Berabad-abad lamanya perdebatan tentang mana yang lebih dulu dan mana yang lebih berperan antara sains atau agama telah mengisi ruang pikiran dan ruang publik kita.
Namun, di tengah perdebatan itu, satu hal sering luput dari perhatian: bumi Nusantara dan planet kita sedang berada dalam kondisi ekologis yang semakin rapuh, sebagai konsekuensi dari penggunaan ilmu tanpa kebijaksanaan.
Maka, dalam konteks ini, kita perlu menengok kembali bagaimana sains itu sendiri bertumbuh dan dibentuk oleh pengalaman sejarah, kebudayaan, serta cara pandang manusia—terutama di tanah kita sendiri—bukan semata sebagai tiruan dari Barat, melainkan sebagai pengetahuan yang lahir dari proses panjang perjumpaan orang Nusantara dengan alam, waktu, dan kehidupan sehari-hari.
Sains Nusantara: Bukan Monopoli Barat
Seringkali narasi besar sejarah sains cenderung menempatkan Barat sebagai titik awal perkembangan ilmu. Padahal, tradisi ilmiah Nusantara sendiri telah berjalan jauh sebelum peta ilmuwan modern dibentangkan di Eropa.
Dalam bahasa Jawa, istilah niteni berarti “memperhatikan secara saksama, mencatat, dan mengingat”. Ini bukan sekadar pepatah, melainkan manifesto ilmiah leluhur kita: pengamatan cermat terhadap fenomena alam sebagai dasar pengetahuan.
Dalam kajian populer disebut sebagai Ilmu Titen, yang menempatkan alam sebagai laboratorium terbesar, di mana sawah, hutan, langit, dan perilaku makhluk hidup adalah objek penelitian. Ini bukan takhayul, melainkan bentuk awal sains observasional yang sistematis.
Etnoastronomi Nusantara: Bintang sebagai Guru
Pengetahuan tentang langit memiliki sejarah panjang di Nusantara. Para pelaut tradisional kita, seperti Bugis dan Madura, menggunakan pengetahuan bintang untuk navigasi laut jauh. Jauh sebelum kompas magnetik atau GPS ditemukan.
Mereka menggunakan rasi seperti Orion dan Polaris (dalam istilah lokal “Bintoeng Pajekkoe” dan “Bintoeng Balu”) untuk menentukan arah angin dan tujuan perjalanan, yang kemudian dikenal sebagai ilmu naujure.
Jejak ini tidak sekadar cerita, tetapi bukti observasi astronomi yang digunakan secara praktis dalam perdagangan maritim antara Nusantara dengan dunia sekitarnya sejak abad ke-7.
Lebih jauh lagi, penelitian arkeoastronomi menunjukkan hubungan antara struktur bangunan kuno Nusantara dan fenomena langit, seperti penyelarasan bangunan Borobudur dan Prambanan dengan posisi Matahari dan Bulan. Di Kalimantan Timur, contoh lain berupa gnomon tradisional digunakan untuk menentukan waktu dan musim pertanian. Sistem kalender tradisional seperti Pranoto Mongso di Jawa menunjukkan bahwa astronomi sudah terintegrasi dalam siklus kehidupan masyarakat.
Ketika Agama dan Sains Berkait, Bukan Berkonfrontasi
Perdebatan klasik sering terjebak dalam dikotomi: apakah agama atau sains yang lebih ‘benar’? Padahal, jalan menuju pemahaman yang utuh justru memerlukan dialog dan sinergi antara kedua wilayah tersebut.
Agama tanpa refleksi rasional dapat menjadi dogma kaku; sains tanpa landasan etis bisa menjadi alat destruktif. Kita menyaksikan bagaimana sains modern, ketika tergadai pada kepentingan politik dan kapital, turut berkontribusi pada krisis lingkungan global. Logos tanpa ethos kehilangan arah.
Sebaliknya, agama yang dipolitisasi menjadi kendaraan kekuasaan bisa mengaburkan makna spiritualnya sendiri dan menyisakan polarisasi sosial yang tajam. Karen Armstrong dalam banyak tulisannya menyatakan bagaimana mitos dan narasi religius berkembang berlebihan di Timur, menciptakan faksi yang tidak lagi membuka ruang dialog. Padahal agama, pada tataran terbaiknya, justru dapat menawarkan landasan moral bagi kerja sains yang bertanggung jawab.
Tradisi Nusantara: Sains dalam Budaya
Lebih jauh, tradisi Nusantara memperlihatkan bahwa sains tidak selalu hadir dalam wujud formal seperti laboratorium atau persamaan matematik dan fisika.
Misalnya, jamu sebagai obat herbal yang telah ada sejak era Kerajaan Mataram adalah bukti bagaimana pengetahuan tanaman dan farmakologi berkembang melalui tradisi empiris turun-temurun, meskipun banyak dipengaruhi juga oleh Ayurveda dari India.
Begitu pula situs prasejarah seperti Gunung Padang, yang diperkirakan berusia jauh lebih tua daripada yang selama ini dipahami oleh sejarah arkeologi konvensional. Walaupun kontroversial dalam usia dan interpretasinya, situs ini membuka pertanyaan besar tentang kemampuan observasi dan konstruksi kompleks masyarakat kuno Nusantara.
Manusia Wasathiyah: Antara Akal dan Cinta
Untuk membangun kembali harmoni antara sains dan agama, kita perlu mengadopsi sikap wasathiyah — keseimbangan. Pemikir seperti Iqbal menyarankan bahwa setelah pengalaman batin (Isyq), kita harus menguatkannya dengan penalaran (Ziraki).
Akal tidak boleh dilepaskan dari rasa, dan cinta tidak boleh terlepas dari realitas empiris. Dengan demikian, observasi tidak hanya menjadi teknik, tetapi juga etika; dan iman tidak lagi menjadi dogma tanpa memberi ruang dialog.
Penutup: Menyadari Akar Ilmu Kita Sendiri
Sebagai orang Nusantara, sesungguhnya kita memiliki tradisi ilmiah yang kaya — mulai dari niteni sebagai dasar observasi, navigasi bintang yang melintasi samudra, sampai arkeoastronomi yang tersemat dalam struktur budaya.
Kita bukan tabula rasa yang hanya menerima sains Barat. Kita sudah lama berdialog dengan alam semesta melalui cara yang khas dan lokal. Namun tantangan masa depan adalah bagaimana mengintegrasikan warisan ini dengan sains modern, sehingga keberlanjutan bumi bukan sekadar jargon, tetapi realitas hidup bersama. (Sal)