Menimbang Realitas Sosial dalam Surat Cinta untuk Kartini

Saat saya menonton film Surat Cinta untuk Kartini, ada satu penggalan kalimat yang tertinggal cukup...

Menimbang Realitas Sosial dalam Surat Cinta untuk Kartini

23 Apr 2026
155 x Dilihat
Share :

Menimbang Realitas Sosial dalam Surat Cinta untuk Kartini

Saat saya menonton film Surat Cinta untuk Kartini, ada satu penggalan kalimat yang tertinggal cukup lama di kepala saya. Begini katanya, “Kita tidak bisa mengubah asal kita. Tapi kita bisa mengubah cara berpikir kita.” Kalimat itu cukup sederhana, tetapi terasa seperti jembatan antara masa lalu yang kaku dan masa depan yang selalu mungkin dinegosiasikan. Sebuah premis yang menggoda, terutama di tengah arus modernitas yang menuntut inklusivitas tanpa batas.

Namun di luar kalimat tadi, ada keganjilan kecil yang cukup mengganggu pada film yang diperankan Rania Putri sebagai Kartini tersebut. Terutama pada cara film ini menggambarkan hubungan sosial di masa itu. Saya bertanya-tanya, apakah memang seperti itu relasi antara kaum ningrat dan jelata di awal abad ke-20 di Jawa? Apakah batas-batas sosialnya sedemikian cair, atau justru film ini sengaja melunakkannya demi kebutuhan dramatik?

Kegelisahan ini perlu membawa kita pada penelusuran tentang apa yang disebut sosiolog sebagai "jarak sosial" (social distance). Pada masa itu, etiket Jawa yang dikenal sebagai unggah-ungguh bukan sekadar kesantunan, melainkan hukum besi yang memisahkan mereka yang berada di dalam tembok keraton dengan mereka yang mencangkul di sawah. Bahkan pertanyaan lain juga muncul tentang apakah seorang tukang pos (diperankan Chicco Jerikho sebagai Sarwadi) pada masa itu bisa dianggap sebagai bagian dari kelas menengah, atau bahkan memiliki posisi yang relatif “elit”? Jika benar demikian, tentu menarik. Namun jika tidak, barangkali ada penyederhanaan sejarah yang sedang bekerja di balik layar.

Sutradara Azhar Kinoi Lubis sendiri pernah menyatakan bahwa film ini adalah karya fiksi yang hanya mengambil latar sejarah sekitar tahun 1900-an. Ia tidak bermaksud membuat rekonstruksi sejarah yang sepenuhnya akurat, melainkan menghadirkan kisah yang relevan bagi penonton hari ini. Dalam kerangka itu, tentu ada ruang untuk tafsir, bahkan imajinasi. Penggunaan elemen fiksi ini sebenarnya jamak ditemukan dalam genre drama sejarah atau period drama, di mana emosi penonton seringkali diprioritaskan di atas detail kronik.

Tetapi justru di situlah letak kegelisahan saya. Sebab ketika sejarah dijadikan latar, ia tidak pernah benar-benar netral. Ia membawa beban kenyataan, luka, dan juga ketimpangan yang tidak selalu mudah dipermak menjadi kisah romantik. Representasi yang terlalu cair berisiko menghapus pemahaman kita tentang betapa beratnya perjuangan Kartini yang sebenarnya dalam mendobrak struktur yang nyatanya jauh lebih kokoh dari apa yang kita perkirakan.

Jika kita menoleh pada konteks sejarah yang lebih luas, masa hidup Raden Ajeng Kartini berada dalam struktur sosial kolonial yang sangat kaku. Masyarakat Jawa saat itu terbagi dalam lapisan yang tegas: kaum priyayi (ningrat), rakyat jelata, dan di atas semuanya, kekuasaan kolonial Belanda. Sistem feodal dan kolonial ini saling bertaut, menciptakan jarak sosial yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga kultural dan simbolik. Meminjam istilah Heather Sutherland dalam The Making of a Bureaucratic Elite, kelas priyayi adalah instrumen kekuasaan yang dipisahkan secara tajam dari rakyat biasa (wong cilik) melalui protokol bahasa dan perilaku.

Dalam berbagai catatan sejarah, termasuk surat-surat Kartini yang kemudian dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, terlihat jelas bagaimana ia sendiri merasakan keterkungkungan sebagai perempuan bangsawan. Ia memiliki privilese pendidikan dibanding perempuan lain, tetapi tetap terikat oleh adat pingitan dan batasan peran sosial. Di sisi lain, rakyat jelata bahkan lebih jauh dari akses tersebut. Kartini sering mengeluhkan betapa ia ingin "dekat" dengan rakyatnya, namun ia selalu terhalang oleh aturan keningratan yang bahkan mewajibkan adik-adiknya menyembah saat berbicara dengannya.

Menurut sejumlah kajian sejarah sosial Jawa, profesi seperti tukang pos pada masa kolonial memang memiliki posisi yang agak unik. Berdasarkan data dari Post-en Telegraafdienst (Layanan Pos dan Telegraf) Hindia Belanda, para pekerja pos adalah bagian dari birokrasi modern yang diperkenalkan pemerintah kolonial. Dalam beberapa kasus, mereka bisa dianggap memiliki status lebih tinggi dibanding petani biasa karena memiliki akses pada informasi, kemampuan literasi (membaca dan menulis), serta menjadi bagian dari jaringan administrasi global. Namun menyebut mereka sebagai “elit” jelas terlalu berlebihan. Mereka tetap berada dalam lapisan bawah dari struktur kekuasaan yang didominasi oleh pejabat kolonial dan kaum priyayi. Seorang tukang pos mungkin adalah simbol modernitas, tapi ia tetaplah orang kecil di hadapan seorang bupati.

Di titik ini, film tampaknya memilih jalur yang lebih humanis ketimbang historis. Ia mereduksi jarak sosial agar cerita cinta dan gagasan perubahan terasa lebih dekat dengan penonton masa kini. Sebuah pilihan yang sah dalam seni, tetapi tetap mengundang pertanyaan ketika kita membacanya sebagai refleksi sejarah. Fiksi sering menjadi "obat penawar" atas kerasnya realitas masa lalu, menciptakan utopia di mana cinta bisa melintasi kasta dengan begitu mudahnya.

Barangkali, yang lebih penting bukanlah apakah film ini sepenuhnya akurat, melainkan bagaimana ia memantik kita untuk kembali bertanya. Tentang sejarah yang kita warisi. Tentang struktur sosial yang mungkin masih menyisakan jejaknya hingga hari ini dalam bentuk-bentuk baru. Dan tentang cara kita memahami sosok Kartini yang bukan hanya sebatas sebagai ikon emansipasi yang beku di dalam buku pelajaran, tetapi sebagai manusia yang hidup dalam ketegangan zamannya. Kartini adalah seorang intelektual yang meraba-raba mencari jalan keluar di antara labirin tradisi.

Sebab pada akhirnya, “surat cinta” dalam film ini bukan sekadar kisah romantik. Ia bisa dibaca sebagai metafora tentang keinginan untuk melampaui batas, tentang harapan untuk mengubah nasib, dan tentang keyakinan bahwa pikiran, seperti yang dikatakan dalam film, memang bisa menjadi ruang paling bebas yang kita miliki. Pikiran adalah wilayah kedaulatan terakhir yang tidak bisa dijajah oleh sistem mana pun, selama kita berani untuk terus merawatnya.

Namun sejarah mengingatkan bahwa mengubah cara berpikir saja tidak selalu cukup. Ada struktur, ada kekuasaan, dan ada tradisi panjang yang tidak mudah digeser hanya dengan niat baik. Kartini sendiri memahami itu. Ia menulis, bukan hanya untuk bermimpi, tetapi juga untuk melawan meski perlahan, meski dalam sunyi. Ia tahu bahwa perubahan adalah proses akumulatif dari ribuan "surat" kecil yang dikirimkan ke masa depan.

Mungkin di situlah relevansi film ini hari ini. Bukan pada akurasi detailnya, melainkan pada kemampuannya membuka kembali percakapan yang sempat tertutup. Bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar selesai. Ia selalu hadir, diam-diam, dalam cara kita melihat dunia, dan dalam cara kita membayangkan kemungkinan untuk mengubahnya. 

Di antara fakta yang keras dan fiksi yang lembut pada film Surat Cinta untuk Kartini, kita menemukan bahwa perjuangan untuk kesetaraan adalah surat cinta yang masih terus kita tulis hingga hari ini. (Sal)

Perspektif

Scroll