Percakapan itu tiba-tiba tidak lagi terasa seperti pembicaraan tentang sejarah peradaban, melainkan menjelma cermin yang memantulkan hidupnya sendiri, tentang hal-hal yang selama bertahun-tahun sengaja ia pendam dan tidak pernah ia katakan kepada siapa pun, termasuk tentang Riana. Tentang kata-kata yang sengaja ia simpan rapat-rapat di dasar hati karena dibayangi ketakutan akan kehilangan dan penolakan. Tentang harapan yang diam-diam pernah ia pelihara dalam gelap, meskipun ia tahu harapan itu tidak pernah benar-benar memiliki tempat yang layak untuk tumbuh.
Mungkin, manusia memang terlahir sebagai makhluk yang rapuh, yang sering terpaksa menciptakan kebohongan-kebohongan kecil demi bisa bertahan hidup di tengah kerasnya kenyataan. Kadang kebohongan itu menyamar dan bernama harapan. Kadang bernama kesetiaan semu yang dipelihara. Kadang bernama kenangan indah yang dibesar-besarkan. Dan kadang, ia bernama cinta yang tak sampai.
Nabila seolah tidak menyadari badai batin yang tengah berkecamuk di dada lawan bicaranya. Perempuan itu kembali memalingkan pandangannya ke luar jendela, menatap pekatnya malam yang kian merayap.
“Agama pun begitu dalam konteks kebudayaan,” katanya tenang. “Setiap masyarakat membutuhkan nilai perekat yang dapat mengikat manusia dalam satu simpul. Kepatuhan, keteraturan sosial, solidaritas kolektif, hingga kelangsungan hidup bersama. Tanpa sesuatu yang dijunjung dan dipercaya secara bersama-sama, sebuah masyarakat hanya akan menjadi kumpulan individu yang saling terpecah oleh kepentingan egois masing-masing.”
Sanjaya mengangguk perlahan, mencoba menarik pikirannya kembali ke permukaan, lalu berkata, “Tapi bukankah di sepanjang sejarah, kepercayaan dan agama itu juga sering dipakai oleh para penguasa untuk menundukkan dan menguasai manusia?”
“Bisa,” jawab Nabila tanpa keraguan.
“Lalu apa bedanya antara kepercayaan yang membangun peradaban dan kepercayaan yang memperbudak?” kejar Sanjaya.
“Kesadaran.”
Jawaban itu meluncur sangat singkat, tetapi sarat akan pusat makna.
Nabila kemudian menambahkan dengan intonasi yang lebih lembut, “Kepercayaan yang sehat adalah yang membuat manusia mampu berpikir jernih, mencintai sesama, bekerja, dan hidup berdampingan. Sangat berbeda dengan kepercayaan buta yang malah mematikan nalar, membunuh empati, dan melegitimasi kekerasan atas nama kesucian.”
Sanjaya tersenyum tipis yang getir menyiratkan kelegaan karena menemukan titik terang. Sambil mengulang apa yang disampaikan Nabila untuk memastikan pemahamannya. “Jadi masalah utamanya bukan hanya pada apa yang kita percaya, melainkan pada bagaimana manusia menggunakan apa yang dipercayainya itu dalam kehidupan nyata. Begitu kan.”
Malam mulai turun perlahan, merengkuh kota dengan jubah kelamnya. Lampu-lampu ruangan dinyalakan satu per satu oleh petugas perpustakaan, memancarkan cahaya putih bersih yang jatuh menimpa tumpukan buku-buku yang berserakan di atas meja, membuat halaman-halaman kertas itu tampak berkilau bagaikan potongan-potongan kecil kehidupan yang belum selesai dibaca.
Malam di perpustakaan belum mau berakhir. Sanjaya merapatkan duduknya, kembali menarik Nabila ke dalam pusaran pertanyaan besar yang belum tuntas.
“Lalu kenapa kebudayaan dari Sinai, Eufrat, Tigris, Golan, kemudian merambah Romawi dan Persia, begitu kuat memengaruhi dan membentuk wajah Nusantara hari ini?”
Nabila menjawab tanpa tergesa, suaranya mengalir tenang mengimbangi malam yang kian larut di ruangan itu.
“Karena ekspansi mereka luas,” katanya. “Perdagangan maritim, migrasi masif, peperangan, perjalanan para pelaut dan musafir, hingga pertukaran pengetahuan, semuanya membuat manusia tidak pernah benar-benar tinggal diam di satu tempat.”
Ia mengambil sebatang pena dari atas meja, lalu mulai menggambar garis-garis kecil yang saling bersilangan di selembar kertas putih kosong.
“Manusia tidak pernah hidup dalam ruang yang benar-benar tertutup dari dunia luar. Sejak zaman purba, Sapiens meninggalkan Afrika, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain yang asing, membawa tubuh yang lelah, bahasa yang terus berkembang, teknologi sederhana, keyakinan, dan kebiasaan hidup mereka.”
Pena itu berhenti bergerak di atas kertas, menyisakan coretan-coretan tipis yang menyerupai jaring laba-laba peradaban.
“Nusantara, sejak ribuan tahun lalu, berada tepat di jantung jalur perdagangan dunia yang paling penting. Maka wajar jika berbagai kebudayaan besar bertemu, bertubrukan, dan melebur di sini.”
Sanjaya menunduk, memperhatikan garis-garis yang dibuat Nabila dengan seksama. “Jadi tidak ada satupun budaya di dunia ini yang benar-benar murni tanpa ada campur tangan luar?”
“Sangat sulit mengatakan ada budaya yang murni,” jawab Nabila ringan.
“Karena semuanya sudah bercampur baur sejak awal?”
“Karena manusia selalu saling bertemu, saling meminjam, dan saling mempengaruhi.”
Kalimat itu terasa jauh lebih besar daripada sekadar garis-garis tinta atau peta tua di atas meja. Sebuah ringkasan dari sejarah panjang umat manusia yang tak pernah lelah merantau.
Nabila kemudian menyebut nama-nama gunung dan sungai purba yang pernah menjadi saksi bisu atas segala perjalanan dan perjumpaan manusia di bumi Nusantara: Padang, Sunda, Sinabung, Toba, Singgalang, Krakatau, Merapi, Bromo, dan aliran air yang menghidupkan peradaban seperti Citarum, Musi, Bengawan, Brantas, Kapuas, hingga Muara Jambi.
Bagi Sanjaya, nama-nama itu seperti urat nadi yang tersembunyi di bawah kulit bumi Nusantara, mengalirkan denyut kehidupan yang tak kasat mata. Membayangkan manusia datang dan pergi melintasi zaman, meninggalkan jejak-jejak sunyi yang tidak selalu dapat ditemukan dalam lembaran buku sejarah resmi. Sebagian dari jejak itu bertransformasi menjadi bahasa dan dialek harian. Sebagian menjelma menjadi adat istiadat yang dijaga keramatnya. Sebagian lagi melekat dalam cita rasa makanan, mantra upacara, hingga cara masyarakat menyikapi kelahiran dan kematian. Dan sebagian besar lainnya mengendap begitu lama di dalam kesadaran kolektif, hingga manusia yang hidup hari ini tidak lagi tahu persis dari mana asal-usulnya.
Nabila membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka sejenak, membiarkan Sanjaya menelusuri lorong-lorong waktu dalam pikirannya sendiri, sebelum akhirnya jemarinya bergerak menyentuh cangkir kopi yang telah mendingin.
“Dari pertemuan dan pergesekan itulah,” kata Nabila, memecah lamunan Sanjaya dengan intonasi yang jernih dan menenangkan, “lahir apa yang kita sebut sebagai akulturasi, yaitu sebuah proses peleburan panjang di mana dua dunia yang berbeda saling merengkuh tanpa harus saling meniadakan.”
Sanjaya mengangkat wajahnya, menangkap tarikan napas perempuan itu yang terdengar begitu teratur di tengah keheningan malam yang kian merayap.
“Dan kompromi?” sambar Sanjaya cepat setelah mencecap kopinya dan meletakkan kembali di meja, seolah takut gagasan yang melintas di kepalanya keburu menguap oleh sunyinya malam, terbawa angin yang mendesau dari celah jendela.
“Ya,” angguk Nabila mantap, sorot matanya memancarkan ketegasan yang lahir dari pemahaman sejarah yang matang. “Kompromi peradaban. Sebuah seni hidup berdampingan di atas tanah yang sama.”
“Antara yang lama dan yang baru?” kejar Sanjaya, mencoba merangkai kepingan-kepingan logika itu dalam kepalanya.
“Antara akar dan cabang,” jawab Nabila singkat, sarat akan makna yang merayap pelan, meresap ke dalam rongga dada Sanjaya dan membuatnya kembali tertegun dalam renungan yang panjang.
Nabila tersenyum teduh, membiarkan makna kata-katanya menggantung di udara perpustakaan yang kian senyap.
“Tradisi lama tidak selalu harus dibuang begitu saja hanya karena ia tua. Sebaliknya, tradisi baru juga tidak selalu harus ditolak mentah-mentah hanya karena ia asing. Kita selalu punya ruang untuk mempertahankan sesuatu yang baik dari masa lalu dan menerima sesuatu yang lebih baik dan relevan dari masa depan.”
Sanjaya kemudian terenyuh saat ingat akan sebuah kalimat bijak yang sempat meluncur dari bibir Nabila beberapa waktu lalu, sebuah prinsip agung yang ia sampaikan dengan begitu fasih, tenang, dan perlahan, meresap ke dalam keheningan ruangan:
“Al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah.”
Sanjaya mengulanginya di dalam hati, meresapi keindahan maknanya yang kian benderang setelah ia memperoleh bentangan penjelasan yang utuh dari Nabila, tentang seni merawat warisan masa lalu yang baik sekaligus menyongsong pembaharuan masa depan yang lebih maslahat.
“Akar tetap,” kata Nabila lagi, mempertegas gagasannya seraya memandang lurus ke hadapan Sanjaya, “sementara cabang-cabangnya terus tumbuh, merimbun, dan berubah mengikuti ke mana pun arah angin zaman bertiup.”
Sanjaya tersenyum tipis, merasakan gelombang kebenaran yang telak menyapa nuraninya, meruntuhkan berbagai sekat dogmatis yang selama ini memenjarakan cara berpikirnya.
“Mungkin itu kesalahan yang paling sering kita lakukan sebagai umat manusia,” ucap Nabila pelan, nada suaranya berubah menjadi sebuah refleksi filosofis.
“Apa itu?” tanya Sanjaya penasaran.
“Kita sering begitu sibuk mempertahankan bentuk luar yang kaku dan dangkal, sampai-sampai lupa menjaga esensi dan nilai luhur yang bersemayam di dalam.”
Nabila menatapnya dalam-dalam, manik matanya yang jernih memantulkan bias cahaya lampu yang semakin benderang di sudut ruangan, seolah menembus lapisan pertahanan paling dalam di jiwa Sanjaya.
“Dan di sisi lain,” lanjut Nabila, “kita kerap terjebak dalam arus ambisi yang membabi buta. Terlalu sibuk mengejar segala sesuatu yang baru dari dunia luar sampai lupa bahwa akar sejarah adalah satu-satunya alasan mengapa pohon kehidupan itu masih bisa berdiri kokoh saat badai krisis menerpa.”
Sanjaya tertawa kecil, sebuah tawa ringan penuh kesadaran yang serta-merta mengusir sisa-sisa sesak di dadanya, menggantikannya dengan kelegaan yang lapang. “Berarti manusia memang tak pernah benar-benar sempurna. Kita selalu berjalan di atas garis tipis di antara dua kesalahan ekstrem.”
“Atau,” balas Nabila dengan binar hangat yang memancar di matanya, “kita selalu berdiri di antara dua kemungkinan besar yang senantiasa menanti untuk dipilih.”
Mereka terdiam, membiarkan kalimat itu menggantung di antara desau angin malam. Untuk beberapa saat tidak ada pembicaraan yang memecah malam. Tetapi diam di antara mereka tidak lagi terasa canggung atau menuntut. Sebaliknya, kesunyian itu mulai menjelma menjadi bagian dari hubungan mereka sebagai ruang lapang tempat masing-masing dapat bernapas lega tanpa harus terus-menerus menjelaskan isi kepala diri sendiri.
Sanjaya kemudian berkata, suaranya meluncur pelan sarat akan gugatan, “Mungkin masalah kita hari ini sebenarnya sederhana. Kita begitu mudah menelan mentah-mentah apa pun yang datang dari luar, bahkan ketika hal itu tidak selalu baik bagi kita. Sementara warisan nenek moyang sendiri yang sarat kearifan justru kita tinggalkan karena ketakutan yang berlebihan dicap syirik atau bid'ah.”
Nabila tersenyum, menyambut kejernihan kritik yang baru saja dilontarkan lelaki di hadapannya.
“Karena kita sering lebih mudah menghafal larangan daripada memahami alasan mendasar yang tersembunyi di balik larangan itu sendiri,” ujar Sanjaya, merangkai benang merah dari perbincangan mereka.
“Padahal, sebuah larangan tidak diciptakan hanya untuk menutup jalan,” balas Nabila lembut, “ia juga bisa menjadi pintu masuk bagi akal untuk mulai berpikir.”
“Ya,” gumam Sanjaya pelan, suaranya menyerap ke dalam keheningan perpustakaan yang kian larut, seolah ia tengah membiarkan gagasan itu mengendap di dasar kepalanya yang paling sunyi.
“Memilih dengan kesadaran,” sambung Nabila pelan, memberi penekanan pada setiap suku kata yang meluncur dari bibirnya.
“Menimbang buruk dan baiknya secara jernih,” timpal Sanjaya tanpa ragu, meresapi ritme percakapan yang kian mengalir seirama dengan detak waktu.
“Hingga akhirnya benar-benar memahami,” pungkas Nabila menutup rentetan pemahaman tersebut.
Nabila mengangguk menyetujui, sorot matanya yang jernih menyiratkan kelegaan yang amat dalam setelah berhasil merangkai benang merah dari perdebatan panjang mereka.
“Larangan seharusnya tidak pernah berhenti sebagai tembok pembatas yang kaku dan memenjarakan nalar,” ujar Nabila, suaranya terdengar begitu berwibawa di antara tumpukan buku-buku tua. “Lebih dari itu, ia bisa menjelma menjadi pintu masuk yang megah menuju kesadaran yang utuh dan memerdekakan.”
Sanjaya memandang wajah perempuan di seberangnya itu lekat-lekat, membiarkan bias cahaya lampu meja menangkap ekspresi ketenangan yang terpancar dari garis wajah Nabila, sementara pikirannya sendiri tengah bergelut hebat meresapi keluasan sudut pandang yang baru saja disuguhkan kepadanya.
Pada saat-saat seperti itu, di tengah temaram ruang perpustakaan yang kian larut, ia mulai merasakan bahwa kedekatan di antara mereka bukan lagi sekadar relasi dua orang yang senang berdiskusi tentang sejarah dan filsafat. Ada sesuatu yang jauh lebih intim yang terajut di antara mereka. Sesuatu yang bahkan belum memiliki nama yang pasti, tetapi mulai tumbuh dengan subur dari kebiasaan saling mendengar dan meresapi. Namun mereka tidak berusaha terburu-buru menyebutnya sebagai cinta.
Barangkali belum saatnya. Barangkali setelah sekian lama berkubang dalam duka pasca kepergian Riana, Sanjaya baru belajar bahwa beberapa perasaan yang paling murni mungkin akan bertahan lebih lama jika tidak serta-merta dipaksa diberi label.
Tetapi Nabila kembali menarik perhatiannya, melanjutkan alur pemikiran yang sempat tertunda.
“Lihat saja tradisi tahun baru, kenduri, festival desa, ziarah leluhur, perjalanan panjang, hingga berbagai bentuk perayaan lainnya,” kata Nabila sambil menunjuk ringan ke arah buku catatan. “Manusia di belahan bumi mana pun selalu menciptakan ritual untuk memberi makna pada perjalanan hidupnya yang fana.”
“Termasuk ritual haji dalam tradisi Islam?” kejar Sanjaya.
“Dalam kajian sosiologi dan antropologi kebudayaan, ritual haji juga dapat dibaca sebagai bagian dari tradisi yang memiliki akar sejarah sangat panjang. Sebagaimana almarhum Buya Syakur pernah mengulasnya, ia bekerja sebagai semacam kearifan lokal yang merangkum transendensi universal.”
Nabila berhenti sebentar, membiarkan keheningan malam memberi bobot pada kalimatnya.
“Namun yang paling penting bukan sekadar bentuk fisik dari ritual itu sendiri, melainkan bagaimana manusia mampu menyelami dan memberi makna yang hidup pada ritual tersebut.”
Sanjaya mengangguk perlahan, meraba esensi dari gagasan itu. “Karena manusia pada dasarnya memang membutuhkan simbol?” tanyanya.
“Lebih dari itu,” koreksi Nabila, “manusia membutuhkan makna.”
Nabila kemudian menatapnya tajam yang menenangkan. “Doa yang dipanjatkan, ziarah yang dilakukan, perayaan, kenduri, ritual keagamaan, hingga perjalanan ke tempat-tempat yang dianggap sakral, semuanya dapat menjadi instrumen bagi manusia untuk mengelola gejolak batinnya. Agar ia tetap berada dalam harmoni dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta yang lebih luas.”
Sanjaya memandangi tangan Nabila yang tergeletak tenang di atas meja kayu. Melihat ada sesuatu yang ganjil sekaligus menenangkan bergelung di dadanya. Ia merasa begitu nyaman berada di dekat perempuan itu, bukan karena Nabila memaksanya melupakan Riana, melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, ia merasa tidak perlu menghapus masa lalunya hanya untuk bisa merasa hidup kembali.
Nabila menyadari tatapan lekat yang dilemparkan lelaki itu, lalu membalasnya dengan sebuah senyuman tipis yang menyiratkan pemahaman mendalam akan badai pikiran yang tengah berkecamuk. “Kenapa tiba-tiba diam?” tanyanya memecah keheningan yang sempat merayap di antara tumpukan lembaran catatan.
Sanjaya tersenyum canggung, merasakan darahnya berdesir pelan di bawah kulit. “Sedang berpikir,” jawabnya singkat, mencoba menyembunyikan getar yang tiba-tiba menyergap rongga dadanya.
“Bahaya,” balas Nabila ringan, tetapi sarat makna.
“Kenapa?” kejar Sanjaya, alisnya terangkat sebelah menampakkan rasa penasaran.
“Karena orang yang terlalu banyak berpikir tentang hidup kadang justru lupa jalan untuk pulang.”
Sanjaya tertawa kecil, suara tawanya renyah memecah kesunyian malam perpustakaan yang kian pekat. “Mungkin saya memang belum tahu pasti harus pulang ke mana,” ucapnya menyambung dengan nada getir yang dibungkus canda.
Nabila tidak ikut tertawa mendengar pengakuan itu. Ia justru melepaskan pandangannya dari buku, lalu menatap Sanjaya dengan sisa kelembutan yang memancar bening di matanya, seolah ia bisa membaca seluruh lelah yang disembunyikan lelaki itu di balik senyumannya.
“Mungkin pulang tidak selalu tentang sebuah tempat fisik di atas peta,” kata Nabila pelan, suaranya meluncur lembut namun mencengkeram kesadaran Sanjaya.
Sanjaya terdiam seketika, menahan napasnya sembari menunggu kelanjutan kalimat yang menggantung di udara malam itu.
“Kadang,” lanjut Nabila lirih, seakan berbisik pada angin yang berembus pelan dari celah jendela, “pulang yang sesungguhnya adalah ketika seseorang akhirnya berhasil berhenti berperang dengan isi kepalanya sendiri.”
Kalimat itu menghantam Sanjaya telak di pusat kesadarannya, melumpuhkan seketika segala bantahan yang sedari tadi bersiap melompat dari tenggorokannya, membuatnya seketika menundukkan kepala dalam keheningan yang panjang.
Untuk beberapa detik yang terasa begitu panjang dan mengapung di dalam ruang hampa, ia merasa seluruh percakapan panjang yang baru saja mereka gulirkan, mulai dari pusaran sejarah, teologi agama, dinamika budaya, hingga bentangan peradaban manusia, tiba-tiba meruncing tajam menuju satu titik temu yang paling privat dan sunyi tentang dirinya sendiri.
Sanjaya baru menyadari dengan kesadaran yang telanjang bahwa selama ini ia terlalu sibuk meratapi makna dari sesuatu yang telah lama pergi dan tak mungkin kembali, sampai-sampai ia lupa menengok apa yang sebenarnya masih setia tertinggal dan berdenyut di rongga dadanya.
Riana telah memilih jalur takdirnya sendiri, melangkah mantap di atas lembaran baru, dan membangun rumah tangga yang utuh bersama lelaki lain di luar sana. Masa lalu telah menunaikan tugasnya, merajut kisahnya masing-masing tanpa pernah meminta izin untuk disudahi. Dan Sanjaya akhirnya tahu, ia tidak memiliki secercah kuasa pun untuk memaksa aliran sungai kehidupan berbalik arah kembali ke hulu hanya karena ia belum sepenuhnya siap melihat bayangan airnya menghilang dari pandangan.
Barangkali Nabila memang tidak pernah datang ke dalam hari-harinya untuk mengisi kekosongan atau menggantikan siapa pun yang telah hilang. Perempuan itu hadir bagaikan jendela besar yang dibuka lebar-lebar di pagi hari setelah sebuah kamar terlalu lama dibiarkan tertutup rapat, pengap, dan gelap. Nabila tidak sedikit pun berupaya menyeret masa lalu yang terkubur untuk kembali ke permukaan, melainkan membiarkan udara segar yang sejuk dan cahaya baru masuk merayap perlahan, menghidupkan kembali sudut-sudut jiwa yang hampir mati.
Nabila kembali bersuara, memecah lamunan panjang yang sempat meredupkan binar di mata Sanjaya. “Segala sesuatu yang menantang akal tidak selalu harus ditolak mentah-mentah sebelum kita benar-benar meluangkan waktu untuk memahaminya.”
Sanjaya mengangkat wajahnya perlahan, menatap lurus ke dalam mata perempuan di hadapannya dengan tatapan yang jauh lebih jernih dari sebelumnya. “Termasuk gagasan tentang kebohongan dan mitos sejarah yang selama ini kita bicarakan?”
“Termasuk gagasan tentang kebohongan itu sendiri,” jawab Nabila mantap, menyalakan kembali api keingintahuan di dada Sanjaya.
Nabila tersenyum samar, sebuah senyuman yang menyiratkan kedalaman pengalaman batin seseorang yang telah lama merenungi liku-liku peradaban manusia. “Kadang kala, manusia terpaksa menciptakan berbagai cerita, mitos, dan fiksi sosial agar dunia yang terlampau rumit dan tak terduga ini dapat dicerna dengan baik oleh nalar mereka yang terbatas,” tuturnya dengan nada yang kian melunak.
“Tetapi, di balik segala narasi yang dibangun itu, kita tetap harus bersikap kritis dan mengajukan satu pertanyaan penting ke mana sebenarnya cerita-cerita tersebut menuntun langkah umat manusia?”
Sanjaya merespons dengan alis yang sedikit bertaut, mencoba menimbang arah dari pemikiran yang dibentangkan di hadapannya. “Apakah pada akhirnya ia hanya bermuara pada pembentukan keteraturan sosial semata?”
“Bisa jadi,” jawab Nabila singkat menunjukkan ketegasannya. “Sebab keteraturan adalah kebutuhan paling mendasar agar masyarakat tidak saling membinasakan.”
“Ataukah ia justru sekadar menumbuhkan ketakutan kolektif yang mengekang?” kejar Sanjaya, suaranya menyuarakan keraguan yang kerap menghantui sejarah panjang agama dan kekuasaan.
“Bisa juga terjadi,” sahut Nabila tanpa keraguan, mengakui sisi gelap dari setiap narasi kolosal yang pernah dicatat oleh peradaban. “Ketika sebuah cerita kehilangan esensinya, ketakutan memang sering dijadikan alat kendali yang paling ampuh untuk menundukkan massa.”
Sanjaya terdiam sejenak, membiarkan pertanyaannya merayap lebih dalam sebelum ia kembali bersuara. “Lalu, bagaimana jika ia menuntun pada kebebasan yang sejati?”
Nabila menatapnya lurus, matanya memancarkan binar keyakinan yang terang. “Hal itu baru akan terjadi jika manusia memiliki cukup kebijaksanaan untuk menggunakan cerita atau keyakinan tersebut sebagai cermin, guna menyadari eksistensi dan kemerdekaan dirinya sendiri di hadapan semesta.”
Sanjaya terdiam seribu bahasa, mencerna setiap lapis argumen agar tersusun rapi di dalam kepalanya, membiarkan logika baru itu meruntuhkan sisa-sisa kebekuan berpikir yang selama ini membelenggunya.
Melihat keheningan yang merayap di antara mereka, Nabila kembali melanjutkan penjelasannya. “Itulah sebabnya mengapa kita tidak pernah cukup hanya berada di posisi yang hitam-putih, antara sekadar percaya secara buta atau menolak mentah-mentah. Sebagai makhluk yang berpikir, kita dituntut untuk melangkah jauh lebih tinggi. Kita dituntut untuk memahami.”
Kata terakhir itu meluncur begitu pelan, lalu menggantung indah dan khidmat di udara malam perpustakaan yang kian sunyi, seolah merangkum seluruh esensi dari perjalanan panjang pencarian manusia.
Caranya memahami, bukan menghakimi sesama dengan standar mutlak yang kaku dan mematikan empati. Bukan pula menelan mentah-mentah segala doktrin dan warisan sejarah secara membabi buta, melainkan benar-benar menyelami akar, makna, dan akibat dari setiap hal yang kita pilih untuk diyakini dalam hidup.
Sanjaya memejamkan matanya sejenak untuk memberi ruang jeda atas pemahaman barunya. Membiarkan suara Nabila bergetar tenang di dalam kepalanya bagaikan aliran sungai yang membawa serpihan sejarah, filsafat, keyakinan, dan pengalaman eksistensial manusia menuju sebuah muara baru yang belum pernah ia jamah.
Sanjaya akhirnya tahu persis bahwa kedalaman cara pandang Nabila tidak terbentuk dalam waktu semalam. Sebagaimana perempuan itu sempat ceritakan sebelumnya, ia mewarisi tumpukan buku berharga dari orang tuanya, yang hampir semuanya telah dikhatamkan dengan tuntas. Warisan literatur itu kemudian memantik perdebatan batin yang intens, ditempa langsung melalui diskusi-diskusi mendalam bersama kedua orang tuanya di masa lalu. Segala proses penempaan dan pertukaran gagasan itu kini dirasakan begitu hidup, tidak hanya oleh Nabila sendiri, tetapi juga merambat ke dalam diri Sanjaya, menjelma menjadi kesunyian panjang yang dahulu pernah ia hadapi seorang diri, kemudian melahirkan sisa-sisa pertanyaan hidup yang terus ia bawa ke mana pun pergi, bagaikan sebuah batu kecil di dalam saku yang tak selalu kelihatan, namun senantiasa terasa berat bebannya.
Sanjaya kemudian mulai mengerti dengan kesadaran yang perlahan merayap di dalam dadanya bahwa manusia bukanlah sekadar makhluk pasif yang terhanyut tanpa daya di dalam arus besar sejarah. Lebih dari itu, manusia adalah arsitek sekaligus penganyam yang ikut merajut jalannya sejarah melalui narasi, mitos, dan cerita-cerita besar yang mereka yakini bersama dari masa ke masa.
Segala hal yang membentuk peradaban itu, mulai dari legenda masa lalu yang diwariskan secara turun-temurun, mitos-mitos purba yang merawat ketakutan dan harapan, ajaran agama yang memberi arah, sistem bernegara yang mengatur keteraturan, rasa cinta dan ikatan keluarga yang menghangatkan jiwa, kesetiaan yang teruji waktu, hingga harapan-harapan kecil yang rapuh di tengah badai, semua elemen itu mengalir menyerupai sungai raksasa dari satu generasi menuju generasi berikutnya.
Sebagian airnya jernih menyejukkan akal budi, sementara sebagian lainnya keruh penuh lumpur kepalsuan. Sebagian membawa kehidupan yang subur bagi peradaban, namun sebagian lagi meninggalkan jejak kehancuran yang kelam. Namun, apa pun bentuk dan rupanya, setiap aliran itu pasti meninggalkan endapan yang membekas di atas tanah tempat peradaban manusia bertumpu.
Sanjaya menatap lurus ke arah Nabila, membiarkan pertanyaannya meluncur begitu saja untuk memecah keheningan yang kian pekat di antara mereka. “Jadi, di tengah arus besar sejarah dan peradaban ini, sebenarnya kita ini apa?”
Nabila tersenyum kecil, membiarkan garis wajahnya melunak di bawah temaram lampu ruangan. “Pengamat.”
“Hanya sekadar pengamat yang berdiri di tepi sungai dan menonton?” kejar Sanjaya dengan sebelah alis terangkat.
“Sekaligus peserta aktif yang ikut berenang di dalamnya,” jawab Nabila mantap.
“Peserta dalam kapasitas apa?” tanya Sanjaya lagi, menuntut kejelasan yang lebih utuh.
“Dalam gelanggang kehidupan itu sendiri.”
Sanjaya tertawa kecil, suara tawanya memantul lembut di dinding-dinding perpustakaan. “Jawabanmu selalu terkesan begitu sederhana.”
“Karena hakikat hidup ini sebenarnya memang sederhana,” sahut Nabila tanpa keraguan.
“Rasanya hidup tidak pernah terasa sesederhana itu bagiku selama ini,” keluh Sanjaya.
“Itu karena manusia sendiri yang kerap senang mempersulitnya dengan segala ambisi dan keraguannya.”
Mereka kembali terhening dalam jeda yang panjang, membiarkan gema kata-kata itu larut dalam napas malam yang kian mendingin.
Di luar jendela perpustakaan, malam telah sepenuhnya menuruni kota. Lampu-lampu jalan menyala bergantian, berpendar menyerupai gugusan bintang yang jatuh terlalu rendah ke permukaan bumi. Suara deru kendaraan berlalu lalang sesekali sebelum akhirnya lenyap ditelan keheningan. Udara malam membawa serta aroma tanah basah yang mulai mendingin setelah seharian diterpa terik matahari tropis.
Sanjaya tiba-tiba menyadari satu hal bahwa ia sudah tidak lagi duduk berhadapan dengan seseorang sekadar untuk memperdebatkan teologi dan sosiologi kebudayaan. Ia sedang belajar memahami manusia secara utuh. Dan tanpa ia sadari sebelumnya, ia sedang belajar memahami rekahan di dalam jiwanya sendiri.
Ia mulai mengerti bahwa kepedihan atas kepergian Riana tidak perlu diubah menjadi akhir dari riwayat batinnya. Selalu ada tunas kehidupan yang sanggup menerobos celah sempit, sebagaimana rumput liar yang tetap tumbuh subur di antara himpitan batu karang yang keras. Bukan karena batunya melunak, melainkan karena insting kehidupan selalu memiliki cara tersendiri untuk merengkuh celah sekecil apa pun.
Nabila tidak datang untuk menjadi penawar mujarab yang menyembuhkan lukanya secara instan. Perempuan itu bahkan tidak merasa perlu melakukannya. Ia hanya memilih duduk di dekat luka itu tanpa menuntutnya untuk segera menutup sempurna.
Mungkin, inilah bentuk kedekatan yang paling paripurna dan manusiawi. Bukan tentang seseorang yang hadir untuk menghapus masa lalumu, melainkan seseorang yang membuat kita menyadari bahwa masa lalu tidak lagi menjadi satu-satunya tempat tujuan kita untuk pulang.
Sanjaya pun menunduk menatap meja yang dipenuhi tumpukan literatur dan catatan tangan. Perjalanan dialog bersama Nabila telah melompat begitu jauh. Bermula dari studi komparatif peradaban, merambah sejarah teologi, menukik ke dalam antropologi kebudayaan, membedah psikologi manusia, dan pada akhirnya berpulang kembali pada refleksi diri yang paling jujur.
Ia tiba pada kesadaran jernih bahwa memahami manusia berarti memahami karakter sungai tempat umat manusia itu sendiri mengalir. Sungai yang tampak tenang di permukaan, namun menyimpan pusaran arus yang tak terduga di kedalamannya. Sungai yang membawa air dari mata air masa lalu menuju misteri masa depan, menghantam bebatuan, melintasi dataran rendah, menembus hutan rimba, membelah kota-kota modern, hingga membasahi raga manusia yang hanya singgah sebentar untuk membasuh muka di tepiannya.
Sanjaya merasa nasibnya pun tak jauh berbeda dari aliran itu. Ia pernah menaruhkan segenap hatinya untuk mencintai Riana. Ia pernah pula menanggung perihnya kehilangan. Namun kini, ia sedang belajar mengayunkan kaki untuk melangkah kembali.
Di senja yang perlahan lebur ke dalam dekap malam, di antara lembaran buku yang terbuka dan bait-bait percakapan yang tak bertepi, ia menemukan Nabila bukan sebagai pelipur lara atas kekosongannya, melainkan sebagai sebuah horizon tanya baru yang membuat hari-hari esoknya terasa kembali layak untuk diperjuangkan.
Barangkali, semesta memang tidak pernah berniat menyediakan jawaban pasti atas segala teka-teki kehidupan. Semesta hanya menyediakan sungai yang mengalir. Dan manusia ditakdirkan untuk belajar menyeberanginya dengan sisa keberanian yang ada.
Belajar berenang mati-matian ketika arus mendadak terlalu deras menghantam. Belajar menepi dan berhenti sejenak ketika raga telah terlampau lelah. Belajar melepaskan genggaman ketika sesuatu memang sudah garis takdirnya untuk hanyut terbawa air. Lalu pada titik paling akhir, belajar berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua yang pergi harus dikejar dan dipaksa kembali ke pelukan.
Sebab, selalu ada kehilangan yang singgah untuk mengajarkan ketulusan tingkat tinggi, sekaligus ada perjumpaan baru yang hadir bukan untuk merusak kenangan lama, melainkan membuktikan bahwa selepas musim gugur yang tandus, alam selalu punya cara rahasia untuk menumbuhkan bunga-bunga kebaikan di musim yang lain.
Sanjaya memang belum tahu persis ke mana arah angin dan arus hubungan akan membawanya bersama Nabila. Ia pun enggan memaksakan diri untuk segera menebak akhirnya. Tapi untuk kali pertama dalam hidupnya, ia merasa tidak perlu mendesak masa depan agar segera menyodorkan kepastian.
Cukup dengan menjalaninya setapak demi setapak. Cukup dengan membuka telinga untuk mendengarkan. Cukup dengan menyuarakan kata-kata manakala kejujuran itu mendesak untuk diucapkan. Cukup dengan merangkul kesunyian tatkala diam menjelma sebagai bahasa yang jauh lebih jujur daripada deretan kalimat penjelasan.
Di seberang meja, Nabila masih tampak tekun meneliti bacaannya. Cahaya lampu meja memantul lembut, menyinari garis wajah perempuan itu dengan kehangatan yang menenangkan. Sanjaya mengamati pemandangan itu sedetik saja, sebelum akhirnya kembali menunduk membuka halaman kosong pada buku catatannya sendiri.
Di antara baris-baris putih yang terbentang bersih, ia merasakan dengan sangat nyata bahwa lembaran hidupnya sedang menulis babak yang baru. Bukan halaman yang kejam menghapus nama Riana dari ingatan. Bukan pula halaman yang berkhianat menyangkal masa lalu yang pernah singgah. Tetapi sebuah halaman tulus yang menerima takdir bahwa sungai di dalam dirinya harus terus bergerak mengalir ke masa depan.
Dan mungkin, tepat pada detik malam itu, di antara tumpukan buku dan sisa-sisa percakapan yang menggenang di dalam kepala, Sanjaya tidak lagi merasa takut ke mana pun arus kehidupan ini akan membawanya bermuara.
Sanjaya menutup bukunya perlahan, memastikan bunyi ketukan lembut kertas yang bergesekan itu tidak sampai merusak kesunyian yang terlanjur menyelimuti ruang baca tersebut.
Di luar jendela, malam semakin sempurna merengkuh kota, sementara sisa-sisa binar lampu jalanan memantul tipis pada permukaan kaca. Lalu membiarkan napasnya terhela panjang, merasakan aliran kelegaan yang merambat pelan di dalam dada. Sebuah ketenangan asing yang telah lama absen dari hari-hari yang ia lewati seorang diri.
Nabila, yang masih duduk tenang di seberang meja, menaikkan pandangannya dari lembaran bacaan. Tidak ada kata-kata yang mendesak untuk segera diucapkan. Di antara mereka kini terbentang sebuah ruang bernapas yang lapang, tempat segala tanya dan jawab melebur tanpa beban.
“Sudah larut,” ujar Nabila pelan, memecah jeda yang panjang.
Sanjaya tersenyum tipis. Untuk kali pertama dalam hidupnya, ia tidak merasa bahwa malam yang larut adalah sebuah ancaman atau pertanda kesepian.
“Iya,” balasnya singkat. Ia kemudian merapikan tumpukan buku di hadapannya, menyusunnya dengan rapi sebelum memasukkannya kembali ke dalam tas. Setiap gerakan terasa begitu sadar, seolah ia tengah memungut kepingan-kepingan jiwanya yang sempat tercecer di sepanjang perjalanan masa lalu.
Ketika mereka melangkah keluar menuju emperan luar, udara malam menyambut dengan kesejukan yang menyegarkan kulit. Sebuah kota di bawah langit malam tampak tenang, menyimpan riuh rendah kehidupannya sendiri di balik barisan ruko dan jalanan aspal yang basah oleh sisa embun.
Sanjaya melangkah berdampingan dengan Nabila. Langkah kaki mereka berdua berderap seirama di atas trotoar, menciptakan bunyi ritmis yang menyatu dengan desau angin malam. Ia menoleh sekilas ke arah perempuan di sampingnya. Nabila berjalan dengan kepala tegak, menatap lurus ke depan dengan ketenangan yang senantiasa memancar dari caranya bernapas dan memandang dunia.
Sanjaya tahu, jalan di hadapan mereka tidak akan pernah benar-benar lurus atau bebas dari kerikil tajam. Hidup akan selalu menawarkan teka-tekinya sendiri, menghadirkan kehilangan-kehilangan baru, serta menyuguhkan badai kecil di luar dugaan. Namun, bedanya hari ini, ia tidak lagi merasa perlu berjalan dengan rasa takut yang mencengkeram.
Ia tidak sedang mencari pelabuhan akhir untuk menghentikan perahunya. Ia hanya ingin belajar menjadi bagian dari sungai itu sendiri yang mengalir bersama arus, menenun makna dari setiap singgahan, dan merangkul apa pun yang tersisa di tepian dengan hati yang lapang.
“Besok perpustakaan buka jam berapa?” tanya Nabila memecah sunyi kecil di antara langkah mereka.
Sanjaya tersenyum lebar, merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke ujung jemarinya.
“Jam sembilan,” jawabnya mantap. “Dan saya akan datang lebih awal.” Nabila menoleh Sanjaya sekilas, membalas senyuman itu dengan binar mata yang menyiratkan persetujuan tanpa suara.
Di bawah langit malam yang bertabur bintang-bintang jauh, Sanjaya melangkah maju. Ia membiarkan masa lalu tetap menjadi sejarah yang terukir di hulu, sementara ia sendiri memilih untuk terus hidup, bernapas, dan berjalan mengikuti ke mana arus air membawanya hari itu. (Sal)