Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia semakin menguat sepanjang 2026. Nilai tukar rupiah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam, sementara investor asing terus mengurangi kepemilikan aset Indonesia. Di tengah ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah dan kenaikan harga energi, muncul pula kekhawatiran mengenai arah kebijakan ekonomi domestik, yang membuat sebagian pelaku pasar internasional mulai menyerukan strategi "Sell Indonesia".
Perubahan sentimen ini terasa dibanding beberapa tahun sebelumnya. Indonesia sempat menjadi salah satu tujuan favorit investor di kelompok negara berkembang berkat pertumbuhan ekonomi yang stabil, bonus demografi, serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun kini, lembaga keuangan global, hedge fund, hingga manajer investasi internasional mulai mempertanyakan apakah Indonesia masih menawarkan tingkat kepastian kebijakan yang cukup untuk mempertahankan arus modal jangka panjang?
“Tren utama di Asia saat ini adalah ‘Sell Indonesia’,” kata George Boubouras, Kepala Riset K2 Asset Management yang mengelola dana sekitar US$4,3 miliar. Setelah puluhan tahun berinvestasi di Indonesia, ia mengaku telah keluar sepenuhnya dari pasar Indonesia.
Memang tidak adil jika seluruh tekanan terhadap rupiah dan pasar saham hanya dikaitkan dengan faktor domestik. Konflik geopolitik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga energi dunia dan memperkuat dolar AS. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, terkena dampaknya. Bank Indonesia bahkan mengakui bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi ketegangan geopolitik, tingginya harga energi, serta meningkatnya permintaan valuta asing di dalam negeri.
Namun sejumlah investor menilai persoalan Indonesia tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Sejak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai berjalan pada Oktober 2024, berbagai kebijakan ekonomi baru memunculkan pertanyaan di kalangan pasar. Program makan bergizi gratis berskala nasional, perluasan peran negara dalam sektor ekonomi, pembentukan dan penguatan Danantara, hingga rencana pengelolaan ekspor komoditas strategis secara lebih terpusat dipandang sebagai perubahan besar dalam lanskap ekonomi Indonesia.
Bagi investor, perubahan bukanlah masalah utama. Yang lebih menjadi perhatian adalah kepastian implementasinya. "Ketidakpastian politik domestik adalah risiko tipikal di pasar berkembang, dan investor global cenderung menunggu sampai ada prediktabilitas kembali," ujar Yuxuan Tang dari JPMorgan Private Bank di Hong Kong.
Tekanan paling nyata terlihat pada rupiah. Pada awal Juni 2026, nilai tukar rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS, menjadi salah satu titik terlemah dalam sejarah mata uang Indonesia. Bank Indonesia terpaksa meningkatkan intensitas intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Cadangan devisa Indonesia juga mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir karena digunakan untuk menstabilkan pasar valuta asing.
Pada April 2026, posisi cadangan devisa tercatat sebesar US$146,2 miliar, level terendah dalam hampir dua tahun. Gary Tan dari Allspring Global Investments menilai perhatian utama investor saat ini terletak pada risiko pelemahan rupiah yang berkepanjangan. “Yang menjadi fokus adalah prospek rupiah yang melemah, serta kekhawatiran tentang ketidakseimbangan makro dan kredibilitas kebijakan fiskal,” ujarnya.
Kekhawatiran tersebut diperparah oleh meningkatnya kepemilikan obligasi pemerintah oleh Bank Indonesia. Di mata sebagian investor, kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai batas antara stabilisasi pasar dan pembiayaan fiskal secara tidak langsung.
Tekanan tidak hanya terjadi pada rupiah. Investor asing juga tercatat melakukan aksi jual pada pasar obligasi dan saham Indonesia dalam beberapa periode sepanjang 2026. Bloomberg melaporkan bahwa arus keluar dana asing dari obligasi pemerintah meningkat ketika pasar saham mengalami koreksi tajam.
Selain itu, perhatian investor global juga tertuju pada peringatan dari MSCI terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan likuiditas pasar Indonesia. Kekhawatiran tersebut bahkan sempat memunculkan risiko penurunan status Indonesia dari kategori emerging market menjadi frontier market. Bagi pelaku pasar internasional, isu tata kelola dan transparansi memiliki dampak yang sama besar dengan indikator ekonomi makro.
Ana Isabel Gonzalez Encinas, Chief Investment Officer Farringdon Asset Management di Singapura, menggambarkan keresahan tersebut dengan lugas. “Jika saya tidak bisa mempercayai ‘plumbing’-nya, saya tidak ingin menjadi yang terakhir keluar,” katanya.
Sementara pemerintah menilai pasar terlalu pesimistis. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, serta Otoritas Jasa Keuangan untuk menjaga stabilitas pasar. Pandangan serupa juga muncul dari sejumlah ekonom yang menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen global dibandingkan fundamental ekonomi domestik.
Pemerintah menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi masih berada di atas 5 persen, rasio utang pemerintah relatif rendah dibanding banyak negara lain, dan Indonesia tetap menjadi produsen nikel terbesar dunia yang memiliki posisi strategis dalam rantai pasok kendaraan listrik global. Bahkan pada Maret 2026, investor asing sempat kembali melakukan pembelian bersih saham Indonesia setelah regulator memperkenalkan sejumlah langkah untuk meningkatkan daya tarik pasar modal nasional.
Data tersebut menunjukkan bahwa sentimen investor terhadap Indonesia belum sepenuhnya negatif. Persoalan yang sedang dihadapi Indonesia adalah soal kepercayaan. Pasar keuangan selalu bergerak berdasarkan ekspektasi terhadap masa depan. Investor tidak hanya membeli angka pertumbuhan ekonomi hari ini, tetapi juga keyakinan bahwa aturan permainan akan tetap jelas esok hari.
Mungkin Indonesia masih memiliki banyak modal dasar yang kuat. Mulai dari populasi muda yang besar, kekayaan sumber daya alam, posisi geografis strategis, serta pasar domestik yang luas. Namun keunggulan-keunggulan tersebut tidak otomatis menjamin masuknya investasi apabila pelaku pasar merasa arah kebijakan menjadi sulit diprediksi.
Dalam konteks itu, tantangan pemerintah bukan semata-mata menahan pelemahan rupiah atau mengangkat kembali IHSG. Tantangan yang lebih besar adalah membangun kembali keyakinan bahwa setiap kebijakan ekonomi memiliki tujuan yang jelas, pelaksanaan yang transparan, dan konsistensi yang dapat dipercaya.
Sebab dalam dunia investasi, modal dapat keluar dalam hitungan detik. Tetapi kepercayaan yang hilang seringkali membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali. (Red)