Sesudah melewati malam-malam panjang yang diisi dengan perdebatan sengit tentang Tuhan, peradaban, dan kerapuhan manusia, Sanjaya dan Nabila seolah telah mencapai sebuah kesepakatan yang tak pernah terucap. Mereka secara perlahan berhenti saling menguji jalan pikiran satu sama lain. Keputusan itu bukan diambil karena segala teka-teki hidup telah menemukan jawaban yang tuntas, melainkan karena keduanya mulai menyadari sebuah hakikat yang lebih dalam bahwa kedekatan dan persahabatan yang sejati tidak selalu dibangun di atas kecakapan berdebat, melainkan tumbuh dari kesediaan untuk tetap berjalan berdampingan, sambil membiarkan waktu merajut dan menyelesaikan setiap bagian yang tak sanggup dijangkau oleh akal dan dijelaskan oleh kata-kata.
Sejak malam-malam penuh renungan itu, intensitas pertemuan mereka perlahan merayap naik, meski ritmenya tak pernah benar-benar menentu di setiap pekannya. Sebuah ikatan kecil itu terkadang harus terjeda oleh hari-hari yang panjang dan melelahkan akibat kesibukan atau berbagai urusan mendesak yang tak terelakkan. Kendati begitu, setiap kali takdir kembali menemukan celah untuk mempertemukan mereka, ruang-ruang hampa itu lekas terisi kembali oleh kehangatan dari hal-hal yang teramat sederhana sebagai ritme akrab yang menjadi rahasia kecil di antara hidup Sanjaya dan Nabila.
Mereka sering mengisinya dengan langkah-langkah tanpa arah di atas trotoar yang basah oleh sisa hujan, dan terkadang tanpa pernah mempersoalkan tujuan. Tak jarang pula sore dihabiskan di dalam toko buku bekas, memandangi halaman-halaman novel yang sampulnya telah dikikis usia, atau duduk bersisian di sudut perpustakaan kota. Mereka tenggelam dalam bacaan masing-masing tanpa saling mengusik, hingga akhirnya tiba bertukar cerita manakala senja merayap turun memasuki malam.
Bagi Sanjaya, kebersamaan itu tak pernah sekali pun menyapa kebosanan. Bahkan sunyi yang terajut tanpa kata bersama Nabila perlahan-lahan menjelma sebuah bahasa yang kian fasih ia mengerti. Dari sanalah Sanjaya mulai mengenali kebiasaan-kebiasan kecil perempuan itu.
Salah satu kebiasaan kecil yang paling lekat dalam ingatan Sanjaya adalah cara Nabila menghabiskan waktu di perpustakaan atau toko buku bekas. Perempuan itu selalu betah berlama-lama di antara deretan rak buku filsafat dan psikologi, mengabaikan jajaran novel best-seller yang biasanya menjadi buruan banyak orang. Dengan saksama, ia akan mengambil sebuah buku, menimangnya sejenak, lalu mendekatkannya ke wajah untuk menghirup dalam-dalam aroma kertas tuanya sebelum lembar demi lembar itu ia buka.
Bagi Nabila, ritual kecil itu memiliki makna tersendiri. Katanya, setiap buku tua selalu menyimpan jejak aroma zaman dari era ketika pertama kali dicetak dan keluar dari mesin cetak masa silam.
"Kertas juga punya umur, Jaya," ucap Nabila suatu sore di sudut ruangan yang temaram, diiringi senyum lembut yang menyembunyikan kelelahan di matanya. "Dan mungkin ingatan manusia juga begitu. Semakin tua, semakin pekat, lalu perlahan-lahan menguap bersama waktu."
Nabila pun mulai mengenal Sanjaya lebih dekat. Ia tahu lelaki itu selalu menyelipkan secarik kertas di halaman-halaman yang paling berkesan. Bukan sekadar sebagai pembatas bacaan, melainkan tempat menambatkan kalimat-kalimat yang tiba-tiba melintas di kepalanya. Sanjaya pernah bilang, ide sering datang serupa burung liar. Jika tak lekas ditangkap, ia akan mengepakkan sayap, terbang, dan tak pernah kembali.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti lembaran buku yang dibaca perlahan. Di antara deretan rak perpustakaan dan aroma kertas yang menguap basah, keakraban tumbuh tanpa pernah dipaksa. Mereka menemukan ritme tersendiri dalam diam, tempat setiap gerak-gerik kecil menjelma isyarat yang tak lagi membutuhkan terjemahan.
Sanjaya menjadi tahu persis bagaimana Nabila memiringkan kepala ketika sebuah paragraf berhasil merumuskan isi kepalanya. Sementara Nabila, dengan kepekaan yang sama, lekat menghafal cara Sanjaya mematikan pena setiap kali kalimat yang ia tangkap di udara tuntas dituliskan di atas kertas usang.
Bagi keduanya, waktu seakan melambat, memberi ruang bagi dua dunia asing yang perlahan-lahan belajar saling mengeja. Dalam topik pembicaraan pun mulai bergeser. Percakapan tentang hal-hal besar tentang sosial kemasyarakatan perlahan mereda, digantikan oleh keintiman yang lebih sederhana dan jauh lebih dalam. Mereka tidak lagi banyak mempersoalkan hal-hal abstraksi pengetahuan, melainkan membiarkan rupa-rupa ingatan paca mereka yang membawa mereka pulang.
Di sela-sela keheningan yang kerap menemani langkah kaki mereka menyusuri trotoar kota, pertemuan-pertemuan itu sering kali diisi dengan percakapan yang membawa ingatan mereka mengembara jauh meninggalkan hiruk-pikuk perkotaan. Keduanya kerap menyelami kembali kepingan-kepingan cerita tentang kampung halaman masing-masing yang terhampar nun jauh di sana.
Nabila dan Sanjaya sering saling bertukar kenangan tentang aroma lumpur sawah yang menguap pekat dan basah selepas diguyur hujan lebat di sore hari, atau tentang gema suara azan magrib yang memantul lembut dari lereng-lereng bukit ketika senja perlahan-lahan menyelimuti lembah kediaman mereka di masa lalu. Tak jarang pula percakapan itu bergeser pada sosok ibu di rumah, perempuan-perempuan sabar yang kerap berdiri lama di ambang pintu menatap jalanan sambil menanti kepulangan anak-anaknya, meski lidah mereka tak pernah sanggup merangkai kata-kata rindu secara langsung. Mereka juga mengenang sosok ayah masing-masing, lelaki paruh baya yang mencintai keluarganya bukan lewat ucapan manis, melainkan melalui diam yang kaku, punggung yang lelah bekerja, serta pelukan canggung yang baru disadari penuh makna bertahun-tahun kemudian.
Masa lalu yang sewaktu dijalani terasa begitu biasa dan bersahaja itu, setelah sekian lama ditinggalkan, menjelma menjadi sesuatu yang mengiris hati sekaligus begitu indah. Sebuah kurun waktu yang baru tersingkap nilainya setelah semuanya telah benar-benar berubah menjadi kenangan masa kecil yang takkan pernah bisa terulang kembali.
Hingga pada suatu malam, di ujung waktu pada pertemuan yang ke sekian, mereka duduk berdua di sudut sebuah kedai kopi kecil. Saat itu, hujan baru saja reda, meninggalkan sisa-sisa bau tanah dan aspal basah yang pekat. Di luar pemandangan lampu-lampu kota memantulkan bias cahaya pada genangan air di jalanan, menyerupai serpihan bulan yang berserakan di atas bumi yang lelah.
Nabila terpaku cukup lama, menatap lurus ke balik kaca jendela yang buram oleh uap hangat. Tanpa sedikit pun menoleh atau mengubah posisi duduknya, perempuan itu melontarkan kalimat dengan suara yang teramat pelan, guna membuka percakapan.
"Apakah ada yang tahu rumus fisika..."
Nabila menggantungkan sisa kalimatnya di udara, membiarkan suara bisikannya melebur bersama deru samar kendaraan yang melintas di kejauhan, sementara jemarinya dengan gelisah terus menggaris-garis pola abstrak pada permukaan meja kayu yang basah oleh sisa embun.
Sanjaya, yang sedari tadi meresapi sunyi di antara mereka dengan memandangi dasar cangkir, perlahan mengangkat wajahnya yang dibayangi lelah. Ia menatap lurus kepada perempuan di hadapannya, menyembunyikan ribuan tanya di balik sepasang mata yang teramat tenang.
Nabila tidak bergeming. Dari balik jeda yang panjang, ia melanjutkan bisikannya yang tertahan di udara,"...untuk menghitung kecepatan saat tubuhku jatuh dari lantai tujuh belas."
Sebuah kalimat yang terlontar begitu ringan di permukaan, seolah membawa bobot keputusasaan yang tak tertahankan. Pertanyaan itu meruntuhkan kehangatan kedai kopi dalam sepersekian detik, menggantinya dengan dingin udara yang tiba-tiba menyesakkan dada.
Kalimat itu meluncur tanpa isak tangis maupun getar di ujung suara. Terdengar begitu datar hingga nyaris menyerupai lelucon yang salah tempat, dilontarkan pada jam yang semestinya sunyi di tengah malam yang kian renta.
Sanjaya pun tidak tertawa dan tidak terburu-buru menanggapinya. Dan Nabila pun tahu, lelaki itu cukup mengerti bahwa apa yang baru saja meluncur dari bibirnya bukanlah sebuah gurauan belaka.
Sanjaya hanya mematung, memandang wajah Nabila yang masih terpaku menatap lurus ke luar jendela. Di balik ketenangan yang dipaksakan itu, ia melihat sesuatu yang jauh lebih sunyi daripada kegelapan malam di luar sana. Sebuah kesunyian yang menyerupai alunan jazz lambat di ruangan kosong, hanya bergema bagi kursi-kursi tua yang telah lama ditinggalkan oleh para penghuninya.
Sanjaya pun tidak lekas menjawab. Di dalam kepalanya yang mendadak dipenuhi dengung asing, ingatan lelaki itu justru melompat jauh ke ruang masa silam, ke ruang kelas SMA yang pengap, pada deretan rumus fisika tentang kecepatan benda saat jatuh bebas, pada percepatan gravitasi bumi, energi potensial yang tersimpan di ketinggian, dan momentum yang dilepaskan saat benturan terjadi. Semua persamaan itu dulu dihafalnya mati-matian dengan keyakinan yang naif, bahwa ilmu pengetahuan sanggup merumuskan dan menjelaskan hampir segala sesuatu di dunia ini.
"Kalau menurut buku fisika..." kata Sanjaya akhirnya, bersuara begitu pelan sambil mengukir senyum tipis yang getir di sudut bibirnya, "...barangkali kita hanya perlu memperhitungkan konstanta gravitasi dan tinggi lantai gedung itu."
Sanjaya berhenti sejenak, membiarkan jeda menggantung di antara desau mesin kopi dan sisa hujan yang menetes dari daun jendela. "Tapi hidup tidak pernah sesederhana itu," lanjutnya dengan nada yang lebih berat.
Mendengar itu, Nabila perlahan menoleh. Di bawah temaram lampu kedai kopi yang mulai meredup, tatapan mereka akhirnya bertemu, menyimpan sekian banyak tanya, ketakutan, dan keputusasaan yang tak terucapkan.
"Tak ada rumus," lanjut Sanjaya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh sunyi yang kian pekat, "yang mampu menghitung beban yang tidak kelihatan."
Lelaki itu tahu, matematika tidak diciptakan untuk merangkul kerapuhan manusia. Tak ada simbol atau variabel di atas papan tulis yang dapat menerangkan mengapa dada seseorang terasa begitu sesak dan remuk redam, padahal dunia di sekelilingnya tampak berjalan baik-baik saja tanpa ada yang runtuh.
Tak ada persamaan aljabar yang bisa menjelaskan mengapa harapan bisa begitu mudah patah dan runtuh jauh lebih cepat daripada tubuh yang meluncur dari ketinggian lantai tujuh belas. Tak ada grafik koordinat yang mampu melukiskan lintasan luka dan kepedihan akibat patah hati. Dan yang paling mustahil dari semuanya tak ada kalkulasi angka yang bisa memperkirakan kapan bilur-bilur kesedihan itu akhirnya lelah dan memutuskan untuk pergi.
Nabila menundukkan wajahnya, membiarkan helaian kain kerudungnya jatuh menutupi sebagian dada, sementara jemarinya bergerak menarik ujung kain itu untuk menyeka genangan air mata yang sedari tadi ditahannya agar tak tumpah. Tangannya yang lain mencengkeram erat tepi mantel rajut yang membalut tubuhnya, seolah tengah mencari secercah pegangan di tengah dunia yang mendadak terasa begitu limbung dan kehilangan porosnya.
Nabila menunduk semakin dalam, membiarkan bahunya yang terbalut mantel rajut tampak sedikit bergetar sebelum akhirnya sebuah kalimat meluncur begitu pelan dari celah bibirnya.
"Kadang aku capek," bisiknya lirih, sarat akan keputusasaan yang dipendam terlalu lama.
Suaranya begitu rapuh, nyaris sepenuhnya tenggelam oleh dengung monoton mesin pendingin ruangan yang berputar tanpa henti di sudut kedai kopi yang kian sepi itu.
"Capek berpura-pura baik-baik saja di hadapan semua orang."
Sanjaya tidak mencoba menghibur. Ia dengan sengaja menahan diri untuk tidak melontarkan kalimat-kalimat klise tentang ketabahan, tidak pula meminta perempuan itu melihat sisi terang dari sisa-sisa hidup yang terasa kian melelahkan ini. Lelaki itu tahu betul, berdiri di titik terendah seorang manusia dengan kesedihan-kesedihannya yang pekat sama sekali tidak membutuhkan nasihat atau larutan kata-kata motivasi yang hampa makna.
Sebab, terkadang kesedihan semacam itu tidak diciptakan untuk disembuhkan dengan indahnya kata-kata manis. Ia hanya menuntut kehadiran seseorang yang sudi tetap tinggal, duduk bersama di dalam ruang kegelapan yang sama, dan dengan setia menemaninya bernapas tanpa menuntut penjelasan ataupun pertanggungjawaban apa pun.
"Ada banyak hal yang jatuh jauh lebih cepat daripada tubuh manusia," ucap Sanjaya perlahan, memecah keheningan panjang yang sempat merayap dan membekukan udara di antara mereka.
Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata perempuan di hadapannya dengan sepasang sorot yang berupaya meneduhkan badai di dada, membiarkan setiap kata meluncur keluar dengan bobot kepedihan yang ditata hati-hati agar tak pecah di udara.
"Kepercayaan," ujarnya, memecah keheningan yang kian pekat.
Lalu Sanjaya berhenti sejenak, membiarkan jeda yang senyap meresap perlahan ke dalam relung sunyi, memberi ruang bagi ingatan untuk meraba puing-puing hal yang pernah rapuh di masa lalu.
"Cinta," lanjutnya dengan suara yang kian tertahan.
Lelaki itu kemudian menarik napas dalam-dalam, mengisi rongga dadanya dengan sisa udara malam yang dingin dan menusuk tulang, seolah tengah mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk menuntaskan kalimat-kalimat yang kian berat di tenggorokan.
"Harapan," bisiknya getir.
Matanya tak beralih sedikit pun dari wajah Nabila yang basah oleh jejak air mata, menahan tatapan yang begitu telanjang dan jujur, menyimpan rasa sakit yang teramat sangat sekaligus ketulusan yang tak bertepi.
"Bahkan hidup itu sendiri... kalau seseorang sudah tidak lagi memiliki alasan dan kekuatan untuk menahannya."
Ruangan itu kembali terbungkus sunyi yang panjang dan padat, seolah udara di sekitar mereka berubah menjadi kaca yang tipis dan siap pecah kapan saja.
Tak lama kemudian, seorang pelayan muda datang dengan langkah senyap untuk mengisi ulang gelas air putih mereka, lalu berlalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seolah paham bahwa meja itu sedang memikul beban dunia yang terlalu berat. Di atas permukaan meja kayu yang kusam itu, hanya tersisa dua cangkir kopi yang telah lama mendingin, serta dua jiwa yang sama-sama sedang belajar cara merawat reruntuhan dan menyelamatkan diri mereka sendiri dari keputusasaan.
Malam itu, di antara sisa-sisa kedai kopi yang kian senyap, Sanjaya tidak berusaha untuk tampil sebagai pahlawan kesiangan yang menawarkan jalan keluar. Tidak juga melontarkan janji-janji kosong atau nasihat muluk yang kerap terasa hampa di telinga orang yang sedang patah.
Lelaki itu memilih cara yang biasa dan sederhana. Sanjaya hanya menggeser kursinya sedikit lebih dekat, melompati jarak meja yang memisahkan mereka, lalu duduk bersisian dengan Nabila. Tanpa menyentuh jemarinya yang masih gemetar, tanpa pula menghamburkan kalimat-kalimat besar tentang arti kehidupan.
Sanjaya hanya membiarkan dirinya ada di sana, menemani perempuan itu memandangi sisa titik-titik air hujan yang merayap lambat di balik kaca jendela, sembari merapalkan doa dalam hati agar malam pekat tidak menarik hati Nabila semakin jauh jatuh ke dasar kesunyian yang gelap.
Beberapa hari kemudian, di tengah lorong waktu yang terus berputar, takdir kembali mempertemukan keduanya. Kali ini, langkah mereka membimbing ke sebuah toko buku tua yang hampir seluruh rak kayunya melengkung menahan beban buku-buku bekas dari dekade silam. Bau debu dan kertas tua menggantung di udara, menciptakan kehangatan yang asing.
Di antara tumpukan ensiklopedia dan novel terjemahan yang sampulnya telah terkelupas, Nabila tanpa sengaja menarik keluar sebuah buku fisika SMA bersampul usang. Ia membuka lembar demi lembar yang sudah menguning, lalu melepaskan tawa kecil yang terdengar ganjil.
Nabila memandangi lembar-lembar buku yang mulai menguning dengan tatapan menerawang, sementara jemarinya dengan ragu menyentuh deretan angka dan coretan rumus tangan yang tercetak samar di atas kertas. "Aneh ya," bisiknya pelan, suaranya melebur bersama aroma debu dan kertas tua yang menguar dari celah-celah rak toko buku bekas.
Sanjaya, yang sedari tadi berdiri di seberang lorong sempit di antara himpitan tumpukan ensiklopedia dan majalah usang, perlahan menoleh dengan sebelah alis terangkat tinggi. "Apa yang aneh, Bila?" tanyanya, menangkap nada ganjil dari cara perempuan itu memanggil kembali masa lalu.
"Dulu, sewaktu masih mengenakan seragam putih abu-abu dengan segala kepolosan dan idealisme yang naif, kupikir jika aku berhasil menghafal semua rumus fisika ini di luar kepala, hidupku kelak akan berjalan lurus dan baik-baik saja," kenang Nabila, menyiratkan sejumput kekecewaan pada masa remajanya yang penuh ekspektasi palsu.
Jemarinya dengan perlahan kembali membalik lembar demi lembar buku bersampul usang itu, menatap deretan lambang-lambang matematis yang dulu begitu diagungkan, tetapi kemudian saat ditengoknya lagi terasa sangat asing, dingin, dan tak bernyawa di hadapan kenyataan hidup yang teramat rumit.
"Energi potensial," ucap Nabila lirih, menyebut satu per satu istilah yang terpampang di halaman tersebut dengan jeda napas yang berat. "Percepatan gravitasi... momentum... gaya gesek." Setiap kata yang meluncur dari bibirnya terdengar seperti ejaan dari masa lalu yang coba ia bongkar kembali maknanya.
Ia menggelengkan kepala perlahan, menyunggingkan seulas senyum tipis yang terasa begitu pahit dan menyayat hati. "Ternyata, setelah kita dewasa dan terbentur oleh kenyataan, hidup sama sekali bukan soal bagaimana sebuah benda jatuh ke bumi akibat hukum alam."
"Lalu, tentang apa?" tanya Sanjaya dengan suara yang teramat lembut, sementara tubuhnya sedikit mencondongkan badan ke depan, bersiap menampung setiap serpihan pikiran yang coba diurai oleh perempuan di hadapannya.
"Tentang kenapa seseorang pada akhirnya memilih untuk jatuh," jawab Nabila dengan mata yang berkaca-kaca, menyiratkan kepedihan mendalam tentang betapa rapuhnya manusia saat memutuskan menyerah pada takdir.
Mendengar pengakuan yang begitu telanjang itu, Sanjaya tertegun sejenak, tenggelam dalam keheningan yang mendadak terasa pekat. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia mengulurkan tangan dan mengambil buku fisika tua itu dari genggaman Nabila, membiarkan jemarinya sendiri meraba halaman-halaman usang yang menyimpan sisa-sisa memori masa sekolah.
"Kau tahu, aku juga pernah mengajukan pertanyaan yang sama anehnya kepada guru fisika sewaktu duduk di bangku SMA dulu," kenang Sanjaya dengan nada suara yang datar dan sarat akan kenangan masa silam.
Nabila sontak menoleh, memusatkan perhatiannya kepada lelaki di sampingnya dengan kilat rasa ingin tahu yang terpancar jelas di sepasang matanya. "Tentang apa yang kau tanyakan kepadanya, Jaya?"
"Kalau semua benda di muka bumi ini jatuh dengan nilai percepatan gravitasi yang sama besarnya..." Sanjaya tersenyum kecil, membiarkan tatapannya menerawang jauh menembus deretan rak buku tua seolah menembus dinding waktu, "...kenapa ada orang-orang tertentu yang bisa jatuh jauh lebih cepat dan hancur lebur dibandingkan yang lain?"
Nabila terpaku membeku mendengarnya, terperangah oleh kesamaan luka di antara mereka, sebelum akhirnya lengkung bibirnya mengukir senyum tipis yang tulus. "Lalu, apa jawaban beliau atas pertanyaan serumit itu?"
"Beliau hanya diam cukup lama, menatapku tanpa mengeluarkan suara," jawab Sanjaya tenang.
"Karena beliau sebenarnya tidak tahu jawabannya?"
Sanjaya menggeleng pelan seraya tersenyum masam. "Mungkin bukan karena beliau tidak tahu rumus-rumus di papan tulis itu... tapi karena itu bukan jenis pertanyaan yang bisa diselesaikan di dalam ruang kelas yang kaku, dengan sebatang kapur tulis dan papan hitam."
Sesaat setelah kalimat itu tuntas di udara, keheningan yang hangat mendadak merayap mengisi celah-celah di antara tumpukan buku-buku tua yang berdebu. Dan dari balik keheningan yang menenangkan itu, mereka berdua tertawa pelan. Sebuah tawa yang singkat, nyaris tak bersuara, namun begitu cukup untuk mengikis sedikit demi sedikit beban malam-malam panjang yang selama ini terpaksa mereka pikul seorang diri di pundak masing-masing.
Selepas keluar dari toko buku tua itu, dan bayang-bayangnya tertinggal di belakang, mereka melangkah keluar tanpa arah yang pasti, membiarkan kaki membawa mereka menyusuri trotoar kota yang mulai disesaki kepulangan para pekerja. Langit petang berangsur-angsur menggelap, menelan sisa-sisa jingga di ufuk barat dengan cepat. Di kota besar itu, gemerlap cahaya lampu reklame dan papan neon yang menyilaukan mata membuat bintang-bintang di angkasa nyaris tak terlihat, seolah tenggelam oleh ambisi manusia yang enggan membiarkan malam datang dalam kesunyian.
Nabila menghentikan langkahnya sejenak, mendongakkan kepala untuk menatap bentangan langit yang kian pekat di atas sana. "Orang-orang sering bilang bahwa malam itu selalu berwarna hitam," bisiknya lirih, seolah tengah meresapi keluasan semesta yang terbentang di hadapannya.
Sanjaya turut menghentikan langkahnya, ikut menatap langit malam yang dinaungi polusi cahaya kota. "Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian," sahut lelaki itu pelan, disambut Nabila yang mengangguk perlahan, dan bibirnya menyunggingkan seulas senyum tipis yang menyiratkan kedamaian semu.
"Kalau kita cukup sabar untuk meluangkan waktu dan menengadah melihat ke atas, terkadang langit malam tidak sepenuhnya kelam. Ia menyimpan gradasi warna biru tua yang sangat dalam," sahut Nabila.
"Atau kadang kelabu yang pekat, seperti sisa debu jalanan yang menolak luruh," tambah Sanjaya menimpali, suaranya terdengar begitu tenang, berpadu harmonis dengan deru kendaraan yang melintas di kejauhan.
"Kadang pula terselip semburat ungu yang samar, tipis, bagai memar yang mulai pudar di kulit," lanjut Nabila dengan mata yang menerawang jauh ke atas sana, menembus lapisan awan tipis yang berarak lambat di bawah naungan mega.
"Warna-warna transisi yang muncul sesaat sebelum malam benar-benar menelan segalanya menjadi gelap gulita, batas tipis antara siang yang melelahkan dan kebisuan panjang yang mengancam," ucap Sanjaya menggenapkan, memberi ruang bagi makna-makna sunyi untuk saling bertaut di antara mereka.
Nabila tersenyum kecil, sebuah senyuman yang teramat tipis dan rapuh, membiarkan kenangan-kenangan masa lalu yang kelam menguar bersama hembusan angin malam yang dingin menusuk tulang.
"Dulu, di tahun-tahun ketika badai di kepalaku terasa begitu bising, riuh, dan tak tertahankan oleh akal sehat, aku sering menghabiskan waktu berjam-jam duduk sendirian di atas atap kos yang sunyi dan berdebu," kenangnya dengan nada suara yang perlahan melembut, seolah tengah membuka lembaran buku harian yang telah lama terkunci rapat.
Ia menarik napas panjang, meresapi dinginnya udara yang mengisi rongga dadanya, mengenang kembali masa-masa kesepian yang teramat berat ketika ia merasa terasing bahkan di tengah keramaian kota.
"Hanya membawa segelas air putih hangat di tangan, tanpa ditemani siapa pun, tanpa suara musik, tanpa apa pun yang dapat mengalihkan pikiran."
"Duduk berdiam diri di atas genting yang mulai lapuk, menatap lurus ke cakrawala sembari menunggu warna-warna langit itu berubah perlahan, detik demi detik dalam kebisuan."
"Menunggu secercah keajaiban kecil, atau apa saja. Menunggu sebuah pertanda, betapa pun kecilnya, yang sanggup meyakinkan diriku bahwa hidup ini belum benar-benar selesai, dan bahwa esok hari masih layak untuk diperjuangkan."
Sanjaya tidak segera berkata apa-apa. Membiarkan saja keheningan merayap di antara langkah kaki mereka yang bergesekan dengan permukaan aspal. Lelaki itu ikut mendongakkan kepala, membiarkan lehernya menengadah ke kanvas langit yang kian legam, mencoba melihat dunia dari sudut pandang yang sama dengan perempuan di sisinya.
Dan baru pada malam itu, di bawah temaram lampu kota yang benderang, ia menyadari sebuah kebenaran kecil yang selama ini terabaikan, bahwa cahaya tidak selalu harus datang dari kerlip bintang-bintang di angkasa yang terlalu tinggi untuk dijangkau.
Kadang kala, cahaya itu memantul keras dari dinding-dinding kaca gedung bertingkat di seberang jalan, membiaskan kilau yang menepis pekatnya malam. Kadang pula, ia berkilau dengan begitu jujur di dalam genangan air mata pada sepasang mata seseorang�seseorang yang, meskipun hidup telah berkali-kali mematahkan dan mengecewakannya, tetap memilih untuk bertahan dan menarik napas sekali lagi.
Dan di detik yang lain, cahaya itu hadir dalam bentuk bayangan sendiri yang tetap setia mengikuti ke mana pun kaki melangkah, menemani dalam gelap tanpa pernah meminta alasan ataupun mengajukan syarat. Mereka berdua terus berjalan dalam kebisuan yang menenangkan, menyusuri trotoar yang semakin sepi seiring bergesernya waktu menuju larut malam.
Tidak ada di antara keduanya yang berinisiatif menggenggam tangan lebih dulu, seolah ada batas tak kasat mata yang dijaga dengan penuh kehati-hatian. Tidak ada pula ucapan pengakuan cinta yang manis, tiada pula ikrar atau janji-janji muluk tentang bagaimana bentuk masa depan mereka kelak. Bagi keduanya, di bawah langit malam yang luas itu, keberadaan satu sama lain sudah lebih dari cukup untuk menjadi rumah sementara bagi jiwa-jiwa yang lelah.
Di antara langkah-langkah yang pelan itu, keduanya mulai mengerti bahwa jalan pulang tidak selalu berarti kembali ke sebuah rumah. Kadang-kadang, jalan pulang adalah menemukan seseorang yang membuat kesunyian tidak lagi terasa sebagai tempat yang menakutkan. Dan malam itu, tanpa mereka sadari, mereka sedang berjalan ke arah yang sama, bukan untuk menghapus luka masing-masing, melainkan untuk belajar bahwa luka pun dapat menjadi cahaya kecil yang menuntun dua orang menuju hari-hari yang lebih tabah.
Sesudah malam-malam yang mereka lalui bersama, kota itu perlahan menyimpan jejak langkah keduanya di banyak tempat. Ada bangku taman yang pernah menjadi saksi percakapan mereka tentang masa kecil. Ada lorong toko buku yang masih menyimpan aroma kertas tua ketika Nabila tertawa karena menemukan novel cetakan tahun delapan puluhan. Ada kedai kopi kecil yang pelayannya mulai mengenali pesanan mereka tanpa perlu bertanya lagi.
Hubungan mereka tumbuh dengan cara yang nyaris tidak terdengar. Tidak pernah ada pengakuan cinta. Yang ada hanyalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang diam-diam berubah menjadi kebutuhan. Sanjaya mulai terbiasa mengirimkan foto langit senja kepada Nabila ketika pulang dari kantor. Nabila mulai mengirimkan potongan kalimat dari buku-buku yang sedang dibacanya. Kadang hanya satu kalimat. Kadang hanya sepotong puisi. Bagi Sanjaya, setiap pesan itu seperti mengetuk pintu kamarnya yang selama bertahun-tahun hanya dihuni oleh kesunyian.
Di suatu sore yang merayap tenang, di bawah naungan rindangnya pohon-pohon yang berjajar rapi di sepanjang sisi jalan, langkah mereka berdua bergesekan pelan di atas trotoar yang dipenuhi hamparan daun-daun kering. Angin akhir musim kemarau berembus pelan, menerbangkan debu-debu halus dan membuat dedaunan yang rapuh berguguran satu persatu dalam gerak melingkar yang anggun. Nabila menghentikan langkahnya sejenak, lalu membungkuk untuk memungut sehelai daun mahoni yang telah menguning sempurna, membawanya ke hadapan wajah dan memperhatikannya cukup lama dengan tatapan kosong yang menyimpan beribu lapis memori.
"Daun ini tidak pernah benar-benar memilih kapan ia harus gugur dari tangkainya," kata Nabila pelan, suaranya menyatu dengan deru angin sore.
Sanjaya tersenyum tipis, menatap sisi wajah perempuan itu yang diterpa cahaya matahari temaram. "Tapi pohonnya tetap hidup. Musim berganti, dan ia akan menumbuhkan tunas-tunas baru," sahut Sanjaya.
"Iya," Nabila mengangguk pelan, jemarinya meremas rapuh daun kering di telapak tangannya hingga sebagian tulangnya patah. "Mungkin manusia juga sebenarnya begitu." Kemudian menoleh, membalas tatapan Sanjaya dengan senyuman yang teramat tipis. "Kita harus kehilangan sesuatu yang kita sayangi. Terpaksa merelakan bagian dari diri kita ikut runtuh. Lalu waktu dan kehidupan tetap memaksa kita untuk terus hidup dan bertumbuh."
Kalimat itu meluncur begitu sederhana dari bibirnya. Namun entah mengapa, di balik nada suara yang diusahakan setenang mungkin, Sanjaya merasakan ada gelombang kesedihan pekat yang sedang mati-matian disembunyikan oleh perempuan itu. Sejak beberapa minggu terakhir, ia memang mulai menangkap perubahan-perubahan kecil pada diri Nabila. Perempuan itu memang masih bisa tertawa, tetapi tawanya terasa hampa, memudar jauh lebih cepat dari sebelumnya. Matanya masih bisa berbinar terang setiap kali mereka membahas halaman-halaman buku tua, tetapi setelah itu Nabila kerap mendadak terdiam, tenggelam dalam lamunan panjang yang seolah membawa jiwanya melayang jauh ke tempat di mana Sanjaya tak mampu menjangkaunya.
Sanjaya, yang dalam sekian banyak pertemuan telah terbiasa membaca bahasa sunyi yang terselip di balik setiap gerak-gerik perempuan itu, mulai menyadari ada gelagat ganjil. Instingnya menangkap rahasia besar yang mati-matian disembunyikan, sebuah beban tak kasat mata yang perlahan meremukkan batin Nabila dari dalam.
"Ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dariku, Bila?" tanya Sanjaya sangat hati-hati, memecah keheningan sore yang mulai merayap dengan suara yang sarat akan kekhawatiran yang tulus.
Nabila tersenyum samar, mencoba menepis kecurigaan itu dengan ringannya gestur tubuh, berusaha menampilkan ketenangan yang palsu. "Tidak ada apa-apa, Jaya. Semuanya baik-baik saja."
"Tapi matamu bilang iya, Bila," sahut Sanjaya cepat, tidak membiarkan alasan sederhana itu mengelabuhinya. Lelaki itu tahu persis, sorot mata yang lelah itu tidak pernah bisa berdusta.
Mendengar kejujuran yang menohok itu, pertahanan Nabila runtuh seketika. Perempuan itu serta-merta menundukkan wajahnya, menghindari sorot mata lelaki di sisinya yang menatapnya menuntut jawaban. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal dan menghabiskan hari bersama dalam kebersamaan yang hangat, ia tampak kehilangan seluruh keberanian untuk sekadar mempertahankan kontak mata.
"Ayahku di kampung... mulai sering membicarakan tentang pernikahan," bisik Nabila akhirnya, suaranya begitu rapuh dan teramat pelan, nyaris tak lebih keras dari desiran angin akhir musim kemarau yang menyapu dedaunan kering.
Sanjaya tidak segera menjawab. Kalimat pendek itu melintas begitu saja di antara mereka. Terdengar sederhana di udara terbuka, tetapi efeknya menghantam dada Sanjaya layaknya hantaman palu godam, menyerupai hembusan angin es yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam rongga dada, membekukan aliran darah dan menghentikan napasnya seketika.
"Kamu... sudah punya calon?" tanyanya, ada getar kecil yang mati-matian ia tahan di ujung tenggorokan, mencemaskan jawaban yang akan mengubah segalanya.
Nabila menggeleng perlahan, kepalanya masih menunduk dalam-dalam menatap ujung sepatunya sendiri yang berdebu. "Belum."
Jawaban singkat itu sempat membuat dada Sanjaya berlonggar sesaat, melepaskan kepungan sesak yang mendadak merajai seluruh tubuhnya. Tetapi kelegaan yang rapuh itu ternyata hanya bertahan sedetik saja, hancur berkeping-keping dan berubah menjadi kepedihan yang nyata oleh kalimat Nabila berikutnya.
"Tapi beliau sudah mencarikannya untukku."
Mereka kembali melanjutkan langkah tanpa ada satu pun yang berniat bersuara. Tak ada lagi percakapan hangat tentang halaman buku tua, tentang langit sore, atau tentang mimpi-mimpi sederhana masa depan.
Di bawah temaram senja yang perlahan menyingkir digantikan malam yang pekat, yang tersisa di sepanjang jalan itu hanyalah bunyi derap langkah kaki yang saling mengikuti dengan berat di atas trotoar, membawa ribuan kata cinta yang terpaksa tertahan dan terkubur di tenggorokan masing-masing.
Sanjaya ingin mengatakan banyak hal. Ingin bertanya apakah Nabila akan menolaknya? Ingin bertanya apakah masih ada ruang baginya untuk tinggal di dalam hidup perempuan itu? Namun semua pertanyaan itu berhenti di tenggorokan, karena sadar, mencintai seseorang tidak otomatis memberinya hak untuk menentukan arah hidup orang yang dicintainya.
Hari-hari sesudahnya beranjak dengan ritme yang terasa pincang dan asing. Pertemuan yang semula mengisi jeda akhir pekan dengan hangat kian jarang terjadi, tergerus oleh jarak tak kasat mata yang perlahan-lahan membentang di antara mereka. Pesan-pesan singkat yang biasanya dibalas dalam hitungan menit kini mengendap berjam-jam, bahkan sering baru terbaca keesokan harinya.
Di setiap balasan yang datang terlambat itu, Nabila selalu menyertakan permintaan maaf yang sarat rasa bersalah. Beralasan ada urusan keluarga di rumah yang katanya cukup menyita waktu, bahwa banyak tamu asing yang berdatangan silih berganti, dan ada begitu banyak pembicaraan adat dan keluarga yang harus ia ikuti tanpa kuasa menolak.
Sanjaya berusaha keras untuk mengerti, mengerahkan seluruh sisa kesabaran yang ia miliki. Ia mencoba memeluk setiap alasan yang datang dengan kepala dingin, berulang kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa bentuk tertinggi dari cinta yang matang adalah kerelaan untuk memberi ruang. Tetapi pada praktiknya, memahami secara rasional sebuah situasi yang perlahan-lahan merenggut seseorang dari sisi kita tidak pernah semudah mengucapkannya lewat deretan kata-kata penenang. Ada rasa tidak terima yang bergolak di balik dada, menolak tunduk pada logika yang ia bangun sendiri.
Sampai pada suatu malam yang panjang dan melelahkan, ketika jarum jam di dinding kamar telah merangkak melewati pukul sepuluh dan keheningan telah menguasai seisi ruangan, ponsel di atas meja kayu berdenting nyaring memecah sepi. Layar benda pipih itu berpijar, menampilkan nama yang paling ia kenal sekaligus paling ia cemaskan akhir-akhir ini. Panggilan dari Nabila masuk.
Sanjaya segera menyambar ponsel tersebut, mendekatkannya ke telinga dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya.
Suara di seberang sana terdengar begitu pelan, nyaris tenggelam oleh desau angin malam, menyiratkan keletihan yang teramat sangat.
"Jaya..." panggilnya lemah.
"Iya, Nabila. Aku di sini, mendengarkanmu," jawab Sanjaya cepat, spontan menegakkan duduknya di atas tepi ranjang dalam temaram lampu tidur yang kuning hangat.
"Aku cuma ingin mengucapkan terima kasih," lanjut Nabila dengan nada yang terlampau datar untuk ukuran sebuah sapaan malam.
"Untuk apa, Bila? Kita tidak perlu saling berterima kasih untuk hal-hal semacam itu," sanggah Sanjaya, mencoba menyelipkan nada bercanda guna menepis debar tidak enak di dadanya.
"Karena selama ini... kamu sudah berbaik hati mau mendengarkan semua cerita konyolku yang membosankan, menemaniku berjalan-jalan tanpa tujuan di bawah langit sore, dan membiarkan aku menjadi diriku sendiri secara utuh tanpa harus berpura-pura di hadapanmu."
Sanjaya tersenyum getir, meski perempuan di ujung sana tentu tak dapat melihatnya. Ia berupaya mencairkan ketegangan yang mendadak merambat dan membekukan udara di kamarnya. "Jangan bicara seolah malam ini adalah sebuah perpisahan, Nabila. Masih ada begitu banyak cerita di lembaran-lembaran buku yang belum sempat kita buka dan selesaikan bersama."
Di seberang sana, tidak terdengar jawaban apa pun. Tidak ada gelak tawa kecil yang biasanya riang mengiringi kalimat-kalimat bersayap mereka. Yang tertangkap oleh pendengaran Sanjaya hanyalah helaan napas panjang yang terdengar begitu berat, seolah sedang memikul beban batu karang, disusul suara Nabila yang mulai bergetar hebat di ujung kalimatnya.
"Mungkin... ceritanya memang harus selesai sampai di sini, Jaya."
Sebelum Sanjaya sempat merangkai bantahan atau meneriakkan keberatannya, sambungan telepon itu terputus seketika dengan bunyi klik yang dingin. Panggilan itu berakhir jauh lebih cepat, jauh lebih kejam, daripada yang sanggup ditanggung oleh keinginan dan pertahanan jiwa Sanjaya.
Sejak malam itu, tirai kebisuan benar-benar turun. Mereka hampir tidak pernah bertukar kabar, apalagi bersua muka. Hari-hari terus berjalan sebagaimana garis takdir menetapkannya. Matahari tetap terbit dari ufuk timur membawa fajar, orang-orang tetap berdesakan berangkat bekerja mengejar waktu, dan jalanan kota tetap dipenuhi deru kendaraan yang bising. Kota itu berdenyut sibuk seolah tidak peduli ada satu atau dua hati yang sedang hancur lebur di sudut-sudutnya.
Lalu, pada suatu sore yang tampak begitu biasa dan tanpa tanda-tanda khusus, kabar itu akhirnya datang menghantam pertahanan Sanjaya.
Nabila akan menikah.
Bukan dengan lelaki yang pernah berjalan beriringan bersamanya menyusuri rak-rak toko buku, bukan pula dengan seseorang yang menghafal warna langit sore kesukaannya, melainkan dengan seorang pemuda asing pilihan keluarga yang baru beberapa pekan dikenalkan oleh ayahnya di kampung.
Sanjaya membaca kalimat-kalimat pada layar ponselnya berulang-ulang, membaca setiap suku kata dengan tatapan kosong, seolah berharap huruf-huruf itu akan bergeser dan berubah menjadi kalimat lain yang lebih ramah.
Namun, kenyataan tidak pernah mengenal belas kasihan. Ia tetap berdiri kokoh sebagai kebenaran yang kejam, menolak untuk melunak.
Kabar pernikahan itu menghantam dadanya tanpa suara letupan, tetapi meninggalkan gema yang jauh lebih panjang dan memekakkan daripada teriakan apa pun. Rasanya persis seperti menyaksikan sebuah rumah kecil yang dibangun dengan susah payah dan kkehati-hatian tingkat tinggi di dalam hati, lalu secara tiba-tiba ambruk merata dengan tanah sebelum sempat dihuni bersama. Tidak ada pihak yang dapat dipersalahkan atas runtuhnya bangunan itu.
Bahkan Nabila tidak pernah sekali pun mengikatnya dengan janji-janji manis. Namun justru karena tidak pernah ada janji di antara mereka, kehilangan itu terasa jauh lebih kelam, pekat, dan menyesakkan bagi Sanjaya. Sejak hari itu, langkah kakinya menjadi semakin lambat, terseret beban tak kasat mata. Wajahnya yang semula tenang semakin sering kehilangan cahaya dan binar hidupnya.
Sanjaya tetap berangkat bekerja tepat waktu, tetap membalik halaman-halaman buku di malam hari, dan tetap menyapa rekan kerjanya dengan senyum yang dipoles rapi sebagaimana biasa. Akan tetapi, semua rutinitas itu hanya digerakkan oleh raganya yang hampa.
Sebagian besar jiwanya seolah tertinggal di bangku-bangku taman kota yang basah, di lorong-lorong toko buku berdebu, atau di kedai kopi kecil tempat mereka dulu pernah merajut impian di bawah payung hujan dan luka masa lalu.
Kesedihan yang bertahun-tahun lalu perlahan mulai merapat setelah kepergian Riana, kini kembali menemukan jalannya sendiri untuk merayap masuk. Sanjaya merasa cintanya sekali lagi ditolak mentah-mentah oleh waktu dan keadaan. Sekali lagi kandas di pelabuhan yang sama sebelum sempat benar-benar berlayar mengarungi samudra. Dan di titik itu, ia kembali dipaksa belajar bahwa ada orang-orang di dunia ini yang ditakdirkan hadir bukan untuk dimiliki seumur hidup, melainkan untuk mengajarkan bagaimana hati manusia mampu mencintai dengan sangat sungguh-sungguh, lalu melepaskannya dalam diam yang paling kelam sunyi.
Meski putaran jarum jam terus mendesak maju, Sanjaya merasa seluruh sisa hidupnya mendadak membeku dan berhenti tepat pada detik kabar itu diterima. Ia semakin terkulai lunglai, kehilangan sisa-sisa gairah yang dahulu perlahan dipulihkan oleh kehadiran Nabila. Di kedalaman batinnya tumbuh keyakinan yang pahit bahwa takdir seolah mempermainkannya, bahwa cintanya kembali kandas bukan karena ia kurang tulus, bukan pula karena Nabila mengabaikannya, melainkan karena garis tangan yang memang tercipta untuk bersimpangan, bukan untuk menyatu.
Dan di antara riuhnya dunia yang terus berputar tanpa henti, Sanjaya kembali berjalan seorang diri di trotoar yang sama, memanggul kesedihan yang terasa jauh lebih tragis daripada sebelumnya. Di satu sisi, ia ingin sekali bersikap lebih dewasa, menerima semuanya dengan lapang dada dan dengan penuh ketenangan batin. Tetapi luka yang datang berulang kali yang menghantam tempat yang sama membuat pertahanannya runtuh, menyisakan ruang bagi kepedihan untuk memberontak dan mempertanyakan kemurahan Tuhan atas garis hidup yang harus ia jalani selama ini. (Sal)