Sekuel Pertama "Muhammad, The Messenger of God": Perjalanan Spiritual dan Sejarah

Setelah lima tahun menunggu dengan sabar dan penuh rasa penasaran, akhirnya saya bisa menonton film...

Sekuel Pertama "Muhammad, The Messenger of God": Perjalanan Spiritual dan Sejarah

24 Jan 2026
327 x Dilihat
Share :

Sekuel Pertama "Muhammad, The Messenger of God": Perjalanan Spiritual dan Sejarah

Setelah lima tahun menunggu dengan sabar dan penuh rasa penasaran, akhirnya saya bisa menonton film karya Majid Majidi ini. Lima tahun yang lalu, berita tentang film ini sempat menyebar, dan saya tidak tahu apakah film ini pernah masuk ke bioskop Indonesia. Hanya karena polemik dan kontroversi yang ikut mewarnai awal kemunculannya. Namun, kini saya menontonnya di kanal gratis dengan modal kuota saja, dan rasanya perjalanan panjang menunggu itu terbayar sudah.

Durasi film ini teramat panjang, hampir tiga jam, sedikit lebih pendek dari Bumi Manusia. Namun tentu lebih panjang dibandingkan film-film India yang rata-rata hanya sekitar dua jam. Bayangkan saja, durasi satu sekuel saja sudah sedemikian lama, sementara film ini direncanakan memiliki tiga sekuel. Majid Majidi tampaknya ingin menampilkan seluruh sisi kehidupan Nabi Muhammad SAW, manusia termulia sejagat raya, dari masa kecil hingga awal kenabiannya, dengan detil yang kaya dan mendalam. 

Dalam film ini, kita tidak hanya diajak memahami kisah spiritual, tetapi juga konteks sosial, politik, dan budaya Makkah pada masa itu. Sekuel pertama ini mengisahkan masa ketika keluarga Bani Hasyim dan Bani Muththalib diembargo oleh Quraisy. Keputusan embargo ini diambil melalui kesepakatan dewan majelis Darun Nadwah. Tiga tahun masa embargo itu, keluarga Bani Hasyim dan Bani Muththalib harus hidup dalam kesulitan, bahkan terpaksa mengonsumsi daun-daunan untuk bertahan hidup. 

Adegannya digambarkan dengan menegangkan. Misalnya ketika orang-orang berebut makanan, dan Hamzah bin Abdul Muththalib hadir sebagai singa gurun pasir, menunggang kuda dengan gagah, menyerupai adegan awal film The Message karya Mostafa Akkad. Tampak Hisyam bin Amr dan Zuhair bin Abi Umayyah yang dengan sengaja melepas untanya, yang memuat makanan ke tengah lembah embargo, menunjukkan kepedulian dan keberanian manusia-manusia kecil dalam menghadapi tekanan besar.

Abu Thalib, pamanda Rasul, kemudian diundang ke Majelis Darun Nadwah. Sepulangnya, ia duduk sebentar untuk mendengarkan tilawah Surat Al-Fil yang merdu. Dari situ, cerita bergerak mundur (flashback) ke masa ayahanda Abu Thalib, Abdul Muththalib, sebagai pemimpin kabilah penjaga Ka’bah. Saat itu, Makkah tengah mengalami gejala awal kapitalisme dengan perdagangan budak sebagai komoditi utama. Film ini mmapu menyoroti secara cermat keseimbangan antara spiritualitas dan dinamika sosial-ekonomi, memberikan penonton pemahaman mendalam tentang konteks kehidupan Nabi sebelum kenabian.

Adegan penyerangan pasukan gajah oleh Abrahah dari Yaman juga digambarkan dengan visualisasi yang cukup memukau. Abrahah, penguasa Himyar yang melakukan kudeta terhadap Arbath, ingin memajukan Himyar sebagaimana kerajaan Saba dengan bendungan Ma’arib-nya. Namun, rencana itu berakhir tragis, ketika pasukannya dikalahkan oleh sekumpulan burung Ababil, seperti yang tercatat dalam Al-Quran. Visualisasi Majid Majidi untuk melaksanakan pakem Naqli, menekankan keajaiban yang melampaui kemampuan manusia. Sebagai sebuah metafora visual tentang ketidakberdayaan manusia menghadapi kehendak Ilahi.

Saat itu, Ibunda Siti Aminah sedang hamil besar. Bayi yang lahir di tahun gajah itu yang kelak menjadi Rasulullah. Majid Majidi menghadirkan momen ini dengan nuansa magis: langit semerbak, bintang-gemintang bersinar menandai hadirnya ruh Nur Muhammad. Halimatu Sa’diah, yang akan menjadi pengasuh bayi Rasul, terpana melihat cemerlangnya bintang-bintang saat sedang bekerja di ladang. Detil-detil visual ini tidak hanya menambah keindahan sinematografi, tetapi juga menyentuh lapisan emosional penonton, menggambarkan keajaiban menyambut lahirnya seorang nabi.

Salah satu adegan yang paling mengharukan bagi saya adalah ketika Rasul muda pergi ke Syam, dan pendeta Buhaira menatap kafilah dagang dari kejauhan. Cahaya lembut memancar ketika pintu biara terbuka, dan pendeta itu menyambut Rasul muda dengan penuh ketelitian, sambil meneliti nubuat kuno yang menggambarkan kedatangan seorang juru selamat bernama Ahmad. Adegan ini tidak hanya menunjukkan sisi spiritual Rasul, tetapi juga ketelitian dan kebijaksanaan para tokoh non-Muslim yang menyadari keistimewaan manusia ini.

Sekuel pertama juga menampilkan cerita tentang Abu Thalib dan Abu Sufyan, dua figur penting dalam konteks sosial-politik Quraisy, yang masing-masing menghadapi dilema moral dan politik. Surat keputusan embargo yang disimpan tiga tahun lamanya akhirnya dibuka, dan sebagian besar tulisannya telah dimakan rayap, kecuali lafadz Allah. Membuat semua orang terheran, termasuk Abu Sufyan, yang kemudian bertekad untuk membalas dendam. Narasi ini menekankan dinamika kekuasaan, kesetiaan, dan konflik internal dalam masyarakat Makkah, memberikan dimensi sejarah yang kaya bagi penonton.

Majid Majidi juga menghadirkan tokoh Ismail, salah satu dari 12 suku Bani Israil. Dialog Ismail, yang menerima kedatangan seorang juru selamat bukan dari golongannya, menekankan universalitas ajaran Nabi Muhammad SAW. Pesan kemanusiaan yang melampaui batas suku, bangsa, dan keyakinan. Film ini berhasil memvisualkan sisi manusiawi Rasul, sekaligus menyampaikan pesan universal yang relevan hingga hari ini.

Lima tahun lalu, film ini sempat menjadi kontroversi, terutama karena dibuat di Iran yang dikenal sebagai negara Syiah. Ulama Al-Azhar bahkan menentangnya. Mungkin karena perbedaan pandangan tentang representasi Nabi dalam film. Namun Majid Majidi, melalui keberaniannya, menghadirkan Muhammad-nya sendiri, seorang Muhammad yang manusiawi, yang dapat diterima melalui bahasa visual dan sinematografi. 

Tafsir Majidi mungkin berbeda dengan tafsir kita, namun itulah kekayaan perspektif yang perlu dihargai. Proyek besar ini sepatutnya mendapat dukungan seluruh umat Islam, bukan hanya sebagai karya sinema, tetapi sebagai medium edukatif dan reflektif yang menghidupkan sejarah nabi kita.

Film ini bukan sekadar hiburan. Tapi ini perjalanan spiritual, sejarah, dan budaya yang memaknai kehidupan Nabi Muhammad SAW dengan cara yang segar, mendalam, dan visual. Menontonnya adalah kesempatan untuk memahami kembali pesan-pesan universal yang dibawa oleh Rasulullah, disajikan dalam bahasa sinema yang mampu menyentuh mata, telinga, dan hati penonton. (Sal)

Perspektif

Scroll