Pada 5 Mei 1979, sejarah musik Indonesia mencatat sebuah proklamasi budaya yang tak terduga. Majalah Tempo menurunkan laporan utama yang secara fenomenal menyebut tahun itu sebagai “Tahun Dangdut”. Sebuah pengakuan jujur atas berkuasanya aliran musik yang menggunakan instrumen tabla dan gendang ala India dengan bunyi khas “dang-ding-dut”. Laporan itu menjadi saksi bagaimana musik yang tumbuh dari rahim masyarakat pesisir dan pinggiran kota ini sedang berada di puncak kejayaannya, dipentaskan dengan gegap gempita di berbagai pelosok Tanah Air.
Apa yang sebenarnya terjadi di balik fenomena ini? Mengapa dangdut begitu dominan hingga mampu menaklukkan radio, televisi, diskotek, hingga industri rekaman nasional? Jawabannya terletak pada ledakan selera rakyat yang tak lagi bisa diabaikan oleh pasar maupun elite budaya. Pada 1979, dangdut bukan sekadar genre musik. Ia menjelma menjadi kekuatan sosial yang merajalela. Dipimpin oleh dua pilar utamanya, Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih, dangdut merambah hampir semua ruang publik, dari keriuhan pesta hajatan di desa-desa hingga panggung formal layar kaca.
Animo masyarakat terhadap musik ini tampak jelas, misalnya, pada Festival Dangdut se-Jakarta di Gedung Gelanggang Remaja, Jakarta Timur, April 1979. Lebih dari 5.000 orang berimpitan di dalam gedung yang kapasitas aslinya hanya untuk 2.000 penonton. Kehadiran Elvy Sukaesih yang mendendangkan empat lagu di sana menjadi bukti betapa magnet dangdut sudah melampaui logika daya tampung ruang fisik.
Industri pun bergerak cepat mengikuti arus deras ini. Presiden Direktur Yukawi, Leo Kusima, memperkirakan peredaran kaset dangdut saat itu mencapai jutaan keping per tahun. Bahkan rekaman Rhoma Irama Volume I yang dirilis sejak 1976 masih terus diburu kolektor dan pendengar baru. Para produsen kaset berlomba-lomba menggeber produksi. Label DD Records, contohnya, menunjukkan statistik yang mencengangkan. Dari 16 volume kaset yang mereka produksi, 11 di antaranya adalah kaset dangdut. Logika pasar bekerja dengan sederhana: ketika rakyat memilih dangdut, industri tak punya pilihan selain mengikuti irama tersebut.
Kekuatan pamor dangdut ini pada akhirnya menyeret para musisi pop hingga rock untuk ikut "hijrah". Banyak musisi yang sebelumnya menjaga “kemurnian” genre mereka akhirnya terpaksa menekuk cengkok dan berkompromi dengan pasar. Salah satu "korban" populisme dangdut ini adalah Ucok Harahap. Penyanyi yang dikenal dengan aksi panggungnya yang brutal itu terpaksa menggarap proyek “Rock Dangdut” bersama Duba Records. Begitu pula dengan Achmad Albar, ikon rock yang konon bercita-cita setia pada rock murni, akhirnya merilis album dangdut meski dengan embel-embel “warna lain”. Bahkan sosok Titi Qadarsih, yang sebelumnya dikenal cukup “anti-dangdut”, akhirnya luluh dan merilis dua album dangdut berjudul Gemes bersama DD Records.
Sebagian artis lain berpindah haluan dengan sukarela, meski tidak tanpa tantangan. Melky Goeslaw adalah salah satunya. Ia mendendangkan lagu-lagu seperti “Goyang-Goyang” dan “Syarifah Gadis Malaysia”. Namun, meski atas kemauan sendiri, Melky sempat mengeluh saat jatuh-bangun mengikuti lekukan irama dangdut yang rumit. “Orang yang beragama Kristen seperti saya ini pasti akan sulit menyanyi dangdut,” tuturnya. Sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa dangdut bukan sekadar teknik vokal, melainkan berkaitan erat dengan rasa dan latar budaya. Tren ini bahkan menyentuh Yok Koeswoyo dari Koes Plus yang ikut menyumbangkan lagu dangdut populer berjudul “Cubit-Cubitan”.
Menariknya, pesona dangdut juga merasuk ke dalam tembok-tembok kaku universitas. Di Universitas Indonesia, delapan mahasiswa membentuk grup Orkes Moral Pancaran Sinar Petromak (PSP). Awalnya sekadar iseng, namun setelah muncul di perayaan dwiwindu TVRI bersama Elvy Sukaesih, nama mereka melejit bak "lampu stromking". Menurut Direktur DD Records kala itu, Dodo Wirawan, kaset mereka terjual hingga 50 ribu keping hanya dalam sebulan.
Tak ketinggalan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta memiliki Jaran Goyang di Fakultas Teknik dan OM Jetset (Orkes Mahasiswa Jelek tapi Stil) di Fakultas Psikologi. Di Bandung pun muncul grup PHB. Sebagaimana PSP, mereka mengusung aliran “dangdut lucu” yang sederhana, santai, dan penuh banyolan. Fenomena ini membuktikan bahwa dangdut tidak lagi dianggap sebagai musik “kelas bawah”, melainkan ruang kreatif yang bisa ditertawakan sekaligus dirayakan oleh kaum intelektual.
Kegaduhan budaya ini memunculkan gagasan besar dari Guruh Soekarnoputra. Ia berharap dangdut bisa tumbuh dan dihormati secara global, mengikuti jejak tango, samba, atau bosanova. Guruh melihat potensi dangdut sebagai musik rakyat yang semula berada di strata bawah namun memiliki kekuatan untuk disukai orang di seantero jagat. Optimisme ini kemudian menemukan wajahnya pada sosok Abiem Ngesti, sang "Pangeran Dangdut" yang dahsyat.
Abiem adalah potret penyanyi cilik multitalenta yang lahir dari pasangan Wiwien Ngesti dan Yuli Ismawati. Sejak usia 5 tahun, ia konon sudah mampu menciptakan lagu. Karirnya yang merambah dari dangdut, slow rock, hingga rap, menunjukkan fleksibilitas dangdut yang sanggup menyesuaikan diri dengan zaman. Namun sejarah menutup kisahnya dengan tragis. Di usia yang baru menginjak 17 tahun, kecelakaan di Jalan Tol Cikampek merenggut nyawanya beserta ibu, adik, dan pamannya, meninggalkan lubang besar dalam regenerasi musik dangdut tanah air.
Melihat kembali 1979 dari kacamata hari ini, kita belajar bahwa dangdut bukan sekadar deretan nada, melainkan cermin perubahan sosial. Ia menunjukkan bagaimana selera rakyat mampu mengguncang struktur industri dan memaksa elite budaya untuk bernegosiasi. Dangdut menjadi bukti bahwa kebudayaan populer tidak selalu bergerak dari atas ke bawah. Seringkali ia meledak dari bawah, perlahan tapi pasti, hingga akhirnya tak terbendung.
Pertanyaannya kemudian, apakah tren musik digital dan viralitas media sosial saat ini hanyalah repetisi dari 'Tahun Dangdut' dalam kemasan baru? Jika 1979 menjadi saksi momen ketika rakyat merebut panggung fisik, maka hari ini panggung tersebut kembali diperebutkan melalui logika algoritma—kekuatan yang juga turut membesarkan fenomena Dangdut Koplo. Namun, satu hal yang pasti bahwa selera adalah arena kuasa. Sebuah palagan di mana budaya, ekonomi, dan identitas saling bertarung untuk menentukan arah zaman. (Red)