Demi Rafflesia, Wisatawan Lansia Malaysia Taklukkan Bukit Tabir Anambas, Ekowisata yang Menantang Sekaligus Rentan

Sebanyak 17 wisatawan mancanegara asal Malaysia yang mayoritas berusia di atas 60 tahun berhasil...

Demi Rafflesia, Wisatawan Lansia Malaysia Taklukkan Bukit Tabir Anambas, Ekowisata yang Menantang Sekaligus Rentan

Travel
13 Jul 2026
465 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Demi Rafflesia, Wisatawan Lansia Malaysia Taklukkan Bukit Tabir Anambas, Ekowisata yang Menantang Sekaligus Rentan

Sebanyak 17 wisatawan mancanegara asal Malaysia yang mayoritas berusia di atas 60 tahun berhasil menaklukkan jalur pendakian Bukit Tabir, Desa Tarempa Selatan, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, Minggu (12/7/2026). Dengan bantuan tongkat dan semangat kebersamaan, mereka menempuh perjalanan sekitar 40 menit melintasi tanjakan, turunan curam, bebatuan, dan akar-akar pohon demi menyaksikan mekarnya bunga Rafflesia di habitat alaminya. Rombongan tersebut turut didampingi Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, sebagai bentuk penyambutan terhadap wisatawan mancanegara yang datang menikmati kekayaan alam daerah perbatasan Indonesia itu.

Pemandangan yang paling mencuri perhatian bukan hanya bunga Rafflesia, melainkan kegigihan para wisatawan lansia yang dijuluki "Pasukan Bertongkat". Sebagian menggunakan tongkat berbahan stainless yang memang biasa dipakai saat berjalan, sementara lainnya memanfaatkan dahan pohon yang ditemukan di sekitar jalur pendakian sebagai alat bantu.

Meski beberapa anggota rombongan mengaku mengalami nyeri lutut dan pinggul, mereka tetap melangkah perlahan. Sesekali rombongan berhenti untuk mengatur napas, minum, lalu kembali melanjutkan perjalanan sambil saling memberi semangat agar seluruh anggota dapat mencapai lokasi bunga langka tersebut.

Ketua rombongan wisatawan Malaysia, Makcik Orked, mengaku hampir membatalkan pendakian karena mempertimbangkan kondisi fisiknya. "Awalnya memang tidak mau ikut naik ke dalam. Cuma dipaksa sama kawan-kawan, mau tidak mau ikut. Tapi ada satu rekan yang memang tak ikut karena kondisi kesehatan," ujarnya.

Baginya, perjalanan ke Anambas menjadi kesempatan pertama melihat langsung bunga Rafflesia. Selama ini, bunga tersebut hanya dikenalnya melalui tayangan televisi dan internet.

Menurut Makcik Orked, meski Malaysia juga memiliki habitat Rafflesia, terutama di Sabah, pengalaman di Anambas memberikan kesan berbeda. “Alhamdulillah di umur yang sudah senja ini, kami masih diberi kesempatan melihat langsung bunga Rafflesia. Ini menjadi satu keistimewaan dan pengalaman yang tidak akan kami lupakan.”

Ia tidak menampik medan menuju lokasi cukup menguras tenaga. “Apalagi kami ini semua sudah usia senja. Tadi banyak berhenti di jalan untuk mengatur napas dan minum sebelum melanjutkan perjalanan.”

Namun seluruh rasa lelah terbayar ketika mereka akhirnya tiba di lokasi dan menyaksikan bunga Rafflesia yang sedang mekar di tengah hutan. Makcik Orked bahkan berjanji akan memperkenalkan Anambas kepada komunitas wisata di negaranya. “Nanti kami akan ceritakan kepada teman-teman di Malaysia bahwa Anambas bukan hanya memiliki pantai yang indah, tetapi juga punya Rafflesia yang luar biasa. Mudah-mudahan semakin ramai yang datang ke sini.”

Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, mengaku terkesan dengan semangat para wisatawan tersebut. “Saya salut dengan semangat rombongan dari Malaysia. Walaupun usia sudah tidak muda dan sebagian harus menggunakan tongkat, mereka tetap bertekad sampai ke lokasi Rafflesia. Semangat seperti ini patut diapresiasi.”

Menurut Aneng, keberadaan Rafflesia menjadi salah satu aset penting yang dapat memperkuat posisi Anambas sebagai destinasi ekowisata berbasis keanekaragaman hayati. Optimisme itu sejalan dengan berbagai upaya pemerintah daerah memperkenalkan Bukit Tabir sebagai destinasi wisata alam baru. Pada Juni 2026, pemerintah daerah bersama insan pers juga melakukan peninjauan kawasan Rafflesia sebagai bagian dari promosi sekaligus kampanye pelestarian lingkungan.

Meningkatnya minat wisatawan juga menghadirkan tantangan baru. Penelitian yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Forestry Research pada 2026 mengidentifikasi keberadaan populasi Rafflesia di Kepulauan Anambas dan menyerukan perlindungan habitatnya karena spesies ini sangat bergantung pada kondisi hutan yang tetap alami. Kerusakan vegetasi, perubahan tutupan lahan, maupun aktivitas wisata yang tidak terkendali berpotensi mengganggu kelangsungan hidup bunga tersebut.

Pandangan ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Kehutanan yang belakangan semakin menekankan prinsip "ecological before tourism". Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan bahwa pengembangan pariwisata alam harus menempatkan perlindungan ekosistem sebagai prioritas utama. Dalam konteks kawasan konservasi lain seperti Taman Nasional Komodo, pemerintah bahkan menerapkan pembatasan jumlah pengunjung.

"Keputusan kami membatasi kuota turis didasarkan pada riset yang menunjukkan bahwa jika terjadi over tourism dalam jangka panjang, akan berakibat pada kerusakan kawasan dan hilangnya daya tarik wisata itu sendiri," kata Raja Juli Antoni. Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan promosi wisata tidak hanya diukur dari meningkatnya jumlah pengunjung, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi dan kelestarian alam.

Dari sisi ekonomi, pengembangan wisata berkualitas memang menjadi salah satu strategi yang tengah didorong di wilayah perbatasan Kepulauan Riau. Bank Indonesia Perwakilan Kepulauan Riau menilai pengembangan destinasi seperti Anambas berpotensi memperkuat ekonomi lokal apabila dikelola secara berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Perjalanan "Pasukan Bertongkat" dari Malaysia akhirnya menjadi lebih dari sekadar kisah wisata. Dengan langkah-langkahnya yang perlahan para lansia menembus jalur hutan Bukit Tabir, tersimpan pesan bahwa keindahan alam masih mampu menggerakkan orang untuk menempuh perjalanan yang tidak mudah.

Namun semakin banyak orang yang datang menyaksikan keajaiban Rafflesia, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaganya. Sebab daya tarik sesungguhnya bukan hanya terletak pada mekarnya bunga terbesar di dunia, melainkan pada kemampuan manusia memastikan bunga itu tetap tumbuh liar di habitatnya, sehingga generasi berikutnya masih dapat menyaksikan keajaiban yang sama. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll