PT PLN Batam mengklaim memiliki cadangan daya listrik sebesar 20 persen untuk mendukung ekspansi industri pusat data (data center) di Batam, Kepulauan Riau, di tengah sorotan terhadap keandalan sistem kelistrikan setelah pemadaman meluas atau blackout pada 12 Oktober 2026. Direktur Utama PLN Batam, Kwin Fo, menyampaikan jaminan tersebut dalam konferensi pers di Kantor PLN Batam, Minggu (18/10), sekaligus membantah kabar bahwa pengujian operasional pusat data menjadi penyebab pemadaman. Besarnya investasi yang akan masuk membuat kesiapan infrastruktur listrik menjadi persoalan yang perlu dibuktikan, bukan sekadar dijanjikan.
Kwin Fo menegaskan, gangguan listrik yang melanda Batam dan Bintan tidak berkaitan dengan pengujian maupun proses commissioning fasilitas pusat data. Menurut dia, proyek-proyek yang tengah dikembangkan di Batam belum beroperasi secara penuh sehingga belum menyerap daya sesuai kapasitas yang direncanakan.
“Pemadaman meluas yang terjadi Senin (12/10) di Pulau Batam dan Bintan sama sekali tidak ada sangkut paut dengan data center. Informasi bahwa ada pengetesan atau commissioning untuk operasional data center, dan membutuhkan daya sangat besar, itu sama sekali tidak benar,” kata Kwin Fo.
Ia menyatakan, kondisi pasokan listrik Batam saat ini masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, termasuk sektor industri yang terus berkembang. PLN Batam juga menargetkan peningkatan kapasitas pasokan dari sekitar 930 megawatt (MW) menjadi lebih dari 1.200 MW, bahkan diperkirakan mencapai 1.300 MW pada tahun depan.
“Kita tidak ada defisit ataupun kekurangan pasokan listrik. Tadi sudah saya sampaikan, cadangan daya kita sampai saat ini masih 20 persen,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena industri pusat data membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Berbeda dengan sebagian pelanggan rumah tangga yang masih dapat menunda penggunaan peralatan listrik, fasilitas pusat data harus menjaga server, penyimpanan informasi, dan layanan digital tetap beroperasi. Gangguan pasokan berpotensi memengaruhi layanan komputasi awan, transaksi digital, hingga sistem teknologi yang digunakan berbagai perusahaan.
Meski demikian, kecukupan daya secara agregat tidak otomatis menjamin keandalan listrik pada setiap titik jaringan. Kemampuan sistem menghadapi lonjakan beban, kondisi gardu induk, jaringan transmisi dan distribusi, serta kecepatan pemulihan ketika terjadi gangguan merupakan faktor yang sama pentingnya.
Sorotan terhadap kesiapan PLN Batam menguat setelah gangguan kelistrikan pada Senin (12/10) menyebabkan pemadaman meluas di Batam dan wilayah sekitarnya. Pada tahap awal, PLN Batam menduga gangguan dipicu masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan. Penyebab dan rangkaian gangguan kemudian menjadi bagian dari pemeriksaan lebih lanjut.
Dalam penjelasan yang disampaikan pada Minggu (18/10), Kwin Fo mengungkapkan sejumlah temuan di lokasi, antara lain keberadaan hewan liar di sekitar trafo, kawat pengusir hewan yang tidak diaktifkan ketika gangguan terjadi, dan kamera pengawas atau CCTV yang bergeser dari posisi semula, sehingga tidak lagi mengarah ke trafo yang mengalami gangguan. PLN juga menyebut perangkat proteksi telah menjalani pengujian sebelum kejadian.
Temuan tersebut membuka persoalan yang lebih luas daripada sekadar ketersediaan kapasitas pembangkit. Jika sistem pengamanan fasilitas kelistrikan tidak bekerja optimal atau pengawasan peralatan tidak memadai, tambahan kapasitas pembangkit saja belum cukup untuk menjamin pasokan yang andal.
Karena itu, publik membutuhkan penjelasan yang utuh mengenai penyebab gangguan, hasil evaluasi teknis, dan langkah perbaikan yang dilakukan. Penjelasan mengenai tidak adanya hubungan antara blackout dan pengujian pusat data memang penting untuk meluruskan informasi yang keliru. Namun, hal itu tidak menghapus kebutuhan untuk mengevaluasi ketahanan jaringan listrik Batam secara menyeluruh.
Persoalan ini juga berkaitan dengan kepercayaan masyarakat. Listrik bukan hanya penunjang investasi berskala besar, melainkan kebutuhan dasar rumah tangga, fasilitas kesehatan, pendidikan, transportasi, dan pelaku usaha kecil. Keandalan sistem harus dirasakan oleh seluruh pelanggan, bukan semata-mata diukur dari kemampuan melayani industri dengan konsumsi daya tinggi.
Di luar persoalan blackout, ekspansi pusat data di Batam berlangsung dalam skala yang semakin besar. Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat 16 proyek pusat data dalam pipeline investasi hingga akhir September 2026. Dari jumlah tersebut, dua fasilitas telah beroperasi, lima masih dalam tahap konstruksi, tiga berada dalam persiapan konstruksi, sedangkan enam lainnya masih dalam proses negosiasi.
Dua fasilitas yang telah beroperasi adalah DayOne di Nongsa Digital Park dan Golden Digital Gateway. Kemudian BP Batam menargetkan dua fasilitas tambahan, yakni DayOne dan NeutraDC Nxera di kawasan Kabil mulai beroperasi pada 2026. Salah satu proyek yang memperlihatkan besarnya kebutuhan listrik industri ini adalah pengembangan pusat data DayOne di Kabil. Pada 17 April 2026, PLN Batam dan PT Digitalland Service One, perusahaan yang mengembangkan proyek DayOne, menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik dengan kapasitas 511 megavolt ampere (MVA), setara sekitar 450 MW menurut keterangan BP Batam.
Pasokan tersebut direncanakan diberikan secara bertahap pada 2026–2027. Besaran kapasitas yang disepakati menunjukkan bahwa ekspansi pusat data bukan lagi sekadar penambahan pelanggan industri biasa, melainkan perubahan skala kebutuhan energi yang harus diantisipasi melalui perencanaan jangka panjang.
Sebagai perbandingan, kebutuhan daya yang disepakati untuk proyek DayOne tersebut setara dengan hampir separuh angka kapasitas pasokan 930 MW yang disebutkan Kwin Fo. Meski demikian, kedua angka itu tidak bisa langsung dibandingkan sebagai beban aktual karena kapasitas dalam perjanjian merupakan kebutuhan yang direncanakan, sedangkan tingkat konsumsi bergantung pada tahapan pembangunan dan operasional fasilitas. Sementara NeutraDC Nxera di Kabil juga tengah dikembangkan dengan fasilitas tahap awal direncanakan memiliki kapasitas 18 MW, dan pengembangan kampus pusat data yang lebih besar pada tahap berikutnya.
Pada Juni 2026, PLN Batam dan BP Batam juga menyambut rencana pengembangan fasilitas komputasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berkapasitas 360 MW melalui kerja sama Firmus Technologies dan DayOne. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2027.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa proyeksi kebutuhan listrik tidak cukup dihitung berdasarkan beban yang digunakan saat ini. PLN Batam dapat memperhitungkan jadwal penyelesaian proyek, tingkat pemanfaatan kapasitas, pertumbuhan permintaan pelanggan lain, dan cadangan yang harus tetap tersedia apabila pembangkit atau jaringan mengalami gangguan.
Selain kapasitas pasokan, sumber energi yang digunakan untuk melayani industri pusat data juga menjadi perhatian. Kwin Fo menyatakan PLN Batam akan mengutamakan energi hijau, terutama melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Namun, perusahaan belum merinci besaran kontribusi energi terbarukan maupun skema penyediaannya untuk memenuhi kebutuhan pusat data.
Komitmen tersebut relevan karena pusat data memerlukan listrik dalam jumlah besar untuk menjalankan server dan sistem pendingin selama 24 jam. Ketika permintaan meningkat, sumber energi dan efisiensi penggunaannya akan menentukan seberapa besar dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh pertumbuhan industri digital.
Pembangunan pembangkit baru, penguatan jaringan, dan penyediaan energi terbarukan perlu berjalan beriringan. Tanpa perencanaan yang terukur, pertumbuhan pusat data berisiko meningkatkan ketergantungan pada sumber energi beremisi tinggi atau menambah tekanan terhadap sistem kelistrikan yang juga harus melayani kebutuhan masyarakat.
Di sisi lain, pemenuhan kebutuhan listrik bukan satu-satunya tantangan infrastruktur. Pusat data juga memerlukan air untuk berbagai kebutuhan operasional, terutama sistem pendingin tertentu. Dalam konteks Batam yang memiliki keterbatasan sumber air baku dan bergantung pada waduk, kebutuhan tersebut tidak bisa diabaikan.
BP Batam pada September 2026 mendorong pengembangan instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yaitu teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar melalui proses penyaringan menggunakan membran. Pada Oktober, BP Batam menegaskan bahwa pengembang pusat data diwajibkan membangun dan mengoperasikan instalasi pengolahan air mandiri untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya.
Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut diarahkan agar ekspansi investasi tidak mengabaikan keberlanjutan sumber air dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. “Secara teknis, pengembangan ekosistem data center di KEK Nongsa Digital Park (NDP) maupun kawasan industri Kabil telah didorong menggunakan model pengelolaan air mandiri berbasis teknologi SWRO,” kata Ariastuty, sebagaimana diberitakan ANTARA pada 16 Oktober 2026.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap investasi pusat data tidak membebankan seluruh kebutuhan utilitas kepada infrastruktur publik. Namun efektivitasnya tetap bergantung pada pelaksanaan di lapangan, kapasitas instalasi yang dibangun, serta pengawasan terhadap penggunaan air dan energi.
Dari sisi investasi, kesiapan listrik merupakan salah satu modal penting bagi Batam untuk bersaing sebagai lokasi pusat data di Asia Tenggara. Kedekatan geografis dengan Singapura, ketersediaan kawasan industri, dan pengembangan infrastruktur digital menjadi faktor yang menarik minat perusahaan teknologi. Kehadiran investasi berpotensi mendorong aktivitas ekonomi, menciptakan kebutuhan tenaga kerja, dan memperluas ekosistem pendukung, mulai dari konstruksi hingga layanan teknologi. Pemerintah dan pengelola kawasan karena itu memiliki alasan kuat untuk memastikan kebutuhan infrastruktur investor terpenuhi.
Namun keberhasilan menarik investasi tidak hanya diukur dari jumlah proyek, besarnya nilai modal, atau kapasitas listrik yang berhasil dikontrak. Manfaat ekonominya juga perlu dinilai berdasarkan penciptaan lapangan kerja, keterlibatan tenaga kerja lokal, kontribusi terhadap pendapatan daerah, dan dampaknya terhadap usaha masyarakat. Di sini pula pentingnya transparansi PLN Batam ysng perlu menjelaskan bagaimana proyeksi permintaan pusat data apakaj akan memengaruhi rencana pengembangan pembangkit dan jaringan, bagaimana cadangan daya dihitung, dan langkah apa yang disiapkan untuk mencegah gangguan meluas. BP Batam perlu memastikan pembangunan fasilitas pusat data berjalan seiring dengan penyediaan air dan infrastruktur pendukung lainnya.
Pernyataan Kwin Fo bahwa cadangan daya masih mencapai 20 persen menjadi kabar positif bagi iklim investasi. Namun, pengalaman blackout pada 12 Oktober mengingatkan bahwa kapasitas tersedia dan keandalan layanan merupakan dua hal berbeda. Yang pertama berbicara tentang kecukupan pasokan, sedangkan yang kedua menyangkut kemampuan sistem mempertahankan layanan ketika menghadapi gangguan.
Ekspansi pusat data akan menjadi peluang bagi Batam apabila pertumbuhan industri digital dibarengi penguatan infrastruktur dan tata kelola yang terbuka. Keberhasilan PLN Batam bukan hanya ditentukan oleh kemampuannya memasok listrik untuk proyek-proyek besar, melainkan juga oleh kemampuannya menjaga agar rumah tangga, fasilitas publik, dan pelaku usaha tetap memperoleh layanan yang andal. Investasi yang berkelanjutan semestinya memperkuat daya saing kota tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat yang menopang kehidupan ekonominya. (Red)