Batam Gandeng Kampus Korea Selatan, Mampukah Menjawab Kebutuhan SDM Industri Masa Depan?

Pemerintah Kota Batam mulai menjajaki kerja sama pendidikan vokasi dengan Jeonju Vision College...

Batam Gandeng Kampus Korea Selatan, Mampukah Menjawab Kebutuhan SDM Industri Masa Depan?

Eduka
28 Jul 2026
81 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Batam Gandeng Kampus Korea Selatan, Mampukah Menjawab Kebutuhan SDM Industri Masa Depan?

Pemerintah Kota Batam mulai menjajaki kerja sama pendidikan vokasi dengan Jeonju Vision College dari Korea Selatan sebagai upaya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu memenuhi kebutuhan industri yang terus berkembang. Penjajakan tersebut berlangsung saat Wali Kota Batam Amsakar Achmad menerima audiensi Traverse Edu bersama delegasi Jeonju Vision College di Kantor Wali Kota Batam, Senin (27/7/2026). Program yang ditawarkan meliputi beasiswa, kesempatan kuliah sambil bekerja paruh waktu di Korea Selatan, pelatihan bahasa, hingga dukungan penempatan kerja setelah lulus. Langkah ini dilakukan di tengah pesatnya pertumbuhan investasi dan transformasi Batam menuju pusat industri berteknologi tinggi.

Penjajakan kerja sama tersebut tidak sekadar membuka akses pendidikan luar negeri, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam menjawab tantangan kekurangan tenaga kerja terampil di sektor industri. Batam kini berkembang tidak hanya sebagai kawasan manufaktur dan galangan kapal, tetapi juga menuju pusat ekonomi digital, data center, industri dirgantara, energi baru terbarukan, hingga logistik internasional.

Dalam pertemuan itu, delegasi Jeonju Vision College memperkenalkan kampus vokasi yang berlokasi di Kota Jeonju, Korea Selatan. Perguruan tinggi tersebut memiliki sekitar 3.000 mahasiswa dari berbagai negara dan menerapkan kurikulum yang disusun bersama dunia industri sehingga lulusannya diharapkan lebih siap memasuki pasar kerja.

Wali Kota Batam Amsakar Achmad menilai kolaborasi internasional menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kualitas SDM daerah seiring semakin derasnya investasi yang masuk. "Terima kasih atas kunjungan ini. Kami menyambut baik setiap bentuk kolaborasi yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia," kata Amsakar.

Menurutnya, posisi Batam sebagai kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone/FTZ) yang berbatasan langsung dengan Singapura memberikan peluang sekaligus tantangan. Kota ini kini memiliki empat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yakni Nongsa Digital Park, Batam Aero Technic, Tanjung Sauh, dan KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam. Di sisi lain, kawasan ini juga didukung puluhan kawasan industri yang terus berkembang sehingga membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi yang semakin spesifik.

Amsakar mengatakan sektor yang diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi Batam ke depan antara lain industri galangan kapal, teknologi informasi, pusat data (data center), maintenance, repair and overhaul (MRO) pesawat, hingga energi baru dan terbarukan.

"Potensi industri Batam sangat besar. Karena itu, kami membutuhkan tenaga kerja yang benar-benar siap memasuki dunia kerja. Saya meyakini Jeonju Vision College dapat menjadi salah satu mitra strategis dalam mencetak SDM unggul yang sesuai dengan kebutuhan industri di Batam," ujarnya.

Optimisme tersebut sejalan dengan perkembangan investasi di Batam. Pemerintah pusat bahkan menempatkan Batam sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional dan gerbang investasi global. Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah juga mempercepat pengembangan kawasan industri baru, termasuk KEK Tanjung Sauh yang diproyeksikan menjadi pusat investasi dan manufaktur baru. Sementara itu, industri pusat data di Batam dilaporkan tumbuh sekitar 22 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Kondisi ini diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan digital dan teknologi tinggi.

Dari pihak Korea Selatan, President Jeonju Vision College, Woo Byung-hun, menyampaikan bahwa kampusnya telah memiliki pengalaman menerima mahasiswa asal Indonesia. Kurikulumnya dikembangkan sesuai kebutuhan industri, terutama pada bidang perkapalan, mesin, otomotif, serta energi baru terbarukan seperti tenaga angin dan tenaga surya.

"Kami ingin memberikan kesempatan kepada putra-putri Batam untuk belajar di Korea Selatan melalui program beasiswa, kuliah sambil bekerja paruh waktu, mendapatkan pelatihan bahasa, hingga dipersiapkan agar dapat bekerja secara profesional setelah lulus. Kami berharap program ini juga dapat mendukung perkembangan industri di Batam melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia," ujar Woo Byung-hun.

Sebagai tahap awal, Jeonju Vision College membuka peluang bagi sekitar 20 hingga 30 peserta asal Batam untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan melalui skema beasiswa. Program tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi kerja sama pendidikan yang lebih luas antara kedua pihak.

Meski demikian, sejumlah pengamat pendidikan vokasi selama ini mengingatkan bahwa kerja sama internasional tidak otomatis menghasilkan SDM yang kompetitif apabila tidak dibarengi penyelarasan kurikulum, penguasaan bahasa asing, sertifikasi kompetensi, serta kepastian penyerapan lulusan di dunia kerja. Tantangan terbesar bukan hanya mengirim mahasiswa belajar ke luar negeri, melainkan memastikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh benar-benar kembali memberi nilai tambah bagi industri di Batam. Prinsip link and match antara pendidikan dan kebutuhan industri menjadi faktor penentu keberhasilan program semacam ini.

Karena itu, penjajakan kerja sama ini sebaiknya tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau pemberian beasiswa semata. Keberhasilannya baru dapat diukur ketika lahir lulusan yang memiliki kompetensi global, terserap di sektor-sektor strategis, bahkan mampu menjadi penggerak inovasi di daerahnya sendiri. 

Di tengah persaingan investasi yang semakin ketat, Batam tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan modal, tetapi juga talenta yang mampu menjawab kebutuhan industri masa depan. Karena itu, kualitas sumber daya manusialah yang akan menentukan apakah Batam sekadar menjadi lokasi investasi, atau benar-benar tumbuh sebagai pusat ekonomi berdaya saing global. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll