Pemanasan laut yang terjadi secara bersamaan di berbagai wilayah Samudra Pasifik memicu kekhawatiran para ilmuwan terhadap kemungkinan munculnya Super El Nino pada 2026. Fenomena yang terpantau sejak April hingga awal Juni itu tidak hanya ditandai oleh menguatnya El Nino, tetapi juga kemunculan gelombang Kelvin bawah laut, marine heatwave atau gelombang panas laut, serta pola "cincin hangat" yang belum pernah teramati sekuat sekarang dalam empat dekade terakhir. Para peneliti memperingatkan bahwa kombinasi sejumlah anomali tersebut berpotensi mempercepat perubahan iklim global dan meningkatkan risiko cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Berbeda dengan peristiwa El Nino pada umumnya yang dipicu oleh satu mekanisme dominan, kondisi tahun 2026 menunjukkan adanya beberapa fenomena yang terjadi secara bersamaan. Inilah yang membuat sejumlah ilmuwan menilai situasi saat ini lebih kompleks dibandingkan peristiwa El Nino sebelumnya.
Peneliti iklim dari BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa pemanasan bawah permukaan laut atau subsurface warming yang kini terjadi memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang Super El Nino 1997–1998, salah satu peristiwa iklim terkuat dalam sejarah modern. Menurut Erma, pemanasan bawah laut tersebut tidak datang sendirian. Di saat yang sama, Samudra Pasifik juga mengalami pergerakan cepat Gelombang Kelvin, yakni gelombang panas yang bergerak dari barat ke timur di sepanjang wilayah ekuator.
“Berdasarkan evolusi waktunya, dorongan dari gelombang Kelvin membuat perubahan iklim yang lebih cepat dibanding kondisi pada umumnya,” ujar Erma. Gelombang Kelvin memiliki peran penting dalam perkembangan El Nino karena membawa cadangan panas dari lapisan bawah laut menuju permukaan. Ketika panas tersebut muncul ke permukaan, suhu laut meningkat lebih cepat dan memperkuat fenomena El Nino.
Tidak hanya itu, para peneliti juga mencatat keberadaan fenomena Blob, yaitu area laut dengan suhu jauh lebih panas dibandingkan kondisi normal. Fenomena ini merupakan bagian dari marine heatwave atau gelombang panas laut yang kini semakin sering terjadi akibat meningkatnya suhu global.
Data terbaru dari NOAA menunjukkan bahwa cakupan gelombang panas laut global diperkirakan terus meningkat sepanjang 2026. Di kawasan Pasifik tropis bagian timur, peluang terjadinya gelombang panas laut mencapai 60 hingga 80 persen, sejalan dengan perkembangan El Nino.
Menurut Erma, kondisi saat ini seolah menggabungkan karakteristik dua peristiwa iklim besar sekaligus. Jika Super El Nino 1997 didominasi pemanasan bawah permukaan laut, maka pada 2015 dunia juga menyaksikan lonjakan marine heatwave yang signifikan. Lalu yang terjadi pada 2026 ini bukan hanya single phenomenon, tetapi multi-phenomenon. Ada El Nino yang intensitasnya menguat secara cepat, diperparah pergerakan gelombang Kelvin dan Blob.
Kekhawatiran serupa juga muncul dari lembaga-lembaga iklim internasional. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan peluang berkembangnya El Nino pada periode Juni–Agustus 2026 telah mencapai sekitar 80 persen, dan peluang bertahannya hingga November mendekati 90 persen. WMO juga menegaskan bahwa suhu laut yang hangat di Pasifik tropis menjadi bahan bakar utama perkembangan fenomena tersebut.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengingatkan bahwa kekuatan El Nino tidak pernah ditentukan oleh satu faktor tunggal. “Banyak sekali faktor yang berperan,” ujarnya. Pernyataannya memperkuat pandangan bahwa perkembangan El Nino 2026 harus dilihat sebagai hasil interaksi berbagai proses di atmosfer dan lautan, bukan sekadar kenaikan suhu laut di satu wilayah tertentu.
Sementara itu, Peneliti Ahli Utama BRIN, Widodo Setiyo Nugroho, mengungkapkan adanya fenomena lain yang menarik perhatian para ilmuwan. Sejumlah penelitian terbaru mendeteksi anomali suhu permukaan laut yang muncul secara bersamaan di tiga wilayah berbeda, yakni Pasifik barat dekat Indonesia, Pasifik timur laut dekat Amerika Tengah, dan Pasifik tenggara di dekat Amerika Selatan.
Ketiga wilayah panas tersebut membentuk pola yang disebut sebagai "cincin hangat" (warm ring), mengelilingi area Pasifik tengah yang seharusnya relatif lebih dingin. “Pola yang belum pernah teramati sekuat ini dalam 40 tahun terakhir,” kata Widodo. Temuan ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa pemanasan laut tidak lagi terkonsentrasi di satu titik, melainkan meluas ke berbagai kawasan samudra secara bersamaan.
Namun demikian, tidak semua ilmuwan sepenuhnya sepakat bahwa dunia akan menghadapi Super El Nino dengan kekuatan setara atau bahkan melampaui 1997–1998. Beberapa studi pemodelan iklim masih menunjukkan tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi terkait intensitas akhirnya. Sebagian peneliti menilai El Nino memang kemungkinan besar terbentuk, tetapi kekuatannya masih dapat berubah seiring perkembangan kondisi atmosfer dalam beberapa bulan ke depan.
Pandangan yang lebih hati-hati ini penting agar publik tidak terjebak pada kesimpulan yang terlalu dini. Dalam ilmu iklim, prediksi selalu mengandung unsur probabilitas. Yang dapat dipastikan saat ini adalah meningkatnya peluang terjadinya El Nino kuat, bukan kepastian bahwa skenario terburuk pasti akan terjadi.
Meski demikian, banyak lembaga internasional mulai mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk bersiap menghadapi berbagai dampak yang mungkin muncul. WMO memperkirakan El Nino dapat meningkatkan risiko gelombang panas, kekeringan, gangguan produksi pangan, krisis air, hingga cuaca ekstrem di berbagai kawasan dunia. Perubahan pola curah hujan juga berpotensi memengaruhi wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Bagi Indonesia, ancaman terbesar biasanya berupa musim kemarau yang lebih panjang, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, berkurangnya ketersediaan air bersih, serta tekanan terhadap sektor pertanian. Dampak tersebut dapat semakin berat apabila El Nino bertemu dengan tren pemanasan global yang terus berlangsung. Situasi 2026 terasa berbeda bukan hanya kemungkinan hadirnya El Nino yang semakin kuat, kenyataan bahwa lautan tampak sedang memanas dari banyak arah sekaligus.
Lautan yang selama ini berfungsi sebagai penyerap panas terbesar Bumi kini memperlihatkan gejala yang semakin tidak biasa. Barangkali inilah pesan paling penting dari perkembangan terbaru tersebut. Ancaman iklim masa depan tidak lagi datang sebagai satu peristiwa tunggal yang berdiri sendiri. Ia hadir sebagai rangkaian fenomena yang saling memperkuat, saling memicu, dan membentuk risiko yang lebih kompleks.
Ketika para ilmuwan berbicara tentang Gelombang Kelvin, marine heatwave, atau cincin hangat di Samudra Pasifik, yang sesungguhnya terjadi adalah perubahan besar dalam sistem penyangga kehidupan planet ini. Pertanyaannya bukan lagi apakah iklim sedang berubah, melainkan seberapa siap manusia memahami tanda-tandanya dan bertindak sebelum dampaknya menjadi lebih mahal untuk ditanggung oleh kita semua. (Red)