Suatu batas sunyi yang teramat senyap terbentang di hadapan Sanjaya. Menjadi garis tak kasat mata di mana kesedihan yang terlampau lama akhirnya melebur menjadi kehampaan yang abadi. Sanjaya tahu betul, ia telah melewati garis itu sejak lama. Kakinya telah begitu lama menapak di tanah yang tandus, di mana air mata pun sudah terasa terlalu mahal untuk sekadar menetes.
Hidupnya kemudian terasa seperti sebuah teater tua yang telah lama ditinggalkan penonton. Kursi-kursinya kosong, panggungnya berdebu, tirainya menggantung dengan warna yang telah pudar, sementara lampu-lampu yang dahulu menerangi setiap adegan hanya menyisakan cahaya samar di sudut-sudut yang nyaris tak tersentuh. Sanjaya tetap berada di sana, sendirian, seolah pertunjukan belum benar-benar selesai meskipun semua orang telah pulang membawa cerita masing-masing.
Setelah Riana melangkah pergi tanpa menyambutnya di ujung jalan yang selama ini diam-diam ia harapkan, Sanjaya pernah mengira bahwa itulah bentuk kehilangan yang paling menyakitkan yang sanggup diberikan hidup kepadanya. Kepergian Riana tidak sepenuhnya lahir dari kebencian, apalagi dari sebuah pertengkaran yang meninggalkan pintu untuk kembali. Perempuan itu pergi didorong oleh sesuatu yang jauh lebih besar daripada hidup dengan segala asa dan keinginannya. Bagi Sanjaya—atau mungkin bagi siapa pun yang melihat dari luar—peristiwa itu kerap diringkas sebagai takdir yang telah direstui oleh banyak tangan, atau sekadar sebuah pilihan sadar yang, pada akhirnya, memang tak lagi mampu dicegah oleh siapa pun.
Sanjaya mencoba memahami semuanya dengan cara yang paling masuk akal. Mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk menjadi rumah. Ada cinta yang hanya diberi kesempatan menjadi perjalanan, lalu dipaksa berhenti sebelum sampai ke tujuan. Ada pula perasaan yang, betapapun tulusnya, harus belajar menerima bahwa hidup kadang memilihkan jalan lain bagi dua manusia yang sebenarnya masih ingin berjalan berdampingan.
Namun pemahaman rasional semacam itu tidak pernah serta-merta mampu meredakan perih atau membuat luka di dadanya menyusut. Pada hari-hari pertama setelah kepergian Riana, Sanjaya merasakan dunia seolah telah runtuh hingga mencapai batas paling kelam. Ia membiarkan kesedihan itu menusuk batinnya begitu dalam, meninggalkan sebuah lubang menganga yang diyakininya tidak akan pernah tertutupi lagi oleh keriangan hidup mana pun di masa depan. Orang-orang silih berganti datang menyapa dan menawarkan uluran tangan, tetapi tak seorang pun mampu menyentuh dasar hatinya yang telah membeku.
Sanjaya tetap melanjutkan hidup dengan berjalan, bekerja, berbicara secukupnya dengan orang lain, dan bahkan sesekali memaksakan seulas senyum atau tawa di hadapan orang-orang. Tetapi segala kegiatan itu terasa hampa, menyerupai gerak gerik seorang aktor panggung yang terus membaca dialog-dialog hafalan kendati naskah sandiwara itu telah lama hilang makna. Raganya tetap bangun dan bernapas untuk menjalankan rutinitas dunia, sementara jiwa dan sebagian besar dirinya telah lama tertinggal di masa lalu, di sebuah ruang waktu yang tertutup rapat dan tak mungkin lagi ia kunjungi kembali.
Ia menyangka bahwa setelah kepergian Riana, dunia tidak lagi memiliki amunisi yang cukup untuk membuatnya jatuh pada kerapuhan yang sama. Mengira batas air matanya telah kering, dan bahwa lubang di dadanya telah menjadi bentuk permanen dari cara ia menerima nasib. Rupanya, segala perhitungan itu keliru besar. Semesta ternyata masih menyimpan tikungan yang jauh lebih curam di hadapannya, sebuah jalan menurun yang curam dan licin, di mana seseorang bahkan tidak diberi kesempatan sekadar untuk mengulurkan tangan dan mencari pegangan.
Kehilangan Nabila tidak datang menyergap bagaikan sambaran petir di tengah siang bolong, yang merontokkan segalanya dalam sekejap mata dan menyisakan kejut yang memekakkan telinga. Ia merayap masuk dengan cara yang jauh lebih sunyi dan menyiksa, menyerupai perlahan-lahan surutnya cahaya pada ujung senja yang memudar di balik cakrawala. Mula-mula, pergeseran itu hampir tak dapat dirasakan karena semuanya tampak berjalan wajar, seolah tidak ada yang berubah dari kebiasaan-kebiasaan lama.
Namun waktu bekerja dengan caranya sendiri. Sedikit demi sedikit, hari berganti hari dengan jarak yang kian melebar. Percakapan-percakapan panjang yang dulu menghabiskan malam menyusut menjadi sapaan singkat yang hambar. Pertemuan-pertemuan yang dulunya dirayakan sebagai penawar penat berubah menjadi hal yang semakin sulit diwujudkan. Tanpa disadari oleh siapa pun, kehidupan masing-masing mulai dipenuhi oleh tuntutan, kesibukan, dan prioritas baru yang menyita ruang, hingga akhirnya, di dalam jadwal hari-harinya tidak tersisa celah yang cukup untuk sekadar saling menengok atau merawat sisa-sisa kedekatan yang pernah ada.
Nabila tidak pergi karena kematian. Di dunianya yang sunyi, tidak ada petak tanah pemakaman yang dapat Sanjaya datangi untuk sekadar menaburkan bunga atau mengucapkan selamat tinggal. Tidak ada nisan dingin yang dapat disentuhnya dengan jemari gemetar ketika gelombang rindu datang menghantam jiwa. Tidak pula ada satu tanggal pasti di kalender yang dapat ia tandai sebagai hari terakhir perjumpaan mereka sebagai titik akhir yang jelas, yang setidaknya bisa dijadikan tempat bersandar bagi rasa duka.
Sifat ketidakhadiran itulah yang membuat kehilangan ini terasa jauh lebih kejam. Nabila tidak lenyap dari muka bumi. Masih hidup di suatu tempat di luar sana. Perempuan itu masih mungkin tertawa, berbicara dengan orang lain, menatap hamparan langit biru yang sama, dan masih menyambut pagi dengan bias cahaya yang juga jatuh ke kaca jendela kamar pribadi keduanya. Tetapi kehidupan memiliki cara yang begitu ganjil dan dingin untuk memisahkan dua manusia. Menjauhkan mereka tanpa perlu benar-benar memutuskan napas atau keberadaan salah satunya di dunia.
Semuanya terjadi selangkah demi selangkah. Jarak mengambil sebagian kecil dari kedekatan mereka, merobek kenyamanan yang dulu terjalin tanpa paksaan. Waktu mengambil bagian yang lebih besar, mengikis ketajaman kenangan dan mengubah kehangatan menjadi nostalgia yang samar. Lalu, pada akhirnya karena keputusan-keputusan hidup yang pada mulanya tampak begitu wajar, sederhana, dan masuk akal, perlahan-lahan menyusun batu bata tak kasat mata membangun dinding tinggi di antara keduanya.
Tidak ada seorang pun di antara mereka yang berniat meninggalkan atau meninggalkan luka. Tidak ada yang secara sadar memilih untuk menghancurkan jembatan yang pernah mereka bangun bersama dengan begitu sabar. Mereka hanya terus berjalan, masing-masing memikul beban hari esok dan mengikuti garis takdir yang dibentangkan oleh keadaan di hadapan mereka.
Dan tanpa pernah disadari, langkah-langkah kecil yang tampak sepele itu perlahan-lahan membawa Nabila semakin jauh, terlempar ke luar dari orbit hari-hari Sanjaya, hingga yang tersisa hanyalah ruang hampa yang tak bertepi.
Dulu, nama Nabila bisa muncul begitu saja dalam percakapan, dalam pesan singkat, dalam rencana sederhana untuk bertemu, atau bahkan dalam ingatan yang tiba-tiba datang ketika Sanjaya melewati sebuah toko buku atau duduk sendirian di sebuah kedai kopi. Nama itu kemudian terasa seperti sebuah rumah yang alamatnya masih ia hafal, tetapi pintunya tak lagi dapat diketuknya sesuka hati.
Ia masih dapat mengingat wajah Nabila dengan sangat jelas. Senyumnya dan cara matanya menyipit ketika tertawa. Nada suaranya ketika sedang bercerita tentang sesuatu yang ia sukai. Bahkan diamnya pun masih memiliki bentuk dalam ingatan Sanjaya. Tetapi semakin waktu berjalan, semua ingatan itu terasa seperti foto yang perlahan memudar karena terlalu lama terkena cahaya.
Sanjaya kemudian memahami sebuah ironi yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan bahwa kematian mungkin memberikan akhir yang lebih jelas daripada jarak. Kematian berkata bahwa seseorang telah pergi dan tidak akan kembali. Jarak tidak pernah bersuara untuk menjelaskan apa pun. Ia hanya terus membentang dalam diam, membiarkan secercah harapan tetap hidup di atas kemungkinan-kemungkinan kecil yang rapuh, sementara hari-hari yang bergulir tanpa ampun terus mengajarkan bahwa kemungkinan itu kian hari kian menipis, hingga nyaris tak berbentuk.
Itulah sebabnya, kehilangan Nabila tidak datang menyergap sebagai satu hantaran pukulan besar yang merobohkan pertahanan dalam sekejap. Perpisahan itu justru terjadi berkali-kali, berulang dalam bentuk yang jauh lebih menyiksa.
Ia merasakannya setiap kali jemarinya melayang di atas ponsel dengan niat untuk menghubungi, namun pada detik terakhir kembali mengurungkan niat karena menyadari batas tak kasat mata yang kini berdiri di antara mereka. Ia merasakannya setiap kali singgah di sudut-sudut kota yang tiba-tiba membangkitkan memori tentang tawa dan langkah kaki mereka di masa lalu. Ia merasakannya setiap kali alunan sebuah lagu lama membawa kembali gema percakapan panjang yang dulu menghidupkan malam. Dan yang paling menyayat hati, ia merasakannya setiap kali menyadari ada begitu banyak cerita, renungan, dan kegelisahan baru yang ingin ia tumpahkan kepada Nabila, tetapi ia tidak lagi tahu apakah dunianya yang sekarang masih menyediakan ruang untuk menampung suaranya.
Pada akhirnya, Sanjaya sampai pada sebuah pemahaman yang pahit bahwa ada jenis perpisahan di dunia ini yang sama sekali tidak membutuhkan kata selamat tinggal. Dua orang manusia dapat berjalan menuju arah yang berbeda bahkan ketika mereka tidak pernah sekalipun mengucapkan kalimat perpisahan. Mereka tidak bertengkar, tidak pula saling membenci. Mereka hanya perlahan-lahan berhenti saling menemukan di tengah riuhnya kesibukan hidup, hingga suatu hari keduanya terbangun dan menyadari bahwa jalan yang dulu membentang sejajar telah lama bercabang ke arah yang tak lagi sama.
Di persimpangan sunyi itulah Sanjaya berdiri seorang diri. Terjepit di antara dua bayang-bayang yang membentuk poros hidupnya oleh kenangan tentang Riana yang telah sepenuhnya mengeras menjadi masa lalu yang takkan pernah bisa diubah, serta bayangan Nabila yang perlahan-lahan surut, melangkah semakin jauh ke dalam masa depan yang bahkan belum selesai ditulis. Di titik nadir itulah, untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang panjang, Sanjaya sampai pada pemahaman yang paling telak bahwa kehilangan tidak selalu berarti seseorang telah lenyap dari muka bumi atau benar-benar pergi meninggalkan dunia.
Terkadang, kehilangan memiliki arti yang jauh lebih menyiksa saat seseorang masih ada di luar sana, masih bernapas dan melangkah, tetapi kehidupan beserta segala aturan tak kasat matanya telah menutup rapat-rapat segala jalan yang bisa ditempuh untuk mencapainya. Tidak ada jembatan yang tersisa, tidak ada lagi takdir yang sudi mempertemukan.
Dan di dalam keheningan malam yang panjang, di bawah temaram lampu meja yang setia menemani jemarinya menuliskan deretan kepedihan, Sanjaya menyadari satu hal yang paling meremukkan hati. Hal itulah bentuk kesunyian yang paling dalam dan sempurna. Mengetahui bahwa orang yang paling dirindukannya masih berada di bawah langit yang sama, menghirup udara yang sama, dan menatap matahari yang sama, namun ia telah berada di luar jangkauannya dan tak lagi bisa disentuh oleh jemari, tak lagi bisa dipanggil oleh suara, pun tak lagi bisa didekati oleh debar jantung yang selama ini setia merapalkan namanya.
Pada masa itu, di tengah reruntuhan harapannya yang pertama atas kepergian Riana, Sanjaya sempat mengira dunia telah mencapai titik paling kelam yang sanggup ditanggung oleh dada seorang manusia. Ia menyangka lubang menganga di dalam hatinya adalah sebuah palung terdalam yang dasarnya takkan pernah terjamah lagi oleh cahaya maupun waktu.
Akan tetapi, lembaran takdir ternyata masih menyimpan tikungan-tikungan terjal yang jauh lebih curam daripada yang pernah ia bayangkan. Kehilangan Nabila datang menyergap bukan dengan kepastian maut yang merenggut nyawa dalam sekejap, melainkan melalui cara yang jauh lebih sunyi dan menyiksa. Menjadi jarak yang merenggang perlahan, waktu yang mengikis kebiasaan, serta keputusan-keputusan hidup yang secara senyap menggeser perempuan itu keluar dari orbit hari-harinya.
Melalui proses yang tak terasa, Nabila bergerak menjauh hari demi hari, surut perlahan dari jangkauan jemarinya. Hingga akhirnya, perempuan itu menjelma sekadar garis tipis di cakrawala yang tak lagi tergapai oleh tangan, pun tak lagi terjangkau oleh debar jantung yang selama ini selalu berdenyut menyebut namanya.
Sejak saat itu, hari-hari Sanjaya kehilangan kompas penunjuk arah. Langkah kakinya saat menyusuri trotoar kota bagai bayangan yang terlepas dari tubuhnya, ada raga yang berjalan tanpa henti, sementara jiwanya tertinggal jauh di ruang-ruang tunggu penyesalan yang tak bertepi.
Di kamar kerjanya, di bawah temaram lampu meja berona kuning pudar yang setia menemani malam-malam panjangnya, Sanjaya kerap menghabiskan waktu berjam-jam memandangi langit malam melalui kaca jendela yang berdebu. Tatapannya kosong, menembus kegelapan luar seolah sedang mencari sepercik jawaban yang pada akhirnya tak pernah sudi singgah. Pada saat-saat keheningan merayap seperti inilah, pikirannya selalu terlempar kembali ke beranda masa lalu, mengenang perdebatan-perdebatan kecil dan pernah membakar yang dulu sering ia lalui bersama Nabila.
Nabila bukanlah tipikal perempuan yang menelan mentah-mentah segala dogma yang disodorkan dunia. Ia adalah sosok dengan ketajaman berpikir yang jujur, seorang yang pernah dengan tenang menyatakan keresahannya perihal eksistensi. Masih ingat Sanjaya pada alur berpikir Nabila tentang bagaimana ia tidak lagi mampu percaya kepada Tuhan, kepada konsep ketuhanan mana pun yang diagungkan dan dipuja oleh orang banyak. Bagi Nabila, alam semesta bekerja melalui hukum-hukum mekanis yang dingin, tanpa ampun, dan tanpa telinga yang sudi mendengar ratapan manusia.
Dulu, Sanjaya sering mendebat pandangan itu dengan sisa-sisa keimanannya. Namun kini, di tengah reruntuhan hidupnya yang berserakan, buah pikiran Nabila justru merayap pelan, merusak pertahanan batinnya yang tengah limbung. Pikiran-pikiran itu menyelinap masuk ke dalam kepalanya yang penat, berbisik bagai racun yang membenarkan keputusasaan.
Di dalam buku catatan harian bersampul kulit hitam yang kian tebal oleh tumpukan keluh kesah, Sanjaya mulai menumpahkan gugatan-gugatan paling lancang yang pernah bersemi di kepalanya. Dengan goresan pena yang kadang menembus kertas karena tekanan emosi, ia menuliskan kalimat-kalimat penuh kepedihan:
Di mana Tuhan ketika nasib keluargaku berantakan, ketika satu demi satu pilar sandaranku runtuh, dan mengapa pada akhirnya Riana harus pergi meninggalkan aku sendiri di persimpangan ini? Di mana letak keadilan-Nya, ketika Nabila, satu-satunya perempuan yang membuatku kembali belajar merajut asa harus pula terenggut dari sisiku? Apakah nasibku memang ditakdirkan untuk selalu menjadi rumah bagi kesialan? Mengapa semesta begitu konsisten menunjukkan keberpihakannya pada kehancuranku?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti di kepalanya, menggerogoti sisa-sisa keyakinan yang dulu dipeluknya erat. Sanjaya bukan lagi sekadar bersedih, sudah merambah mempertanyakan kemurahan Tuhan, bahkan mulai meragukan apakah benar ada Zat yang mengawasi bumi dengan segala air mata manusia di dalamnya. Jika Sang Pencipta itu benar-benar ada dan Maha Pengasih, mengapa hidupnya harus dirundung kepedihan yang berlapis dan bertubi-tubi? Mengapa setiap kali ia mencoba menautkan hati pada seseorang, pertemuan itu selalu harus diakhiri dengan perpisahan yang menyiksa?
Segala pergulatan batin itu, segala caci maki terhadap nasib dan gugatan tanpa jawab, ia tumpahkan hari demi hari di atas lembaran-lembaran kertas catatan harian. Tinta hitam tumpah ruah, mencerminkan jiwanya yang remuk redam, tak berbentuk, dan kehilangan bentuk asalnya.
Hingga pada suatu malam, di ujung dari segala renungan panjang yang menguras sisa-sisa kewarasannya, di atas sebuah halaman kosong yang basah oleh sisa-sisa air mata yang tak sengaja menetes, Sanjaya berhenti menulis tentang kemarahannya pada langit. Tangannya beralih menulis sebuah surat. Sebuah surat yang sejak awal tidak pernah berniat ia kirimkan kepada siapa pun, melainkan sebuah pelabuhan terakhir untuk melunasi timbunan rasa yang tak sempat bernama untuk Nabila. Ia menulisnya dengan isyarat batin yang begitu dekat, seolah-olah perempuan itu sedang duduk tepat di seberang meja kerjanya, mendengarkan napasnya yang berat.
Ingin aku berkata-kata penghabisan untukmu, Nabila, tulis Sanjaya dengan jemari yang gemetar. Jika pun aku memutuskan menulis surat ini, aku tahu ia tidak akan pernah menemukan alamatmu. Ia hanya akan menjadi pengisi goresan-goresan pena yang kesepian, yang kelak tinggal di dalam laci meja kayu yang setiap malam menemaniku menulis, menguning bersama waktu, berdebu bersama musim, dan tak akan pernah terbaca oleh siapa pun. Barangkali kemudian suatu hari nanti bisa juga ditemukan oleh seseorang asing yang sama sekali tidak mengenal kita berdua.
Lalu jika hari itu benar-benar terjadi, biarlah ia dibaca sebagai sebuah kesaksian sunyi bahwa pernah ada seorang lelaki yang begitu dalam mencintai seorang perempuan dengan cara yang paling diam, hingga ia lebih memilih memelihara kata-kata di dalam dada daripada mengganggu kebahagiaan perempuan yang dicintainya.
Sanjaya menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam yang dingin menyusup ke rongga dadanya yang terasa sesak oleh timbunan rindu dan penyesalan. Di pekatnya keheningan kamar itu, ia memejamkan mata dan membiarkan ingatannya mengalir bebas, mencerna setiap keping kenangan yang begitu lekat pada diri Nabila.
Ia mengenang kembali bagaimana aroma kertas tua selalu tertinggal di ujung jemari perempuan itu setiap kali mereka menghabiskan sore di toko buku langganan mereka. Ia meresapi setiap bayangan tawa kecil yang lolos dari bibir Nabila, setiap jeda dalam kalimat-kalimat panjang yang mereka perdebatan dengan penuh antusias, hingga tatapan mata jernih yang selalu menyembunyikan ketegaran seorang pejalan sunyi.
Kenangan-kenangan itu berputar di kepalanya bagai guliran film bisu yang teramat tajam menyayat hati. Rasanya begitu dekat, seolah-olah perempuan itu baru saja beranjak dari kursi di seberangnya. Namun, kesadaran tentang jarak yang membentang lekas menghantamnya kembali, meninggalkan rasa perih yang teramat dalam di setiap debar jantungnya.
Aku tahu betul bagaimana kebiasaan-kebiasaan kecilmu, Nabila. Namun kemudian aku tidak tahu lagi apakah di rumahmu yang baru masih ada rak buku yang penuh dengan catatan-catatan kecil di sela-sela halamannya? Aku juga tidak tahu apakah sesekali kau masih menyempatkan diri berhenti di toko buku tua hanya untuk mencium aroma kertas lama yang menguap, seperti kebiasaan yang dulu sering kita lakukan bersama?
Tetapi bagiku, kebiasaan itu telah berubah menjadi sebuah ritual tanpa kepastian. Setiap kali aku melangkah memasuki toko buku, setiap kali jemariku menyentuh halaman-halaman kertas yang mulai menguning, bayanganmu selalu datang menyergap lebih dahulu daripada judul buku yang hendak kubaca. Seolah-olah di antara ribuan huruf, kata, dan kalimat yang memenuhi dunia ini, namamulah yang paling pandai dan paling cepat menemukan jalan kembali menuju ingatanku.
Sanjaya menghentikan gerak penanya sejenak, membiarkan ujung pena hitamnya diam menatap kertas yang mulai basah oleh bayang-bayang masa lalu. Matanya beralih, menyapu sudut meja kerja yang berantakan, hingga terpaku pada sebuah buku bersampul usang yang tergeletak bisu di sana.
Buku itu bukan sekadar kumpulan lembaran kertas tua. Ia adalah peninggalan paling berharga, sebuah benda pemberian Nabila yang selama ini ia jaga dengan penuh takzim, bagaikan barang paling suci di muka bumi, tempat di mana sisa-sisa napas dan kehadiran perempuan itu masih bersemayam.
Tangan Sanjaya terulur perlahan, menyentuh sampulnya yang telah melunak dimakan usia dengan kehati-hatian seorang peziarah. Di dalam keheningan malam yang kian larut, ia kembali menumpahkan isi hatinya, menyambung alur surat yang takkan pernah sampai itu ke dalam guratan tinta yang gemetar.
Aku masih menyimpan buku yang pernah kau berikan kepadaku, Nabila, tulisnya dengan napas yang memburu perlahan. Buku yang menemaniku menyusuri malam-malam panjang ketika dunia terasa terlalu bising dan menyesakkan.
Ia membuka lembar demi lembar dengan gerakan yang begitu lembut, seolah takut mengusik debu yang telah lama tidur di sana. Dan pada halaman pertamanya, di bawah pendar lampu meja yang meredup, matanya kembali menatap goresan tangan Nabila, tulisan tangan yang begitu khas, dan ketegasan huruf-hurufnya menyiratkan kelembutan yang tersembunyi. Di sana, perempuan itu hanya menyuratkan satu kalimat pendek yang hingga detik ini menjelma jangkar bagi jiwanya yang terombang-ambing:
"Jangan pernah berhenti bertanya, karena jawaban sering lahir dari kesabaran menunggu."
Kalimat itu sederhana. Namun entah mengapa, ia menjadi lebih setia menemaniku daripada banyak nasihat yang pernah kudengar sepanjang hidupku. Ketika dunia terasa bising oleh kepastian-kepastian yang dipaksakan, aku membuka kembali halaman itu. Ketika hidup terasa kehilangan arah, aku membacanya lagi. Dan setiap kali kubaca, aku merasa seolah-olah kau masih duduk di hadapanku, memegang secangkir kopi, lalu mengajakku melihat dunia dengan cara yang lebih sabar, meskipun aku tahu, kesabaran itu jugalah yang sering kupertanyakan di hadapan langit yang bungkam.
Sanjaya menarik napasnya dalam-dalam, membiarkan dadanya yang sesak meredakan debar yang menderu. Pena di tangannya terhenti sejenak, sementara tatapannya menerawang jauh menembus dinding kamar yang temaram, seolah melintasi ruang dan waktu untuk kembali duduk di hadapan perempuan itu.
Nabila... tulisnya dengan goresan yang perlahan mengalir, membawa serta seluruh sisa kejujuran yang selama ini tertahan di balik dinding kesunyian.
Ada sesuatu yang belum pernah sempat kukatakan kepadamu. Mungkin karena aku terlalu pengecut untuk memikul risikonya. Aku lebih memilih menyembunyikan debar ini di balik senyum dan tawa yang sengaja kudatarkan, takut jika ketulusan rasa ini justru berubah menjadi beban di pundakmu yang telah terlalu lelah menanggung beban hidupnya sendiri.
Mungkin juga karena aku terlalu menghormatimu. Di mataku, kau berdiri pada tempat yang begitu tinggi, bukan karena kekuasaan atau harta, melainkan karena kemurnian jiwamu yang membuatku merasa pantas untuk sekadar menjadi pengagum dari kejauhan, menjaga jarak agar tidak mencemari kesucian ruang pertemanan kita.
Atau mungkin, di atas segalanya itu, aku diliputi ketakutan yang paling pengecut bahwa aku takut, setelah kalimat itu terucap dan rahasia hati ini terbuka sepenuhnya, persahabatan kita tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. Aku takut jembatan yang kita bangun dengan susah payah runtuh seketika, dan kau memilih berjalan menjauh karena merasa risih dengan rasa yang tak pernah kau minta untuk tumbuh.
Tetapi malam ini, ketika sepi merayap tanpa ampun dan tidak ada lagi yang tersisa di ruangan ini selain bayang-bayang kenangan yang berkelebat di sudut dinding, aku merasa sudah waktunya untuk melunasi segala kejujuran yang tertunda. Beban rahasia ini telah terlalu lama mendekam di dalam dada, menjelma duri kecil yang menusuk setiap kali aku mencoba bernapas dalam-dalam. Aku tidak lagi ingin menyembunyikannya di balik topeng ketidakpedulian, atau membiarkannya terkubur bersama waktu yang terus berlari. Sebelum malam semakin larut dan ingatan ini mulai kabur dimakan usia, aku ingin membiarkan pena ini menuliskan apa adanya sebagai pengakuan tulus tanpa syarat, sebagai tanda bahwa aku pernah hidup dan berani jujur pada hatiku sendiri, meski semua itu kutulis hanya untuk kubaca seorang diri.
Di mataku, kau adalah perempuan yang sederhana. Kesederhanaanmu bukanlah kesederhanaan yang miskin warna, melainkan kesederhanaan yang lahir dari hati yang tidak pernah merasa perlu berpura-pura menjadi siapa pun. Kau berjalan tanpa ingin menjadi pusat perhatian. Kau berbicara tanpa merasa harus memenangkan setiap percakapan. Kau tertawa tanpa dibuat-buat. Dan justru karena itulah, kehadiranmu terasa begitu utuh, seperti mata air yang tidak pernah berteriak agar didatangi, tetapi selalu dicari oleh orang-orang yang kehausan.
Aku selalu mengagumi semangatmu. Kau bisa menghadapi hidup seperti seorang pejalan yang tahu jalannya panjang, tetapi tidak pernah berhenti melangkah. Kau lelah, aku tahu. Berkali-kali kau mengakuinya. Namun kelelahanmu tidak pernah berubah menjadi alasan untuk menyerah. Kau memilih tetap membaca, tetap belajar, tetap bertanya, tetap bermimpi. Dari situlah aku belajar bahwa keberanian tidak selalu tampak sebagai teriakan. Kadang-kadang hanya berupa keputusan sederhana untuk bangun lagi pada pagi berikutnya.
Dan tentang kecantikanmu… Mungkin kau akan tertawa lepas, atau bahkan mencibir pelan dengan sebelah alis yang terangkat, jika suatu hari kau membaca bagian surat ini. Kau selalu menjadi orang pertama yang merendahkan diri setiap kali pujian mendarat di wajahmu, seolah keelokan fisik adalah hal yang paling tidak pantas untuk dibanggakan.
Tetapi izinkan aku, untuk pertama dan terakhir kalinya, bersikap jujur tanpa saring di hadapan lembaran kertas ini. Sebab aku tidak pernah melihatmu sekadar sebagai seorang perempuan dengan rupa yang elok. Cantikmu tidak pernah berhenti pada batasan-batasan permukaan yang biasa dipuja oleh dunia. Bukan sekadar pada garis wajahmu yang teduh menenangkan, bukan pula pada seulas senyum yang selalu datang pelan, menyapa siapa saja dengan kehangatan yang tidak dibuat-buat. Jauh melampaui itu semua, kecantikanmu terpancar dari caramu memandang dunia, dari cara matamu menatap tajam setiap ketidakadilan, dari keberanianmu mempertanyakan hal-hal mapan yang oleh kebanyakan orang dianggap sudah selesai dan tidak perlu digugat lagi. Cantikmu adalah ketulusan saat kau memilih diam mendengarkan keluh kesah orang lain dengan sabar, sebelum akhirnya kau merangkai kata dan menyampaikan pendapat dengan kelembutan yang tidak pernah kehilangan ketegasannya.
Jika orang-orang masa lalu mewariskan kisah tentang Dewi Sinta, yang kesetiaannya diuji dan melampaui kobaran api suci, aku selalu merasa bahwa kecantikanmu bernyanyi dalam cahaya yang sama sekali berbeda. Cahaya yang tidak menuntut kebinasaan, melainkan ketahanan hidup yang sunyi.
Jika para penyair agung mengagungkan Sakuntala sebagai lambang kelembutan yang hidup menyatu di tengah rimba belantara, aku justru menemukan kelembutan purba itu terpantul begitu nyata di dalam kedalaman matamu, tempat di mana kejujuran dan kerapuhan bersembunyi berdampingan.
Jika dongeng-dongeng tua menyebut Zulaikha sebagai perempuan yang memesona hingga mampu mengguncang nalar dan hati manusia, bagiku pesonamu lahir dari kesederhanaan yang begitu natural, sebuah kesederhanaan yang nyaris tak pernah kau sadari keberadaannya, seolah kau tidak pernah tahu betapa besar daya pikat dari jiwa yang merdeka.
Dan jika dunia sepanjang zaman mengenang Laila sebagai nama agung yang membuat Qais kehilangan kewarasannya, terbakar dalam api rindu yang mematikan, aku mulai memahami makna di balik kisah-kisah tragis itu. Melalui dirimu, aku mengerti mengapa cinta pada akhirnya kadang lebih memilih menjelma menjadi doa yang dipanjatkan dalam diam, jauh daripada sekadar tuntutan untuk memiliki.
Bahkan jika para pujangga dan kitab-kitab lama melukiskan bidadari surga dengan segala keelokan paripurna yang tak sanggup dibayangkan oleh akal manusia, aku tetap meyakini satu hal dengan segenap kesadaranku. Kecantikan yang paling sulit dilupakan di dunia ini bukanlah rupa yang sempurna tanpa cela, melainkan kecantikan batin seseorang yang mampu menginspirasi orang lain untuk berbenah, menumbuhkan niat dalam hati mereka untuk ingin menjadi manusia yang jauh lebih baik dari hari kemarin.
Dan kau, Nabila, telah melakukan keajaiban itu kepadaku. Kau melakukannya tanpa pernah memintanya dengan tuntutan yang memberatkan, tanpa pernah melontarkan nasihat menggurui yang seringkali justru membuat orang menolak. Kau bahkan melakukannya tanpa pernah menyadari betapa besar pengaruh kehadiranmu bagi jiwaku yang sempat lumpuh. Hanya dengan cara hidupmu, dengan caramu berjalan, berpikir, dan merespons dunia, kau mengubah arah hidupku secara perlahan tanpa kau sadari sedikit pun.
Sebelum semesta mempertemukan jalanku denganmu, aku mengira hidupku akan selamanya mendekam dan terkunci mati di dalam bayang-bayang Riana. Aku begitu lama membiarkan diriku mendekam di ruang tunggu kenangan, merawat sisa-sisa puing masa lalu dengan rasa sakit yang sengaja dipelihara.
Aku memelihara kehilangan itu bagaikan seseorang yang dengan sengaja memeluk bara api di dada ini, membiarkannya terus membara, membakar habis kewarasanku sendiri, karena aku mengira penderitaan adalah satu-satunya bentuk kesetiaan yang tersisa.
Aku begitu takut membiarkan ingatan itu memudar, takut kehilangan detail-detail kecil tentang Riana yang dulu mengisi setiap jengkal ruang napasku. Sebab di dalam kepalaku yang naif dan keras kepala saat itu, melupakan dianggap sama artinya dengan mengkhianati cinta yang pernah terajut dengan begitu indahnya. Aku memandang lupa sebagai sebuah kejahatan moral, sebuah dosa batin yang teramat keji dan takkan pernah bisa dimaafkan oleh nuraniku sendiri, seolah-olah dengan terus merawat luka itu aku sedang membuktikan keabadian rasa cintaku.
Namun, setelah semesta menuntunku mengenalmu, setelah hari-hari panjang kita yang diisi oleh percakapan tanpa ujung, diskusi-diskusi mendalam, dan perdebatan jujur yang secara perlahan meruntuhkan keangkuhan serta benteng pertahananku, aku akhirnya diantar pada sebuah pemahaman baru yang membebaskan bahwa berdamai dengan keadaan sama sekali bukanlah sebuah bentuk pengkhianatan.
Aku mulai menyadari bahwa kenangan masa lalu tidak harus dihapus secara paksa atau dibuang jauh-jauh dari ingatan agar sebuah luka dapat menemukan jalan menuju kesembuhannya. Luka tidak lenyap karena kita pura-pura melupakan keberadaannya, melainkan karena kita belajar menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membentuk diri kita hari ini.
Kenangan itu cukup diletakkan di tempat yang benar, disimpan baik-baik sebagai lembaran sejarah yang terhormat dan suci di dalam arsip terdalam hati, tanpa harus dibiarkan terus-menerus meneteskan darah, menyiksa batin, atau menguasai arah masa depan yang masih harus kujalani.
Dan yang membuatku selalu takjub, kau tidak pernah sekalipun memintaku untuk melupakan Riana, bahkan ketika kau tahu betapa dalam bayang-bayang perempuan itu bersemayam di dalam diriku. Kau bahkan hampir tidak pernah menyinggung namanya di dalam setiap obrolan kita, seolah kau memiliki kepekaan batin yang luar biasa untuk mengenali batasan suci di mana hatiku masih berdarah-darah. Alih-alih mendesak atau menghakimi, kau membiarkan pada waktu agar kenyamanan dari kebersamaan kita yang dapat menyembuhkannya secara alamiah, tanpa pernah sekalipun kau mengusik dengan kata-kata kasihan yang merendahkan martabat lukaku.
Melalui setiap percakapan panjang yang menguji batas penalaran kita, setiap derap langkah kaki di atas trotoar kota yang basah oleh sisa hujan sore, setiap kunjungan senyap ke sudut-sudut toko buku, hingga setiap keheningan yang nyaman kita bagi bersama tanpa perlu diisi oleh sepatah kata pun, perlahan-lahan, tanpa pernah kaupaksakan, kau telah mengajariku sebuah kebijaksanaan hidup yang paling berharga. Kau menunjukkan kepadaku bahwa hidup ini tidak pernah benar-benar tertutup bagi mereka yang patah, sebab semesta akan selalu menyediakan ruang baru yang lapang bagi hati yang masih bersedia membuka jendela kamarnya untuk membiarkan cahaya matahari pagi masuk kembali.
Bahkan, pada suatu sore yang hangat di masa lalu, aku pernah dengan sengaja membuka percakapan itu kepadamu. Aku ingin memastikan satu hal yang terpatri abadi dan jujur di dalam nuraniku. Di tengah segala kenyamanan kebersamaan kita, aku tidak pernah sedikit pun berniat untuk menjadikanmu sebagai bayang-bayang pengganti Riana.
Dan yang paling melegakan hatiku, pemikiran itu kau terima dengan kelapangan dada yang luar biasa, tanpa ada rasa tersinggung, tanpa ada tuntutan untuk menjadi orang lain, karena kau sendiri memahami betapa tidak adilnya membandingkan satu jiwa dengan jiwa yang lain.
Sebab kita berdua tahu persis, hukum kemanusiaan tidak pernah diciptakan untuk saling menggantikan. Manusia bukanlah komoditas atau benda usang yang bisa disingkirkan begitu saja lalu ditukar dengan versi yang lebih baru ketika ia rusak, usang, atau hilang ditelan waktu.
Riana adalah sebuah babak tersendiri yang telah selesai ditulis di dalam buku hidupku, menjadi sebuah kisah dengan warna kebahagiaannya sendiri, rasa sakitnya sendiri, dan bekas luka yang tidak akan pernah bisa dihapus atau diisi oleh siapa pun di muka bumi ini, termasuk oleh dirimu yang begitu berharga. Kau tidak perlu menjadi dirinya, dan aku tidak pernah menuntutmu untuk memikul beban kenangan yang bukan milikmu.
Namun di titik inilah sebuah keajaiban yang kaubawa bekerja dengan caranya yang paling menenteramkan hati. Kaulah yang telah mengajariku dengan ketulusan sikap dan keluasan ilmumu bahwa setelah musim gugur merontokkan segala asa dan membuat pepohonan berdiri telanjang dalam kebekuan, selalu ada musim semi yang datang membawa harapan, di mana dahan-dahan yang mati itu kembali menumbuhkan pucuk daun muda yang hijau dan segar.
Dan bagiku, kesadaran itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku bertahan di atas sisa-sisa reruntuhan hari. Pengetahuan bahwa musim semi pasti akan selalu datang menyapa setelah musim dingin yang panjang telah memberiku alasan yang valid untuk terus melangkah, bangun setiap pagi, dan kembali menyapa dunia tanpa rasa takut yang berlebihan.
Kini, di tengah keheningan malam yang kian larut merayap, ditemani pendar lampu meja berona kuning pudar yang setia menemani jemariku menari di atas kertas, aku akhirnya tahu dengan sangat pasti mengapa surat ini tidak boleh, dan tidak akan pernah boleh, kukirimkan kepadamu.
Sebab isi dari lembaran-lembaran tinta yang basah ini bukanlah lagi sebuah tuntutan egois atau rengekan kekanak-kanakan agar kau kembali memutar arah langkahmu dan singgah di sisa-sisa hari hidupku yang sunyi. Ia juga bukan sebuah ratapan penyesalan yang sia-sia sebagai keluh kesah karena takdir memang tidak pernah mengizinkan kita untuk berjalan beriringan sebagai sepasang kekasih, merajut mimpi-mimpi sederhana di bawah satu atap yang sama. Batas itu telah tergaris dengan jelas, dan aku telah belajar menerimanya dengan lapang dada.
Surat ini, pada akhirnya, tidak memiliki pretensi apa pun selain satu hal bahwa ini hanyalah sebuah surat ucapan terima kasih yang tulus tanpa syarat, yang kupersembahkan dari lubuk hati terdalam untuk seseorang yang telah menyelamatkan kewarasanku dari jurang keputusasaan.
Terima kasih yang tak terhingga karena kau pernah dengan sukarela hadir di dalam hidupku pada masa-masa paling kelam, ketika aku hampir saja kehilangan sisa-sisa kepercayaan bahwa hidup ini masih menyimpan perjumpaan yang baik, tepat pada saat duniaku runtuh berkeping-keping tanpa arah dan tujuan.
Terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah bersedia menjadi teman berjalan di jalan-jalan kota yang melelahkan, teman membaca di antara tumpukan lembaran berdebu, teman berpikir yang menantang akal sehatku untuk terus tumbuh, sekaligus teman mendengarkan yang paling setia pada masa ketika kesunyian merajai dan menjadi penghuni paling lama di dalam hari-hariku yang hampa.
Semoga lelaki yang kini sah mendampingi hari-harimu memiliki ketulusan yang murni dan kesabaran seluas samudra untuk membaca matamu sebagaimana dahulu aku dengan sabar belajar membacanya. Mampu menangkap setiap letih yang sengaja kaurahasiakan di balik tatapan matamu yang tampak tenang. Mampu mengenali badai apa pun yang sedang bergolak di dalam batinmu.
Semoga ia mengerti tanpa sedikit pun perlu kauberi tahu bahwa di balik setiap senyum manismu yang terukir di hadapan orang lain selalu tersimpan ketegaran dan keberanian luar biasa, sebuah mental baja yang diam-diam berjuang sendirian melawan keras dan kejamnya dunia.
Semoga ia selalu siap sedia menjadi rumah dan tempatmu bersandar yang paling aman, selalu menjaga api semangatmu tetap bernyala dengan hangat, manakala suatu hari nanti dunia terasa terlalu berat, menyesakkan, dan melelahkan untuk dipikul sendirian di atas pundakmu yang mungil.
Dan semoga setiap kali kau membuka lembar demi lembar halaman buku yang kelak kau baca di sisa usiamu, deretan huruf-huruf itu selalu berhasil mengingatkanmu bahwa di masa lalu, pernah ada seorang teman diskusi yang setia, seseorang yang diam-diam merekam, merenungkan, dan menyimpan rapi seluruh percakapan kita sebagai salah satu bab paling indah, suci, dan berharga di dalam riwayat hidupnya.
Jika suatu hari nanti, entah bertahun-tahun lagi ketika garis-garis usia telah mengubah guratan di wajah kita, takdir secara tak sengaja mempertemukan kita kembali, misalnya di sebuah sudut toko buku yang sunyi dan berdebu, jangan pernah khawatir. Aku tidak akan membiarkan kecanggungan mencengkeram udara di antara kita, pun tidak akan pernah menuntut jawab atau bertanya mengapa garis takdir kita tidak pernah cukup kuat untuk menyatukan kita sebagai kita.
Aku hanya akan tersenyum tulus, menatapmu dalam-dalam dengan sisa-sisa rasa hormat dan kekaguman yang tak pernah luntur sedikit pun oleh laju waktu. Barangkali kita hanya akan saling menyapa sekadarnya dengan suara yang lembut, saling menanyakan buku-buku baru apa yang sedang masing-masing baca di musim itu. Lalu setelahnya, kita akan saling mengangguk hormat, berbalik perlahan, dan melangkah pergi menuju lorong rak buku yang berbeda, kembali terhanyut ke dalam dunia kita masing-masing.
Sebab aku telah belajar memahami hukum kehidupan yang paling hakiki dan mendalam bahwa tidak semua orang yang begitu kita cintai dan agungkan di dunia ini ditakdirkan untuk tinggal menetap dan berjalan beriringan bersama kita sampai garis akhir. Sebagian dari orang-orang yang kita cintai ternyata hanya dihadirkan oleh semesta sebentar saja, sekadar melintas untuk mengajari kita sebuah pelajaran berharga bahwa bentuk cinta yang paling dewasa bukanlah cinta yang menuntut dan memaksakan kepemilikan, melainkan cinta yang mampu mengikhlaskan dengan dada lapang tanpa pernah kehilangan rasa hormat.
Terima kasih yang sebesar-besarnya, Nabila. Sebab setelah sekian lama aku terkurung dan tersesat dalam kubangan duka yang pekat, pada akhirnya, berkat kehadiran dan kebaikan jiwamu, aku mampu mengenang Riana kembali tanpa harus meneteskan air mata kepedihan. Dan bagiku, itu adalah hadiah terindah, paling mulia, dan paling menyembuhkan, serta sebuah keajaiban batin yang bahkan tak pernah sempat kuminta darimu. (Sal)