Tiket Kapal dari Batam Ludes, Pelni Bantah Praktik Pemborongan Calo di Tengah Lonjakan Permintaan

Seluruh tiket kapal penumpang PT Pelni (Persero) untuk sejumlah keberangkatan dari Batam dilaporkan...

Tiket Kapal dari Batam Ludes, Pelni Bantah Praktik Pemborongan Calo di Tengah Lonjakan Permintaan

Travel
25 Jun 2026
243 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Tiket Kapal dari Batam Ludes, Pelni Bantah Praktik Pemborongan Calo di Tengah Lonjakan Permintaan

Seluruh tiket kapal penumpang PT Pelni (Persero) untuk sejumlah keberangkatan dari Batam dilaporkan habis terjual dalam waktu singkat. Tingginya permintaan perjalanan laut pada musim liburan dan mobilitas pertengahan tahun memicu munculnya isu praktik percaloan dan pemborongan tiket. Namun, PT Pelni Cabang Batam menegaskan seluruh tiket telah terjual melalui sistem daring resmi dan tidak ditemukan indikasi penimbunan tiket oleh pihak tertentu.

Fenomena habisnya tiket kapal dari Batam kembali memperlihatkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap transportasi laut, terutama untuk rute-rute utama menuju Sumatera dan Pulau Jawa. Di saat permintaan melonjak, ruang bagi spekulasi dan dugaan praktik percaloan pun ikut muncul.

Kepala Operasional PT Pelni Cabang Batam, Mulyadi, memastikan seluruh kuota tiket, termasuk tiket non-seat yang sempat dibuka beberapa hari terakhir, telah habis terjual melalui kanal resmi perusahaan.

"Benar, tiket sudah habis terjual dan tidak tersedia lagi di internet," kata Mulyadi. Ia membantah anggapan bahwa kelangkaan tiket disebabkan oleh aksi pemborongan yang dilakukan calo. Menurutnya, sistem penjualan tiket Pelni saat ini telah berbasis digital sehingga setiap transaksi tercatat dan dapat dipantau secara langsung. "Jangan percaya dengan iming-iming calo. Tiket non-seat juga kami jual secara online sejak beberapa hari lalu sampai tadi pagi sekitar pukul 08.00 WIB dan semuanya sudah habis terjual," ujarnya.

Pelni juga memastikan tidak akan membuka tambahan kuota tiket untuk penjualan umum. Perusahaan hanya menyisakan sekitar 20 tiket yang diperuntukkan bagi kebutuhan darurat atau kondisi mendesak yang memerlukan pertimbangan khusus. "Sudah habis semua. Kami hanya menyisakan sekitar 20 tiket untuk kebutuhan darurat atau kondisi mendesak di lapangan," kata Mulyadi.

Meski demikian, isu percaloan belum sepenuhnya mereda. Sejumlah calon penumpang mengaku masih menerima tawaran tiket dari pihak tidak resmi dengan harga yang jauh lebih tinggi dibanding tarif normal. Beberapa bahkan mengklaim harga yang ditawarkan bisa mencapai dua kali lipat dari harga resmi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa praktik percaloan tidak selalu berkaitan dengan pembelian massal tiket melalui sistem resmi. Dalam banyak kasus, calo memanfaatkan kepanikan calon penumpang yang gagal memperoleh tiket dengan menawarkan jasa perantara, informasi yang menyesatkan, atau bahkan tiket yang belum tentu valid.

Tingginya permintaan terhadap layanan kapal Pelni bukan tanpa alasan. Batam merupakan salah satu pelabuhan keberangkatan tersibuk dalam jaringan Pelni. Pada periode Angkutan Lebaran 2026, Batam tercatat sebagai pelabuhan keberangkatan terpadat dengan lebih dari 22 ribu penumpang, sementara rute Batam–Belawan menjadi salah satu jalur laut tersibuk nasional.

Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang selama libur sekolah tahun ini, Pelni bahkan memperoleh dispensasi penambahan kapasitas KM Kelud hingga 1.050 penumpang di atas kapasitas normal kapal yang mencapai 2.607 orang. Selain itu, pemerintah juga tengah memberikan stimulus berupa diskon tarif tiket kapal ekonomi sebesar 30 persen selama periode libur sekolah 2026. Program tersebut mendorong peningkatan minat masyarakat menggunakan transportasi laut karena biaya perjalanan menjadi lebih terjangkau dibanding moda transportasi lainnya.

Sebagian pengamat transportasi menilai habisnya tiket dalam waktu cepat juga menjadi sinyal perlunya evaluasi kapasitas layanan laut nasional. Ketika permintaan tumbuh lebih cepat dibanding ketersediaan kursi, ruang bagi praktik percaloan dan pasar informal akan selalu muncul, meskipun sistem penjualan telah didigitalisasi.

Di sisi yang mendukung kebijakan Pelni, digitalisasi tiket dinilai berhasil mempersempit peluang pembelian secara massal melalui jalur resmi. Sistem identitas penumpang dan pembelian berbasis data membuat ruang gerak calo jauh lebih sempit dibanding era penjualan tiket manual. Namun di sisi lain, kelompok konsumen berpendapat bahwa transparansi mengenai jumlah kuota, jadwal pembukaan tiket, dan ketersediaan kursi secara real time perlu terus ditingkatkan agar masyarakat tidak merasa kehilangan akses ketika tiket mendadak habis dalam waktu singkat.

Bagi masyarakat, pesan yang paling penting jangan tergiur tawaran tiket dari pihak yang tidak memiliki kewenangan resmi. Selain berisiko membayar lebih mahal, calon penumpang juga dapat menjadi korban penipuan atau memperoleh tiket yang tidak sah. Persoalan tiket yang ludes terjual juga bukan semata-mata soal ada atau tidaknya calo. Fenomena ini mencerminkan realitas yang lebih besar tentang kebutuhan mobilitas masyarakat Indonesia yang terus meningkat, sementara kapasitas transportasi belum selalu mampu mengimbanginya. 

Selama permintaan jauh melampaui pasokan, selalu akan ada pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari situasi tersebut. Karena itu, tantangan sebenarnya bukan hanya memberantas calo, melainkan memastikan akses transportasi publik yang cukup, transparan, dan adil bagi seluruh masyarakat. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll