Dunia Ahangkara (1)

Sejak Riana menjadi nama yang hanya tinggal menggantung di dahan-dahan kenangan, hari-hari Sanjaya...

Dunia Ahangkara (1)

08 Agu 2026
1171 x Dilihat
Share :

Sejak Riana menjadi nama yang hanya tinggal menggantung di dahan-dahan kenangan, hari-hari Sanjaya tidak lagi berjalan sebagai deretan waktu yang pasti. Pagi datang seperti embun yang lupa menguap, siang melintas seperti bayangan pohon yang kehilangan akar, dan malam turun perlahan-lahan bagai kain hitam yang setiap lipatannya menyimpan gema nama seseorang yang tak lagi mungkin dipanggil pulang. Ia tetap bekerja, tetap menyapa orang-orang, tetap tersenyum seperlunya, tetapi semua itu hanyalah gerak tubuh yang masih mengingat kebiasaan, sementara jiwanya telah lama berjalan jauh menyusuri lorong-lorong sunyi yang bahkan cahaya pun seperti enggan memasukinya.

Di ruang sunyi itulah pertanyaan-pertanyaan mulai tumbuh tanpa permisi. Sanjaya tahu ia harus merawat kewarasannya dengan perlahan-lahan berusaha menjahit sisa sakitnya ditinggalkan. Berjuang sekuat tenaga agar ia tidak sepenuhnya tenggelam oleh kepedihan cinta yang kandas kepada Riana. Bahkan mengira bahwa kesedihan memiliki masa kedaluwarsa untuk beberapa hari, beberapa pekan, atau mungkin beberapa tahun sewajarnya manusia bersedih. Lalu ketika waktu terus merayap dan luka itu tak kunjung menemukan muara, ia memilih jalan lain untuk melupakan dengan cara menenggelamkan diri di antara tumpukan buku-buku tebal, mencari suaka di balik kalimat demi kalimat yang ditulis para bijak sepanjang zaman.

Dari lembaran demi lembaran kertas itu, Sanjaya mulanya berharap bisa menemukan penawar untuk bangkit. Sebuah cara untuk meninggalkan sisa-sisa kesedihan cinta. Namun dengan bacaan-bacaan itu telah membawanya pada labirin yang lebih luas. Sampai suatu ketika dari buku-buku yang dibacanya kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran dengan sudut pandang yang sama sekali berbeda. Mengajaknya memandang cinta bukan lagi sebagai kutukan, melainkan sebuah teka-teki eksistensial, bahkan menuntunnya melihat kedalaman hati perempuan dengan kearifan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Buku-buku itu tidak bekerja sendirian di dalam diri Sanjaya. Transformasi batinnya tak lepas dari kehadiran seorang perempuan baru bernama Nabila, teman kuliah sekaligus rekan diskusinya yang kerap menarik Sanjaya agar keluar dari kepompong kesedihannya. Kehadiran Nabila cukup memberi keriangan pada diri Sanjaya, karena mungkin ia tidak pernah menggurui. Nabila datang sebagai sosok yang dengan sengaja mengajak dan menggiring Sanjaya untuk menelusuri pertanyaan-pertanyaan krusial dalam hidup, melampaui sekat-sekat sempit kedukaan pribadi.

Barangkali Nabila ibarat seorang sahabat sekaligus guru pembimbing bagi keliaran pemikiran Sanjaya, menembus batas-batas diri dari kehidupan yang selama ini hanya berputar pada poros patah hati. Pertanyaan-pertanyaan fundamental yang kerap direnungkan manusia sepanjang zaman perlahan menjadi karib dalam setiap percakapan mereka. Topik-topik itu, yang mulanya terasa sebesar biji rumput di awal perbincangan, lambat laun menjelma seperti akar pohon tua yang diam-diam menembus batu karang, memecahkan keyakinan-keyakinan lama yang selama ini ia sangka paling kokoh. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah datang sebagai musuh, melainkan hadir bak tamu yang sopan. Datang dengan duduk tenang di sudut hati, lalu menatapnya tanpa berkedip hingga Sanjaya sendiri lupa kapan terakhir kali ia benar-benar merasa yakin terhadap sesuatu.

Sampai suatu sore, selepas sebuah forum diskusi mengenai sastra dan pemikiran Islam, Nabila menghampirinya di pelataran kampus. Matahari telah condong ke barat, melemparkan bias jingga yang lelah ke atas tanah. Cahaya senja menyelinap melalui sela-sela pepohonan mahoni, lalu jatuh menjadi serpihan-serpihan emas di atas jalanan yang lengang, seolah langit sedang mengurai lembaran kitab tua yang ditulis dengan tinta cahaya. Udara membawa bau tanah basah yang baru saja kehilangan terik siang, sementara angin menggeser dedaunan perlahan seperti seseorang yang takut mengganggu kesedihan orang lain.

Nabila berdiri beberapa langkah di hadapannya, menatap dengan sorot mata yang menyimpan ribuan jeda. Matanya tidak tampak seperti mata seseorang yang hendak menyalahkan atau mengajarkan suatu doktrin agama dan keyakinan. Cukup ia hadir di sana membawa ketenangan yang sederhana. Sebuah ketenangan yang terkadang terasa jauh lebih berat, tetapi menyembuhkan daripada seribu nasihat manusia. Dalam keheningan senja yang mulai larut itu, jeda panjang merayap di antara mereka, seolah memberi ruang bagi angin untuk membawa pergi sisa-sisa ragu sebelum akhirnya Nabila memecah kesunyian dengan suara yang mengalir pelan.

"Aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Nabila dengan suara yang begitu pelan, nyaris tenggelam oleh desau angin malam yang menyapu beranda pelataran kampus.

Sanjaya menoleh, menangkap bayangan wajah perempuan itu dalam temaram cahaya senja, lalu mengangguk pelan memberikan ruang. "Silakan."

Nabila tidak langsung melanjutkan. Gadis itu menatap langit sebentar, seolah sedang menimbang setiap frasa di kepalanya, memilih kata-kata yang paling tepat agar tidak melukai siapa pun, bahkan untuk perasaannya sendiri. Seolah menyiratkan sebuah beban sunyi yang tertahan di balik helaan napasnya yang panjang dalam merangkai keberanian untuk menyuarakan apa yang selama ini bergelayut di palung hatinya.

"Mengapa seseorang bisa sampai pada titik ketika salat tetap salat, shalawat tetap shalawat, tetapi semua itu terasa hambar?" Nabila berujar lirih, matanya menerawang jauh menembus kegelapan yang perlahan merayap naik menggantikan mega merah.

Ia menarik napas sebentar sebelum kembali merajut kalimatnya, seolah memastikan getar di dadanya tidak ikut tumpah. "Awalnya semua dilakukan karena tulus ingin taat, tetapi lama-kelamaan ibadah itu berubah wujud hanya menjadi rutinitas hampa, sekadar gerakan mekanis yang kehilangan denyut dan ruhnya."

Pertanyaan itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang mendadak terasa berat di antara mereka berdua, seakan membiarkan setiap kata dari Nabila jatuh mendarat di atas permukaan jiwa Sanjaya yang paling sunyi. Jauh di dalam sudut hatinya, Sanjaya sempat bergidik ngeri. Ingin secepat mungkin menjauh dari bayang-bayang stigma kesesatan yang kerap dituduhkan kepada mereka yang gemar mempertanyakan iman. Namun ketakutan itu lekas ditepis oleh kesadaran yang telah lama mereka bangun bersama. Baik Nabila maupun Sanjaya telah sejak lama menyepakati sebuah prinsip yang tak tertulis bahwa di hadapan ketulusan pencarian, tidak ada satupun jenis pertanyaan yang haram atau tabu untuk diajukan. Sebab seperti kalimat masyhur dari Sokrates yang sering mereka kutip di sela-sela diskusi panjang di bawah naungan pohon mahoni, bahwa hidup yang tanpa dipertanyakan adalah hidup yang tak layak untuk dijalani.

Menanggapi pertanyaan itu, Sanjaya tidak segera menjawab. Ia terpekur sejenak, membiarkan keheningan itu merayap masuk ke dalam pikirannya. Ia merasa pertanyaan barusan bukanlah sekadar rasa ingin tahu biasa, melainkan sebuah cermin retak yang sedang memantul ke seluruh ruang paling sunyi di dalam dirinya. Pertanyaan itu terdengar sederhana di permukaan, tetapi dampaknya bagaikan batu kecil yang dilemparkan ke tengah danau yang tenang dan riaknya menjalar perlahan menyentuh dan menggetarkan tempat-tempat tersembunyi di lubuk hatinya, bahkan pada sudut-sudut jiwa yang selama ini tidak pernah ia sadari ternyata masih menyimpan luka dan dahaga.

Nabila melanjutkan dengan suara yang nyaris berbisik, seolah ia sedang menimbang sebuah rahasia besar yang terlampau rapuh untuk diucapkan terlalu keras. Sementara itu, Sanjaya duduk dengan tenang, menaruh seluruh perhatiannya untuk mendengarkan dan mengamati ke mana arah dan muara dari pertanyaan yang baru saja dilontarkan Nabila.

"Apakah itu terjadi karena nalar kritis kita mulai berjalan sendiri?" tanya Nabila lirih, matanya menatap lekat ke dalam mata Sanjaya. "Karena kita terlampau jauh menyelami pemikiran Ibnu Khaldun, Al-Hallaj, Ibnu Sina, Karen Armstrong, Carl Sagan, Stephen Hawking, dan para pemikir besar lainnya, lalu tanpa sadar pikiran kita menyambungkan titik demi titik dari semua bacaan itu?"

Ia mengambil jeda sebentar, membiarkan angin senja membawa sisa-sisa gemetar dari suaranya.

"Hingga akhirnya, dari sambungan-sambungan titik itu, perlahan lahir keraguan yang menyelinap terhadap agama, bahkan terhadap nama Tuhan sendiri?" sambung Nabila dengan nada yang kian berhati-hati. "Ataukah semua pencarian, keyakinan, dan peradaban ini pada akhirnya hanya bagian dari cara manusia membangun kekuasaan untuk mempertahankan eksistensinya di muka bumi?"

Angin berembus lebih pelan. Beberapa helai daun gugur, berputar-putar sebelum menyentuh tanah. Sanjaya memandang daun-daun itu seperti sedang melihat dirinya sendiri yang jatuh bukan karena membenci pohon tempatnya tumbuh, melainkan karena musim memang memiliki kehendaknya sendiri.

Kepala Sanjaya tertunduk, membiarkan helaian rambutnya jatuh menutupi kening. Dengan suara yang teramat lirih, nyaris lebur bersama deru napasnya sendiri, ia berkata, "Aku tidak tahu." Kalimat pendek itu meluncur begitu saja, membawa serta beban batin yang bertahun-tahun ia pendam sendirian, melepaskan segala kepura-puraan di hadapan dunia.

Nabila menatapnya lekat, menangkap kejujuran yang terpancar dari sorot mata lelaki itu. "Itu jawaban yang paling jujur," balas Nabila, suaranya melembut, meredam riak ketegangan yang sempat mencuat di antara mereka berdua.

"Kebanyakan orang terlalu takut untuk mengatakan tidak tahu," lanjut Sanjaya sambil meremas jemarinya sendiri, merasakan dinginnya udara malam yang meresap melalui pori-pori kulit. "Mereka lebih memilih mengenakan topeng kepastian daripada mengakui bahwa ada ruang-ruang gelap di dalam kepala mereka yang belum tersentuh terang."

Sanjaya tersenyum tipis, sebuah tarikan bibir yang begitu rapuh dan pendek hingga hampir tidak sempat disebut senyum. Senyum itu terasa pahit, menyisakan getar getir di sudut bibirnya yang kering.

"Aku hanya takut berbohong pada diriku sendiri," sahut Sanjaya, menegaskan ketulusan yang terpatri di balik keraguannya yang panjang.

Nabila mengangguk perlahan, membiarkan gerakan kepala itu menyiratkan pemahaman yang mendalam. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma tanah basah dan dedak daun mahoni mengisi rongga dadanya sebelum kembali bersuara.

"Mungkin iman memang bukan selalu tentang memiliki semua jawaban di kepala," ucap Nabila pelan, suaranya bergesek lembut dengan angin malam yang kian menusuk tulang.

Sanjaya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata perempuan itu dengan dahi yang sedikit berkerut, mencari sisa-sisa cahaya di antara sorot matanya yang redup. "Tapi karena apa?" tanyanya penuh harap, suaranya menyembulkan desakan batin yang ingin segera menguak dan meraba isi kepala Nabila yang kerap kali menjadi labirin baginya.

Nabila membalas tatapan itu tanpa gentar, seolah ia tengah membaca setiap kegelisahan yang bergolak di dada lelaki di hadapannya. "Berani tetap berjalan ketika jawaban itu belum juga datang."

Kalimat itu melintas begitu saja di udara, ringan namun menghujam tajam menembus rongga dada. Kalimat itu tidak serta-merta melenyapkan keraguan yang bertahun-tahun mengerak di kepala, tetapi menetap lama, berakar kuat, dan beresonansi di dalam benak Sanjaya. Ia bagaikan tetes hujan pertama yang jatuh menyentuh permukaan tanah yang retak dan lama kekeringan, lalu kehadiran jawaban itu bak air yang cukup membasuh kerontang tanah serta benih-benih pertanyaan penting yang selama ini dibiarkan mati kehausan. Air itu memang belum mampu langsung menghijaukan apa pun atau menumbuhkan tunas seketika di atas padang tandus jiwanya, namun setidaknya, hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat bumi kembali mengingat bahwa air masih ada di langit.

Nabila membiarkan keheningan menggantung sesaat sebelum jemarinya bergerak merapikan tas kuliah di pangkuannya. Perempuan itu kemudian menyebut lagi nama Ibnu Khaldun, figur yang kerap mengisi lembar-lembar diskusi panjang mereka. Baginya, sosiolog besar yang lahir di Tunis itu sama sekali bukanlah seseorang yang hadir untuk menggoyahkan agama atau meruntuhkan fondasi iman. Sebaliknya, Ibnu Khaldun adalah seorang pembaca sejarah yang jujur, sosok yang memperlihatkan dengan telanjang bagaimana sebuah peradaban lahir dari solidaritas kaum, tumbuh mencapai puncak kejayaannya, lalu perlahan-lahan lapuk dari dalam akibat kesombongan dan kemewahan yang dibangunnya sendiri. 

Di mata Nabila, sejarah peradaban manusia tidak pernah berjalan lurus. Bangsa Arab, Persia, Turki, hingga Berber, semuanya hadir dalam pusaran siklus sejarah yang saling menaklukkan dan mengubah satu sama lain. Bagi Nabila, hal itu serupa pula dengan bagaimana agama dan pemikiran keagamaan itu sendiri bertumbuh. Tidak pernah lahir di ruang hampa yang murni, melainkan selalu berjalan beriringan dengan dinamika manusia yang senantiasa membawa cinta sekaligus ambisi kekuasaan.

"Harari juga tidak sedang memusuhi agama," ujar Nabila lagi, suaranya terdengar semakin jernih memecah desau angin sore yang kian mendingin di pelataran kampus, seolah ingin memastikan bahwa setiap frasa yang ia ucapkan jatuh tepat di atas nurani Sanjaya tanpa menyisakan salah paham.

Ia sedikit mencondongkan tubuhnya, menegaskan esensi dari bacaan-bacaan yang kerap mereka bedah bersama. "Harari hanya memperlihatkan bagaimana manusia sejak zaman purba selalu piawai membangun cerita-cerita besar agar jutaan orang dapat hidup bersama dalam satu keyakinan yang sama. Cerita itu bisa menjelma menjadi jembatan agung yang mempersatukan umat manusia, tetapi pada saat yang rapuh, ia bisa pula berubah menjadi tembok tinggi yang memisahkan dan saling membinasakan."

Mendengar penjelasan itu, Sanjaya tetap diam seribu bahasa. Ia tidak memotong, pun tidak menunjukkan gestur menyanggah. Namun, diamnya Sanjaya bukanlah tanda menolak atau menutup diri terhadap apa yang disampaikan sahabatnya itu. Diamnya adalah cara paling khusyuk ketika seseorang sedang berada di dalam ruang operasi pikirannya sendiri, guna menyusun kembali seluruh bangunan keyakinan dan logika yang selama bertahun-tahun ia sangka telah selesai dan kokoh sempurna.

"Carl Sagan juga begitu," lanjut Nabila dengan nada yang melembut, seolah ia sedang membacakan sebuah bait puisi kosmik sambil menengadah menatap langit senja yang perlahan berubah menjadi biru tua legam. Ia membiarkan angin malam menyapa wajahnya sebelum kembali merangkai kalimat-kalimat dalam diskusi mereka di pojok sebuah ruang, di antara bayang-bayang pilar beton kampus yang mulai kehilangan bentuknya.

"Ia hanya mengajak kita menengok ke atas, melihat betapa kecilnya Bumi tempat kita berdebat, berebut kuasa, dan saling membunuh atas nama kebenaran," ucap Nabila lirih, suaranya mengandung gema kepedihan universal. "Betapa mungilnya ukuran manusia di hadapan semesta yang begitu mahaluas. Bahwa kita hanyalah setitik debu yang melayang di angkasa, yang kebetulan saja diberi kesempatan sekilas untuk berpikir, meragu, dan bertanya di tengah jagat raya yang luasnya hampir tak berbatas."

Terpikat oleh kedalaman nada bicara itu, Sanjaya perlahan mengalihkan pandangannya. Ia tidak lagi menatap Nabila, melainkan mengikuti arah pandang perempuan di hadapannya itu untuk menembus luasnya cakrawala langit malam yang mulai bertabur bintang, mencoba meresapi betapa kerdilnya segala keresahan manusia di bawah cengkeraman semesta yang begitu megah dan abadi.

Untuk sesaat ia merasa seluruh luka pribadinya mengecil. Bukan karena telah sembuh, melainkan karena semesta ternyata jauh lebih luas daripada ruang duka yang selama ini ia peluk erat. Namun anehnya, justru di tengah keluasan itu ia semakin sadar bahwa hati manusia tetap mampu menyimpan kesedihan yang terasa sebesar alam semesta.

Dan mungkin, pikirnya dalam keheningan yang kian merayap, manusia memang diciptakan bukan untuk segera menemukan semua jawaban mutlak di atas bumi. Barangkali ia hanya diminta cukup rendah hati untuk terus melangkah sambil merawat tanya, menjaga agar setiap keraguan dan rasa ingin tahu itu tidak lantas berubah wujud menjadi kesombongan intelektual dan menjadi sebuah keangkuhan tersembunyi yang merasa paling tahu, paling benar, dan merasa telah mampu menghakimi dan menjawab seluruh rahasia alam raya.

Langit telah berubah menjadi biru yang semakin pekat. Sisa cahaya senja menggantung di ufuk barat seperti bara yang enggan padam, sementara lampu-lampu halaman kampus mulai menyala satu demi satu, memantulkan warna kekuningan yang lembut di atas jalan yang basah oleh embun awal malam. Orang-orang telah banyak meninggalkan pelataran. Percakapan mereka hanyut bersama langkah masing-masing. Tersisa Sanjaya dan Nabila yang masih duduk di bangku kayu tua di bawah pohon mahoni, seolah waktu sengaja melambat agar kegelisahan sempat menemukan bahasanya.

Keheningan di antara mereka bukanlah kekosongan. Ia justru dipenuhi suara-suara yang tidak pernah sanggup diucapkan. Ada kalanya diam menjadi bahasa yang lebih jujur daripada kata-kata, sebagaimana malam tidak pernah menjelaskan mengapa ia gelap, tetapi setiap orang memahami bahwa justru di dalam gelap itulah manusia belajar mengenali cahaya.

Sanjaya mengusap wajahnya perlahan, membiarkan telapak tangannya menangkup rahangnya yang menegang, seolah gerakan sederhana itu mampu meredam gemuruh yang mendadak berkecamuk di dalam dadanya.

"Aku sering bertanya kepada diriku sendiri," katanya pelan, suaranya terdengar begitu rapuh dan bergetar di antara desau angin malam, "mengapa semua bacaan itu seperti saling menyambung begitu rupa. Dari sejarah peradaban, filsafat kuno, sains modern, sampai doktrin agama yang kita pelajari sejak kecil. Semuanya seperti titik-titik yang perlahan terhubung sendiri, membentuk sebuah gambar utuh yang tidak pernah diajarkan kepadaku di ruang-ruang kelas."

Nabila menoleh seketika, menangkap kesungguhan dan kebingungan yang bercampur baur di wajah lelaki itu, lalu menatapnya dengan sorot mata yang menuntut sekaligus menunggu.

"Lalu gambar seperti apa yang kau lihat sekarang?" tanya Nabila, suaranya meluncur lembut memecah keheningan di antara mereka.

Sanjaya menarik napas panjang, mengisi rongga dadanya dengan udara malam yang dingin. Napas itu terdengar begitu berat, seolah membawa serta tumpukan beban bertahun-tahun dari sisa patah hatinya hingga pencarian intelektual yang melelahkan, yang tidak pernah benar-benar selesai dipikul sendirian.

"Gambar tentang manusia," jawab Sanjaya singkat, suaranya jatuh pelan di antara desau angin malam, namun sarat dengan makna yang terlampau dalam untuk diurai sekadar dengan kata-kata.

"Aku mulai bertanya," lanjut Sanjaya dengan nada yang kian bergetar, membiarkan keraguan terpanjang di dalam hidupnya terucap tanpa saringan, "apakah agama yang hari ini kita warisi dan yakini memang sepenuhnya murni turun langsung dari langit tanpa tersentuh apa pun, ataukah ia juga dibentuk, dirajut, dan disesuaikan oleh perjalanan panjang manusia yang saling memengaruhi sejak lembah Eufrat, Tigris, Sinai, hingga menyebar ke seluruh penjuru dunia?"

Ia menelan ludah, merasakan tenggorokannya kering sebelum kembali merangkai kalimat. "Mengapa begitu banyak pola, mitos, dan tradisi suci lahir dari kawasan geografis yang kurang lebih sama? Dan yang paling mengganjal di kepalaku... mengapa aku lahir di tempat yang begitu jauh dari tanah-tanah para nabi itu, tetapi dipaksa atau dituntut untuk mempercayai kisah-kisah sakral yang berasal dari tanah yang bahkan belum pernah sekali pun kusentuh atau kulihat dengan mata kepalaku sendiri?"

Angin malam berembus semakin pelan, membawa kesejukan yang menusuk pori-pori kulit, menggerakkan dedaunan mahoni hingga terdengar seperti bisikan orang-orang tua yang sedang bermusyawarah di balik gelapnya malam. Sanjaya memandang kosong ke arah suara gemerisik itu tanpa benar-benar melihat apa pun di hadapannya. Ia hanya merasa bahwa setiap pertanyaan yang berhasil ia lepaskan kini memiliki gema yang jauh lebih panjang, jauh lebih luas, dan jauh lebih menakutkan daripada segala macam jawaban instan yang selama ini dipaksakan untuk ia telan mentah-mentah.

Nabila tidak tergesa-gesa menjawab. Perempuan itu membiarkan keheningan merayap di antara mereka, seolah ia sedang menimbang setiap kata agar jatuh pada tempat yang paling pas di atas permukaan jiwa Sanjaya yang tengah bergejolak. Udara malam terasa semakin pekat, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa sapaan angin yang lelah.

"Menurutku," kata Nabila perlahan, suaranya mengalir tenang, nyaris seperti embusan napas yang menghalau dingin, "pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak berbahaya sama sekali. Keraguan yang kau miliki bukanlah sebuah kebinasaan, melainkan bukti bahwa pikiranmu masih hidup dan menolak untuk mati rasa."

Sanjaya mengangkat kepalanya perlahan, menatap lurus ke dalam mata Nabila dengan setitik binar kelegaan yang mulai merayap di balik sorot matanya yang lelah.

"Yang berbahaya justru bukan keraguan," lanjut Nabila dengan penekanan yang lembut, "melainkan ketika seseorang berhenti bertanya, tetapi di saat yang sama ia merasa telah menggenggam seluruh kebenaran mutlak di telapak tangannya."

Sanjaya tersenyum tipis, sebuah tarikan bibir yang kali ini terasa lebih ringan dari sebelumnya, melepaskan sebagian beban yang sempat menghimpit dadanya.

"Jadi, menurut ukuranmu... aku belum tersesat?" tanyanya setengah berkelakar, meski ada keseriusan yang terselip di balik nada suaranya.

Nabila ikut tersenyum, garis wajahnya melembut dalam temaram cahaya lampu pelataran kampus. "Aku ini hanya teman diskusimu, Sanjaya. Aku tidak punya hak, pun tidak punya wewenang untuk menentukan siapa yang sesat dan siapa yang selamat di hadapan langit."

"Lalu, jika bukan manusia yang berhak menentukannya... siapa yang punya?" kejar Sanjaya, suaranya terdengar semakin penasaran, meraba-raba batas akhir dari logika yang ia bangun sendiri.

Nabila menengadah sejenak, membiarkan pandangannya lepas menembus luasnya cakrawala malam yang bertabur bintang, sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang begitu khusyuk.

"Mungkin hanya Dia... zat yang benar-benar mengenal setiap jengkal rahasia dan isi hati manusia paling dalam."

Kalimat itu jatuh begitu lembut, tetapi membekas seperti hujan yang terus menetes di atas batu hingga perlahan mengubah bentuknya. Sanjaya tidak merasa sedang dihakimi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa seseorang mendengarkan kegelisahannya tanpa buru-buru menyuruhnya kembali percaya atau berhenti berpikir.

Beberapa saat kemudian mereka kembali diam. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan yang berlalu-lalang, lalu menghilang bersama angin. Hidup rupanya memang seperti jalan raya pada malam hari. Setiap orang melaju menuju tujuan masing-masing, tetapi tidak seorang pun benar-benar tahu siapa yang akan lebih dulu sampai, atau bahkan apakah tujuan itu benar-benar ada.

Sanjaya menundukkan kepalanya, membiarkan jemarinya meremas ujung jaketnya sendiri dengan erat. Ia menghela napas panjang, seolah seluruh tenaga di dalam tubuhnya tersedot habis oleh pergulatan batin yang tak berkesudahan.

"Aku lelah berpikir," kata Sanjaya lirih, suaranya terdengar begitu parau dan rapuh memecah kesunyian malam di pelataran kampus.

Nabila tidak langsung menanggapi. Perempuan itu tetap tenang, membiarkan Sanjaya menumpahkan isi kepalanya yang selama ini bergemuruh tanpa henti.

"Bukan lelah karena aku berhenti mencari jawaban," lanjut Sanjaya sembari menggelengkan kepala pelan, menyadari betapa ironisnya pencarian yang ia jalani selama ini.

Nabila menoleh, menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh pengertian. "Lalu... lelah karena apa?"

"Lelah karena setiap kali aku berhasil menemukan satu jawaban, jawaban itu tidak pernah benar-benar memuaskan. Ia malah melahirkan belasan pertanyaan baru yang lebih rumit, lebih gelap, dan lebih menuntut untuk diselesaikan," keluh Sanjaya, menyuarakan keletihan yang sudah lama menggerogoti jiwanya.

Nabila mengangguk perlahan, gerakan kepala yang sarat akan empati. Ia memahami betul jurang keterasingan yang sedang dihadapi oleh lelaki di hadapannya itu.

"Itulah sebabnya manusia ditakdirkan untuk disebut sebagai makhluk yang terus belajar sepanjang hayat," ucap Nabila lembut, suaranya mengalir menenangkan gejolak di dada Sanjaya.

"Tapi proses belajar itu sendiri terkadang terasa begitu melelahkan, Nabila. Seperti berlari di atas jalur melingkar yang tidak ada ujungnya," tukas Sanjaya, menyiratkan keputusasaan yang tipis.

"Iya, memang melelahkan," pengakuan Nabila terlontar tanpa sedikit pun keraguan atau niat untuk menolak kenyataan pahit tersebut, seolah ia sendiri telah lama berdamai dengan beban dari pencarian panjang itu.

Sanjaya menatap sahabatnya dengan kening berkerut dalam, seolah ia tengah berupaya meraba dan mencari sauh kepastian di tengah badai ketidakpastian yang tak bertepi. "Lalu... kapan semua proses melelahkan ini akan selesai? Kapan lelah di kepala ini akan benar-benar berhenti?"

Nabila tidak segera menjawab. Perempuan itu memilih membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka sejenak, sementara kepalanya mendongak mengalihkan pandangannya ke atas. Ia memandang langit malam yang kini mulai dipenuhi oleh taburan bintang yang berpendar terang bagai permata di atas bentangan kain hitam legam.

"Mungkin... tidak pernah," jawab Nabila pelan, suaranya meluncur begitu tipis, hampir sepenuhnya lebur tersapu di antara desau angin malam yang dingin.

Mendengar jawaban yang begitu jujur sekaligus telak itu, Sanjaya mendadak tertawa kecil. Sebuah tawa yang pendek, kering, dan nyaris berasa getir di tenggorokan, tetapi setidaknya cukup ampuh untuk meretakkan dan mengusir kesunyian yang selama ini membeku di wajahnya.

"Hidup ini sungguh aneh, ya," ujar Sanjaya setelah sisa tawanya perlahan mereda di ujung bibir, sementara kepalanya menggeleng pelan menyadari betapa ironis alur perjalanan batinnya akhir-akhir ini.

Nabila menoleh kembali, menaikkan sebelah alisnya dengan sorot mata yang diliputi rasa penasaran yang hangat. "Apa yang aneh, Sanjaya?"

"Semakin banyak buku yang kubaca, semakin dalam aku menyelami ilmu dan pemikiran para bijak... semakin sedikit hal yang benar-benar kupahami di dunia ini. Rasanya aku justru semakin bodoh dan tidak tahu apa-apa," pengakuan Sanjaya dengan senyum tipis yang menyembunyikan keheranan yang mendalam pada dirinya sendiri.

Nabila justru tersenyum mendengarnya, sebuah senyum yang merekah tulus di bawah temaram cahaya bintang, menembus dinginnya udara malam yang membungkus pelataran kampus. "Itu justru pertanda yang sangat baik, Sanjaya."

Sanjaya menatapnya dengan pandangan tak mengerti, keningnya berlipat dalam menampakkan kebingungan yang belum juga usai. "Mengapa bisa begitu? Bukankah hukum alamnya semakin banyak membaca, kita seharusnya semakin pandai dan menguasai keadaan?"

"Karena orang yang ilmunya benar-benar bertambah dan mendalam biasanya akan mulai menyadari betapa luasnya lautan ketidaktahuan di luar sana," jawab Nabila bijak, menutup percakapan itu dengan sebuah kebenaran telak yang mengalir lembut, membuat Sanjaya kembali terpekur dalam renungannya yang panjang di bawah langit malam.

Sanjaya kembali menunduk, membiarkan tatapannya lepas dari wajah perempuan itu dan jatuh terpaku ke bawah. Di bawah pijaran temaram cahaya lampu taman, bayangan tubuhnya memanjang hitam pekat di atas susunan paving blok yang dingin. Ia memerhatikan siluet itu lekat-lekat, merasa bahwa hidupnya sendiri pun tidak jauh berbeda dari bayangan tersebut, ada dan nyata wujudnya, tetapi eksistensinya selalu bergantung sepenuhnya pada cahaya yang datang dari luar dirinya, rapuh dan sewaktu-waktu bisa lenyap ditelan pekat. (Bersambung)

Share :

Trending Lainnya


Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu

17 Agu 2026
141 x Dilihat

Surat Untuk Nabila

15 Agu 2026
143 x Dilihat

Bukan Jodoh

14 Agu 2026
242 x Dilihat

Tak Percaya Tuhan? (2)

13 Agu 2026
165 x Dilihat

Tak Percaya Tuhan? (1)

13 Agu 2026
233 x Dilihat

Ruang Pemahaman (2)

11 Agu 2026
295 x Dilihat

Ruang Pemahaman (1)

10 Agu 2026
1467 x Dilihat

Foto yang Membuat Hati Terdiam

09 Agu 2026
241 x Dilihat

Dunia Ahangkara (2)

08 Agu 2026
4378 x Dilihat

Perspektif

Scroll