Dragon Boat Race 2026, Ketika Tradisi Tionghoa Menjadi Identitas Bersama Tanjungpinang

Ribuan masyarakat memadati kawasan Pelantar III, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Jumat...

Dragon Boat Race 2026, Ketika Tradisi Tionghoa Menjadi Identitas Bersama Tanjungpinang

Travel
28 Jun 2026
192 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Dragon Boat Race 2026, Ketika Tradisi Tionghoa Menjadi Identitas Bersama Tanjungpinang

Ribuan masyarakat memadati kawasan Pelantar III, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Jumat (26/6/2026), untuk menyaksikan pembukaan Dragon Boat Race 2026. Kegiatan yang berlangsung hingga 28 Juni itu diselenggarakan melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau bersama Kelenteng Bu Sen Bio sebagai bagian dari upaya melestarikan tradisi Sembahyang Keselamatan Laut sekaligus memperkuat pariwisata budaya dan ekonomi masyarakat pesisir.

Berbeda dari sekadar perlombaan perahu naga, Dragon Boat Race di Tanjungpinang merupakan peristiwa budaya yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat pesisir selama lebih dari satu abad. Di balik dentuman genderang, kayuhan para atlet, dan sorak-sorai penonton, tersimpan nilai sejarah, spiritualitas, serta penghormatan terhadap laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Kepulauan Riau.

Suasana pembukaan berlangsung semarak. Ribuan warga dari berbagai latar belakang etnis memadati tepian Pelantar III. Sebagian memilih menyaksikan perlombaan dari atas pompong yang berjejer di sekitar lintasan, sementara panggung hiburan budaya turut menambah kemeriahan festival yang menjadi agenda tahunan tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Hasan, mengatakan penyelenggaraan Dragon Boat Race merupakan hasil sinergi pemerintah daerah dengan Kelenteng Bu Sen Bio dalam menjaga tradisi masyarakat Tionghoa yang telah berkembang selama sekitar 145 tahun di Tanjungpinang.

"Ini tradisi yang sudah ada sejak 145 tahun lalu oleh masyarakat untuk keselamatan laut." Menurut Hasan, pemerintah ingin memastikan tradisi tersebut tetap lestari dengan melibatkan kelenteng-kelenteng di kawasan Pelantar I, II, dan III sehingga nilai budaya yang diwariskan turun-temurun tidak terputus oleh perkembangan zaman. Ia juga menegaskan bahwa meskipun berakar dari budaya Tionghoa, Dragon Boat Race kini menjadi ruang kebersamaan yang terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang etnis maupun agama.

Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, yang membuka secara resmi kegiatan tersebut bersama Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, menilai Dragon Boat Race telah berkembang menjadi simbol keberagaman budaya sekaligus kekuatan identitas bahari Kepulauan Riau.

"Dragon Boat Race merupakan salah satu warisan budaya yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Tanjungpinang. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau akan terus mendukung pelestarian event-event budaya seperti ini karena mampu mempererat persatuan masyarakat sekaligus menjadi daya tarik wisata yang sangat potensial," ujar Ansar.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga melihat festival tersebut sebagai bagian dari strategi pengembangan sport tourism berbasis budaya. Kehadiran ribuan pengunjung diyakini mampu memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM, sektor kuliner, transportasi, perhotelan, hingga jasa wisata.

"Kita ingin setiap event yang dilaksanakan di Kepri memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula perputaran ekonomi yang dirasakan pelaku usaha lokal," kata Ansar.

Pandangan tersebut memperoleh dukungan dari banyak pelaku usaha lokal yang merasakan peningkatan jumlah pengunjung setiap kali Dragon Boat Race digelar. Festival budaya dinilai tidak hanya memperkenalkan identitas Tanjungpinang kepada wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat pesisir.

Meski demikian, sejumlah pemerhati budaya mengingatkan agar pengembangan Dragon Boat Race tidak semata-mata berorientasi pada hiburan dan kunjungan wisata. Komersialisasi yang berlebihan dikhawatirkan dapat menggeser makna utama tradisi Sembahyang Laut sebagai ungkapan syukur, penghormatan kepada alam, dan doa keselamatan bagi para nelayan. Karena itu, keseimbangan antara promosi pariwisata dan pelestarian nilai-nilai budaya menjadi tantangan yang harus dijaga bersama.

Ke depan, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berencana mengembangkan Dragon Boat Race menjadi agenda yang lebih besar dengan harapan mampu menarik lebih banyak wisatawan mancanegara. Ambisi tersebut dinilai realistis mengingat Kepulauan Riau memiliki posisi strategis di jalur pelayaran internasional dan berdekatan dengan Singapura maupun Malaysia.

Dragon Boat Race sebagai festival yang mengingatkan bahwa sebuah tradisi hanya akan tetap hidup apabila diwariskan, dipahami, dan dirawat bersama. Di tengah derasnya arus modernisasi, kayuhan perahu naga di Pelantar III seolah menjadi simbol bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar budaya. Justru dari tradisi yang terus dijaga itulah sebuah daerah menemukan identitasnya, memperkuat persatuan masyarakat, sekaligus membangun masa depan ekonomi yang bertumpu pada kekayaan budaya yang dimilikinya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll