Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat 626.278 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang Januari hingga April 2026. Jumlah tersebut meningkat 12,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah Provinsi Kepri menilai pertumbuhan ini menjadi sinyal bahwa sektor pariwisata masih menjadi salah satu mesin utama penggerak ekonomi daerah. Berbekal posisi strategis di jalur perdagangan internasional yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, pemerintah terus memperkuat destinasi, infrastruktur, promosi digital, hingga ekonomi kreatif berbasis masyarakat untuk menjaga momentum pertumbuhan tersebut.
Di tengah perlambatan ekonomi global dan persaingan antar destinasi wisata di Asia Tenggara, Kepri masih mampu mempertahankan tren positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada April 2026 jumlah kunjungan wisman mencapai 147.053 orang. Angka itu memang turun 3,09 persen dibandingkan Maret 2026, namun secara tahunan meningkat 15,94 persen dibandingkan April tahun lalu. Sementara tingkat hunian hotel berbintang juga mengalami kenaikan menjadi 46,60 persen.
Sekretaris Daerah Provinsi Kepri, Misni, mengatakan posisi geografis Kepri merupakan modal penting untuk mengembangkan pariwisata berbasis kemaritiman, budaya Melayu, sejarah, dan ekonomi kreatif. "Upaya tersebut antara lain melalui peningkatan kualitas destinasi, penguatan amenitas dan aksesibilitas, penataan ruang publik yang lebih baik, serta pengembangan ekonomi kreatif," kata Misni.
Menurutnya, pemerintah daerah terus menjalankan berbagai program mulai dari pengembangan destinasi prioritas, peningkatan infrastruktur pendukung, penyelenggaraan agenda nasional dan internasional, hingga digitalisasi promosi pariwisata. "Pemprov Kepri juga terus memperkuat ekonomi kreatif berbasis komunitas dan memperluas kolaborasi dengan pemerintah pusat, dunia usaha, akademisi, media serta masyarakat," ujarnya.
Di antara seluruh wilayah Kepri, Batam tetap menjadi magnet terbesar. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, menyebut sebanyak 113.784 wisatawan asing berkunjung ke Batam pada April 2026. Secara kumulatif Januari-April 2026, Batam menerima 486.549 kunjungan atau sekitar 77,69 persen dari total kunjungan wisman Kepri.
"Ini menunjukkan kepercayaan wisatawan terhadap Batam sebagai destinasi wisata, sport tourism, dan pusat kegiatan bisnis semakin meningkat," kata Ardiwinata. Ia menambahkan, berbagai kegiatan wisata religi, sport tourism, serta ekonomi kreatif ikut mendongkrak arus kunjungan. "Kami terus memperkuat promosi wisata, meningkatkan kualitas destinasi, serta menghadirkan berbagai ajang berskala nasional dan internasional untuk menarik lebih banyak wisatawan datang ke Batam," ujarnya.
Data BPS Kepri juga menunjukkan bahwa wisatawan dari Singapura masih mendominasi dengan 65.621 kunjungan atau 44,62 persen dari total wisman April 2026. Posisi kedua ditempati Malaysia dengan 30.884 kunjungan atau 21 persen. Kedekatan geografis dan kemudahan akses menjadi faktor utama tingginya kunjungan dari dua negara tetangga tersebut.
Meski angka kunjungan terus meningkat, sejumlah pengamat pariwisata menilai Kepri masih menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah ketergantungan yang terlalu besar terhadap pasar Singapura dan Malaysia. Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Hasan, mengakui penurunan kunjungan secara bulanan merupakan hal yang normal karena dipengaruhi pola perjalanan regional. "Penurunan sebesar 3,09 persen dibandingkan bulan sebelumnya masih berada dalam kategori normal karena dipengaruhi faktor musiman dan pola perjalanan wisata regional. Namun yang menggembirakan, secara kumulatif Januari-April 2026 meningkat 12,93 persen. Ini menunjukkan daya tarik Kepri di mata wisatawan mancanegara terus menguat," kata Hasan.
Namun sejumlah kritik muncul bahwa peningkatan jumlah wisatawan belum tentu otomatis berbanding lurus dengan kualitas ekonomi masyarakat. Masih terdapat persoalan pemerataan manfaat pariwisata, kualitas sumber daya manusia, kebersihan kawasan wisata, serta perlunya diversifikasi pasar wisatawan dari luar ASEAN. Tantangan lainnya adalah bagaimana menjadikan wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya lebih banyak di Kepri. Sebab, rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang masih berada pada kisaran 1,89 malam. Artinya, sebagian besar wisatawan datang dalam waktu singkat dan kembali ke negara asalnya.
Di tengah persaingan dengan Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, pertumbuhan pariwisata Kepri memang layak diapresiasi. Namun pertanyaan yang lebih penting barangkali bukan lagi berapa banyak wisatawan yang datang, melainkan seberapa besar manfaat yang mereka tinggalkan bagi masyarakat. Sebab pariwisata yang sehat bukan hanya soal pelabuhan yang ramai atau hotel yang penuh. Ia juga harus menghadirkan lapangan kerja yang berkualitas, menghidupkan UMKM, menjaga lingkungan, serta merawat identitas budaya Melayu yang menjadi ruh Kepulauan Riau.
Dengan demikian, angka 626.278 kunjungan hanyalah statistik. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap wisatawan yang datang tidak sekadar singgah, melainkan membawa kehidupan bagi para nelayan, pengrajin, pelaku UMKM, seniman, dan masyarakat yang sehari-hari hidup di pulau-pulau kecil di tepian Selat Malaka. Karena di dunia yang semakin terhubung, kekuatan sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh keindahan pantainya, melainkan oleh kemampuan sebuah daerah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian budaya, dan martabat masyarakat yang menjadi tuan rumah. (Red)