Pemerintah Kota Batam akan menggelar Resepsi Kenegaraan bertajuk “Semarak Kemerdekaan” di Dataran Engku Putri, Batam Centre, Jumat (21/8/2026) malam mulai pukul 19.00 WIB, sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, dengan menghadirkan Carly Setia Band untuk menghibur masyarakat sekaligus membuka ruang perjumpaan warga dalam suasana perayaan kemerdekaan.
Bagi pemerintah daerah, kemerdekaan bukan sekadar upacara yang berakhir ketika bendera diturunkan, melainkan momentum untuk dirayakan dan dimaknai bersama. Karena itu, Pemko Batam menjadikan resepsi kenegaraan tersebut sebagai bagian dari rangkaian peringatan yang tidak hanya menghadirkan suasana santai dan meriah, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan serta meneguhkan pesan kebangsaan.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengajak masyarakat ikut meramaikan peringatan kemerdekaan. Ia menilai momentum HUT RI semestinya tidak berhenti pada seremoni, tetapi dapat menjadi kesempatan memperkuat persatuan dan kebersamaan. “Semarak kemerdekaan hendaknya menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan. Kita mengenang jasa para pahlawan sekaligus melanjutkan perjuangan dengan memberikan yang terbaik bagi daerah dan bangsa,” ujar Amsakar, Rabu (19/8/2026).
Kehadiran Carly Setia Band menjadi unsur hiburan yang diharapkan membuat perayaan lebih dekat dengan masyarakat. Musik, dalam konteks seperti ini, bukan semata-mata pelengkap acara. Ia dapat menjadi bahasa bersama yang mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda dalam satu ruang publik. Meski untuk perayaan itu, ada pertanyaan penting di balik panggung yang semarak itu, apa yang sesungguhnya dirayakan ketika sebuah kota memperingati kemerdekaan?
Pertanyaan tersebut relevan bagi Batam yang berkembang cepat sebagai kota industri, perdagangan dan investasi. Pemerintah mencatat sejumlah indikator ekonomi yang positif. Dalam laporan kinerja satu tahun kepemimpinan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra, realisasi investasi Batam sepanjang 2025 disebut mencapai Rp69,3 triliun atau 115,5 persen dari target.
Pertumbuhan ekonomi juga tercatat 6,89 persen, sementara IPM mencapai 83,8 dan tingkat kemiskinan turun menjadi 3,81 persen. Angka-angka tersebut penting karena pembangunan membutuhkan ukuran yang dapat diperiksa. Karena investasi, pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, pendidikan dan kesehatan merupakan bagian dari wajah kemajuan sebuah daerah.
Tetapi angka secara makro tidak selalu menceritakan seluruh pengalaman warga. Di tingkat sehari-hari, Batam masih menghadapi pekerjaan rumah yang tidak kalah mendasar bagi kebutuhan warga. Mulai persoalan air bersih, sampah, dan banjir setiap kali hujan datang. Bahkan Pemko Batam sendiri berulang kali menyebut ketiganya sebagai persoalan utama yang harus segera ditangani. Amsakar mengatakan capaian pembangunan lainnya tidak akan terasa maksimal apabila kebutuhan dasar tersebut belum tertangani dengan baik.
Catatan kritis juga datang dari masyarakat sipil. Pada Juni 2026, Aliansi Mahasiswa Batam mendesak pemerintah menyelesaikan persoalan air bersih, sampah dan banjir. Sebelumnya, Ketua DPRD Batam Muhammad Kamaluddin menyebut peningkatan jumlah penduduk turut mendorong kenaikan kebutuhan pelayanan dasar. Ia mengatakan volume sampah harian Batam yang sebelumnya sekitar 700 ton meningkat menjadi sekitar 1.300 ton per hari, sementara jumlah pelanggan air telah mencapai sekitar 360 ribu kepala keluarga.
Kritik serupa juga muncul dari pemerhati lingkungan. Ketua PC PMII Batam Suhardi, misalnya, menilai persoalan pelayanan dasar masih membutuhkan pembenahan yang lebih konkret. “Publik tidak ingin sekadar janji, tapi eksekusi,” ujarnya dalam laporan Batam Bergerak pada Februari 2026. Meski pemerintah tidak menampik persoalan tersebut dan bahkan Amsakar menyatakan penanganan air bersih, sampah dan banjir akan dilakukan secara bertahap. Pemerintah menyebut sejumlah langkah, antara lain optimalisasi distribusi air, penanganan kawasan yang mengalami krisis air, pembangunan rumah pompa, normalisasi drainase dan pembenahan pengelolaan sampah.
Dengan demikian, perayaan kemerdekaan di Batam berada di antara dua wajah kota antara wajah optimisme yang ditampilkan melalui pertumbuhan ekonomi dan investasi, dan wajah lainnya soal pekerjaan rumah guna menyelesaikan persoalan layanan dasar. Karenanya di situlah peringatan kemerdekaan agar dimaknai lebih dalam.
Sebab kota yang merdeka bukan hanya kota yang mampu menarik investasi besar, membangun jalan, atau menyelenggarakan konser dan memenuhi kalender kegiatan seremonial. Kemerdekaan juga berarti ketika warga memiliki akses yang layak terhadap air bersih, lingkungan yang sehat, pengelolaan sampah yang baik, ruang hidup yang aman dari banjir, dan besarnya kesempatan memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang bermartabat.
Rangkaian HUT ke-81 RI di Batam sendiri telah memperlihatkan wajah keberagaman kota. Pada Pawai Pembangunan dan Pawai Budaya Nusantara 9 Agustus lalu, sekitar 10.000 peserta dari berbagai paguyuban masyarakat ikut ambil bagian. Pemerintah menyebut kegiatan tersebut sebagai cermin Batam yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang daerah dan budaya.
Barangkali karena itu, Dataran Engku Putri pada Jumat malam nanti tidak sekadar menjadi tempat orang berkumpul untuk menikmati musik. Di sana akan bertemu banyak wajah Batam yang saling mempertemukan antara para pekerja, pedagang, pelajar, keluarga, pendatang, warga lama, aparatur pemerintah, dan semua yang setiap hari menggantungkan hidup pada denyut ekonomi kota.
Carly Setia Band boleh membuat malam kemerdekaan menjadi lebih riang. Lampu panggung boleh menyala, musik boleh mengisi udara, dan warga boleh tertawa bersama. Semua itu adalah bagian sah dari kegembiraan sebuah bangsa yang telah menempuh perjalanan panjang.
Tetapi setelah musik berhenti dan kerumunan pulang, kemerdekaan akan kembali diuji oleh pertanyaan tadi. Apakah air tetap mengalir ketika warga membuka keran, apakah sampah terangkut tepat waktu, apakah jalan dan drainase mampu menghadapi hujan, apakah anak-anak memperoleh pendidikan yang layak, dan apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik?
Sebab, kemerdekaan tanpa makna pada akhirnya hanya menjadi sesuatu yang dirayakan di atas panggung dengan gegap gempita, tanpa diiringi upaya serius untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi warga dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin, itulah ukuran paling jujur dari sebuah perayaan kemerdekaan bukan seberapa meriah malam nanti, melainkan seberapa berarti kehidupan warga menjadi lebih baik dari hari ke hari, hingga mereka tidak lagi perlu bertanya kepada diri sendiri: benarkah telah merdeka? (Sal)