Dari Sei Beduk ke Nongsa, Jalan Lingkar Selatan Siap Ubah Peta Mobilitas Batam

Pemerintah Kota Batam mulai mengerjakan pembangunan tahap awal Jalan Lingkar Selatan pada 2026...

Dari Sei Beduk ke Nongsa, Jalan Lingkar Selatan Siap Ubah Peta Mobilitas Batam

17 Jun 2026
223 x Dilihat
Share :

Pemerintah Kota Batam mulai mengerjakan pembangunan tahap awal Jalan Lingkar Selatan pada 2026 dengan anggaran awal Rp15 miliar. Proyek infrastruktur senilai total Rp130,78 miliar itu akan menghubungkan Kecamatan Sei Beduk hingga Nongsa sepanjang 9,94 kilometer dan ditargetkan rampung pada 2029. Pemerintah berharap jalan baru tersebut mampu mengurangi kemacetan di sejumlah ruas utama, mempercepat mobilitas masyarakat, serta mendukung pertumbuhan kawasan industri dan permukiman di wilayah selatan Batam. 

Proyek ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mengubah pola konektivitas Kota Batam yang selama ini masih sangat bergantung pada koridor utama Batam Center dan sejumlah ruas penghubung yang kerap padat pada jam sibuk. Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Batam, Metra Dinata, mengatakan pembangunan tahap pertama difokuskan pada ruas Sungai Pancur hingga Kampung Bagan. “Tahun ini kami mulai pembangunan Jalan Lingkar Selatan Batam. Tahap awal yang dikerjakan adalah ruas Sungai Pancur hingga Kampung Bagan sebagai bagian dari koridor jalan lingkar tersebut,” ujar Metra.

Pada tahap awal, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp15 miliar untuk pembangunan dua lajur jalan di ruas tersebut. Pengerjaan dilakukan secara bertahap melalui skema tahun jamak mengingat panjang proyek yang hampir mencapai 10 kilometer. Menurut Metra, Jalan Lingkar Selatan dirancang sebagai jalur alternatif yang menghubungkan kawasan industri dan permukiman di sisi selatan Batam. 

Kehadiran jalur baru ini diharapkan memangkas waktu tempuh perjalanan dari wilayah barat menuju timur kota. “Jalan ini nantinya bisa menjadi jalur pintas dari Muka Kuning menuju Teluk Lengung, Kabil, hingga Nongsa. Dampaknya tentu dapat menghemat penggunaan bahan bakar kendaraan sekaligus membantu mengurai kemacetan,” katanya. 

Berdasarkan perencanaan pemerintah, Jalan Lingkar Selatan dibagi menjadi tiga seksi utama. Seksi pertama membentang dari Simpang Sungai Pancur hingga Kampung Bagan sepanjang 3,62 kilometer dengan pekerjaan berupa penambahan lajur dan pengaspalan jalan. Seksi kedua menghubungkan Kampung Bagan hingga Simpang Teluk Lengung sepanjang 2,25 kilometer. Ruas ini menjadi bagian paling menantang karena mencakup pembangunan jembatan sepanjang 50 meter. Sementara Seksi ketiga sepanjang 4,09 kilometer akan menghubungkan Simpang Teluk Lengung hingga Simpang Jasinta Punggur yang menjadi akses menuju kawasan timur Batam. 

Selain jalan utama, proyek ini juga dirancang mengikuti standar nasional dengan fasilitas pendukung seperti drainase, penerangan jalan umum, serta peluang pengembangan jalur sepeda dan pedestrian pada tahap berikutnya. Pemerintah Kota Batam menilai proyek ini penting karena pertumbuhan kawasan industri, pergudangan, dan permukiman terus bergerak ke arah Sei Beduk, Kabil, Punggur, hingga Nongsa. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan timur Batam juga menjadi perhatian investasi baru, termasuk sektor manufaktur berteknologi tinggi dan pusat data yang membutuhkan dukungan infrastruktur transportasi yang memadai. 

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menilai jalan lingkar tersebut akan menjadi fondasi penting bagi pemerataan pembangunan. “Pembangunan ini menjadi fondasi penting bagi ekonomi Batam. Kita ingin arus lalu lintas dan distribusi barang semakin lancar, sehingga daya saing kota meningkat,” ujarnya. 

Sementara sejumlah pengamat transportasi perkotaan sering mengingatkan bahwa pembangunan jalan baru tidak selalu menjadi solusi permanen bagi kemacetan. Fenomena induced demand atau peningkatan jumlah kendaraan akibat bertambahnya kapasitas jalan telah terjadi di banyak kota besar.

Artinya, jika pertumbuhan kendaraan pribadi berlangsung lebih cepat dibandingkan pengembangan transportasi publik, kemacetan dapat kembali muncul meskipun jalan baru telah dibangun.

Karena itu, keberhasilan Jalan Lingkar Selatan tidak hanya ditentukan oleh kualitas konstruksi, tetapi juga oleh integrasinya dengan sistem transportasi kota secara keseluruhan, termasuk pengembangan angkutan umum, tata ruang, dan pengendalian pertumbuhan kendaraan. Dalam konteks tersebut, Jalan Lingkar Selatan dapat dipandang sebagai bagian dari solusi, tetapi bukan satu-satunya solusi.

Pembangunan jalan sering diukur dari panjang ruas, nilai anggaran, atau target penyelesaian proyek. Namun bagi warga yang setiap hari terjebak kemacetan menuju kawasan industri, sekolah, pelabuhan, atau bandara, makna sebuah jalan sesungguhnya jauh lebih sederhana. Di antaranya tentang waktu yang lebih singkat di perjalanan dan lebih banyak waktu bersama keluarga.

Jika selesai sesuai target pada 2029, Jalan Lingkar Selatan bukan hanya akan menghubungkan Sei Beduk dengan Nongsa. Ia juga akan menghubungkan peluang ekonomi dengan kawasan yang selama ini berkembang lebih lambat, membuka akses baru bagi investasi, serta mengurangi ketergantungan Batam pada koridor-koridor lama yang semakin padat. Dalam pembangunan infrastruktur lebih pentingnya adalah bagaimana jalan itu membuka jalan bagi kehidupan yang lebih efisien, lebih produktif, dan lebih merata bagi masyarakat yang melaluinya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll