Dua Tim SMAN 1 Kawali Berprestasi di FIKSI 2026, Inovasi Lokal Tembus Nasional

Empat siswa SMAN 1 Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meraih medali emas dan perak dalam...

Dua Tim SMAN 1 Kawali Berprestasi di FIKSI 2026, Inovasi Lokal Tembus Nasional

17 Okt 2026
68 x Dilihat
Share :

Empat siswa SMAN 1 Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meraih medali emas dan perak dalam Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2026 yang berlangsung pada 12–17 Oktober 2026 di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, Bali. Prestasi tersebut diraih melalui dua tim, ANLOKART dan LARASKA, yang mewakili Jawa Barat dalam kompetisi nasional bidang kewirausahaan pelajar tingkat pendidikan menengah.

Tim ANLOKART yang terdiri atas Alya Nirmalasari sebagai ketua dan Nadia Rahmawati sebagai anggota meraih medali emas dalam kategori Pengembangan Usaha bidang Kriya. Sementara itu, tim LARASKA yang beranggotakan Jeni Wulandari sebagai ketua dan Rizki Febrian Arrasyid sebagai anggota memperoleh medali perak dalam kategori Pengembangan Usaha bidang Wisata dan Budaya.

Capaian tersebut menempatkan SMAN 1 Kawali sebagai salah satu sekolah yang menonjol dalam delegasi Jawa Barat. Kedua tim tidak hanya berhasil melewati tahapan seleksi nasional, tetapi juga menunjukkan kemampuan mengembangkan gagasan kewirausahaan dalam bidang yang berbeda. ANLOKART berkompetisi melalui sektor kriya, sedangkan LARASKA mengangkat potensi usaha yang berkaitan dengan wisata dan budaya.

Keberhasilan SMAN 1 Kawali merupakan bagian dari capaian delegasi Jawa Barat yang mengirimkan lima tim ke babak nasional FIKSI 2026. Selain ANLOKART dan LARASKA, terdapat tiga tim lain yang berasal dari sekolah berbeda.

Tim Ka’ya Miliarder dari SMAN 1 Ciamis, yang terdiri atas Keisya Aulia Pratami dan Makayla Lanika Azzura, berkompetisi dalam kategori Rencana Usaha bidang Wisata dan Budaya. Dari SMAN 11 Bekasi, tim Booyach yang beranggotakan Ivana Nauli Nasywa Azizah dan Nadya Hasna Dewi mengikuti kategori Rencana Usaha bidang Teknologi Digital.

Adapun tim Huu Production House dari SMA Thariq bin Ziyad Boarding School, yang terdiri atas Muhammad Athallah Ghaisan Suwardi dan Muhammad Umar Alfaruq, mengikuti kategori Rencana Usaha bidang Video, Animasi, dan Film.

Komposisi tersebut memperlihatkan luasnya bidang kewirausahaan yang dikembangkan para pelajar Jawa Barat. Inovasi tidak terbatas pada produk kerajinan, tetapi juga mencakup pengembangan wisata, pemanfaatan teknologi digital, dan industri kreatif berbasis audiovisual. Dalam konteks pendidikan, keberagaman tersebut penting karena memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi sesuai dengan minat, kemampuan, dan persoalan yang mereka temui di lingkungan masing-masing.

FIKSI merupakan ajang talenta nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kompetisi ini dirancang untuk mendorong kreativitas, inovasi, serta kemampuan kewirausahaan siswa melalui dua kategori utama, yakni Rencana Usaha dan Pengembangan Usaha.

Berdasarkan informasi penyelenggaraan yang dipublikasikan Undiksha pada 10 Oktober 2026, FIKSI tahun ini melibatkan 110 tim dari 86 sekolah di Indonesia serta satu sekolah Indonesia di Malaysia. Para peserta mempresentasikan gagasan dan produk kewirausahaan dalam rangkaian kegiatan yang juga mencakup pameran atau Expo FIKSI.

Ajang tersebut mencakup 11 bidang, yaitu Agribisnis, Agroteknologi dan Kemaritiman; Kesehatan, Kecantikan dan Perawatan Diri; Kewirausahaan Sosial; Wisata dan Budaya; Teknologi Digital; Bisnis Kuliner; Fashion; Game; Kriya; Video, Animasi, dan Film; serta Seni Rupa dan Desain.

Penyelenggaraan FIKSI 2026 juga menekankan integrasi ekonomi hijau, ekonomi kreatif, dan ekonomi digital. Melalui ketiga pilar tersebut, kewirausahaan pelajar diarahkan agar tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mampu menawarkan solusi bagi persoalan sosial dan lingkungan. Arah tersebut sejalan dengan penjelasan Pusat Prestasi Nasional dalam publikasi program FIKSI 2026. Lembaga tersebut menempatkan kewirausahaan sebagai sarana membangun karakter pelajar yang kreatif, tangguh, etis, dan memiliki wawasan global.

Dalam pembukaan FIKSI pada 13 Oktober 2026, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Suharti, juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, berinovasi, dan mengambil inisiatif di tengah perkembangan teknologi digital serta kecerdasan artifisial.

Keberhasilan peserta tidak cukup diukur dari kemampuan menyampaikan proposal atau mempresentasikan produk di hadapan juri. Kompetisi ini idealnya menjadi titik awal bagi siswa untuk memahami kebutuhan pasar, mengelola sumber daya, membangun jejaring, dan menguji keberlanjutan usaha.

Bagi SMAN 1 Kawali, raihan medali emas dan perak menjadi modal penting untuk memperkuat pendidikan kewirausahaan di lingkungan sekolah. Prestasi tersebut juga menunjukkan bahwa sekolah di daerah memiliki peluang untuk bersaing di tingkat nasional ketika siswa memperoleh ruang untuk mengembangkan gagasan dan menguji kemampuan mereka.

Namun, penghargaan dalam kompetisi tidak dengan sendirinya menjamin keberhasilan sebuah usaha. Produk yang dinilai inovatif tetap harus berhadapan dengan persoalan nyata, mulai dari kebutuhan konsumen, biaya produksi, akses pemasaran, ketersediaan bahan baku, hingga kemampuan mempertahankan kualitas.

Karena itu, tantangan berikutnya bagi ANLOKART dan LARASKA adalah menerjemahkan pencapaian kompetisi menjadi kegiatan usaha yang berkelanjutan. Dukungan sekolah, pendampingan guru, akses permodalan yang sesuai, dan kemitraan dengan pelaku usaha dan pemerintah daerah dapat membantu kedua tim mengembangkan potensi produknya.

Untuk bidang kriya, pengembangan usaha dapat diarahkan pada peningkatan kualitas produk, penguatan identitas lokal, dan perluasan pemasaran melalui platform digital. Sementara bidang wisata dan budaya membutuhkan pemahaman tentang potensi destinasi, keterlibatan masyarakat, pelestarian budaya, dan model bisnis yang memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Pendekatan tersebut penting agar inovasi siswa tidak berhenti sebagai proyek akademik atau pencapaian sesaat dalam kompetisi. Produk dan gagasan yang dikembangkan di sekolah perlu memperoleh kesempatan untuk diuji, diperbaiki, dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Keberhasilan SMAN 1 Kawali juga menambah catatan prestasi pelajar dari wilayah Kawali, Kabupaten Ciamis, dalam ajang kewirausahaan tingkat nasional. Pada penyelenggaraan FIKSI tahun sebelumnya, Indar Sri Royani dari SMK Negeri 1 Kawali berhasil meraih medali perak dalam kategori Pengembangan Usaha bidang Teknologi Digital.

Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa potensi kewirausahaan pelajar di kawasan ini tidak hanya berkembang dalam satu bidang. Jika pada tahun sebelumnya prestasi ditorehkan melalui teknologi digital, pada FIKSI 2026 siswa SMAN 1 Kawali meraih penghargaan melalui bidang kriya serta wisata dan budaya.

Kesinambungan prestasi ini dapat menjadi kesempatan bagi sekolah-sekolah di Ciamis untuk memperkuat ekosistem pembelajaran kewirausahaan. Pertukaran pengalaman antarsiswa, pendampingan alumni, dan kerja sama dengan pelaku usaha lokal dapat membantu pengetahuan yang diperoleh dalam kompetisi berkembang menjadi kemampuan praktis.

Lebih jauh, inovasi siswa dapat menjadi sarana memperkenalkan potensi daerah kepada khalayak yang lebih luas. Produk kriya dapat mengangkat identitas dan keterampilan lokal, sedangkan usaha wisata dan budaya berpeluang mempertemukan pelestarian tradisi dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.

Keberhasilan tersebut juga menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik di ruang kelas. Kemampuan mengenali masalah, menghasilkan gagasan, bekerja sama, dan mengubah ide menjadi sesuatu yang bermanfaat merupakan bagian penting dari proses belajar.

Torehan medali emas dan perak yang dibawa pulang empat siswa SMAN 1 Kawali bukan sekadar simbol kemenangan. Penghargaan itu sekaligus menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk membuktikan bahwa inovasi yang lahir di sekolah mampu bertahan ketika berhadapan dengan kebutuhan masyarakat dan dinamika dunia usaha. Prestasi akan memiliki arti yang lebih mendalam ketika gagasan para siswa tidak berhenti di panggung penghargaan, tetapi tumbuh menjadi karya yang menciptakan nilai ekonomi, memperkuat potensi lokal, dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya. (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll