Virus Nipah dan Pelajaran Pasca-Covid: Antara Fatalitas Tinggi dan Waspada Terukur

Ketika gelombang kasus virus Nipah (NiV) kembali muncul di India, keputusan pemerintah Indonesia...

Virus Nipah dan Pelajaran Pasca-Covid: Antara Fatalitas Tinggi dan Waspada Terukur

Politik
29 Jan 2026
547 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Virus Nipah dan Pelajaran Pasca-Covid: Antara Fatalitas Tinggi dan Waspada Terukur

Ketika gelombang kasus virus Nipah (NiV) kembali muncul di India, keputusan pemerintah Indonesia untuk tidak menutup perbatasan menjadi sorotan publik dan media. Berbeda dengan respons global awal pandemi COVID-19, pendekatan pemerintah kini lebih menekankan kesiapsiagaan medis.

“Belum ada penutupan perbatasan karena rekomendasi WHO menyebutkan jumlah yang terkena masih sangat sedikit,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam kunjungan kerja ke Rumah Sakit Kardiologi Emirat–Indonesia (RS KEI) di Solo, Jawa Tengah, Kamis (29/1/2026).

Keputusan itu sejalan dengan penilaian WHO bahwa kasus NiV yang terkonfirmasi masih terbatas di wilayah tertentu, meski kewaspadaan global meningkat, terutama di negara-negara Asia yang memperketat skrining di bandara dan pintu masuk. 

Menurut WHO, virus Nipah adalah penyakit zoonotik yang bisa menyebar dari hewan ke manusia, melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi seperti kelelawar buah (Pteropus spp.) atau melalui makanan yang terkontaminasi air liur atau urin mereka. Virus juga dapat menular antar manusia melalui kontak dekat. 

WHO mencatat bahwa infeksi manusia bisa bervariasi dari tanpa gejala hingga infeksi saluran pernapasan berat dan ensefalitis fatal (radang otak). Tingkat kematian dalam wabah yang tercatat mencapai antara 40 hingga 75 persen, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19. 

Keterangan langsung dari organisasi kesehatan dunia memperjelas ancaman ini. “Nipah virus infection, causes a range of clinical presentations, and can be transmitted from animals to humans and between people. There is no vaccine or specific treatment available, and case fatality is high.” — World Health Organization 

Menurut beberapa pakar epidemiologi, “Virus Nipah jauh lebih sulit menyebar secara luas dibandingkan COVID-19, tetapi ketika infeksi terjadi, dampaknya bisa jauh lebih parah karena tingkat kematian yang tinggi dan belum adanya obat khusus,” ujar Dr. Anita Prabowo, ahli epidemiologi infeksi zoonotik di Universitas Indonesia. 

Untuk dapat memahami ancaman NiV secara lebih proporsional, perlu kita bandingkan dengan SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19:

1. Tingkat Penularan Virus Nipah

COVID-19 dikenal menyebar sangat cepat dari orang ke orang melalui droplet dan aerosol, termasuk dari orang tanpa gejala. Hal ini menyebabkan pandemi global yang hampir melumpuhkan dunia pada 2020-2022.

Sebaliknya, Nipah tidak menular seefisien COVID-19. Penularannya biasanya terjadi melalui kontak dekat atau melalui sumber hewan yang terinfeksi, bukan lewat transmisi udara jangka jauh seperti SARS-CoV-2. 

2. Tingkat Fatalitas Virus Nipah 

COVID-19 memiliki fatalitas global sekitar <3% secara keseluruhan, walaupun lebih tinggi pada kelompok rentan seperti lansia dan komorbid. NiV memiliki fatalitas jauh lebih tinggi, sering dilaporkan mencapai 40-75 persen tergantung respon medis dan kapasitas deteksi lokal. 

3. Ketersediaan Vaksin dan Pengobatan

COVID-19 kini memiliki beberapa vaksin efektif dan terapi antivirus yang terbukti mengurangi keparahan penyakit. Nipah, di sisi lain, belum memiliki vaksin atau obat khusus yang disetujui untuk pencegahan maupun pengobatan. Fokus utama penanganannya saat ini hanya pada perawatan suportif dan pencegahan penularan. 

4. Sistem Surveilans dan Tanggap Cepat

Pengalaman pandemi COVID-19 memperkuat kapasitas laboratorium dan sistem surveilans di banyak negara termasuk Indonesia. Pemerintah kini rutin melakukan skrining PCR untuk mendeteksi berbagai patogen, termasuk NiV.

“Pemeriksaan PCR yang kita pakai untuk Covid-19 juga bisa dipakai untuk Nipah,” kata Budi. “Jika ditemukan kasus yang dicurigai, reagen kami siap didistribusikan ke laboratorium seluruh daerah.”

Pemerintah Indonesia berfokus pada surveilans dini dan kesiapan respons cepat daripada penutupan perbatasan. Selain itu, imbauan kepada masyarakat menjadi bagian penting dari strategi ini.

Menteri Budi mengingatkan “Kalau makan buah, sebaiknya dikupas sendiri supaya bisa dilihat kondisinya. Atau pilih makanan yang dimasak.” Imbauan ini sejalan dengan pedoman pencegahan WHO yang menekankan penghindaran terhadap makanan yang mungkin terkontaminasi oleh kelelawar atau hewan lain yang menjadi reservoir virus. 

Virus Nipah, dengan fatalitas yang tinggi dan potensi epidemiologis yang serius, menjadi ujian berikutnya bagi kesiapsiagaan kesehatan global di era pascapandemi. Dibandingkan COVID-19, ancamannya berbeda. Tetapi lebih mematikan meski kurang tidak mudah menyebar. Sebagaimana WHO menilai NiV sebagai prioritas dalam R&D Blueprint mereka karena potensi dampaknya jika tidak tertangani dengan cepat.

Ancaman berbagai penyakit menular tidak pernah hilang. Namun pelajaran dari COVID-19 mengajarkan bahwa pengetahuan ilmiah, kesiapsiagaan sistem kesehatan, dan perubahan perilaku masyarakat adalah pertahanan terbaik kita. Ketika virus-virus zoonotik bermunculan dari interaksi manusia-hewan, yang dibutuhkan bukan panik, tetapi kolaborasi global, sistem deteksi cepat, dan kebijakan yang seimbang antara kesehatan masyarakat dan mobilitas sosial. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll