyian malam dengan suara yang begitu hangat. "Tentu saja tidak separah itu." Nabila menggeleng pelan, menatap Sanjaya dengan kerlingan mata yang usil namun sarat apresiasi.
"Kamu hanya terlalu lama terkurung dalam sistem pendidikan formal yang membuatmu terlalu percaya bahwa nilai rapor dan angka-angka sempurna di atas kertas bisa mengukur kedalaman cara seseorang berpikir."
Sanjaya tertawa lebih lepas mendengar sindiran halus yang begitu telak mengenai masa lalunya. "Dulu saat masih sekolah dasar hingga kuliah, aku selalu jadi juara kelas dan langganan rangking teratas."
"Itu prestasi yang bagus dan patut dibanggakan dari segi disiplin," tanggap Nabila cepat. "Tapi masalahnya, menjadi juara kelas atau meraih predikat cumlaude tidak pernah otomatis membuat seseorang selesai belajar menghadapi kerasnya dunia nyata."
Ia mengulurkan tangannya, menunjuk pelan dengan ujung jarinya ke arah dada Sanjaya. "Sebab yang paling sulit di dunia ini bukanlah menghafal ribuan teori di dalam buku teks. Yang paling sulit, dan membutuhkan keberanian luar biasa, adalah ketika seseorang harus berani membongkar ulang seluruh isi kepalanya sendiri."
Sanjaya mengangguk takzim dengan senyuman lebar yang terukir tulus di wajahnya, mengakui kekalahan telak sekaligus menyerahkan diri sepenuhnya di hadapan benteng argumen filosofis yang begitu kokoh dan tajam milik Nabila.
"Kalau begitu keadaannya, dan jika semua premis yang kau bangun itu memang benar adanya..."
Sanjaya mengangkat kedua tangannya perlahan ke udara dengan gerakan menyerah yang jenaka, melepaskan seluruh sisa-sisa perdebatan tanpa ada hasrat sedikit pun untuk melakukan perlawanan.
"...berarti malam ini aku sudah resmi mendeklarasikan diriku bangkrut secara total, bukan secara finansial, melainkan bangkrut secara intelektual."
Nabila mengernyitkan dahinya dalam-dalam, menatap lelaki di seberangnya dengan ekspresi kebingungan yang sengaja dibuat-buat untuk memancing reaksi lanjutan.
"Bangkrut? Maksudmu apa tiba-tiba bicara soal kebangkrutan segala?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Iya, seratus persen bangkrut, tanpa sisa," jawab Sanjaya mantap sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Bangkrut pengetahuan dan wawasan yang sesungguhnya, tepat di hadapan seorang guru besar yang malam ini mendadak turun gunung untuk menceramahiku."
Lalu, di tengah keheningan sudut ruang kedai yang semakin larut dan intim, suara tawa keduanya pecah berbarengan secara natural, seketika mencairkan seluruh sisa-sisa ketegangan filosofis yang sempat mendiami ruang di antara mereka. Sanjaya perlahan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman lebar yang masih tersisa, merasa begitu bersyukur dan lega karena perdebatan panjang yang menguras pikiran malam itu akhirnya ditutup dengan gelak tawa yang menghangatkan jiwa.
"Tetapi setidaknya, di balik semua kebangkrutan intelektual yang baru saja kau voniskan kepadaku malam ini, ada satu hal yang patut disyukuri," ujar Sanjaya dengan nada bercanda sambil merogoh saku jaketnya dengan gerakan yang sengaja dibuat-buat sedemikian jenaka.
"Untung saja, meskipun aku baru saja dinyatakan bangkrut secara wawasan dan pengetahuan, dompet dan rekeningku belum ikut-ikutan bangkrut," sambungnya sambil tersenyum lebar menatap perempuan di seberangnya.
Ia kemudian mengangkat cangkir keramik yang kini telah kosong melompong ke hadapan Nabila, menunjuknya sebagai isyarat tak terbantahkan.
"Jadi, kau tidak perlu khawatir harus mencuci piring untuk membayar tagihan malam ini. Tenang saja, aku masih punya cukup rezeki dan sisa lembaran rupiah di dompet untuk mentraktirmu secangkir kopi panas lagi, setidaknya untuk menemani kita duduk di sini sampai hujan lebat di luar benar-benar reda."
Nabila terkekeh renyah, suara tawanya kali ini terdengar jauh lebih lepas dan natural daripada sebelumnya, memecah kesunyian malam yang melingkupi sudut kedai. Di sela-sela tawa yang mencairkan suasana itu, untuk sesaat mereka berhasil melupakan beratnya tema-tema perdebatan filosofis yang sejak tadi menguras energi pikiran. Seolah malam sedang sengaja memberikan sebuah jeda yang manis, membiarkan dua hati yang tengah berproses saling mengenal ini tidak tenggelam seluruhnya ke dalam keseriusan dunia gagasan.
Setelah gelak tawa mereka perlahan mereda dan menyisakan senyum di bibir masing-masing, Nabila kembali mengarahkan pandangannya untuk menatap Sanjaya. Sorot matanya kali ini terasa begitu berbeda dari menit-menit sebelumnya. Jauh lebih lembut, lebih tenang, dan mengandung kedalaman yang tak biasa. Seolah-olah perempuan itu tidak lagi sedang berbicara kepada sekadar seorang kawan diskusi yang kebetulan sefrekuensi, melainkan kepada seseorang yang perlahan mulai ia beri kepercayaan untuk memasuki ruang-ruang tersembunyi di dalam batinnya yang paling sunyi.
"Sanjaya..." panggil Nabila perlahan, memecah keheningan baru yang baru saja terbentuk di antara mereka dengan intonasi yang sengaja dilembutkan.
"Boleh aku bertanya sesuatu hal yang jauh lebih pribadi kepadamu malam ini?"
Sanjaya mengangguk tenang tanpa sedikit pun keraguan di wajahnya.
"Silakan, tanyakan saja apa pun," jawab Sanjaya mempersilakan.
Nabila menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan yang telah lama berkelindan di kepalanya.
"Kalau boleh jujur, kenapa sebenarnya sampai detik ini kamu masih memilih untuk sendiri dan belum juga menikah?"
Ia berhenti sejenak, membiarkan pertanyaannya menggantung di udara sebelum menambahkan satu hal lagi.
"Dan... kenapa kamu juga belum memiliki anak di usiamu yang sekarang?"
Mendengar rangkaian pertanyaan yang telak dan langsung menghujam inti kehidupannya itu, Sanjaya seketika terdiam seribu bahasa. Mendengar pertanyaan yang meluncur pelan dari Nabila, tetapi terasa jauh lebih berat daripada seluruh pembicaraan mereka tentang agama, sejarah, maupun peradaban. Sebab untuk pertama kalinya malam itu, percakapan mereka tidak lagi hanya menyentuh gagasan-gagasan besar, melainkan mulai mengetuk pintu luka yang paling dalam. Tentang luka yang selama ini masih menyimpan bayang-bayang seorang perempuan bernama Riana.
Dan jenis pertanyaan yang menohok itu tidak serta-merta langsung menemukan jawaban dari bibir Sanjaya. Di antara mereka berdua, ruang dan waktu seolah kembali bergerak melambat, merayap malas seperti bulir embun jernih yang menggantung di ujung daun sebelum akhirnya menyerah pada gravitasi dan jatuh menimpa tanah.
Sementara itu, deru hujan di luar jendela masih terus turun dengan konsistensi dan iramanya sendiri, menciptakan simfoni alam yang syahdu. Butiran-butiran air dingin memukul permukaan kaca tanpa rasa tergesa, seolah malam sedang berpesan dan mengajarkan sebuah kebijaksanaan sunyi bahwa tidak semua pertanyaan di dunia ini harus dijawab secepat kilat kelahirannya. Ada kalanya, sebuah jawaban memerlukan cadangan keberanian yang jauh lebih besar daripada sekadar kecerdasan otak. Sebab untuk menemukannya, seseorang harus rela merayap melewati pintu gerbang paling berat yang bernama kejujuran batin.
Sanjaya menundukkan pandangannya, kembali menatap lekat-lekat pada dasar cangkir keramik yang telah benar-benar kosong. Di dalam cekungan lingkaran porselen putih itu, di bawah pendar cahaya lampu yang temaram, ia seolah-olah dapat melihat kembali pantulan bayangan dirinya dari beberapa tahun yang lalu, seorang lelaki muda yang pernah begitu naif dan yakin bahwa alur kehidupannya dapat disusun rapi selayaknya lembar-lembar buku ensiklopedia yang berbaris tertib di atas rak perpustakaan.
Dahulu, ia begitu teguh mempercayai bahwa kerja keras tanpa kenal lelah akan selalu berujung pada kebahagiaan mutlak, bahwa kesabaran panjang akan diganjar dengan perjumpaan yang membahagiakan, dan bahwa rasa cinta yang dipelihara dengan kesetiaan akan menemukan rumah abadinya sendiri. Lalu seiring berjalannya waktu, realitas membuktikan bahwa hidup ini ternyata sama sekali bukanlah perpustakaan yang menyimpan segala sesuatu pada tempatnya yang pasti. Hidup mengajarkan bahwa hidup jauh lebih menyerupai aliran sungai liar yang sewaktu-waktu bisa meluap tanpa diduga, menghantam dan menyeret apa saja yang telah dibangun manusia dengan susah payah dan penuh keyakinan.
Melihat kebisuan yang kian memanjang dan menyelimuti lelaki di seberangnya, Nabila memilih untuk tidak sedikit pun menyela atau mendesak. Ia dengan sabar membiarkan Sanjaya memungut kembali serpihan kata-katanya sendiri yang berserakan di dalam kepalanya, sebagaimana seseorang yang dengan telaten membiarkan seekor burung kecil yang terluka sayapnya menemukan kembali keberanian untuk mengepakkan sayapnya ke udara.
Semakin lama mereka menghabiskan waktu berbincang malam itu, semakin dalam pula Nabila mengerti dan memahami bahwa lelaki di hadapannya bukanlah tipe orang yang gemar mengobral cerita sedih tentang riwayat hidupnya. Sanjaya adalah jenis manusia yang lebih terbiasa menyembunyikan retakan luka di balik topeng candaan ringan, lebih memilih memposisikan diri sebagai pendengar setia daripada harus dikasihani sebagai orang yang sedang terluka. Barangkali, pikir Nabila, itulah sebabnya mengapa kesedihan yang disimpan oleh Sanjaya tampak begitu tenang dari luar. Karena ketenangan yang dipaksakan itulah, rasa sakit di dalamnya terasa jauh lebih dalam dan menyesakkan.
"Aku rasa..." ujar Nabila memecah kesunyian dengan intonasi yang begitu lembut, meraba-raba ritme malam, "...aku sedikit banyak tahu apa jawaban dari pertanyaan itu."
Sanjaya serta-merta mengangkat wajahnya, terkejut mendengar ketepatan insting perempuan tersebut.
Seketika itu juga, tatapan mata mereka bertemu tepat di tengah meja kayu yang sejak tadi malam telah menjadi saksi bisu perjalanan dua orang asing yang perlahan-lahan mulai tidak lagi merasa asing satu sama lain.
"Kamu sampai detik ini belum juga memutuskan untuk menikah..." Nabila mengucapkannya lagi dengan intonasi yang tenang dan datar, sama sekali tanpa secuil pun nada menghakimi di dalamnya.
"...bukan karena kamu tidak punya keinginan atau tidak mendambakan pendamping hidup," Nabila melanjutkan. Lalu menarik napas sebentar sebelum menyambung kalimatnya. "Tetapi semata-mata karena di dalam batinmu masih ada sesuatu yang belum benar-benar selesai."
Mendengar kalimat yang menembus pertahanan paling dalam itu, Sanjaya tidak segera mengeluarkan suara untuk membenarkan ataupun menyangkal. Wajahnya hanya menyunggingkan segaris senyuman yang teramat tipis, sebuah senyuman pasrah yang menyerupai ekspresi seseorang yang merasa kaget sekaligus takjub tatkala mendapati orang lain mampu membaca tuntas halaman-halaman rahasia hidupnya tanpa perlu membuka seluruh lembaran bukunya.
"Kadang kala," lanjut Nabila seraya mengalihkan pandangannya kembali menatap butiran air hujan yang berlomba menuruni kaca jendela, "manusia di dunia ini tidak pernah benar-benar berhasil melupakan seseorang yang pernah singgah." Suaranya bergetar tipis di antara deru hujan.
"Mereka sebenarnya hanya belum selesai berdamai dengan bayang-bayang masa lalu dan dengan diri mereka sendiri." Kalimat itu meluncur begitu lembut, tetapi menyentuh bagian yang selama bertahun-tahun berusaha disembunyikan Sanjaya. Nama Riana memang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Ia tidak lagi hadir sebagai harapan yang ingin dimiliki, melainkan sebagai sebuah musim yang telah lewat, tetapi aromanya masih sesekali tertinggal di dalam angin. Baginya itu kenangan yang memang tidak meminta untuk dilupakan. Ia hanya ingin ditempatkan di sudut hati yang tidak lagi menyakitkan.
"Aku pernah benar-benar mencintai seseorang dengan segenap jiwa dan ragaku," ujar Sanjaya memulai pengakuannya, memecah keheningan yang sejak tadi menggantung berat di antara mereka. Suaranya terdengar begitu lirih, teramat pelan hingga nyaris tenggelam sepenuhnya oleh deru bunyi hujan yang semakin lebat menderu di luar kaca jendela.
Nabila memilih untuk tidak melontarkan pertanyaan lanjutan atau mendesak untuk mengetahui siapa sosok perempuan yang dimaksud di balik kalimat itu. Ia memilih untuk tetap bergeming dalam diamnya, sebab ia sangat memahami bahwa beberapa nama yang teramat suci atau terluka di masa lalu hanya akan keluar dari bibir seseorang ketika pemiliknya benar-benar telah siap dan lapang dada untuk mengucapkannya.
"Aku dulunya selalu mengira..." lanjut Sanjaya dengan pandangan yang menerawang kosong ke arah depan, "...kalau seseorang sudah mencintai dengan tulus dan cukup lama, semesta pada akhirnya akan merasa iba dan melunakkan takdirnya."
Ia menyunggingkan senyuman hambar, sebuah senyum kecut yang menyiratkan kepedihan masa lalu. "Tetapi kenyataannya, aku baru sadar... ternyata semesta tidak pernah bekerja dengan menggunakan belas kasihan."
Nabila ikut tersenyum tipis merespons keputusasaan kecil itu, dengan sorot matanya yang menyiratkan ketenangan. Lalu kembali meneguhkan jalan pikirannya yang berulang telah ia lontarkan. "Semesta memang tidak pernah punya kewajiban untuk memenuhi setiap harapan dan keinginan egois kita."
Ia menjeda kalimatnya sesaat, lalu menambahkan dengan keyakinan yang lembut, "Tapi percayalah, semesta selalu menyediakan kesempatan."
Sanjaya mengerutkan keningnya, menatap perempuan di seberangnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Kesempatan untuk apa?"
"Untuk tumbuh," jawab Nabila mantap.
Sanjaya memandangi wajah perempuan itu cukup lama, meresapi setiap suku kata yang meluncur penuh makna. "Tetapi bukankah pada kenyataannya, proses tumbuh itu sering terasa begitu menyakitkan, bahkan tidak jarang menyerupai sebuah kehilangan yang telak?"
"Iya, kamu benar," Nabila mengangguk perlahan, menyetujui kejujuran lelaki itu tanpa reserve.
"Karena setiap pertumbuhan yang sejati di dalam hidup ini selalu menuntut harga yang harus dibayar, dan ia selalu meminta sesuatu yang lama untuk ditinggalkan demi memberi ruang bagi hal yang baru."
Selepas kalimat itu terucap, keheningan yang dalam kembali turun merayap, menyelimuti meja kecil di sudut kafe itu dan menyatukan napas mereka dalam dekap malam yang kian larut.
Namun, pada detik-detik menjelang pergantian malam itu, keheningan yang terajut di antara mereka tidak lagi dipenuhi oleh rasa canggung ataupun kegelisahan batin. Kesunyian tersebut bertransformasi menjadi sebuah ruang singgah yang amat nyaman, tempat di mana dua jiwa yang letih dapat saling memahami dan menyelami isi kepala satu sama lain tanpa harus saling memaksakan penjelasan yang panjang lebar. Barangkali telah menjadi sebuah ikatan batin dan sebuah kedekatan instingtif yang tumbuh secara alamiah, bukan lahir karena mereka selalu sepakat dalam segala hal, melainkan karena keduanya sama-sama pernah direnggut oleh rasa kehilangan yang mendalam. Mereka akhirnya menyadari sebuah kebenaran sunyi bahwa luka dan kepedihan hidup yang datang dari arah berbeda ternyata selalu mampu berbicara menggunakan bahasa yang sama, bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh hati yang pernah retak.
Beberapa saat kemudian, selepas keheningan itu meresap ke dalam dada, Nabila menarik napas panjang, membiarkan dadanya terangkat perlahan sebelum ia memutuskan untuk membuka lembaran baru dalam percakapan mereka.
"Sebenarnya, kalau boleh jujur kepadamu malam ini... aku sendiri juga menyimpan ketakutan yang sama besarnya terhadap institusi pernikahan," meluncur pengakuan Nabila dengan suara yang begitu pelan namun sarat kejujuran. Pengakuan yang tak terduga itu kontan membuat Sanjaya sedikit terkejut, alisnya bertaut tipis mencerna kalimat tersebut.
"Bukankah beberapa waktu lalu saat kita pertama kali membahas soal pandangan hidup, kamu terdengar begitu antusias seolah ingin segera melangkah ke jenjang pernikahan?" tanya Sanjaya, mencoba mengingat-ingat arah pembicaraan mereka sebelumnya.
"Ah, itu kan cerita masa lalu," sanggah Nabila sambil menyunggingkan senyuman kecil di bibirnya. "Sekarang cara pandangku sudah berubah, dan ketakutanku pun ikut berubah. Aku jauh lebih ngeri membayangkan diriku terperangkap dalam pernikahan dengan seseorang yang telah berhenti berpikir, seseorang yang menutup rapat pintu-pintu rasa ingin tahunya terhadap dunia."
Nabila kemudian tertawa kecil, suara tawanya terdengar getir namun menenangkan. "Atau menikah dengan lelaki yang kelak menganggap keberadaan istrinya di rumah tidak lebih dari sekadar tempat pulang yang membosankan, tanpa pernah sudi menjadikan perempuan itu sebagai teman sejati dalam mengarungi perjalanan hidup yang panjang."
Sanjaya mengangguk perlahan, meresapi setiap butir kata yang diucapkan perempuan di hadapannya dengan penuh penghayatan. "Menurutku pribadi..." ucap Sanjaya berhati-hati, sengaja memilih setiap diksinya dengan sangat cermat agar tidak kehilangan esensi.
"...bentuk kegagalan dan penderitaan yang paling menyedihkan di dalam sebuah pernikahan bukanlah ketika dua orang manusia di dalamnya sering terlibat pertengkaran hebat."
"Lantas, kalau bukan itu bentuk penderitaan terbesarnya, apa yang lebih menyedihkan dari pertengkaran?" kejar Nabila, menuntut penjelasan.
"Paling menyedihkan adalah ketika mereka berdua sudah sampai pada titik di mana mereka berhenti saling ingin mengenal, ketika rasa penasaran itu mati dan digantikan oleh kebisuan yang asing di bawah atap yang sama."
Nabila menatap lelaki di seberangnya dengan sorot mata yang menyorongkan kekaguman tersembunyi. Pandangan yang ia lemparkan kali ini sama sekali tidak lagi dibumbui oleh hasrat untuk berdebat atau memamerkan ketajaman logika. Tidak ada lagi sanggahan bernada uji nyali yang terlontar dari bibirnya. Tidak ada pula bentuk bantahan yang berusaha mematahkan argumen lawan bicaranya. Yang tersisa di antara mereka hanyalah sebuah pengakuan diam-diam di dalam batin, sebuah kesadaran bersama bahwa kalimat yang baru saja meluncur itu benar-benar lahir dari endapan pengalaman hidup yang nyata, dan sama sekali bukan kutipan kosong dari teori-teori buku.
"Kamu tahu, Sanjaya..." ujar Nabila lirih, membiarkan suaranya bergesekan dengan sisa-sisa embusan angin malam.
"Malam ini, entah mengapa, aku merasa begitu senang bisa duduk berlama-lama dan berbicara leluasa denganmu."
Sanjaya tersenyum tipis, merespons dengan nada bercanda untuk menutupi rasa tersipu di dadanya. "Ah, kamu merasa senang semata-mata karena malam ini aku tidak banyak membantah jalan pikiranmu, kan?"
"Bukan, sama sekali bukan karena itu alasan utamanya," tanggap Nabila cepat. Menggelengkan kepalanya pelan dengan sorot mata yang tulus.
"Mungkin karena kamu adalah tipe pendengar yang sabar, yang mau mendengarkan keluh kesahku sampai kalimatku benar-benar selesai seutuhnya tanpa tergesa-gesa memotong."
Ia berhenti sejenak, membiarkan jeda itu bekerja.
"Di dunia yang serbacepat ini, kemampuan mendengarkan sampai tuntas adalah sesuatu yang sangat langka, Jaya."
Kalimat yang teramat sederhana itu justru mendadak membuat rongga dada Sanjaya terasa hangat, menyebarkan gelombang ketenangan yang telah lama mati. Sejak kepergian Riana yang meninggalkan luka menganga bertahun-tahun lalu, ia tidak pernah lagi merasakan kehadiran dirinya benar-benar dibutuhkan atau dihargai secara utuh oleh siapa pun di dunia ini. Hari-harinya berjalan monoton seperti mesin tanpa jiwa. Orang-orang datang dan pergi silih berganti bagai bayang-bayang. Ia menghabiskan waktu dengan bekerja, membaca tumpukan buku, mencoretkan tulisan di atas kertas, pulang sendirian ke kamar kos yang senyap, lalu mengulang seluruh rutinitas yang sama persis keesokan harinya. Hidupnya sudah lama menyerupai detak jarum jam dinding tua yang terus berputar dan berisik, tetapi sebenarnya tidak pernah benar-benar bergerak melangkah ke mana-mana.
Namun kemudian secara ajaib di hadapan seorang perempuan yang baru beberapa waktu dikenalnya itu, ia kembali merasakan sensasi yang telah lama hilang dari kamus hidupnya. Dengannya tumbuh perlahan sebuah keinginan tulus untuk tinggal lebih lama, menolak waktu berjalan cepat, dan terus menetap dalam sebuah percakapan yang menghidupkan jiwa dengan Nabila.
Tanpa terasa, jarum panjang di dinding kedai telah menunjuk ke angka dua belas, menandakan waktu telah hampir merangkak tepat tengah malam. Satu per satu pelayan kafe mulai tampak sibuk merapikan kursi-kursi kayu kosong ke bawah meja, memberikan isyarat halus bahwa malam telah usai.
Gerimis yang sejak sore tadi setia menemani percakapan mereka telah benar-benar reda sepenuhnya, meninggalkan jejak berupa aroma tanah basah dan dedaunan basah yang khas, menyusup masuk terbawa angin setiap kali pintu kaca kedai terdorong terbuka oleh pelintas jalan. Aroma tanah basah itu seketika menarik ingatan Sanjaya melompat jauh kembali ke kampung halamannya di masa kecil, mengingatkannya pada hamparan petak sawah yang menghijau selepas diguyur hujan lebat, pada masa-masa ketika hidup terasa jauh lebih sederhana dan jujur, sebelum akhirnya hantaman kehilangan mengajarkannya bahwa tumbuh menjadi manusia dewasa seringkali identik dengan kewajiban untuk belajar menerima hal-hal pahit yang tidak pernah kita minta dalam hidup.
Nabila perlahan menggerakkan tubuhnya, beranjak berdiri dari kursi kayu tempatnya bersandar selama berjam-jam. "Bagaimana, kita jadi pulang sekarang?" tanyanya lembut sambil merapikan tas kecil di bahunya.
Sanjaya seketika ikut bangkit berdiri, menyamakan posisinya dengan perempuan itu. Namun tepat sebelum mereka benar-benar melangkah meninggalkan meja yang telah menjadi saksi bisu pertukaran isi kepala tersebut, Nabila tiba-tiba menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah lelaki di belakangnya.
"Sanjaya..." panggilnya ragu-ragu.
"Iya, ada apa lagi, Nabila?" sahut Sanjaya penuh perhatian.
"Jujur, sampai detik ini aku tidak tahu pasti apakah semua rangkaian pikiranku malam ini benar-benar valid atau tidak." Ia tersenyum simpul, menyembunyikan sisa keraguan di wajahnya.
"Bahkan sangat mungkin, sebagian besar dari argumen yang kubangun justru keliru dan penuh cacat." Nabila menatap lurus ke dalam mata Sanjaya.
"Tapi terlepas dari itu semua, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepadamu..."
"...karena kamu tadi tidak buru-buru menghakimiku atau menganggapku sesat hanya karena pandanganku berbeda dari kebanyakan orang."
Sanjaya tersenyum jauh lebih lebar daripada senyuman-senyuman sebelumnya malam itu, menyiratkan kelegaan yang tulus. "Aku pun tidak punya kapasitas untuk memastikan apakah semua keyakinan yang kupegang selama ini adalah kebenaran mutlak."
Ia memandang mata Nabila dengan sorot yang teduh dan penuh kedamaian. "Tetapi dari percakapan panjang kita malam ini, aku akhirnya belajar satu pelajaran paling berharga..."
"...bahwa di dunia yang penuh dengan perdebatan ini, mencoba memahami jalan pikiran seseorang ternyata jauh lebih sulit, sekaligus jauh lebih mulia, daripada sekadar mengalahkannya dalam argumen."
Nabila mengangguk perlahan, meresapi kalimat penutup itu dengan seulas senyum penuh makna yang terukir di bibirnya. Dan tanpa berkata-kata lagi, mereka berdua lantas berdampingan melangkah berjalan keluar, meninggalkan kehangatan kedai menuju luasnya malam yang kini telah kembali tenang.
Udara malam yang menguar menyambut keduanya dengan dekapan kesejukan yang masih pekat menyimpan sisa-sisa aroma tanah basah yang berpadu sempurna dengan kelembapan angin. Di hadapan mereka, bentangan jalanan kota memantulkan pijar pendar cahaya lampu jalanan dan reklame dengan indahnya, menyerupai aliran sungai kecil yang tenang, memantulkan bias cahaya keemasan di atas permukaan aspal yang hitam legam.
Mereka melangkah keluar berdampingan dengan ritme yang selaras, tanpa ada yang berniat mendahului ataupun tertinggal di belakang. Di antara langkah-langkah pelan itu, tidak ada satu pun di antara mereka yang berambisi untuk memaksakan apalagi mengubah keyakinan dasar satu sama lain. Tidak ada pula ikrar muluk atau janji manis masa depan yang diucapkan untuk mengikat waktu. Yang ada dan tergelar di hadapan mereka malam itu hanyalah dua pasang kaki yang bergerak dengan irama yang begitu harmonis, seolah percakapan panjang yang baru saja mereka selesaikan di dalam ruang telah berhasil merajut sebuah jembatan tak kasatmata yang kokoh, menghubungkan dua ruang kesendirian yang selama ini saling terisolasi.
Dalam kebersamaan yang tenang itu, Sanjaya mendadak menyadari satu perubahan batin yang telak baginya yang tidak lagi merasa sedang mencari-cari sosok bayangan untuk menggantikan kehadiran Riana di masa lalunya. Dan sebaliknya, Nabila pun tidak lagi sedang memburu validasi atau mencari seseorang yang bisa sekadar membenarkan seluruh jalan pikiran dan argumennya.
Keduanya kini telah melampaui fase pencarian yang melelahkan itu. Mereka hanya sedang belajar mempraktikkan satu hal esensial yang paling sederhana sekaligus paling sulit dilakukan manusia di sepanjang hidupnya. Dengan sesamanya bisa berjalan beriringan mendampingi satu sama lain, tanpa harus kehilangan integritas dan jati diri masing-masing. Dan dari kesadaran yang rapuh dan jujur itulah, tanpa pernah mereka sadari sebelumnya, benih-benih kedekatan yang tulus mulai menancapkan akarnya.
Tumbuhnya bukanlah tipe pertumbuhan instan seperti bunga hias yang mekar semata-mata dalam semalam untuk kemudian layu esok hari, melainkan tumbuh menyerupai pohon tua perkasa yang diam-diam memperdalam cengkeraman akarnya jauh menghujam ke dalam gelapnya tanah, belajar bertahan menghadapi terpaan berbagai musim kehidupan, hingga pada suatu hari nanti ia benar-benar cukup kuat untuk menaungi dua jiwa yang memilih untuk tinggal menetap di bawah keteduhan rindangnya. (Red)