Sejak Riana menikah, Sanjaya seperti seseorang yang berjalan terlalu lama di sebuah kota yang pernah dikenalnya baik, tetapi tiba-tiba seluruh nama jalannya berubah. Tidak ada yang benar-benar hilang dari kota itu. Lampu-lampu masih menyala pada malam hari, warung kopi masih membuka pintunya menjelang pagi, orang-orang masih berlalu-lalang membawa urusan masing-masing, tetapi sesuatu di dalam dirinya seakan telah bergeser sebagai sesuatu yang tidak dapat dikembalikan hanya dengan mengingat-ingat masa lalu. Ia tetap bekerja, tetap membaca beberapa lembar tiap hari, tetap menulis beberapa halaman sesudahnya, tetapi semua kegiatan itu terasa seperti gerakan tubuh yang dilakukan seseorang yang jiwanya masih tertinggal di sebuah pintu yang telah lama tertutup.
Pada masa itulah Nabila datang bukan sebagai pengganti siapa pun, melainkan sebagai percakapan yang perlahan menemukan tempatnya sendiri di dalam kehidupan Sanjaya. Mereka tidak segera menjadi dekat. Hanya kedekatan mereka tumbuh dengan cara yang hampir tidak terlihat, seperti akar pohon yang bekerja diam-diam di bawah tanah sebelum suatu hari seseorang menyadari bahwa pohon itu telah tumbuh tinggi. Mereka mula-mula hanya bertukar gagasan tentang buku, sejarah, agama, kebudayaan, dan manusia. Tetapi di antara pembicaraan yang tampak intelektual itu, Sanjaya mulai menemukan sesuatu yang lebih jarang ia temukan setelah kepergian Riana, adalah seseorang yang tidak tergesa-gesa menutup pertanyaan dengan jawaban.
Nabila tidak banyak bertanya tentang Riana. Ia seperti memahami bahwa ada luka yang justru semakin panjang jika terus disentuh dengan rasa ingin tahu. Ia membiarkan saja Sanjaya menyimpan bagian-bagian tertentu dari hidupnya sendiri, sebagaimana seseorang membiarkan sebuah rumah tua tetap memiliki satu kamar yang pintunya tidak pernah dibuka. Namun semakin sering mereka berbicara, semakin Sanjaya menyadari bahwa Nabila tidak sedang berusaha mengetahui masa lalunya. Barangkali ia sedang mengenali bagaimana cara Sanjaya berpikir, cara lelaki itu memandang dunia, dan mungkin juga cara ia menyembunyikan kesepiannya di balik buku-buku.
Pada suatu senja, mereka pun duduk dalam sebuah pertemuan kecil yang membicarakan kebudayaan dan pemikiran. Cahaya matahari telah kehilangan teriknya, menumpahkan warna keemasan yang tipis melalui jendela, dan jatuh di atas meja yang dipenuhi buku, kertas, pena, dan cangkir kopi yang mulai kehilangan uap. Di luar, pepohonan bergerak perlahan diterpa angin menumbuhkan suasana sore itu seperti halaman buku yang sengaja dibiarkan terbuka agar seseorang dapat membaca lebih lama sebelum malam datang.
Di tengah keheningan ruang yang kian akrab, perbincangan mereka mengalir tanpa sekat, merayap lembut menembus batas-batas teori formal. Nabila membuka percakapan dengan senyum kecil yang terbit perlahan di sudut bibirnya, “Melakukan studi komparatif itu sebenarnya asyik ya.”
Kalimat itu meluncur sederhana di antara udara sore yang mulai mendingin. Namun bagi Sanjaya, suara Nabila memiliki sesuatu yang membuat kalimat sederhana terasa seperti batu kecil yang dilemparkan ke permukaan danau. Jatuhnya singkat, tetapi riaknya merambat jauh dan lama bergelung di dadanya.
Sanjaya memperhatikan lekat-lekat pancaran mata dan gerak bibir Nabila saat perempuan itu merangkai kalimat. Bagi Sanjaya, ada ketertarikan yang berbeda pada cara Nabila bertutur, di mana setiap jeda napasnya terasa begitu ritmis dan membius. Ia tidak sekadar tertarik pada fakta akademik yang sedang dibahas, melainkan pada kehidupan yang berdenyut tersembunyi di balik fakta itu. Setiap kata yang ia lontarkan bagaikan pintu kecil yang berderit terbuka, mengarah ke ruangan-ruangan asing di dalam benak Sanjaya. Semakin dekat Sanjaya mendengarkan, semakin ia merasa bahwa percakapan dengan perempuan itu bukan lagi sekadar pertukaran pengetahuan, melainkan sebuah perjalanan batin menuju tempat-tempat tersembunyi di dalam dirinya sendiri yang selama ini luput untuk dikunjungi.
Nabila perlahan mengambil salah satu buku bersampul tebal di atas meja kayu, membolak-balik beberapa halamannya hingga terdengar suara kertas bergesek lembut, lalu berkata dengan nada santai, “Kita sering membandingkan sesuatu untuk mencari mana yang paling benar.” Ia menghentikan gerakannya sejenak, membiarkan aroma kertas tua menguar di udara. “Padahal studi komparatif tidak selalu harus berakhir pada kemenangan salah satu pihak.”
“Lalu berakhir di mana?” tanya Sanjaya, suaranya bergesek pelan bersama rasa penasaran yang kian membuncah di rongga dada, memecah kesunyian yang sejak tadi bergelayut di antara tumpukan naskah.
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, seolah menjadi jembatan yang tak sabar ia seberangi untuk merengkuh labirin pikiran perempuan di hadapannya. Nabila mengangkat wajah, menatapnya tajam yang teduh, seolah menarik seluruh atensi Sanjaya ke dalam dunianya yang tenang dan berlapis makna. Tatapan itu menahan waktu sejenak, membuat detak detik di dinding ruangan terasa berdetak lebih lambat dari biasanya.
Dengan jeda yang diatur begitu rupa hingga menciptakan ketegangan estetis, Nabila melepaskan jawaban yang mengubah arah angin perbincangan mereka.
“Pada pemahaman.”
Semburan kata itu begitu singkat, menggema di kepala Sanjaya, dan memantul di dinding-dinding kesadarannya yang mulai terbuka. Sanjaya tersenyum tipis, merasakan kehangatan menjalar di balik udara dingin perpustakaan yang perlahan merayap melalui celah jendela kaca. Senyuman itu bukan sekadar bentuk persetujuan, melainkan sebuah pengakuan diam-diam atas kedalaman cara pandang yang baru saja disuguhkan kepadanya.
“Pemahaman?” Sanjaya mengulangi kata itu sekali lagi, seolah ingin mencicipi kembali bagaimana rasanya di ujung lidah sebelum benar-benar memahaminya.
“Ya,” jawab Nabila dengan senyum yang semakin mekar, sementara jemarinya merapikan lipatan jilbabnya dengan gerakan anggun yang menyempurnakan keanggunan penjelasannya. “Sebab ketika kita terlalu sibuk menentukan siapa yang benar, kita sering kehilangan kesempatan untuk memahami mengapa orang lain sampai pada keyakinannya.”
Kalimat itu membuat Sanjaya terdiam. Ada sesuatu yang menusuknya secara perlahan. Bukan karena kalimat itu baru didengarnya, tetapi karena ia datang pada waktu yang tepat. Setelah Riana menikah, Sanjaya memang lebih banyak hidup dalam pertanyaan tentang sesuatu yang tidak dapat dimilikinya daripada mencari alasan mengapa manusia memilih jalan hidup tertentu. Barangkali kehilangan juga mempunyai cara sendiri untuk mengajari seseorang melihat dunia dari sisi yang sebelumnya tidak pernah ia kenal.
Nabila kemudian menirukan kalimat yang pernah didengarnya dari sebuah video Sujiwo Tejo, melantunkannya dengan nada teatrikal yang sengaja dilebih-lebihkan untuk mencairkan ketegangan yang sempat mengatup di antara mereka.
“Pemimpin yang dinabikan membuat kita kehilangan nalar. Pemimpin bertangan besi membuat kita kehilangan nyali. Pemimpin di abad lalu, oleh rakyatnya, kalau tidak dinabikan, ya bertangan besi.”
Ia tertawa kecil setelah mengucapkannya, suara tawa yang ringan dan renyah, berderai memecah kesunyian sore yang kian merayap di sela-sela tumpukan buku.
Namun Sanjaya tidak ikut tertawa. Bayangan masa lalu dan rumitnya realitas sosial yang baru saja disentil oleh kutipan itu tiba-tiba menariknya ke dalam kontemplasi yang pekat. Tatapannya menerawang jauh menembus kaca jendela, mengabaikan kerling jenaka di mata perempuan itu.
Bagi Sanjaya, kata-kata itu jatuh ke dalam pikirannya seperti embun yang tampak lembut tetapi menyimpan dingin. Ia membayangkan bagaimana manusia di sepanjang sejarah selalu membutuhkan seseorang untuk dipercayai, dipatuhi, bahkan kadang dipuja. Manusia seperti makhluk yang takut berdiri sendirian di tengah hutan yang terlalu luas. Maka ia membuat tanda, menciptakan cerita, memilih pemimpin, membangun aturan, kemudian mempercayai semua itu agar dunia terasa lebih teratur daripada kenyataannya.
Nabila menyandarkan punggungnya perlahan pada sandaran kursi kayu, membiarkan helaan napasnya terdengar samar di antara deru angin sore yang menghebas dedaunan di luar jendela.
“Lucu, ya?” tanyanya, memecah jeda yang sempat menggantung di udara.
Sanjaya mengerjap, menarik kembali pikirannya dari keheningan yang panjang sebelum menoleh menatap perempuan itu.
“Apa?”
“Manusia bisa kehilangan nalar karena terlalu percaya kepada seseorang. Tetapi bisa juga kehilangan keberanian karena terlalu takut kepada seseorang.”
Sanjaya menatap wajahnya cukup lama, meresapi setiap getar makna dari kalimat yang terasa begitu dekat dengan denyut sejarah kehidupan manusia.
“Barangkali manusia memang selalu berada di antara dua ketakutan,” katanya dengan nada yang lebih rendah, suaranya bergesek pelan bersama kesadaran yang kian menukik tajam. “Takut berpikir sendiri dan takut hidup tanpa perlindungan.”
Nabila tersenyum, sebuah senyuman penuh pengertian yang merekah teduh di tengah temaram senja yang mulai menipis, memantulkan bias cahaya jingga di kelopak matanya. “Karena itu sejarah selalu menarik,” seraya memalingkan wajahnya ke luar jendela, mengikuti kepak sayap burung merpati yang pulang ke sarang.
Sanjaya kemudian memperhatikan cara perempuan itu memandang ke luar jendela, terbawa oleh keheningan yang tercipta di antara mereka. Tatapannya tidak kosong. Ada sesuatu yang seperti pencarian di sana, seolah horizon kelabu di kejauhan bukan sekadar pemandangan senja, melainkan halaman terakhir dari sebuah buku tebal yang belum selesai dibacanya.
“Kenapa,” tanya Sanjaya akhirnya, suaranya bergetar pelan menembus udara perpustakaan yang kian mendingin, “ketika kita membicarakan nabi dan rasul, pembicaraan itu terasa begitu sakral, sementara ketika membicarakan raja-raja, resi, atau para bijak Nusantara, kita sering menganggapnya sekadar sejarah?”
Nabila tidak segera menjawab, membiarkan pertanyaan itu menggantung di antara debu-debu cahaya yang menembus kaca. Ia membiarkan beberapa detik berlalu begitu saja, ditemani deru angin luar yang menggesek dahan-dahan mahoni. Baginya, jeda itu terasa penting, sebab dalam percakapan yang sungguh-sungguh, jawaban yang terlalu cepat kadang justru menunjukkan bahwa seseorang belum benar-benar memikirkan pertanyaannya hingga ke akar-akarnya.
“Karena kita membawa cara pandang kita sendiri ketika membaca sejarah,” katanya kemudian, menoleh perlahan untuk kembali menatap mata Sanjaya. “Kita tidak datang sebagai manusia kosong. Kita datang membawa agama, keluarga, pendidikan, tradisi, ketakutan, bahkan luka masa lalu.”
Sanjaya menunduk, meresapi setiap suku kata yang menusuk relung kesadarannya.
“Jadi?” desisnya pelan, meminta kejelasan dari labirin pemikiran yang baru saja dibentangkan di hadapannya.
“Jadi studi komparatif diperlukan,” jawab Nabila, intonasinya mengalir tenang dan penuh keyakinan. “Kita perlu belajar mensejajarkan kebudayaan manusia, di mana pun ia tumbuh dan merajut peradaban. Bukan untuk menghapus perbedaan yang ada, tetapi untuk memahami bahwa setiap kebudayaan mempunyai konteks dan denyut nadinya sendiri.”
Nabila berhenti sebentar, membiarkan jemarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu seirama dengan detak waktu yang kian merayap.
“Tanpa berat sebelah,” ucapnya lirih, menekankan setiap suku kata dengan ketegasan yang mencerminkan kejernihan berpikir. “Tanpa harus memihak. Tanpa membesarkan Arab hanya karena kita Muslim.”
Sanjaya mengangkat wajah, tertegun oleh kejujuran intelektual yang terpancar dari balik sorot mata perempuan di hadapannya, merasakan sebuah dinding bias kultural runtuh perlahan di dalam benaknya.
Nabila melanjutkan dengan tenang, suaranya mengalir lembut menembus kesunyian sore yang kian pekat.
“Arab, sebagai tempat lahir dan berkembangnya banyak tradisi besar, tentu memiliki keunggulan dan kelemahan yang melekat pada sejarah peradabannya. Keduanya sama-sama manusiawi. Sama-sama nyata, terbentang di atas lembaran zaman yang layak kita pelajari tanpa harus kehilangan akal sehat.”
Kata-kata itu terdengar sederhana, tetapi bagi Sanjaya ia seperti pintu yang dibuka ke ruangan yang selama ini terkunci. Ia mulai memahami bahwa Nabila tidak sedang menyerang keyakinan. Perempuan itu sedang mencoba mengajak dirinya melihat keyakinan dari jarak tertentu, sebagaimana seseorang mundur beberapa langkah dari sebuah lukisan agar dapat melihat keseluruhan gambar.
“Agama dan budaya,” kata Sanjaya perlahan, suaranya lirih di antara remang cahaya sore yang kian menipis di sudut ruangan, “berarti tidak sesederhana yang sering kita bayangkan selama ini.”
“Tidak pernah sederhana,” sahut Nabila tandas, tanpa keraguan sedikit pun di balik nada bicaranya.
“Dalam pengertian umum, keduanya sering dipisahkan begitu saja, seolah berjalan di atas rel yang sama sekali berbeda.”
“Padahal,” kata Nabila, mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, “keduanya bisa saling bertaut erat, berkelindan membentuk napas peradaban itu sendiri,” seraya menatap Sanjaya lekat-lekat, membiarkan keheningan sesaat merajut kedalaman makna di antara mereka.
“Bagi saya, agama dapat dilihat sebagai salah satu puncak kebudayaan manusia dalam membangun tata peradaban yang bermartabat. Ia membawa nilai, moral, simbol, imajinasi, aturan, dan cara manusia memahami dirinya sendiri di tengah semesta yang luas.”
Nabila berhenti sejenak, membiarkan napasnya terhela perlahan, lalu tersenyum kecil yang menghiasi sudut bibirnya.
“Agama seperti sungai,” ucapnya.
“Sungai?” tanya Sanjaya, alisnya terangkat sebelah, tertarik oleh metafora yang baru saja dilontarkan.
“Iya,” jawab Nabila dengan mata yang berpendar hangat. “Ia mengalirkan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa henti. Kadang memberi kehidupan yang menyuburkan tanah-tanah pikiran. Kadang meluap menjadi banjir yang menghanyutkan. Tetapi apa pun yang terjadi, sungai tetap menjadi bagian dari lanskap tempat manusia hidup dan pulang.”
Sanjaya diam, terpesona oleh cara pandang yang terbentang luas di hadapannya. Ia menyukai cara Nabila menjelaskan sesuatu yang rumit. Perempuan itu tidak mengubah gagasan menjadi istilah-istilah akademis yang sulit dicerna. Ia justru membuatnya sederhana, membumi, lalu membiarkan kesederhanaan itu bekerja sendiri di dalam kepala, meresap pelan-pelan ke dalam kesadaran.
“Jadi,” kata Sanjaya setelah jeda yang cukup panjang, “kita tidak boleh terburu-buru menghakimi sebuah kebudayaan hanya dari bentuk akhirnya saja?”
“Persis,” ucap Nabila mantap, mengapresiasi ketajaman tangkapan lawan bicaranya.
“Termasuk agama?” kejar Sanjaya, suaranya sedikit bergetar menyadari luasnya implikasi dari premis tersebut.
Nabila mengangguk pelan, kepalanya bergerak anggun di bawah lipatan jilbabnya.
“Termasuk agama.”
Senja semakin tua. Cahaya di jendela mulai kehilangan warna, menyisakan bias kelabu yang merambat pelan di lantai kayu. Ruang diskusi menjadi lebih teduh, dan suara orang-orang di luar terdengar semakin jauh, seperti dunia yang perlahan menarik diri agar percakapan mereka memperoleh ruang yang lebih luas dan khidmat.
Nabila kemudian berkata lagi, suaranya meluncur lembut memecah temaram yang kian pekat, “Ada orang yang mengatakan agama yang benar adalah agama yang dibawa para nabi dan rasul setelah menerima wahyu Tuhan.”
Sanjaya menunggu dalam diam, membiarkan keheningan malam yang mulai turun merangkul setiap kata yang akan hadir berikutnya.
“Dalam sejarah kebudayaan manusia,” lanjut Nabila, jemarinya bergerak pelan menyentuh tepi cangkir kopi yang telah dingin, “kita juga menemukan banyak klaim mengenai sumber legitimasi yang berasal dari sesuatu yang dianggap lebih tinggi daripada manusia biasa. Kaisar Jepang, misalnya, pernah ditempatkan dalam tradisi yang menghubungkannya dengan keturunan Amaterasu, Dewa Matahari. Hammurabi juga menampilkan hukum dalam hubungan dengan legitimasi ilahi.”
Namun Nabila tidak mengatakannya sebagai vonis yang kaku. Suaranya semakin hati-hati untuk menunjukkan rasa hormat pada kompleksitas sejarah yang dibentangkannya.
“Yang menarik bukan hanya benar atau salahnya klaim itu,” pungkasnya dengan tatapan yang menembus batas ruang. “Yang menarik adalah bagaimana manusia menggunakan cerita, simbol, dan keyakinan untuk membangun keteraturan di tengah dunia yang begitu rapuh.”
Sanjaya memandangnya lama, meresapi setiap butir makna yang perlahan mengendap di dasar kesadarannya. Sementara bayangan tubuh mereka berdua memanjang di dinding ruang yang kian temaram.
“Jadi yang sedang kita bicarakan bukan semata-mata agama?” tanyanya dengan nada yang menyiratkan kelegaan sekaligus keheranan.
“Bukan,” jawab Nabila tandas dan seolah tanpa keraguan, sementara sorot matanya tetap berpendar tenang di balik bayang-bayang temaram yang mulai menguasai ruangan.
“Lalu apa?” kejar Sanjaya, suaranya cepat tapi lembut di antara udara malam yang mulai merayap masuk melalui celah ventilasi, membawa serta aroma embun dan tanah basah dari luar jendela. Pertanyaan itu meluncur sebagai bentuk ketidaksabaran yang tertahan, sebuah dorongan kuat untuk segera merengkuh inti dari seluruh labirin pemikiran yang sejak tadi mereka susun bersama.
Nabila tidak langsung menyambut desakan itu. Ia mengambil jeda sejenak untuk membiarkan keheningan malam menyelimuti meja diskusi mereka, seolah sedang menimbang beban makna dari satu kata yang hendak ia lepaskan.
“Manusia,” balas Nabila.
Jawaban itu jatuh begitu pelan di antara mereka, selembut bulu yang lepas dari sayap burung malam yang terbang melintasi pekatnya langit senja, sehingga hampir terdengar seperti bisikan yang terbawa angin.
Tetapi justru karena pelan, gema dari kata itu terasa jauh lebih dalam, menembus dinding-dinding pertahanan rasionalitas Sanjaya dan meninggalkan jejak keheningan yang panjang di dadanya, menyadarkannya bahwa segala teori, sejarah, dan peradaban yang mereka perbincangkan selama ini sesungguhnya tidak pernah benar-benar lepas dari denyut napas dan kerapuhan umat manusia itu sendiri.
Sanjaya tidak segera menanggapi. Ada masa ketika ia mengira manusia hanya perlu menemukan kebenaran mutlak untuk dapat hidup dengan tenang, berjalan di atas jalur lurus tanpa keraguan. Setelah Riana pergi membawa separuh dunianya, ia mulai mengetahui bahwa hidup tidak selalu sesederhana rumus matematika. Ada hal-hal yang benar secara prinsip tetapi teramat menyakitkan untuk dijalani. Ada hal-hal yang tidak dapat dimiliki seumur hidup tetapi tetap dicintai dalam diam. Ada perpisahan yang terjadi tanpa ada pihak yang salah, tetapi tetap meninggalkan sisa-sisa luka di rongga dada. Dan ada kenyataan pahit yang harus diterima meskipun hati membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk sekadar mengakuinya.
Nabila seolah menangkap sesuatu yang retak dari diamnya Sanjaya yang panjang, dapat membaca perubahan tarikan napasnya yang mendadak berat.
“Kamu sedang memikirkan Riana?” tanya perempuan itu lirih, memecah kesunyian yang kian larut.
Sanjaya terdiam, merasakan debar jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Pertanyaan itu di bagi Sanjaya tidak terdengar seperti sebuah tuduhan yang menghakimi. Tidak pula seperti rasa ingin tahu yang didorong oleh hasrat bergosip. Ia terdengar seperti seseorang yang dengan sabar mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat, lalu bersedia duduk menunggu di luar tanpa mendesak jika pemiliknya memang belum siap membukakan pintu.
“Sedikit,” jawab Sanjaya akhirnya, suaranya tercekat di tenggorokan.
“Masih sakit?”
Sanjaya tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang dipaksakan untuk menyembunyikan genangan memori yang tiba-tiba mendesak naik ke pelupuk mata.
“Tidak seperti dulu,” pengakuan Sanjaya jujur, sambil menatap permukaan cangkir kopinya yang telah benar-benar dingin.
“Berarti sudah sembuh?” tanya Nabila.
“Entahlah,” desis Sanjaya pelan, menyadari bahwa batas antara sembuh dan terbiasa seringkali terlalu tipis untuk diukur.
Nabila menatapnya lekat-lekat, membiarkan bias temaram lampu ruangan memantul di kedalaman manik matanya.
“Mungkin tidak semua luka diciptakan untuk sembuh total,” ucapnya dengan nada menenangkan. Sanjaya menanggapinya dengan mengerutkan kening. Sebuah kebingungan yang terpancar jelas di garis wajahnya.
“Lalu?”
“Mungkin sebagian luka hanya perlu diterima untuk menjadi bagian dari tubuh kita. Seperti bekas jahitan yang menyatu dengan kulit, menjadi tanda bahwa kita pernah berjuang dan bertahan hidup.”
Kalimat itu membuat Sanjaya terdiam lebih lama, membiarkan gema maknanya meresap jauh ke dalam relung batin yang paling sunyi.
Untuk pertama kalinya, ia merasa Nabila tidak sedang menghiburnya dengan kata-kata manis yang klise. Barangkali, perempuan itu sedang memberinya sebuah cara pandang baru yang lebih luas untuk merangkul kehilangan dan tentang hidup, dengan segala patahannya, tidak harus selalu dibereskan dengan sempurna agar bisa diteruskan.
Nabila kembali menarik perhatian Sanjaya, membawa alur percakapannya kembali ke awal pembicaraan tentang lanskap peradaban yang terbentang di luar kepala mereka.
Ia membiarkan pandangannya lepas sejenak, merapikan kembali benang merah dari gagasan yang baru saja mereka ulas sebelum menukik lebih dalam ke jantung persoalan sejarah. Nabila memulainya lagi dengan membicarakan tentang nabi dan rasul.
“Istilah nabi dan rasul sendiri lahir dari lingkungan kebudayaan yang panjang dan berliku. Muncul di tepian sungai Eufrat dan Tigris, atau di kawasan Sinai dan Golan, serta wilayah-wilayah sekitarnya yang menyimpan jejak pasir purba,” ujar Nabila dengan suaranya kembali mengalir jernih.
Ia menarik napas sebentar, membiarkan makna dari geografi purba itu meresap ke dalam keheningan malam sebelum melangkah pada esensi yang lebih dalam.
“Kalau kita membaca istilah basyiran wa nadziran dalam lembaran sejarah, kita menemukan fungsi yang sangat manusiawi tentang orang yang membawa kabar gembira sekaligus peringatan bagi kaumnya yang kehausan akan makna.”
Sanjaya mengangguk perlahan, meresapi setiap keping informasi yang merayap masuk ke dalam kesadarannya, sementara pikirannya mulai merayap melintasi lautan kepulauan yang luas.
“Dan Nusantara mempunyai bentuknya sendiri?” tanyanya memastikan, suaranya terdengar penasaran di antara temaram ruang yang kian sunyi.
“Ya,” jawab Nabila seraya mengangguk kecil dengan sorot mata yang menyala tanda penuh keyakinan.
“Resi?” kejar Sanjaya, menyebut sebuah sebutan yang sarat akan aroma dupa, kabut gunung, dan pertapaan purba.
“Resi, maharesi, begawan, dan berbagai tokoh kebijaksanaan dalam tradisi lokal yang merajut kesadaran di tanah-tanah subur ini,” tutur Nabila, merangkai tiap gelar dengan penuh penghormatan terhadap masa lalu yang agung.
Nabila menatap jendela, seolah retinanya tengah memindai masa lalu yang tersembunyi di balik gelap malam, menembus batas ruang dan waktu untuk kembali melihat jejak kaki para pertapa yang pernah menghidupkan bumi pertiwi.
“Bayangkan mereka berjalan tanpa alas kaki dari lereng-lereng gunung purba, menyusuri sungai-sungai berarus deras, melewati lebatnya hutan hujan, lembah berkabut, hingga permukiman terpencil. Dari Tambora, Krakatau, Toba, Sunda, Bukit Siguntang, sampai aliran air yang menghidupkan Citarum, Musi, Bengawan Solo, Brantas, Kapuas, hingga kompleks Muara Jambi. Mereka tidak datang kepada manusia dengan bahasa teologis yang serba kaku seperti yang kita kenal sekarang. Tetapi mereka membawa sesuatu yang substansial dan mirip, sebagai kearifan luhur tentang bagaimana manusia seharusnya hidup berdampingan dengan semesta.”
Sanjaya mematung, membayangkan perjalanan panjang dan sunyi para bijak bestari itu di ruang batinnya. Ia melihat dalam pikirannya manusia-manusia tua berambut perak berjalan tegar dengan tongkat kayu, melewati kabut pagi gunung yang pekat, menyusuri tepian sungai yang berbatu, membawa segenggam pengetahuan suci yang sebagian besar tidak pernah ditulis di atas daun lontar dan sejenisnya. Sebagian hilang ditelan zaman bersama kematian mereka yang tanpa nisan. Sebagian berubah bentuk menjadi legenda yang dituturkan dari mulut ke mulut. Dan sebagian lagi bertahan dengan gigih sebagai adat istiadat, mantra pengasih, cerita rakyat, upacara sakral, dan etika bagaimana masyarakat memperlakukan alam dengan rasa hormat.
“Mereka mengajarkan kepemimpinan yang berakar dari nurani,” kata Nabila, nada suaranya bergetar tipis membawa kedalaman rasa. “Kearifan hidup, ikatan sakral hubungan manusia dengan alam, dan cara paling jujur bagi manusia dalam memahami kerapuhan dirinya sendiri.”
“Lalu siapa yang sebenarnya menentukan,” tanya Sanjaya, suaranya jatuh pelan memecah keheningan, “bahwa sebuah ajaran itu mutlak datang dari langit atau murni lahir dari pergulatan pengalaman manusia itu sendiri?”
Nabila terdiam sejenak, membiarkan angin malam menyapa helaian jilbabnya yang terulur lembut, membawa kesejukan yang menyelinap lewat celah-celah jendela perpustakaan yang terbuka.
“Itulah pertanyaan paling purba yang tidak pernah mudah dijawab,” desisnya pelan, suaranya nyaris seperti desau angin di luar sana, seolah ia tengah menimbang kedalaman samudera rahasia sejarah yang telah dikubur ribuan tahun oleh waktu.
Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh rahasia yang terukir di bibirnya, menyiratkan bahwa di balik segala ritual, kitab suci, dan monumen megah peradaban, tersimpan motif-motif insani yang sangat mendasar. “Manusia, dengan segala keterbatasannya di hadapan semesta yang luas, selalu ingin sesuatu yang dianggap penting memiliki legitimasi yang jauh lebih tinggi daripada dirinya sendiri agar memiliki daya magis yang kuat di mata sesamanya.”
Sanjaya menghela napas panjang, rongga dadanya terasa sesak oleh kesadaran sosiologis yang telanjang, sebagai kenyataan pahit bahwa apa yang kerap dianggap sakral berdiri di atas fondasi kebutuhan psikologis manusia untuk menaklukkan rasa takutnya sendiri.
“Supaya lebih mudah ditaati oleh massa?” tanya Sanjaya, mencoba meraba arah pemikiran yang dibentangkan perempuan di hadapannya.
“Bisa jadi, karena ketakutan adalah pengatur massa yang paling efektif di sepanjang sejarah peradaban,” jawab Nabila tegas tanpa keraguan.
“Supaya lebih kokoh dan tak tergoyahkan oleh perubahan zaman?” kejar Sanjaya lagi. Suaranya sedikit meninggi seiring gelombang pemahaman yang mulai menghantam kesadarannya.
“Bisa juga,” sahut Nabila, matanya menyiratkan persetujuan yang dalam.
Nabila menatapnya lekat-lekat, menyatukan seluruh pandangan mereka dalam satu titik temu yang hening, seakan mengundang Sanjaya untuk melihat lebih jauh ke dalam cermin masa lalu umat manusia.
“Demi keteraturan sosial yang rapuh. Demi kepatuhan mutlak. Demi kemenangan atas ketakutan. Demi kelangsungan hidup bersama di tengah alam yang seringkali kejam. Manusia merajut satu cerita besar tentang kebenaran, lalu mempercayainya bersama-sama sebagai sebuah takdir. Dan cerita besar itu bisa dinamai apa saja. Penamaannya bisa Tuhan, hukum, negara, kerajaan, adat, atau sesuatu yang lain yang tak bernama.”
Nabila menunda penjelasan, menarik napas dalam-dalam seolah mengumpulkan serpihan makna dari masa lalu yang terbentang luas, sementara bayangan lampu minyak di sudut ruangan bergetar diterpa angin kecil.
“Ketika banyak orang percaya pada cerita yang sama, cerita itu tidak lagi sekadar cerita fiktif di atas kertas,” ucapnya dengan nada yang bergetar pelan, membawa bobot filosofis yang pekat. “Ia bertransformasi menjadi kenyataan sosial yang nyata, menggerakkan jutaan manusia, membangun peradaban sekaligus meruntuhkan sebuah imperium.”
Sanjaya menelan ludah, tenggorokannya terasa kering di tengah udara malam yang kian mendingin. Ia mulai memahami arah percakapan itu, merasakan dinding-dinding keyakinan lamanya berderit perlahan di dalam kepala, menghadapi sebuah perspektif yang belum pernah ia jamah sebelumnya.
“Kalau begitu,” kata Sanjaya pelan, suaranya nyaris tak terdengar di antara desau angin di luar jendela, “apakah semua klaim tentang wahyu dan kenabian itu pada akhirnya hanya sekadar kebohongan?”
Nabila menatapnya lama, manik matanya memantulkan bias cahaya yang redup namun tajam. Tidak ada kilat kemarahan di wajahnya yang tenang. Tidak pula binar kemenangan seperti seseorang yang baru saja berhasil memenangkan perdebatan sengit di ruang akademik. Yang ada hanya kesunyian seorang manusia yang tahu bahwa beberapa pertanyaan paling mendasar di muka bumi tidak pernah boleh dijawab dengan tergesa-gesa.
“Jangan terlalu cepat menggunakan kata kebohongan untuk menilai rentang sejarah yang panjang itu,” ucap Nabila seraya menggelengkan kepala dengan perlahan.
“Kenapa?” kejar Sanjaya, rasa penasarannya berdesak-desakan di dadanya.
“Karena melabeli sesuatu sebagai kebohongan mengandaikan bahwa seseorang benar-benar mengetahui kebenaran mutlak, tetapi dengan sengaja memilih mengatakan sesuatu yang tidak benar.”
Sanjaya diam, terpekur di hadapan logika yang menghantam benteng pertimbangannya dengan begitu telak.
Nabila melanjutkan, suaranya kembali mengalir bagai air jernih yang membasahi tanah kering di tengah malam yang semakin larut.
“Dalam sejarah manusia, kita sering menemukan sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar kebohongan atau kejujuran hitam-putih,” ucapnya sambil merapatkan lipatan jilbab di bahunya. “Ada mitos yang merawat jiwa, simbol yang merangkum ketakutan, keyakinan yang mengakar, tafsir yang berlapis-lapis, pengalaman spiritual yang personal, atau desakan kebutuhan sosial yang mendesak. Kadang orang mempercayai sesuatu bukan karena ia bodoh, tetapi memang itulah satu-satunya cara dunia dipahami pada zamannya.”
Sanjaya menatap permukaan meja kayu yang dipenuhi coretan catatan kecil, membiarkan keheningan merayap di antara mereka.
“Dan kadang, sebuah cerita besar sangat dibutuhkan agar manusia yang tercerai-berai mampu hidup bersama dalam satu atap peradaban.”
Sanjaya menatapnya lekat-lekat, menangkap setiap garis keteduhan di wajah perempuan itu. “Jadi itu gunanya kebohongan dalam sejarah?” tanyanya menyitir kesimpulan dengan nada menyelidik.
Nabila tersenyum samar, senyum yang menyimpan ribuan kilometer perjalanan pikiran manusia, dalam menanggapi Sanjaya yang berkata, “Kalau ia murni sebuah kebohongan yang jahat, kita tentu harus berhati-hati menyebutnya berguna bagi peradaban.”
Sanjaya mengangkat cangkir kopi yang sudah dingin sejenak, merasakan permukaannya yang membeku, lalu meletakkannya kembali secara perlahan ke atas piring kecil tanpa mengeluarkan suara.
“Simbol-simbol transenden atau cerita bersama terbukti bisa membuat manusia mampu membangun keteraturan di tengah rimba dunia yang buas,” ucap Nabila. Membuat Sanjaya terdiam dan membiarkan gagasan itu berbenturan dengan sisa-sisa dogma yang selama ini dijaganya.
“Dalam rumah tangga manusia yang paling kecil sekalipun,” lanjut Nabila, suaranya turun satu oktaf menjadi lebih intim, “manusia kadang tidak mengatakan seluruh kebenaran secara telanjang. Bukan selalu karena mereka ingin menipu atau berkhianat. Seringkali itu dilakukan karena tahu bahwa kebenaran yang dilempar tanpa kelembutan dan kebijaksanaan justru bisa menghancurkan sesuatu yang sedang berusaha mati-matian untuk dipertahankan.”
“Berarti berbohong demi kebaikan itu boleh?” kejar Sanjaya, suaranya tajam menuntut kejelasan di tengah keheningan malam yang kian pekat.
“Tidak sesederhana itu cara kerjanya,” sanggah Nabila cepat, tanpa memberi ruang bagi kesimpulan yang terburu-buru. Nabila menatap Sanjaya dengan mata yang jauh lebih serius, memancarkan ketajaman yang meruntuhkan segala bentuk simplifikasi hitam-putih yang sering menjebak cara manusia berpikir.
“Yang harus dipikirkan dan ditimbang bukan niatnya semata, melainkan akibat jangka panjangnya bagi peradaban,” ujar Nabila, sambil jemarinya merapikan ujung jilbabnya dengan gerakan tenang. “Apakah sebuah cerita atau keyakinan itu membuat manusia menjadi lebih baik, welas asih, dan memanusiakan sesama, atau justru membuatnya dipenuhi rasa takut dan curiga? Apakah ia menjaga kelangsungan kehidupan, atau justru melegitimasi kekerasan atas nama kebenaran mutlak? Apakah ia memberi manusia keberanian untuk berpikir merdeka dan hidup dengan akal sehat, atau sekadar membuat mereka tunduk patuh tanpa pernah mau bernalar?”
Sanjaya merasakan sesuatu bergetar hebat di dalam dirinya, seolah fondasi cara pandangnya terhadap kebenaran, sejarah, dan masa lalunya sendiri baru saja diguncang oleh gempa kecil yang sunyi, menyisakan keheningan panjang yang menuntutnya untuk menata kembali kepingan-kepingan pemahamannya tentang dunia. (Bersambung)