Dunia Ahangkara (2)

Beberapa hari setelah percakapan itu, Sanjaya kembali tenggelam dalam rutinitas. Setiap pagi ia...

Dunia Ahangkara (2)

08 Agu 2026
4377 x Dilihat
Share :

Beberapa hari setelah percakapan itu, Sanjaya kembali tenggelam dalam rutinitas. Setiap pagi ia berangkat bekerja bersama ribuan orang yang memenuhi jalan-jalan kota. Mereka berjalan dengan wajah yang hampir serupa. Tergesa, lelah, dan diam-diam menyimpan harapan agar bulan depan hidup sedikit lebih ringan. Kota seakan menjadi mesin raksasa yang setiap hari menggiling waktu, tenaga, mimpi, bahkan usia, lalu mengembalikannya dalam bentuk gaji yang tak pernah benar-benar mampu membeli kebebasan.

Di dalam bus, di ruang kerja, di kantin, hingga perjalanan pulang, ia sering memperhatikan wajah-wajah orang yang berlalu. Mereka tampak sibuk mengejar kehidupan, tetapi sesungguhnya sedang dikejar oleh kehidupan itu sendiri. Kesibukan menjadi cara paling halus untuk melupakan kegelisahan. Orang bekerja bukan semata-mata karena mencintai pekerjaannya, melainkan karena takut berhenti dan berhadapan dengan dirinya sendiri.

Suatu malam, beberapa minggu setelah malam panjang di pelataran kampus itu, langkah kaki Sanjaya membawanya ke sebuah warung kopi kecil yang terletak di sudut jalan tak jauh dari gerbang kampus. Di sanalah ia kembali menemui Nabila, duduk di dekat meja kayu usang dengan kepulan uap tipis yang menari-nari di atas cangkir keramiknya.

"Apa kabar pertanyaanmu?" tanya Nabila santai sambil terus mengaduk kopi hitamnya, menciptakan pusaran kecil yang berputar lambat dalam keheningan.

Sanjaya menarik kursi plastik di hadapannya, lalu duduk sambil meletakkan tas kerjanya dengan gerakan lesu. Ia tersenyum lemah, sebuah senyuman yang menyiratkan betapa lelahnya ia bergulat dengan rutinitas harian.

"Belum ke mana-mana," jawab Sanjaya singkat, suaranya terdengar berat dan datar, seolah ia sedang melaporkan sebuah kemacetan panjang yang tidak kunjung menemukan jalan keluar.

Nabila mengangkat wajahnya dari cangkir yang baru saja ia aduk, menatap lurus ke seberang meja kayu yang mulai mengelupas catnya. Ada sorot mata menyelidik di sana. "Masih mencarimu?" tanyanya mengulang inti dari pergulatan batin yang kerap mereka diskusikan.

Sanjaya menggeleng perlahan, sementara tatapannya menerawang jauh menembus keremangan warung kopi yang mulai sepi. "Bukan lagi ia yang mencariku," ucapnya lirih. "Justru aku yang terus mencarinya tanpa henti, memburu bayangannya di setiap sudut lelah yang merayap di kepalaku."

Nabila memandang wajah lelaki itu cukup lama, menangkap bayang-bayang kelelahan yang tergurat jelas di balik kantung matanya, sisa dari lembur di kantor dan tumpukan laporan yang tak pernah ada habisnya.

"Kau tahu, Jaya," ucap Nabila dengan nada yang tiba-tiba merendah, memecah dengung suara bising kendaraan dari jalan raya di luar warung kopi kecil itu. Suaranya tidak lagi sekadar berbalas canda atau bertukar teori filsafat, melainkan menyusup langsung ke balik pertahanan batin Sanjaya yang selama ini berdiri kokoh di balik kesibukan profan.

Sanjaya yang sedari tadi tengah menatap permukaan cangkirnya yang mulai mendingin langsung mendongak seketika, menangkap keseriusan yang terpancar nyata dari sorot mata sahabatnya. "Apa, Nab?" tanyanya dengan kening berkerut.

"Jangan jadikan kesibukan kerjamu sebagai tempat pelarian," ujar Nabila tajam, namun di balik ketajaman kalimat itu terselip limpahan kasih sayang dan kepedulian yang tulus sebagai seseorang yang paling paham isi kepala lelaki yang sedang duduk di hadapannya itu.

Sanjaya mengernyitkan dahi dalam-dalam, merasa tertohok secara telak sekaligus diliputi kebingungan yang merayap cepat. "Maksudmu? Apa hubungannya pekerjaanku dengan pelarian?" tanyanya, mencoba membentengi diri dari kebenaran yang mulai mencuat ke permukaan.

Nabila tidak langsung menjawab. Membiarkan keheningan mengisi jeda sejenak, membiarkan tatapannya menembus kepulan tipis asap kopi yang menipis di udara sebelum kembali bersuara dengan intonasi yang kian menghujam.

"Banyak orang di luar sana sengaja menenggelamkan diri dalam tumpukan tugas, target kantor, dan kesibukan yang seolah tiada habisnya bukan karena hidup mereka benar-benar produktif, bermakna, atau mendatangkan kebahagiaan sejati."

"Tetapi karena apa kalau bukan untuk mencari penghidupan?" kejar Sanjaya cepat, suaranya terdengar kian penasaran sekaligus gelisah, seolah ia tengah mendesak Nabila untuk berhenti mengorek luka yang sengaja ia sembunyikan.

"Karena di dalam lubuk hati mereka yang paling dalam, mereka sebenarnya takut... takut sekali mendengar suara hatinya sendiri," jawab Nabila lirih, menatap tepat ke dalam manik mata Sanjaya. "Suara sunyi yang selama ini terus mendesak, meminta untuk jujur pada kerapuhan diri, pada pencarian yang tertunda, dan pada pertanyaan-pertanyaan besar yang sengaja mereka kubur dalam-dalam demi kenyamanan palsu sebuah rutinitas."

Kalimat itu menancap dalam diri Sanjaya. Teringat bagaimana ia setiap pagi ketika manusia berbondong-bondong berangkat bekerja, seolah seluruh kota sedang mengikuti upacara yang sama dari hari ke hari. Mereka berharap dapat naik kelas dalam kehidupan dari jelata menjadi kelas menengah, dari kelas menengah menjadi mapan. Namun semakin lama Sanjaya mengamati, semakin terasa bahwa perubahan itu sering hanya berganti nama, sementara rantainya tetap sama.

Ia pernah membatin, bukankah hubungan antara karyawan dan perusahaan masih menyerupai hubungan tuan dan budak, hanya istilahnya saja yang diperhalus oleh zaman? Dahulu seorang budak tidur di belakang rumah tuannya. Kini seorang pekerja pulang ke rumah kontrakan sempit setelah tenaganya diperas sepanjang hari. Dahulu cambuk terlihat jelas. Kini cambuk itu berubah menjadi target, laporan, evaluasi, dan ketakutan kehilangan pekerjaan. Wajahnya berubah, tetapi rasa sakitnya tetap serupa.

Nabila memperhatikan sorot mata Sanjaya yang kembali menerawang jauh, melepaskan tatapannya dari cangkir kopi yang mengepulkan sisa-sisa uap hangat menuju kegelapan malam di luar warung. Ada gelagat gelisah yang tertangkap jelas oleh kepekaannya, sebuah tanda bahwa isi kepala lelaki itu sedang bekerja melampaui batas kewajaran jam istirahat manusia biasa.

"Kau sedang memikirkan sesuatu lagi, ya?" tanya Nabila pelan, memecah kesunyian kecil yang sempat menggantung di antara meja kayu mereka.

Sanjaya mengerjap perlahan, seolah ditarik kembali secara paksa dari dimensi perenungan yang dalam. "Iya," ucap Sanjaya tanpa berniat menutup-nutupi.

"Tentang apa kali ini?" kejar Nabila dengan nada yang sengaja dilembutkan, memberi ruang seluas-luasnya bagi Sanjaya untuk menumpahkan bebannya.

"Tentang dunia," jawab Sanjaya singkat, meski suaranya mengandung bobot yang berlapis-lapis.

Nabila tersenyum tipis, mencoba merespons dengan nada yang terkesan ringan. "Ah, dunia memang selalu rumit dari masa ke masa, Jaya. Tidak ada manusia yang pernah benar-benar memahaminya secara utuh."

Sanjaya menggeleng pelan, membuang napas berat lewat sela bibirnya. "Bukan kerumitan itu yang sedang kupikirkan."

Nabila sedikit memajukan duduknya, menaikkan alisnya dengan sorot mata yang kian penasaran. "Lalu? Apa yang membuatmu tampak begitu terbebani?"

"Dunia ini terlalu pandai," ucap Sanjaya lirih, sementara jemarinya mengetuk-ngetuk pelan permukaan meja kayu. "Ia sangat lihai membuat manusia merasa seolah-olah dirinya begitu merdeka dan bebas menentukan arah hidup. Padahal di saat yang bersamaan, ia diam-diam sedang mengikat leher kita dengan tali rantai yang tak kasat mata, mengurung jiwa kita dengan cara yang jauh lebih halus, jauh lebih rapi, hingga kita sendiri bahkan mati-matian menikmati belenggu yang mencengkram itu."

Nabila tidak menjawab. Hanya mengangkat cangkir kopinya dengan perlahan sambil meresapi udara malam yang merambat, membawa aroma tanah yang lembap. Di dalam dada Sanjaya, percakapan itu perlahan membuka sebuah pintu lama yang selama bertahun-tahun tertutup rapat. Di balik pintu itulah wajah kakeknya kembali muncul, bersama sebuah tajug kecil, suara jangkrik, dan petuah yang dahulu hanya didengar sebagai cerita anak-anak, tetapi kemudian mulai terasa seperti cahaya yang hendak menuntunnya pulang.

Malam itu, sepulang dari warung kopi, langkah Sanjaya terasa lebih lambat daripada biasanya. Jalanan kota masih dipenuhi kendaraan yang berlalu-lalang, lampu-lampu reklame memantulkan cahaya yang gemerlap, dan gedung-gedung menjulang berdiri angkuh seolah sedang berlomba menyentuh langit. Di balik keramaian itu, ia mendengar kesunyian yang jauh lebih nyaring. Kesunyian yang datang bukan dari luar, melainkan dari ruang terdalam di dalam dirinya, ruang yang selama bertahun-tahun dipenuhi suara-suara masa lalu yang tidak pernah benar-benar pergi.

Di dalam angkot yang membawanya pulang, wajah Nabila masih sesekali melintas dalam benaknya. Bukan karena perempuan itu telah mengisi kekosongan yang ditinggalkan Riana. Tidak. Luka yang ditinggalkan Riana masih tetap ada, seperti bekas sayatan pada batang pohon yang perlahan mengering tetapi tidak pernah benar-benar hilang. Nabila hanya menghadirkan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Kehadirannya sebagai seseorang yang sepertinya mau tinggal cukup lama untuk mendengarkan, tanpa tergesa-gesa menghakimi, dan tanpa sibuk menawarkan jawaban yang belum tentu dipahami oleh dirinya sendiri.

"Aku tidak ingin menyembuhkanmu dari luka-luka itu," suara Nabila kembali terngiang di dalam kepala Sanjaya, berputar-putar pelan seirama dengan deru kendaraan yang mulai jarang melintasi jalanan di luar warung kopi tadi.

Sanjaya yang malam itu sempat tertegun menatap cangkirnya kini kembali teringat akan ketulusan retoris dari kalimat tersebut. "Lalu... apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanyanya kala itu dengan nada penuh kebingungan.

"Aku hanya ingin menemanimu berjalan menyusuri lorong-lorong gelap ini," jawab Nabila tenang. Kalimat sederhana itu kemudian terus bergema di dalam batin Sanjaya, berulang-ulang menghantam dinding kesadarannya yang paling dalam. Ia cukup merasakan di tengah riuhnya dunia yang serba menuntut, manusia sebenarnya tidak benar-benar membutuhkan seseorang yang sok tahu mampu menghapus atau menyembuhkan segala kesedihannya. Seringkali hanya membutuhkan seorang kawan yang bersedia berdiri dan berjalan di sampingnya, meski mereka berdua sama-sama tidak mengetahui ke mana ujung jalan itu akan bermuara. 

Dan mungkin, di situlah letak arti sejati dari persahabatan dan pencarian itu sendiri. Bukan pada seberapa cepat kita menemukan jawaban yang sah, melainkan pada kesediaan untuk saling merangkul di tengah gelap, menolak tunduk pada rasa sepi, dan terus melangkah maju bersama, meski langkah kaki masing-masing gemetar saat menapaki ketidakpastian yang membentang tanpa ujung.

Langkah kaki Sanjaya akhirnya membawanya tiba di depan pintu kamar kosnya yang sempit dan pengap. Begitu gagang pintu terdorong dan lampu neon menyala kuning redup, ia segera melangkah ke arah jendela dan mendorongnya lebar-lebar. Udara malam yang sejuk merangsek masuk perlahan, membawa serta aroma khas tanah yang lembap setelah tersiram hujan lebat pada sore hari tadi. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara anjing menyalak di sudut gang, disusul oleh deru kendaraan bermotor yang semakin jarang melintas, menyisakan keheningan yang kian pekat. 

Sanjaya mendongak menatap ke langit yang tampak begitu gelap tanpa sapuan awan. Namun butiran-butiran bintang tetap bertahan di tempatnya masing-masing, berpendar tabah bagai saksi bisu yang mengingatkan bahwa cahaya tidak selalu harus hadir untuk menghapus atau mengalahkan gelap gulita. Kadang kala, ia hanya perlu tetap ada di sana yang menyala kecil di kejauhan, agar manusia yang tersesat tidak sepenuhnya kehilangan arah dan harapan.

Entah mengapa, di tengah kesunyian kamar yang mengepung itu, ingatan Sanjaya mendadak melompat jauh melintasi ruang dan waktu, menerobos lorong kenangan masa kecilnya yang bertahun-tahun terkubur rapi. Di antara bayang-bayang masa lalu yang mulai kabur, wajah kakeknya tiba-tiba muncul begitu jelas di dalam benaknya sejelas bias pijar cahaya lampu minyak tanah yang dahulu setia menerangi sebuah tajug kecil di pinggir kampung halaman. 

Sebuah tajug yang bangunannya amatlah sederhana, berdiri megah di atas kesederhanaan dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu berlubang-lubang halus dan atap genting tua yang mulai menghitam dimakan usia dan lumut basah melumurinya. Di sanalah, setiap kali selepas salat magrib berkumandang, anak-anak kampung berkumpul bersila di atas tikar pandan, rajin belajar mengaji huruf hijaiyah, tekun mendengarkan kisah-kisah agung para nabi, dan sesekali menerima petuah hidup yang saat itu terasa begitu tinggi, abstrak, dan sulit dipahami oleh kepala mereka yang masih dipenuhi angan-angan permainan masa kecil.

Di dalam keheningan malam kos itu, suara kakeknya mendadak terdengar kembali di telinga batinnya, begitu berat namun memancarkan kehangatan yang teramat sangat. Suara yang bagaikan aliran sungai tenang yang mengikis tepian, yang secara perlahan mampu menembus dan membentuk batu karang yang paling keras selama bertahun-tahun lamanya.

�Nak, kelak kalau kau dewasa, jangan pernah merasa menjadi penguasa bumi."

Pesan itu meluncur begitu saja dari bibir lelaki tua yang keriput dimakan usia, memecah kesunyian malam di emperan tajug bambu. Sanjaya kecil yang duduk bersila di sampingnya hanya mengangguk pelan, meski di dalam kepalanya yang masih belia, kata-kata itu terdengar terlalu besar dan asing untuk dicerna sepenuhnya.

Sang kakek tidak langsung melanjutkan. Matanya yang meredup ditelan usia memandang jauh ke arah hamparan sawah hijau di hadapan mereka, yang malam itu tampak berkilau keperakan disiram limpahan cahaya rembulan.

"Suatu hari nanti, di masa depanmu, matahari bisa saja malas menguapkan lautan," lanjut sang kakek dengan nada penuh teka-teki.

Sanjaya kecil mengernyitkan dahi, kepalanya mendongak menatap wajah kakeknya dengan rasa penasaran yang menggelitik. �Memangnya matahari bisa malas, Kek?"

Kakeknya tersenyum tipis, sebuah senyuman sarat pengalaman hidup. �Tidak, cucuku. Matahari tidak pernah benar-benar malas. Yang malas adalah manusia itu sendiri. Manusia malas memahami tanda-tanda kebijaksanaan yang sejak lama diberikan alam." 

Sambil berbicara, sang kakek memungut segenggam tanah subur di dekat kakinya, lalu membiarkan butiran-butiran tanah itu meluncur jatuh perlahan dari sela-sela jemarinya yang legam.

"Kalau manusia terus-menerus dikuasai keserakahan, laut pada akhirnya akan meninggi dan menelan daratan. Pulau-pulau perlahan tenggelam, hutan-hutan ditebang tanpa ampun, gunung-gunung dilukai perutnya, dan sungai-sungai dicekik oleh beton dan sampah-sampah berserakan. Lalu setelah itu, manusia dengan mudahnya bertanya-tanya mengapa banjir datang, mengapa bumi tiba-tiba marah."

Perkataan itu meluncur pelan bagai angin malam, tetapi terasa jauh lebih berat daripada batu besar yang dijatuhkan ke dasar sumur yang kering. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia tumbuh dewasa dan menyaksikan sendiri kehancuran alam di berbagai belahan dunia, Sanjaya baru benar-benar memahami bahwa garis batas tipis antara azab dan akibat sering hanya dipisahkan oleh keengganan manusia untuk mengakui kesalahannya sendiri.

"Lalu kenapa di televisi kita sering melihat hujan turun menjadi banjir bandang yang menghancurkan?" tanya Sanjaya kecil, suaranya terdengar ragu-ragu di antara desau angin malam yang menyentuh dinding-dinding bambu tajug.

Sang kakek tersenyum tipis, sorot matanya menyiratkan kedalaman samudera pengalaman. "Karena manusia sendiri yang telah mengubah tempat air pulang," jawabnya pelan.

Malam terasa semakin pekat dan sunyi. Bahkan suara jangkrik yang tadinya bersahut-sahutan seolah berhenti sejenak, memberi ruang agar petuah-petuah itu dapat menetap dan mengakar lebih lama di dalam hati sang cucu.

Perkataan itu meluncur pelan bagai angin malam, tetapi terasa jauh lebih berat daripada batu besar yang dijatuhkan ke dasar sumur yang kering. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia tumbuh dewasa dan menyaksikan sendiri kehancuran alam di berbagai belahan dunia, Sanjaya baru benar-benar memahami bahwa garis batas tipis antara azab dan akibat hanya dipisahkan oleh keengganan manusia untuk mengakui kesalahannya sendiri.

Kakeknya kembali mengangkat tangan, mengarahkan telunjuknya ke atas bentangan langit. �Lihat awan itu."

Sanjaya mengikuti arah telunjuk kakeknya, mendongak ke bentangan langit malam. �Lihat, Kek." 

�Awan tidak pernah memiliki kebencian sedikit pun kepada manusia."

�Lalu kenapa di televisi kita sering melihat hujan turun menjadi banjir bandang yang menghancurkan?" 

"Karena manusia sendiri yang mengubah tempat air pulang," jawab sang kakek bijak di malam yang terasa semakin pekat dan sunyi. Bahkan suara jangkrik yang tadinya bersahut-sahutan seolah berhenti sejenak, memberi ruang agar petuah-petuah itu dapat menetap dan mengakar lebih lama di dalam hati sang cucu.

"Dulu, air yang turun dari langit adalah rahmat yang menyuburkan," lanjut sang kakek, suaranya kian merendah. �Sekarang, di banyak tempat di muka bumi, ia datang membawa luka dan air mata. Bukan karena Tuhan tiba-tiba mengubah kasih sayang-Nya kepada makhluk ciptaan-Nya, melainkan karena manusia sendiri yang telah mengubah wajah bumi menjadi asing bagi air."

Sanjaya kecil masih terdiam, meresapi setiap suku kata yang masuk ke dalam sanubarinya.

Kakeknya menoleh, lalu mengusap kepala cucunya itu dengan penuh kelembutan. �Tuhan tidak sedang membenci manusia, Nak." 

"Benarkah, Kek?" tanya Sanjaya memastikan.

"Iya, sungguh."

�Kalau begitu, mengapa ada begitu banyak bencana di dunia ini?"

"Karena cinta Tuhan terkadang datang dalam wujud yang sama sekali tidak kita duga, Nak. Ia tidak selalu berwujud kemudahan atau gelimang kenikmatan, melainkan datang cukup sebagai sebuah peringatan yang mengguncang," tutur sang kakek dengan suara yang kian bergetar.

Kalimat itu mengalir dengan begitu sederhana dari bibirnya yang kering, hampir tanpa pretensi apa pun, namun berhasil menyala terang benderang seperti pelita kecil di tengah gulita malam yang panjang, menerangi sudut-sudut gelap dalam pemahaman Sanjaya kecil yang masih meraba makna kehidupan.

"Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada seluruh makhluk-Nya," ujar kakeknya pelan, merangkum segalanya dalam sebuah perumpamaan yang begitu dekat dengan nalar seorang anak kecil. "Coba bayangkan, kalau seorang ayah melihat anak kesayangannya berjalan tanpa sadar menuju bibir jurang yang curam dan berbatu, apakah ia akan tinggal diam begitu saja?"

Sanjaya kecil menggeleng cepat, meresapi gambaran yang diberikan oleh kakeknya. "Tidak, Kek."

"Tentu saja tidak," lanjut sang kakek dengan tatapan yang semakin teduh. "Kalau perlu, ia akan berteriak sekuat tenaga, bahkan menarik lengan anaknya dengan paksa untuk menghentikannya dari langkah maut itu."

"Iya, Kek," jawab Sanjaya lirih, mulai menangkap benang merah dari perumpamaan tersebut.

"Nah, kadang-kadang Tuhan juga memperlakukan kita persis seperti itu," pungkas sang kakek sambil menepuk pelan pundak cucunya. "Bukan karena Dia ingin mencelakakan atau menghancurkan hidup kita, melainkan karena Dia begitu mencintai kita, hingga Dia rela mengguncang dunia kita sekadar untuk menghentikan langkah kaki kita sebelum semuanya terlambat."

Di tengah desau angin malam yang berembus perlahan melewati bilik-bilik tajug, menggoyangkan dedaunan kelapa di luar hingga berderit lirih, suasana terasa begitu khidmat. Bunyi gesekan dedaunan itu terdengar seperti bait-bait doa tua yang tak pernah lelah berkelana, mencari hati manusia yang masih bersedia diam dan mendengarnya.

Kenangan masa lalu yang berkelebat di kepala itu membuat dada Sanjaya mendadak terasa hangat sekaligus sesak oleh gelombang haru. Baru sekarang, di usianya yang telah dewasa dan dihantam berbagai kerumitan hidup, ia sepenuhnya memahami bahwa petuah-petuah masa kecil dari sang kakek memang tidak pernah diniatkan untuk langsung dimengerti saat itu juga. Petuah-petuah itu ibarat benih-benih tanaman yang lama tertidur lelap di dalam kegelapan tanah, diam-diam menunggu musim yang tepat untuk akhirnya berkecambah dan menembus permukaan. Dan mungkin, pikirnya sambil menarik napas panjang di keheningan kamarnya, musim semi bagi batin manusia baru benar-benar tiba setelah seseorang melewati fase kehilangan, menelan keraguan yang pekat, terjatuh hingga titik nadir, lalu perlahan-lahan belajar merangkak dan berdiri kembali dengan kaki gemetar.

Keesokan harinya, di bawah langit pagi yang cerah namun menyisakan sisa-sisa kesejukan malam, Sanjaya menemui Nabila di tempat biasa. Sambil menyeruput kopi hangat mereka, Sanjaya menceritakan potongan kenangan masa kecil itu dengan suara yang terdengar lebih tenang dari biasanya.

"Aku baru benar-benar mengerti makna di balik kata-kata kakekku setelah puluhan tahun berlalu," ucap Sanjaya membuka percakapan, matanya menatap pantulan bayangannya sendiri di permukaan cangkir.

Nabila tersenyum lembut, sebuah senyuman tulus yang terpancar jelas di balik sorot matanya yang menyimpan keteduhan luar biasa. Keteduhan yang selalu berhasil meredakan badai kecil di dalam dada Sanjaya. "Memang begitulah cara kerja kebijaksanaan yang sejati, Jaya," ucapnya dengan nada suara yang mengalir tenang, menyatu dengan deru angin sore yang berembus pelan di antara pepohonan.

Sanjaya mengernyitkan dahi dalam-dalam, merasa terusik sekaligus penasaran dengan cara sahabatnya itu merespons kisah masa kecilnya. "Maksudmu? Bisa jelaskan lebih jauh?" tanyanya, meminta kejelasan atas kalimat yang terdengar begitu filosofis bagi Sanjaya.

"Ia tidak pernah sedikit pun memaksa kita untuk buru-buru mengerti atau menelannya mentah-mentah saat usia kita masih terlalu hijau dan belum mengenal pahitnya dunia," lanjut Nabila, membiarkan jemarinya meraba tepi cangkir keramik di hadapannya. "Sebab sewaktu kecil, kepala kita hanya dipenuhi angan-angan, dan telinga kita hanya mendengar tanpa pernah benar-benar meresapi."

"Lalu, bagaimana bisa kita akhirnya paham?" kejar Sanjaya cepat, rasa penasarannya kian membuncah, mendesak Nabila untuk menuntaskan pemikirannya.

"Ia dengan sangat sabar menunggu hingga kita cukup terluka oleh kerasnya kenyataan, cukup tertempa oleh badai kehidupan yang bertubi-tubi, hingga pada akhirnya kita memiliki kepekaan untuk merenung dan memahami arti di balik setiap rasa sakit, kehilangan, dan air mata yang pernah kita lewati di sepanjang perjalanan," jawab Nabila bijak, menutup penjelasannya dengan sebuah senyuman yang menyisakan keheningan panjang di antara mereka berdua.

Sanjaya menatap wajah Nabila beberapa saat. Di mata perempuan itu tidak ada kemenangan karena merasa benar. Yang ada hanyalah keteduhan seseorang yang tahu bahwa setiap manusia memiliki waktunya sendiri untuk bertumbuh. Dan untuk pertama kalinya sejak Riana pergi meninggalkan hidupnya, Sanjaya merasa bahwa masa depan tidak selalu harus dipandang sebagai tempat mencari pengganti seseorang. Kadang masa depan hanya meminta manusia membuka sedikit ruang di dalam hatinya, agar cahaya yang baru memiliki tempat untuk singgah, tanpa harus mengusir cahaya lama yang pernah begitu dicintainya.

Beberapa hari setelah percakapan itu, Sanjaya kembali mendatangi Nabila. Mereka tidak lagi bertemu di pelataran kampus, melainkan di sebuah taman kecil yang nyaris terlupakan di sudut kota. Pohon-pohon trembesi menaungi bangku-bangku kayu yang mulai kusam dimakan hujan dan panas. Daun-daun berguguran tanpa suara, menutupi jalan setapak seperti lembaran surat yang tak pernah sempat dikirim kepada siapa pun. Di tempat itu, waktu seolah kehilangan kebiasaannya untuk berlari, yang berjalan perlahan memberi ruang bagi setiap kenangan untuk duduk di samping mereka.

Sanjaya memandang jauh ke arah bentangan langit di ufuk timur yang perlahan-lahan mulai memerah, menyambut datangnya sang surya dengan bias cahaya keemasan yang menembus sela-sela dedaunan rindang. Pemandangan pagi itu seolah menarik kesadarannya kembali menyeberangi lorong waktu, membawanya terlempar jauh ke masa-masa lampau yang tersimpan rapat di lubuk hatinya.

"Aku jadi teringat kembali pada masa kecilku yang sederhana itu," kata Sanjaya lirih, suaranya hampir tak terdengar, melebur bersama hembusan angin yang menyejukkan kulit.

Nabila menoleh sekilas, menangkap perubahan raut wajah lelaki di hadapannya yang mendadak larut dalam keheningan batin. "Tentang nenekmu?" tanya Nabila pelan, mencoba menebak bayang-bayang masa lalu yang sedang singgah di kepala sahabatnya.

Sanjaya menggeleng pelan, sementara tatapannya masih terpaku lurus menatap langit yang kian cerah. "Bukan, bukan tentang Nenek," jawabnya seraya menarik napas panjang. "Ingatanku masih berputar pada Kakekku... dan kenangan tentang surau tua di pinggir kampung bernama tajug."

Nabila memilih untuk tidak menyela atau mengajukan pertanyaan lanjutan. Ia tahu betul bahwa ada jenis kenangan tertentu yang begitu sakral dan rapuh, sebuah ruang batin yang hanya akan terbuka dan melahirkan maknanya yang utuh apabila kesunyian diberi kesempatan untuk berbicara lebih dulu, membiarkan jiwa yang terluka menyusun kepingan cerita dengan caranya sendiri.

Ingatan itu datang perlahan seperti kabut yang turun dari lereng gunung ketika senja. Surau kecil di ujung kampung kembali berdiri utuh di dalam benaknya. Dindingnya dari bilik bambu, lantainya papan yang setiap dipijak mengeluarkan bunyi lirih, dan lampu minyak yang menggantung di tengah ruangan mengirimkan cahaya kekuningan yang lembut, membuat bayangan setiap orang tampak lebih panjang daripada tubuhnya sendiri. Di luar surau, suara tonggeret dan jangkrik saling bersahutan. Di kejauhan terdengar aliran sungai kecil yang tak pernah lelah mengajarkan bahwa perjalanan tidak selalu harus tergesa-gesa.

Di sanalah, setiap malam selepas magrib, Sanjaya kecil duduk bersila bersama anak-anak kampung lainnya. Mereka mengeja huruf demi huruf Al-Qur'an dengan suara yang kadang masih terbata-bata. Tak seorang pun merasa malu karena semua sedang belajar. Di ruang sederhana itu, ilmu tidak mengenal siapa yang paling pandai. Semua datang sebagai anak-anak yang sama-sama membawa ketidaktahuan.

Guru ngajinya adalah lelaki sepuh dengan sorot mata yang teduh. Wajahnya tidak menunjukkan kerasnya seorang pengajar yang gemar menghukum, melainkan kelembutan seseorang yang percaya bahwa pengetahuan akan lebih lama tinggal di hati daripada di kepala.

Ingatan Sanjaya melompat lebih jauh, jatuh pada suatu malam bertahun-tahun silam di pelataran surau bambu itu, ketika pelita minyak mulai meredup kehabisan bahan bakar. Selepas pelajaran membaca Al-Qur'an usai dan suasana mulai lengang, sang kakek yang dihormati sebagai guru oleh anak-anak kampung berhenti merapikan lembaran-lembaran muqodam dan mushaf usang. Beliau mengangkat wajah, lalu memandang murid-muridnya satu per satu dengan sorot mata yang teduh dan menyaratkan kedalaman makna.

"Nak," kata beliau pelan, suaranya memecah keheningan malam yang mulai merayap. "Kalau kalian kelak sudah bisa membaca Al-Qur'an dengan baik, jangan pernah merasa cukup dan berhenti belajar hanya karena kalian sudah lancar melafalkannya."

Anak-anak kecil yang duduk bersila di atas tikar pandan saling berpandangan satu sama lain, kebingungan terpancar jelas di wajah-wajah polos mereka yang diterangi temaram cahaya lampu.

Mamat sebagai seorang anak yang berani mengangkat tangan dan bertanya, "Kenapa begitu, Guru? Bukankah membaca Al-Qur'an saja sudah mendatangkan pahala?"

Sang kakek tersenyum tipis mendengar kepolosan muridnya. "Karena Al-Qur'an diturunkan bukan sekadar untuk dibaca atau dilagukan dengan suara yang merdu semata."

"Lalu untuk apa kitab suci itu diturunkan?" kejar anak yang lain bernama Hashim, rasa penasarannya kian memuncak.

"Untuk dipahami," jawab sang kakek tegas namun penuh kelembutan. "Untuk diresapi makna yang tersembunyi di balik setiap ayatnya, dan yang paling penting, untuk dijalankan dalam laku kehidupan sehari-hari."

Beliau kemudian sengaja berhenti berbicara untuk beberapa saat lamanya, membiarkan keheningan malam meresap dan memberi waktu yang cukup agar kalimat sederhana itu benar-benar menetap serta mengakar di dalam kepala anak-anak didiknya.

"Kalau nanti kalian sudah besar dan melangkah keluar dari kampung ini, belajarlah bahasa Arab dengan sungguh-sungguh. Pelajari tafsir para ulama, dalami sejarahnya, dan jangan pernah merasa cukup," pesan sang kakek dengan suara berat namun penuh wibawa, memecah keheningan surau yang kian larut. "Jangan pernah takut untuk membuka dan membaca buku sebanyak-banyaknya dari berbagai penjuru dunia. Sebab, petunjuk hidup tidak akan pernah benar-benar menjadi cahaya yang menerangi jalan kalian kalau kalian hanya mengaguminya dari kejauhan tanpa mau mendekat dan memahaminya."

Sanjaya kecil yang duduk bersila di barisan paling depan saat itu masih belum mampu memahami sepenuhnya kedalaman makna dari petuah tersebut. Namun, suara sang kakek bersemayam begitu lekat di dalam ingatannya, tersimpan rapi bagaikan sebutir benih yang dikubur jauh di dalam kelembapan tanah, dengan sabar menunggu datangnya musim yang tepat untuk tumbuh dan membelah bumi.

Guru ngaji sekaligus kakeknya itu kemudian melanjutkan tutur katanya, diiringi seulas senyum tipis di bibirnya yang nyaris tak berubah sejak awal mereka mulai belajar.

"Dan ingat, jangan pernah jadikan Al-Qur'an sekadar sebagai bacaan seremonial pada malam Jumat, atau sekadar dilantunkan ketika ada orang meninggal di kampung ini," ujar beliau dengan nada yang menyayat hati.

Beliau mengangkat perlahan lembaran mushaf tua yang sampulnya telah lusuh dan menguning dimakan usia di kedua tangannya.

"Kitab suci ini bukan sekadar pajangan atau jimat pelindung, melainkan petunjuk hidup yang nyata untuk menuntun langkah kalian di dunia."

Beliau lalu merendahkan suaranya, berucap dengan sangat perlahan dan hati-hati, seolah takut kalimatnya itu melukai perasaan siapa pun yang mendengarnya.

"Sebab, orang yang hanya memanggul kitab di pundaknya tanpa pernah berusaha memahami dan mengamalkan maknanya, ibarat seseorang yang membawa karung berisi bekal makanan sepanjang perjalanan jauh, tetapi ia sendiri membiarkan perutnya keroncongan karena tidak pernah mau membukanya ketika kelaparan melanda."

Anak-anak seketika terdiam seribu bahasa, terpaku oleh perumpamaan yang begitu menohok nalar mereka. Bahkan angin malam yang berembus masuk lewat celah-celah anyaman bilik bambu surau itu mendadak seakan ikut mereda, seolah takjub dan ikut mendengarkan petuah agung yang tengah dititipkan kepada generasi masa depan.

Kenangan masa lalu yang begitu hidup di dalam kepalanya itu perlahan-lahan memudar, menyisakan keheningan pagi yang menenangkan di kedai kopi tempat ia duduk bersama Nabila. Sanjaya mengembuskan napas panjang, membiarkan udara pagi meresap ke dalam dadanya yang masih dipenuhi sisa-sisa kehangatan masa kecil.

"Aku merasa baru benar-benar mengerti ucapan beliau sekarang, setelah bertahun-tahun terlewat," kata Sanjaya kepada Nabila, suaranya terdengar begitu tulus dan sarat akan perenungan mendalam.

Nabila menatap sahabatnya itu dengan sorot mata yang penuh pengertian, lalu tersenyum tipis. "Mungkin kau belum memahaminya secara keseluruhan, Jaya."

Sanjaya sedikit mengerutkan dahi, merasa tertohok sekaligus penasaran dengan respons yang diberikan oleh perempuan di hadapannya itu. "Bagaimana bisa? Bukankah aku baru saja mengatakan bahwa aku sudah mengerti?"

Nabila menggeleng perlahan seraya menyesap kopinya yang masih hangat. "Sebab tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang pernah benar-benar selesai memahami sebuah petunjuk hidup secara utuh dalam sekali waktu."

Sanjaya tertegun sejenak, mencoba mencerna kalimat yang meluncur begitu saja dari bibir Nabila. "Maksudmu, pemahaman kita memiliki batasan?"

"Bukan sekadar batasan," jawab Nabila tenang. "Petunjuk itu hidup, dan ia selalu bertumbuh seiring bertambahnya usia, kedewasaan, serta luasnya pengalaman batin orang yang membacanya."

Kalimat yang begitu sarat makna itu langsung menghujam kesadaran Sanjaya, membuatnya kembali tenggelam dalam lautan pikirannya sendiri, merenungkan betapa luasnya perjalanan jiwa yang masih harus ia tempuh ke depan.

Namun roda kehidupan ternyata tidak pernah berjalan lurus dan sederhana seperti ingatan masa kecilnya di desa. Tahun-tahun berikutnya membawa Sanjaya melangkah jauh meninggalkan surau bambu, kedamaian kampung halaman, dan suara gemercik air sungai. Ia terlempar ke hiruk-pikuk kota besar yang asing dan kejam, mendekam di kamar kos yang sempit dan pengap, menghabiskan waktu berjam-jam di antara tumpukan buku di rak-rak perpustakaan yang berdebu, serta duduk berjam-jam di meja diskusi yang sumpek, dipenuhi aroma kopi pahit dan kepulan asap rokok yang pekat. Di situlah, di tengah perdebatan intelektual yang membara, ia berjumpa dengan berbagai macam orang dari mahasiswa, pemikir muda, dan aktivis yang membaca dunia dari sudut pandang dan arah yang sama sekali berbeda dari apa yang diajarkan kakeknya dulu.

Suatu malam, tepat ketika diskusi sengit mengenai peradaban usai dan jarum jam telah merangkak jauh melewati tengah malam, seorang temannya tertawa kecil sambil menepuk bahunya dengan akrab. "Kau ini hidup di era modern, Jaya, tapi pikiranmu masih terlalu asyik terkungkung di masa lalu. Kau terlalu sibuk membaca tafsir klasik."

Sanjaya mengerjap, menoleh dengan dahi berkerut. "Lalu, kalau tidak membaca tafsir, aku harus membaca apa lagi?" tanyanya bernada menantang sekaligus penasaran.

Temannya itu mengisap rokoknya dalam-dalam sebelum menjawab, "Baca buku-buku sosial kontemporer. Jangan hanya terpaku pada teks-teks lama."

Sanjaya menaikkan alisnya, merasa perlu tahu alasannya. "Kenapa memangnya?"

"Karena agama tidak hanya hidup di dalam lembaran kitab suci atau di atas mimbar masjid," jawab temannya tegas. "Agama juga bernapas dan berdenyut di tengah masyarakat, di jalanan, di dalam ketimpangan sosial yang kita saksikan setiap hari."

Seorang teman lainnya yang duduk di seberang meja ikut menimpali perbincangan itu dengan antusias. "Betul kata dia. Kalau kau benar-benar ingin memahami manusia secara utuh, jangan pernah membatasi diri hanya dengan membaca satu rak buku saja. Baca sejarah Islam secara kritis, pelajari sosiologi, selami filsafat barat dan timur, pahami sistem ekonomi global, dan kuasai antropologi budaya. Dunia ini luas, dan kebenaran tidak pernah monopoli satu disiplin ilmu saja."

Percakapan di meja diskusi yang sumpek malam itu seolah menjadi kunci pembuka pintu gerbang intelektual yang membawanya bertualang lebih jauh. Sanjaya mulai melahap karya-karya monumental para pemikir lintas zaman dan disiplin ilmu. Mulai dari analisis sosiologi-sejarah ala Ibnu Khaldun, gejolak sosiologi Islam pencerahan dari Ali Syariati, neo-modernisme Fazlur Rahman, penelusuran sejarah agama yang penuh empati karya Karen Armstrong, hingga narasi makro evolusi umat manusia milik Yuval Noah Harari dan kearifan kosmologis Carl Sagan. Setiap nama, setiap buku yang ia baca, terasa seperti membuka sebuah jendela baru di dalam benaknya, memperluas cakrawala berpikirnya secara drastis, lalu di saat yang bersamaan justru memperlihatkan betapa dahsyat dan luasnya bentangan langit pengetahuan yang selama ini belum pernah ia pandangi sama sekali.

Semakin banyak lembaran buku yang ia tuntaskan, semakin sering Sanjaya merasa bahwa dirinya tidak sedang mengumpulkan jawaban-jawaban yang pasti atas teka-teki dunia. Tersadar kemudian bahwa ia sedang mengumpulkan tumpukan pertanyaan baru yang kian kompleks. Pertanyaan-pertanyaan itu tumbuh liar seperti akar pohon tua yang merambat kuat ke segala arah. Datang menerobos masuk menyentuh fondasi sejarah, dogma agama, tatanan kebudayaan, intrik politik, hingga detail-detail terkecil dalam kehidupan sehari-hari. Ada kalanya, setelah menuntaskan satu bab pemikiran, ia merasa begitu tercerahkan seolah menemukan seberkas cahaya terang. Namun pada kesempatan lain, ia merasa benar-benar tersesat dan kebingungan di tengah ruangan yang terlalu banyak disinari cahaya dari berbagai sudut.

"Apakah kau pernah merasa menyesal karena telah membaca semua buku dan pemikiran itu?" tanya Nabila pelan, memecah lamunan Sanjaya sembari menatap lekat lelaki yang duduk di hadapannya itu.

Sanjaya menggelengkan kepalanya tanpa ragu sedikit pun. "Tidak, aku sama sekali tidak pernah menyesalinya."

"Walaupun semua bacaan itu pada akhirnya justru membuat pikiran dan batinmu menjadi sangat gelisah?" kejar Nabila lagi, ingin memastikan kedalaman rasa yang dirasakan sahabatnya.

"Justru karena rasa gelisah itulah yang membuatku tidak pernah bisa berhenti untuk terus membaca dan mencari," jawab Sanjaya jujur, menyuarakan gejolak di dalam dadanya.

Nabila memandangnya dengan sorot mata yang teramat tenang, sebuah tatapan yang selalu sanggup mengalirkan kedamaian ke dalam jiwa Sanjaya yang sibuk berderu. "Kalau begitu, jangan pernah takut atau membenci rasa gelisah itu, Jaya."

Sanjaya menaikkan alisnya sedikit, menatap Nabila dengan penuh tanda tanya. "Mengapa aku tidak boleh takut padanya?"

"Karena kegelisahan pemikiran merupakan cara paling jujur dari dalam hati untuk memberitahu dirimu sendiri, bahwa jiwamu belum mati dan belum pernah berhenti untuk terus mencari kebenaran," tutur Nabila penuh kehangatan.

Matahari perlahan-lahan mulai tergelincir ke peraduannya, tenggelam megah di balik barisan pepohonan yang merimbun di ufuk barat. Bentangan langit sore yang tadinya terang benderang kini perlahan berubah warna menjadi gradasi ungu yang dalam, menyisakan bias jingga yang mulai memudar di sela-sela mega. Di angkasa, gerombolan burung-burung kecil tampak terbang beriringan, kembali pulang menuju sarangnya masing-masing setelah seharian lelah mencari makan, sementara embusan angin senja membawa serta aroma khas tanah yang basah dan segar setelah disiram hujan deras di sore hari. 

Sanjaya berdiri terpaku memandang cakrawala yang luas tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membiarkan keheningan senja merasuk ke dalam relung jiwanya. Di dalam ruang batinnya yang paling dalam, suara serak sang kakek di surau bambu, petuah sang guru ngaji tentang hakikat kitab suci, riuhnya perdebatan para pemikir muda di meja kopi yang dipenuhi asap rokok, serta setiap bait percakapan hangatnya bersama Nabila kini perlahan-lahan melebur dan bertemu di satu titik temu yang sama.

Ia akhirnya menyadari dengan segenap kesadaran bahwa hidup manusia bukanlah sebuah pelayaran kaku untuk mengumpulkan jawaban-jawaban mutlak dan kepastian yang kaku, melainkan sebuah ujian tentang keberanian yang tulus untuk terus merawat pertanyaan-pertanyaan besar tanpa pernah kehilangan secercah kerendahan hati. Barangkali, iman yang sejati bukanlah sebuah tembok kokoh yang dibangun untuk menutup rapat semua celah keraguan agar tidak terlihat, melainkan sebuah jembatan penyeberangan yang kokoh namun lentur, yang memampukan manusia untuk terus melangkah maju dengan tegap meskipun kabut tebal ketidakpastian belum juga tersibak dari hadapan.

Di tengah keheningan senja yang semakin merayap, Nabila perlahan bangkit dari bangku kayunya, merapikan mantel kecil yang ia kenakan untuk menahan dinginnya udara petang.

"Ayo, keburu hari sudah semakin larut," ajak Nabila lembut sambil menatap sahabatnya.

Sanjaya mengerjap, menarik kembali kesadarannya dari lamunan panjang. "Kita mau ke mana?" tanyanya penasaran.

"Pulang," jawab Nabila singkat namun penuh arti.

Sanjaya mengernyitkan dahi, merasa ragu dengan tujuan yang dimaksud. "Pulang ke rumah?"

Nabila menoleh sekilas, lalu melempar sebuah senyuman tulus yang begitu meneduhkan. Senyuman itu tampak sederhana tanpa dibuat-buat, tetapi di mata Sanjaya, ia terasa bagaikan kilatan cahaya matahari pertama yang menembus kegelapan setelah malam yang sangat panjang dan melelahkan.

"Bukan," jawab Nabila sambil menggeleng pelan, sudut bibirnya sedikit berkedut menahan senyum penuh misteri yang sejak tadi ia sembunyikan.

Sanjaya semakin dibuat penasaran setengah mati, dahinya berkerut-kerut seolah sedang memikirkan rumus fisika kuantum yang paling rumit di muka bumi. "Wah, kalau jawabannya puitis begini, aku malah jadi curiga, Nab," tukasnya cepat, setengah bercanda untuk mencairkan suasana. 

"Jangan-jangan maksudmu kita mau mampir dulu ke warung pecel lele langganan di ujung jalan? Soalnya, sehebat-hebatnya petuah filsafat dan penjelajahan batin manusia, kalau perut keroncongan begini, kedamaian hati langsung amblas dikalahkan aroma sambal terasi."

Nabila langsung terkekeh geli, tawanya pecah membuyarkan kesenduan senja yang sempat menggelayut di antara mereka berdua. "Astaga, Jaya! Kau ini dari tadi merenungkan makna hidup, meresapi teori-teori besar para pemikir dunia, ujung-ujungnya tetap saja kembali ke urusan perut juga," ledek Nabila sambil telunjuknya menoyor pelan lengan Sanjaya dengan gemas. "Jiwa boleh tercerahkan berkat bacaan filsafat dan sejarah, tapi lambung rupanya tetap menganut mazhab realisme pragmatis, ya?"

"Eh, jangan salah!" bela Sanjaya sambil nyengir lebar, wajah seriusnya seketika mencair menjadi tawa renyah. "Bahkan Ibnu Khaldun pun pasti setuju kalau urusan peradaban manusia itu dimulai dari ketersediaan logistik yang memadai di atas meja makan. Mana bisa kita merenungkan eksistensi alam semesta kalau usus besar kita sedang demo besar-besaran menuntut hak asasi pangan?"

"Iya juga sih," balas Nabila, masih tersenyum lebar sambil melipat kedua tangannya di dada. "Makanya, sebelum kau tersesat terlalu jauh menerka-nerka metafora tingkat tinggi yang barusan kukatakan, mari kita luruskan niat dulu. Pulang ke diri sendiri itu bukan berarti kau harus bertapa di dalam kamar mandi atau merenung sendirian di bawah pohon angker sambil pasang muka melankolis."

Sanjaya mengangguk-angguk sok tahu. "Lalu apa dong? Harus meditasi ala biksu Tibet sambil teriak 'om' begitu?"

"Bukan, Sinyo!" sahut Nabila gemas. "Pulang ke diri sendiri itu artinya berhenti pura-pura kuat, berhenti menjadi orang lain demi terlihat keren di hadapan anak-anak diskusi kampus, dan berhenti memikul beban seluruh masalah umat manusia di pundakmu yang sering pegal-pegal itu. Berdamailah dengan segala kebodohan masa lalu, terimalah bahwa tidak semua hal di dunia ini harus punya jawaban instan, dan yang paling penting..." Nabila sengaja menggantungkan kalimatnya.

"Apa?" tanya Sanjaya tak sabar, matanya menyipit penuh antisipasi.

"...traktir aku nasi goreng di ujung jalan sekarang juga, karena omongan bijak barusan itu butuh asupan kalori yang tidak sedikit!" tandas Nabila sambil melangkah lebih dulu, meninggalkan Sanjaya yang sempat tertegun sesaat sebelum tawanya pecah membahana di udara petang.

Sanjaya tidak menjawab dengan kata-kata lagi. Hanya tersenyum hangat sambil menggelengkan kepala pelan, lalu mempercepat langkahnya untuk menyusul perempuan itu menyusuri jalan setapak yang dipenuhi taburan daun-daun kering. 

Di tengah riuhnya sisa tawa dan gurauan ringan di antara mereka, tiba-tiba ada sesuatu yang bergeser pelan di dalam dada Sanjaya. Untuk pertama kalinya sejak Riana pergi meninggalkan hidupnya dan menyisakan lubang teramat menganga di masa lalu, ia menyadari bahwa dirinya tidak lagi merasa sedang berlari mengejar bayang-bayang seseorang yang telah hilang. Ia tidak lagi tersiksa oleh pertanyaan-pertanyaan egois tentang mengapa takdir harus berjalan begitu kejam.

Sanjaya merasa seolah sedang belajar merangkul dan berdamai dengan dirinya sendiri, dengan segala cacat, luka, dan ketidaktahuannya. Dan di dalam dekapan senja yang perlahan-lahan runtuh berganti malam yang tenang, Sanjaya akhirnya benar-benar memahami sebuah rahasia besar kehidupan bahwa setiap manusia memang harus mengembara melewati dunia yang penuh ahangkara, kesombongan intelektual, dan ambisi hampa, sebelum akhirnya mengerti dengan tulus bahwa cahaya kebijaksanaan yang sejati tidak pernah lahir dari rasa paling benar, melainkan dari kerendahan hati yang senantiasa bersedia terus belajar, terus bertanya, dan terus bersujud di hadapan keluasan semesta. (Sal)

Share :

Trending Lainnya


Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu

17 Agu 2026
140 x Dilihat

Surat Untuk Nabila

15 Agu 2026
142 x Dilihat

Bukan Jodoh

14 Agu 2026
241 x Dilihat

Tak Percaya Tuhan? (2)

13 Agu 2026
163 x Dilihat

Tak Percaya Tuhan? (1)

13 Agu 2026
232 x Dilihat

Ruang Pemahaman (2)

11 Agu 2026
294 x Dilihat

Ruang Pemahaman (1)

10 Agu 2026
1466 x Dilihat

Foto yang Membuat Hati Terdiam

09 Agu 2026
239 x Dilihat

Dunia Ahangkara (1)

08 Agu 2026
1171 x Dilihat

Perspektif

Scroll