Menjaga Anak Tetap Bergerak di Tengah Dunia yang Serba Digital

Di tengah semakin kuatnya pengaruh teknologi dalam kehidupan sehari-hari, sejumlah orang tua mulai...

Menjaga Anak Tetap Bergerak di Tengah Dunia yang Serba Digital

Eduka
25 Jun 2026
192 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Menjaga Anak Tetap Bergerak di Tengah Dunia yang Serba Digital

Di tengah semakin kuatnya pengaruh teknologi dalam kehidupan sehari-hari, sejumlah orang tua mulai mencari aktivitas yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu mendukung tumbuh kembang fisik, sosial, dan emosional anak. Tren tersebut mendorong munculnya berbagai ruang bermain interaktif yang memadukan teknologi dengan aktivitas fisik sebagai respons terhadap tantangan generasi Alpha yang tumbuh berdampingan dengan layar digital.

Selama bertahun-tahun, pencapaian akademik kerap menjadi ukuran utama keberhasilan tumbuh kembang anak. Kursus tambahan, target nilai sekolah, hingga kemampuan membaca dan berhitung sejak usia dini sering kali mendapat perhatian lebih besar dibandingkan perkembangan motorik dan kemampuan sosial.

Namun, di tengah meningkatnya penggunaan gawai pada anak-anak, sebagian orang tua mulai menyadari pentingnya keseimbangan antara kecerdasan kognitif dan aktivitas fisik. Bermain tidak lagi dipandang sekadar sebagai hiburan, melainkan bagian dari proses belajar yang membantu anak mengenali lingkungan, berinteraksi dengan orang lain, dan membangun karakter.

Fenomena tersebut melahirkan berbagai konsep ruang bermain baru. Salah satunya adalah Wonderlab yang resmi dibuka di Senayan City, Jakarta, pada pertengahan Juni 2026. Wahana seluas 1.405 meter persegi itu mengusung konsep permainan berbasis teknologi mekatronik yang memadukan unsur audio, visual, pencahayaan, serta tantangan interaktif yang mengajak anak untuk bergerak dan berkolaborasi.

Co-Founder sekaligus President Director Wonderlab, Belinda Luis, menilai perkembangan fisik anak selama ini cenderung kurang mendapat perhatian dibandingkan aspek akademik. "Saat ini terlalu banyak fokus diberikan pada perkembangan akademik, sementara perkembangan fisik yang membentuk ketangguhan dan karakter anak justru sering diabaikan," ujar Belinda dalam peluncuran Wonderlab di Jakarta, 15 Juni 2026.

Menurut Belinda, aktivitas bergerak membantu anak membangun keberanian, rasa percaya diri, serta kemampuan beradaptasi ketika menghadapi tantangan. Pandangan serupa disampaikan Co-Founder dan Creative Director Wonderlab, Christian Melvin. Ia mengatakan teknologi yang digunakan tidak dimaksudkan untuk menjadikan anak sebagai penonton pasif, melainkan sarana agar mereka tetap aktif bergerak dan memecahkan masalah bersama.

"Kami mengombinasikan sensory experience melalui audio, visual, lighting, dan berbagai tantangan interaktif. Jadi anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga diajak berinteraksi dan memecahkan tantangan bersama," kata Christian. Sejumlah permainan bahkan dirancang agar anak tidak bermain sendiri. Mereka didorong bekerja sama dengan pengunjung lain untuk menyelesaikan tantangan tertentu, sehingga kemampuan komunikasi dan kolaborasi turut terasah.

Di balik munculnya konsep ruang bermain modern, terdapat kekhawatiran yang semakin sering disuarakan para orang tua dan pemerhati pendidikan mengenai meningkatnya ketergantungan anak terhadap perangkat digital. Berbagai diskusi di komunitas orang tua menunjukkan fenomena "iPad Kids" dan konsumsi konten digital yang berlebihan menjadi perhatian tersendiri. Sebagian orang tua mengaku kesulitan membatasi waktu layar anak, terutama setelah kebiasaan digital semakin menguat sejak masa pandemi.

Di sisi lain, perkembangan teknologi memang tidak bisa dihindari. Karena itu, sejumlah pihak menilai pendekatan yang lebih realistis bukanlah menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi, melainkan menciptakan pengalaman yang membuat teknologi hadir sebagai alat pendukung aktivitas fisik dan kreativitas.

Kementerian Ekonomi Kreatif bahkan menilai ruang pengalaman imersif seperti ini dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif sekaligus mendukung tumbuh kembang generasi muda. "Ketika industri kreatif lokal mampu menerjemahkan kreativitas menjadi ruang fisik imersif seperti ini, kita tidak hanya menciptakan nilai ekonomi baru, tetapi juga membangun tempat di mana generasi masa depan kita bisa tumbuh tangguh dan adaptif," ujar Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya.

Meski demikian, tidak semua kalangan memandang tren tersebut tanpa catatan kritis. Pengamat pendidikan dan psikologi anak selama ini mengingatkan bahwa perkembangan anak tidak selalu harus bergantung pada fasilitas modern yang mahal. Ruang terbuka, permainan tradisional, olahraga bersama, hingga interaksi sederhana di lingkungan sekitar tetap memiliki nilai edukatif yang sama pentingnya.

Artinya, kehadiran teknologi seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti pengalaman bermain yang alami. Selain menjadi sarana eksplorasi, aktivitas bermain juga dinilai memperkuat hubungan emosional antara anak dan orang tua. Belinda mengungkapkan bahwa banyak orang tua yang ikut mendampingi bahkan bermain bersama anak ketika mencoba berbagai tantangan.

"Ada yang membantu dari titik awal sampai akhir, ada juga yang ikut bermain bersama. Momen seperti itu menciptakan bonding antara orang tua dan anak," ujarnya.

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi layar dan algoritma, mungkin yang paling dibutuhkan anak bukanlah teknologi yang lebih canggih, melainkan ruang yang memungkinkan mereka berlari, tertawa, jatuh, bangkit, dan berbagi pengalaman dengan orang lain.

Sebab masa kanak-kanak bukan hanya tentang seberapa cepat mereka mampu membaca atau menguasai teknologi. Masa itu juga tentang keberanian mencoba, kegembiraan menemukan hal-hal baru, dan kenangan sederhana ketika tangan kecil mereka masih menggenggam tangan orang tua saat melewati sebuah tantangan.

Di tengah derasnya arus digital, bermain sesungguhnya bukan sekadar jeda dari belajar. Bermain adalah cara anak memahami dunia, sementara kehadiran orang tua di dalamnya menjadi pelajaran yang paling lama mereka ingat. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll